Di tengah derasnya arus zaman, muslimah hari ini dihadapkan pada berbagai macam figur yang dijadikan teladan. Media sosial menghadirkan sosok-sosok yang dipuja karena kecantikan, popularitas, gaya hidup, atau pencapaian duniawi. Namun, seorang muslimah yang menginginkan kemuliaan sejati tentu akan bertanya: siapakah sosok terbaik yang pantas dijadikan panutan?
Islam telah memberikan jawaban yang jelas. Bukan artis, influencer, atau figur viral yang seharusnya menjadi role model utama, melainkan para wanita terbaik yang telah Allah pilih untuk hidup di generasi terbaik umat ini: para sahabiyah, wanita-wanita mulia yang hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, belajar langsung dari beliau, berjuang bersama dakwah Islam, dan meninggalkan jejak keteladanan yang tak lekang oleh zaman.
Mengapa harus meneladani para sahabiyah?
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji generasi sahabat secara umum dalam Al-Qur’an. Tentunya, kemuliaan itu juga mencakup para wanita di kalangan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini menunjukkan bahwa jalan keselamatan adalah mengikuti generasi pertama Islam, termasuk wanita-wanita mulia di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Jika generasi terbaik adalah generasi sahabat, maka para wanita terbaik tentu adalah para sahabiyah.
Krisis panutan muslimah di era modern
Salah satu problem besar yang dihadapi muslimah pada zaman ini adalah berubahnya standar dalam menentukan sosok yang dijadikan teladan. Perkembangan media sosial membuat banyak orang lebih mengenal artis, selebritas, atau influencer dibanding mengenal para sahabiyah. Tidak sedikit muslimah yang akhirnya menjadikan figur dunia sebagai panutan dalam berpakaian, berbicara, hingga menjalani kehidupan, sementara kisah wanita-wanita mulia dalam Islam justru semakin terlupakan.
Perubahan panutan ini perlahan mengubah cara pandang terhadap kesuksesan. Kecantikan dianggap sebagai ukuran utama, popularitas dipandang sebagai prestasi, jumlah pengikut di media sosial menjadi simbol keberhasilan, dan validasi manusia sering kali dijadikan tujuan hidup. Akibatnya, banyak yang rela mengejar pengakuan orang lain meskipun harus mengorbankan waktu, prinsip, bahkan nilai-nilai agama.
Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahwa seseorang akan mengikuti siapa yang ia cintai dan kagumi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المرء مع من أحب
“Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.” (HR. Al-Bukhari no. 6168, Muslim no. 2640)
Hadis ini mengajarkan bahwa kekaguman dapat membentuk arah hidup seseorang. Oleh karena itu, muslimah perlu kembali memperbaiki orientasinya dan memilih teladan terbaik. Sosok yang paling layak dikagumi bukanlah figur yang terkenal di dunia, tetapi mereka yang telah Allah muliakan, yaitu para sahabiyah, wanita-wanita terbaik yang hidupnya dipenuhi iman, ilmu, akhlak, dan perjuangan di jalan Allah.
Belajar iman dari Khadijah binti Khuwailid رضي الله عنها
Khadijah binti Khuwailid adalah wanita pertama yang memeluk Islam. Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu pertama di Gua Hira, beliau pulang dalam keadaan gemetar. Khadijah tidak meragukan sedikit pun kebenaran suaminya. Khadijah radhiyallahu ‘anha berkata,
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا
“Sekali-kali tidak. Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 4953)
Dari Khadijah kita belajar bahwa muslimah sejati adalah sosok yang menguatkan agama Allah, mendukung kebenaran, dan menjadi penopang dakwah.
Hari ini, banyak muslimah sibuk mencari pasangan ideal, tetapi lupa menyiapkan diri menjadi pendamping yang membantu perjuangan agama.
Belajar ilmu dari Aisyah رضي الله عنها
Aisyah binti Abu Bakar dikenal sebagai salah satu wanita paling berilmu dalam sejarah Islam. Beliau menempati posisi keempat sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat senior pun sering bertanya kepada beliau mengenai hukum-hukum agama.
Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata,
مَا أَشْكَلَ عَلَيْنَا أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ حَدِيثٌ قَطُّ فَسَأَلْنَا عَائِشَةَ إِلَّا وَجَدْنَا عِنْدَهَا مِنْهُ عِلْمًا
“Kami (para sahabat) tidak pernah merasa kesulitan dalam memahami suatu hadis, lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan ilmu tentang hal itu darinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3883)
Pelajaran besar dari Aisyah adalah muslimah tidak boleh puas hanya menjadi konsumen hiburan. Ia harus mencintai ilmu syar’i dan menjadikan belajar agama sebagai prioritas hidup. Allah berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Belajar kesabaran dari Sumayyah رضي الله عنها
Sumayyah binti Khayyat adalah wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. Ia disiksa oleh kaum Quraisy karena mempertahankan keimanannya. Namun, ia tetap teguh hingga akhirnya dibunuh oleh Abu Jahal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada keluarganya,
صَبْرًا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ
“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga.” (HR. Ath-Thabrani dan Hakim, hadis hasan shahih)
Bandingkan dengan kondisi hari ini. Banyak orang meninggalkan prinsip agama hanya karena takut komentar manusia. Sumayyah mengajarkan bahwa mempertahankan iman terkadang membutuhkan pengorbanan besar, bahkan nyawa sebagai pengorbanannya.
Belajar kedermawanan dari Asma binti Abu Bakar رضي الله عنها
Asma binti Abu Bakar dikenal sangat dermawan dan pemberani. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Asma,
أنفقي و لا تُحصي ، فيُحصي اللهُ عليك ، و لا تُوعي فيُوعي اللهُ عليك
“Berinfaklah dan janganlah engkau menghitung-hitung (terlalu menahan harta), maka Allah akan membatasi rezeki kepadamu. Dan janganlah engkau menyimpan (menahan pemberian), maka Allah pun akan menahan karunia-Nya darimu.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Di zaman sekarang, banyak orang takut bersedekah karena merasa hartanya akan berkurang. Padahal Allah berfirman,
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
“Apa saja yang kalian infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS. Saba’: 39)
Belajar menjaga kehormatan dari Fatimah رضي الله عنها
Fatimah az-Zahra adalah contoh wanita yang menjaga rasa malu dan kehormatan diri. Ketika menjelang wafat, beliau pernah menyampaikan ketidaksukaannya apabila jasad wanita terlihat bentuk tubuhnya ketika dikafani. Hal itu menunjukkan betapa besar perhatian wanita salehah terhadap penjagaan aurat dan kehormatan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Malu adalah bagian dari iman.” (HR. Muslim no. 35)
Di era sekarang, rasa malu sering dianggap kuno, tidak gaul dan lain sebagainya. Padahal, justru itulah mahkota seorang muslimah.
Muslimah hari ini butuh role model yang benar
Realitas hari ini menunjukkan banyak muslimah lebih mengenal artis, selebriti internet, dan tokoh dunia hiburan dibanding mengenal para sahabiyah.
Padahal, Allah Azza wa Jalla berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Dan tentu orang-orang terdekat yang mencontoh beliau dengan sempurna adalah para sahabat dan sahabiyah.
Ketika seorang muslimah lebih mengenal perjalanan hidup para sahabiyah daripada tren dunia, maka itu adalah tanda baiknya arah hidupnya.
Menjadi seperti mereka bukan berarti hidup di masa lampau. Menjadi seperti mereka berarti mengambil nilai-nilai yang mereka perjuangkan: iman yang kokoh, ilmu yang luas, rasa malu, pengorbanan, kesabaran, dan kecintaan terhadap agama.
Mari bertanya kepada diri kita:
Sudahkah aku menjadikan para wanita terbaik umat ini sebagai panutan hidupku?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا
“Jika mereka beriman sebagaimana kalian beriman, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 137)
Semoga Allah menjadikan muslimah-muslimah hari ini tumbuh menjadi generasi yang meneladani wanita terbaik umat ini. Aamiin.
Baca juga: Tiga Kriteria Manusia yang Tidak Layak Menjadi Teladan
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslimah.or.id




