Saat ini kita telah memasuki salah satu bulan di antara bulan-bulan haram yang empat: Rajab. Bulan yang mulia, pembuka dari bulan-bulan kebaikan dan penuh dengan keberkahan. Abu Bakar Al-Waraq Al-Balkhi berkata,
شهر رجب شهر للزرع وشعبان شهر السقي للزرع ورمضان شهر حصاد الزرع
“Bulan Rajab merupakan bulan untuk menanam dan bulan Syakban adalah bulan untuk menyiram, sedangkan bulan Ramadan adalah waktu untuk memanen.” (Lathaiful Ma’arif)
Ibarat lomba pacuan kuda; apabila terlambat keluar dari starting gate, maka akan sangat mempengaruhi posisi dalam mengejar garis finis. Begitu pula keadaan kita dalam mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan Ramadan, hendaknya kita mulai memperbanyak amal saleh pada bulan Rajab.
Suatu hal yang harus diwaspadai pada hari-hari ini, ketika permulaan bulan Rajab bertepatan dengan akhir dari bulan Desember, di mana di dalamnya terdapat perayaan Natal bagi kaum Nasrani. Mereka beranggapan bahwa hari Natal merupakan hari lahirnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam sebagai anak Tuhan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.
Sebagian kaum muslimin latah dalam menyikapi perayaan Natal kaum Nasrani. Berlindung di balik kata toleransi, mereka ikut merayakan, mengucapkan selamat, memakai berbagai atributnya, dan sebagainya. Padahal ini merupakan bentuk kesyirikan yang nyata.
Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa Allah adalah Rabb Yang Esa, tidak memiliki istri maupun anak. Tidak bisa ditolerir, seorang muslim yang mengucapkan selamat atas lahirnya seorang anak Tuhan, walaupun sebagai bentuk toleransi terhadap agama lain.
Batasan-batasan dalam toleransi dalam beragama telah jelas dan sangat gamblang Allah firmankan di dalam ayat,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ
“Untukmu agamamu, dan untukku lah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
Cukuplah bagi kita untuk berdiam diri atas apa yang mereka kerjakan, tanpa ikut campur apalagi sampai ikut merayakan. Pemahaman yang harus diluruskan adalah tidak ada kata toleransi dalam beragama. Namun syariat tidak melarang kita untuk bermuamalah (bertransaksi) dengan penganut agama lain dalam masalah dunia.
Kami berharap agar Allah senantiasa memberikan taufik kepada semua kaum muslimin untuk beragama di atas petunjuk yang benar. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Baca juga: Bulan Rajab: Antara Sunah dan Bid’ah
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
Lathaiful Ma’arif, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, Maktabah Syamilah.




