Muslimah.or.id
Donasi muslimah.or.id
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital
No Result
View All Result
Muslimah.or.id
No Result
View All Result
Donasi muslimahorid Donasi muslimahorid

10 Kaidah dalam Beribadah (Bag. 4)

Annisa Auraliansa oleh Annisa Auraliansa
11 Januari 2026
di Akhlak dan Nasihat
0
Share on FacebookShare on Twitter

Daftar Isi

Toggle
  • Keinginan untuk beribadah itu bernilai ibadah
  • Taufik untuk beribadah merupakan karunia Allah

Keinginan untuk beribadah itu bernilai ibadah

Hal ini menunjukkan akan luasnya karunia Allah Tabaraka wa Ta’ala, dimana seseorang yang berniat untuk melakukan suatu amal ibadah telah dicatat baginya pahala amal kebaikan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَت

“Barang siapa yang bertekad untuk mengerjakan suatu kebaikan dan ia tidak mengerjakannya, maka ditulis baginya satu pahala kebaikan. Dan apabila ia mengerjakannya, maka dituliskan untuknya pahala sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat pahala kebaikan. Dan barang siapa yang bertekad untuk melakukan suatu keburukan dan dia tidak mengerjakannya, maka tidak dicatat atasnya. Dan apabila dia mengerjakannya, dicatat atasnya satu keburukan.” (HR. Muslim no. 130)

Para ulama berkata,

Donasi Muslimah.or.id

‎العازم كالفاعل

“Orang yang telah betekad seperti orang yang telah mengerjakan.”

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Kami kembali dari perang Tabuk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda,

إن أقواما خلفنا بالمدينة ما سلكنا شِعْبَا، ولا واديا، إلا وهم معنا؛ حبسهم العذر

“Sesungguhnya ada beberapa kaum yang tertinggal di Madinah; tidaklah kami menempuh suatu jalan di celah gunung atau suatu lembah, melainkan mereka bersama kami; hanya saja mereka tertahan oleh uzur (halangan).” (HR. Bukhari)

Taufik untuk beribadah merupakan karunia Allah

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Sekiranya tidaklah karena karuria Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 21)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksudnya, jika saja Dia tidak memberikan karunia berupa pintu tobat bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan kalau saja Dia tidak membersihkan hati manusia dari syirik, dari tindakan-tindakan dosa, dari perbuatan-perbuatan kotor dan akhlak-akhlak buruk, niscaya tidak akan ada seorang pun yang memiliki hati yang bersih dan nurani yang baik. (وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ) ‘Tetapi Allah membersihkan siapa saja yang Dia kehendaki’ dari para makhluk-Nya dan Dia menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki ke dalam pintu-pintu kesesatan dan dosa. (وَٱللَّهُ سَمِيعٌ) ‘Dan Allah Maha Mendengar,’ semua ucapan hamba-hamba-Nya, (عَلِيمٌ) ‘Dan Maha Mengetahui,’ tentang orang-orang yang pantas mendapatkan petunjuk dan orang-orang yang mendapatkan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 351)

Dalam surah yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ * فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat: 7-8)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ) ‘Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hati kalian,’ yakni, menjadikan keimanan itu dicintai oleh jiwa kalian serta menjadikannya indah dalam hati kalian.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ) ‘Serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.’ Yakni, menjadikan kalian membenci kekufuran dan kefasikan. Kekafiran dan kefasikan adalah dosa-dosa besar. Sedangkan al-’ishyaan (kedurhakaan) adalah segala bentuk kemaksiatan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ) ‘Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.’ Maksudnya, orang-orang yang memiliki sifat tersebut adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, (فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعْمَةً) ‘Sebagai karunia dan nikmat dari Allah.’ Yakni, pemberian yang Aku anugerahkan kepada kalian tersebut adalah karunia dan nikmat yang berasal dari sisi-Nya. (وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ) ‘Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’ Yakni, Maha Mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan petunjuk dan siapa saja yang berhak mendapatkan kesesatan. Dia Maha Bijaksana dalam setiap ucapan, perbuatan, syariat, serta ketetapan-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 466-469)

Kemudian, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا۟ ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم ۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَىٰكُمْ لِلْإِيمَٰنِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepada-Ku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 17)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata berkaitan dengan tafsir ayat di atas, “Maksudnya, orang-orang Arab Badui mengungkit-ngungkit keislaman, kesetiaan, serta pertolongan yang mereka berikan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyangkal hal tersebut seraya berfirman, (قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم) ‘Katakanlah: Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat (memberi jasa) kepada-Ku dengan keislamanmu,’ karena manfaat hal tersebut akan kembali kepada kalian sendiri. Dan hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla saja karunia yang telah diberikan kepada kalian dalam Islamnya kalian itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 492)

Memahami poin ini dengan benar dapat membantu seorang muslim untuk tidak berbangga diri dengan ibadah yang telah dikerjakan dan menjadikannya pribadi yang senantiasa menggantungkan harapan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. 

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 3 LANJUT KE BAGIAN 5

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Muslimah.or.id

 

Referensi:

  • Kajian 10 Kaidah Penting Dalam Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi dan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
  • ‘Asyr Qawa’id Fil ‘Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi.
  • Shahih Al-Bukhari (Terjemahan), Pustaka As-Sunnah Jakarta, Cetakan Pertama, April 2010.
  • Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Pustaka Ibnu Katsir Jakarta, Cetakan Kedelapan, Rabi’ul Awal 1435/ Januari 2014.
  • Tafsir Juz ‘Amma (Terjemahan), Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Darul Falah Jakarta, Cetakan Pertama, 2007.
  • Tafsir Juz ‘Amma (Terjemahan), Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Darul Falah Jakarta, Cetakan Pertama, 2007.
ShareTweetPin
Muslim AD Muslim AD Muslim AD
Annisa Auraliansa

Annisa Auraliansa

Penulis di muslimah.or.id

Artikel Terkait

Dikala Sakit…

oleh Ummu Sa'id
31 Januari 2012
3

Begitu banyak kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kita. Kenikmatan yang tiada terhitung dan tak dapat pula diganti dengan emas permata....

Mencerdaskan Diri dengan Ilmu Syar’i

oleh Ummu Zaid
7 April 2014
0

Sesungguhnya ilmu adalah warisan para nabi dan rasul, karena sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan harta benda, akan tetapi mereka mewariskan...

Ingin Mengakhiri Hidup

Untukmu yang Ingin Mengakhiri Hidup

oleh Triani Pradinaputri
6 Juni 2025
0

Kita memahami bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan karena permintaannya sendiri. Tidak ada manusia di dunia ini yang hidup memang...

Artikel Selanjutnya

10 Kaidah dalam Beribadah (Bag. 5)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid Donasi Muslimahorid
Logo Muslimahorid

Kantor Sekretariat Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari (YPIA).

Pogung Rejo RT 14 RW 51 no. 412
Sinduadi, Mlati, Sleman, D.I Yogyakarta, Indonesia, 55284.

Media Partner

YPIA | Muslim.or.id | Radio Muslim | FKIM

Buletin At Tauhid | MUBK | Mahad Ilmi | FKKA

Kampus Tahfidz | Wisma Muslim | SDIT Yaa Bunayya

Wisma Muslimah | Edu Muslim.or.id

Ikuti Kami

  • Tentang Kami
  • Donasi
  • Pasang Iklan
  • Kontak

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.

No Result
View All Result
  • Kategori
    • Akidah
    • Manhaj
    • Fikih
    • Akhlak dan Nasihat
    • Keluarga dan Wanita
    • Pendidikan Anak
    • Kisah
  • Edu Muslim
  • Muslim AD
  • Muslim Digital

© 2025 Muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah.