Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Kiat Sukses Melewati Hari-Hari Terbaik Dunia

Annisa Auraliansa oleh Annisa Auraliansa
19 Mei 2026
di Akhlak dan Nasihat
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Starter pack Zulhijah
    • Berniat untuk beribadah dengan baik kepada Allah dan menjaga hak-hak-Nya
    • Bertobat kepada Allah
    • Menjaga waktu
  • Amal-amal yang dianjurkan di sepuluh awal bulan Zulhijah
    • Berdoa ketika melihat hilal
    • Menjaga ibadah-ibadah yang wajib
    • Salat malam
    • Berpuasa
    • Bersedekah
    • Membaca Al-Qur’an
    • Berzikir
    • Berkurban
  • Penutup

Telah datang kepada kita hari-hari terbaik dunia, di mana amal saleh yang dilakukan pada hari-hari tersebut lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla dibandingkan selainnya. Hari-hari itu adalah sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحبُّ إلى الله منه في هذه الأيام العشر

“Tidak ada hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijah).”

Para sahabat bertanya, “Walaupun jihad di jalan Allah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Donasi Muslimah.or.id

ولا الجهاد في سبيل الله ، إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذلك بشيء 

“Walaupun jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan ia tidak kembali (dikarenakan syahid).” (HR. Bukhari [II/457], Abu Dawud [VII/103], At-Tirmidzi [III/463], Ibnu Majah [I/550], dan Ahmad [III/298]. Dan lafaz ini dikeluarkan At-Tirmidzi)

Starter pack Zulhijah

Berniat untuk beribadah dengan baik kepada Allah dan menjaga hak-hak-Nya

Niat memiliki kedudukan yang penting dalam diri seorang muslim. Dengan niat yang benar, yaitu hanya mengharap wajah Allah dan menggapai keridaan-Nya, tekad menjadi bulat dan diri akan bersungguh-sungguh untuk menggapai apa yang menjadi tujuan.

Suatu hari, ‘Abdullah bin Al-Imam Ahmad berkata kepada ayahnya, “Berikanlah wasiat kepadaku, wahai ayah!” Imam Ahmad rahimahullah menjawab,

يا بني انو الخير فإنك لا تزال بخير ما نويت الخير

“Wahai anakku, beniatlah untuk berbuat baik. Karena sesungguhnya engkau akan senantiasa dalam kebaikan, selama engkau berniat baik.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih, hal. 104)

Seorang yang berniat untuk melakukan kebaikan juga mendapatkan keutamaan berupa ditulis baginya satu pahala apabila ia terhalangi dalam mengerjakannya karena suatu uzur. Dan apabila ia benar-benar mengerjakan apa yang ia niatkan, dituliskan baginya pahala sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat pahala kebaikan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَت

“Barang siapa yang bertekad untuk mengerjakan suatu kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, maka ditulis baginya satu pahala kebaikan. Apabila ia mengerjakannya, maka dituliskan untuknya pahala sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat pahala kebaikan. Dan barang siapa yang bertekad untuk melakukan suatu keburukan dan dia tidak mengerjakannya, maka tidak dicatat atasnya. Apabila dia mengerjakannya, dicatat atasnya satu keburukan.” (HR. Muslim no. 130)

Para ulama berkata,

‎العازم كالفاعل

“Orang yang telah betekad seperti orang yang telah mengerjakan.”

Bertobat kepada Allah

Tidak ada satu pun manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Bahkan orang-orang yang bertakwa, Allah firmankan di dalam Al-Qur’an, terkadang mereka juga terjatuh dalam fahisyah (perbuatan yang keji) dan mereka menzalimi dirinya sendiri. Akan tetapi, mereka bersegera bertobat dan memohon ampunan kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُون

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

Dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْن 

“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499, Ibnu Majah no. 4251, Ahmad [III/198], Al-Hakim [IV/244], dan dihasankan oleh Al-Albani dalam kitab Shahih al-Jami’i ash–Shaghir no. 4391)

Menjaga waktu

Waktu adalah modal utama bagi seorang muslim untuk melakukan kebaikan dan menggapai kemuliaan yang telah Allah janjikan. Sifatnya terbatas dan tidak akan terulang kembali. Sehingga sudah sepatutnya untuk dipergunakan dengan baik.

Al-Khalil bin Ahmad rahimahullah berkata, “Waktu itu ada tiga bagian: waktu yang telah berlalu darimu dan takkan kembali; waktu yang sedang kau alami, dan lihatlah bagaimana ia akan berlalu darimu; dan waktu yang engkau tunggu, bisa jadi engkau tidak akan mendapatkannya.” (Thabaqat Al-Hanabilah, 1: 288)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaibi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima hal sebelum datangnya lima hal: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.” (HR. Al-Hakim [IV/306])

Amal-amal yang dianjurkan di sepuluh awal bulan Zulhijah

Berdoa ketika melihat hilal

Dari Thalhah bin ‘Ubaidullah radhiyallahu ‘anhu bahwa apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hilal, beliau mengucapkan,

اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأمْنِ وَالإيمانِ، وَالسَّلاَمَةِ وَالإسْلاَمِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللهُ، هِلالُ رُشْدٍ وخَيْرٍ

“Ya Allah, perlihatkanlah hilal itu kepada kami dengan keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah, hilal petunjuk dan kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi. Dinukil dari kitab Riyadhus Shalihin, hadis ke-1236)

Menjaga ibadah-ibadah yang wajib

Hendaknya kita menjaga pelaksanaan ibadah yang bersifat wajib dan benar-benar menunaikan haknya seperti salat lima waktu, melaksanakan qadha puasa Ramadan bagi yang masih memiliki hutang puasa, menunaikan zakat bagi yang telah mencapai nishab dan haul, melaksanakan haji bagi yang mampu, berbakti kepada kedua orang tua, taat kepada suami dan mendidik anak-anak dengan baik bagi seorang istri, dan sebagainya. Karena disebutkan di dalam sebuah hadis Qudsi yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحَبَّ إليَّ ممَّا افترَضْتُ عليه

‘Sesungguhnya seorang hamba tidaklah mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu pun yang lebih aku cintai dibandingkan perkara yang Aku wajibkan untuknya.’” (HR. Ibnu Hibban no. 347)

Salat malam

Salat malam atau qiyamul lail merupakan kebiasaan orang-orang saleh. Allah Ta’ala berfirman ketika menyebutkan ciri-ciri orang yang beriman,

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِع

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.” (QS. As-Sajadah: 16)

Dalam surah yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَانُوا۟ قَلِيلًا مِّنَ ٱلَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam.” (QS. Adz-Dzariyat: 17)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل

‘Sebaik-baik salat setelah salat fardhu adalah salat malam.’” (Riyadush Shalihin, hadis no. 1175)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ الله ، وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأخَّرَ؟ قَالَ : أفَلاَ أكُونُ عَبْداً شَكُوراً؟

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa salat malam hingga kedua telapak kakinya pecah-pecah. Aku pun bertanya kepada beliau, ‘Mengapa engkau berbuat seperti ini, wahai Rasulullah, padahal dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni?’ Beliau menjawab, ‘Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?” (Muttafaqun ‘alaih)

Sa’id bin Jubair, seorang tabi’in, apabila memasuki sepuluh awal bulan Zulhijah, ia bersungguh-sungguh dalam beribadah sampai-sampai hampir saja ia tidak mampu lagi melaksanakannya. Diriwayatkan juga bahwa ia berkata, “Jangan kalian matikan lampu-lampu kalian pada malam-malam sepuluh awal bulan Zulhijah.” Maksudnya ia menganjurkan agar malam-malam tersebut dihidupkan dengan ibadah. (Lathaiful Ma’arif, hal. 494)

Berpuasa

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

الصوم لي وأنا أجزي به يدع شهوته واكله وشربه من أجلي

‘Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat, makanan, dan minumannya karena diri-Ku.’” (HR. Muslim)

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata,

كفى بقوله: الصوم لي – فضلا للصيام على سائر العبادات

“Cukuplah sabda-Nya, ‘Puasa itu untuk-Ku’ menunjukkan keutamaan puasa atas ibadah-ibadah yang lain.”

Sudah sepatutnya bagi kita untuk menunaikan ibadah yang utama pada hari-hari yang utama. Di antara sahabat yang biasa berpuasa di sepuluh hari pertama Zulhijah adalah Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Terlebih pada hari Arafah, yaitu tanggal 9 Zulhijah. Disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan sahabat Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Arafah, maka beliau bersabda,

يكفر السنة الماضية والباقية

“(Puasa Arafah) menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR. Muslim no. 1162)

Bersedekah

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَٰعَة

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafaat.” (QS. Al-Baqarah: 254)

Dalam ayat yang lain, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا۟ ٱلْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِـَٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغْمِضُوا۟ فِيهِ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيد

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal, di mana Allah Tabaraka wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bersedekah.

Dari Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتقو النار ولو بشق تمرة

“Takutlah kalian kepada api neraka, meskipun hanya dengan (bersedekah) separuh kurma.” (Muttafaqun ‘alaih)

Membaca Al-Qur’an

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعًا لأصحابه

“Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)

Berzikir

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما مِن أيَّامٍ أَعظَمَ عِندَ اللهِ، ولا أَحَبَّ إلَيهِ مِنَ العملِ فيهِنَّ مِن هذِه الأَيَّامِ العَشرِ؛ فأَكثِرُوا فيهِنَّ مِنَ التَّهليلِ، والتَّكبيرِ، والتَّحميدِ

“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah, tidak pula yang lebih disukai oleh-Nya untuk beramal di dalamnya, daripada hari-hari sepuluh (1-10 Zulhijah). Maka perbanyaklah pada hari-hari itu (ucapan) tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad [II/75])

Al-Bukhari mengatakan, “Dahulu Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum pergi ke pasar pada hari-hari yang sepuluh ini (dari tanggal 1 sampai 10), sambil bertakbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir.” (Al-Bukhari dalam kitab Al-‘Idain bab Fadhlul ‘Amali fi Ayyamit Tasyriq)

Ja’far Al-Faryabi meriwayatkan dalam kitab Al-‘Idain, “Telah bercerita kepada kami Ishaq bin Rahawaih, telah memberitahukan kami Jarir dari Yazid bin Abu Ziyad, beliau berkata, ‘Aku melihat Sa’id bin Jubair, Mujahid, dan ‘Abdurrahman bin Abu Laila -atau dua orang dari ketiganya- serta beberapa orang fakih di kalangan manusia bahwa mereka mengucapkan di sepuluh hari awal Zulhijah, ‘Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, Wallahu Akbar, Walillahil hamd.’” (Lathaiful Ma’arif, hal. 510)

Berkurban

Berkurban adalah sebuah ibadah yang Allah syariatkan pada setiap umat. Umat-umat terdahulu maupun umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا۟ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِين

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al-Hajj: 34)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلْبُدْنَ جَعَلْنَٰهَا لَكُم مِّن شَعَٰٓئِرِ ٱللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَٱذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَيْهَا صَوَآفَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْقَانِعَ وَٱلْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون

“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS. Al-Hajj: 36)

Al-Budn di sini ada yang mengatakan maksudnya adalah unta dan ada juga yang mengatakan maksudnya adalah sapi dan unta. (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 167)

Jumhur ulama mengatakan bahwa menyembelih satu budna ini sah untuk 7 orang (berbeda dengan kambing, di mana seekor untuk satu orang). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Shahih Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan lainnya, ia mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar bergabung dalam hewan kurban, unta besar bagi tujuh orang dan sapi pun bagi tujuh orang.” (HR. Muslim no. 1318)

Dari ‘Ali bin Al-Husain, dari Abu Rafi’, bahwa jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban, beliau membeli dua domba yang gemuk, bertanduk, dan bagus. Jika telah mengerjakan salat (yakni di tanah lapang) dan menyampaikan khotbah kepada umat manusia, beliau membawa salah satu dari keduanya dan beliau berdiri di tempat salat beliau. Lalu beliau menyembelihnya sendiri dengan pisau. Kemudian beliau mengucapkan,

اللهم هذا عن امتي جميعها من شهد لك بالتوحيد وشهد لي باالبلا

“Ya Allah, ini atas nama umatku seluruhnya, siapa yang bersaksi bagi-Mu dengan mengesakan dan bersaksi bagiku dengan penyampaian.”

Kemudian domba yang satu lagi diserahkan kepada beliau, lalu beliau menyembelihnya sendiri. Kemudian beliau bersabda,

هذا عن محمد وآل محمد

“Ini atas nama Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Kedua domba itu pun diberikan kepada orang-orang miskin, dan beliau beserta keluarga beliau pun turut makan dari keduanya.” (HR. Ahmad [VI/8] dan Ibnu Majah [II/1043, 1044])

Termasuk bentuk pengagungan akan perintah Allah untuk berkurban adalah membaguskan hewan kurban tersebut dan menggemukkannya. Abu Umamah bin Sahl mengatakan, “Kami dahulu menggemukkan hewan-hewan kurban di Madinah dan kaum muslimin pun menggemukkannya.” (Fathul Bari, 10: 11])

Setiap tahunnya, selama tinggal di kota Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berkurban. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

  أقام النبي صلى الله عليه وسلم بالمدينة عشر سنين يضحي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah selama sepuluh tahun dan senantiasa berkurban.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, sanadnya hasan)

Dan tujuan disyariatkannya ibadah kurban ini tidak lain adalah agar kita mengingat Allah di saat menyembelihnya. Sebab Allah-lah yang menciptakan dan yang memberi rezeki, dan Dia Maha Kaya dari selainnya. Allah Ta’ala berfirman,

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِين

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)

Disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الله لا ينظر الى صوركم وأموالكم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupamu, tidak pula hartamu, tetapi Dia memandang hati dan amalmu.” (HR. Muslim no. 2564)

Penutup

Demikian yang dapat penulis sampaikan sebagai sarana untuk meraih kesuksesan pada hari-hari terbaik dunia, yaitu sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah. Tentu, sebagian dari amal-amal ibadah yang telah disebutkan tidak hanya berhenti pada sepuluh hari yang utama ini, namun juga pada hari-hari yang lain hingga ajal menjemput. Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala,

 وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِين

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)

Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

  • Kajian Keutamaan-Keutamaan Bulan Zulhijah, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
  • Kajian Amalan-Amalan Terbaik di 10 Hari Awal Zulhijah, Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc.
  • Al-Hanbali, Al-Hafidz Ibnu Rajab. Latha’iful Ma’arif (Terjemahan: Sidiq, Yusuf). Sukoharjo: Penerbit Al-Qowam.
  • Katsir, Ibnu. Shahih Tafsir Ibnu Katsir. (Terjemahan: Tim Pustaka Ibnu Katsir). Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir.
  • An Nawawi. Riyadush Shalih (Terjemahan: Karimi, Lc.; Izzudin). Jakarta: Penerbit Darul Haq.
  • Kajian Kiat-Kiat Agar Sukses di Bulan Ramadan, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
  • Abdul Qadir Jawas, Yazid. Syarah Arba’in An-Nawawi. Jakarta: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Annisa Auraliansa

Annisa Auraliansa

Penulis di muslimah.or.id

Artikel Terkait

Kiat Meraih Kebahagiaan Sejati

oleh Isruwanti Ummu Nashifa
5 Januari 2022
0

Versi kebahagiaan seorang mukmin adalah standar akhirat. Obsesi akhirat inilah yang membuat seorang mukmin selalu bahagia setiap saat.

Menghadapi Kesulitan

Sedang Menghadapi Kesulitan? Perbanyaklah Mengingat Allah

oleh Triani Pradinaputri
17 Oktober 2025
0

Mengingat Allah adalah sebab keselamatan seorang hamba dari kebinasaan di dunia maupun akhirat Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah shallallahu...

Hukum Menyontek Ujian

Hukum Menyontek Ujian dan Curang Saat Ujian

oleh Redaksi Muslimah.Or.Id
26 Maret 2008
14

Pertanyaan: Saya menyontek jawaban teman sekelas saat ujian dengan menempuh suatu cara yang memungkinkan, karena saya tidak tahu jawabannya. Bagaimana...

Artikel Selanjutnya

Inilah Hari Terbaik Sedunia (Bag. 1)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.