Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Menjaga Pandangan di Tengah Fitnah Zaman

Fauzan Hidayat oleh Fauzan Hidayat
8 Juni 2026
di Akhlak dan Nasihat
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Pandangan haram adalah musibah
  • Godaan itu singkat, tapi akibatnya bisa panjang
  • Menjaga pandangan itu latihan
  • Kemuliaan dalam menundukkan pandangan

Di antara ujian paling berat di zaman ini adalah menjaga pandangan. Terlebih bagi seseorang yang setiap hari bekerja di ruang terbuka, bertemu banyak orang, berinteraksi dengan lawan jenis, dan hidup di tengah budaya yang semakin menormalisasi tabarruj serta terbukanya aurat.

Barangkali ada yang bertanya, “Apakah masih mungkin seseorang menjaga pandangannya di zaman seperti sekarang?”

Jawabannya, mungkin. Namun memang tidak mudah. Karena mata adalah pintu masuk menuju hati. Dari sanalah banyak perkara bermula, baik kebaikan maupun kerusakan. Oleh sebab itu, Islam sangat memperhatikan urusan pandangan.

Allah Ta’ala berfirman,

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا۟ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُوا۟ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ

Donasi Muslimah.or.id

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.” (QS. An-Nur: 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga pandangan bukan perkara ringan. Bahkan, Allah mendahulukannya sebelum perintah menjaga kemaluan. Karena memang, banyak kerusakan besar bermula dari pandangan yang tidak dijaga.

Pandangan haram adalah musibah

Seseorang yang membiarkan matanya liar memandang sesuatu yang diharamkan, lambat laun akan terbawa oleh khayalan dan angan-angan. Apa yang awalnya hanya “sekilas melihat”, bisa berubah menjadi keinginan, ketertarikan, ketagihan, lalu berujung pada perbuatan terlarang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيْسَ، فَمَنْ غَضَّ بَصَرَهُ عَنْ مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ لله أَوْرَثَ الله قَلْبَهُ حَلاَوَةً إِلىَ يَوْمِ يَلْقَاهُ

“Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Barang siapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 5: 313; Al-Qudha’i dalam Musnad Asy-Syihab, no. 292; dan Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal.13; dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, no. 10362 dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Jauzi dalam Dzammul Hawa, hal. 140 dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu).

Betapa banyak perselingkuhan bermula dari pandangan. Betapa banyak hati menjadi rusak karena awalnya merasa “hanya melihat”. Dan betapa banyak penyesalan lahir dari sesuatu yang dahulu dianggap sepele.

Oleh karena itu, Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga melarang jalan-jalan yang mengantarkan kepadanya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan “jangan berzina”, tetapi “jangan mendekati”. Artinya, semua pintu menuju zina harus dijauhi, termasuk pandangan yang tidak dijaga.

Godaan itu singkat, tapi akibatnya bisa panjang

Seringkali seseorang menyesal bukan karena dosa besar yang langsung terjadi, tetapi karena ia meremehkan dosa kecil yang menjadi pembukanya. Awalnya hanya melihat, lalu mencari-cari, lalu menikmati, lalu kecanduan.

Padahal momentum godaan itu sebenarnya sangat singkat. Hanya beberapa detik. Namun jika tidak dilawan, ia bisa meninggalkan bekas panjang dalam hati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radhiyallahu ‘anhu,

يَا عَلِيّ ُ! لاَتُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ, فَإِنَّمَا لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الأَخِيْرَةُ

“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua).” (HR. Abu Dawud no. 2149; dinilai hasan)

Pandangan pertama yang tidak disengaja masih dimaafkan. Tetapi ketika seseorang sengaja mengulanginya, di situlah fitnah mulai bekerja.

Menjaga pandangan itu latihan

Sebagian orang berkata, “Saya memang sulit menjaga mata.”

Jawabannya: memang perlu latihan.

Tidak ada orang yang langsung kuat menundukkan pandangan. Semua butuh proses, mujahadah, dan kesungguhan melawan hawa nafsu.

Sebagaimana tubuh dilatih untuk kuat, hati pun dilatih untuk taat. Maka biasakanlah diri untuk:

  • memalingkan pandangan ketika melihat yang haram,
  • tidak menikmati konten yang merusak,
  • membatasi hal-hal yang membangkitkan syahwat,
  • dan memperbanyak zikir kepada Allah.

Bahkan, gadget yang ada di tangan kita hari ini bisa menjadi sumber pahala atau sumber kehancuran. Tergantung bagaimana kita menggunakannya. Oleh karena itu, sebelum memulai hari, tidak ada salahnya seseorang menanamkan tekad dalam dirinya:

“Hari ini aku ingin menjaga diriku dari dosa.”

Mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru dari tekad-tekad kecil itulah, Allah bukakan jalan keselamatan.

Kemuliaan dalam menundukkan pandangan

Hari ini, maksiat semakin mudah diakses. Sesuatu yang dahulu sulit dilihat, sekarang bisa masuk ke genggaman, dan daya tariknya sungguh luar biasa. Saat kita larut dengan berbagai konten menarik di HP, tak terasa berjam-jam waktu berlalu yang menenggelamkan kita dalam maksiat. Fitnah mata tidak lagi harus dicari, ia datang sendiri melalui layar-layar kecil yang kita bawa ke mana-mana.

Oleh karena itu, orang yang masih berusaha menjaga pandangannya di zaman ini memiliki nilai yang besar di sisi Allah. Bukan karena ia tidak punya kesempatan bermaksiat, tetapi karena ia memilih takut kepada Allah dibanding mengikuti hawa nafsunya.

Dan ketahuilah, setiap pandangan yang ditinggalkan karena Allah tidak akan sia-sia. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, seorang lelaki yang berasal dari Arab Badui berkata,

أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ وَقَالَ: إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللهِ إِلَّا أَعْطَاكَ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua tanganku. Beliau pun mulai mengajarkan aku dari ilmu yang Allah Ta’ala wahyukan kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya tidaklah Engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah Ta’ala, kecuali Allah pasti akan memberikan sesuatu (sebagai pengganti, pen.) yang lebih baik darinya.” (HR. Ahmad no. 20739. Dinilai sahih oleh Syekh Syu’aib Al-Arnauth)

Maka jangan remehkan perjuangan menjaga mata. Karena bisa jadi, itulah sebab keselamatan kita di dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Baca juga: Kaidah yang Dibutuhkan Seorang Muslim di Zaman Fitnah

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslimah.or.id

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Fauzan Hidayat

Fauzan Hidayat

Artikel Terkait

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu Padahal Ia Amat Baik Bagimu

oleh Ummu Sa'id
15 April 2011
35

Dahulu, sebelum ada vaksinasi, cacar adalah salah satu penyakit yang tersebar di mana-mana, dan atas kehendak Allah Yang Maha Hidup...

Apakah Umur Benar-Benar Bisa Bertambah Panjang?

oleh Redaksi Muslimah.Or.Id
19 September 2022
0

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung kerabatnya.” (HR Bukhari Muslim) 

Kesabaran Ulama dalam Menuntut Ilmu

oleh Isruwanti Ummu Nashifa
16 Juni 2022
0

Diantara rintangan dalam menuntut ilmu agama adalah kurangnya kesabaran serta ingin segera memetik hasilnya. Menuntut ilmu butuh ketekunan yang semangat...

Artikel Selanjutnya

Harta Bersama dalam Nikah Siri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.