Hadis keempat
اِصْبِرِي يَا فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ فَإِنَّ خَيْرَ النِّسَاءِ الَّتِي نَفَعَتْ أَهْلَهَا
“Sabarlah wahai putriku, Fatimah. Sesungguhnya sebaik-baik wanita adalah yang memberikan manfaat bagi keluarganya.” (HR. Ath-Thabrani no. 222 dalam kitabnya Ad-Du’a`, hal. 90)
Sifat kesepuluh yaitu wanita yang bermanfaat bagi keluarganya. Lihatlah bagaimana perjuangan Fatimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengurus rumah tangganya. Dalam berbagai riwayat, diceritakan betapa berat tugas-tugas rumah yang ia lakukan demi melayani suaminya, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Dikisahkan bahwasanya Fatimah mengeluh kepada ayahnya karena tangannya kapalan akibat menggiling gandum dan menumbuknya. Kulit tangannya menebal, kasar, “kapalan”, atau tampak seperti terpotong, mengeras, dan berkeriput. Tentu hal ini tidak diinginkan oleh perempuan pada umumnya. Namun, karena kesungguhannya mengurus rumah dan melayani suami yang terkadang harus keluar rumah untuk berjihad dan berdakwah, maka ia rela tangannya menjadi kasar karena memutar penggiling gandum dan menumbuk bahan makanan.
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Fatimah juga mengambil air dengan qirbah (wadah air dari kulit) sampai tali bebannya meninggalkan bekas di lehernya. Ia menyapu rumah hingga pakaiannya dipenuhi debu. Dan dalam salah satu riwayat juga disebutkan bahwasanya ia memanggang roti (di tungku) hingga wajahnya berubah (karena terkena panas). Karena merasa kelelahan, Fatimah pun datang kepada ayahnya dan meminta seorang pembantu, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikannya pembantu. Bukan karena beliau tidak mampu, tetapi karena beliau melihat banyak sahabat yang masih kelaparan dan miskin.
Sebagai gantinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada Fatimah dan Ali zikir sebelum tidur. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أَدُلُّكُمَا عَلَى خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَاهُ؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَكَبِّرَا اللَّهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَسَبِّحَا ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَإِنَّ ذٰلِكَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ
“Maukah aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kalian minta? Apabila kalian berdua hendak berbaring di tempat tidur, maka bertakbirlah kepada Allah 34 kali, bertahmidlah 33 kali, dan bertasbihlah 33 kali. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu.” (HR. Al-Bukhari no. 5361 dan Muslim no. 2727 dengan sedikit perbedaan lafaz)
Semakin besar pengabdian seorang wanita kepada suami dan keluarganya, semakin tinggi pula kedudukannya di sisi Allah Ta’ala. Ia merawat, melayani, dan memperhatikan kebutuhan suaminya dan keluarganya bukan karena paksaan, tetapi karena keimanan dan ketulusan hati. Setiap peluh yang menetes, setiap kelelahan yang dirasa, semua dicatat sebagai pahala.
Melayani suami adalah ujian sekaligus ibadah. Sebagaimana suami diuji dengan mencari nafkah, maka istri diuji dengan mengurus rumah tangga dan meraih keridaan suaminya. Masing-masing dari keduanya memiliki peran dan ujian. Bukan berarti tugas suami lebih berat dari istri. Justru mengurus suami dan keluarga bukanlah perkara mudah, tetapi jika dilakukan dengan ikhlas, semua itu menjadi jalan menuju surga.
Hadis kelima
خَيْرُهُنَّ أَيْسَرُهُنَّ صَدَاقًا
“Sebaik-baik wanita adalah yang paling mudah maharnya.” (HR. Ibnu Hibban, no. 4034 dalam shahih-nya, dan Ath-Thabrani, 11: 78)
Sifat kesebelas yaitu mudah maharnya. Ia tidak memberatkan, tidak mematok harga tinggi hingga menyulitkan calon suaminya. Sebaliknya, ia justru memudahkan, peka terhadap kondisi calon suaminya dan sadar bahwa pernikahan adalah ibadah yang membutuhkan rida Allah, bukan sekadar kemewahan dunia. Keberkahan akan hadir ketika seorang wanita memudahkan jalan menuju pernikahan. Mahar yang ringan dan tidak membebani menjadi tanda kebaikan dan ketulusan niatnya.
Wanita yang berkah adalah yang hidup sederhana, tidak menuntut berlebihan, dan memahami kemampuan suaminya. Ia tidak terjebak dalam gaya hidup tinggi yang membuatnya merasa minder bila tidak memakai barang bermerek atau tampil mewah. Ia percaya diri dengan kesederhanaan, dan justru dari situlah kemuliaannya terpancar. Maka, jadilah wanita yang tahu diri, yang tahu bagaimana menjaga rumah tangga tetap dalam keberkahan. Sebab keberkahan itu tidak terletak pada banyaknya harta, tetapi pada ringan dan mudahnya kehidupan yang dijalani bersama, dengan saling memahami dan tidak saling membebani.
Inilah pembahasan ringkas mengenai sifat-sifat wanita terbaik yang disebutkan dalam 5 hadis tentang khairun nisa’, yang semoga mengingatkan dan menyadarkan kita terutama para wanita, agar senantiasa menghiasi diri dengannya dan menjadikan rida Allah sebagai tolak ukur penilaian standar yang terbaik.
[Selesai]
***
Penyusun: Nurur Rohmah Azzahra
Artikel Muslimah.or.id
Catatan kaki:
Disarikan dari Syarah Bait-Bait Khairunnisa (Karakteristik Wanita Terbaik), Dr. Firanda Andirja, Lc., MA., cetakan UFA Office, Jakarta.




