Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92)
‘Abdullah bin Katsir (seorang tabiin) dan As-Suddi berkata, “Ayat ini menggambarkan seorang perempuan yang pandir. Ia tinggal di Makkah. Setiap selesai memintal sesuatu dengan kuatnya, maka ia pun menguraikannya kembali hingga bercerai berai.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 285)
Demikianlah perumpamaan seorang hamba yang telah Allah berikan kemuliaan baginya berupa ilmu dan kemudahan dalam melakukan berbagai macam amal saleh, namun ia malah berpaling dari ilmunya dan ia jadikan pahala ibadahnya tersebut bagaikan debu yang beterbangan lantaran maksiat, dosa, dan kelalaian yang meliputi dirinya.
Istikamah setelah berlalunya Ramadan
Banyak dari kita yang bersemangat untuk beribadah ketika bulan Ramadan. Bahkan sebelum masuknya Ramadan, kita telah bersiap-siap untuk menyambutnya dengan ilmu dan berbagai macam amal ibadah. Seusai berlalunya Ramadan, hendaknya kita tetap berusaha untuk mempertahankan semangat untuk berilmu dan beramal tersebut.
Jangan sampai kita menjadi seorang yang pandir, yang mengurai apa yang telah ia pintal dengan kuat, sebagaimana disebutkan pada ayat yang telah disebutkan sebelumnya.
Celaan terhadap seseorang yang rajin melakukan suatu ibadah kemudian ia meninggalkannya, juga datang dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يا عبدَ اللهِ ! لا تكُنْ مِثلَ فُلانٍ كان يقومُ من الليلِ ، فترَكَ قِيامَ الليْلِ
“Wahai ‘Abdullah! Janganlah kamu menjadi seperti si Fulan. Dahulu ia rajin melakukan salat malam, kemudian ia meninggalkannya.” (Shahih Ibnu Majah, no. 1104)
Kembali maksimal di 10 awal Zulhijah
Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,
وعشر ذي الحجة هي الأيام التي قال عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر، قالوا: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء) هذه العشر التي يجهل كثير من الناس فضلها، ومن علم فإنه قد يتهاون في إعطائها حقها من الاجتهاد في العمل الصالح
“Dan sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah merupakan hari-hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya,
ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر
“Tidak ada hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama bulan Zulhijah).”
Para sahabat bertanya, “Walaupun jihad di jalan Allah?”
Rasulullah menjawab,
ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء
“Walaupun jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan ia tidak kembali (dikarenakan syahid).”
Inilah sepuluh hari yang banyak orang tidak tahu tentang keutamaannya. Dan orang yang telah mengetahuinya lalai dalam memberikan haknya, yaitu bersungguh-sungguh dalam melakukan berbagai amal saleh.” (Durus li Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin – Jalasat Al-Hajj)
Lebih lanjut, Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,
وإذا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه العشر إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء) فإنه ينبغي لنا أن نجتهد غاية الاجتهاد في الأعمال الصالحة في هذه الأيام العشر أشد مما نجتهد في أيام عشر رمضان؛ لأن الحديث عام: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر)
“Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه العشر إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء
“Tidak ada hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijah). Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan ia tidak kembali (dikarenakan syahid).”
Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh dengan maksimal dalam melakukan berbagai amal saleh pada sepuluh hari ini. Lebih maksimal dari kesungguhan kita pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, disebabkan hadis ini bersifat umum,
ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر
“Tidak ada hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijah).” (Durus li Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin – Jalasat Al-Hajj)
Keutamaan bulan Zulhijah
Secara umum, bulan Zulhijah memiliki keutamaan-keutamaan, yaitu:
Bulan Zulhijah termasuk bulan-bulan haram
Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah ketika haji Wada’,
أَلَا إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Ketahuilah bahwa waktu itu telah berputar sebagaimana biasanya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab Mudhar, yaitu bulan antara Jumadil akhir dan Sya’ban.” (HR. Ahmad, 5: 37)
‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah …” dan seterusnya hingga, “Maka janganlah kamu menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” Yakni, pada dua belas bulan tersebut, khususnya di empat bulan tersebut. Allah menjadikan empat bulan itu sebagai bulan haram, karena Dia memperbesar keharaman-keharamannya. Dia menetapkan dosa yang dilakukan padanya lebih berat, serta menjadikan amal saleh dan pahalanya juga lebih besar.” (Tafsir Ath-Thabari, 6: 238)
Bulan Zulhijah termasuk bulan-bulan haji
Allah Ta’ala berfirman,
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ
“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Tentang ayat ini, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Yakni bulan Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari bulan Zulhijah.” (Fathul Bari, 3: 490)
Sepuluh hari pertama bulan Zulhijah adalah penyempurna janji Allah kepada Nabi Musa
Allah Ta’ala berfirman,
وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (untuk memberi Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam.” (QS. Al-A’raf: 142)
Yaitu bulan Zulkaidah penuh ditambah dengan sepuluh hari dari bulan Zulhijah. (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 253)
Allah menyempurnakan agama Islam pada 9 Zulhijah
Imam Ahmad meriwayatkan dari Thariq bin Syihab, ia mengatakan bahwa seorang Yahudi datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu seraya mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, ada satu ayat yang biasa kalian baca dalam kitab kalian. Seandainya ayat tersebut turun pada kami, kaum Yahudi, niscaya kami telah menjadikan hari tersebut sebagai hari raya.” ‘Umar bertanya, “Ayat yang mana?” Ia mengatakan,
ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)
‘Umar mengatakan, “Demi Allah, sungguh kami telah mengetahui hari dan waktu di mana ayat itu turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada sore hari Arafah di hari Jumat.” (HR. Ahmad, 1: 29)
Allah bersumpah dengan 10 hari pertama Zulhijah
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 2)
Maksud dari malam-malam yang sepuluh ialah sepuluh malam bulan Zulhijah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan beberapa ulama salaf dan ulama khalaf. (Tafsir Ath-Thabari, 24: 396)
Amal saleh yang dilakukan pada 10 hari pertama Zulhijah lebih dicintai Allah
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
ما من أيام العمل الصالح فيهن أحبُّ إلى الله منه في هذه الأيام العشر
“Tidak ada hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama bulan Zulhijah).”
Para sahabat bertanya, “Walaupun jihad di jalan Allah?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ولا الجهاد في سبيل الله ، إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذلك بشيء
“Walaupun jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan ia tidak kembali (dikarenakan syahid).” (HR. Bukhari, 2: 457; Abu Dawud, 7: 103; At-Tirmidzi, 3: 463; Ibnu Majah, 1: 550; dan Ahmad, 3: 298. Dan lafaz ini dikeluarkan oleh At-Tirmidzi)
Allah menamakan 10 hari pertama Zulhijah sebagai hari-hari yang telah ditentukan
Allah Ta’ala berfirman,
وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ
“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28)
Syu’bah dan Husyaim mengatakan dari Abu Bisyr dari Sa’id, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa hari-hari yang telah ditentukan (ayyamul ma’lumat) adalah sepuluh hari di bulan Zulhijah. (Fathul Bari, 2: 531 dan Tafsir At-Thabari, 4: 208)
Demikian keutamaan dari bulan Zulhijah. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk melakukan amal-amal kebaikan pada bulan ini dan menjaga hak-hak Allah, terutama pada sepuluh hari pertamanya. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta.
- Durus li Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, Maktabah Syamilah.
- Kajian Keutamaan-Keutamaan Bulan Zulhijah, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.




