Dihindarkan dari musibah yang lebih besar
Boleh jadi musibah yang menimpa kita saat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada kita agar terhindar dari musibah yang lebih besar di kemudian hari. Sebagaimana kisah yang Allah firmankan di dalam surah Al-Kahfi,
فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمًا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةًۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا
“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata, ‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar.” (QS. Al-Kahfi: 74)
Hikmah perbuatan Nabi Khidhir tersebut disebutkan pada ayat setelahnya,
وَأَمَّا ٱلْغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَآ أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَٰنًا وَكُفْرًا
“Dan adapun anak muda itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.” (QS. Al-Kahfi: 80)
Qatadah mengatakan, “Kedua orang tuanya merasa gembira kepadanya saat dilahirkan dan keduanya merasa sedih terhadapnya saat dibunuh. Seandainya anak itu masih hidup, niscaya sebab anak itulah keduanya akan binasa. Hendaklah seseorang itu tetap rida terhadap segala ketetapan Allah. Sebab bagi orang yang beriman, ketetapan Allah pada sesuatu yang tidak disukainya itu lebih baik baginya daripada ketetapan-Nya pada sesuatu yang disukainya.” (Tafsir Ath-Thabari, 18: 86)
Di dalam hadis shahih disebutkan,
لا يقضي الله للمؤمن من قضاء إلا كان خيرا له
“Tidaklah Allah menetapkan suatu keputusan bagi orang yang beriman, melainkan keputusan itu lebih baik baginya.” (HR. Ahmad, 3: 117)
Bersabar dan yakin bahwa Allah tidak akan membebankan kecuali yang disanggupi manusia
Allah Ta’ala berfirman,
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Pahala tetap mengalir bagi yang konsisten walaupun terhalangi oleh keadaan
Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا مرضَ العبدُ أو سافرَ كتبَ لَهُ من العملِ ما كانَ يعملُهُ وَهوَ صحيحٌ مقيمٌ
“Apabila seseorang jatuh sakit atau melakukan suatu perjalanan jauh, maka akan dicatat baginya pahala amal perbuatan yang ia kerjakan ketika sehat dan mukim.” (HR. Bukhari no. 2996)
Kenikmatan bisa dirasakan setelah mengalami kesulitan
Demikianlah realitanya. Sebuah kenikmatan akan terasa manisnya setelah kita melewati pahitnya ujian terlebih dahulu. Begitupun nikmatnya surga, kita tidak akan dapat merasakannya sebelum melewati kehidupan di dunia, yang meletihkan dan penuh dengan ujian.
Supaya menyadari bahwa dunia hanya sementara dan hendaknya lebih sibuk dengan akhirat
Allah Ta’ala berfirman,
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning dan menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Demikianlah di antara hikmah di balik musibah. Semoga Allah memudahkan diri kita untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan dan rida atas segala takdir-Nya. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada kekasih tercinta; Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman.
[Selesai]
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- Kajian Menilik 15 Sisi Baik di Balik Musibah, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
- Shahih Al-Bukhari, Syarikah Al-Quds, Mesir.
- Tafsir As-Sa’di, Dar Ibn Al-Jauzi, Riyadh.
- Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta.




