Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Cadar: Antara Identitas Syariat dan Tren Fashion Sosial Media

Nurur Rohmah Azzahra oleh Nurur Rohmah Azzahra
14 Maret 2026
di Keluarga dan Wanita
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Ketika cadar bergeser dari ibadah menjadi simbol
  • Budaya visual dan dorongan untuk tampil berbeda
  • Evaluasi niat dalam berpenampilan
  • Peringatan salaf terhadap riya’ yang samar
  • Perintah kesederhanaan bagi seorang muslimah
  • Kehati-hatian di tengah arus perkembangan zaman

Ketika cadar bergeser dari ibadah menjadi simbol

Cadar (niqab) dikenal di tengah kaum muslimin sebagai bentuk penjagaan diri dan kehormatan seorang muslimah. Ia hadir bukan untuk menarik perhatian, tetapi justru untuk menghalangi pandangan. Namun, di zaman media sosial hari ini, kita menyaksikan sebuah fenomena baru: cadar tidak lagi sekadar penutup, tetapi mulai dihias, dibentuk, dimodifikasi, dan ditampilkan sedemikian rupa hingga menjadi bagian dari tren fashion.

Beragam model cadar dengan aksen tertentu, lipatan unik, hingga pemilihan warna dan gaya yang mencolok beredar luas di media sosial. Tidak jarang, cadar dipadukan dengan konsep estetika visual yang kuat, sehingga perhatian manusia justru tertuju pada penutup itu sendiri. Di sinilah pertanyaan penting muncul: apakah fungsi cadar masih sebagaimana tujuan awalnya?

Budaya visual dan dorongan untuk tampil berbeda

Media sosial hidup dari visual. Apa yang unik, berbeda, dan mencolok akan lebih mudah mendapatkan perhatian. Dalam budaya semacam ini, dorongan untuk tampil “tidak biasa” menjadi sangat kuat. Bahkan, perkara yang asalnya ibadah pun bisa terseret ke dalam arus ini.

Seseorang mungkin memulai dengan niat baik. Namun, ketika penampilan tersebut terus mendapatkan pujian, likes, dan pengakuan, perlahan fokus bisa bergeser. Bukan lagi pada nilai ibadah sesuai syariat, tetapi pada respon manusia. Ditambah, manusia cenderung mengulangi perilaku yang mendapatkan social reinforcement atau penguatan sosial, yakni pujian dan validasi dari lingkungan. Ketika ibadah masuk ke ruang visual publik, potensi pergeseran motivasi menjadi semakin besar.

Baca juga: Cara Menggunakan Cadar yang Benar

Donasi Muslimah.or.id

Evaluasi niat dalam berpenampilan

Islam tidak hanya menilai amal dari bentuk luarnya, tetapi juga dari niat yang tersembunyi di dalam hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907 dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu)

Namun, niat tidak bisa dijadikan pembenaran untuk setiap bentuk perbuatan. Apabila suatu amal secara lahiriah membuka pintu perhatian, ketenaran, dan fitnah, maka seorang muslimah perlu berhenti dan mengoreksi diri, karena syariat datang untuk menutup pintu-pintu keburukan, bukan justru membukanya.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,

ترك العمل من أجل الناس رياء، والعمل من أجل الناس شرك، والإخلاص أن يعافيك الله منهما

“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, beramal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” (Madarijus Salikin, 2: 349)

Perkataan ini menunjukkan betapa tipis dan berbahayanya batas antara ibadah yang ikhlas dan amal yang terseret oleh pandangan manusia.

Peringatan salaf terhadap riya’ yang samar

Para salaf sangat takut terhadap riya’ yang tersembunyi. Riya’ tidak selalu berupa pamer terang-terangan, tetapi bisa hadir dalam bentuk keinginan halus untuk dilihat, diakui, dan dipuji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan menyebut riya’ sebagai bahaya besar bagi amal seorang hamba. Beliau bersabda,

إن أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ, قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاء

“Perkara yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad no. 23630)

Disebutkan dalam hadis di atas bahwasanya riya’ adalah syirik kecil, dan sesungguhnya kesyirikan itu lebih samar daripada rayapan semut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

والذي نفسي بيده للشِّركُ أخفى من دبيب النمل

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kesyirikan itu lebih tersembunyi daripada langkah semut.” (HR. Bukhari dalam kitab al-Adabul Mufrad no. 716. Lihat Shahih Adabul Mufrad no. 551, karya al-Albani)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,

ما عالجت شيئا أشد علي من نيتي ؛ لأنها تتقلب علي

“Tidaklah aku berusaha untuk mengobati sesuatu yang lebih berat daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 21)

Jika para salaf yang ilmunya tinggi dan keimanannya kuat saja begitu takut terhadap penyakit hati ini, maka bagaimana dengan kita yang hidup di zaman serba terlihat dan serba dinilai?

Perintah kesederhanaan bagi seorang muslimah

Kesederhanaan adalah bagian dari agama ini. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

“Dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Ayat ini menjadi kaidah penting bagi muslimah dalam menjaga diri. Berhias yang berlebihan, apalagi hingga menarik perhatian, bertentangan dengan perintah syariat untuk menutup aurat. Setiap pakaian yang secara adat dianggap menarik perhatian dan menjadi sebab pandangan manusia tertuju kepadanya, maka ia termasuk bentuk tabarruj, meskipun secara zahirnya seluruh tubuh telah tertutup. Ketika cadar sebagai penutup wajah justru menjadi sarana untuk tampil menonjol, seorang muslimah perlu bertanya dengan jujur kepada dirinya: apakah ini masih berada dalam koridor syariat yang benar?

Kehati-hatian di tengah arus perkembangan zaman

Cadar adalah bagian dari kehormatan, bukan panggung ekspresi. Ia bukan simbol status, bukan identitas sosial, dan bukan media pencarian pengakuan diri. Selayaknya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjadi renungan dan peringatan bagi para muslimah. Beliau bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ… نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مُمِيلَا تٌ مَائِلَاتٌ

“Ada dua golongan dari penghuni neraka… wanita-wanita yang berpakaian, tetapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok dan menarik perhatian.” (HR. Muslim no. 2128)

Di tengah derasnya arus perkembangan zaman saat ini, semakin sebuah ibadah atau simbol ketaatan berpotensi mengundang perhatian manusia, semakin besar pula tuntutan untuk menjaga keikhlasan dan kehati-hatian, karena keselamatan iman dan kemurnian niat jauh lebih berharga daripada apresiasi manusia.

Dalam situasi seperti ini, seorang muslimah diajak untuk lebih peka menjaga hatinya. Ketika suatu bentuk penampilan mulai mengundang perhatian, menjadi bahan perbincangan, dan memicu penilaian manusia, memilih untuk menjauh darinya bisa menjadi bentuk kehati-hatian dalam beragama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976)

Baca juga: Pakai Jilbab Lebar, Namun Masih Termasuk Tabarruj

***

Penulis: Nurur Rohmah Azzahra

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

  1. Al-Adabul Mufrad, Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Maktabah As-Salafiyyah, Kairo.
  2. Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al-Hambali, Darul Aqidah, Kairo.
  3. Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Darul Kitab al-‘Arabiy, Beirut.
  4. Shahih Adabul Mufrad, Muhammad Nashiruddin al-Albani, Maktabah ad-Dalil, Saudi Arabia.
ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Nurur Rohmah Azzahra

Nurur Rohmah Azzahra

- Mahasiswa MEDIU (Al-Madinah Internasional University) jurusan Al-Qur’an dan Tafsir - Alumni Ma'had Al-'Ilmi - Mahasiswa I'dad Lughowy Ma'had Habrul Ummah - Pewaris sanad 5 qira'at bersambung kepada Rasulullah

Artikel Terkait

Senyuman Seorang Muslimah kepada Lelaki, Bolehkah?

oleh Yulian Purnama
24 Juni 2014
11

Apakah senyuman seorang Muslimah kepada lelaki yang bukan mahram-nya sesuai dengan adab Islami? Kita simak bahasannya..

Mahar Kecil atau Sedikit tapi Bermasalah?

oleh Junaidi, S.H., M.H.
18 Februari 2026
0

Belakangan ini, ada tren yang terlihat Islami, tapi sering keliru dipahami, yaitu mahar sekecil mungkin. Ada yang bangga berkata, “Mahar saya cuma...

Hak Suami di dalam Islam

Hak Suami di dalam Islam (Bag. 1)

oleh Lisa Almira
27 Mei 2024
0

Hak suami atas istrinya merupakan salah satu hak yang besar. Hak suami atas istrinya lebih besar daripada hak istri atas...

Artikel Selanjutnya

Meninjau Kembali Ungkapan “Banyak Anak Banyak Rezeki”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.