Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Meninjau Kembali Ungkapan “Banyak Anak Banyak Rezeki”

Nurur Rohmah Azzahra oleh Nurur Rohmah Azzahra
16 Maret 2026
di Keluarga dan Wanita
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Benarkah banyak anak banyak rezeki?
  • Anjuran memiliki keturunan
  • Islam mengajarkan keseimbangan
  • Mengatur tanpa membatasi

Benarkah banyak anak banyak rezeki?

Ungkapan “Banyak anak banyak rezeki” sering terdengar di tengah masyarakat Muslim. Kalimat ini pada dasarnya memiliki landasan keimanan yang benar, yaitu keyakinan bahwa Allah Ta’ala adalah Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Pemberi Rezeki, dan setiap makhluk telah dijamin rezekinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)

Islam juga secara tegas melarang manusia dari takut terhadap kemiskinan karena memiliki anak. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُم مِّنْ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

Donasi Muslimah.or.id

“Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al-Isra’: 31)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehadiran anak tidak akan mengurangi rezeki seseorang, karena rezeki orang tua dan anak masing-masing berada dalam jaminan Allah. Sehingga bisa dikatakan bahwa ungkapan “Banyak anak banyak rezeki” itu benar adanya, karena setiap anak pasti sudah membawa rezekinya sendiri dan tidak sedikitpun mengambil jatah rezeki orang tuanya.

Anjuran memiliki keturunan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menganjurkan umatnya untuk menikah dan memiliki keturunan,

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الْأُمَمَ

“Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena aku berbangga dengan banyaknya umatku di hadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Dawud no. 2050 dan An-Nasa’i no. 3229)

Begitu pula doa Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Anas bin Malik,

اَللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيْمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah! Banyakkanlah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang Engkau telah berikan kepadanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)

Dari hadis yang mulia tersebut, dapat dipahami bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai apabila umatnya memiliki keturunan yang banyak. Oleh karena itu, Islam menganjurkan umatnya untuk memiliki banyak anak dengan niat dan tujuan yang lurus, yaitu mengikuti syariat Rabbul ‘Alamin. Salah satu tujuan utamanya adalah memperbanyak jumlah umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang beliau sendiri tegaskan.

Islam mengajarkan keseimbangan

Namun, Islam juga mengajarkan keseimbangan antara tawakal kepada Allah, ikhtiar, dan tanggung jawab. Perlu dipahami, “Banyak anak banyak rezeki” bukan berarti semakin banyak anak, lalu seseorang boleh bersikap pasrah begitu saja tanpa usaha dan perencanaan yang matang. Islam tidak mengajarkan sikap menggampangkan tanggung jawab dengan dalih tawakal.

Rezeki dalam Islam tidak selalu berbentuk materi. Anak bisa menjadi sebab datangnya:

  1. keberkahan hidup,
  2. terbukanya pintu-pintu rezeki yang tak disangka,
  3. pahala jariyah melalui pendidikan, amal saleh, dan doa mereka,
  4. serta penyejuk mata dan hati bagi orang tuanya.

Namun, anak juga merupakan amanah besar. Orang tua bertanggung jawab atas pendidikan iman, akhlak, kesejahteraan, maupun keselamatan anak-anaknya, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Dalam ayat yang lain, Allah juga menegaskan bahwasanya anak adalah bagian dari ujian, sehingga diperlukan kesabaran, keadilan, kesungguhan, dan keikhlasan dalam membimbing mereka di atas jalan yang benar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan (ujian), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15)

Berdasarkan uraian di atas, menjadi jelas bahwa amanah anak menuntut adanya persiapan dan perencanaan yang matang dari kedua orang tua. Persiapan tersebut tidak terbatas pada perkara materi duniawi semata, tetapi juga mencakup kesiapan ilmu syar‘i, kematangan jiwa, serta kesiapan psikologis dalam menjalankan tanggung jawab agar setiap proses pendidikan anak dapat ditunaikan sesuai tuntunan syariat.

Mengatur tanpa membatasi

Islam adalah agama yang realistis dan penuh hikmah. Mengatur kelahiran bukan berarti menolak rezeki atau lemah keimanan, selama tidak disertai niat menentang takdir Allah, takut miskin disebabkan kehadiran anak, atau membatasi kelahiran secara mutlak seperti dengan memotong permanen jalur pembuahan. Para sahabat pun pernah melakukan ‘azl (senggama terputus) dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarangnya.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ

“Kami dahulu pernah melakukan ‘azl di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Al-Qur’an turun ketika itu.” (HR. Bukhari no. 5208 dan Muslim no. 1440)

Dalam riwayat lain disebutkan,

كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِىَّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَمْ يَنْهَنَا

“Kami dahulu melakukan ‘azl di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sampai ke telinga beliau, namun beliau tidak melarangnya.” (HR. Muslim no. 1440)

Namun sekali lagi perlu diperhatikan bahwa pengaturan kelahiran dapat dilakukan hanya jika ada sebab syar’i, di antaranya mempertimbangkan:

  1. kesehatan fisik dan mental ibu,
  2. kesehatan dan hak-hak anak (seperti menyusu, pendidikan, pengasuhan, dan sebagainya)
  3. kestabilan emosi dan psikologis anak,
  4. kemampuan orang tua dalam mendidik dengan optimal,
  5. keadaan zaman yang mungkin sudah rusak sehingga dikhawatirkan merusak keturunan nantinya.

Urusan keturunan bukanlah keputusan sepihak, melainkan amanah dan tanggung jawab bersama yang perlu dikomunikasikan dengan baik antara suami dan istri. Setiap pasangan memiliki kondisi yang berbeda—baik dari sisi kesehatan, psikologis, ekonomi, kesiapan mental, maupun kemampuan mengasuh dan mendidik anak. Oleh karena itu, Islam tidak memaksakan satu standar yang sama untuk semua keluarga.

Memiliki banyak anak adalah sunah yang mulia dan dianjurkan, sebagaimana dalam hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut di atas. Namun perlu diingat bahwa memenuhi hak-hak anak dan menunaikan amanah tarbiyah mereka adalah kewajiban yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.

Semoga Allah memberi kita keturunan yang saleh dan salehah, menjadi penyejuk mata, serta pemberat timbangan amal di akhirat kelak. Aamiin.

***

Penulis: Nurur Rohmah Azzahra

Artikel Muslimah.or.id

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Nurur Rohmah Azzahra

Nurur Rohmah Azzahra

- Mahasiswa MEDIU (Al-Madinah Internasional University) jurusan Al-Qur’an dan Tafsir - Alumni Ma'had Al-'Ilmi - Mahasiswa I'dad Lughowy Ma'had Habrul Ummah - Pewaris sanad 5 qira'at bersambung kepada Rasulullah

Artikel Terkait

Istri Pertama dan Poligami

oleh Muhammad Sanusin
23 Agustus 2014
4

Poligami itu adalah baik untuk istri pertama, kedua dan masyarakat pada umumnya. Bahasa Indonesia memang hebat memberi nama "DIMADU", karena...

Solusi Bila Ibu Mertua Tidak Suka Menantu Perempuannya

oleh Athirah Mustajab
13 April 2014
6

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid   Pertanyaan: Ibuku tidak menyukai istriku sekembalinya kami dari luar rumah atau bila kami baru...

Saat Istri Berhenti Menua Sampai Tua

Saat Istri Berhenti Menua Sampai Tua

oleh Isruwanti Ummu Nashifa
30 Agustus 2023
0

Pasanganmu adalah warna hari-harimu yang harus disyukuri karena menikah bukan hanya tentang aku dan engkau namun tentang kita serta harus...

Artikel Selanjutnya

Perempuan sebagai Content Creator: Aurat, Suara, dan Personal Branding

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.