Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Dari Bajak Laut ke Pahlawan Islam: Siapa Sebenarnya Barbarossa?

Ikfina Hikmi Kamila oleh Ikfina Hikmi Kamila
20 Maret 2026
di Kisah
0
Share on FacebookShare on Twitter

Pernahkah kalian mendengar kisah tentang seorang kapten laut berjanggut merah, dengan satu tangan yang terpotong dan salah satu mata tertutup? Dalam kartun dan film, biasanya sosok ini sering digambarkan sebagai bajak laut kejam dan haus darah.

Akan tetapi tahukah kalian? Bahwa tokoh itu bukan hanya sekadar khayalan belaka.

Ia diangkat dari sosok nyata seorang mujahid laut Muslim yang ditakuti oleh bangsa Eropa. Dunia mengenalnya dengan satu nama, yaitu Barbarossa, yang berarti “si janggut merah”. Yang jarang diketahui, Barbarossa bukanlah satu orang, melainkan dua bersaudara yang saling menguatkan dalam perjuangan ‘Aruj (Oruc) Barbarossa dan Khairuddin (Khizr) Barbarossa.

Kisah ini dimulai dari sebuah sejarah pilu tentang kehebatan dan keberanian wanita muslimah. Ibunda ‘Aruj dan Khairuddin adalah seorang Muslimah Andalusia yang berhasil melarikan diri dari kekejaman pasukan Salib di Andalus (Spanyol). Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kaum Muslimin di sana dipaksa untuk tunduk pada penyembahan salib, mereka dipenjara, disiksa, dan dibantai hanya karena mempertahankan iman mereka. Kisah pilu sang ibunda inilah yang berhasil menyalakan api jihad di hati anak-anak sang ibunda, yaitu ‘Aruj dan Khairuddin.

Pada waktu itu, Sultan Salim I -Sultan Daulah Utsmaniyah- menerima surat permintaan bantuan dan pertolongan dari kaum Muslimin Andalusia yang terkurung di penjara-penjara bawah tanah gereja. Sang Sultan lalu mengutus ‘Aruj Barbarossa untuk memimpin perlawanan dan penyelamatan kaum Muslimin.

Donasi Muslimah.or.id

Maka berangkatlah ‘Aruj bersama saudara-saudaranya -Ishaq, Ilyas, dan Khairuddin- menuju medan jihad. Namun perjuangan itu tidaklah mudah. Ilyas rahimahullah gugur di medan perang, sementara ‘Aruj sendiri tertangkap oleh Ordo Ksatria Santo Yohanes, pasukan Salib yang terkenal begitu kejam terhadap kaum Muslimin, dan ia kemudian dipenjarakan di Pulau Rhodes.

Walaupun demikian, perjuangan ini tidak berhenti. Khairuddin terus melawan, terlebih terhadap para penguasa Muslim yang berkhianat dan bersekutu dengan Spanyol di wilayah Aljazair. Sementara itu, dengan keberanian dan kecerdikannya, ‘Aruj berhasil membebaskan dirinya sendiri. Ia melarikan diri melalui laut, menyusup hingga ke Italia, merebut salah satu kapal Salib, lalu melanjutkan perjalanan ke Mesir. Di sana, ia bertemu Sultan Malik al-Ghawri, yang menghadiahkannya sebuah kapal lengkap dengan pasukan Muslim untuk kembali bergabung dengan Khairuddin di Aljazair. Beberapa bulan kemudian, meski hanya dengan jumlah kapal yang terbatas, kemenangan demi kemenangan berhasil mereka raih. Nama mereka pun menggema di lautan sebagai Al-Akhawan Barbarossa -dua bersaudara Barbarossa-, sebuah nama yang membuat pasukan Salib takut hanya dengan mendengarnya.

Di Tlemcen, ‘Aruj menghadapi ujian terakhirnya. Penguasa kota yang berkhianat dan tunduk kepada Spanyol membuka gerbang kota dan membujuk ‘Aruj agar menyerah atau melarikan diri. Namun, ‘Aruj menolak kedua pilihan tersebut. Ia bahkan memilih untuk berjuang hingga akhir dan gugur sebagai syuhada di jalan Allah. Padahal sebelumnya, ‘Aruj telah kehilangan satu tangannya saat berjihad menyelamatkan perempuan dan anak-anak Muslim. Namun kehilangan itu sama sekali tidak membuatnya lemah, darinya Justru dunia menyaksikan bahwa ‘Aruj adalah panglima yang berperang dengan seluruh dirinya.

Ketika Spanyol mengetahui bahwa ‘Aruj sendirilah yang memimpin perlawanan, mereka mengirim bala bantuan dari Madrid untuk mengepungnya dari segala arah. Namun, ‘Aruj tidak gentar. Matanya menatap musuh, sementara hatinya telah terpaut pada surga, tempat para syuhada menantinya. Ia ditusuk dari berbagai arah, diserbu dengan pedang-pedang terhunus, hingga jasadnya tercabik.

Sebelum itu semua, ‘Aruj mengangkat pandangannya ke langit. Terbayang olehnya senyum anak-anak Andalusia yang dahulu ia selamatkan dan kembalikan ke pelukan ibu-ibu mereka. Di tengah kepungan musuh, ia berseru, “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Gugurnya ‘Aruj bukan berarti redupnya umat Islam saat itu, bahkan setelahnya umat Islam kembali melahirkan panglima besar berikutnya, yaitu Khairuddin Barbarossa (Khizr) yang merupakan saudara kandung dari ‘Aruj Barbarossa. Ia membangun armada, menghancurkan kekuatan Spanyol, dan mengguncang Eropa hingga Paus Paulus III menyerukan keadaan darurat. Dalam pertempuran Preveza (1538 M), Khairuddin -meski kalah jumlah- meraih kemenangan mutlak atas armada Eropa yang dipimpin Andrea Doria.

Kemenangan itu menjadikan angkatan laut Utsmani sebagai penguasa Laut Tengah selama hampir tiga abad. Takbir menggema di seluruh negeri kaum Muslimin, mereka merayakan kemenangan ini dengan melakukan salat syukur bersama-sama. Sultan Sulaiman al-Qanuni kemudian mengangkat Khairuddin sebagai Amir Jenderal seluruh armada laut Islam, dimana sebelumnya Sultan Sulaiman Al-Qanuni teringat perjuangan ayahnya, Sultan Salim 1 rahimahullah, yang berhasil memulai perjalanan jihad mereka untuk menyelamatkan kaum Muslimin di Andalus.

Namun, perjuangannya tidak berhenti di medan perang. Khairuddin Barbarossa telah berhasil menyelamatkan lebih dari 70.000 Muslim dan Yahudi Andalusia dari kekejaman pasukan Salib dengan menggunakan cara yang sangat luar biasa dan di luar nalar manusia. Ia bolak-balik berlayar menyeberangi Laut Putih Tengah tanpa henti untuk memindahkan kaum Muslimin yang terdiri dari anak-anak, para wanita, serta para lansia dari wilayah Andalus (Spanyol) menuju wilayah kekuasaan Islam Utsmani di Afrika Utara. Karena jasanya itulah, rakyat Andalusia memberinya gelar “Khair ad-Din” –kebaikan bagi agama-, yang nama aslinya adalah Khidr. Dan bangsa Eropa memberinya gelar “Barbarossa”.

Dari kisah Barbarossa, kita memetik pelajaran bahwa kekuatan yang sesungguhnya bukan hanya terletak pada senjata dan armada, akan tetapi juga terletak pada sebuah keberanian untuk memikul dan mengambil tanggung jawab di saat umat membutuhkan. Ya, kepemimpinan yang lahir dari kesadaran akan amanah sejarah, dan juga mengajarkan kita bahwa sejarah harus dibaca dengan sepenuh keadilan. Di balik propaganda bangsa Eropa tentang Barbarossa si bajak laut yang kejam, tersimpan kenyataan yang menyakitkan tentang pengorbanan dan perjuangan yang sangat besar seorang pahlawan dalam membela umat Islam yang sangat patut untuk dikenang.

Semoga allah merahmati Khairuddin Brabarossa, ‘Aruj Barbarossa, serta saudara-saudaranya dan juga para mujahid yang ikut serta dalam pertempuran melawan kejamnya pasukan Salib.

Baca juga:

  • Buah Pengorbanan Sang Pengembara
  • Kisah Dalam Al-Quran: Perkara Penting Yang Diacuhkan

***

Penulis: Ikfina Hikmi Kamila

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

Buku Mi’atu min ‘Uẓamā’i Ummat al-Islām Ghayyarū Majrā at-Tārīkh, karya Jihād at-Tarbānī, penerbit Dār at-Taqwā, hal. 52-59.

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Ikfina Hikmi Kamila

Ikfina Hikmi Kamila

Mahasiswi Institut Muslim Cendekia (STIBA Arraayah), Sukabumi.

Artikel Terkait

Kesaksian Para Sahabat Tentang Hafalan dan Ketelitian Abu Hurairah

oleh Ummu Sa'id
8 Februari 2011
10

Sejumlah tokoh sahabat telah memberikan kesaksian tentang banyaknya ilmu Abu Hurairah dan ketepatannya dalam meriwayatkan hadits. Seorang laki-laki datang menemui...

Usia Khadijah ketika Menikah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

oleh Redaksi Muslimah.Or.Id
23 September 2012
6

Dari pernikahan dengan Khadijah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dikaruniai 6 putra. Realita ini menuai tanda tanya, di usia berapakah...

Kesejahteraan Di Masa Umar Dan Utsman

oleh Ammi Nur Baits, ST., BA.
4 Desember 2013
0

Umar perintahkan seorang petugas untuk mengumumkan agar mereka tidak buru-buru menyapih anaknya. Karena Umar akan memberi jatah nafkah bagi semua...

Artikel Selanjutnya

Berbagai Hukum Syariat yang Berkaitan dengan Hujan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.