<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslimah.or.id &#187; Nasihat</title>
	<atom:link href="http://muslimah.or.id/tag/nasihat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslimah.or.id</link>
	<description>Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Mar 2010 08:51:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Wanita Penghuni Surga Itu&#8230;</title>
		<link>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/wanita-penghuni-surga-itu.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/wanita-penghuni-surga-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 07:20:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>www.muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Surga]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ummu Rumman Siti Fatimah
Muraja&#8217;ah: ustadz Abu Salman
Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,
&#8220;Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?&#8221;
Aku menjawab, &#8220;Ya&#8221;
Ia berkata, &#8220;Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lalu berkata, &#8216;Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Ummu Rumman Siti Fatimah<br />
Muraja&#8217;ah: ustadz Abu Salman</p>
<p>Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,<br />
<em>&#8220;Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?&#8221;</em></p>
<p>Aku menjawab, <em>&#8220;Ya&#8221;</em></p>
<p>Ia berkata, <em>&#8220;Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam lalu berkata, &#8216;Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.&#8217; </em></p>
<p>Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata,<em> &#8216;Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.&#8217; </em></p>
<p>Wanita itu menjawab, <em>&#8216;Aku pilih bersabar.&#8217; </em> Lalu ia melanjutkan perkataannya, <em>&#8216;Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.&#8217;</em></p>
<p>Maka Nabi pun mendoakannya.&#8221; (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p><span id="more-337"></span><br />
Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang wanita yang berhasil meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni surga di kala nafasnya masih dihembuskan. Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya pun masih menapak di permukaan bumi.</p>
<p>Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada muridnya, Atha bin Abi Rabah, &#8220;Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?&#8221; Aku menjawab, &#8220;Ya&#8221;<br />
Ibnu Abbas berkata, &#8220;Wanita hitam itulah&#8230;.dst&#8221;</p>
<p>Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang berhasil diraih wanita itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah gerangan amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga?</p>
<p>Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam?</p>
<p>Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam.</p>
<p>Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar&#8217;i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya.</p>
<p>Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.</p>
<p>Bagaimanakah dengan wanita zaman sekarang yang sibuk memakai kosmetik ini-itu demi mendapatkan kulit yang putih tetapi enggan memutihkan hatinya? Mereka begitu khawatir akan segala hal yang bisa merusak kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman dan hatinya yang bersih ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan &#8211; semoga Allah Memberi mereka petunjuk -.</p>
<p>Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat. Maka saudariku, seperti apapun rupamu, seperti apapun fisikmu, janganlah engkau merasa rendah diri. Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat berharga. Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah hati dan akhlakmu.</p>
<p>Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita penyakit ayan sehingga ia datang kepada Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan meminta beliau agar berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya. Seorang muslim boleh berusaha demi kesembuhan dari penyakit yang dideritanya. Asalkan cara yang dilakukannya tidak melanggar syariat. Salah satunya adalah dengan doa. Baik doa yang dipanjatkan sendiri, maupun meminta didoakan orang shalih <strong>yang masih hidup</strong>. Dan dalam hal ini, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> memiliki keistimewaan berupa doa-doanya yang dikabulkan oleh Allah.</p>
<p>Wanita itu berkata, &#8220;Aku menderita penyakit ayan dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.&#8221;</p>
<p>Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang sering ditanggung para penderita penyakit ayan karena banyak anggota masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang menjijikkan.</p>
<p>Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau lihat satu kata saja yang menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia mengeluhkan betapa menderitanya ia? Betapa malunya ia karena menderita penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh.</p>
<p>Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup auratnya dan ia berusaha melaksanakannya meski dalam keadaan sakit. Inilah salah satu ciri wanita shalihah, calon penghuni surga. Yaitu mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang di saat sehat pun dengan rela hati membuka auratnya???</p>
<p>Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula dalil atas keutamaan sabar. Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam surga. Nabi<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata<em>, &#8220;Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.&#8221;</em> Wanita itu menjawab, &#8220;Aku pilih bersabar.&#8221;</p>
<p>Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit ayan agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan kesabaran yang baik.</p>
<p>Saudariku, terkadang seorang hamba tidak mampu mencapai kedudukan kedudukan mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan perbuatannya. Maka, Allah akan terus memberikan cobaan kepada hamba tersebut dengan suatu hal yang tidak disukainya. Kemudian Allah Memberi kesabaran kepadanya untuk menghadapi cobaan tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya dalam menghadapi cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya ia tidak dapat mencapainya dengan amalannya.</p>
<p>Sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, <em>&#8220;Jika datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.&#8221;</em> (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599)</p>
<p>Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah untuk bersabar. Kita berharap, dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni dosa-dosa kita dan mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-Nya.</p>
<p>Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, &#8220;Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.&#8221; Maka Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pun berdoa kepada Allah agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi auratnya tidak tersingkap.</p>
<p>Wahai saudariku, seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang secara sadar justru membuka auratnya dan sama sekali tak merasa malu bila ada lelaki yang melihatnya? Maka, masihkah tersisa kehormatannya sebagai seorang muslimah?</p>
<p>Saudariku, semoga kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari wanita penghuni surga tersebut. Wallahu Ta&#8217;ala a&#8217;lam.</p>
<p>Marji&#8217;:<br />
<em>Syarah Riyadhush Shalihin</em> (terj). Jilid 1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-&#8217;Utsaimin. Cetakan ke-3. Penerbit Darul Falah. 2007 M.</p>
<p>***</p>
<p>Artikel <a title="Wanita Penghuni Surga Itu" href="http://muslimah.or.id/aqidah/wanita-penghuni-surga-itu.html">muslimah.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/wanita-penghuni-surga-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>67</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Ada Gading yang Tak Retak</title>
		<link>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/tak-ada-gading-yang-tak-retak.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/tak-ada-gading-yang-tak-retak.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 06:52:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>www.muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyatun Nufs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ummu Sa&#8217;id
Muroja&#8217;ah: Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi
Setiap kita mempunyai kesalahan dan kekurangan. Manusia tidak bisa lari dengan menutup diri terhadap kekurangannya. Yang harus dilakukan adalah introspeksi dan menghisab diri sendiri untuk sebuah perbaikan.
Umar  bin Khaththab rahdiyallahu &#8216;anhu pernah berpesan, &#8220;Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang.&#8221;
Berikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Ummu Sa&#8217;id<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>Setiap kita mempunyai kesalahan dan kekurangan. Manusia tidak bisa lari dengan menutup diri terhadap kekurangannya. Yang harus dilakukan adalah introspeksi dan menghisab diri sendiri untuk sebuah perbaikan.</p>
<p>Umar  bin Khaththab <em>rahdiyallahu &#8216;anhu </em>pernah berpesan, &#8220;Hisablah dirimu sebelum diri kamu sendiri dihisab, dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum perbuatanmu ditimbang.&#8221;<span id="more-215"></span></p>
<p>Berikut  ini beberapa hal yang dapat membantu seseorang untuk <a title="Tak Ada Gading yang Tak Retak" href="http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/tak-ada-gading-yang-tak-retak.html ">introspeksi </a>diri dan  memperbaiki berbagai kekurangannya:</p>
<ol>
<li>Mengakui kekurangan dirinya. Ibnu Hazm berkata, &#8220;Seandainya orang yang kurang itu mengetahui kekurangan dirinya, niscaya ia menjadi sempurna.&#8221; Beliau melanjutkan, &#8220;Manusia itu tidak luput dari kekurangan, dan orang yang berbahagia adalah orang yang sedikit aibnya.&#8221; (<em>Al Akhlaq wa As Siyar</em>)</li>
<li>Menyadari kekurangan yang ada pada dirinya sebagai kekurangan. Ada beberapa orang yang mengetahui suatu kekurangan ada pada dirinya tapi dia tidak menganggap hal itu sebagai sebuah kekurangan. Pengetahuan terhadap kekurangan dirinya nyaris tidak mendatangkan manfaat apa-apa untuk perbaikan. Hal ini bisa disebabkan karena dia memandang dirinya dengan kacamata dirinya sendiri dan tidak memperhatikan kacamata orang lain dalam menilai dirinya. Disinilah perlunya kita membuka diri sendiri terhadap pandangan dan penilaian dari orang lain, terutama orang yang alim.</li>
<li>Kita harus mengetahui dan mencari kekurangan diri kita. Sebab mengetahui penyakit itu dapat menolong seseorang untuk menentukan obatnya. Ibnu Al Muqaffa&#8217; mengatakan, &#8220;Salah satu aib manusia terbesar ialah ia tidak mengetahui kekurangan dirinya. Karena orang yang tidak mengetahui aib dirinya, maka ia pun tidak mengetahui kebaikan orang selainnya. Barangsiapa yang tidak mengetahui aib dirinya dan kebaikan orang lain, maka ia tidak bisa menghilangkan aib yang dia sendiri tidak mengetahuinya dan tidak akan mendapatkan kebaikan-kebaikan orang lain yang tidak pernah ia lihat selamanya.&#8221; (<em>Al Adab Ash Shaghir wa Al Adab Al Kabir</em>). Mahmud Al Waraq mengatakan &#8220;Manusia yang paling sempurna ialah yang paling tahu kekurangan dirinya dan yang paling dapat mengalahkan syahwat dan keinginannya&#8221; (<em>Aqwal Ma&#8217;tsurah wa Kalimat Jamilah</em>, Dr Muhammad Ash Shabbagh)</li>
<li>Tidak memandang orang lain dengan pandangan yang remeh sehingga dia bisa melihat kebaikan yang ada pada orang lain dan mendapat manfaat darinya.</li>
<li>Tidak memandang diri sendiri dengan penuh kekaguman dan merasa dirinya yang paling baik. Rasa ujub ini seringkali disisipkan iblis ke dalam hati kita tanpa kita sadari sehingga akhirnya kita larut dan terbawa. Selain merupakan dosa, rasa ujub menghalangi seseorang untuk mencari kekurangan yang ada pada dirinya sendiri sehingga dia terhalang dari perbaikan dan terus berkubang pada kekurangan. Ibnu Hazm mengatakan, &#8220;Ketahuilah dengan penuh keyakinan bahwa manusia itu tidak bisa luput dari kekurangan, kecuali para nabi. Barangsiapa yang tidak mengetahui berbagai kekurangan dirinya, maka ia akan menjadi orang yang hina, lemah akal, dan sedikit pemahamannya, yang mana ia merasa bukan sebagai orang yang hina dan tidak merasa bahwa tempat berpijaknya adalah kehinaan. Karena itu, ia tidak sudi mencari kekurangan dirinya dan tidak sudi menyibukkan diri dengan hal itu bahkan dia merasa kagum dengan dirinya sendiri dan sibuk dengan aib orang lain yang tidak membahayakan dirinya baik di dunia maupun di akhirat.&#8221; (<em>Al Akhlaq wa As Siyar</em>)</li>
<li>Senantiasa berusaha menghilangkan kekurangan-kekurangan itu. Tidak cukup sekedar mengetahui kekurangan-kekurangan diri, tetapi harus pula berusaha menghilangkannya. Allah<em> subhanahu wa ta&#8217;ala</em> berfirman (yang artinya),<em>&#8221; </em><em>Beruntunglah orang yang membersihkan diri.&#8221;</em> (Qs. Al A&#8217;la: 14). <em>&#8220;</em>
<p><em>Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya.&#8221;</em> (Qs. Asy Syams:9).</p>
<p>Ibnu Hazm berkata, &#8220;Orang yang berakal adalah orang yang dapat menentukan aib dirinya, lalu mengalahkannya dan berusaha menundukkannya. Sedangkan orang yang dungu adalah orang yang tidak mengetahui aib dirinya, baik karena kurang pengetahuan dan akalnya serta lemah pikirannya maupun karena ia menilai bahwa aibnya tersebut adalah perangainya. Dan ini adalah aib terbesar di muka bumi ini.&#8221; (<em>Al Akhlaq wa As Siyar</em>)</li>
<li>Berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi baik terhadap dirinnya. Ibnu Muqaffa&#8217; mengatakan, &#8220;Hendaklah kamu berjanji terhadap dirimu sendiri untuk menjadi baik, sehingga dengan hal itu ia akan menjadi ahli kebajikan. Sebab jika anda melakukan demikian, maka kebajikan akan datang mencarimu sebagaimana air mengalir mencari tempat yang curam.&#8221; (<em>Al Adab Ash Shaghir wa Al Adab Al Kabir</em>). Ibnu Hazm berkata, &#8220;Mengabaikan sesaat  dapat merusak setahun&#8221; (<em>Al Akhlaq wa As Siyar</em>).</li>
<li>Kita tidak boleh menjadikan keburukan kemarin sebagai pembenaran untuk mengerjakan keburukan hari ini dan tidak pula menjadikan keburukan seseorang sebagai pembenaran untuk kita berbuat keburukan. Ibnu Hazm mengatakan, &#8220;Saya tidak melihat iblis lebih bodoh, lebih buruk dan lebih dungu daripada dua kalimat yang dilontarkan oleh propagandisnya: <strong>Pertama</strong>, alasan orang yang berbuat keburukan bahwa si fulan juga telah mengerjakan keburukan itu sebelumnya; <strong>kedua</strong>, seseorang menganggap remeh keburukannya hari ini karena ia telah berbuat keburukan itu kemarin, atau ia melakukan keburukan dalam suatu hal karena ia telah berbuat keburukan dalam hal lainnya. Akhirnya kedua kalimat tersebut menjadi alasan yang memudahkan untuk berbuat keburukan dan mengkategorikan keburukan tersebut dalam batas yang diakui, dianggap baik, dan tidak diingkari.&#8221; (<em>Al Akhlaq wa As Siyar</em>)</li>
<li>Menelaah sesuatu yang bermanfaat yang dapat membantu perbaikan diri terutama ilmu syar&#8217;i. Dengan ilmu syar&#8217;ilah seseorang dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan ilmu syar&#8217;i dia memiliki parameter yang tepat untuk menimbang segala sesuatu. Ini adalah poin yang sangat penting.</li>
</ol>
<p><strong>Maraji&#8217;:</strong></p>
<ul>
<li><em>Ma&#8217;al  Mu&#8217;allimin</em>, Muhammad  bin Ibrahim Al Hamd, terj. <em>Bersama Para Pendidik Muslim</em>.</li>
<li><em>Al  Ilmam fii Asbaabi Dha&#8217;fi Al Iltizaam</em>, Husain Muhammad Syamir, terj. 31 <em>Sebab Lemahnya Iman</em>.</li>
</ul>
<p>***</p>
<p>Artikel <a title="Tak Ada Gading yang Tak Retak" href="http://muslimah.or.id/nasihat-untuk-muslimah/tak-ada-gading-yang-tak-retak.html ">muslimah.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/tak-ada-gading-yang-tak-retak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Topeng Emansipasi</title>
		<link>http://muslimah.or.id/manhaj/topeng-emansipasi.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/manhaj/topeng-emansipasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 14:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>www.muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Penyusun: Ummu Khadijah dan Ummul Hasan
Muraja&#8217;ah: Ust. Aris Munandar
Saudariku yang semoga dirahmati Allah, sudah tidak asing terdengar di telinga kita bahwa baiknya wanita akan menjadi kunci kebaikan umat. Peran dan partisipasi seorang wanita adalah suatu hal yang sangat penting. Wanita laksana pedang bermata dua, jika ia baik dan menunaikan tugas-tugas utamanya sesuai dengan yang Allah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyusun: Ummu Khadijah dan Ummul Hasan<br />
Muraja&#8217;ah: Ust. Aris Munandar</p>
<p>Saudariku yang semoga dirahmati Allah, sudah tidak asing terdengar di telinga kita bahwa baiknya wanita akan menjadi kunci kebaikan umat. Peran dan partisipasi seorang wanita adalah suatu hal yang sangat penting. Wanita laksana pedang bermata dua, jika ia baik dan menunaikan tugas-tugas utamanya sesuai dengan yang Allah gariskan maka ia bagaikan batu-bata yang baik bagi bangunan masyarakat Islam. Namun jika ia telah menyimpang dari syari&#8217;at yang Allah tetapkan, maka ia ibarat pedang yang akan merusak dan menghancurkan umat.<span id="more-179"></span></p>
<p><strong><a title="Topeng Emansipasi" href="http://http//muslimah.or.id/aqidah/topeng-emansipasi.html">Emansipasi Wanita</a></strong></p>
<p>Musuh-musuh Islam sangat paham bahwa peran wanita muslimah sangat penting dalam membangun masyarakat Islam. Oleh karena itu, mereka selalu berusaha menyerang Islam melalui kaum wanitanya. Salah satu upaya tersebut adalah dengan menghancurkan wanita muslimah melalui &#8220;emansipasi&#8221;. Mereka menamakan emansipasi sebagai gerakan yang membebaskan wanita dari kezhaliman dan untuk memenuhi hak-hak mereka secara adil (menurut mereka) –dengan slogan toleransi, kebebasan wanita, persamaan gender, dan sebagainya.</p>
<p>Namun ketahuilah wahai Saudariku, emansipasi tumbuh dari sistem sekuler yang memisahkan antara kehidupan dan nilai agama. Mereka menginginkan wanita menjadi pesaing bagi laki-laki dan memperebutkan kedudukan dengan kaum laki-laki. Wanita dalam konsep mereka ibarat barang dagangan yang dipajang di etalase, yang siap dijadikan tontonan bagi para hamba syahwat dan menjadi budak nafsu mereka. <em>Na`udzubillah</em>, mereka juga berusaha menjauhkan wanita dari hijab dan rumah-rumah mereka, mengabaikan pengasuhan anak dengan mengatakan bahwa mengasuh anak tidak mendatangkan materi, membunuh kreatifitas dan menghambat potensi sumber daya manusia kaum wanita. Coba kita perhatikan, betapa menyedihkannya pemikiran mereka ini yang memandang baik buruknya kehidupan dari sudut pandang materi.</p>
<p>Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan syubhat-syubhat (kerancuan) yang mereka lontarkan. Mungkin secara sepintas, wacana emansipasi mampu menjawab problematika wanita dan mengangkat harkatnya tapi tidaklah mungkin itu diraih dengan mengorbankan kehormatan dan harga diri wanita. Sungguh, tak akan bisa disatukan antara yang haq dengan yang bathil. Mereka tidaklah ingin membebaskan wanita dari kezhaliman tetapi sesungguhnya merekalah yang ingin bebas menzhalimi wanita!!!</p>
<p><a title="Topeng Emansipasi" href="http://muslimah.or.id/aqidah/topeng-emansipasi.html"><strong>Wanita Dalam Islam</strong></a></p>
<p>Islam benar-benar memperhatikan peran wanita muslimah, karena di balik peran mereka inilah lahir pahlawan dan pemimpin agung yang mengisi dunia dengan hikmah dan keadilan. Wanita begitu dijunjung dan dihargai perannya baik ketika menjadi seorang anak, ibu, istri, kerabat, atau bahkan orang lain.</p>
<p>Saat menjadi anak, kelahiran anak wanita merupakan sebuah kenikmatan agung, Islam memerintahkan untuk mendidiknya dan akan memberikan balasan yang besar sebagaimana dalam hadits riwayat `Uqbah bin &#8216;Amir bahwa Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda yang artinya,</p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak wanita lalu bersabar menghadapi mereka dan memberi mereka pakaian dari hasil usahanya maka mereka akan menjadi penolong baginya dari neraka.&#8221;</em> (HR. Ibnu Majah: 3669, Bukhori dalam &#8220;Adabul Mufrod&#8221;: 76, dan Ahmad: 4/154 dengan sanad shahih, lihat &#8220;Ash-Shahihah: 294).</p>
<p>Ketika menjadi seorang ibu, seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepadanya, berbuat baik kepadanya, dan dilarang menyakitinya. Bahkan perintah berbuat baik kepada ibu disebutkan oleh Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebanyak tiga kali baru kemudian beliau <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> sebutkan perintah untuk berbuat baik kepada ayah. Dari Abu Hurairah berkata,</p>
<p><em>&#8220;Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya, &#8216;Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk menerima perbuatan baik dari saya?&#8217; Rasulullah menjawab, &#8216;Ibumu,&#8217; dia bertanya lagi, &#8216;Lalu siapa?&#8217; Rasulullah menjawab, &#8216;Ibumu,&#8217; dia bertanya lagi, &#8216;Lalu siapa?&#8217; Rasulullah kembali menjawab, &#8216;Ibumu,&#8217; lalu dia bertanya lagi, &#8216;Lalu siapa?&#8217; Rasulullah menjawab, &#8216;Bapakmu.&#8217;&#8221;</em> (HR. Bukhori: 5971, Muslim: 2548)</p>
<p>Begitu pun ketika menjadi seorang istri, Islam begitu memperhatikan hak-hak wanita sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisa&#8217; ayat-19 yang artinya:</p>
<p><em>&#8220;&#8230;Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Dan saat wanita menjadi kerabat atau orang lain pun Islam tetap memerintahkan untuk mengagungkan dan menghormatinya. Banyaknya pembahasan tentang wanita di dalam Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah menunjukkan kemuliaan mereka. Karena sesuatu yang banyak dibahas dan mendapat banyak perhatian tentunya adalah sesuatu yang penting dan mulia. Lalu masih adakah yang berani mengatakan bahwa Islam menzhalimi wanita?!</p>
<p>Wahai saudariku, demikianlah syari&#8217;at Islam menempatkan wanita di singgasana kemuliaan. Adapun di zaman sekarang, kenyataan yang terjadi di masyarakat sungguh jauh dari itu semua. Penyebabnya tidak lain adalah karena jauhnya umat Islam dari pemahaman yang benar terhadap agama mereka. Seringkali ada orang yang menjadikan kesalahan orang lain sebagai hujjah (argumentasi) baginya untuk turut berbuat kesalahan yang sama. Terkadang pula orang-orang menilai syari&#8217;at Islam dari perilaku orang-orang yang menyatakan bahwa mereka beragama Islam, namun pada hakekatnya perilaku mereka belumlah menggambarkan yang demikian. Oleh karena itu wahai Saudariku, janganlah menjadikan perilaku manusia sebagai dalil. Jadikanlah Al-Qur`an dan Sunnah dengan pemahaman para shahabat sebagai petunjuk bagi kita. Sungguh kita berlindung kepada Allah dari butanya hati dan akal dari kebenaran. <em>Wallahul musta&#8217;an</em>.</p>
<p>Dinukil dari:<br />
Artikel <cite>&#8220;Keagungan Wanita Dalam Naungan Islam&#8221;</cite> (sumber: <cite>Majalah Al-Furqon</cite> Tahun 6 Edisi 9 Rabi&#8217;uts Tsani 1428 H)<br />
Buku <cite>&#8220;Emansipasi Wanita&#8221;</cite> karya Syaikh Shalih bin &#8216;Abdullah bin Humaid<br />
Buku <cite>&#8220;Wanita-wanita Teladan Di Masa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam&#8221;</cite> karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi dengan perubahan seperlunya.</p>
<p>***</p>
<p>Artikel <a title="Topeng Emansipasi" href="http://muslimah.or.id/aqidah/topeng-emansipasi.html">muslimah.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/manhaj/topeng-emansipasi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Cinta untuk Saudariku (2)</title>
		<link>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/surat-cinta-untuk-saudariku-2.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/surat-cinta-untuk-saudariku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 08:32:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>www.muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ummu Sa&#8217;id
Muroja&#8217;ah: Ustadz Subkhan Khadafi
Wahai saudariku,
Kembalilah!
Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!
Kematian bisa datang kapan saja.
Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?
Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan bermaksiat?
Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?
Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!
Tidakkah kita rindu dengan surga?
Bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Ummu Sa&#8217;id<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Subkhan Khadafi</p>
<p>Wahai saudariku,<br />
Kembalilah!<br />
Kembalilah dalam ketaatan sebelum terlambat!<br />
Kematian bisa datang kapan saja.<br />
Bukankah kita ingin meninggal dalam ketaatan?<br />
Bukankah kita tidak ingin meninggal dalam keadaan bermaksiat?<br />
Bukankah kita mengetahui bahwa Allah mengharamkan bau surga bagi wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang?<br />
Berpakaian tapi tidak sesuai dengan syariat maka itu hakekatnya berpakaian tetapi telanjang!<br />
Tidakkah kita rindu dengan surga?<br />
Bagaimana bisa masuk jika mencium baunya saja tidak bisa?</p>
<p><span id="more-123"></span>Saudariku,<br />
Apalagi yang menghalangi kita dari syari&#8217;at yang mulia ini?<br />
Kesenangan apa yang kita dapat dengan keluar dari syari&#8217;at ini?<br />
Kesenangan yang kita dapat hanya bagian dari kesenangan dunia.<br />
Lalu apalah artinya kesenangan itu jika tebusannya adalah diharamkannya surga (bahkan baunya) untuk kita?<br />
Duhai&#8230;<br />
Apa yang hendak kita cari dari kampung dunia?<br />
Apalah artinya jika dibanding dengan kampung akhirat?<br />
Mana yang hendak kita cari?</p>
<p>Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
Semoga Allah menjadikan hati kita tunduk dan patuh pada apa yang Allah syariatkan. Dan bersegera padanya&#8230;</p>
<p>Saudariku,<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.<br />
Lalu jilbab seperti apa yang Allah maksudkan?<br />
Jilbab kan modelnya banyak&#8230;<br />
<em>*Semoga Allah memberi hidayah padaku dan pada kalian untuk berada di atas ketaatan dan istiqomah diatasnya*</em><br />
Iya, saudariku.<br />
Sangat penting bagi kita untuk mengetahui jilbab seperti apa yang Allah maksudkan dalam perintah tersebut supaya kita tidak salah sangka.<br />
Sebagaimana kita ingin melakukan sholat subuh seperti apa yang Allah maksud, tentunya kita juga ingin <a title="Batasan jilbab" href="http://konsultasisyariah.com/wanita/apaka-batasan-jilbab-syari.html">berjilbab</a> seperti yang Allah maksud.</p>
<p><em>&#8220;Ya&#8230; terserah saya! Mau sholat subuh dua rokaat atau tiga rokaat yang penting kan saya sholat subuh!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Ya&#8230; terserah saya! Mau pake jilbab model apa, yang penting kan saya pake jilbab!&#8221;</em></p>
<p>Mmm&#8230;<br />
Tidak seperti ini kan?</p>
<p>Pembahasan mengenai hal ini ada sebuah buku yang bagus untuk dijadikan rurukan karena di dalamnya memuat dalil-dalil yang kuat dari Al Quran dan As Sunnah, yaitu <em>Jilbab al Mar&#8217;ah al Muslimah fil Kitabi wa Sunnah</em> yang ditulis oleh Muhammad Nasiruddin Al Albani. Buku ini telah banyak diterjemahkan dengan judul <em>Jilbab Wanita Muslimah</em>.</p>
<p>Adapun secara ringkas, jilbab wanita muslimah mempunyai beberapa persyaratan, yaitu:</p>
<p><strong>1. Menutup seluruh badan</strong></p>
<p>Adapun wajah dan telapak tangan maka para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama menyatakan wajib untuk ditutup dan sebagian lagi sunnah jika ditutup. Syekh Muhammad Nasiruddin Al Albani dalam buku di atas mengambil pendapat sunnah. Masing-masing pendapat berpijak pada dalil sehingga kita harus bisa bersikap bijak. Yang mengambil pendapat sunnah maka tidak selayaknya memandang saudara kita yang mengambil pendapat wajib sebagai orang yang ekstrim, berlebih-lebihan atau sok-sokan karena pendapat mereka berpijak pada dalil. Adapun yang mengambil pendapat wajib maka tidak selayaknya pula memandang saudara kita yang mengambil pendapat sunnah sebagai orang yang bersikap meremehkan dan menyepelekan sehingga meragukan kesungguhan mereka dalam bertakwa dan berittiba&#8217; (mengikuti) sunnah nabi. Pendapat mereka juga berpijak pada dalil.</p>
<p><em>*Semoga Allah menjadikan hati-hati kita bersatu dan bersih dari sifat dengki, hasad, dan merasa lebih baik dari orang lain*</em></p>
<p><strong>2. Bukan berfungsi sebagai perhiasan</strong></p>
<p><strong>3. Kainnya harus tebal dan tidak tipis</strong></p>
<p><strong>4. Harus longgar, tidak ketat, sehingga tidak dapat menggambarkan bentuk tubuh</strong></p>
<p><strong>5. Tidak diberi wewangian atau parfum</strong></p>
<p><strong>6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki</strong></p>
<p><strong>7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir</strong></p>
<p><strong>8. Bukan <em>libas syuhrah</em> (pakaian untuk mencari popularitas)</strong></p>
<p><em>&#8220;BERAT!<br />
Rambutku kan bagus! Kenapa harus ditutup?<br />
Lagi pula  kalau ditutup bisa pengap, nanti kalau jadi rontok gimana?&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;RIWEH!<br />
Harus pakai kaus kaki terus.<br />
Kaus kaki kan cepet kotor, males nyucinya!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Baju yang kaya laki-laki ini kan baju kesayanganku! Ini style ku! Kalau pake rok jadi kaya orang lain. I want to be my self! Kalau pakai bajunya cewek RIBET! Gak praktis dan gak bisa leluasa!&#8221;</em></p>
<p>Saudariku,<br />
Sesungguhnya setan tidak akan membiarkan begitu saja ketika kita hendak melakukan ketaatan kecuali dia akan membisikkan kepada kita ketakutan dan keragu-raguan sehingga kita mengurungkan niat.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman yang artinya:</p>
<p><em>&#8220;Iblis menjawab: Karena Engkau telah menjadikanku tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka, belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka, sehingga Engkau akan mendapati kebanyakan mereka tidak bersyukur.&#8221;</em> (Qs. Al A&#8217;raf: 16-17)</p>
<p>Ibnu Qoyyim berkata &#8220;Apabila seseorang melakukan ketaatan kepada Allah, maka setan akan berusaha melemahkan semangatnya, merintangi, memalingkan, dan membuat dia menunda-nunda melaksanakan ketaatan tersebut. Apabila seorang melakukan kemaksiatan, maka setan akan membantu dan memanjangkan angan dan keinginannya.&#8221;</p>
<p>Mungkin setan membisikkan<br />
<em>&#8220;Dengan memakai jilbab, maka engkau tidak lagi terlihat cantik!&#8221;</em></p>
<p>Sebentar!<br />
Apa definisi cantik yang dimaksud?<br />
Apa dengan dikatakan &#8220;wah&#8230;&#8221;, banyak pengagum dan banyak yang nggodain ketika kita jalan maka itu dikatakan cantik?<br />
Sungguh!<br />
Kecantikan iman itu mengalahkan kecantikan fisik.<br />
Mari kita lihat bagaimana istri-istri Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> dan para shohabiyah!<br />
Apa yang menyebabkan mereka menduduki tempat yang mulia?<br />
Bukan karena penampilan dan kecantikan, tetapi karena apa yang ada di dalam dada-dada mereka.<br />
Tidakkah kita ingin berhias sebagaimana mereka berhias?<br />
Sibuk menghiasi diri dengan iman dan amal sholeh.<br />
Wahai saudariku,<br />
Seandainya fisik adalah segala-galanya, tentu Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> akan memilih wanta-wanita yang muda belia untuk beliau jadikan istri. Namun kenyataannya, istri-istri nabi adalah janda kecuali Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha.</em></p>
<p>Atau&#8230; mungkin setan membisikkan<br />
<em>&#8220;Dengan jilbab akan terasa panas dan gerah!&#8221;</em></p>
<p>Wahai saudariku,<br />
Panasnya dunia tidak sebanding dengan panasnya api neraka.<br />
Bersabar terhadapnya jauh lebih mudah dari pada bersabar terhadap panasnya neraka.<br />
Tidakkah kita takut pada panasnya api neraka yang dapat membakar kulit kita?<br />
Kulit yang kita khawatirkan tentang jerawatnya, tentang komedonya, tentang hitamnya, tentang tidak halusnya?<br />
Wahai saudariku,<br />
Ketahuilah bahwa ketaatan kepada Allah akan mendatangkan kesejukan di hati. Jika hati sudah merasa sejuk, apalah arti beberapa tetes keringat yang ada di dahi.<br />
Tidak akan merasa kepanasan karena apa yang dirasakan di hati mengalahkan apa yang dialami oleh badan.</p>
<p>Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
Semoga Allah memudahkan nafsu kita untuk tunduk dan patuh kepada syariat.</p>
<p><em>&#8220;Riweh pake kaus kaki.&#8221;<br />
&#8220;Ribet pake baju cewek.&#8221;<br />
&#8220;Panas! Gerah!&#8221;</em></p>
<p>Saudariku&#8230;<br />
Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakan apa yang Allah perintahkan meski nafsu kita membencinya.<br />
Setiap ketaatan yang kita lakukan dengan ikhlas, tidak akan pernah sia-sia. Allah akan membalasnya dan ini adalah janji Allah dan janji-Nya adalah haq.</p>
<p><em>&#8220;Celana bermerk kesayanganku bagaimana?&#8221;<br />
&#8220;Baju sempit itu?&#8221;<br />
&#8220;Minyak wangiku?&#8221;</em></p>
<p>Saudariku&#8230;<br />
Semoga Allah memudahkan kita untuk meninggalkan apa saja yang Allah larang meski nafsu kita menyukainya.<br />
Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.</p>
<p>Semoga Allah memudahkan kita untuk bersegera dalam ketaatan,<br />
Meneladani para shohabiyah ketika syariat ini turun, mereka tidak berfikir panjang untuk segera menutup tubuh mereka dengan kain yang ada.</p>
<p>Saudariku,<br />
Jadi bukan melulu soal penampilan!<br />
Bahkan memamerkan dengan menerjang aturan Robb yang telah menciptakan kita.<br />
Tetapi&#8230;<br />
Mari kita sibukkan diri berhias dengan kecantikan iman.<br />
Berhias dengan ilmu dan amal sholeh,<br />
Berhias dengan akhlak yang mulia.<br />
Hiasi diri kita dengan rasa malu!<br />
Tutupi aurat kita!<br />
Jangan pamerkan!<br />
Jagalah sebagaimana kita menjaga barang berharga yang sangat kita sayangi.<br />
Simpanlah kecantikannya,<br />
Simpan supaya tidak sembarang orang bisa menikmatinya!<br />
Simpan untuk suami saja,<br />
Niscaya ini akan menjadi kado yang sangat istimewa untuknya.</p>
<p>Saudariku,<br />
Peringatan itu hanya bermanfaat bagi orang yang mau mengikuti peringatan dan takut pada Allah.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman yang artinya,</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Robb Yang Maha Pemurah walau dia tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.&#8221;</em> (QS. Yasin: 11)</p>
<p>Kita memohon pada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mau mengikuti peringatan,<br />
Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang takut pada Robb Yang Maha Pemurah walau kita tidak melihat-Nya,<br />
Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.</p>
<p>Kita berlindung pada Allah dari hati yang keras dan tidak mau mengikuti peringatan. Kita berlindung pada Allah, Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang Allah firmankan dalam QS. Yasin: 10 (yang artinya):</p>
<p><em>&#8220;Sama saja bagi mereka apakah kami memberi peringatan kepada mereka ataukah kami tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.&#8221;</em> (QS. Yasin: 10)</p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/surat-cinta-untuk-saudariku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Cinta untuk Saudariku (1)</title>
		<link>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/surat-cinta-untuk-saudariku-1.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/surat-cinta-untuk-saudariku-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 02:27:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>www.muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ummu Sa&#8217;id
Muroja&#8217;ah: Ustadz Subkhan Khadafi
Tulisan ini bermula dari rasa gembiraku ketika seorang yang biasa kupanggil adek mulai bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi aurat, sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.
&#8220;Mmm&#8230; yang dulu suka panjat tali sekarang mulai demen sama rok&#8230;&#8221;
Semoga niatan ini bukan api [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Ummu Sa&#8217;id<br />
Muroja&#8217;ah: Ustadz Subkhan Khadafi</p>
<p>Tulisan ini bermula dari rasa gembiraku ketika seorang yang biasa kupanggil adek mulai bersemangat memakai kaus kaki untuk menutupi aurat, sebagaimana halnya rasa gembira ketika dulu dia bercerita tentang jilbab yang tebal dan juga tentang rok.</p>
<p><em>&#8220;Mmm&#8230; yang dulu suka panjat tali sekarang mulai demen sama rok&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Semoga niatan ini bukan api yang membara di awal lalu kemudian padam. Semoga dengan tekad yang kuat dan kesungguhan, Allah memudahkan untuk istiqomah dan terus memperbaiki diri.</p>
<p><span id="more-122"></span>Saudariku,<br />
Sungguh nikmat yang besar, Allah telah menjadikan kita bersaudara di atas ikatan iman.</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita sebagai saudara yang saling menyayangi di atas ikatan tersebut.</p>
<p>Saudara yang menghendaki kebaikan satu sama lainnya.</p>
<p>Saudara yang tidak menginginkan ada keburukan pada satu sama lainnya.</p>
<p>Bersama rasa cintaku aku membuat tulisan ini&#8230;<br />
Semoga Allah mendatangkan manfaat, menjadikannya bekal untuk dunia dan simpanan untuk akhirat.</p>
<p>Saudariku,<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala,<br />
Robb yang telah menciptakan kita dari setetes mani,<br />
Robb yang juga telah menciptakan ibu kita, bapak kita, dan orang-orang yang kita sayangi,<br />
Robb yang telah memberi rizki pada kita sampai kita sebesar ini,<br />
Robb yang telah memberi hidayah Islam -sebuah nikmat yang sangat besar yang tidak ada nikmat yang lebih besar dari nikmat ini-<br />
Robb yang telah memberi kita banyak sekali nikmat,<br />
Robb yang telah menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang taat,<br />
Robb yang juga telah mengancam dengan neraka bagi yang enggan untuk taat,<br />
Robb yang janji-Nya haq, yang tidak pernah menyalahi janji,<br />
Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah mensyariatkan kepada para muslimah untuk menutup tubuh mereka dengan jilbab.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 59 yang artinya,</p>
<p><em>&#8220;Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka&#8221;. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221;</em></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> juga bersabda yang artinya,</p>
<p><em>&#8220;Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat punuk unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk.&#8221;</em></p>
<p>Di dalam hadis lain terdapat tambahan:</p>
<p><em>&#8220;Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian.&#8221;</em> (Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam <em>Al-Mu&#8217;jam As-Shaghir</em> hal. 232, dari hadits Ibnu Amru dengan sanad shahih. Sedangkan hadits yang lain tersebut dikeluarkan oleh muslim dari riwayat Abu Hurairah)</p>
<p>Saudariku,<br />
Masih akrab dalam pandangan kita, saudari-saudari kita keluar rumah dengan membuka auratnya. Beberapa diantaranya sangat &#8220;memperhatikan&#8221; penampilannya.<br />
Mulai dari merk baju yang berkelas, model yang up to date,<br />
Bahkan diantaranya kita lihat baju yang sempit dan serba pendek,<br />
celana yang juga serba pas-pasan,<br />
rambut direbounding,<br />
alis yang &#8220;dirapikan&#8221;,<br />
lipstik tipis warna pink,<br />
minyak wangi yang <em>mmmm&#8230;</em><br />
<em>*mungkin karena belum tahu*</em></p>
<p>Saudariku,<br />
Apa yang kita dapat dari semua ini?<br />
&#8220;cantik&#8221;?<br />
&#8220;aduhai&#8221;?<br />
&#8220;modis&#8221;?<br />
&#8220;gaul&#8221;?<br />
&#8220;tidak ketinggalan jaman&#8221;?<br />
atau mungkin sekedar untuk bisa percaya diri ketika keluar rumah dan berhadapan dengan orang-orang?</p>
<p>Memang banyak yang akan melihat &#8220;WAH&#8221; pada wanita yang berpenampilan seperti ini sehingga menyebabkan beberapa di antara kita tertipu dan bahkan berlomba untuk menjadi yang &#8220;terhebat&#8221; dalam masalah ini.</p>
<p>Tetapi saudariku,<br />
Saya ingin mengajak kita untuk menjadi seorang muslimah yang sejati!<br />
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan apa yang mereka pamerkan dari tubuh dan kecantikan mereka.<br />
Tidak perlu kita tiru mereka yang berbangga diri dengan merk yang ada pada baju-baju mereka.<br />
Sungguh! Kain sepuluh ribu per meter dari Pasar Bering lebih mulia jika kita memakainya dalam rangka ketaatan pada Allah,<br />
Robb yang telah menciptakan kita,<br />
Robb yang telah mensyariatkan jilbab untuk kita.<br />
Duhai&#8230;<br />
Pakaian mana yang lebih mulia dari pakaian ketaqwaan?</p>
<p>Adalah nikmat yang besar ketika kita masuk Islam.<br />
Seseorang dinilai bukan lagi dari tulisan (baca: merk) apa yang tertempel di bajunya, atau dari seberapa mancung hidungnya, seberapa cantik wajahnya, seberapa elok parasnya, seberapa anggun bersoleknya.<br />
Tapi seseorang dinilai dari apa yang ada dalam hatinya, apa yang diucap oleh lisannya, dan apa yang diperbuat oleh badannya.<br />
Ya!<br />
Seseorang dinilai dari ketaqwaannya.<br />
Jadi tidak perlu lagi kita bersibuk-sibuk untuk pamerkan kebolehan tubuh dan kecantikan.</p>
<p>Saudariku,<br />
Tidakkah kita melihat jajanan yang ada di emperan?<br />
Terbungkus dengan ala kadarnya,<br />
semua orang bisa menjamahnya,<br />
atau bahkan mencicipinya.<br />
Bahkan seringkali yang mencicipi adalah orang iseng yang tidak benar-benar bermaksud untuk membeli. Setelah mencicipinya, dia letakkan kembali kemudian dia tinggal pergi.<br />
Bukan hanya orang iseng, bahkan lalat-lalat pun mengerumuninya.<br />
Berbeda dengan makanan berkualitas yang terbungkus rapi dan tersegel.<br />
Terjaga dan tidak tersentuh tangan-tangan iseng.</p>
<p>Di antara keduanya, kita lebih memilih yang mana?<br />
Tentu yang kedua.<br />
Jika untuk makanan saja demikian, maka lebih-lebih lagi kita memilih untuk diri kita sendiri.</p>
<p>Saudariku,<br />
Demikian juga keadaannya seorang lelaki yang baik-baik.<br />
Dia akan memilih <a title="Bolehkah wanita bekerja?" href="http://konsultasisyariah.com/fikih/pernikahan/rumah-tangga/bolehkah-wanita-bekerja.html">wanita</a> yang menjaga kehormatannya,<br />
yang kecantikannya tidak dia pamerkan.<br />
Tidak dia biarkan dinikmati oleh banyak orang.<br />
Yang demikian adalah karena wanita yang menjaga auratnya lebih mulia dari pada wanita yang memamerkan auratnya.</p>
<p>Wahai saudariku,<br />
Bahkan lelaki yang sholeh berlindung pada Allah dari godaan kita.<br />
Wanita adalah godaan yang besar bagi lelaki.<br />
Pada umumnya lelaki itu lemah terhadap godaan wanita.<br />
Maka sebagai wanita, jangan malah kita menggodanya!<br />
Tetapi kita bantu mereka untuk bisa menjaga pandangan dan menjauh dari maksiat.<br />
Sukakah kita jika kita menjadi sebab pemuda-pemuda tergelincir dalam kemaksiatan?<br />
Menjadi penyebar fitnah dan perusak generasi?</p>
<p>Saudariku yang aku cintai,<br />
Berat hati ini melihat hal seperti ini terjadi pada saudari kita&#8230;<br />
Allah telah memuliakan kita dengan mensyari&#8217;atkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan membiarkan aurat terbuka? Secara tidak langsung, ini berarti membiarkan diri menjadi objek pemuas syahwat yang bisa dinikmati sembarang orang.</p>
<p>Allah telah memuliakan kita dengan mensyariatkan jilbab untuk kita, namun kenapa malah menghinakan diri dengan keluar dari ketaatan?</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Artikel www.muslimah.or.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/surat-cinta-untuk-saudariku-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saudariku, Jangan Gunakan Lisanmu untuk Melaknat!</title>
		<link>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/saudariku-jangan-gunakan-lisanmu-untuk-melaknat.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/saudariku-jangan-gunakan-lisanmu-untuk-melaknat.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jun 2008 09:07:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>www.muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Adab dan Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Ummu Salamah As-Suluni
Termasuk bagian dari kenikmatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah lisan. Dengan lisan, kita dapat mengungkapkan pikiran dan perasan kita. Terkadang kita menganggap sepele atau bahkan melupakan perkara yang berhubungan dengan lisan, sehingga kita sering mendengar seseorang yang mengucapkan sesuatu yang tanpa disadari bisa menimbulkan murka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Lisan terkadang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penulis: Ummu Salamah As-Suluni</p>
<p>Termasuk bagian dari kenikmatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah lisan. Dengan lisan, kita dapat mengungkapkan pikiran dan perasan kita. Terkadang kita menganggap sepele atau bahkan melupakan perkara yang berhubungan dengan lisan, sehingga kita sering mendengar seseorang yang mengucapkan sesuatu yang tanpa disadari bisa menimbulkan murka Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Lisan terkadang dapat mengantarkan pemiliknya ke tingkat tertinggi apabila lisan itu digunakan untuk kebaikan atau diarahkan kepada apa yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Namun lisan juga dapat menjerumuskan pemiliknya ke tingkat yang paling rendah, yaitu apabila lisan digunakan untuk perkara yang tidak diridhai Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p><span id="more-121"></span>Seorang mukmin senantiasa diperintahkan untuk menjaga lisannya. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman yang artinya, <em>&#8220;Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.&#8221;</em> (QS. Al-Mukminun: 1-3)</p>
<p>Menjaga lisan termasuk salah satu kesempurnaan Islam seseorang, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Sebaik-baik (kualitas) keislaman kaum mukminin adalah orang yang kaum muslimin merasa aman dari (kejahatan) lisan dan tangannya. Sebaik-baik (kualitas) keimanan kaum mukminin adalah mereka yang paling baik akhlaqnya&#8230;..&#8221;</em> (HR. Ath-Thabrani)</p>
<p>Sebagai seorang mukmin, penting bagi kita untuk mengetahui apa saja yang termasuk kejahatan lisan. Diantara kejahatan-kejahatan lisan tersebut adalah melaknat.</p>
<p>Apa itu melaknat? Melaknat memiliki dua makna, yaitu makna pertama adalah mencela dan makna kedua adalah mengusir serta menjauhkan dari rahmat Allah. Melaknat bukanlah perangai orang beriman, dari &#8216;Abdullah bin Mas&#8217;ud, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan bukan orang yang suka melaknat serta bukan orang yang suka bicara jorok dan kotor.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Banyak bahaya yang ditimbulkan karena melaknat. Di antara bahaya tersebut adalah tukang laknat tidak dimasukkan dalam golongan para syuhada dan tidak termasuk orang-orang yang memberi syafa&#8217;at disisi Allah untuk memintakan ampun bagi seseorang, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafa&#8217;at dan tidak pula syuhada pada hari kiamat.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Melaknat juga bukan sifat para shidiqqun, disebutkan dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Tidak sepatutnya bagi seorang shidiqq menjadi pelaknat.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Lalu bagaimana jika seseorang melaknat orang lain yang tidak berhak untuk dilaknat? Jawabannya, laknat itu akan kembali pada orang yang melaknat. Dalam suatu hadits dari Abu Darda&#8217; <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Sesungguhnya seorang hamba apabila melaknat sesuatu, niscaya laknatnya akan naik ke langit, maka tertutuplah pintu-pintu langit hingga ia (laknat -ed) tak dapat masuk, maka kembalilah ia terhujam ke bumi, akan tetapi pintu-pintu bumi pun tertutup untuknya, maka ia berputar-putar ke kanan dan kiri, dan jika tak menemui jalan keluar (menuju sasarannya), maka ia akan tertuju pada orang yang dilaknat jika memang ia pantas untuk dilaknat, akan tetapi jika tidak pantas, maka ia akan kembali kepada orang yang mengucapkan laknat tadi.&#8221;</em> (HR. Abu Daud)</p>
<p>Kadang kita mendengar orang berkata, <em>&#8220;dasar batu sial!&#8221;</em> atau <em>&#8220;sial kamu!&#8221;</em>, kata-kata ini terdengar sangat sepele, namun ketahuilah Saudariku, bahwa kita dilarang untuk mengucapkan atau melaknat sesuatu tanpa adanya keterangan dari agama bahwa sesuatu tersebut mendatangkan kesialan. Selain itu, kita juga dilarang melaknat angin, binatang, ayam jago, waktu, serta manusia tertentu, terutama seorang mukmin karena hal tersebut termasuk dosa besar. Tsabit bin Adh-Dhahhak <em>rahimahullahu Ta&#8217;ala</em> berkata bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Barangsiapa melaknat seorang mukmin maka seakan-akan dia membunuhnya.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Lalu apakah ada laknat yang diperbolehkan? Jawabannya ada, yaitu melaknat pelaku kemaksiatan dari kalangan kaum muslimin tanpa menunjuk personnya. Karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> pernah melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang minta disambungkan rambutnya. Selain itu boleh juga melaknat dengan menunjuk orang terrtentu yang sudah mati untuk menjelaskan keadaannya pada manusia dan untuk kemashlahatan syari&#8217;ah. Adapun jika tidak ada maslahat syari&#8217;ah maka tidak diperbolehkan karena, dari &#8216;Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em> bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Janganlah kalian mencaci maki orang-orang yang telah mati, karena sesungguhnya mereka telah mendapatkan balasan dari apa yang telah mereka perbuat dahulu.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Seorang mukmin hendaknya tidak berkata kecuali yang baik. Perkataannya adalah suatu kejujuran, di samping sebagai perbaikan di antara manusia, amar ma&#8217;ruf nahi munkar, doa, dan ketundukan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Tidak inginkah kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> ini? <em>&#8220;Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada diantara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluan), maka aku akan menjamin untuknya surga.&#8221;</em> (HR. Al-Bukhari)</p>
<p>Karena itu, marilah kita memohon kepada Allah Ta&#8217;ala agar melindungi kita dari kesalahan-kesalahan lisan kita serta janganlah kita merasa aman terhadap tipu daya lisan, agar kita tidak binasa dalam neraka jahim dan kerugian.</p>
<p><strong>Maraji&#8217;:</strong></p>
<ol>
<li><em>Manajemen Lisan Saat Diam Saat Bicara</em> (Husain al-Awayisyah)</li>
<li><em>Wahai Muslimah Dengarlah Nasehatku</em>, edisi revisi (Ummu Abdillah Al-Wadi&#8217;iyyah)</li>
<li><em>Tarjamah Riyadhus Shalihin</em> (Imam Nawawi)</li>
<li><em>Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa</em> (Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid)</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/saudariku-jangan-gunakan-lisanmu-untuk-melaknat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
