Sebab ketujuh: Keberanian
Keberanian memiliki dampak luar biasa bagi tenangnya jiwa dan tenteramnya hati. Berbeda dengan sikap pengecut, yang menyeret pemiliknya pada gangguan (kesulitan) dalam kehidupan, sebagaimana hatinya diliputi rasa lemah, takut gagal, dan khayalan-khayalan yang masuk pada diri seseorang, padahal sebenarnya tidak terlihat wujud aslinya.
Keberanian juga merupakan salah satu dampak dari kuatnya iman serta baiknya hubungan (antara dia) dengan Allah. Karena setiap kali iman dan hubungan seorang hamba kepada Allah bertambah, maka keberaniannya pun akan bertambah dan hatinya akan lebih kuat, serta ia akan diberi pahala atas rasa senang dan kelapangan pada dadanya.
Allah Ta’ala berfirman,
اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَاۤءَهٗۖ فَلَا تَخَافُوْهُمْ وَخَافُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya. Oleh karena itu, janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang mukmin.” (QS. Ali Imran: 175)
Dalam hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dikatakan bahwasanya sungguh banyak orang yang berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari jubn (sifat lemah) dan bukhl (kikir). Karena jika keduanya bergabung di dalam hati, maka akan berdampak pada hatinya, yaitu ia akan sangat merasa sempit, kurang, dan susah. (HR. Bukhari no. 2893 dan Muslim no. 2706)
Sebab kedelapan: Peringatan tentang penyakit-penyakit hati dan gangguan-gangguannya
Penyakit-penyakit hati, gangguan-gangguannya, dan kerusakan-kerusakan (pada hati) ada banyak; hati bisa merasa sakit seperti badan, bahkan penyakit-penyakit hati memiliki dampak lebih besar bagi yang merasakannya; seperti hasad, ghil (dendam, dengki), hiqd (dendam, dengki, permusuhan), dan penyakit hati yang lain. Tabiat yang buruk dan penyakit yang memalukan ini, jika ia masuk ke dalam hati, maka akan membuat hati menjadi rusak. Dan apabila ia sampai di dada, penyakit itu akan menggelapkan dada, mempersempit dada, membuat murung (depresi), serta akan berdampak buruk baginya dan hartanya. [1]
Adapun yang hatinya bisa selamat dari penyakit-penyakit ini, serta ia bisa mengisi hatinya dengan lawan-lawan penyakit hati, seperti amanah, ikhlas, jujur, dan itsar (mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan sendiri), maka akan membalikkan keadaan orang tersebut, yaitu ia merasa dadanya lapang, hatinya tenang, dan jiwanya tenteram.
Syekh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan di dalam kitabnya ‘Amradhul Qulub wa Syifauha’, “Dan Al-Qur’an adalah obat bagi apa saja penyakit yang ada di dalam dada. Dan barang siapa yang di dalam hatinya ada penyakit-penyakit hati, (yaitu) syubhat dan syahwat, maka di dalamnya terdapat bukti-bukti yang jelas, yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Ia (seharusnya) menghilangkan penyakit-penyakit syubhat yang merusak ilmu dan pemahaman, sehingga orang tersebut melihat sesuatu sebagaimana adanya.”
Dan di dalam buku tersebut ada hikmah serta pelajaran yang baik tentang ajakan untuk membuat hati menjadi bersih. Kisah-kisah yang di dalamnya pun terdapat teladan mengenai wajibnya memperbaiki hati. Hati akan merasa senang dengan sesuatu yang bermanfaat baginya, dan membenci apa yang membahayakannya. Sehingga hati bisa tetap cinta terhadap petunjuk (kebenaran), membenci kesesatan, setelah awalnya ia menginginkan kesesatan dan tidak menghendaki sebuah petunjuk.
Al-Qur’an bisa menghilangkan berbagai penyakit berupa keinginan yang bersifat merusak, hingga hati menjadi lebih baik; yakni keinginannya menjadi baik, serta kembali pada fitrahnya yang sudah ditetapkan (oleh Allah), sebagaimana badan kembali pada kondisi yang biasanya (kembali pada fitrah). Hati akan “makan” dari iman dan Al-Qur’an. Sebagaimana Al-Qur’an akan menyucikannya. Begitupula seperti badan yang mengkonsumsi sesuatu yang membuatnya bisa bertumbuh dan bertambah kuat. Maka sebenarnya, kesucian hati itu seperti pertumbuhan badan.
Zakaatun (kesucian) menurut bahasa artinya an–namau wa az–ziadah fi ash–shalaah (pertumbuhan dan pertambahan kebaikan). Dikatakan bahwasanya: zakaa asy–syai, idza naama fi ash–shalaah (sesuatu yang suci: maksudnya apabila ia bertumbuh kebaikannya). Oleh karenanya, hati butuh dirawat; agar bisa tumbuh dan berkembang, sampai ia bisa sempurna dan menjadi baik. Sebagaimana badan butuh dirawat dengan makanan-makanan yang baik untuknya.
Selain dirawat, haruslah dibersamai dengan pencegahan dari hal-hal yang membayakannya; karena badan tidak bertumbuh kecuali dengan diberikan sesuatu yang bermanfaat untuknya dan menghindari yang berbahaya baginya. Seperti itulah perihal hati. Ia tidak akan bertumbuh dan berkembang hingga bisa sempurna atau lengkap kebaikannya, kecuali jika ia mendapati segala sesuatu yang bermanfaat bagi hati tersebut dan menolak hal-hal yang membahayakan bagi hati.
[Bersambung]
***
Penerjemah: Evi Noor Azizah
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
[1] Ibnu Faris mengatakan di dalam kitabnya, Maqayisil Lughah, bahwa perbedaan antara ghil dengan hiqd adalah, ghil lebih dalam rasa benci, dengki, atau dendamnya.
[2] Diterjemahkan dari kitab ‘Asyratu Asbabi Linsyirahi ash-Shadri, karya Syekh Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr, hal. 30-34.




