Menyadari banyaknya nikmat yang Allah anugerahkan
Setiap hari, kita bangun dengan berbagai nikmat yang Allah anugerahkan tanpa adanya tuntutan untuk membayar semuanya. Namun, hal ini menyebabkan manusia lupa diri akan berharganya seluruh nikmat tersebut. Hingga datang masa di mana ia merasakan bahwa yang selama ini ia dapatkan dengan tanpa mengeluarkan sepeserpun, harus ia dapatkan dengan merogoh biaya yang tak murah. Sebagaimana dikatakan,
الإنسان لا يعرف قدر النعمة إلا عند فقدها
“Manusia tidak akan menyadari kadar suatu nikmat, kecuali ketika ia kehilangan hal tersebut.”
Sarana untuk mengintropeksi diri
Musibah yang menimpa seringkali adalah akibat dari perbuatan tangan kita sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ
“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 79)
Dalam ayat yang lain,
أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. Ali-Imran: 165)
Pada surah Asy-Syura, Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Syekh As-Sa’di rahimahullah berkata berkaitan dengan ayat di atas, “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa apa yang menimpa seorang hamba, berupa musibah pada badan, harta, anak keturunan, perkara-perkara yang mereka cintai dan berharga di sisi mereka, semua itu hanyalah karena perbuatan tangan mereka sendiri dari dosa-dosa yang mereka lakukan, dan bahwa apa yang Allah maafkan dari perbuatan mereka jauh lebih banyak. Karena sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-Nya, tetapi diri mereka sendirilah yang zalim.” (Tafsir As–Sa’di, hal. 899)
Allah Ta’ala juga berfirman,
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Syekh As Sa’di rahimahullah berkata, “(لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ) ‘Agar mereka kembali.’ dari perbuatan mereka yang telah sangat berdampak pada mereka berupa kerusakan, sehingga keadaan mereka menjadi lebih baik dan urusan mereka menjadi lancar. Maha Suci Dzat yang memberikan nikmat di balik ujian yang Dia berikan dan memberikan karunia di balik hukuman-Nya. Jikalau Dia membalas semua yang mereka lakukan, maka Allah tidak akan menyisakan satu makhluk pun di muka bumi ini.” (Tafsir As–Sa’di, hal. 756)
Musibah yang menimpa adalah sarana bagi kita untuk ber-muhasabah (menginstropeksi diri) dan kembali menjadi hamba yang lebih baik.
Diriwayatkan dari salah seorang salaf bahwa ada seseorang yang suka mencelanya, padahal ia tidak melakukan hal yang buruk kepada orang tersebut. Ketika orang itu selesai mencacinya, ia pun berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosaku yang karena hal itu engkau memberikan kekuasaan kepada orang ini untuk mengintimidasi diriku. Benarlah firman Allah Ta’ala,
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Menyempurnakan iman
Musibah dan cobaan yang menimpa tak jarang menjadikan kita semakin khusyuk dalam beribadah kepada Allah, merendahkan diri di hadapan-Nya dengan rasa harap dan sikap bergantung kepada-Nya dengan maksimal. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَآ إِلَىٰٓ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَٰهُم بِٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS. Al-An’am: 42)
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
الإيمان نصفان نصف صبر ونصف شكر
“Iman itu terdiri dari dua bagian: Sebagian iman dari kesabaran dan sebagian yang lain dari perbuatan syukur.” (Kitab ‘Iddatu ash–Shabirin wa Dzakhirah asy–Syakirin)
Menghapuskan dosa-dosa
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِن نَصَبٍ ولَا وصَبٍ، ولَا هَمٍّ ولَا حُزْنٍ ولَا أذًى ولَا غَمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بهَا مِن خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim ditimpa perkara yang melelahkan dan sukar serta hal-hal yang meresahkan hati, menyedihkan, mengganggu, membuat gundah gulana, sampai-sampai duri yang menusuknya, kecuali Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya dengan hal tersebut.” (HR. Bukhari no. 5641)
Diriwayatkan dari sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu,
سُئِلَ رسولُ اللهِ أيُّ الناسِ أشدُّ بلاءً قال الأنبياءُ ثم الأمثلُ فالأمثلُ يُبتَلى الناسُ على قدرِ دِينِهم فمن ثَخنَ دِينُه اشتدَّ بلاؤه ومن ضعُف دِينُه ضعُفَ بلاؤه وإنَّ الرجلَ لَيصيبُه البلاءُ حتى يمشيَ في الناسِ ما عليه خطيئةٌ
“Ditanyakan kepada Rasulullah, ‘Siapa yang paling berat ujiannya?’ Beliau menjawab, ‘Para Nabi, kemudian yang semisal dan semisal. Manusia diuji sesuai kadar agama mereka. Barangsiapa yang besar keteguhannya di atas agama, maka akan semakin besar ujiannya. Begitupun sebaliknya. Dan seseorang sungguh akan diuji dengan suatu ujian hingga ia berjalan di tengah-tengah manusia sedangkan ia tidak memiliki satu kesalahan pun.” (Shahih at–Targhib no. 3402)
Meninggikan derajat
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن عِظَمَ الجزاءِ مع عِظَمِ البلاءِ، وإن اللهَ – عز وجل – إذا أَحَبَّ قومًا ابتلاهم ؛ فمن رَضِيَ فله الرِّضَى، ومن سَخِطَ فله السُّخْطُ
“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung pada besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah ‘Azza wa Jalla mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang rida, Allah pun rida kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka Allah juga murka terhadapnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Majah no. 4031)
Diriwayatkan dari al-Lajlaj bin Hakim as-Sulami Abu Khalid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّ العبدَ إذا سبقتْ له من اللهِ منزلةٌ فلم يبلُغْها بعملٍ ؛ ابتلاه اللهُ في جسدِه أو مالِه أو في ولدِه ، ثم صبر على ذلك حتى يُبلِّغَه المنزلةَ التي سبقتْ له من اللهِ عزَّ وجلَّ
“Apabila seorang hamba telah ditetapkan untuk mendapatkan suatu kedudukan di sisi Allah dan ia belum mendapatkannya dengan suatu amalan, maka Allah akan uji dirinya pada jiwanya atau hartanya atau pada anak keturunannya. Kemudian ia bersabar atas keadaan tersebut hingga Allah membuat dia mendapatkan kedudukan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan untuknya.” (Shahih at–Targhib no. 3409)
Menguatkan iman
Allah Ta’ala berfirman,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajadah: 24)
Keimanan menjadi kuat dengan kesabaran dan keyakinan, sebab itu dikatakan,
بالصبر واليقين تُنال الإمامة في الدين
“Dengan sabar dan yakin, akan didapatkan kepemimpinan di dalam agama.”
Kita melihat bagaimana para sahabat ditempa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat kecuali iman mereka tertanam kuat di dalam dada.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 1 LANJUT KE BAGIAN 3
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- Kajian Menilik 15 Sisi Baik Dibalik Musibah, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
- Shahih Al–Bukhari, Syarikah Al Quds, Mesir.
- Tafsir As–Sa’di, Dar Ibn Al-Jauzi, Riyadh.
- Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta.




