Ucapan “Shadaqallahul ‘Azhim” setelah membaca Al Quran?

Bacaan “shadaqallahul ‘azhim” setelah membaca Al Qur’an merupakan perkara yang tidak asing bagi kita tetapi sebenarnya tidak ada tuntunannya, termasuk amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah shalallahu’alaihi …

171 106

Bacaan “shadaqallahul ‘azhim” setelah membaca Al Qur’an merupakan perkara yang tidak asing bagi kita tetapi sebenarnya tidak ada tuntunannya, termasuk amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan menyelisihi amalan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam ketika memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk berhenti dari membaca Al Qur’an dengan kata “hasbuk”(cukup), dan Ibnu Mas’ud tidak membaca shadaqallahul’adzim.

Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan:
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam telah berkata kepadaku, “Bacakan kepadaku (Al Qur’an)!” Aku menjawab, “Aku bacakan (Al Qur’an) kepadamu? Padahal Al Qur’an sendiri diturunkan kepadamu.” Maka Beliau menjawab, “Ya”. Lalu aku membacakan surat An Nisaa’ sampai pada ayat 41. Lalu beliau berkata, “Cukup, cukup.” Lalu aku melihat beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata.

Syaikh Muhammad Musa Nashr menyatakan, “Termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya (baca: bid’ah) yaitu mayoritas qori’ (orang yang membaca Al Qur’an) berhenti dan memutuskan bacaannya dengan mengatakan shadaqallahul ‘azhim, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan bacaan Ibnu Mas’ud dengan mengatakan hasbuk (cukup). Inilah yg dikenal para salaf dan tidak ada keterangan bahwa mereka memberhentikan atau mereka berhenti dengan mengucapkan shadaqallahul ‘azhim sebagaimana dianggap baik oleh orang-orang sekarang”. (Al Bahtsu wa Al Istiqra’ fi Bida’ Al Qurra’, Dr Muhammad Musa Nashr, cet 2, th 1423H)

Kemudian beliau menukil pernyataaan Syaikh Mustafa bin Al ‘Adawi dalam kitabnya Shahih ‘Amal Al Yaumi Wa Al Lailhlm 64 yang berbunyi, “Keterangan tentang ucapan Shadaqallahul’azhim ketika selesai membaca Al Qur’an: memang kata shadaqallah disampaikan Allah dalam Al Qur’an dalam firman-Nya,

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah:’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs Ali Imran:95)

Memang benar, Allah Maha Benar dalam setiap waktu. Namun masalahnya kita tidak pernah mendapatkan satu hadits pun yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri bacaannya dengan kata “Shadaqallahul’azhim.”

Di sana ada juga orang yang menganggap baik hal-hal yang lain namun kita memiliki Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam sebagai contoh teladan yang baik. Demikian juga kita tidak menemukan satu atsar, meski dari satu orang sahabat walaupun kita mencukupkan pada hadits-hadits Nabi shallallanhu’alaihi wa sallam setelah kitab Allah dalam berdalil terhadap masalah apa pun. Kami telah merujuk kepada kitab Tafsir Ibnu Katsir, Adhwa’ Al Bayan, Mukhtashar Ibnu katsir dan Fathul Qadir, ternyata tak satu pun yang menyampaikan pada ayat ini, bahwa Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam pernah mengakhiri bacaannya dengan shadaqallahul ‘azhim.(Lihat Hakikat Al Maru Bil Ma’ruf Wa Nahi ‘Anil munkar, Dr Hamd bin Nashir Al ‘Amar,cet 2)

Bila dikatakan “Cuma perkataan saja, apa dapat dikatakan bid’ah?” Perlu kita pahami,bahwa perbuatan bid’ah itu meliputi perkataan dan perbuatan sebagaimana sabda Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam,

Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR Muslim)

Sehingga apa pun bentuknya, perkataan atau perbuatan yang dimaksudkan untuk ibadah yang tidak ada contohnya dalam agama, maka ia dikategorikan bid’ah. Bid’ah ialah tata cara baru dalam agama yang tidak ada contohnya, yang menyelisihi syariat dan dalam mengamalkannya dimaksudkan sebagai ibadah kepada Allah.

Wallahu a’lam.

***
Artikel Muslimah.or.id

Sumber:
Tanya Jawab Majalah As Sunnah ed 04/IX/1426H/2005M (dengan sedikit pengeditan)
Murajaah: Ust Abu Rumaysho M A Tausikal

Sebarkan!
1507 22 0 0 0 105
In this article

Ada pertanyaan?

106 comments

  1.    Reply

    @ muslimah.or.id
    Dalam ayat ini pun sama sekali tidak ada perintah untuk membaca radiyallohu ‘anhu/a setelah menyebut nama sahabat.

    kalau saya amati secara tekstual, kok seperti bertentangan dengan yang di sampaikan @muslimah.or.id pada Apr 13, 2011, 15:43 kepada @ Hakim. cuma bedanya @ Hakim dikenai hukum bid’ah sedangkan saya tidak.

    mohon pencerahan.

    1.    Reply

      @ Jakober
      Pertama,
      perlu kami sampaikan bahwasanya banyak terdapat hadits yang memerintahkan kita untuk mencintai para sahabat radhiyallahuanhum dan larangan mencela mereka. Bahkan kecintaan kepada mereka merupakan ciri-ciri aqidah ahlussunnah wal jamaah yang menjadi pembeda antara ahlusunnah dengan orang-orang Syiah Rafidhah. Dan diantara bentuk kecintaan kepada para sahabat adalah dengan menyebut-nyebut keutamaan dan kebaikan mereka, mendoakan ampunan serta keridhaan atas mereka. Dan hal ini lah yang dicontohkan para imam-imam ahlusunnah dengan mengucapkan radhiyallahuanhum setelah menyebut nama para sahabat. Salah satu bentuk ungkapan taradhi (mendoakan keridhaan) adalah sebagaimana yang Allah firmankan dalam surah At-Taubah: 100. Dimana dalam surah tersebut Allah memuji para sahabat sebagai generasi terbaik ummat ini hingga Allah pun merdhai mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Lantas adakah lafadz doa yang lebih utama daripada lafadz doa yang berasal dari Al-Quran? Tentu berdoa dengan lafadz doa yang ada di Al-Quran adalah suatu hal yang disyariatkan. Sebagaimanpula seseorang yang memohon kepada Allah agar diberi keturunan yang shalih shalihah dengan berdoa dengan surah Ali Imran : 38, surah Maryam : 4 6, surah Al-Anbiya: 89 dst.
      Kedua, bandingkan dengan ayat yang dijadikan dalil oleh pembuat bidah untuk melegalkan kebidahannya dengan merutinkan bacaan shadaqallahuladzim setelah membaca Al-Quran. Tidakkah Anda memperhatikan ayat tersebut dengan seksama. Tidak ada satupun kata dalam ayat tersebut yang menunjukkan adanya qorinah bacaan setelah membaca Al-Quran. Yang ada hanyalah menyebutkan bahwasanya Allah Maha benar. Perlu juga untuk difahami bahwa yang namanya bidah itu mengkhususkan doa tertentu untuk dibaca pada waktu tertentu tanpa ada dalilnya seperti halnya membaca lafadz doa shadaqallahuladzim setelah membaca Al-Quran. Allahu yubarik fik.

  2.    Reply

    kalau membaca radiyallohu ‘anhu/ha setelah menyebut nama sahabat apa termasuk bid’ah/sesat? karena saya belum pernah menemukan dalil nabi mengucapkan radiyallohu ‘anhu/ha setelah menyebut nama sahabat.
    mohon pencerahan, terimakasih

    1.    Reply

      @ Jakober
      Bukan termasuk bid’ah karena Allah sendirilah yang meridhai mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Buktinya Allah berfirman tentang mereka (para sahabat radhiallahu’anhum)

      ??????????????? ????????????? ???? ??????????????? ?????????????? ??????????? ????????????? ??????????? ?????? ??????? ???????? ???????? ?????? ????????? ?????? ???????? ??????? ????????? ???????????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ????????? ??????????

      Orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surge-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100)

  3.    Reply

    ass. izin d share y… jzk

  4.    Reply

    ass ustad,, kemaren saya lupa minta izin share mohon maaf yaa ustad, syukron

    1.    Reply

      @ Abu
      Kami yang seharusnya berterimakasih kepada Bapak yang telah membantu menyebarluaskan artikel ini semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.

  5.    Reply

    syukron….. admin

  6.    Reply

    assalamualaikum ukhti…
    jadi bagaimana kah keadaan saat ini yang sudah terbiasa meakhiri bcaan Al Quran dengan lafadz tersebut???
    afwan..ijin untuk di share ya..

  7.    Reply

    jadi intinya bid’ah y?

    trus bagaimana dengan orang2 sekarang

  8.    Reply

    Dalilnya adalah Surat Al Ahzab ayat 70 – 71 :

    Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh ia menang dengan kemenangan yang besar”

    dan ucapan Shadaqallahul Azhim adalah salah satu perkataan yang benar.

    Jadi hukumnya adalah termasuk ibadah ghoiru mahdhoh, yang boleh dikerjakan kapan saja selama tidak ada dalil yang melarangnya.

    dan hukum membacanya setelah membaca Al Quran adalah..

    dilihat dari segi waktu pelaksanaannya adalah boleh-boleh saja , dalam segi nilainya maka akan mendapatkan pahala sesuai Janji Allah Subhanahu wa Ta’ala jika dilakukan dengan ikhlas.

    Jadi salah besar jika dikatakan ucapan Shadaqallahul Azhim setelah membaca Al Quran tidak ada dalilnya. Karena ia dipayungi oleh dalil ‘aam (umum) yang boleh dilakukan selama tidak ada dalil yang melarangnya.

    1.    Reply

      @ Hakim
      Pertama, perlu kami tegaskan disini bahwasanya asal hukum ibadah adalah haram sampai ada dalil yang memerintahkan (hal ini tentunya berbeda dengan kaidah yang Saudara pakai). Dan ucapan shadaqallahul adzim termasuk perkara ibadah, sehingga untuk mengamalkannya butuh dalil yang shahih dan jelas. Adapun dalil yang Saudara sampaikan tidaklah tepat dalam hal ini. Dalam ayat yang saudara sampaikan tidak ada perintah sama sekali untuk membaca shadaqallahul’adzim setelah membaca Al Qur’an. Mungkin maksud Anda adalah ayat berikut,
      ???? ?????? ??????? ???????????? ??????? ???????????? ????????
      “Katakanlah (Muhammad), Benarlah (apa yang difirmankan) Allah maka ikutilah agama ibrahim yang lurus” (QS. Ali Imran:95)

      Dalam ayat ini pun sama sekali tidak ada perintah untuk membaca shadaqallahul adzim setelah membaca Al Quran! Tidakkah Anda pernah mendengar kisah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam saat memerintahkan Ibnu mas’ud radhiallahu’anhu untuk membaca Al Quran, begitu juga ketika Zaid bin tsabit ketika membacakan Al Quran untuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, tidak ada satupun dari beliau berdua membaca shadaqallahul adzim ketika selesai dan Nabipun tidak memerintahkan untuk membaca shadaqallahul’adzim. Andai bacaan tersebut disyariatkan tentu sudah banyak dalil yang menjelaskan. Bukankah Anda ingin mendapatkan pahala? Maka lakukanlah sebagaimana Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabat lakukan ketika selesai membaca Al-Qur’an.

      Kedua, tidak ada yang salah dengan bacaan shadaqallahul adzim tapi yang salah adalah menjadikanya sebagai bacaan penutup Al Quran serta mengkhususkannya.
      Ketiga, kaidah yang Anda pakai tidaklah tepat,
      Karena ia dipayungi oleh dalil aam (umum) yang boleh dilakukan selama tidak ada dalil yang melarangnya.
      ini adalah kaidah untuk perkara non ibadah, seperti muamalah dsb. Mohon untuk dicermati.

  9.    Reply

    assalamualaikum..,

    ijin copas ya . . .

  10.    Reply

    ukhti,
    saya setiap membaca Al-qur’an selalu saya letakkan diatas bantal, apakah ini juga termasuk dosa bid’ah? karena dijaman Rosulullah pasti belum ada bantal..
    MAksud saya melakukan itu semata hanya untuk memuliakan Kitab Suci saya, tidak ada lain…

    1.    Reply

      @ Masro

      Jika alasannya demikian, insya Allah tidak mengapa, asalkan jangan sampai ada anggapan bahwa satu-satunya cara memuliakan Alquran adalah dengan meletakkannya di atas bantal. Selain menggunakan bantal, Ukhti juga bisa menggunakan meja. Wallahu a’lam.

  11.    Reply

    sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat, dan semua ke sesatan adalah neraka tempatnya…..batapa banyak ustadz,kyai,qori’,dan pembaca Alqur’an lainnya yang masuk neraka gara2 membaca shadaqallahul azhim setelah membaca Alqur’an????
    Allahu Karimmmmm……

  12.    Reply

    Maen internet juga gag ada contohx oleh rasul

    1.    Reply

      @ Izur

      Main internet tergolong perkara dunia, bukan perkara ibadah. Seperti juga naik pesawat, menggunakan handphone, menyalin ayat Alquran dengan ketikan komputer (bukan tulisan tangan), dan lain-lain.

      Terdapat beberapa tambahan faidah lain di:
      http://muslimah.or.id/manhaj/yang-bukan-bidah.html
      http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2940-mengenal-bidah-4-benarkah-hp-dan-pesawat-termasuk-bidah.html

  13.    Reply

    Assalamualaikum, ukhti gimana sih cranya kasi hiasan pd blog?

  14.    Reply

    asslmkm…
    sy copas jg ya ust.

  15.    Reply

    Kayaknya perkataan “shadaqallahul azhim” tidak perlu diperdebatkan selama dalam hati kita ikhlas beribadah kepada Alloh SWT.

    saya berfikir bahwa sebaik-baiknya muslim adalah orang yang senantiasa menanamkan keikhlasan dalam hatinya dan bijaksana dalam perkataannya serta bisa bermanfaat bagi sekitarnya

    “Maha suci Alloh dan sholawat serta salam tetap tercurah pada junjunan alam Rosulalloh Muhammad SAW”.

    1.    Reply

      @ Alan
      Anda benar bahwa keikhlasan hati dalam beribadah adalah kunci diterimanya amal. Namun hendaknya juga tidak menyampingkan adanya mutaba’ah (mencontoh) Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dalam beramal karena inipun menjadi kunci diterimanya amal. Sekarang pertanyannya adalah, pernahkah Nabi mencontohkan ucapan shadaqallahul’adzim setiap selesai membaca Al-Qur’an?

  16.    Reply

    jazakallohu khoyr, awalnya ana juga baru tahu, dan alhamdulillah bisa langsung melepas kebiasaan bid’ah ini. hmm, ana pernah baca suatu artikel di sebuah mushala di kampus tentang bersalaman ketika salat, itu disana ditulis bhw hal tersebut merupakan bid’ah yang diperbolehkan, bagaimana menurut anti?

  17.    Reply

    subhanalloh … aku baru tahu itu, padahal sudah terlanjur kuajarkan pada murid – muridku. Ampuni Aku Ya Alloh.
    Jazakillah ukhti, dengan ini aku jadi tahu

  18.    Reply

    Alhamd dapat informasi baru… Ijin share

  19.    Reply

    ijin share ya… terima kasih

  20.    Reply

    Izin share di fb ana, syuqron

  21.    Reply

    Bismillah,
    Assalamu’alaikum Warahmatullah,
    Ustadz, ijin share ya?
    Jazakallahu Khair

  22.    Reply

    assalamualaikum sebenarnya ana baru denger baru baru ini masalah ini. alhamdulilah insyallah jadi ilmu kalau gak ada contohnya dari Raulullah dan para sahabatnya sebaiknya meniru sebaik baiknya contoh yaitu dari Rosulullah.

  23.    Reply

    Subhanalloh, jazakalloh atas informasi yang bermanfaat ini.
    krn sebagian besar TPA anak2 msh mengucapkan Shadaqallahulazhim.

  24.    Reply

    Berarti Al Quran yg kita baca tiap hari juga hasil bid’ah ?? di jaman Rosululloh.. Alquran tidak di cetak seperti sekarang..

    Ataupun jika mendengarkan Adzan dari Speaker pengeras suara di masjid-masjid bid’ah juga ??

    mungkin yg di katakan oleh ukhty_dindin itu lebih pas…
    kita di kasih akal dan pikiran oleh Allah untuk di gunakan seoptimal mungkin.. maka jangan sia-siakan deh..

    1.    Reply

      @ Sabil
      pembukuan Al Quran bukan bid’ah.
      Silahkan simak http://konsultasisyariah.com/apa-hukum-pengumpulan-al-quran-oleh-sahabat-ini-bidah
      pengugnaan speaker juga bukan bid’ah.
      Hal tersebut termasuk maslahat mursalah. Silahkan perhatikan perbedaan bid’ah dan maslahat mursalat disini:
      http://www.almanhaj.or.id/content/1362/slash/0

  25.    Reply

    Izin share ya,..

  26.    Reply

    Ijin share ya…syukron

  27.    Reply

    mohon ijin untuk share ya. terimakasih..

  28.    Reply

    Assalaamu`alaikum ustadz, idzin share ya..

  29.    Reply

    assalamualaikum…
    membaca alqur’an termasuk ibadah ghoiru mahdho..jadi dalam tata cara membacanya tidak ada tuntunan yang baku. menurut saya menambahkan “Shodaqollahu adzim” adalah seni untuk menambah kekaguman kita terhadap Allah..jadi bukan bid’ah.

    menjadi bid’ah apabila Rasulullah telah memberi tuntunan yang jelas yang disebut ibadah maghdoh seperti sholat, puasa, zakat dan haji. jika kita menambahkan doa’doa atau gerakan dalam ibadah maghdoh yang sudah jelas tuntunannya dan baku, nah itu baru bid’ah…..

    contoh bid’ah…dalam bacaan gerakan rukuk dalam sholat” Subhana robbiyal adzim” sering dibaca “subhan robbiyal adzimi wabihamdi”

    tambahan- tambahan bacaan doa atau gerakan dalam sholat yang tidak sesaui tuntunan tersebut adalah bid’ah..

    1.    Reply

      @ Ukhty
      Wa’alaikumussalam,
      Definisi yang tepat tentang makna ibadah, sebagaimana definisi yang disampaikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab beliau Al-Ubudiyyah,
      ??????? ??? ???? ??? ?? ???? ???? ?????? ?? ??????? ???????? ??????? ????????
      Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir).

      Dan doa (dalam hal ini doa setelah membaca Al-Qur’an) termasuk bentuk ibadah. Sementara syarat diterimanya ibadah ada dua yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mencontoh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam). Sehingga jika kita ingin amalan kita diterima Allah maka wajib memenuhi kedua syarat diatas.

  30.    Reply

    berarti amalan membaca Quran orang-orang mukmin terdahulu sepertu ustadz-ustadz sejak jaman Belanda hingga Orde baru tertolak…? hayo

  31.    Reply

    mau nanya ustadz..bgm dgn mencium Al-Quran sehabis membacanya jg ada dasarx?

    1.    Reply

      @ Fia
      Yang disunnahkan setekah membaca Al-Qur’an adalah berdoa dengan doa sebagai berikut,

      ??????????? ?????????? ???????????????? ?????? ?????? ??????? ?????????????? ????????? ????????

      Subhanakallahumma wa bihamdika la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik

      Adapun mencium Al-Qur’an setelah membacanya, setahu kami tidak ada dalil yang menjelaskan demikian. Allahu A’lam

  32.    Reply

    terima kasih informasinya, sering saya sendiri mengikuti satu kebiasaan yang ternyata tidak ada dalilnya (bid’ah), memang benar pernyataan ” iman dan ilmu tidak bisa dipisahkan”.
    Ijin share ya..

  33.    Reply

    Syarat diterima amalan harus ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti contoh Rasulullah). Dalam hadits tersebut Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR Muslim), berarti berkaitan dengan syarat diterimanya amal yang kedua (mutaba’ah).sedangkan Amalan ada 2 bentuk; ibadah dan muamalah.yang memiliki kaidah penting :’bahwa ibadah itu hukum asalnya dilarang hingga ada dalil yang melegalkannya. sebaliknya mu’amalah itu pada asalnya diperbolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya’.
    Sehingga makna tertolak disini,bahwasanya amalan tersebut tidak termasuk syariat islam sehingga jika seseorang yang bersikukuh meyakini dan mengamalkanya maka dia akan mendapatkan dosa. Begitu juga sebaliknya jika seseorang meyakini dan mengamalkan ajaran sesuai tuntunan rosulullah diapun akan mendapatkan pahala. Wallahu a’lam
    (syarah hadits Arba’in Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

  34.    Reply

    di artikel di atas disebutkan:

    Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR Muslim)

    apakah maksud tertolak disini adalah “berdosa” atau hanya ditolak (perbuatannya dianggap sia2) saja dan tidak dianggap dosa?

  35.    Reply

    izin share ustad

  36.    Reply

    Assalamulaykum…
    ijin share yaa ustadz…

  37.    Reply

    saya sangat sependapat,shadaqallahul azhim itu tidak ada dasar yang shahih

  38.    Reply

    waduh q jg br tau e,mungkin sulit utk tdk mengucapkannya sesudah baca alquran soale dah terbiasa,memang byk hal-hal yg menyangkut bid’ah yg kdng tdk kt sadari telah kt lakukan sehari-hari,thank atas pemberitahuannya.

  39.    Reply

    terima kasih u/ pelajarannya, tapi saya pernah membaca kalau setelah membaca alqur’an disunahkan membaca subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta, astagfiruka wa atuubu ilaik, apakah benar dan dasarnya? terimakasih

    1.    Reply

      @ Muhammad
      Iya benar. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

      ???? ?????????? ??????? : ??? ?????? ??????? ????? ????????? ?????? ????? ????? ????????? ????? ?????? ??????? ?????? ?????? ?????? ???????????? ???????: ????????: ??? ??????? ?????? ??????? ??? ???????? ?????????? ????? ??????? ????????? ????? ???????? ??????? ?????? ???????? ??????????? ???????????? ?
      ?????: (( ??????? ???? ????? ??????? ?????? ???? ??????? ????? ?????? ?????????? ?????? ????? ?????? ????? ???? ??????????: ??????????? [??????????] ????????????? ??? ?????? ?????? ??????? ?????????????? ????????? ???????? ))

      Dari Aisyah beliau berkata, Tidaklah Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam- duduk di suatu tempat atau membaca al Quran ataupun melaksanakan shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat. Akupun bertanya kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wa sallam-, Ya Rasulullah, tidaklah anda duduk di suatu tempat, membaca al Quran ataupun mengerjakan shalat melainkan anda akhiri dengan beberapa kalimat? Jawaban beliau, Betul, barang siapa yang mengucapkan kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah ucapan Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika.

      Hadits di atas sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Nasai dalam Sunan Kubro 9/123/1006, Thabrani dalam ad Du-a no 1912, Samani dalam Adab al Imla wa al Istimla hal 75 dan Ibnu Nashiruddin dalam Khatimah Taudhih al Musytabih 9/282.

      Silahkan baca selengkapnya di artikel yang sangat bermanfaat ini,
      http://ustadzaris.com/sunnah-yang-hilang-bacaan-setelah-membaca-al-quran