Setelah pembahasan hadis pertama tentang “Pentingnya Niat dalam Mendidik Anak” dari kitab ringkas berjudul “40 Hadits Tentang Tarbiyah dan Manhaj”, yang ditulis oleh Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin ‘Abdullah as-Sadhan hafidzahullah, kita lanjutkan pembahasan hadis selanjutnya tentang pentingnya bersikap adil dalam mendidik anak.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ؛ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ، وَأَهْلِيهِمْ، وَمَا وَلُو
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil (kelak di hari kiamat) akan berada di mimbar-mimbar (yang terbuat) dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ﷻ, dan kedua tangan (Allah) itu kanan: yaitu orang-orang yang adil dalam menetapkan hukum, adil kepada keluarga mereka, dan adil terhadap orang-orang yang berada di bawah naungan mereka.” (HR. Muslim no. 1827)
Beberapa faidah dari hadis
Beberapa faidah dari hadis:
1) Sesungguhnya sikap adil akan mengangkat derajat pemiliknya di dunia dengan keridaan Allah ﷻ dan di akhirat dengan diberikan kepadanya tempat di atas mimbar yang terbuat dari cahaya. Cahaya yang tidak menyilaukan siapapun yang memandang.
2) Seseorang mendapatkan cahaya di akhirat karena cahaya yang ia pancarkan semasa di dunia. Bukan pancaran cahaya yang disebabkan oleh penampilan, namun sebab keadilan. Betapa banyak sahabat Nabi ﷺ yang berkulit hitam, bahkan memiliki cacat pada fisik, namun itu semua tak menghalangi mereka radhiyallahu ‘anhum untuk tetap bercahaya dengan keadilan di muka bumi.
3) Adil adalah meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Lawan dari adil adalah zalim, yakni meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Contoh keadilan: mengisi hati dengan hal yang semestinya harus ada, yakni keikhlasan. Contoh kezaliman: mengisi hati dengan perkara yang semestinya tidak boleh ada, yakni kesyirikan.
4) Keadilan yang paling adil adalah keikhlasan (tauhid) dan kezaliman yang paling zalim adalah kesyirikan.
5) Sesungguhnya sikap adil adalah cahaya di dunia dan penyejuk mata bagi orang yang menetapkan hukum beserta orang-orang yang ditetapkan hukum atas mereka. Maka, balasan yang pantas dari cahaya ini adalah cahaya pula di akhirat. Sebagaimana kezaliman, yang merupakan lawan dari keadilan, merupakan kegelapan di dunia. Maka balasan yang setimpal adalah diberikan kegelapan pula kelak di akhirat.
6) Di dalam hadis ini disebutkan bahwa orang-orang yang bersikap adil akan diberikan kedudukan yang khusus oleh Allah, yakni berada di posisi sebelah kanan Allah ﷻ. Hal ini menunjukkan kemuliaan kedudukan tersebut. Sebagaimana ketika kita hendak melakukan perbuatan-perbuatan baik, kita diperintahkan untuk memulainya dari sebelah kanan. Menunjukkan kemuliaan sisi kanan dibandingkan sisi yang lainnya.
7) Penetapan bahwa Allah ﷻ memiliki dua tangan, dan seluruh tangan Allah ﷻ itu kanan. Di antara bentuk keadilan adalah menetapkan apa yang Allah ﷻ tetapkan bagi diri-Nya dan apa yang Rasul-Nya ﷺ tetapkan bagi-Nya, sesuai dengan dalil-dalil yang shahih tanpa melakukan tahrif (penyelewengan dari makna yang seharusnya), ta’thil (meniadakan seluruh atau sebagian sifat), takyif (membayangkan bagaimana hakikat sifat Allah), dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).
8) Sikap adil meliputi, setiap perkataan, tulisan, perbuatan, maupun yang lainnya.
9) Terdapat keutamaan yang besar dalam bersikap adil kepada keluarga, tetapi yang lebih utama adalah tetap bersikap adil kepada selain keluarga kita. Karena kewajiban berlaku adil meliputi setiap manusia, tidak hanya dibatasi kepada keluarga atau sesama umat muslim saja, namun berlaku juga ketika kita bermuamalah dengan orang kafir.
10) Hendaknya ketika memilih pemimpin, seseorang memperhatikan dari sisi “apakah dia bisa berlaku adil?” dan dari sisi “bagaimana sikapnya tatkala mengemban sebuah amanah?” Sebagaimana yang ditekankan di dalam Al-Qur’an,
اِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ
“Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS. Al-Qashas: 26)
Baca juga: Berbuat Adil dalam Pemberian dan Hadiah kepada Anak-Anak
Duhai para pendidik, bersikaplah adil!
Duhai para pendidik! Bersikap adil dan amanahlah dalam mendidik anak-anak kalian! Jadikanlah sikap adil dan amanah itu sebagai prinsip hidup yang tidak bisa ditawar oleh siapapun dan tidak bisa dihargai oleh apapun kecuali keridaan Allah ﷻ! Jangan sampai prinsip itu sirna hanya karena pundi-pundi harta, iming-iming tahta, maupun rasa kasihan belaka! Ingatlah bahwa setiap orang tua adalah pemimpin yang dipilih Allah ﷻ bagi anak-anaknya. Setiap guru adalah pemimpin yang dipilih oleh Allah ﷻ bagi murid-muridnya, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas segala sesuatu yang dipimpinnya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
ألا كلُّكم راعٍ، وَكُلُّكم مَسئولٌ عن رعيَّتِهِ، فالأميرُ الَّذي علَى النَّاسِ راعٍ علَيهِم، وَهوَ مَسئولٌ عنهُم، والرَّجلُ راعٍ علَى أهْلِ بَيتِهِ، وَهوَ مَسئولٌ عنهُم، والمرأةُ راعيةٌ علَى بيتِ بعلِها وولدِهِ، وَهيَ مَسئولةٌ عنهُم، والعبدُ راعٍ علَى مالِ سَيِّدِهِ، وَهوَ مَسئولٌ عنهُ، فَكُلُّكُم راعٍ، وَكُلُّكُم مَسئولٌ عن رعيَّتِهِ
“Ingatlah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang amir (kepala negara) yang memimpin manusia (secara umum), dia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggunjawaban atas mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Maka setiap dari kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban atasnya (sesuatu yang kalian pimpin).” (HR. Bukhari no. 2554, Muslim no. 1829, Abu Daud no. 2928)
Oleh karena itu, orang yang berdakwah di jalan Allah ﷻ, para pendidik umat ini, haruslah orang yang paling adil dalam segala hal, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun tulisan. Karena keadilan tersebut akan menjadi sebab pemiliknya mendapatkan petunjuk dari Allah ﷻ. Sehingga hatinya akan bercahaya dengan cahaya keadilan dan jalan dakwahnya akan bercahaya dengan sebab keadilan yang ia lakukan. Di akhirat kelak, Allah akan mengangkat derajat serta memberikan balasan terbaik bagi para pendidik umat yang senantiasa adil dan amanah. Maka, jangan pernah meremehkan perkara keadilan, duhai pendidik generasi!
Pendidik yang adil senantiasa mengajarkan tauhid
Sebagaimana pada poin faidah dari hadis yang disebutkan sebelumnya, kita mengetahui bahwa keadilan yang paling adil adalah tauhid; dan kezaliman yang paling zalim adalah syirik. Maka hendaknya yang menjadi perhatian utama bagi setiap orang tua maupun pendidik adalah mengajarkan perkara tauhid kepada anak-anak atau para peserta didik. Mengajarkan mereka untuk menerapkan tauhid yang telah mereka pelajari dan berpegang teguh dengannya hingga akhir hayat. Kemudian mengajarkan mereka tentang kesyirikan dan bahaya yang menyertainya, serta mengajarkan mereka untuk menjauhi kesyirikan dan berhati-hati dari kesyirikan hingga akhir hayat.
Bagaimana cara mengenalkan tauhid kepada anak-anak? Dan bagaimana cara mengajarkan anak-anak untuk menerapkan tauhid yang telah mereka pelajari?
Kenalkan kepada anak tentang asmaul husna beserta maknanya dan ajarkan kepadanya bagaimana cara mengamalkan apa yang telah mereka ketahui
Contoh: Kita mengenalkan nama Allah الصَّمَدُ; bahwa maknanya adalah Allah tempat meminta segala sesuatu. Ajarkan kepada anak bahwa tidak ada yang bisa mengabulkan segala permintaan manusia, kecuali Allah. Hanya kepada Allah manusia menggantungkan segala harapannya, manusia tidak boleh bergantung kepada selain-Nya.
Ketika anak meminta sesuatu, semisal barang yang mereka impikan, ajarkan kepada mereka untuk meminta kepada Allah terlebih dahulu, bisa dengan lafaz doa yang kita tuntunkan. Seperti, “Ya Allah, aku ingin sekali mainan itu, aku meminta kemudahan kepada-Mu untuk mendapatkan mainan itu, mudahkan orang tuaku untuk mendapatkan rezeki yang halal supaya dapat membelikanku mainan itu.”
Pahamkan kepada anak bahwa yang memberikan mereka barang impian itu bukanlah orang tua, tetapi Allah. Orang tua hanyalah perantara rezeki dari Allah, tidak selayaknya anak menggantungkan harapannya kepada orang tua.
Kenalkan kepada anak figur yang lebih hebat daripada tokoh-tokoh dunia entertaiment, yakni para generasi terbaik umat
Belikan mereka buku-buku bacaan tentang kisah generasi terbaik umat. Jika anak belum bisa membaca, maka ceritakan kisah-kisah tersebut pada waktu yang sudah dikhususkan. Misalnya, sebelum tidur, tuntun anak-anak untuk memperbanyak membaca buku tentang kisah para Nabi ‘alaihimussalam, para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, dan para salafush shalih yang lainnya.
Jangan hanya sibuk menuntut anak-anak untuk menghafal dan mengesampingkan pemahaman
Hafalan yang banyak tidaklah cukup untuk menumbuhkan kecintaan anak kepada tauhid. Betapa banyak sekolah atau tempat-tempat kursus yang menawarkan program unggulan menghafal Al-Quran, tetapi tidak diiringi dengan penanaman akidah yang benar dan karakter yang baik. Hasilnya, program ini melahirkan generasi yang hanya pandai dalam perkara menghafal saja.
Senantiasa berdoa kepada Allah dan konsisten dalam mendidik anak
Rasulullah ﷺ bersabda,
أحَبُّ الأعْمالِ إلى اللهِ تَعالَى أدْوَمُها، وإنْ قَلَّ. قالَ: وكانَتْ عائِشَةُ إذا عَمِلَتِ العَمَلَ لَزِمَتْهُ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah ﷻ adalah amalan yang terus-menerus dilakukan (konsisten), meskipun itu sedikit.” (HR. Muslim no. 783)
Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu waliyyut taufiq.
Baca juga: Mendidik Anak adalah Pekerjaan yang Tiada Usai
***
Penulis: Putri Idhaini
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- “‘Arba’una Haditsan fi Tarbiyati wa al-Manhaj, Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhan hafidzahullah.
- https://dorar.net/h/uAnC2Wo9, https://dorar.net/h/gaW4mlQD, https://dorar.net/h/NpZLQ79z
- “Keadilan Tertinggi di Jagat Raya”, Ari Wahyudi, S.Si., 2008.
- “Laki-Laki Adalah Pemimpin Rumah Tangga”, M. Saifudin Hakim, 2019.
- “Terus Menjaga Amalan Yang Biasa Dirutinkan”, Dr. Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc., 2012.




