Standar penilaian terbaik
Sebagian dari kita mungkin dikenal baik oleh teman-teman, banyak dipuji oleh lingkungan, atau terlihat begitu positif di hadapan manusia. Namun, ternyata semua itu bukanlah tolak ukur yang utama. Justru yang paling penting adalah bagaimana kualitas kita menurut pandangan Allah Ta’ala dan menjadi yang terbaik di sisi-Nya.
Di zaman ini, pembahasan mengenai cara menjadi yang terbaik di sisi-Nya merupakan perkara yang sangat urgen terutama untuk kalangan wanita, mengingat banyaknya fenomena kelalaian para wanita yang berlomba-lomba mencari pengakuan dan validasi dari manusia dengan berbagai cara, apalagi di era media sosial seperti saat ini. Padahal, jika kita menjadi wanita terbaik di sisi Allah, kita akan meraih kebahagiaan tiada akhir, yaitu surga-Nya yang abadi. Berikut ini beberapa karakteristik wanita terbaik yang disebutkan dalam 5 hadis tentang khairun nisa’:
Hadis pertama
خَيْرُ نِسائِكُمُ الوَدُودُ الوَلودُ ، المُوَاتِيَةُ، المُوَاسِيَةُ، إذا اتَّقَيْنَ اللهَ
“Sebaik-baik wanita di antara kalian adalah yang penuh cinta, subur (banyak anak), yang mampu menyesuaikan diri, dan suka menghibur (menenangkan suami), jika mereka bertakwa kepada Allah.” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 13478)
Sifat pertama yaitu wanita yang penuh cinta, yang hatinya hangat, dan yang mencintai suaminya dengan tulus. Ia menanam dan menjaga rasa cintanya kepada suaminya, berusaha melihat sisi-sisi kebaikan suami, belajar melupakan kekurangannya, dan tidak sibuk membandingkan suaminya dengan laki-laki lain. Hatinya fokus dan tidak bercabang, menjaga pandangan, menjaga interaksi, dan menjaga hati. Mereka terjaga, tidak keluyuran, dan tidak sibuk mencari perhatian dari laki-laki lain, karena cinta yang terjaga adalah bagian dari jalan menuju surga.
Sifat kedua yaitu wanita yang subur, yang memiliki kesiapan untuk melahirkan keturunan. Hal ini bukanlah perkara ringan, karena mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, dan mendidik bukan sekadar tugas fisik, tetapi juga perjuangan jiwa. Namun di balik itu semua, tersimpan kebahagiaan yang kelak tak terbayangkan; berdiri di hadapan Allah dengan membawa amal yang terus mengalir dari anak-anaknya yang saleh.
Sifat ketiga yaitu wanita yang mau menyesuaikan diri, yang lembut sikapnya, lapang hatinya, berusaha memahami keadaan suaminya, merespons dengan kasih sayang, dan pandai beradaptasi dengan kebutuhannya selama itu dalam kebaikan.
Sifat keempat yaitu wanita yang selalu menghibur suaminya, menenangkan dan membersamainya, terutama di saat-saat sulit. Empat perkara dalam hadis ini bukan sekedar nasihat biasa, karena sifat-sifat ini hanya bisa lahir dari hati yang penuh takwa dan hati yang tunduk kepada Allah Ta’ala.
Hadis kedua
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji wanita Quraisy dan bersabda,
نِسَاءُ قُرَيْشٍ خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ: أَحْنَاهُ عَلَى طِفْلٍ, وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ
“Wanita-wanita Quraisy adalah sebaik-baik wanita yang pernah menunggang unta; mereka paling penyayang terhadap anak kecil dan paling menjaga hak suami dalam urusan hartanya.” (HR. Al-Bukhari no. 3434 dan Muslim no. 2527)
Sifat kelima dari sifat-sifat wanita terbaik yaitu sayang kepada anak-anak. Bukan hanya sekadar memberi makan dan pakaian, tapi betul-betul memperhatikan anak-anaknya dan sabar menghadapi tingkah mereka. Hal ini penting karena kunci sukses dan keberhasilan anak-anak bermula dari ibunya.
Sifat keenam yaitu amanah menjaga harta suami. Ia pandai, bijak, dan paling perhatian dalam mengelola harta suaminya. Ia sadar bahwa apa yang ada di rumah, semuanya adalah amanah. Harta itu adalah titipan hasil kerja keras suaminya, sehingga ia tidak seenaknya memakai, tidak boros, dan tidak impulsif. Wanita cerdas tahu cara memanfaatkan harta suami agar cukup untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam rumah tangganya. Ia tidak memaksakan keinginannya sendiri dan tidak menuntut suaminya. Ia menggunakan harta itu dengan hati-hati, dengan izin, dan dengan penuh tanggung jawab karena menyadari bahwa kelak semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah.
Hadis ketiga
خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ, وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ, وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ
“Sebaik-baik wanita adalah yang apabila engkau memandangnya, ia menyenangkanmu. Apabila engkau memerintahnya, ia menaatimu. Dan apabila engkau tidak bersamanya, ia menjaga dirimu dan hartamu.” (HR. An-Nasa’i no. 3231 dan Imam Ahmad 2: 251 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 5: 170)
Sifat ketujuh yaitu menyenangkan saat dipandang. Bukan semata-mata karena parasnya, tetapi karena kehadirannya membawa ketentraman. Caranya adalah dengan menjaga penampilan fisik, dan lebih dari itu adalah dengan memperindah akhlak dan perangai. Wajah yang cantik akan menua, namun akhlak yang mulia akan terus memancarkan cahaya. Menjaga penampilan dan akhlak di hadapan suami adalah bentuk ibadah dan bagian dari cinta.
Sifat kedelapan yaitu taat saat diperintah. Di antara ibadah yang paling memudahkan seorang wanita untuk masuk surga adalah ketaatannya kepada suami. Namun, karena amalan ini begitu besar pahala dan balasannya, tentu ujian dan tantangannya pun tidak ringan. Dalam sebuah hadis disebutkan,
إذا صلَّتِ المرأةُ خَمْسَها ، و صامَت شهرَها ، و حصَّنَتْ فرجَها ، وأطاعَت زوجَها ، قيلَ لها : ادخُلي الجنَّةَ مِن أيِّ أبوابِ الجنَّةِ شِئتِ
“Jika seorang wanita salat lima waktu, berpuasa Ramadan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah surga dari pintu mana saja yang dia suka.’” (HR. Ahmad no. 1661. Dinyatakan hasan lighairihi oleh Syekh Al-Arnauth)
Ini bukan perkara mudah, karena taat kepada suami artinya menundukkan ego, menekan perasaan ingin membantah, dan melembutkan sikap ketika hati sedang panas dan amarah sedang memuncak. Ia harus melatih dirinya untuk mendengarkan suami, menghormati keputusannya, dan berusaha untuk tidak membantah selama perintah suami tidak bertentangan dengan syariat. Dalam hal ini tentu dibutuhkan kesabaran, kelapangan dada, dan pengendalian diri yang baik. Semua itu terasa lebih berat lagi bagi wanita yang terbiasa mengikuti tayangan yang merusak fitrah, salah dalam pergaulan, atau kurang mendapatkan bimbingan yang benar. Padahal, taat kepada suami bukanlah suatu kehinaan, namun justru suatu kehormatan dan kemuliaan di sisi Allah. Di balik ketaatan yang mungkin terasa berat itu, telah menanti kebahagiaan abadi; surga, dengan semua pintunya yang terbuka lebar dan bebas dimasuki dari mana saja yang disukai.
Sifat kesembilan, saat suami tidak di sisinya, ia tetap menjaga diri dan harta suaminya. Wanita salehah adalah wanita yang menjaga diri dan amanah, baik saat suaminya ada di rumah maupun ketika sedang tidak bersamanya. Ketika suaminya sedang bepergian, ia tetap menjaga kehormatan dan harta suaminya. Ia tidak sembarangan bersikap, tahu batasan, dan menjaga dirinya dengan penuh kesadaran. Ia menjaga diri bukan hanya karena suaminya, tetapi karena takut dan taat kepada Allah. Ini adalah bentuk ketakwaannya. Ia menyadari bahwa semua yang ada pada dirinya adalah untuk suaminya saja, bukan untuk diumbar kepada sembarang lelaki. Sikap inilah yang membuat suami merasa tenang dan percaya. Ia tahu bahwa istrinya bisa menjaga dirinya dan hartanya dengan baik, meskipun ia sedang tidak berada di sampingnya.
[Bersambung]
***
Penulis: Nurur Rohmah Azzahra
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Disarikan dari Syarah Bait-Bait Khairunnisa (Karakteristik Wanita Terbaik), Dr. Firanda Andirja, Lc., MA., cetakan UFA Office, Jakarta.




