Menanamkan prasangka baik kepada Allah
Hamba yang beriman adalah orang yang mempunyai prasangka baik terhadap Rabb-nya. Hamba yang beriman yakin bahwa Rabb-nya akan menolongnya dari keburukan musuh-musuhnya. Ketika dia tertimpa musibah, dia yakin bahwa musibah itu berasal dari kesalahan dirinya sendiri, bukan kezaliman yang Allah berikan. Hal ini karena Allah tidak pernah berbuat zalim, Allah selalu berbuat adil, bahkan murah hati kepada hamba-Nya. Dia yakin bahwa Allah yang memberikannya rezeki, dan tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman kepada-Nya. Dia yakin bahwa Allah yang memberikannya hidayah. Dia yakin bahwa Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya. Allah-lah yang paling memenuhi janji. Segala prasangka yang ada pada Rabb-nya adalah prasangka yang baik.
Di dalam hadis yang sahih, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,
أنا عند ظن عبدي بي
“Sesungguhnya, Aku berdasarkan prasangka hamba–Ku terhadap–Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يموتن أحد منكم إلا وهو يحسن ظنه بالله عَزَّ وجَلَّ
“Janganlah salah seorang kalian meninggal dunia, kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)
Hanya prasangka tidaklah menentukan apapun
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ ٱلْحَقِّ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)
Ayat di atas menceritakan bahwa ketika kaum musyrikin menyembah sesembahan selain Allah, mereka tidaklah memiliki ilmu yang baik tentang sesembahan tersebut. Mereka hanyalah menduga-duga bahwa hal tersebut adalah baik. Menduga bahwa sesembahan tersebut adalah wasilah (perantara) mereka kepada Allah. Menduga bahwa sesembahan tersebut akan mempercepat terpenuhinya hajat mereka. Namun, Allah Ta’ala mengatakan bahwa dugaan mereka tidaklah berguna sedikit pun, dan tidaklah mengandung kebenaran sedikit pun. Maka, renungkanlah! Kesyirikan ini bersumber dari prasangka-prasangka, dimana kesyirikan adalah dosa terbesar yang tidak akan Allah ampuni sampai pelakunya bertobat sebelum kematiannya, dan akan membuatnya kekal di dalam neraka.
Prasangka mengantarkan kepada dosa yang lebih besar
Allah Ta’ala berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat di atas menunjukkan bahwa, sebagian prasangka akan menimbulkan dosa. Mulai dari prasangka yang tidak baik kepada saudaranya, yang ini tidak didasari pengetahuan yang baik dan benar. Kemudian, hal tersebut akan mengantarkan pada mencari-cari kesalahan orang tersebut, kemudian dia menghibahkan hal tersebut kepada orang lain. Tidak jarang, akhirnya terjadi adu domba, saling membenci, perselisihan, dan konflik. Timbul perkataan-perkataan yang tidak baik yang bisa mengantarkan pelakunya kepada hal yang lebih besar bahayanya, semisal urusan hukum negara, bahkan tertumpahnya darah. Maka renungkanlah, dosa yang besar ini hanya dimulai dari prasangka yang tidak baik kepada orang lain!
Salah sikap karena prasangka yang tidak benar
Allah Ta’ala menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang berprasangka bahwa mereka telah berhasil membunuh Isa al-Masih ‘alaihis salam, tetapi realitanya tidaklah demikian. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا ٱلْمَسِيحَ عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ لَفِى شَكٍّ مِّنْهُ ۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًۢا
“Dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al–Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya. Akan tetapi, (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (QS. An-Nisa`: 157)
Dikarenakan mereka tidak mencari tahu dengan pasti. Mereka melakukan hal yang besar hanya dilatarbelakangi oleh dugaan. Bukan ilmu yang pasti. Mereka melakukan hal tersebut, bahkan didasari oleh keraguan dan kebingungan. Semoga Allah melaknat mereka.
Prasangka bukanlah kebenaran
Prasangka sebetulnya adalah sesuatu yang tidak membuat nyaman. Ketika seseorang mempunyai prasangka, maka dia berada dalam dua pilihan: mencari tahu atau melakukan tindakan meskipun ilmunya terbatas. Dalam keterbatasan ini, dan ia akhirnya bertindak, sebetulnya akan menimbulkan keraguan dalam hati. Apakah yang dilakukan ini adalah kebenaran ataukah tidak?
Sebatas prasangka bisa membuat orang sedih terhadap sesuatu. Bisa membuat orang marah dan bertindak yang tidak wajar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ
“Kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu.” (HR. Ahmad)
Maka, ada satu hal yang perlu disadari, bahwa prasangka bukanlah kebenaran.
Keyakinan menghilangkan prasangka
Agama Islam adalah agama yang dibangun di atas keyakinan yang kokoh. Tidak ada keraguan dan prasangka-prasangka. Islam adalah agama yang mengajarkan beribadah dengan yakin, bukan dengan prasangka, keraguan, dan perasaan. Ada satu kaidah dalam bab fikih, yang ini termasuk lima dari kaidah besar dalam bab fikih,
اليقين لا يزول بالشك
“Yakin tidak bisa hilang dengan keraguan.”
Agar keraguan dan prasangka hilang, seseorang harus belajar agar timbul keyakinan. Timbulnya prasangka buruk kepada Allah adalah tanda kita belum mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah yang mulia. Menuntut ilmu dalam Islam adalah wajib. Sehingga seorang hamba bisa beribadah kepada Rabb-nya dengan penuh keyakinan. Dan yakin adalah tenangnya hati terhadap suatu realita. (Al-Qadimiy, 2019)
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
طلبُ العلمِ فريضةٌ على كلِّ مسلمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Belajar akan membuahkan keyakinan. Maka terlebih dalam ibadah, seseorang membutuhkan keyakinan terhadap Rabb-nya. Dengan mempelajari akidah yang benar, mencakup tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa shifat. Mempelajari agama akan mendatangkan keyakinan, sehingga kita beribadah kepada Allah dengan benar. Terutama mempelajari nama dan sifat Allah sehingga tidak ada lagi mengandalkan prasangka dalam agama. Termasuk dalam bab fikih. Beribadah harus berlandaskan keyakinan dan benar. Yang wajib, maka dia yakini wajib; yang sunah, maka dia yakini sunah; sedangkan yang haram dia yakini haram, dan seterusnya.
Termasuk juga dalam menghadapi suatu peristiwa, tidak diterima dengan mentah-mentah. Tetapi, harus dipelajari sampai yakin bahwa berita tersebut sesuai dengan fakta dan realita. Karena seringkali berita yang tidak benar akan menimbulkan prasangka yang tidak benar yang membuat emosi seseorang tersalurkan menjadi kesedihan dan kemarahan yang tidak mendasar.
[Selesai]
***
Penulis: Triani Pradinaputri
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Al-Mujaddid, Shalih. 2021. Apa Makna Zhon dalam Al-Quran dan Apa Tafsir dari Perkataan Adh-Dhahak?
Baz, Bin. Makna Prasangka Buruk Kepada Allah dan Sebabnya.
Al-Khamis, Othman. Bagaimana Menghindari Prasangka Buruk Kepada Allah?



