Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Hadis: Mendidik Anak Mengikuti Tuntunan Syariat

Putri Idhaini oleh Putri Idhaini
22 April 2026
di Hadis
0
Share on FacebookShare on Twitter

Pada pembahasan kali ini, kita akan melanjutkan pembahasan dari kitab “40 Hadits Tentang Tarbiyah dan Manhaj” karya Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhaan hafizhahullah dengan membahas hadis kelima tentang “Mendidik Anak Mengikuti Tuntunan Syariat”,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا, فَقَالُوا: وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Tiga orang lelaki mendatangi rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menanyakan tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala aku kabarkan kepada mereka (tentang ibadah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ), seakan-akan mereka memandang perkara tersebut begitu sedikit. Mereka berkata, ‘Di manakah (posisi) kita dibanding Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Sungguh telah diampuni dosa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lalu dan yang akan datang.’

Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Adapun aku, maka sungguh aku akan salat sepanjang malam selama-lamanya.’ Dan salah seorang lainnya berkata, ‘Aku akan berpuasa sepanjang tahun dan aku tak akan pernah berbuka (tidak berpuasa).’ Dan seorang lainnya (laki-laki yang terakhir) berkata, ‘Aku akan menarik diri dari wanita dan aku tidak akan menikah selama-lamanya (untuk fokus beribadah).’

Lalu datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka, beliau pun bersabda, ‘Apakah kalian yang mengatakan tentang perkara ini dan perkara itu? Ada pun aku, demi Allah, sungguh aku adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian dan aku adalah orang yang paling bertakwa kepada–Nya (dibanding kalian). Akan tetapi, aku berpuasa dan aku berbuka, aku menegakkan salat dan aku juga tidur, serta aku pun menikahi wanita. Barang siapa yang berpaling dari sunahku, ia bukanlah (termasuk) dari golonganku.’” (HR. Bukhari no. 5063, Muslim no. 1401, An-Nasa’i no. 3217, Ahmad no. 13534, dan yang lainnya)

Donasi Muslimah.or.id

Beberapa faidah dari hadis:

1) Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah generasi yang paling semangat mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Generasi yang paling semangat dalam mencontoh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam saja diberikan rambu-rambu batasan tatkala semangat dan niat baik yang mereka miliki membuat mereka menyelisihi tuntunan syariat. Batasan ini tentunya berlaku pula untuk umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai akhir zaman.

2) Sesungguhnya yang menjadi tolok ukur bagi suatu amalan adalah bagaimana keadaan amalan tersebut secara kualitas, bukan tentang banyaknya (kuantitas).

3) Komitmen terhadap sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beramal sesuai dengan tuntunan syariat, bukan dengan banyaknya amalan semata. Amalan yang sedikit, namun bersesuaian dengan tuntunan syariat tentunya jauh lebih utama dibandingkan dengan amalan yang banyak, namun menyelisihi tuntunan syariat. Seorang pendidik maupun orang tua hendaknya senantiasa menanamkan prinsip ini kepada murid-murid maupun anak-anak mereka. Mengajarkan kepada mereka tata cara ibadah yang sesuai dengan tuntunan syariat dan senantiasa mengingatkan mereka untuk memperbaiki pondasi dari setiap amalan yang mereka lakukan, yakni niat. Prinsip yang kuat akan membuat mereka tidak mudah tergiur dengan janji-janji pahala maupun keutamaan di luar logika yang ditawarkan oleh oknum-oknum yang ingin merusak agama ini dengan menambah syariat yang telah Allah Ta’ala sempurnakan. Allah Ta’ala berfirman,

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

4) Penetapan hukum terhadap suatu amalan berdasarkan akal tidak serta merta menjadikan amalan tersebut sebagai bagian dari agama kecuali dengan adanya persetujuan syariat. Ketika akal menganggap suatu perbuatan itu baik, belum tentu perbuatan itu juga bersesuaian dengan syariat. Lihat, apakah amalan tersebut ada dalilnya atau tidak, apakah ada dari kalangan salafus shalih yang melakukannya atau tidak, dan lihat pula bagaimana pendapat para ulama mengenai amalan tersebut. Jika ada indikator bahwa amalan tersebut disyariatkan, maka lakukanlah; jika tidak, maka tinggalkanlah.

5) Islam mengajarkan untuk senantiasa mencari kepastian dari sebuah kabar, tidak serta merta menelan mentah-mentah sebuah berita tanpa berusaha mengetahui kebenarannya. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kabar tiga orang lelaki yang hendak menyelisihi syariat-Nya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  memastikan terlebih dahulu apakah mereka benar-benar mengatakan hal itu, barulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan kekeliruan mereka. Sebagai seorang pendidik maupun orang tua, hendaknya kita mencontoh apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan dalam mendidik para sahabat radhiyallahu ’anhum. Jangan hanya fokus pada kesalahan murid-murid ataupun anak-anak yang kita dengar maupun ketahui dari orang lain saja, akan tetapi fokuslah untuk menanyakan kepada mereka kebenaran dari berita tersebut. Ketika mereka mengakuinya, tanyakan alasan mereka melakukan perbuatan itu, kemudian luruskanlah. Berikan pula apresiasi atas kejujuran mereka, arahkan mereka dengan baik dan jangan lupa untuk mendoakan hidayah kepada mereka.

6) Tugas orang tua maupun pendidik bukan hanya mendukung segala yang anak-anak ataupun murid-murid mereka ingin lakukan, meskipun nampaknya hal tersebut baik. Orang tua maupun pendidik tidak hanya berperan sebagai suporter, melainkan sebagai pemandu arah. Tatkala kita mendapati murid atau anak yang perilaku maupun pemikirannya menyelisihi syariat, cara mengarahkannya haruslah dengan penuh hikmah sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tuntunkan.

Berikut ini tahapan yang dapat dilakukan:

  • Mengambil hati mereka, membangun hubungan yang baik sebelum melakukan perbaikan. Connection before correction. Konsep ini yang menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki pengikut dengan loyalitas yang tinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membangun kedekatan dengan para sahabatnya.
  • Membangun komunikasi efektif dua arah dengan mengajak berdiskusi.
  • Memberikan keteladanan maupun contoh yang nyata. Sebagaimana di dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keteladanan dalam bersungguh-sungguh mengikuti syariat sebelum beliau menasihati para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

7) Bolehnya menyebutkan kelebihan maupun kebaikan diri sendiri untuk kemaslahatan, bukan dalam rangka menyombongkan diri. Sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan dalam hadis yang mulia ini, tujuannya agar para sahabat radhiyallahu ‘anhum tersadar akan kekeliruan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling bertakwa di antara seluruh manusia saja berpuasa dan juga berbuka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salat, akan tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki waktu untuk beristirahat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikah dengan wanita. Maka apakah pantas bagi seorang hamba menganggap bahwa dirinya akan mencapai derajat yang lebih mulia dengan melakukan amalan-amalan yang menyelisihi syariat Nabi-Nya?

8) Setiap amalan yang menyelisihi syariat, maka semuanya tertolak, baik karena mendapat tambahan maupun pengurangan. Ketahuilah bahwa ketika seseorang menambah atau mengurangi syariat, maka sejatinya ia sedang merendahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa tidaklah sempurna, sehingga perlu ditambah ataupun dikurangi. Selain itu, perilaku menambah maupun mengurangi ini menyelisihi firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Maidah ayat ke-3 yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Allah Ta’ala  telah menyempurnakan agama ini.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Baca juga: “Reward and Punishment” dalam Mendidik Anak

***

Penulis: Putri Idhaini

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

  1. ‘Arba’una Haditsan fii Tarbiyati wa al-Manhaj, Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhaan hafidzahullah.
  2. Terjemahmatan.com
  3. Quran.kemenag.go.id
  4. Dorar.net/h/xW5oH5KH
ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Putri Idhaini

Putri Idhaini

Alumnus Pesantren Tahfidz dan Dirosah Islamiyyah Sabilunnajah Putri, Bandung.

Artikel Terkait

Kadar Mahar Rasulullah kepada Istri-Istrinya

Hadis: Kadar Mahar Rasulullah kepada Istri-Istrinya

oleh M. Saifudin Hakim
19 November 2024
0

Teks Hadis Dari Abu Salamah bin Abdurrahman, beliau berkata, سَأَلْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ كَانَ صَدَاقُ...

Dianjurkan Membasahi Sebagian Badan Ketika Awal Turun Hujan

oleh Yulian Purnama
28 Januari 2022
0

Dan perlu diperhatikan, anjuran membasahi sebagian badan dengan air hujan adalah ketika awal turun hujan. Karena jelas Nabi mengatakan alasannya...

Menjadi Ahlul Quran; Meraih Hidup yang Lebih Bermakna dengan Mempelajari Wasiat-Nya

oleh Pipit Aprilianti
8 Desember 2015
1

Al Qur’an adalah kalamullah, firman Allah Ta’ālā. Ia bukanlah kata-kata manusia, bukan pula kata-kata jin, syaithan atau malaikat

Artikel Selanjutnya

Iddah bagi Perempuan Korban Perkosaan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.