Keinginan untuk beribadah itu bernilai ibadah
Hal ini menunjukkan akan luasnya karunia Allah Tabaraka wa Ta’ala, dimana seseorang yang berniat untuk melakukan suatu amal ibadah telah dicatat baginya pahala amal kebaikan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَت
“Barang siapa yang bertekad untuk mengerjakan suatu kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, maka ditulis baginya satu pahala kebaikan. Dan apabila ia mengerjakannya, maka dituliskan untuknya pahala sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat pahala kebaikan. Dan barang siapa yang bertekad untuk melakukan suatu keburukan dan dia tidak mengerjakannya, maka tidak dicatat atasnya. Dan apabila dia mengerjakannya, dicatat atasnya satu keburukan.” (HR. Muslim no. 130)
Para ulama berkata,
العازم كالفاعل
“Orang yang telah betekad seperti orang yang telah mengerjakan.”
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami kembali dari perang Tabuk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda,
إن أقواما خلفنا بالمدينة ما سلكنا شِعْبَا، ولا واديا، إلا وهم معنا؛ حبسهم العذر
“Sesungguhnya ada beberapa kaum yang tertinggal di Madinah; tidaklah kami menempuh suatu jalan di celah gunung atau suatu lembah, melainkan mereka bersama kami; hanya saja mereka tertahan oleh uzur (halangan).” (HR. Bukhari)
Taufik untuk beribadah merupakan karunia Allah
Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,
وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Sekiranya tidaklah karena karuria Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 21)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksudnya, jika saja Dia tidak memberikan karunia berupa pintu tobat bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan kalau saja Dia tidak membersihkan hati manusia dari syirik, dari tindakan-tindakan dosa, dari perbuatan-perbuatan kotor dan akhlak-akhlak buruk, niscaya tidak akan ada seorang pun yang memiliki hati yang bersih dan nurani yang baik. (وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ) ‘Tetapi Allah membersihkan siapa saja yang Dia kehendaki’ dari para makhluk-Nya dan Dia menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki ke dalam pintu-pintu kesesatan dan dosa. (وَٱللَّهُ سَمِيعٌ) ‘Dan Allah Maha Mendengar,’ semua ucapan hamba-hamba-Nya, (عَلِيمٌ) ‘Dan Maha Mengetahui,’ tentang orang-orang yang pantas mendapatkan petunjuk dan orang-orang yang mendapatkan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 351)
Dalam surah yang lain, Allah Ta’ala berfirman,
وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ * فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat: 7-8)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ) ‘Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian,’ yakni, menjadikan keimanan itu dicintai oleh jiwa kalian serta menjadikannya indah dalam hati kalian.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ) ‘Serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.’ Yakni, menjadikan kalian membenci kekufuran dan kefasikan. Kekafiran dan kefasikan adalah dosa-dosa besar. Sedangkan al-’ishyaan (kedurhakaan) adalah segala bentuk kemaksiatan.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ) ‘Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.’ Maksudnya, orang-orang yang memiliki sifat tersebut adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, (فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعْمَةً) ‘Sebagai karunia dan nikmat dari Allah.’ Yakni, pemberian yang Aku anugerahkan kepada kalian tersebut adalah karunia dan nikmat yang berasal dari sisi-Nya. (وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ) ‘Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’ Yakni, Maha Mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan petunjuk dan siapa saja yang berhak mendapatkan kesesatan. Dia Maha Bijaksana dalam setiap ucapan, perbuatan, syariat, serta ketetapan-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 466-469)
Kemudian, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,
يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا۟ ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم ۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَىٰكُمْ لِلْإِيمَٰنِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepada-Ku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 17)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat di atas, “Maksudnya, orang-orang Arab Badui mengungkit-ngungkit keislaman, kesetiaan, serta pertolongan yang mereka berikan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyangkal hal tersebut seraya berfirman, (قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم) ‘Katakanlah: Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat (memberi jasa) kepada-Ku dengan keislamanmu,’ karena manfaat hal tersebut akan kembali kepada kalian sendiri. Dan hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla saja karunia yang telah diberikan kepada kalian dalam Islamnya kalian itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 492)
Memahami poin ini dengan benar dapat membantu seorang muslim untuk tidak berbangga diri dengan ibadah yang telah dikerjakan dan menjadikannya pribadi yang senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5
***
Penulis: Annisa Auraliansa
Artikel Muslimah.or.id
Referensi:
- Kajian 10 Kaidah Penting Dalam Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi dan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
- ‘Asyr Qawa’id Fil ‘Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi.
- Shahih Al-Bukhari (Terjemahan), Pustaka As-Sunnah Jakarta, Cetakan Pertama, April 2010.
- Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Pustaka Ibnu Katsir Jakarta, Cetakan Kedelapan, Rabi’ul Awal 1435/ Januari 2014.
- Tafsir Juz ‘Amma (Terjemahan), Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Darul Falah Jakarta, Cetakan Pertama, 2007.
- Tafsir Juz ‘Amma (Terjemahan), Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Darul Falah Jakarta, Cetakan Pertama, 2007.



