Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

Birrul Walidain Sebelum Terlambat

Fauzan Hidayat oleh Fauzan Hidayat
23 Januari 2026
di Akhlak dan Nasihat
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Umur yang rentan kehilangan
  • Amalkan sekarang, jangan ditunda!
    • Utamakan waktu dan perhatian (quality time)
    • Layani dengan penuh kelembutan
    • Jaga adab dan tutur kata (akhlaqul karimah)
    • Mendoakan mereka tanpa henti
  • Teruskan bakti setelah mereka tiada
  • Jangan jadi orang yang terhina!

Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, sang teladan agung yang mengajarkan birrul walidain dengan sepenuh hati, juga kepada keluarga, sahabat, dan setiap orang yang berusaha taat kepada Rabb-nya.

Saudaraku, ketahuilah, ada satu sunnatullah yang pasti terjadi dan seringkali terasa pahit: perpisahan. Salah satu perpisahan terberat dalam hidup adalah ketika seorang anak harus kehilangan orang tuanya. Dua insan yang menjadi gerbang rahmat, sumber kasih sayang, dan sandaran hidupnya. Kapan momen itu datang? Tak seorang pun tahu. Itulah mengapa birrul walidain adalah ibadah yang tak boleh kita tunda. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal, karena penyesalan itu selalu datang terlambat.

Umur yang rentan kehilangan

Dari sisi statistik, risiko kehilangan orang tua umumnya meningkat saat seseorang memasuki usia 30–50 tahun. Di usia itu, orang tua biasanya telah memasuki masa senja (60–80 tahun ke atas), di mana kesehatan kian menurun dan ajal kian dekat.

Tapi ingatlah baik-baik: ajal adalah rahasia Allah! Kematian bisa datang kapan saja, tanpa peduli usia. Bisa saja seorang anak masih belia—di bawah 10 tahun—sudah ditinggal wafat salah satu atau bahkan kedua orang tuanya. Bisa juga seorang yang sudah beruban, usia 60 tahun, masih diberi kesempatan Allah untuk memeluk dan merawat ibunya yang telah renta. Ketidaktahuan inilah yang semestinya mendorong kita—di usia berapa pun—untuk segera membuktikan bakti, sebelum pintu itu tertutup.

Baca juga: Meneladani Bakti Ulama Pada Orangtuanya

Donasi Muslimah.or.id

Amalkan sekarang, jangan ditunda!

Birrul walidain bukan sekadar urusan materi. Ia lebih tentang perhatian, adab, ketulusan, dan doa. Berikut beberapa langkah nyata yang bisa kita amalkan:

Utamakan waktu dan perhatian (quality time)

Di tengah hiruk-pikuk dunia, waktu yang kita berikan adalah hadiah termahal bagi orang tua. Luangkan waktu khusus hanya untuk mereka. Dengarkan cerita mereka—meski berulang. Temani ke acara keluarga, atau sekadar duduk bersama menikmati teh hangat. Kehadiran dan perhatianmu jauh lebih berharga daripada sekadar transfer uang.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ

“Rida Allah tergantung pada rida orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, hadis ini hasan)

Perhatian tulus adalah jalan utama kepada keridaan mereka.

Layani dengan penuh kelembutan

Di usia senja, orang tua kerap menjadi lemah dan butuh bantuan. Inilah puncak birrul walidain. Bantulah dengan penuh kasih, sabar, dan tanpa keluh. Bantu memenuhi kebutuhan harian, antar mereka ke dokter, atau bantu pekerjaan rumah. Ingatlah bagaimana dulu mereka merawat kita saat masih kecil dan tak berdaya.

عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ – وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إيَاسٍ – قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ , قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَوْ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي

Dari Abu Amr asy-Syaibâni –namanya Sa’d bin Iyâs- berkata, “Pemilik rumah ini telah menceritakan kepadaku –sambil menunjuk rumah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dengan tangannya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amalan apakah yang paling dicintai Allâh?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salat pada waktunya.” Aku (Abdullah bin Mas’ud) mengatakan, ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Berbakti kepada dua orang tua.” Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allâh.” (HR Bukhari no. 5970)

Jaga adab dan tutur kata (akhlaqul karimah)

Bicaralah dengan lembut, jangan sampai mengucap “ah” apalagi membentak—terlebih saat lelah atau marah. Allah berfirman,

وَٱخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil’.” (QS. Al-Isra: 24)

Bersabar atas sikap mereka yang mungkin berubah adalah ibadah yang sangat mulia.

Mendoakan mereka tanpa henti

Doa adalah hadiah terindah yang tak terbatas ruang dan waktu. Doakan mereka usai salat, dalam sujud, tahajud, dan di waktu-waktu mustajab. Doakan kesehatan, keimanan, dan ampunan untuk mereka. Percayalah, doa anak untuk orang tua adalah doa yang mustajab.

Teruskan bakti setelah mereka tiada

Birrul walidain tidak berhenti saat orang tua wafat. Kita masih bisa terus berbakti dengan:

a) Mendoakan mereka dengan istikamah.

b) Melunasi utang-utang mereka (jika ada).

c) Menyambung tali silaturahmi dengan kerabat dan sahabat yang dahulu dekat dengan mereka.

d) Bersedekah dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat dengan niat pahala untuk mereka.

e) Menjaga nama baik dan warisan mereka, serta menghormati teman-teman mereka.

Baca juga: Bagaimana Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?

Jangan jadi orang yang terhina!

Saudaraku, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang menyesal, karena penyesalan itu datangnya selalu terlambat. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُهُ . قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ  مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Jangan sampai kita termasuk orang yang dihinakan karena menyia-nyiakan kesempatan berbakti.

Ya Allah, jadikan kami anak yang saleh dan salehah. Panjangkan umur orang tua kami dalam ketaatan, dan mudahkanlah kami untuk senantiasa berbakti kepada mereka hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslimah.or.id

ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Fauzan Hidayat

Fauzan Hidayat

Artikel Terkait

Orang yang Paling Cerdas

Siapakah Orang yang Paling Cerdas?

oleh Atma Beauty Muslimawati
16 Januari 2025
0

Seringkali kita, khususnya kami dan kita semua secara umum, perlu bercermin kepada para pendahulu dari kalangan orang-orang shalih, bagaimana mereka...

Cara Menghadapi Rasa Malas dalam Menuntut Ilmu

Cara Menghadapi Rasa Malas dalam Menuntut Ilmu

oleh Lisa Almira
9 November 2023
0

Menuntut ilmu agama merupakan bagian dari perjalanan seumur hidup kita. Usia tidak mencegah kita untuk mencarinya karena menuntut ilmu merupakan...

Obsesi Sang Pejuang

oleh Isruwanti Ummu Nashifa
14 November 2017
0

Pejuang-pejuang Islam yang visi dan misinya demi menegakkan kalimat tauhid dan memberantas penghambaan kepada selain Allah.

Artikel Selanjutnya

Mengapa Istri Nabi adalah Ummahatul Mukminin?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.