Sebab kesembilan: Menghindari hal-hal yang berlebihan
Di antara sebab lapang dada ialah menjaga lisan dari ucapan yang berlebihan, menjaga telinga dari mendengarkan sesuatu secara berlebihan (maksudnya mendengar hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti gosip dan yang semisalnya, pent.), dan juga menjaga mata dari melihat sesuatu secara berlebihan.
Jiwa dan hati seseorang yang terlalu sibuk dengan hal-hal penting ataupun hal-hal yang bisa mendatangkan rasa senang, kemenangan, dan memperbaiki dirinya, baik di dunia maupun di akhirat, memiliki dampak luar biasa bagi kehidupannya tatkala ia merasa sempit, sulit, dan rumit. Sebaliknya, berlebihan dalam mendengar, melihat, dan mengatakan hal-hal yang tidak bermanfaat adalah sebab dari datangnya kesedihan dan duka cita. Serta mengakibatkan dampak buruk yang tidak akan ia syukuri di dunia maupun di akhirat.
Betapa hal-hal yang berlebihan dalam penglihatan, perkataan, dan pendengaran itu menyeret seseorang pada kehancuran dan kerugian. Oleh karenanya, seorang mukmin harus berusaha keras dalam mendidik dirinya, serta mengikat dirinya dengan akhlak yang baik, juga memperhatikan adab, menjaga diri, dan menjauhi segala sesuatu yang membahayakan ataupun membinasakan dirinya.
Salah satu ujian manusia pada zaman ini adalah keasyikan menatap layar ponsel, membuka koran atau majalah, dan menjelajahi situs-situs (online). Semua itu dilakukan hanya untuk mencari hal-hal yang tidak penting, bahkan cenderung buruk dan tercela. Fenomena ini telah membuka lebar pintu keingintahuan yang sia-sia.
Ia bisa saja mendapatkan bahaya yang besar. Hal ini juga membuang waktu mereka, merugikan banyak orang muslim dalam agama dan akhlak mereka, serta mendatangkan berbagai macam kesedihan, kegundahan, dan sempitnya dada.
Sebab kesepuluh: Mengikuti Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan baik
Mengikuti sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan (mengetahui) pentingnya mengikuti jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lurus, serta mengikuti petunjuknya, merupakan sebab paling besar dari lapang dada. Bahkan, ia adalah inti dari semua pembahasan. Yang demikian itu karena mengikuti orang yang dadanya paling lapang (yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang akhlaknya paling baik, perjalanan hidupnya paling indah, dan hatinya paling murni.
Sungguh Allah Ta’ala berfirman,
ألم نشرح لك صدرك
“Bukankah kami telah melapangkan dadamu bagimu (wahai Muhammad).” (QS. Al-Insyirah: 1)
Allah melapangkan dada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan meluaskannya dan mengumpulkan seluruh keutamaan, kesempurnaan, dan kesantunan (akhlaknya).
Oleh karenanya, setiap kali seorang hamba memperbanyak dalam mengikuti (ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan meneladani petunjuknya yang mulia. Hal itu merupakan sesuatu yang paling menyenangkan bagi hamba, yakni ketika ia lapang dadanya, tenang pikirannya, dan tentram hatinya
Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, “Maksudnya adalah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan makhluk yang paling sempurna dalam seluruh sifatnya, hingga bisa memperoleh dada yang lapang, hati yang luas, penyejuk mata, dan hidupnya ruh. Beliau adalah makhluk paling sempurna dalam kelapangan tersebut, juga dalam kehidupan, serta menjadi penyejuk mata. Disertai dengan lapangnya perasaan yang dikhususkan untuknya.”
Adapun orang yang paling sempurna dalam mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah yang paling sempurna kelapangan dadanya, kenikmatan pada dadanya, dan kesejukan matanya. Apa yang ia dapatkan, baik berupa lapangnya dada, kesejukan mata, atau tenangnya ruh, akan sesuai dengan kadar ia mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling sempurna dalam hal ini, yakni paling sempurna dalam lapang dada, paling tinggi sebutannya, dan paling ringan bebannya. Bagi pengikutnya, ia akan mendapatkan sesuai kadar ia mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allahul musta’an.
Maka begitulah bagi pengikutnya. Ia akan mendapatkan penjagaan, perlindungan, pembelaan, kemuliaan, pertolongan Allah untuknya, sesuai dengan seberapa baik ia mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bisa mendapatkan sedikit ataupun banyak. Jadi, bagi siapa saja yang menjumpai kebaikan, hendaknya ia memuji Allah. Dan barangsiapa yang menjumpai keburukan, maka tidaklah ia mencela kecuali pada dirinya sendiri.
Ya Allah, lapangkanlah dada kami, mudahkanlah urusan kami, hiasilah diri kami dengan perhiasan berupa iman, jadikanlah kami petunjuk bagi orang-orang yang mencari petunjuk, mudahkanlah bagi kami berjalan di atas jalan yang lurus; yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan kenikmatan, yakni jalannya para Nabi, orang yang benar, para syuhada, dan para orang saleh, dan betapa baiknya orang yang bersama dengan mereka.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, dan hanya kepada-Mu kami berharap. Engkau cukup bagi kami, dan cukuplah Engkau sebagai pelindung kami.
[Selesai]
***
Penerjemah: Evi Noor Azizah
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Diterjemahkan dari kitab ‘Asyratu Asbabi Linsyirahi ash-Shadri, karya Syekh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr, hal. 18-22.




