Fatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-โAdawi
Pertanyaan:
Seorang laki-laki menikahi seorang wanita dan wanita tersebut mempersyaratkan pada saat akad nikah bahwa laki-laki tersebut tidak akan menikah lagi. Apabila menikah lagi, maka laki-laki tersebut akan melepaskan (menceraikan) istrinya dengan cara yang baik (ihsan). Apakah syarat tersebut diperbolehkan?
Jawaban:
Dalam masalah ini, terdapat dua pendapat di antara para ulama. Pendapat yang menurutku sahih, wallahu aโlam, bahwa laki-laki tersebut wajib memenuhi syarat si wanita, dan tidak menikah lagi (tidak poligami); dan apabila menikah lagi, laki-laki tersebut akan melepaskan istrinya dari ikatan pernikahan dengan cara yang baik. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu โalahi wasallam,
ุฅูููู ุฃูุญูููู ุงูุดููุฑูุทู ุฃููู ูููููู ุจูููุ ู ูุง ุงุณูุชูุญูููููุชูู ู ุจููู ุงููููุฑููุฌู
โSesungguhnya syarat yang paling berhak untuk dipenuhi adalah syarat yang dengannya kalian menghalalkan kemaluan (yaitu, pernikahan, pent.).โ
Juga karena Nabi shallallahu โalaihi wasallam menyebutkan bahwa di antara tanda (ciri) orang munafik adalah jika berjanji, dia mengingkari. Selain itu, Nabi shallallahu โalaihi wasallam memenuhi perjanjian yang dibuat dengan orang-orang musyrik. Adapun hadis,
ู ูุง ููุงูู ู ููู ุดูุฑูุทู ููููุณู ููู ููุชูุงุจู ุงูููููู ูููููู ุจูุงุทูููุ ููุฅููู ููุงูู ู ูุงุฆูุฉู ุดูุฑูุทู
โSetiap syarat yang tidak ada (dasarnya) dalam Kitab Allah, maka syarat itu batil, sekalipun berjumlah seratus syarat.โ
Yang tampak menurutku berdasarkan hadis ini, wallahu Taโala aโlam, bahwa yang dimaksud adalah syarat yang menyelisihi Kitab Allah dan menyelisihi sunah Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam. Adapun syarat yang menyebutkan sebagian perkara yang mubah secara khusus dan mewajibkan seseorang untuk melaksanakannya, maka dia harus menunaikannya. Wallahu aโlam.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya dengan pertanyaan yang mirip,
ุนููู ุฑูุฌููู ุชูุฒููููุฌู ุจูุงู ูุฑูุฃูุฉู ููุดูุฑูุทู ุนููููููู ุนูููุฏู ุงููููููุงุญู ุฃูููููู ููุง ููุชูุฒููููุฌู ุนูููููููุง ููููุง ููููููููููุง ู ููู ู ูููุฒูููููุง. ููููุงููุชู ููููุง ุงุจูููุฉู ููุดูุฑูุทู ุนููููููู ุฃููู ุชูููููู ุนูููุฏู ุฃูู ููููุง ููุนูููุฏููู ู ูุง ุชูุฒูุงูู ููุฏูุฎููู ุนูููู ุฐููููู ููููููู: ูููููู ููููุฒูู ููู ุงููููููุงุกูุ ููุฅูุฐูุง ุฃูุฎููููู ููุฐูุง ุงูุดููุฑูุทูุ ูููููู ูููุฒููููุฌูุฉู ุงููููุณูุฎู ุฃูู ู ููุงุ
โTentang seorang laki-laki yang menikahi seorang wanita, lalu ketika akad nikah disyaratkan atasnya bahwa ia tidak boleh menikah lagi (poligami) dan tidak boleh membawanya keluar dari rumahnya. Wanita itu memiliki seorang putri, lalu disyaratkan pula bahwa putrinya tetap berada bersama ibunya dan bersamanya selama putrinya masih ada. Dan laki-laki itu masuk (melangsungkan akad) dengan menerima semua syarat wanita tersebut. Apakah ia wajib memenuhi (mematuhi) syarat-syarat itu? Dan jika ia melanggar syarat tersebut, apakah sang istri memiliki hak untuk membatalkan (fasakh) pernikahannya atau tidak?โ
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjawab,
ููุฃูุฌูุงุจู: ุงููุญูู ูุฏู ูููููููุ ููุนูู ู ุชูุตูุญูู ููุฐููู ุงูุดููุฑููุทู ููู ูุง ููู ู ูุนูููุงููุง ููู: ู ูุฐูููุจู ุงููุฅูู ูุงู ู ุฃูุญูู ูุฏ ููุบูููุฑููู ู ููู ุงูุตููุญูุงุจูุฉู ููุงูุชููุงุจูุนูููู ููุชูุงุจูุนููููู ู: ููุนูู ูุฑู ุจููู ุงููุฎูุทููุงุจู ููุนูู ูุฑูู ุจููู ุงูุนุงุต ุฑูุถููู ุงูููููู ุนูููููู ูุง ูุดุฑูุญ ุงููููุงุถูู ููุงููุฃูููุฒูุงุนูู ููุฅูุณูุญูุงูู ููููููุฐูุง ูููุฌูุฏู ููู ููุฐูุง ุงููููููุชู ุตูุฏูุงููุงุชู ุฃููููู ุงููู ูุบูุฑูุจู ุงููููุฏููู ูุฉู ููู ููุง ููุงูููุง ุนูููู ู ูุฐูููุจู ุงูุฃูุฒุงุนู ูููููุง ููุฐููู ุงูุดููุฑููุทู. ููู ูุฐูููุจู ู ูุงููู ุฅุฐูุง ุดูุฑูุทู ุฃูููููู ุฅุฐูุง ุชูุฒููููุฌู ุนูููููููุง ุฃููู ุชูุณูุฑููู ุฃููู ููููููู ุฃูู ูุฑูููุง ุจูููุฏูููุง ููููุญููู ุฐููููู: ุตูุญูู ููุฐูุง ุงูุดููุฑูุทู ุฃูููุถูุง ููู ูููููุชู ุงููููุฑูููุฉู ุจููู ูููููู ููู ุงููู ูุนูููู ููุญููู ู ูุฐูููุจู ุฃูุญูู ูุฏ ููู ุฐูููููุ ููู ูุง ุฃูุฎูุฑูุฌูุงูู ููู ุงูุตููุญููุญููููู ุนููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ุฃูููููู ููุงูู: {ุฅููู ุฃูุญูููู ุงูุดููุฑููุทู ุฃููู ุชูููููุง ุจููู ู ูุง ุงุณูุชูุญูููููุชูู ู ุจููู ุงููููุฑููุฌู} ููููุงูู ุนูู ูุฑู ุจููู ุงููุฎูุทููุงุจู: ู ูููุงุทูุนู ุงููุญูููููู ุนูููุฏู ุงูุดููุฑููุทู ููุฌูุนููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ู ูุง ููุณูุชูุญูููู ุจููู ุงููููุฑููุฌู ู ููู ุงูุดููุฑููุทู ุฃูุญูููู ุจูุงููููููุงุกู ู ููู ุบูููุฑููู ููููุฐูุง ููุตูู ููู ู ูุซููู ููุฐููู ุงูุดููุฑููุทูุ ุฅุฐู ููููุณู ููููุงูู ุดูุฑูุทู ูููููููู ุจููู ุจูุงููุฅูุฌูู ูุงุนู ุบูููุฑู ุงูุตููุฏูุงูู ููุงููููููุงู ู ููุชูุนูููููู ุฃููู ุชูููููู ูููู ููุฐููู ุงูุดููุฑููุทู. ููุฃูู ููุง ุดูุฑูุทู ู ูููุงู ู ููููุฏูููุง ุนูููุฏูููุง ููููููููุชููู ุนููููููู: ููููุฐูุง ู ูุซููู ุงูุฒููููุงุฏูุฉู ููู ุงูุตููุฏูุงูู ููุงูุตููุฏูุงูู ููุญูุชูู ููู ู ููู ุงููุฌูููุงููุฉู ููููู – ููู ุงููู ูููุตููุตู ุนููู ุฃูุญูู ูุฏ ูููููู ู ูุฐูููุจู ุฃูุจูู ุญููููููุฉู ููู ูุงูููู – ู ูุง ููุง ููุญูุชูู ููู ููู ุงูุซููู ููู ููุงููุฃูุฌูุฑูุฉู ููููููู ุฌูููุงููุฉู ุชูููููุตู ุนูููู ุฌูููุงููุฉู ู ูููุฑู ุงููู ูุซููู ุชูููููู ุฃูุญูููู ุจูุงููุฌูููุงุฒูุ ููุง ุณููููู ูุง ู ูุซููู ููุฐูุง ููุฌููุฒู ููู ุงููุฅูุฌูุงุฑูุฉู ููููุญูููููุง ููู ู ูุฐูููุจู ุฃูุญูู ูุฏ ููุบูููุฑููู: ุฅูู ุงุณูุชูุฃูุฌูุฑู ุงููุฃูุฌููุฑู ุจูุทูุนูุงู ููู ููููุณูููุชููู ููููุฑูุฌูุนู ููู ุฐููููู ุฅููู ุงููุนูุฑููู. ููููุฐููููู ุงุดูุชูุฑูุงุทู ุงููููููููุฉู ุนูููู ููููุฏูููุง ููุฑูุฌูุนู ููููู ุฅููู ุงููุนูุฑููู ุจูุทูุฑูููู ุงููุฃูููููู. ููู ูุชูู ููู ู ููููู ููููุง ุจูููุฐููู ุงูุดููุฑููุทู ููุชูุฒููููุฌู ููุชูุณูุฑููู: ููููููุง ููุณูุฎู ุงููููููุงุญู. ูููููู ููู ุชูููููููู ุฐููููู ุนูููู ุงููุญูุงููู ู ููุฒูุงุนู
โSegala puji bagi Allah. Ya, syarat-syarat seperti ini dan yang semakna dengannya adalah sah, menurut mazhab Imam Ahmad dan ulama lain dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, seperti Umar bin al-Khattab, Amr bin al-โAsh -semoga Allah meridai mereka berdua- serta Syuraih al-Qadhi, al-Awzaโi, dan Ishaq. Oleh karena itulah, pada masa dahulu terdapat mahar-mahar kaum Maghrib (Maroko) terdahulu, ketika mereka masih mengikuti mazhab al-Awzaโi, yang di dalamnya terdapat syarat-syarat seperti ini.
Adapun menurut mazhab Malik, jika disyaratkan bahwa bila suami menikah lagi atas istrinya atau mengambil budak perempuan (tasarrฤ), maka urusan (hak talak) berada di tangan istri, atau syarat-syarat semisalnya, maka syarat itu juga sah, dan istri berhak melakukan fasakh (pembatalan nikah) karena syarat tersebut. Dan dari sisi makna, pendapat ini mendekati mazhab Ahmad.
Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa Nabi shallallahu โalaihi wasallam bersabda, โSyarat yang paling berhak untuk kalian penuhi adalah syarat yang dengannya kalian menghalalkan kemaluan (dalam pernikahan).โ
Dan Umar bin al-Khattab berkata, โPemutusan hak-hak adalah berdasarkan syarat-syarat.โ
Maka Nabi shallallahu โalaihi wasallam menjadikan syarat-syarat yang terkait dengan sesuatu yang menghalalkan hubungan suami-istri sebagai syarat yang paling berhak dipenuhi dibanding syarat lainnya. Ini merupakan nash yang jelas mengenai syarat-syarat seperti ini, karena tidak ada syarat lain yang disepakati (ijmaโ) untuk wajib dipenuhi selain mahar dan ucapan (akad). Sehingga dapat dipastikan bahwa syarat-syarat inilah yang dimaksud.
Adapun syarat terkait tinggalnya anak perempuan istri bersamanya dan nafkah anak itu atas suami, maka syarat ini kedudukannya seperti tambahan pada mahar. Dan mahar itu sendiri menurut riwayat dari Ahmad, yang juga mazhab Abu Hanifah dan Malik, boleh mengandung ketidakjelasan yang tidak dibolehkan dalam harga jual ataupun upah sewaan. Setiap ketidakjelasan yang lebih ringan dari ketidakjelasan mahr al-mithl (mahar standar) lebih layak untuk dibolehkan. Terlebih lagi syarat seperti ini juga dibolehkan dalam akad sewa-menyewa menurut mazhab Ahmad dan lainnya, misalnya seseorang menyewa pekerja dengan imbalan makanan dan pakaiannya, dan dalam hal itu dikembalikan kepada โurf (kebiasaan masyarakat).
Demikian pula syarat bahwa nafkah anak perempuan itu menjadi tanggungan suami, maka hal itu lebih utama untuk dikembalikan kepada โurf. Dan kapan saja suami tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, lalu ia menikah lagi atau mengambil budak perempuan, maka istri berhak melakukan fasakh (membatalkan pernikahan). Namun, apakah fasakh tersebut harus melalui keputusan hakim, terdapat perbedaan pendapat.โ
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga ditanya,
ุนูู ูููู ุดูุฑูุทู ุฃูููููู ููุง ููุชูุฒููููุฌู ุนูููู ุงูุฒููููุฌูุฉู ููููุง ููุชูุณูุฑููู ููููุง ููุฎูุฑูุฌูููุง ู ููู ุฏูุงุฑูููุง ุฃููู ู ููู ุจูููุฏูููุง. ููุฅูุฐูุง ุดูุฑูุทูุชู ุนูููู ุงูุฒููููุฌู ููุจููู ุงููุนูููุฏู ููุงุชููููููุง ุนูููููููุง ููุฎูููุง ุงููุนูููุฏู ุนููู ุฐูููุฑูููุง: ูููู ุชูููููู ุตูุญููุญูุฉู ููุงุฒูู ูุฉู ููุฌูุจู ุงููุนูู ููู ุจูููุง ููุงููู ูููุงุฑูููุฉู ุฃููู ููุงุ
โTentang seorang wanita yang mensyaratkan kepada suaminya bahwa ia tidak boleh menikah lagi atas dirinya, tidak boleh mengambil budak perempuan (tasarrฤซ), dan tidak boleh mengeluarkannya dari rumahnya atau dari kotanya.
Jika ia (istri) menetapkan syarat itu kepada suami sebelum akad, dan keduanya menyepakatinya, tetapi akad nikah dilakukan tanpa menyebutkan syarat-syarat tersebut, apakah syarat-syarat itu dianggap sah dan mengikat, serta wajib diamalkan sebagaimana apabila disebutkan dalam akad, atau tidak?โ
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjawab,
ุงููุญูู ูุฏู ูููููููุ ููุนูู ู ุชูููููู ุตูุญููุญูุฉู ููุงุฒูู ูุฉู ุฅุฐูุง ููู ู ููุจูุทูููุงููุง ุญูุชููู ูููู ููุงุฑูููุชู ุนูููุฏู ุงููุนูููุฏู. ููุฐูุง ุธูุงููุฑู ู ูุฐูููุจู ุงููุฅูู ูุงู ู ุฃูุจูู ุญููููููุฉู ููุงููุฅูู ูุงู ู ู ูุงููู ููุบูููุฑูููู ูุง ููู ุฌูู ููุนู ุงููุนููููุฏู ูููููู ููุฌููู ููู ู ูุฐูููุจู ุงูุดููุงููุนูููู: ููุฎูุฑููุฌู ู ููู ู ูุณูุฃูููุฉู ” ุตูุฏูุงูู ุงูุณููุฑูู ููุงููุนูููุงููููุฉู ” ููููุฐูุง ููุทูุฑูุฏููู ู ูุงูููู ููุฃูุญูู ูุฏ ููู ุงููุนูุจูุงุฏูุงุชูุ ููุฅูููู ุงูููููููุฉู ุงููู ูุชูููุฏููู ูุฉู ุนูููุฏูููู ูุง ููุงููู ูููุงุฑูููุฉู. ููููู ู ูุฐูููุจู ุฃูุญูู ูุฏ ูููููู ุซูุงูู: ุฃูููู ุงูุดููุฑููุทู ุงููู ูุชูููุฏููู ูุฉู ููุง ุชูุคูุซููุฑู. ููููููู ูููููู ุซูุงููุซู ูููููู ุงููููุฑููู ุจููููู ุงูุดููุฑูุทู ุงูููุฐูู ููุฌูุนููู ุบูููุฑู ู ูููุตููุฏู ููุงูุชููููุงุทูุคู ุนูููู ุฃูููู ุงููุจูููุนู ุชูููุฌูุฆูุฉู ููุง ุญููููููุฉู ูููู ููุจููููู ุงูุดููุฑูุทู ุงูููุฐูู ููุง ููุฎูุฑูุฌููู ุนููู ุฃููู ููููููู ู ูููุตููุฏูุง ููุงุดูุชูุฑูุงุทู ุงููุฎูููุงุฑู ููููุญููููู. ููุฃูู ููุง ุนูุงู ููุฉู ููุตููุตู ุฃูุญูู ูุฏ ููููุฏูู ูุงุกู ุฃูุตูุญูุงุจููู ููู ูุญููููููู ุงููู ูุชูุฃูุฎููุฑูููู: ุนูููู ุฃูููู ุงูุดููุฑููุทู ููุงููู ูููุงุทูุฃูุฉู ุงูููุชูู ุชูุฌูุฑูู ุจููููู ุงููู ูุชูุนูุงููุฏููููู ููุจููู ุงููุนูููุฏู ุฅุฐูุง ููู ู ููููุณูุฎูุงููุง ุญูุชููู ุนูููุฏูุง ุงููุนูููุฏู ููุฅูููู ุงููุนูููุฏู ููููุนู ู ููููููุฏูุง ุจูููุง ููุนูููู ููุฐูุง ุฌูููุงุจู ุฃูุญูู ูุฏ ููู ู ูุณูุงุฆููู ุงููุญููููู ููู ุงููุจูููุนู ููุงููุฅูุฌูุงุฑูุฉู ููุงูุฑูููููู ููุงููููุฑูุถู ููุบูููุฑู ุฐููููู. ููููุฐูุง ููุซููุฑู ู ูููุฌููุฏู ููู ููููุงู ููู ููููููุงู ู ุฃูุตูุญูุงุจููู ุชูุถูููู ุงููููุชูููู ุนููู ุชูุนูุฏููุฏู ุฃูุนูููุงูู ุงููู ูุณูุงุฆููู. ููููุซููุฑู ู ูููููุง ู ูุดููููุฑู ุนูููุฏู ู ููู ูููู ุฃูุฏูููู ุฎูุจูุฑูุฉู ุจูุฃูุตูููู ุฃูุญูู ูุฏ ููููุตููุตูููุ ููุง ููุฎูููู ุนููููููู ุฐููููู. ููููุฏู ููุฑููุฑูููุง ุฏูููุงุฆููู ุฐููููู ู ููู ุงููููุชูุงุจู ููุงูุณูููููุฉู ููุฅูุฌูู ูุงุนู ุงูุณูููููู ููุฃูุตูููู ุงูุดููุฑููุนูุฉู ููู ู ูุณูุฃูููุฉู ุงูุชููุญูููููู
โSegala puji bagi Allah. Ya, syarat-syarat seperti itu dihukumi sah dan mengikat selama keduanya tidak membatalkannya (sebelum akad), meskipun syarat tersebut tidak disebutkan bersamaan dengan akad.
Ini adalah pendapat yang jelas dalam mazhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan selain keduanya dalam seluruh jenis akad. Dan ini juga merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Syafiโi, yang diambil dari pembahasan tentang โmahar rahasia dan mahar terang-teranganโ. Demikian pula Malik dan Ahmad menempuh kaidah ini dalam masalah ibadah; yaitu bahwa niat yang dibuat sebelumnya kedudukannya seperti niat yang bersamaan dengan pelaksanaan ibadah.
Dalam mazhab Ahmad terdapat pendapat kedua: bahwa syarat-syarat yang dibuat sebelumnya (sebelum akad) tidak berpengaruh. Dan terdapat pendapat ketiga: yaitu membedakan antara syarat yang tidak dimaksudkan sungguh-sungguh, seperti kesepakatan bahwa suatu jual beli hanyalah taljiโah (pura-pura, tidak nyata), dengan syarat yang tetap disebut syarat yang dimaksudkan, seperti syarat khiyar (hak memilih) dan semisalnya.
Adapun kebanyakan nash Imam Ahmad, para ulama terdahulu dari kalangan pengikutnya, serta para peneliti dari ulama mutaโakhkhirin menunjukkan bahwa syarat dan kesepakatan yang terjadi antara dua pihak sebelum akad, selama tidak dibatalkan hingga akad dilakukan, maka akad itu jatuh sebagai akad yang terikat dengan syarat tersebut.
Atas dasar inilah jawaban Imam Ahmad dalam permasalahan-permasalahan hiyal (rekayasa akad) dalam jual beli, sewa, gadai, utang, dan selainnya. Hal ini banyak sekali terdapat dalam perkataan beliau dan perkataan para sahabat beliau (ulama Hanbali); namun terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu dalam fatwa ini.
Banyak di antara masalah tersebut terkenal di kalangan orang yang memiliki sedikit saja pengetahuan tentang kaidah-kaidah Imam Ahmad dan nash-nash beliau; tidak samar baginya tentang masalah ini. Dan kami telah menjelaskan dalil-dalil masalah tersebut dari Al-Qurโan, Sunnah, ijmaโ ulama salaf, dan prinsip-prinsip syariat dalam pembahasan tentang masalah โtahlilโ (nikah tahlil).โ
Siapa saja yang memperhatikan akad-akad yang terjadi antara Nabi shallallahu โalihi wasallam dan selain beliau, seperti akad baiโat yang terjadi antara beliau dan kaum Anshar pada malam Aqabah, serta akad Hudaibiyah yang terjadi antara beliau dan Quraisy pada tahun Hudaibiyah, dan selainnya, akan mengetahui bahwa mereka telah sepakat terlebih dahulu dengan syarat-syarat tertentu, kemudian mereka melakukan akad dengan lafaz yang bersifat umum.
Demikian pula, nash-nash Al-Qurโan dan Sunnah yang memerintahkan untuk menunaikan akad-akad, perjanjian, syarat-syarat, serta larangan dari berkhianat, menipu, dan mengingkari syarat, semuanya mencakup hal ini secara jelas dan tegas. Karena ahli bahasa dan kebiasaan (โurf) sepakat bahwa penamaan dan makna (suatu akad atau perjanjian) sesuai dengan hal tersebut.โ
[Selesai]
***
@Unayzah, KSA; 20 Jumadil akhir 1447/ 10 Desember 2025
Penerjemah: M. Saifudin Hakim
Artikel Muslimah.or.id
ย
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari Ahkaamun Nikah waz Zifaf, hal. 112-115.




