Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Hadis: Pentingnya Bersikap Adil dalam Mendidik Anak

Putri Idhaini oleh Putri Idhaini
22 Februari 2026
di Pendidikan Anak
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Beberapa faidah dari hadis
  • Duhai para pendidik, bersikaplah adil!
  • Pendidik yang adil senantiasa mengajarkan tauhid
    • Kenalkan kepada anak tentang asmaul husna beserta maknanya dan ajarkan kepadanya bagaimana cara mengamalkan apa yang telah mereka ketahui
    • Kenalkan kepada anak figur yang lebih hebat daripada tokoh-tokoh dunia entertaiment, yakni para generasi terbaik umat
    • Jangan hanya sibuk menuntut anak-anak untuk menghafal dan mengesampingkan pemahaman
  • Senantiasa berdoa kepada Allah dan konsisten dalam mendidik anak

Setelah pembahasan hadis pertama tentang “Pentingnya Niat dalam Mendidik Anak” dari kitab ringkas berjudul “40 Hadits Tentang Tarbiyah dan Manhaj”, yang ditulis oleh Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah as-Sadhan hafidzahullah, kita lanjutkan pembahasan hadis selanjutnya tentang pentingnya bersikap adil dalam mendidik anak.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ؛ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ، وَأَهْلِيهِمْ، وَمَا وَلُو

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil (kelak di hari kiamat) akan berada di mimbar-mimbar (yang terbuat) dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ﷻ, dan kedua tangan (Allah) itu kanan: yaitu orang-orang yang adil dalam menetapkan hukum, adil kepada keluarga mereka, dan adil terhadap orang-orang yang berada di bawah naungan mereka.” (HR. Muslim no. 1827)

Beberapa faidah dari hadis

Beberapa faidah dari hadis:

1) Sesungguhnya sikap adil akan mengangkat derajat pemiliknya di dunia dengan keridaan Allah ﷻ dan di akhirat dengan diberikan kepadanya tempat di atas mimbar yang terbuat dari cahaya. Cahaya yang tidak menyilaukan siapapun yang memandang.

Donasi Muslimah.or.id

2) Seseorang mendapatkan cahaya di akhirat karena cahaya yang ia pancarkan semasa di dunia. Bukan pancaran cahaya yang disebabkan oleh penampilan, namun sebab keadilan. Betapa banyak sahabat Nabi ﷺ yang berkulit hitam, bahkan memiliki cacat pada fisik, namun itu semua tak menghalangi mereka radhiyallahu ‘anhum untuk tetap bercahaya dengan keadilan di muka bumi.

3) Adil adalah meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Lawan dari adil adalah zalim, yakni meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Contoh keadilan: mengisi hati dengan hal yang semestinya harus ada, yakni keikhlasan. Contoh kezaliman: mengisi hati dengan perkara yang semestinya tidak boleh ada, yakni kesyirikan.

4) Keadilan yang paling adil adalah keikhlasan (tauhid) dan kezaliman yang paling zalim adalah kesyirikan.

5) Sesungguhnya sikap adil adalah cahaya di dunia dan penyejuk mata bagi orang yang menetapkan hukum beserta orang-orang yang ditetapkan hukum atas mereka. Maka, balasan yang pantas dari cahaya ini adalah cahaya pula di akhirat. Sebagaimana kezaliman, yang merupakan lawan dari keadilan, merupakan kegelapan di dunia. Maka balasan yang setimpal adalah diberikan kegelapan pula kelak di akhirat.

6) Di dalam hadis ini disebutkan bahwa orang-orang yang bersikap adil akan diberikan kedudukan yang khusus oleh Allah, yakni berada di posisi sebelah kanan Allah ﷻ. Hal ini menunjukkan kemuliaan kedudukan tersebut. Sebagaimana ketika kita hendak melakukan perbuatan-perbuatan baik, kita diperintahkan untuk memulainya dari sebelah kanan. Menunjukkan kemuliaan sisi kanan dibandingkan sisi yang lainnya.

7) Penetapan bahwa Allah ﷻ memiliki dua tangan, dan seluruh tangan Allah ﷻ itu kanan. Di antara bentuk keadilan adalah menetapkan apa yang Allah ﷻ tetapkan bagi diri-Nya dan apa yang Rasul-Nya ﷺ tetapkan bagi-Nya, sesuai dengan dalil-dalil yang shahih tanpa melakukan tahrif (penyelewengan dari makna yang seharusnya), ta’thil (meniadakan seluruh atau sebagian sifat), takyif (membayangkan bagaimana hakikat sifat Allah), dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).

8) Sikap adil meliputi, setiap perkataan, tulisan, perbuatan, maupun yang lainnya.

9) Terdapat keutamaan yang besar dalam bersikap adil kepada keluarga, tetapi yang lebih utama adalah tetap bersikap adil kepada selain keluarga kita. Karena kewajiban berlaku adil meliputi setiap manusia, tidak hanya dibatasi kepada keluarga atau sesama umat muslim saja, namun berlaku juga ketika kita bermuamalah dengan orang kafir.

10) Hendaknya ketika memilih pemimpin, seseorang memperhatikan dari sisi “apakah dia bisa berlaku adil?” dan dari sisi “bagaimana sikapnya tatkala mengemban sebuah amanah?” Sebagaimana yang ditekankan di dalam Al-Qur’an,

اِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ

“Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashas: 26)

Baca juga: Berbuat Adil dalam Pemberian dan Hadiah kepada Anak-Anak

Duhai para pendidik, bersikaplah adil!

Duhai para pendidik! Bersikap adil dan amanahlah dalam mendidik anak-anak kalian! Jadikanlah sikap adil dan amanah itu sebagai prinsip hidup yang tidak bisa ditawar oleh siapapun dan tidak bisa dihargai oleh apapun kecuali keridaan Allah ﷻ! Jangan sampai prinsip itu sirna hanya karena pundi-pundi harta, iming-iming tahta, maupun rasa kasihan belaka! Ingatlah bahwa setiap orang tua adalah pemimpin yang dipilih Allah ﷻ bagi anak-anaknya. Setiap guru adalah pemimpin yang dipilih oleh Allah ﷻ bagi murid-muridnya, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang dipimpinnya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

ألا كلُّكم راعٍ، وَكُلُّكم مَسئولٌ عن رعيَّتِهِ، فالأميرُ الَّذي علَى النَّاسِ راعٍ علَيهِم، وَهوَ مَسئولٌ عنهُم، والرَّجلُ راعٍ علَى أهْلِ بَيتِهِ، وَهوَ مَسئولٌ عنهُم، والمرأةُ راعيةٌ علَى بيتِ بعلِها وولدِهِ، وَهيَ مَسئولةٌ عنهُم، والعبدُ راعٍ علَى مالِ سَيِّدِهِ، وَهوَ مَسئولٌ عنهُ، فَكُلُّكُم راعٍ، وَكُلُّكُم مَسئولٌ عن رعيَّتِهِ

“Ingatlah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang amir (kepala negara) yang memimpin manusia (secara umum), dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggunjawaban atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka setiap dari kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atasnya (sesuatu yang kalian pimpin).” (HR. Bukhari no. 2554, Muslim no. 1829, Abu Daud no. 2928)

Oleh karena itu, orang yang berdakwah di jalan Allah ﷻ, para pendidik umat ini, haruslah orang yang paling adil dalam segala hal, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun tulisan. Karena keadilan tersebut akan menjadi sebab pemiliknya mendapatkan petunjuk dari Allah ﷻ. Sehingga hatinya akan bercahaya dengan cahaya keadilan dan jalan dakwahnya akan bercahaya dengan sebab keadilan yang ia lakukan. Di akhirat kelak, Allah akan mengangkat derajat serta memberikan balasan terbaik bagi para pendidik umat yang senantiasa adil dan amanah. Maka, jangan pernah meremehkan perkara keadilan, duhai pendidik generasi!

Pendidik yang adil senantiasa mengajarkan tauhid

Sebagaimana pada poin faidah dari hadis yang disebutkan sebelumnya, kita mengetahui bahwa keadilan yang paling adil adalah tauhid; dan kezaliman yang paling zalim adalah syirik. Maka hendaknya yang menjadi perhatian utama bagi setiap orang tua maupun pendidik adalah mengajarkan perkara tauhid kepada anak-anak atau para peserta didik. Mengajarkan mereka untuk menerapkan tauhid yang telah mereka pelajari dan berpegang teguh dengannya hingga akhir hayat. Kemudian mengajarkan mereka tentang kesyirikan dan bahaya yang menyertainya, serta mengajarkan mereka untuk menjauhi kesyirikan dan berhati-hati dari kesyirikan hingga akhir hayat.

Bagaimana cara mengenalkan tauhid kepada anak-anak? Dan bagaimana cara mengajarkan anak-anak untuk menerapkan tauhid yang telah mereka pelajari?

Kenalkan kepada anak tentang asmaul husna beserta maknanya dan ajarkan kepadanya bagaimana cara mengamalkan apa yang telah mereka ketahui

Contoh: Kita mengenalkan nama Allah الصَّمَدُ; bahwa maknanya adalah Allah tempat meminta segala sesuatu. Ajarkan kepada anak bahwa tidak ada yang bisa mengabulkan segala permintaan manusia, kecuali Allah. Hanya kepada Allah manusia menggantungkan segala harapannya, manusia tidak boleh bergantung kepada selain-Nya.

Ketika anak meminta sesuatu, semisal barang yang mereka impikan, ajarkan kepada mereka untuk meminta kepada Allah terlebih dahulu, bisa dengan lafaz doa yang kita tuntunkan. Seperti, “Ya Allah, aku ingin sekali mainan itu, aku meminta kemudahan kepada-Mu untuk mendapatkan mainan itu, mudahkan orang tuaku untuk mendapatkan rezeki yang halal supaya dapat membelikanku mainan itu.”

Pahamkan kepada anak bahwa yang memberikan mereka barang impian itu bukanlah orang tua, tetapi Allah. Orang tua hanyalah perantara rezeki dari Allah, tidak selayaknya anak menggantungkan harapannya kepada orang tua.

Kenalkan kepada anak figur yang lebih hebat daripada tokoh-tokoh dunia entertaiment, yakni para generasi terbaik umat

Belikan mereka buku-buku bacaan tentang kisah generasi terbaik umat. Jika anak belum bisa membaca, maka ceritakan kisah-kisah tersebut pada waktu yang sudah dikhususkan. Misalnya, sebelum tidur, tuntun anak-anak untuk memperbanyak membaca buku tentang kisah para Nabi ‘alaihimussalam, para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, dan para salafush shalih yang lainnya.

Jangan hanya sibuk menuntut anak-anak untuk menghafal dan mengesampingkan pemahaman

Hafalan yang banyak tidaklah cukup untuk menumbuhkan kecintaan anak kepada tauhid. Betapa banyak sekolah atau tempat-tempat kursus yang menawarkan program unggulan menghafal Al-Quran, tetapi tidak diiringi dengan penanaman akidah yang benar dan karakter yang baik. Hasilnya, program ini melahirkan generasi yang hanya pandai dalam perkara menghafal saja.

Senantiasa berdoa kepada Allah dan konsisten dalam mendidik anak

Rasulullah ﷺ bersabda,

أحَبُّ الأعْمالِ إلى اللهِ تَعالَى أدْوَمُها، وإنْ قَلَّ. قالَ: وكانَتْ عائِشَةُ إذا عَمِلَتِ العَمَلَ لَزِمَتْهُ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah ﷻ adalah amalan yang terus-menerus dilakukan (konsisten), meskipun itu sedikit.” (HR. Muslim no. 783)

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.

Baca juga: Mendidik Anak adalah Pekerjaan yang Tiada Usai

***

Penulis: Putri Idhaini

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

  1. “‘Arba’una Haditsan fi Tarbiyati wa al-Manhaj, Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhan hafidzahullah.
  2.  https://dorar.net/h/uAnC2Wo9, https://dorar.net/h/gaW4mlQD, https://dorar.net/h/NpZLQ79z
  3. “Keadilan Tertinggi di Jagat Raya”, Ari Wahyudi, S.Si., 2008.
  4. “Laki-Laki Adalah Pemimpin Rumah Tangga”, M. Saifudin Hakim, 2019.
  5. “Terus Menjaga Amalan Yang Biasa Dirutinkan”, Dr. Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc., 2012.
ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Putri Idhaini

Putri Idhaini

Alumnus Pesantren Tahfidz dan Dirosah Islamiyyah Sabilunnajah Putri, Bandung.

Artikel Terkait

Anak dan Dunia Bermain

oleh Isruwanti Ummu Nashifa
15 Februari 2020
0

Islam juga tidak mengabaikan betapa banyak manfaat sekaligus mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi anak perihal bermain.

Parenting Islami (Bag. 7): Dampak Keteladanan Amal Salih Orang Tua Terhadap Anak

oleh M. Saifudin Hakim
21 Desember 2016
0

Bertakwalah kepada Allah, wahai ayahanda dan ibunda. Jadilah teladan yang baik bagi anak-anak kita dengan akhlak, tabiat dan tingkah laku

Bekal Mendidik Keluarga (Bag. 1)

oleh Titi Komalasari
17 Januari 2018
0

Pendidikan adalah ibadah yang mendatangkan pahala, kebaikan dalam mendidik akan diberi balasan baik oleh Allah.

Artikel Selanjutnya

Kebahagiaan di Balik Musibah (Bag. 1)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.