Sering kita dengar kata “Bani Israil” di dalam Al-Qur`an. Lantas, siapakah Bani Israil itu?
Bani Israil adalah sebutan untuk anak keturanan Nabi Ya`qub ‘alaihis salam, dan dari Bani Israil jugalah lahir Yahudi. Bani Israil dikenal dengan umat yang paling banyak diutus Nabi dan Rasul kepada mereka. Kendati demikian, sifat keras kepala dan ingkar terhadap para Nabi juga tetap melekat pada Bani Israil. Berapa banyak Nabi dan Rasul yang datang kepada mereka membawa ayat dan mukjizat, namun mereka mengingkari dan justru membunuh para Rasul tersebut. Salah satu kisah Bani Israil yang disebutkan di dalam Al-Qur`an adalah kisah penyembelihan sapi kuning. Bagaimanakah kisahnya?
Allah Ta`ala berfirman,
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata, “Apakah engkau menjadikan kami sebagai bahan ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Baqarah: 67)
Dikisahkan bahwa seorang laki-laki kaya dari Bani Israil ditemukan meninggal, dan pembunuhnya tidak diketahui. Lak-laki tersebut tidak memiliki pewaris kecuali seorang keponakan laki-laki. Bani Israil pun berselisih, siapa yang membunuh lelaki tersebut. Di tengah perselisihannya, mereka memutuskan membawa perkara tersebut kepada Nabi Allah Musa ’alaihis salam. Dengan wahyu dari Allah, Musa pun memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi. Namun, bukannya mengindahkan perintah Musa, mereka malah meragukan kebenaran perintah tersebut dan menganggap Musa mengejek mereka dengan hal tersebut. Setelah Musa menegaskan bahwa hal tersebut adalah wahyu dari Allah, mereka masih belum sepenuhnya percaya, dan menanyakan hal-hal yang sulit.
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ
“Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami sapi itu.” Musa berkata, “Dia berfirman: sapi itu tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 68)
Setelah Musa memberitahukan sifat tersebut, Musa menegaskan agar melaksanakan perintah tersebut. Namun, bukannya melaksanakan, mereka malah kembali menyulitkan diri mereka sendiri dengan bertanya.
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ. قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا ۖ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ. قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ
“Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan apa warnanya.” Musa menjawab, “Dia berfirman: sapi itu kuning cerah warnanya, menyenangkan orang yang memandangnya.” Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami sapi itu, karena sapi itu (masih) samar bagi kami; dan kami in syaa Allah akan mendapatkan petunjuk.” Musa berkata, “Dia berfirman: sapi itu tidak dipakai membajak tanah dan tidak pula mengairi tanaman; sehat tanpa cacat, tidak ada belang padanya.” Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau membawa kebenaran.” Maka mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakannya.” (QS. Al-Baqarah: 69-71)
Mereka menanyakan hal-hal lain tentang sapi tersebut, mulai dari warna dan sifatnya. Setiap sifat yang dijelaskan oleh Nabi Musa, hal itu hanya membawa kesulitan bagi mereka. Setelah itu, mereka berusaha mencari sapi yang memiliki sifat tersebut, dan hampir saja keberadaan sapi itu mustahil. Sampai akhirnya mereka mendapatkan sapi itu dimiliki oleh seorang pemuda, dan sapi itu sangat berharga baginya. Pemuda tersebut tidak mau memberikan sapi tersebut kecuali ditukar dengan emas sebanding dengan berat sapi tersebut. Dan begitulah, mereka menghabiskan harta mereka hanya untuk sebuah sapi yang sedari awal jika mereka menyembelih sapi jenis apapun, mereka tidak akan menyulitkan diri mereka sendiri.
Setelah menyembelih sapi tersebut, Musa memerintahkan mereka memukul mayat tersebut dengan bagian dari sapi tersebut.
وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ. فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Dan ketika kamu membunuh seseorang, lalu kamu saling tuduh tentang itu. Tetapi Allah hendak menyingkapkan apa yang kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi itu.” Demikianlah, Allah menghidupkan orang mati dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 72-73)
Setelah mayat tersebut dipukul, maka dia berdiri dan menunjuk siapa yang telah membunuhnya; dan setelahnya, mayat itu kembali jatuh dan meninggal. Pembunuhnya adalah keponakannya sendiri yang menginginkan harta pamannya tersebut sebelum waktunya. Dalam kaidah fikih dikatakan, “Manis ta`jala syaian qobla awaanihi `uqiba bihirmaanihi”, barangsiapa yang tergesa-gesa untuk mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, dihukum dengan tidak mendapatkan hal tersebut. Artinya, dia tidak berhak mendapatkan harta warisan.
Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini:
- Tercelanya sifat tamak. Dan kisah ini disebabkan oleh rasa tamak laki-laki tersebut terhadap harta pamannya.
- Mengambil pelajaran dari sifat Musa ‘alaihis salam,terutama kesabarannya dalam menghadapi Bani Israil yang selalu mengingkari perkataanya dan mencari-cari sesuatu untuk menyulitkan Musa.
- Tercelanya sifat suka mengejek, dan sifat mengejek merupakan salah satu ciri orang-orang bodoh.
- Tercelanya debat dan banyak bertanya dalam hal-hal yang tidak bermanfaat.
- Sifat tercela Bani Israil yang masih mengingkari kebenaran walaupun setelah datangnya mukjizat dan tanda-tanda kebesaran Allah Ta`ala.
Baca juga:
***
Penulis: Norma Melani Khaira
Artikel Muslimah.or.id
Sumber:
Video youtube “Kisah-kisah dalam Al-Qur’an” yang disampaikan oleh Syekh Dr. Ahmad Abdul Hadi selama Ramadan tahun 1447.




