Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Motivasi Beramal di Bulan Zulhijah  

Annisa Auraliansa oleh Annisa Auraliansa
22 Mei 2026
di Akhlak dan Nasihat
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Istikamah setelah berlalunya Ramadan
  • Kembali maksimal di 10 awal Zulhijah
  • Keutamaan bulan Zulhijah
    • Bulan Zulhijah termasuk bulan-bulan haram
    • Bulan Zulhijah termasuk bulan-bulan haji
    • Sepuluh hari pertama bulan Zulhijah adalah penyempurna janji Allah kepada Nabi Musa
    • Allah menyempurnakan agama Islam pada 9 Zulhijah
    • Allah bersumpah dengan 10 hari pertama Zulhijah
    • Amal saleh yang dilakukan pada 10 hari pertama Zulhijah lebih dicintai Allah
    • Allah menamakan 10 hari pertama Zulhijah sebagai hari-hari yang telah ditentukan

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92)

‘Abdullah bin Katsir (seorang tabiin) dan As-Suddi berkata, “Ayat ini menggambarkan seorang perempuan yang pandir. Ia tinggal di Makkah. Setiap selesai memintal sesuatu dengan kuatnya, maka ia pun menguraikannya kembali hingga bercerai berai.” (Tafsir Ath-Thabari, 17: 285)

Demikianlah perumpamaan seorang hamba yang telah Allah berikan kemuliaan baginya berupa ilmu dan kemudahan dalam melakukan berbagai macam amal saleh, namun ia malah berpaling dari ilmunya dan ia jadikan pahala ibadahnya tersebut bagaikan debu yang beterbangan lantaran maksiat, dosa, dan kelalaian yang meliputi dirinya.

Donasi Muslimah.or.id

Istikamah setelah berlalunya Ramadan

Banyak dari kita yang bersemangat untuk beribadah ketika bulan Ramadan. Bahkan sebelum masuknya Ramadan, kita telah bersiap-siap untuk menyambutnya dengan ilmu dan berbagai macam amal ibadah. Seusai berlalunya Ramadan, hendaknya kita tetap berusaha untuk mempertahankan semangat untuk berilmu dan beramal tersebut.

Jangan sampai kita menjadi seorang yang pandir, yang mengurai apa yang telah ia pintal dengan kuat, sebagaimana disebutkan pada ayat yang telah disebutkan sebelumnya.

Celaan terhadap seseorang yang rajin melakukan suatu ibadah kemudian ia meninggalkannya, juga datang dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎يا عبدَ اللهِ ! لا تكُنْ مِثلَ فُلانٍ كان يقومُ من الليلِ ، فترَكَ قِيامَ الليْلِ

“Wahai ‘Abdullah! Janganlah kamu menjadi seperti si Fulan. Dahulu ia rajin melakukan salat malam, kemudian ia meninggalkannya.” (Shahih Ibnu Majah, no. 1104)

Kembali maksimal di 10 awal Zulhijah

Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

وعشر ذي الحجة هي الأيام التي قال عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر، قالوا: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء) هذه العشر التي يجهل كثير من الناس فضلها، ومن علم فإنه قد يتهاون في إعطائها حقها من الاجتهاد في العمل الصالح

“Dan sepuluh hari pertama dari bulan Zulhijah merupakan hari-hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentangnya,

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

“Tidak ada hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama bulan Zulhijah).”

Para sahabat bertanya, “Walaupun jihad di jalan Allah?”

Rasulullah menjawab,

ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء

“Walaupun jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan ia tidak kembali (dikarenakan syahid).”

Inilah sepuluh hari yang banyak orang tidak tahu tentang keutamaannya. Dan orang yang telah mengetahuinya lalai dalam memberikan haknya, yaitu bersungguh-sungguh dalam melakukan berbagai amal saleh.” (Durus li Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin – Jalasat Al-Hajj)

Lebih lanjut, Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

وإذا كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه العشر إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء) فإنه ينبغي لنا أن نجتهد غاية الاجتهاد في الأعمال الصالحة في هذه الأيام العشر أشد مما نجتهد في أيام عشر رمضان؛ لأن الحديث عام: (ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر)

“Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه العشر إلا رجلاً خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك بشيء

“Tidak ada hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijah). Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan ia tidak kembali (dikarenakan syahid).”

Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk bersungguh-sungguh dengan maksimal dalam melakukan berbagai amal saleh pada sepuluh hari ini. Lebih maksimal dari kesungguhan kita pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan, disebabkan hadis ini bersifat umum,

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

“Tidak ada hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Zulhijah).” (Durus li Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin – Jalasat Al-Hajj)

Keutamaan bulan Zulhijah

Secara umum, bulan Zulhijah memiliki keutamaan-keutamaan, yaitu:

Bulan Zulhijah termasuk bulan-bulan haram

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhotbah ketika haji Wada’,

أَلَا إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Ketahuilah bahwa waktu itu telah berputar sebagaimana biasanya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab Mudhar, yaitu bulan antara Jumadil akhir dan Sya’ban.” (HR. Ahmad, 5: 37)

‘Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tentang firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah …” dan seterusnya hingga, “Maka janganlah kamu menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.” Yakni, pada dua belas bulan tersebut, khususnya di empat bulan tersebut. Allah menjadikan empat bulan itu sebagai bulan haram, karena Dia memperbesar keharaman-keharamannya. Dia menetapkan dosa yang dilakukan padanya lebih berat, serta menjadikan amal saleh dan pahalanya juga lebih besar.” (Tafsir Ath-Thabari, 6: 238)

Bulan Zulhijah termasuk bulan-bulan haji

Allah Ta’ala berfirman,

ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَٰتٌ

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Tentang ayat ini, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Yakni bulan Syawal, Zulkaidah, dan sepuluh hari bulan Zulhijah.” (Fathul Bari, 3: 490)

Sepuluh hari pertama bulan Zulhijah adalah penyempurna janji Allah kepada Nabi Musa

Allah Ta’ala berfirman,

وَوَٰعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَٰثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَٰتُ رَبِّهِۦٓ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (untuk memberi Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam.” (QS. Al-A’raf: 142)

Yaitu bulan Zulkaidah penuh ditambah dengan sepuluh hari dari bulan Zulhijah. (Tafsir Ibnu Katsir, 1: 253)

Allah menyempurnakan agama Islam pada 9 Zulhijah

Imam Ahmad meriwayatkan dari Thariq bin Syihab, ia mengatakan bahwa seorang Yahudi datang kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu seraya mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, ada satu ayat yang biasa kalian baca dalam kitab kalian. Seandainya ayat tersebut turun pada kami, kaum Yahudi, niscaya kami telah menjadikan hari tersebut sebagai hari raya.” ‘Umar bertanya, “Ayat yang mana?” Ia mengatakan,

 ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

‘Umar mengatakan, “Demi Allah, sungguh kami telah mengetahui hari dan waktu di mana ayat itu turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada sore hari Arafah di hari Jumat.” (HR. Ahmad, 1: 29)

Allah bersumpah dengan 10 hari pertama Zulhijah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 2)

Maksud dari malam-malam yang sepuluh ialah sepuluh malam bulan Zulhijah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan beberapa ulama salaf dan ulama khalaf. (Tafsir Ath-Thabari, 24: 396)

Amal saleh yang dilakukan pada 10 hari pertama Zulhijah lebih dicintai Allah

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحبُّ إلى الله منه في هذه الأيام العشر 

“Tidak ada hari di mana amal saleh yang dilakukan padanya lebih dicintai di sisi Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama bulan Zulhijah).”

Para sahabat bertanya, “Walaupun jihad di jalan Allah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ولا الجهاد في سبيل الله ، إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذلك بشيء 

“Walaupun jihad di jalan Allah. Kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya dan ia tidak kembali (dikarenakan syahid).” (HR. Bukhari, 2: 457; Abu Dawud, 7: 103; At-Tirmidzi, 3: 463; Ibnu Majah, 1: 550; dan Ahmad, 3: 298. Dan lafaz ini dikeluarkan oleh At-Tirmidzi)

Allah menamakan 10 hari pertama Zulhijah sebagai hari-hari yang telah ditentukan

Allah Ta’ala berfirman,

وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ

“Dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28)

Syu’bah dan Husyaim mengatakan dari Abu Bisyr dari Sa’id, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa hari-hari yang telah ditentukan (ayyamul ma’lumat) adalah sepuluh hari di bulan Zulhijah. (Fathul Bari, 2: 531 dan Tafsir At-Thabari, 4: 208)

Demikian keutamaan dari bulan Zulhijah. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kita untuk melakukan amal-amal kebaikan pada bulan ini dan menjaga hak-hak Allah, terutama pada sepuluh hari pertamanya. Hanya kepada Allah kita memohon taufik.

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

  • Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta.
  • Durus li Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, Maktabah Syamilah.
  • Kajian Keutamaan-Keutamaan Bulan Zulhijah, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Annisa Auraliansa

Annisa Auraliansa

Penulis di muslimah.or.id

Artikel Terkait

Boleh Jadi Kamu Tidak Menyukai Sesuatu Padahal Allah Menjadikan Kebaikan yang Banyak Padanya

Boleh Jadi Kamu Tidak Menyukai Sesuatu Padahal Allah Menjadikan Kebaikan yang Banyak Padanya

oleh Wakhidatul Latifah
25 Februari 2013
13

Dia menakdirkan bagi mereka berbagai macam musibah, ujian, dan cobaan dengan perintah dan larangan yang berat adalah karena kasih sayang...

Sabar Menahan Gangguan dari Orang Tua

oleh Yulian Purnama
12 September 2020
4

Jika orang tua memberikan gangguan pada anaknya, atau orang tua memukul anaknya, atau mencelanya, maka bukan termasuk adab dan akhlak...

Keutamaan Bersikap Qana’ah

oleh Muslimah.or.id
1 Juli 2014
1

Barang siapa yang di pagi hari dirinya aman, sehat badannya, dan di dekatnya ada makanan untuk hari itu, maka seakan-akan...

Artikel Selanjutnya

55 Faedah Hari Arafah (Bag. 3)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.