Memasuki usia dewasa, kita dihadapi dengan tantangan kehidupan yang begitu kompleks; tanggung jawab finansial, tuntutan untuk berkeluarga (bagi yang belum menikah), memaksimalkan peran dalam rumah tangga (bagi yang telah berumah tangga), pengambilan keputusan yang dipenuhi resiko, dan sebagainya. Belum lagi, ketakutan untuk gagal dan kesusahpayahan untuk selalu tampil sempurna. Tentu, hal ini mengkalutkan pikiran dan membuat dada menjadi sesak.
Sebagian orang mencari pelarian dengan hal-hal yang tidak diridai Allah, seperti dengan meminum khamr. Sebagian lagi ada yang mencurahkan isi hatinya kepada orang lain, baik secara pribadi maupun melalui akun media sosialnya. Sebagai manusia, wajar bagi kita untuk menuangkan emosi yang dirasa; yang jika dipendam sendiri, malah menjadi marabahaya.
Perkara yang patut diingat bahwa di kehidupan ini, kita sebenarnya tidaklah sendiri. Setiap dari kita berstatus sebagai hamba dari Rabb yang memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang indah). Dialah Allah, Ar–Rahman (Maha Pengasih), Ar–Rahim (Maha Penyayang), Al–‘Alim (Maha Mengetahui), As–Sami’ (Maha Mendengar), Al–Bashir (Maha Melihat), Al–Lathif (Maha Lembut), Ar–Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), dan Al–Qadir (Maha Kuasa).
Maka apapun permasalahan yang kita hadapi, emosi apapun yang kita rasakan di dalam hati; hendaknya hal tersebut kita curahkan terlebih dahulu kepada Allah dengan berdoa kepada-Nya. Karena Dia-lah yang Maha Mengetahui.
Tidak ada yang sia-sia dengan berdoa
Di dalam agama Islam, doa adalah ibadah agung yang memiliki kedudukan mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu,
الدُّعاءُ هو العبادةُ
“Doa adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi [3247], Al–Musnad [4/267], Al–Adab Al–Mufrad [714], dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad [1757])
Para ulama mengatakan bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas sama seperti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadis yang diriwayatkan sahabat Abdurrahman bin Ya’mar Ad Daily,
الحجُّ عرفاتٌ
“Inti ibadah haji adalah ‘Arafah.” (HR. At-Tirmidzi [2975])
Hal ini menunjukkan keutamaan doa dan ketinggian derajatnya. Bahkan disebutkan di dalam sebuah hadis yang dha’if (lemah), dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّعاءُ مخُّ العبادةِ
“Doa adalah intisari ibadah.” (HR. Tirmidzi [331], Ath-Thabrani dalam Al–Mu’jam Al–Ausath [3196] dan dinilai dha’if oleh Syekh Al-Albani dalam Dha’if At–Tirmidzi [3371])
Para ulama menyebutkan agungnya kedudukan doa disebabkan oleh sejumlah perkara:
Pertama: Di dalam doa terdapat ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menampakkan kelemahan serta kebutuhan seorang hamba kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua: Ibadah secara umum, setiap kali hati lebih khusyuk dan pikiran lebih konsentrasi, niscaya ia lebih utama dan sempurna. Sementara doa merupakan ibadah yang paling dekat untuk meraih maksud ini. Hal itu karena kebutuhan seorang hamba mendorongnya untuk lebih khusyuk dan menghadirkan hati.
Ketiga: Doa terkait erat dengan tawakal dan permohonan pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab tawakal adalah bersandar dengan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta yakin dengan-Nya dalam mendapatkan segala sesuatu yang disukai dan menolak segala sesuatu yang tidak disukai. Adapun doa menguatkan hal itu dan bahkan mengungkapkan dan menegaskannya. Orang yang berdoa mengetahui kebutuhannya yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahwa urusan semuanya berada di tangan-Nya. Dia meminta dari Rabbnya dengan penuh harapan dan keyakinan. Inilah ruh dari ibadah. (Lihat Majmu Al–Fawa’id Waqtinash Al–Awabid karya Ibnu Sa’di, hal. 46)
Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala telah berjanji kepada setiap hamba yang berdoa kepada-Nya bahwa Dia akan mengabulkan permohonan mereka. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdoalah kepada–Ku, niscaya Aku akan kabulkan untuk kamu.’” (QS. Ghafir: 60)
Disebutkan dalam sebuah hadis dari sahabat Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ اللَّهَ حيِىٌّ كريمٌ يستحي من عبده إذا رفعَ يديْهِ إليه أن يردَّهما صفرًا
“Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Pemurah, Dia malu terhadap hamba-hamba–Nya apabila mengangkat kedua tangannya, lalu mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud [1488], At-Tirmidzi [3556], Shahih Ibnu Hibhan [876], dan Fathul Bari [11/143])
Meski demikian, patut untuk diketahui bahwa ada beberapa bentuk pengabulan doa. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Pengabulan itu bermacam-macam, terkadang apa yang diinginkan terjadi sebagaimana permintaan dan dengan segera; terkadang terjadi (terwujud), namun lebih lamban karena suatu hikmah; dan terkadang dikabulkan namun tidak seperti bentuk yang diinginkan, sebab apa yang diminta tidak memberi maslahat langsung, sedangkan apa yang diberikan memiliki maslahat langsung atau lebih besar maslahatnya.” (Fathul Bari [11/345])
Beliau rahimahullah juga berkata, “Sungguh setiap orang berdoa dikabulkan untuknya, akan tetapi pengabulan bisa bermacam-macam, terkadang terjadi sesuai bentuk yang diminta dan terkadang digantikan dengan yang lain.” (Fathul Bari [11/95-96])
Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من مسلمٍ يدعو بدعوةٍ ليس فيها إثمٌ ، ولا قطيعةُ رَحِمٍ ؛ إلا أعطاه بها إحدى ثلاثَ : إما أن يُعجِّلَ له دعوتَه ، وإما أن يدَّخِرَها له في الآخرةِ ، وإما أن يَصرِف عنه من السُّوءِ مثلَها . قالوا : إذًا نُكثِرُ . قال : اللهُ أكثرُ
“’Tidaklah seorang Muslim memanjatkan suatu doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan hubungan kekeluargaan, melainkan Allah memberikan kepadanya dengan sebab itu salah satu di antara tiga perkara: disegerakan apa yang dia minta, atau disimpan untuknya di akhirat, atau dipalingkan darinya keburukan yang setimpal.’ Para sahabat berkata, ‘Kalau begitu, kami akan memperbanyak doa.’ Rasulullah bersabda, ‘Allah (di sisi–Nya) lebih banyak.’” (Shahih At–Targhib [1633])
Maka berbahagialah kita sebagai seorang muslim, di mana Rabb kita ‘Azza wa Jalla adalah Ar–Rahman yang mencintai hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya, bahkan Dia memurkai orang-orang yang berpaling dari meminta kepada-Nya. Sebagaimana yang disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من لم يدع الله سبحانه غضب عليه
“Barang siapa tidak berdoa kepada Allah Subhanahu, niscaya Dia marah kepadanya.” (Al–Musnad [2/443 & 447], Sunan At–Tirmidzi [3373], dan Ibnu Majah [3827]. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ash–Shahihah [2654])
Berdoalah kepada Allah dan curahkan semua isi hatimu kepada-Nya. Sungguh tidak akan merugi orang-orang yang menggantungkan semua harapannya kepada Allah dan memperbanyak doa juga munajat kepada-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.
Baca juga: Mengeluh dan Merasa Sempit dengan Kehidupan?
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Al-Badr, ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin. 2022. Fiqih Doa dan Dzikir. (A. Djalil, edisi terjemahan). Jakarta: Penerbit Griya Ilmu
Kajian Dahsyatnya Doa, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA




