Musibah dan cobaan senantiasa mengitari roda kehidupan setiap manusia. Sebagai bentuk ujian bagi mereka, agar Allah Tabaraka wa Ta’ala mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang bersabar dan siapa yang ingkar.
Di antara sebab yang dapat menenangkan hati ketika tertimpa musibah adalah dengan merenungi berbagai hikmah di balik musibah tersebut. Hal itu juga dapat membantu seorang hamba untuk berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menerima takdir-Nya, dan bersabar sembari mengharap pahala dari-Nya.
Berikut beberapa hikmah musibah yang dapat penulis paparkan:
Musibah dapat membantu seseorang untuk mengetahui titik kesalahannya
Dikatakan bahwa musibah adalah guru terbaik. Karena musibah yang menimpa seringkali membuat kita menyadari letak kesalahan yang kita lakukan, juga sebagai pembelajaran agar tidak terjatuh pada kesalahan yang sama di kemudian hari.
Pola pikir seperti ini (growth mindset) dapat membantu kita untuk berkembang dan menatap musibah sebagai anugerah karena sejatinya musibah adalah batu lompatan untuk kesuksesan di masa yang akan datang.
Bahwa semua kekuasaan berada di tangan Allah
Terkadang, kita telah meyakini kebenaran atau kesuksesan dari apa yang telah kita kerjakan. Disebabkan effort yang diberikan telah maksimal dan semuanya berjalan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Nyatanya yang terjadi, tidaklah seperti yang kita harapkan. Musibah datang dan meluluh-lantakkan segala hal yang kita miliki. Hingga kita pun menyadari bahwa semua berada di dalam kekuasaan Allah dan Allah berhak melakukan apapun yang Dia kehendaki berdasarkan keadilan dan hikmah-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS. Al-Qashash: 68)
Supaya mengetahui bagaimana kualitas iman di dalam dada
Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu. Adapun jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia kebelakang. Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)
Makna عَلَىٰ حَرْفٍ ‘Dengan berada di tepi’ yaitu hanya di ujung. Maksudnya, dia masuk dalam agama hanya pada ujungnya saja. Jika dia mendapatkan apa yang disukainya, maka dia tetap berada dalam agama. Tapi jika tidak, maka dia menarik diri atau mundur. (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 123)
Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai firman-Nya, وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ‘Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi.’ Dia mengatakan, “Ada seseorang yang datang ke Madinah. Jika istrinya melahirkan anak dan kudanya pun beranak, dia mengatakan, ‘Ini agama yang layak’. Dan jika istrinya tidak melahirkan serta kudanya pun tidak beranak, maka dia mengatakan, ‘Ini agama yang buruk’.” (Fathul Bari, 7: 296. HR. Bukhari no. 4742)
Maka Allah Ta’ala berfirman, خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ‘Dia rugi di dunia dan di akhirat.’ Maksudnya, dia tidak mendapatkan keuntungan di dunia sedikit pun; sedangkan di akhirat, dia berada dalam keadaan yang sangat menderita dan hina karena telah ingkar kepada Allah Yang Maha Agung. (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 124)
Dari Anas bin Malik, ia berkata kepada seorang wanita dari keluarganya, “Apakah engkau mengenal si Fulanah?” Wanita tersebut menjawab, “Iya.” Anas berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dirinya, yang sedang menangis di sisi sebuah makam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي
‘Bertakwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.’ Wanita itu menjawab, ‘Menjauhlah dariku, engkau tidak tahu musibahku.’’
Anas melanjutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membiarkannya dan berlalu pergi. Lalu, seseorang menghampiri wanita tadi dan mengatakan kepadanya, ‘Apa yang dikatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadamu?’ Wanita tersebut menjawab, ‘Aku tidak mengenalnya.’ Maka dia mengatakan, ‘Sesungguhnya beliau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.’
Anas berkata, ‘Maka perempuan tersebut mendatangi pintu rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia tidak menemui penjaga seorang pun. Wanita itu pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, aku tidak mengenalmu.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الصَّبْرَ عِندَ أَوَّلِ صَدْمَةِ
“Sesungguhnya kesabaran itu terletak pada awal musibah.” (HR. Bukhari no. 7154)
Musibah yang melanda akan menampakkan bagaimana kualitas iman yang sesungguhnya dalam diri seseorang. Apakah ia benar dalam keimanannya atau malah sebaliknya.
Agar manusia terhindar dari sifat sombong dan rasa berbangga diri
Kehidupan yang bergelimang dengan kenikmatan tidak jarang membuat seseorang menjadi lupa akan hakikat dirinya. Demikian pelajaran yang kita dapatkan ketika merenungi kisah tiga tokoh yang angkuh lagi melampaui batas, yang senantiasa Allah ulangi kisahnya di dalam Al-Qur’an; Namrudz, Fir’aun, dan Qarun.
Perihal Namrudz, Allah berfirman menjelaskan tentang kesombongannya,
أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِى حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِى رَبِّهِۦٓ أَنْ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّىَ ٱلَّذِى يُحْىِۦ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا۠ أُحْىِۦ وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَأْتِى بِٱلشَّمْسِ مِنَ ٱلْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ ٱلْمَغْرِبِ فَبُهِتَ ٱلَّذِى كَفَرَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah), karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Dzat yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.’ Lalu terdiamlah orang kafir itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)
Dikatakan bahwa Namrudz berkuasa dalam waktu yang lama; oleh sebab itu, Allah berfirman, (أَنْ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُ ٱلْمُلْكَ) ‘Karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan).’
Mujahid berkata, “Raja dunia dari barat sampai ke timur itu ada empat, dua mukmin dan dua kafir. Yang mukmin adalah Sulaiman bin Dawud dan Dzulqarnain. Sedangkan yang kafir adalah Namrudz dan Bukhtanashr.” (Tafsir Ath–Thabari, 5: 433)
Lamanya masa kekuasaan membuat Namrudz tenggelam dengan kesombongan, hingga ia pun terpedaya dan tersesat karenanya. Hal yang sama juga terjadi dengan Fir’aun, hingga ia mengatakan,
أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلْأَعْلَىٰ
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)
Maka Allah berfirman tentang kesudahannya,
فَأَخَذْنَٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذْنَٰهُمْ فِى ٱلْيَمِّ ۖ فَٱنظُرْ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلظَّٰلِمِينَ
“Maka, kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka, lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 40)
Adapun Qarun, Allah berfirman menjelaskan keadaannya,
إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَءَاتَيْنَٰهُ مِنَ ٱلْكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ
“Sesungguhnya Qarun itu termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat.” (QS. Al-Qashash: 76)
Syekh As-Sa’di rahimahullah berkata, “Firman Allah, (إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ) ‘Sesungguhnya Qarun itu termasuk kaum Musa’ yaitu dari Bani Israil, yang mereka lebih utama daripada penduduk bumi yang lain dan mengungguli manusia pada zaman tersebut. Allah memberikan karunia kepada mereka dengan karunia yang banyak. Seharusnya, keadaan mereka adalah lebih istikamah; akan tetapi, Qarun ini berbuat keji terhadap kaumnya dan melampaui batas atas apa yang diberikan kepadanya berupa harta yang banyak nan berlimpah.” (Tafsir As–Sa’di, hal. 732)
Qarun mengatakan,
إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ
“Sesungguhnya aku diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78)
Syekh As-Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Yaitu aku mendapatkan harta-harta ini karena usahaku dan pengetahuanku tentang jalan-jalan yang bisa mendatangkan uang serta pengalamanku. Atau maksudnya: berdasarkan ilmu Allah dengan keadaanku; Allah mengetahui bahwa aku pantas untuk mendapatkannya. Mengapa kalian menegurku atas apa yang telah Allah berikan kepadaku?! Allah berfirman menjelaskan bahwa pemberian-Nya bukanlah tanda akan bagusnya keadaan orang yang diberi,
أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ ٱلْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا
“Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta?” (QS. Al-Qashash: 78)
Apa yang menghalangi dari kebinasaan Qarun itu bersamaan dengan berlalunya kebiasaan Kami dan metode Kami untuk menghancurkan orang yang sepertinya bahkan lebih agung darinya, apabila melakukan hal-hal yang mengharuskan pembinasaan?!” (Tafsir As–Sa’di, hal. 732)
Kemudian beliau berkata menjelaskan akhir dari kehidupan Qarun, “Ketika telah selesai dari Qarun keadaan yang penuh dengan kekejian, kesombongan, dihiasi dunia di sisinya, dan telah menumpuk perbuatan berbangga diri yang dia lakukan, maka datanglah azab kepadanya secara tiba-tiba.
فَخَسَفْنَا بِهِۦ وَبِدَارِهِ ٱلْأَرْضَ
“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.” (QS. Al-Qashash: 81)
Sebagai balasan dari amal perbuatannya. Sebagaimana ia telah meninggikan dirinya atas hamba-hamba Allah; Allah turunkan ia kepada kondisi serendah-rendahnya, baik dirinya sendiri maupun hal-hal yang ia tertipu dengannya, berupa rumahnya, pondasi bangunannya, dan segala perabotannya.” (Tafsir As Sa’di, hal. 733)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
لَوْلَا مِحَنُ الدُّنْيَا وَمَصَائِبُهَا لَأَصَابَ الْعَبْدَ – مِنْ أَدْوَاءِ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالْفَرْعَنَةِ وَقَسْوَةِ الْقَلْبِ – مَا هُوَ سَبَبُ هَلَاكِهِ عَاجِلًا وَآجِلًا فَمِنْ رَحْمَةِ أَرْحَمِ الرَّاحِمِينَ أَنْ يَتَفَقَّدَهُ فِي الْأَحْيَانِ بِأَنْوَاعٍ مِنْ أَدْوِيَةِ الْمَصَائِبِ، تَكُونُ حَمِيَّةً لَهُ مِنْ هَذِهِ الْأَدْوَاءِ، وَحِفْظًا لِصِحَّةِ عُبُودِيَّتِهِ، وَاسْتِفْرَاغًا لِلْمَوَادِّ الْفَاسِدَةِ الرَّدِيئَةِ الْمُهْلِكَةِ مِنْهُ، فَسُبْحَانَ مَنْ يَرْحَمُ بِبَلَائِهِ، وَيَبْتَلِي بِنَعْمَائِهِ
“Kalau bukan karena ujian-ujian di dunia dan musibahnya, maka seorang hamba akan terkena berbagai penyakit seperti kesombongan, ujub, melampaui batas, dan kerasnya hati, yang merupakan sebab kebinasaannya, baik cepat maupun lambat. Maka di antara bentuk kasih sayang Dzat Yang Maha Penyayang untuk memeriksa seorang hamba dalam beberapa keadaan dengan berbagai macam obat ujian yang bisa menjadi tameng baginya dari penyakit-penyakit di atas dan menjaga keoptimalan penghambaannya, serta agar ia mengosongkan dirinya dari berbagai macam unsur yang merusak lagi buruk dan membahayakan. Maha Suci Dzat yang menyayangi hamba-Nya dengan berbagai ujian dan menguji dengan berbagai macam nikmat.” (Kitab Zadil Ma’ad, 2: 179)
[Bersambung]
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- Kajian Menilik 15 Sisi Baik di Balik Musibah, Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
- Shahih Al-Bukhari, Syarikah Al-Quds, Mesir.
- Tafsir As-Sa’di, Dar IbnAl-Jauzi, Riyadh.
- Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir, Jakarta.



