Bayangkan, suatu hari engkau melihat anak laki-lakimu yang dulu lincah berlarian di halaman rumah, memanjat pohon, dan bermain bola dengan teman-temannya, kini lebih memilih berdiam diri di sudut kamar. Jemarinya tak lagi memegang kayu atau alat tulis, melainkan setia mengusap layar ponsel. Ada yang berubah. Gerakannya kian lembut, suaranya melunak, dan—yang paling mengiris hati—ia mulai meniru gaya yang mengaburkan batas antara laki-laki dan perempuan. Wal-iyadzubillah.
Perasaan apakah yang menyeruak di dada kita saat menyaksikan itu? Pilu. Campuran antara kasih sayang yang dalam dan kekhawatiran yang menusuk. Fenomena “boti” memang telah merayap perlahan ke rumah-rumah kita, masuk melalui konten-konten yang dengan mudah diakses oleh jemari mungil anak-anak kita.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa 33,44% anak usia 0-4 tahun di Indonesia sudah menggunakan telepon seluler. Sementara itu, 24,87% di antaranya telah mengakses internet. Angka ini semakin meningkat pada anak usia 5-17 tahun, di mana 61,87% sudah menggunakan ponsel dan 48,10% mengakses internet. Di sisi lain, paparan konten yang mengglorifikasi penyimpangan gender kian masif bertebaran di media sosial. Sementara kita, sebagai orang tua, diamanatkan oleh Allah untuk menjaga fitrahnya dari kerusakan. Inilah jihad kita di zaman ini.
Namun, perlu ditegaskan sejak awal bahwa mencetak generasi anti “boti” bukan berarti menebar kebencian. Sama sekali bukan. Sebab ini adalah ikhtiar meneguhkan kembali fitrah laki-laki sebagaimana yang diajarkan oleh Islam, yaitu kuat, bertanggung jawab, menjadi pemimpin keluarga, dan pelindung agama. Sebuah panggilan hati untuk kita semua—ayah dan ibu—agar anak-anak kita kelak menjadi qurrata a’yun, penyejuk mata dan benteng umat.
Ancaman terhadap fitrah anak
Saudariku, ancaman terhadap maskulinitas anak laki-laki kita tidak datang tiba-tiba. Ancaman itu tidak pula mengetuk pintu dengan kasar. Tapi ia datang pelan-pelan, halus, melalui layar-layar kecil yang justru kita berikan dengan penuh kasih sayang—tetapi tanpa pengawasan yang ketat. Sebuah ironi yang menyakitkan.
Konten-konten yang menampilkan laki-laki berperilaku feminin secara berlebihan kini beredar luas, yang dikemas sebagai sesuatu yang lucu, menghibur, bahkan keren. Anak-anak kita menontonnya. Hari pertama mungkin sekadar tertawa. Hari kedua, mulai penasaran. Hari ketiga, mulai meniru. Dan sebelum kita sadar, ia sudah bingung membedakan mana yang alami sesuai fitrahnya, dan mana yang dibuat-buat demi mengikuti tren. Wal-iyadzu billah.
Tentu saja, hal yang sangat kita khawatirakan adalah apabila paparan berulang terhadap konten semacam itu dapat memengaruhi pola pikir dan perkembangan emosional anak. Anak-anak dan remaja sangat rentan meniru apa yang mereka lihat, terutama saat identitas gender mereka sedang dalam proses pembentukan. Akibatnya, muncul kebingungan, konflik batin, hingga penurunan sifat-sifat maskulin alami seperti keberanian, ketegasan, dan rasa tanggung jawab.
Kita tidak boleh diam. Sebagai muslimah, kita diajarkan untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Menolak ideologi yang merusak fitrah bukan berarti tidak mengasihi sesama manusia. Justru sebaliknya, sebab kita sedang melindungi generasi dari kehancuran yang perlahan tapi pasti.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)
Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah kepada kita. Menjaga keluarga dari api neraka juga bermakna perintah agar kita wajib menjaga mereka dari api fitnah di dunia yang bisa membakar fitrah mereka. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan,
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ أَلَا
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829)
Kita adalah pemimpin bagi anak-anak kita. Dan kelak, di hadapan Allah, kita akan ditanya, apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga fitrah mereka? Pertanyaan ini menakutkan sekaligus menyadarkan. Marilah kita renungkan bersama. Gadget memang bukan musuh. Tetapi tanpa batasan, gadget ini kemudian bisa menjadi pintu masuk fitnah yang merusak. Mulai hari ini, cobalah tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang sedang anakku tonton setiap hari?”
Baca juga: Membenarkan LGBT Karena Alasan Takdir?
Kembali ke fitrah laki-laki yang suci
Islam telah memberikan fondasi yang sangat jelas. Setiap anak yang lahir ke dunia ini dalam keadaan fitrah—suci, bersih, dan selaras dengan penciptaan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda,
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari no. 1358 dan Muslim no. 2658)
Saudaraku, perhatikanlah hadis mulia ini. Fitrah itu sudah ada. Tugas kita adalah menjaga fitrah itu dengan sebaik-baiknya. Bukan membentuk dari nol, tetapi merawat agar tidak rusak. Fitrah seorang anak laki-laki adalah menjadi kuat, tegas, bertanggung jawab, dan siap memimpin. Jika kemudian ia tumbuh dengan kebingungan identitas, maka orang tuanyalah yang pertama kali harus bermuhasabah: di mana kita selama ini?
Al-Qur’an dengan indah menegaskan peran laki-laki, Allah Ta’ala berfirman,
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]: 34)
Kata qawwamun dalam ayat ini bisa diartikan sebagai pemimpin. Namun jika kita dalami lebih jauh, maka kita akan menemukan makna yang lebih luas lagi tentang qawwamun itu yang berarti pelindung, penjaga, dan penanggung jawab. Seorang laki-laki muslim dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk memikul amanah berat ini. Maka, mendidiknya agar menjadi qawwam sejati adalah ibadah. Bukan pula berarti laki-laki harus sempurna tanpa cela. Namun, ia harus dibekali kekuatan fisik, mental, dan spiritual untuk menjalankan amanah itu.
Mari kita membuka kembali sirah Nabi. Tentu, kita kemudian akan mendapati fakta bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan maskulinitas tertinggi. Beliau pemberani di medan perang, tetapi penyayang di rumah. Tangguh dalam dakwah, tetapi lembut terhadap anak-anak. Beliau pernah bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Kekuatan di sini mencakup kekuatan iman, ilmu, fisik, dan mental. Bukan kekuatan untuk menindas, tetapi kekuatan untuk melindungi. Oleh karenanya, mari kita biasakan anak laki-laki kita dengan aktivitas yang membangun kekuatan sesuai sunah. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ ٱلْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَءَاخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Anfal [8]: 60)
Berenang, memanah, dan berkuda adalah aktivitas pembentukan karakter, seperti keberanian, fokus, ketangkasan, dan kesabaran. Di zaman sekarang, kita bisa menyesuaikannya dengan olahraga fisik lain yang membangun mental tangguh. Yang penting, jauhkan mereka dari gaya hidup malas yang hanya duduk menatap layar. Tanamkan dalam hati anak kita pesan bahwa menjadi laki-laki muslim itu mulia. Bukan karena mengikuti tren dunia, tetapi karena taat kepada Penciptanya. Inilah warisan paling berharga yang bisa kita berikan.
Orang tua sebagai benteng utama keluarga
Saudaraku, mendidik anak laki-laki bukanlah tugas satu pihak. Tapi ikhtiar mendidik ini membutuhkan kombinasi sempurna antara ketegasan ayah dan kelembutan ibu. Keduanya adalah benteng yang tidak boleh roboh.
Ayah adalah pilar utama. Anak laki-laki butuh melihat langsung teladan maskulin yang saleh di hadapannya: ayah yang salat berjamaah, bertanggung jawab mencari nafkah, tegas namun penuh kasih, dan gemar beraktivitas fisik. Quality time ayah-anak sangatlah dahsyat pengaruhnya. Bermain dengan aktivitas fisik yang sehat, berkemah, memancing, atau belajar keterampilan dasar laki-laki—semua ini membentuk identitas anak yang nantinya akan tumbuh dengan kesadaran, “Aku laki-laki, seperti ayahku. Aku akan menjadi pelindung, seperti ayahku.”
Sementara itu, peran ibu tidak kalah penting. Ibu lah sekolah pertama anak. Dengan pelukan hangat dan nasihat lembutnya, Ibu membangun rasa aman dalam dirinya. Rasa aman ini membuat anak mau terbuka. Jika ada pengaruh aneh dari luar, ia tidak akan ragu bercerita. Ia tahu ibunya adalah tempat kembali yang paling nyaman.
Rutinitas harian juga bisa menjadi sarana pendidikan. Ajaklah anak membantu pekerjaan rumah yang sesuai: membersihkan halaman, mengatur barang, atau menjaga adik sehingga rutinitas tersebut kemudian akan menanamkan rasa tanggung jawab sejak kecil. Jangan biarkan gadget mengambil alih peran kita. Meski lelah, luangkan waktu untuk menceritakan kisah para Nabi dan sahabat yang gagah berani. Kisah Nabi Musa yang membelah laut, kisah Nabi Dawud yang mengalahkan Jalut, atau kisah Umar bin Khaththab yang tegas namun adil—semua ini adalah asupan ruhani yang jauh lebih bergizi daripada konten-konten receh di internet.
Komunikasi terbuka juga adalah kunci. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti, mengapa kita harus menjaga fitrah. Duduklah di sampingnya, tatap matanya, dan katakan dengan lembut, “Nak, Allah menciptakan kamu sebagai laki-laki. Kamu istimewa. Allah ingin kamu menjadi pelindung, bukan yang dilindungi. Allah ingin kamu kuat, agar bisa menjaga ibu, adik-adik, dan agamamu kelak.”
Kata-kata seperti ini, yang lahir dari hati, akan meresap jauh ke dalam jiwanya. Ia akan tumbuh dengan kebanggaan terhadap identitasnya sebagai laki-laki muslim.
Ikhtiar praktis mencetak anak tangguh
Mari kita bicara tentang langkah-langkah nyata. Teori tanpa aksi adalah sia-sia. Berikut ini beberapa strategi praktis yang bisa kita mulai dari sekarang.
Pertama: Batasilah screen time sejak dini. Idealnya, tunda pemberian gadget hingga anak usia sekolah dasar. Jika terpaksa, maksimal satu jam sehari dengan pengawasan ketat. Pilih konten yang Islami dan mendidik: cerita Nabi, animasi akhlak mulia, atau tayangan tentang alam semesta yang menumbuhkan rasa takjub kepada Allah. Gunakan fitur parental control untuk memfilter konten negatif. Dan yang tak kalah penting, jadilah teman diskusi anak tentang apa yang ia tonton. Tanyakan, “Adek tadi nonton apa? Coba ceritakan ke Ibu.” Dari situ, kita bisa meluruskan jika ada pemahaman yang menyimpang.
Kedua: Biasakan aktivitas fisik outdoor setiap hari. Ajak anak bermain bola, berlari, atau sekadar berjalan-jalan di pagi hari. Aktivitas fisik ini membantu produksi hormon testosteron secara alami dan membangun mental tangguh. Anak yang aktif bergerak akan lebih sehat, lebih percaya diri, dan lebih jauh dari godaan rebahan sambil scrolling tanpa tujuan.
Ketiga: Tanamkan ibadah rutin sebagai pondasi. Salat tepat waktu, hafalan Al-Qur’an, dan doa bersama keluarga adalah benteng iman yang kokoh. Allah berfirman,
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat, dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha [20]: 132)
Anak yang terbiasa salat sejak kecil akan memiliki hubungan yang kuat dengan Allah. Ia akan memiliki filter alami dalam menghadapi godaan. Hatinya akan peka: jika sesuatu itu salah, ia akan merasa tidak nyaman meskipun belum tahu alasannya.
Keempat: Bangun komunitas yang positif. Ikutkan anak ke halaqah kajian anak laki-laki di masjid, kegiatan pramuka Islami, atau kelompok belajar yang sehat. Lingkungan yang baik akan membentuk karakter yang baik. Rasulullah ﷺ bersabda,
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Kelima: Ajarkan critical thinking. Ajak anak berpikir kritis terhadap apa yang ia lihat. Tanyakan, “Menurutmu, apakah ini sesuai dengan sifat laki-laki muslim, atau hanya ikut-ikutan tren?” Latih ia untuk tidak menelan mentah-mentah setiap konten yang lewat di hadapannya. Ini adalah bekal berharga untuk masa depannya.
Saudaraku, rahimakumullah, mencetak generasi yang teguh di atas fitrahnya adalah jihad kita di zaman ini yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kesungguhan. Namun, yakinlah, setiap tetes lelah kita, setiap doa yang kita panjatkan di sepertiga malam, dan setiap kata-kata baik yang kita bisikkan ke telinga anak-anak kita—semuanya dicatat oleh Allah. Tidak ada yang sia-sia.
Semoga Allah menjaga anak-anak kita. Semoga Allah meneguhkan mereka di atas fitrah Islam yang suci. Dan semoga Allah mengumpulkan kita kembali di surga-Nya, bersama keluarga yang kita cintai, dalam keadaan penuh kebahagiaan. Aamiin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Baca juga: Mengajarkan Ridha dan Qana’ah pada Anak
***
Penulis: Fauzan Hidayat
Artikel Muslimah.or.id




