<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muslimah.or.id &#187; Nasihat</title>
	<atom:link href="http://muslimah.or.id/tag/nasihat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://muslimah.or.id</link>
	<description>Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 04:02:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Nasehat Emas Imam Asy-Syafi’i</title>
		<link>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/nasehat-emas-imam-asy-syafi%e2%80%99i.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/nasehat-emas-imam-asy-syafi%e2%80%99i.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 10:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Asy Syafi'i]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2739</guid>
		<description><![CDATA[Beliau rahimahullah berkata dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, Aku melihat pemilik ilmu hidupnya mulia walau ia dilahirkan dari orangtua terhina. Ia terus menerus menerus terangkat hingga pada derajat tinggi dan mulia. Umat manusia mengikutinya dalam setiap keadaan laksana pengembala kambing ke sana sini diikuti hewan piaraan. Jikalau tanpa ilmu umat manusia tidak akan merasa bahagia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fakhlak-dan-nasehat%2Fnasehat-emas-imam-asy-syafi%25e2%2580%2599i.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fakhlak-dan-nasehat%2Fnasehat-emas-imam-asy-syafi%25e2%2580%2599i.html&amp;source=muslimahID&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Beliau <em>rahimahullah</em> berkata dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i,</p>
<p><em>Aku melihat pemilik ilmu hidupnya mulia walau ia dilahirkan dari orangtua terhina.<br />
Ia terus menerus menerus terangkat hingga pada derajat tinggi dan mulia.<br />
Umat manusia mengikutinya dalam setiap keadaan laksana pengembala kambing ke sana sini diikuti hewan piaraan.<br />
Jikalau tanpa ilmu umat manusia tidak akan merasa bahagia dan tidak mengenal halal dan haram.</em></p>
<p><em>Diantara keutamaan ilmu kepada penuntutnya adalah semua umat manusia dijadikan sebagai pelayannya.<br />
Wajib menjaga ilmu laksana orang menjaga harga diri dan kehormatannya.<br />
Siapa yang mengemban ilmu kemudian ia titipkan kepada orang yang bukan ahlinya karena kebodohannya maka ia akan mendzoliminya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Wahai saudaraku, ilmu tidak akan diraih kecuali dengan enam syarat dan akan aku ceritakan perinciannya dibawah ini:<br />
Cerdik, perhatian tinggi, sungguh-sungguh, bekal, dengan bimbingan guru dan panjangnya masa.<br />
Setiap ilmu selain Al-Qur’an melalaikan diri kecuali ilmu hadits dan fikih dalam beragama.<br />
Ilmu adalah yang berdasarkan riwayat dan sanad maka selain itu hanya was-was setan.</em></p>
<p><em>Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.<br />
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.<br />
Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,<br />
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.<br />
Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,<br />
Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.<br />
Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.<br />
Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Ilmu adalah tanaman kebanggaan maka hendaklah Anda bangga dengannya. Dan berhati-hatilah bila kebanggaan itu terlewatkan darimu.<br />
Ketahuilah ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pikirannya tercurah pada makanan dan pakaian.<br />
Pengagum ilmu akan selalu berusaha baik dalam keadaan telanjang dan berpakaian.<br />
Jadikanlah bagi dirimu bagian yang cukup dan tinggalkan nikmatnya tidur<br />
Mungkin suatu hari kamu hadir di suatu majelis menjadi tokoh besar di tempat majelsi itu.<br />
</em><br />
***<br />
Disadur dari kitab <em>Kaifa Turabbi Waladan Shalihan</em> (Terj. <em>Begini Seharusnya Mendidik Anak</em>), Al-Maghrbi bin As-Said Al-Maghribi, Darul Haq.<br />
<a href="http://muslimah.or.id">Artikel Muslimah.or.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/nasehat-emas-imam-asy-syafi%e2%80%99i.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meneladani Bakti Ulama Pada Orangtuanya</title>
		<link>http://muslimah.or.id/kisah/meneladani-bakti-ulama-pada-orangtua.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/kisah/meneladani-bakti-ulama-pada-orangtua.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 01:00:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Adab dan Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Bakti kepada Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2716</guid>
		<description><![CDATA[Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai saudariku&#8230;yang semoga selalu dirahmati Allah, tahukah kalian bahwa perkara berbakti kepada kepada orangtua merupakan perkara yang mulia lagi agung. Dan sudah sepantasnya bagi saudariku yang senantiasa berpegang teguh dengan agama ini, untuk mengetahui serta memahami apa saja hak-hak orangtua yang seharusnya kita penuhi. Terlebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fkisah%2Fmeneladani-bakti-ulama-pada-orangtua.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fkisah%2Fmeneladani-bakti-ulama-pada-orangtua.html&amp;source=muslimahID&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.<br />
</em><br />
Wahai saudariku&#8230;yang semoga selalu dirahmati Allah, tahukah kalian bahwa perkara berbakti kepada kepada orangtua merupakan perkara yang mulia lagi agung. Dan sudah sepantasnya bagi saudariku yang senantiasa berpegang teguh dengan agama ini, untuk mengetahui serta memahami apa saja hak-hak orangtua yang seharusnya kita penuhi. Terlebih lagi jika kita telah mendapati kedua orangtua kita sudah dalam keadaan tua, tak punya daya dan tenaga sebagaimana ketika mereka masih muda.</p>
<p>Ketahuilah, Allah <em>Ta’ala</em> telah memerintahkan kita untuk berbakti kepada orangtua serta tidak menyakiti perasaan mereka meski dengan ucapan, apalagi dengan perbuatan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman dalam ayat-Nya,</p>
<p class="arab">
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)
</p>
<p><em>“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”</em> (QS. Al-Israa’: 23-24).</p>
<p>Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat ini,<br />
“… dalam ayat ini Allah menggandengkan antara ibadah kepada-Nya dengan perintah berbakti kepada kedua orangtua. Allah Ta’ala berfirman,<em> “dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak..”</em>, sebagaimana dalam ayat-Nya yang lain, <em>“bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada keduaorangtuamu, dan kepada-Kulah kamu kembali. “</em>(QS. Luqman: 14).</p>
<p>Dan Allah <em>ta’ala</em> berfirman, yang artinya:<br />
<em>”Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”,<br />
</em>Yaitu, janganlah engkau mengucapkan perkataan yang buruk kepada keduanya, dan ucapan “ah” itu adalah ucapan yang mendekati perkataan buruk.</p>
<p><em>“dan janganlah engkau membentak keduanya,”<br />
</em>Yaitu, jangan sampai muncul perbuatan buruk darimu yang ditujukan kepada keduanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Atha’ bin Abi Rabaah tentang ayat tersebut, yaitu <em>“janganlah mengibaskan tanganmu kepada keduanya.”<br />
</em><br />
Tatkala Allah melarang seorang anak untuk berucap buruk ataupun berperilaku buruk , maka Allah memerintahkan anak untuk berkata yang baik dan berbuat yang baik. Allah <em>ta’ala</em> berfirman, yang artinya<br />
<em>“dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”,<br />
</em> Yaitu, perkataan yang lembut, menyenangkan, bagus disertai dengan sopan santun, penghormatan dan pengagungan kepada keduanya.</p>
<p><em>“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang”<br />
</em>Yaitu, rendahkanlah dirimu di hadapan keduanya dengan perilakumu.</p>
<p><em>“dan ucapkanlah,’Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’”<br />
</em>Yaitu mendoakan mereka ketika mereka telah tua renta, dan ketika mereka telah meninggal.”</p>
<p><strong>Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Berbakti Kepada Orangtua</strong></p>
<p>Saudariku, mari kita perhatikan bagaimana seorang shahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bernama ‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu</em> pernah bertanya kepada beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>,<br />
‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Aku bertanya,<em>“Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?” </em><br />
Rasulullah menjawab,<em>”Sholat tepat pada waktunya.”</em><br />
Aku bertanya, <em>“Lalu apa lagi?”</em><br />
Beliau menjawab,”Berbakti kepada orangtua.”<br />
Kemudian aku bertanya lagi,<em>”Lalu apa lagi?”</em><br />
Beliau berkata,”Berjihad di jalan Allah.”’<br />
(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Pernah pula shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata, ‘Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, “Apakah aku pergi berjihad?”<br />
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya,<em>”Apa engkau masih memiliki ibu bapak?”</em><br />
Dia berkata,”Ya.”<br />
Beliau berkata,<em>”Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya.” </em><br />
(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari hadits di atas, tahulah kita bahwa berbakti kepada orangtua merupakan amalan yang paling utama setelah sholat wajib yang dikerjakan tepat waktunya, serta merupakan amalan jihad yang diperintahkan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>.</p>
<p><strong>Inilah Kisah Ulama’ serta Bakti Mereka kepada Orangtua</strong></p>
<p>Wahai saudraiku, kini kan kuhadirkan untukmu nukilan kisah para ulama serta amalan bakti mereka kepada orangtuanya. Merekalah orang yang berilmu, lagi paling mengetahui hak-hak yang besar yang dimiliki orangtua atas diri-diri mereka. Betapa mereka sangat perhatian dengan hal ini, karena bakti mereka kepada orangtua adalah pembuka jalan menuju surga. Semoga nukilan kisah ini kan menjadi cerminan, bagaimana seharusnya kita memperlakukan orangtua, sebagaimana yang dilakukan para ulama.</p>
<p><strong>1. Iyas bin Mu’awiyyah</strong></p>
<p>Ketika ibu beliau meninggal, beliaupun menangis. Orang yang mengetahui hal itupun bertanya kepada beliau yang mungkin didorong rasa heran karena melihat seorang yang ‘alim di antara mereka tak mampu menahan airmatanya tatkala mendapati ibunya telah meninggal. “Mengapa Anda menangis?”. Maka Iyas bin Mu’awiyyah menjawab,”Dahulu aku memiliki dua pintu yang terbuka untuk menuju surga, namun kini salah satunya telah terkunci.”</p>
<p>Wahai Saudariku, lihatlah betapa sedihnya salah seorang ulama kita ini ketika ibunya meninggal dunia. Lalu bagaimana kiranya dengan kita, adakah rasa sedih kehilangan pintu surga sebagaimana yang dirasakan Iyas bin Mu’awiyyah tatkala salah satu dari keduanya meninggal? Lalu tak lebih bersedihkah kita tatkala tak lagi mendapati dua pintu surga karena kedua orangtua kita telah tiada?</p>
<p><strong>2. Abu Hanifah</strong></p>
<p>Sesungguhnya ibu dari Abu Hanifah pernah bersumpah dengan satu sumpah, kemudian dia melanggarnya. Maka sang ibu pun meminta fatwa kepada anaknya, Abu Hanifah. Namun ternyata ibunya merasa tidak mantap dengan fatwa yang diberikan anaknya.<br />
Ibunya berkata,”Aku tidak merasa ridha, kecuali dengan mendengar langsung fatwa dari Zur’ah Al-Qash!”<br />
Maka Abu Hanifah pun mengantar ibunya untuk meminta fatwa kepada Zur’ah. Namun Zur’ah Al-Qash mengatakan,”Wahai Ibu, engkau meminta fatwa kepadaku, sementara di depanku ada seorang yang paling alim di kota Kuffah?!”<br />
Abu Hanifah pun berkata dengan berbisik kepada Zur’ah, “Berilah fatwa kepadanya demikian dan demikian” (sebagaimana fatwa Abu Hanifah kepada ibunya), kemudian Zur’ahpun memberikan fatwa hingga ibu Abu Hanifah merasa ridha!</p>
<p>Wahai saudariku, inilah sikap bakti Abu Hanifah kepada ibunya. Rasa cinta dan baktinya kepada sang ibu tidaklah membuatnya merasa gengsi tatkala sang ibu menginginkan fatwa dari orang lain yang tingkatan ilmunya justru lebih rendah dari Abu Hanifah. Dan lihatlah, beliau sama sekali tak merasa sombong dan angkuh di hadapan ibunya meski orang lain telah mengakui kefaqihannya dalam memahami ilmu syar’i.</p>
<p>Dalam kisah yang lain, Abu Yusuf menyampaikan, “Aku menyaksikan Abu Hanifah <em>rahimahullahu ta’ala</em> menggendong ibunya naik ke atas keledai untuk menuju majelisnya ‘Umar bin Dzar, dikarenakan ia tak ingin menolak perintah ibunya.” Adapun yang dimaksud adalah Ibu Abu Hanifah menyuruh beliau untuk bertanya kepada ‘Umar bin Dzar tentang kepentingan ibunya.</p>
<p><strong>3. Manshur bin Al-Mu’tamar</strong></p>
<p>Muhammad bin Bisyr Al-Aslami berkata,”Tidaklah didapati orang yang paling berbakti kepada ibunya di kota Kuffah ini selain Manshur bin Al-Mu’tamar dan Abu Hanifah. Adapun Manshur sering mencari kutu di kepala ibunya, dan menjalin rambut ibunya.”</p>
<p>Wahai saudariku, perhatikanlah bakti Manshur kepada ibunya, yang menyempatkan dirinya untuk mencari kutu dan menjalin rambut sang ibu. Betapa amalan itu mungkin remeh di mata kita, namun begitu besar di mata Manshur. Bahkan perbuatannya tersebut tidaklah membuatnya merasa turun harga dirinya disebabkan beliau seorang laki-laki.</p>
<p>Lalu bagaimana denganmu wahai saudariku, yang tentu engkau lebih layak untuk mengerjakannya karena engkau adalah seorang wanita?<br />
Tidakkah kau lihat rambut ibumu yang mulai kusut dan tak tertata karena tak mampu merawatnya, sementara engkau hanya diam terpaku membiarkannya begitu saja?</p>
<p><strong>4. Haiwah bin Syarih</strong></p>
<p>Suatu hari Haiwah bin Syarih –beliau salah seorang imam kaum muslimin- duduk dalam majelis beliau untuk mengajarkan ilmu kepada manusia. Lalu ibunya berteriak memanggil beliau, “Berdirilah wahai Haiwah, beri makan ayam-ayam itu!”<br />
Lalu beliaupun berdiri dan meninggalkan majelisnya untuk memberi makan ayam.</p>
<p>Kembali kita bercermin kepada Haiwah bin Syarih, panggilan ibunya untuk memberi makan ayam tidaklah membuat beliau malu dan merasa turun derajatnya di hadapan murid-murid beliau. Justru saat itulah beliau memberikan keteladanan yang besar kepada murid-muridnya akan kewajiban berbakti kepada orangtua dan lebih mendahulukan orangtua dibandingkan dengan orang lain. Bagaimana seandainya hal itu terjadi pada dirimu wahai saudariku? Akankah engkau bergegas untuk menyambut perintah orangtuamu?</p>
<p><strong>5. Muhammad bin Al-Munkadir<br />
</strong><br />
Muhammad bin Al-Munkadir pernah menceritakan, “’Umar (saudara beliau) menghabiskan malam dengan mengerjakan sholat malam, sedangkan aku menghabiskan malamku untuk memijat kaki ibuku. Dan aku tidaklah ingin malamku itu diganti dengan malamnya ‘Umar.”</p>
<p>Melalui nukilan ini, Muhammad bin Al-Munkadir telah memberikan petuah secara tak langsung kepada kita, bahwa bakti kepada orangtua itu lebih besar pahalanya dari pada  mengerjakan amalan sunnah. Bahkan meskipun amalan sunnah itu adalah sholat malam yang dilakukan semalam suntuk yang engkau pasti tahu sholat malam merupakan sholat sunnah yang paling utama. Oleh karena itu, tatkala orangtuamu menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak melanggar aturan syariat, sementara engkau dalam keadaan melakukan amalan sunnah, maka segera sambut mereka, dan batalkan amalan sunnah tersebut untuk sementara.</p>
<p><strong>6. Imam Ibnu ‘Asakir<br />
</strong><br />
Al-Imam Ibnu ‘Asakir pernah ditanya tentang sebab mengapa beliau terlambat dalam menuntut ilmu di Asbahan, maka beliau menjawab,”Ibuku tidak mengizinkanku.”</p>
<p><strong>7. Imam Adz-Dzahabi</strong></p>
<p>Beliau pernah mengisahkan bahwa beliau membaca Al-Qur’an kepada Syaikhnya yang bernama Syaikh al-Fadhili. Kemudian beliau berkata,”Ketika guru kami (Al-Fadhili) meninggal, sementara aku belum selesai membaca Al-Qur’an dengannya, akupun merasa sedih. Kemudian ada orang yang menyampaikan kepadaku bahwa Abu Muhammad Al-Makin Al-Asmar yang tinggal di Iskandariyah memiliki sanad yang lebih tinggi daripada Al-Fadhili.” Imam Adz-Dzahabi berkata,”Maka semakin bertambahlah kesedihanku karena ayahku tidak mengizinkanku melakukan safar ke kota Iskandariyah.</p>
<p>Adz-Dzahabi menyampaikan dalam biografi ‘Abdurrahman bin ‘Abdul Latif Al-Baghdadi, “Aku merasa sedih ketika bepergian kepadanya, tidaklah aku menyeberangi jembatan, karena khawatir dengan ayahku. Sesungguhnya dia telah melarangku.”</p>
<p>Adz-Dzahabi pernah mengadakan perjalanan menuju salah seorang imam dan tinggal di tempat imam tersebut selama beberapa waktu, lalu beliau berkata,”Aku telah berjanji dan bersumpah kepada ayahku, bahwa aku tidak akan tinggal dalam perjalanan ini lebih dari 4 bulan, sehingga aku khawatir menjadi anak durhaka.”</p>
<p>Lihatlah bagaimana sikap Imam Ibnu ‘Asakir dan Adz-Dzahabi yang begitu perhatian dengan izin dari orangtuanya. Begitu beratnya mereka untuk pergi, bahkan untuk menuntut ilmu sekalipun, ketika orangtuanya tak memberikan izin kepada mereka. Betapa takutnya mereka menjadi anak durhaka, hanya karena melanggar sedikit dari janji yang sudah disepakati dengan orangtuanya.</p>
<p>Lalu, mari kita lihat keadaan di zaman ini. Betapa banyak kita dapati muslimah (kecuali mereka yang dirahmati Allah), pergi ke suatu tempat tanpa meminta izin dulu kepada orangtuanya. Berangkat tak pamit, pulang tak jelas jam berapa. Tidakkah mereka berpikir, betapa orangtuanya merasa gelisah kebingungan mencari anak gadisnya yang tak kunjung pulang?</p>
<p>Wahai saudariku, apa lagi yang engkau tunggu? Segeralah berbuat baik kepada kedua orangtuamu. Karena apabila engkau mengerahkan seluruh tenaga untuk berbakti kepada mereka, niscaya itu tidak akan mampu menyaingi kebaikan mereka ketika mendidik dan merawatmu saat masih kecil.</p>
<p>Bergegaslah untuk mengunjungi mereka andai engkau telah lama tak berjumpa. ..<br />
Bergegaslah untuk menelepon mereka andai lama engkau tak mendengar kabarnya&#8230;<br />
Mintalah mereka untuk menghabiskan masa tuanya bersamamu…<br />
Rawatlah mereka dengan penuh ketulusan. Bersihkan kotoran yang melekat pada badan dan pakaian mereka dengan keikhlasan andai mereka telah renta&#8230;<br />
Tatalah ruangan mereka, beri pencahayaan yang cukup, dan perhatikanlah kebersihan ruangannya.<br />
Ciumlah kening mereka dengan penuh ketulusan dan harapkanlah pahala dari Allah atas segala baktimu. Perlakukan mereka sebagaimana hamba memuliakan raja dan ratu&#8230;<br />
Janganlah sampai kau perlakukan mereka layaknya seorang pembantu yang bisa kau suruh untuk menbantu pekerjaan rumah tanggamu. <em>Na’udzubillahi min dzalik</em>.<br />
Dakwahi dengan kelembutan serta akhlak yang baik andai mereka belum mendapatkan hidayah-Nya.<br />
Segeralah meminta maaf andai engkau pernah mengucapkan kata-kata dan berlaku kasar yang membuat  mereka tak ridha.<br />
Saudariku, mungkin engkau tak akan lama lagi melihat wajah mereka.<br />
Lihatlah kulit-kulit mereka yang mulai kisut&#8230;<br />
Kening-kening mereka yang mulai mengerut&#8230;<br />
Raga yang tak lagi kuat dan sebentar lagi kan menantang maut..<br />
Adakah engkau telah membuat mereka bahagia?<br />
Sudahkah engkau melukiskan tawa di bibir mereka?<br />
Atau justru engkau telah membuat mereka menangis karena tingkahmu yang tak menyenangkan mereka??</p>
<p>Wahai saudariku, lekaslah redakan tangis mereka.<br />
Karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> pernah menasehatkan hal demikian kepada salah seorang yang datang kepada beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>,</p>
<p><em>“Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Aku akan berbai’at kepadamu untuk berhijrah, dan aku tinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis.” Rasulullah shallallahu a’laihi wasallam bersabda,”Kembalilah kepada kedua orangtuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis..”</em> (HR. Imam Abu Dawud dan An-Nasa-i)</p>
<p style="text-align: center;"><em>Ya Robbi, ampunilah dosaku dan ampunilah dosa kedua orangtuaku, sayangilah keduanya, karena mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.</em></p>
<p>Semoga kita dimudahkan untuk mempersembahkan bakti kepada kedua orangtua, sebagaimana bakti para ulama pada orangtuanya.. Aamiin..</p>
<p>Di Penghujung Rindu kepada Ayah dan Ibu,<br />
Yogyakarta, 11 Dzulqo’idah 1432 H.</p>
<p>***<br />
Penulis: Nunung Wulandari<br />
Muroja&#8217;ah: Ust. Ammi Baits<br />
<a href="http://muslimah.or.id">Artikel Muslimah.or.id</a></p>
<p>Maraji’:<br />
<em>Ma’allim Fith-Thariiq Thalabil ‘Ilm bab Thalibul ‘Ilm wa Birrul Walidain</em>, ‘Abdul ‘Aziz Muhammad bin ‘Abdillah As-Sadhan, Darul ‘Ashimah.<br />
<em>Birrul Walidain Berbakti kepada Kedua Orang Tua</em>, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At-Taqwa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/kisah/meneladani-bakti-ulama-pada-orangtua.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Penduduk Negeri Itu Merasa Aman?</title>
		<link>http://muslimah.or.id/aqidah/apakah-penduduk-negeri-itu-merasa-aman.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/aqidah/apakah-penduduk-negeri-itu-merasa-aman.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 01:01:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Makar Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Tipudaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2698</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya, dunia sudah semakin gila! Kebaikan yang sedianya berada mulia di atas, malah dijungkir balik ke bawah. Keburukan yang semestinya direndahkan, malah dipuja-puji bak sesuatu yang istimewa. Lihatlah di sekitar kita, sebagian besar manusia seperti telah dengan sengaja memutus urat malunya sendiri. Zina antara dua orang malah disebut “bukti cinta”, suap dan korupsi menjadi sumber harta pribadi yang dihalalkan oleh banyak orang, wanita tak segan-segan memamerkan dirinya secara gratis kepada siapa saja, perzinaan pinggir jalan dilokalisasi dalam sebuah kubangan hitam yang terlihat gemerlap, dunia semakin dikejar siang-malam, aturan agama dilemparkan ke belakang karena dianggap tak lagi sesuai perkembangan zaman.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Faqidah%2Fapakah-penduduk-negeri-itu-merasa-aman.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Faqidah%2Fapakah-penduduk-negeri-itu-merasa-aman.html&amp;source=muslimahID&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Rasanya, dunia sudah semakin gila! Kebaikan yang sedianya berada mulia di atas, malah dijungkir balik ke bawah. Keburukan yang semestinya direndahkan, malah dipuja-puji bak sesuatu yang istimewa.</p>
<p>Lihatlah di sekitar kita, sebagian besar manusia seperti telah dengan sengaja memutus urat malunya sendiri. Zina antara dua orang malah disebut “<em>bukti cinta</em>”, suap dan korupsi menjadi sumber harta pribadi yang dihalalkan oleh banyak orang, wanita tak segan-segan memamerkan dirinya secara gratis kepada siapa saja, perzinaan pinggir jalan dilokalisasi dalam sebuah kubangan hitam yang terlihat gemerlap, dunia semakin dikejar siang-malam, aturan agama dilemparkan ke belakang karena dianggap tak lagi sesuai perkembangan zaman.</p>
<p>Duhai saudariku, menutup mata rasanya tak terlalu berarti, karena ini terjadi di seluruh penjuru mata angin. Tak menutup mata pun, kita masih tetap bisa mendengar dan mencium aroma perbuatan-perbuatan setan ini.</p>
<p>Bagi engkau, duhai Saudari yang kucinta karena Allah, singgahlah sebentar di sini … ayat-ayat Allah akan dijelaskan kepada kita. Bagi jiwa yang fitrahnya masih suci, <em>insya Allah</em> nasihat ini akan benar-benar bisa diresapi.</p>
<p><strong>Apakah penduduk negeri itu merasa aman?<br />
</strong></p>
<p class="arab">
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
</p>
<p><em>“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”</em> (Qs. Al-A&#8217;raf: 96)</p>
<p class="arab">
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ
</p>
<p><em>“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” </em>(Qs. Al-A&#8217;raf: 97)</p>
<p class="arab">
أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ
</p>
<p><em>“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?”</em> (Qs. Al-A&#8217;raf: 98)
<p class="arab">
أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
</p>
<p><em>“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”</em> (Qs. Al-A&#8217;raf: 99)</p>
<p><strong>Pelajaran untuk kita</strong></p>
<p>Ibnu Katsir rahimahullahu berkata, &#8220;Allah berfirman mengabarkan betapa sedikitnya keimanan para penduduk negeri yang menjadi tempat diutusnya para rasul. Sebagaimana firman Allah,</p>
<p class="arab">
فَلَوْلا كَانَتْ قَرْيَةٌ آمَنَتْ فَنَفَعَهَا إِيمَانُهَا إِلا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّا آمَنُوا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنَاهُمْ إِلَى حِينٍ
</p>
<p><em>&#8216;Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman lalu imannya itu bermanfaat kepadanya, selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka hingga waktu tertentu.&#8217;</em> (Qs. Yunus: 98)&#8221; (Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hlm. 450)</p>
<p>Syekh As-Sa&#8217;di menjelaskan tafsir surat Al-A&#8217;raf:96—99 ini secara terperinci, dalam <em>Taisir Karimir Rahman</em>, hlm. 298. Mari kita renungi bersama.</p>
<p>“Ketika Allah Ta&#8217;ala menyebutkan bahwa orang yang mendustakan para rasul diuji dengan kemalangan, (musibah) itu merupakan nasihat sekaligus peringatan; mereka diuji dengan kesenangan sebagai istidraj dan makar (dari Allah). Disebutkan bahwa seandainya para penduduk negeri tersebut menyimpan iman dalam hati mereka dengan penuh kejujuran, niscaya amal perbuatan mereka akan membenarkan (baca: membuktikan) kejujuran tersebut.</p>
<p>Allah juga menumbuhkan – untuk mereka – segala tetumbuhan dari bumi yang menjadi sumber penghasilan mereka dan menjadi sumber pakan hewan ternak mereka. Dalam tanah yang subur terdapat mata pencaharian, dalam keberlimpahan terdapat rezeki, tanpa perlu merasakan kesusahan dan keletihan, tanpa perlu bekerja keras dan tanpa mengalami kepayahan. Meski demikian, mereka tidak beriman dan tidak bertakwa.</p>
<p class="arab">
فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
</p>
<p><em>&#8216;&#8230; Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.&#8217; </em>(Qs. Al-A&#8217;raf: 96)</p>
<p class="arab">
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
</p>
<p><em>&#8216;Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, yang disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).&#8217;</em> (Q.s. Ar-Rum:41).&#8221;</p>
<p>Selain penjelasan tersebut, Syekh As-Sa&#8217;di juga menyebutkan tafsir untuk beberapa penggalan dari surat Al-A&#8217;raf, ayat 96—99,</p>
<p>•	&#8220;<em>Tidakkah penduduk negeri itu beriman</em>&#8220;; yang dimaksud (&#8220;penduduk negeri&#8221; dalam ayat tersebut) adalah &#8216; para pendusta&#8217;, berdasarkan indikasi rangkaian kata (setelahnya) &#8220;<em>akan datangnya siksa dari Kami</em>&#8220;, yaitu &#8216;azab yang pedih&#8217;;</p>
<p>•	&#8220;<em>Di malam hari, saat mereka sedang tidur</em>&#8220;, yaitu &#8216;saat mereka lengah, terpedaya, dan sedang beristirahat&#8217;;</p>
<p>•	<em>“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?”</em>, maksudnya &#8216;apa gerangan hal yang membuat mereka merasa aman, padahal mereka telah melakukan berbagai faktor penyebab yang bisa mendatangkan bencana itu; mereka telah melakukan dosa-dosa yang sangat buruk, sehingga bagaimana mungkin mereka tidak diganjar dengan kebinasaan setelahnya?&#8217;;</p>
<p>•	<em>&#8220;Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)?&#8221;</em> maksudnya &#8216;ketika mereka dilenakan dari arah yang tidak mereka duga, dan Allah menyiksa mereka; sesungguhnya, tipu daya Allah begitu kuat&#8217;;</p>
<p>•	<em>&#8220;Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi&#8221;</em>, maksudnya &#8216;maka sesungguhnya, orang yang merasa aman dari makar Allah adalah orang yang tidak membenarkan adanya balasan atas amalan yang telah dikerjakan. Dia juga tidak beriman dengan penuh kesungguhan kepada para rasul. Ayat yang mula ini menakut-nakuti secara umum, agar hendaknya para hamba tidak merasa aman dengan keimanan yang dimilikinya.<br />
Akan tetapi, mereka senantiasa takut dan khawatir jika dirinya didera ujian yang dapat memberangus imannya. Juga, hendaklah dia senantiasa berdoa dengan mengatakan, &#8216;Wahai Dzat yang membolak-balik hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu,&#8217; serta hendaknya dia beramal dan berusaha dengan menempuh setiap sebab yang memungkinkan dirinya terbebas dari keburukan ketika datangnya fitnah (ujian). Oleh karena itu, seorang hamba –walau dia telah sampai pada kondisi (keimanan)-nya saat ini&#8211; tak ada kepastian bahwa dia akan selamat.</p>
<p><strong>Apa itu “makar Allah”?<br />
</strong><br />
Syekh Khalil Harras, dalam <em>Syarh Al-&#8217;Aqidah Al-Wasithiyyah</em>, hlm. 265, menguraikan, &#8220;Sebagian salaf menafsirkan &#8216;makar Allah kepada hamba-Nya&#8217; dengan arti &#8216;melenakan mereka (istidraj) dengan berbagai nikmat sedangkan mereka tidak mengetahui (bahwa ada azab yang menanti mereka, pen.)&#8217;. Setiap kali mereka berbuat dosa, Allah melimpahkan nikmat bagi mereka. Dalam hadis disebutkan,</p>
<p class="arab">
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعْصِيَتِهِ ؛ فَاعْلَمْ أَنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ
</p>
<p><em>&#8216;Jika engkau melihat Allah memberi kepada hamba-Nya nikmat dunia yang dicintai jiwanya,  padahal dia senantiasa bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu merupakan istidraj.&#8217; </em>(Hr. Ahmad, Ibnu Juraij, Ath-Thabrani, dan Ibnu Abi Hatim; diriwayatkan dari shahabat &#8216;Uqbah bin &#8216;Amir radhiallahu &#8216;anhu; hadis hasan; lihat Kanzul &#8216;Ammal, juz 11, hlm. 90).&#8221;</p>
<p class="arab">
عن ابن مسعود رضي الله عنه قال «الكبائر: الإشراك بالله ، والأمن من مكر الله ، والقنوط من رحمة الله ، واليأس من روح الله »
</p>
<p>Dari Ibnu Mas&#8217;ud <em>radhiallahu &#8216;anhu</em>; dia berkata, <em>&#8220;Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah, dan putus harapan terhadap kelapangan dari Allah.&#8221;</em> (Hadis hasan sahih; diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu&#8217;jam Al-Kabir; lihat Majma&#8217; Az-Zawaid, juz 1, hlm. 104)</p>
<p><strong>Allah tidak pernah zalim</strong></p>
<p class="arab">
إِنَّ اللّهَ لاَ يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئاً وَلَـكِنَّ النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
</p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun. Akan tetapi, manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.”</em> (Qs. Yunus: 44)</p>
<p class="arab">
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
</p>
<p><em>“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala hal yang kamu mohon kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”</em> (Qs. Ibrahim: 34)</p>
<p class="arab">
وَأَنذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُواْ رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُواْ أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍ
</p>
<p><em>“Dan berikanlah peringatan kepada  manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) azab datang kepada mereka, maka orang-orang yang zalim berkata, &#8216;Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rasul-rasul.&#8217; (Dikatakan kepada mereka), &#8216;Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?&#8217;”</em> (Qs. Ibrahim: 44)</p>
<p class="arab">
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً
</p>
<p><em>“(Kami utus mereka) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah itu Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”</em> (Qs. An-Nisa&#8217;: 165)</p>
<p><strong>Wahai orang yang berani melawan Allah, lawanlah jika engkau yakin kuasa ada di tanganmu!<br />
</strong>
<p class="arab">
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ أَنَّى يُصْرَفُونَ
</p>
<p><em>“Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan?”</em> (Qs. Al-Mu&#8217;min: 69)</p>
<p>Sungguh sayang, ternyata perlawananmu terhadap Rabb semesta alam tak &#8216;kan membuahkan kemenangan. Sudah banyak para pembangkang di masa lalu yang mencobanya, namun buktinya mereka selalu gagal bahkan mustahil memenangkannya.</p>
<p class="arab">
وَالَّذِينَ يُحَاجُّونَ فِي اللَّهِ مِن بَعْدِ مَا اسْتُجِيبَ لَهُ حُجَّتُهُمْ دَاحِضَةٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ
</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima, bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras.”</em> (Qs. Asy-Syura: 16)</p>
<p class="arab">
وَقَوْمَ نُوحٍ لَّمَّا كَذَّبُوا الرُّسُلَ أَغْرَقْنَاهُمْ وَجَعَلْنَاهُمْ لِلنَّاسِ آيَةً وَأَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ عَذَاباً أَلِيماً
</p>
<p><em>“Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul. Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan (kisah) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan azab yang pedih bagi orang-orang zalim.”</em> (Qs. Al-Furqan: 37)</p>
<p><strong>Betapa pendek ingatan kita</strong></p>
<p style="text-align: center;"><em>Adakah yang masih ingat suara air bah Tsunami Aceh yang meluap dan menerabas benda-benda mati dan makhluk hidup yang dilaluinya?<br />
Adakah yang masih ingat hiruk-pikuk orang-orang yang sibuk menyelamatkan diri dari bencana meletusnya Gunung Merapi?<br />
Adakah yang masih ingat guncangan gempa Wasior yang membuat segalanya porak-poranda? Adakah yang masih ingat keterpurukan Jepang selepas gempa yang dahsyat?<br />
Adakah yang masih ingat ketidakberdayaan manusia melawan badai katrina dan badai irene di Amerika Serikat? </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Sungguh sering ingatan kita yang begitu pendek membuat kita pilu bukan main di suatu saat.<br />
Lalu, tak berselang lama setelah itu, mulailah lagi tawa kita membahana dan kelalaian kita menari-nari.</em>
</p>
<p style="text-align: center;"><em>Sungguh, hanya orang-orang yang senantiasa mengingat Allah yang selalu waspada di setiap jengkal hidupnya.</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>Kita takut, kita berharap</strong></p>
<p>Maksud kandungan ayat tersebut (surat Al-A&#8217;raf: 96—99 diatas) adalah bahwa seorang hamba wajib merasa takut kepada Allah, bersegera menuju Allah dengan penuh rasa harap dan cemas. Jika dia melihat dosa-dosanya dan ancaman Allah dan siksa-Nya yang pedih maka dia akan tunduk dan merasa takut. Jika dia melihat sikap-sikapnya yang berlebihan, baik yang umum maupun yang khusus, maka dia akan memohon kepada Allah &#8211;dengan penuh harap dan sungguh berhasrat&#8211; agar semua sikapnya itu berkenaan dimaafkan (oleh Allah, pen.). (<em>Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitabut Tauhid</em>, juz 1, hlm. 124)</p>
<p>Jika dia diberi taufik untuk taat dengan mengharap ridha Rabb-nya maka nikmat tersebut menjadi sempurna dengan diterimanya amalan ketaatan itu. Dirinya takut jikalau amalannya itu ditolak, dia juga takut jika amalannya itu kurang sempurna. Jika dia bermaksiat, dia menggantungkan harap agar sekiranya Rabb-nya berkenan menerima taubatnya dan berkenan menghapusnya.<br />
Dirinya takut – karena sebab kelemahan taubatnya dan kelemahan perhatiannya akan dosa – bahwa dosa itu akan menimbulkan hukuman baginya. Adapun saat nikmat dan kemudahan datang, dia berharap kepada Allah agar mengekalkannya dan menambahnya serta melimpahkan taufik kepadanya untuk bersyukur. Dirinya pun takut jika nikmat taufik itu memudar jika dia ingkar nikmat. (<em>Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitabut Tauhid</em>, juz 1, hlm. 124)</p>
<p>Di waktu ada kejadian yang tidak disukainya dan terjadi musibah yang menimpanya, dia berharap kepada Allah agar mengangkat kesukaran tersebut dan dia menanti kelapangan yang akan menguapkan kesukaran tadi. Jiwanya juga berharap Allah mengaruniakan pahala atas musibah tersebut ketika dia melaluinya dengan penuh kesabaran. Dia takut bila dua musibah (yaitu musibah di dunia dan di akhirat, pen.) berkumpul maka akan lenyaplah pahala yang begitu dicintainya serta terjadilah peristiwa yang dibenci, jika dia tidak menjalankan kesabaran yang wajib. (<em>Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitabut Tauhid</em>, juz 1, hlm. 124)</p>
<p><strong>Bagi Anda yang merasa aman dari makar Allah, hati-hatilah dari dua sebab yang membinasakan</strong>:</p>
<p><strong>Pertama:berpaling dari agama dan syariat</strong></p>
<p>Seorang hamba berpaling dari agama dan lalai dari mengenal Rabb-nya serta lalai dari mengetahui hak-hak orang lain atas harta yang dimilikinya, dan dia bermudah-mudah atas hal tersebut. Karenanya, dia akan senantiasa menjadi orang yang berpaling lagi lalai dan menyepelekan kewajiban, &#8220;<em>tekun dan sabar</em>&#8221; mengerjakan perbuatan-perbuatan haram, hingga rasa takut kepada Allah akhirnya lenyap dari hatinya dan tak ada lagi sedikit pun iman yang tersisa di hatinya, karena iman itu mengandung rasa takut kepada Allah serta takut akan azab-Nya di dunia maupun di akhirat.</p>
<p><strong>Kedua: Beribadah didasari atas kebodohan </strong></p>
<p>Hamba tersebut beribadah dengan bekal kejahilan, kagum terhadap dirinya, dan tertipu oleh amalannya. Sebagai akibatnya, dia senantiasa hidup dalam kejahilan hingga dia menyimpulkan sendiri baik-buruk amalannya dan sirna pula rasa takut akan hisab amal tersebut.<br />
Menurutnya, dia memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah sehingga dia akan aman dari makar Allah, padahal sebenarnya dia benar-benar buta akan dirinya yang lemah dan hina. Berawal dari ini semua, hamba tersebut menelantarkan dirinya dan mendirikan penghalang antara dirinya dengan hidayah taufik, karena dia sendirilah yang telah berbuat dosa.<br />
Dengan perincian ini, telah diketahui betapa agung perkara ini (rasa takut dan harap kepada Allah, pen.) untuk (menyempurnakan) tauhid seseorang. (<em>Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitabut Tauhid</em>, juz 1, jlm. 126)</p>
<p>Ayat-ayat Allah telah disampaikan. Semoga banyak hati yang terbuka untuk menerima kebenaran, menjauhi kelalaian, menghindari dosa dan kemaksiatan, serta sibuk menambah amalan kebajikan untuk bekal kehidupan yang tiada akan ada penghujungnya kelak.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman?<br />
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman?<br />
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman?</em></p>
<p>***<br />
Penulis: Ummu Asiyah Athirah.<br />
Muraja&#8217;ah: Ust. Ammi Baits</p>
<p>Maraji&#8217; (referensi):<br />
<em>Al-Qaul As-Sadid Syarh Kitabut Tauhid</em>, Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa&#8217;di, Maktabah Asy-Syamilah.<br />
<em>Syarh Al-&#8217;Aqidah Al-Wasithiyyah</em>, Syekh Khalil Harras, Dar Ibnul Jauzi.<br />
<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>, Ibnu Katsir, Maktabah Asy-Syamilah.<br />
<em>Taisir Karimir Rahman</em>, Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa&#8217;di, Muassasah Ar-Risalah, Beirut.<br />
<em>Majma&#8217; Az-Zawaid</em>, Imam Al-Haitsami, Maktabah Asy-Syamilah.<br />
<em>Kanzul &#8216;Ammal,</em> Ala&#8217;uddin Ali Al-Multaqa bin Hisamuddin Al-Hindi, Maktabah Asy-Syamilah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/aqidah/apakah-penduduk-negeri-itu-merasa-aman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilema Cinta Dalam Logika Asmara (Bag. 02)</title>
		<link>http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/dilema-cinta-dalam-logika-asmara-bag-02.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/dilema-cinta-dalam-logika-asmara-bag-02.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 01:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pojok Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2646</guid>
		<description><![CDATA[Jodoh termasuk rezeki dari Allah, dan penetapannya merupakan bagian dari takdir Allah. Takdir makhluk yang berada di <em>Al-Lauh Al-Mahfuzh</em> sana tidak akan pernah bisa berubah. Oleh karena itu, kalau memang sudah ditakdirkan untuk berjodoh, meskipun terpisah jarak dan waktu, pada akhirnya akan dipertemukan dan dipersatukan juga dengan tali pernikahan. Jodoh tak kan lari ke mana, ibarat tak akan lari gunung dikejar. Begitu juga sebaliknya, jika bukit telah didaki dan laut pun diseberangi, bila tidak berjodoh, tidak akan pernah bisa bersatu dalam mahligai pernikahan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fpojok-hikmah%2Fdilema-cinta-dalam-logika-asmara-bag-02.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fpojok-hikmah%2Fdilema-cinta-dalam-logika-asmara-bag-02.html&amp;source=muslimahID&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><strong>7. Bertawakkal dan ridha terhadap takdir Allah bagaimanapun keadaannya<br />
</strong><br />
Jodoh termasuk rezeki dari Allah, dan penetapannya merupakan bagian dari takdir Allah. Takdir makhluk yang berada di <em>Al-Lauh Al-Mahfuzh</em> sana tidak akan pernah bisa berubah. Oleh karena itu, kalau memang sudah ditakdirkan untuk berjodoh, meskipun terpisah jarak dan waktu, pada akhirnya akan dipertemukan dan dipersatukan juga dengan tali pernikahan. Jodoh tak kan lari ke mana, ibarat tak akan lari gunung dikejar. Begitu juga sebaliknya, jika bukit telah didaki dan laut pun diseberangi, bila tidak berjodoh, tidak akan pernah bisa bersatu dalam mahligai pernikahan.</p>
<p>Kewajiban hamba mengenai takdir Allah ini adalah berusaha, berdo&#8217;a untuk mencapai yang kita inginkan, lalu bertawakkal, sabar dan ridha atas segala hal yang telah Allah tetapkan bagi diri kita.</p>
<p class="arab">وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ</p>
<p><em>“…Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.”<br />
</em> (Qs. Ibrahim: 11)</p>
<p class="arab">وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</p>
<p><em>“&#8230;Dan bertawakkallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang yang beriman.”</em> (Qs. Al-Ma&#8217;idah: 23)</p>
<p>Banyak orang yang salah kaprah memahami hakikat tawakkal. Mereka mengira bahwa pasrah begitu saja dan <em>&#8220;nrimo ing pandum&#8221;</em> (menerima segala sesuatu yang telah ditetapkan) <strong>tanpa adanya usaha</strong> adalah wujud tawakkal yang benar. Sikap yang demikian keliru. Tawakkal sama sekali tidak menafikan adanya usaha hamba. Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengajarkan kepada kita untuk berusaha dahulu baru kemudian bertawakkal.</p>
<p class="arab">حَدَّثَنَا المُغِيرَةُ بْنُ أَبِي قُرَّةَ السَّدُوسِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ، أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ: «اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ»</p>
<p>Al-Mughirah ibn Abi Qurrah As-Sadusi mengabarkan kepada kami, <em>“Saya mendengar Anas ibn Malik radhiyallahu &#8216;anhu berkata, “Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah saya ikat (tambatkan) unta itu lalu saya bertawakkal atau saya lepaskan unta itu lalu saya bertawakkal?” Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun berkata, “Ikatlah unta tersebut, lalu bertawakallah.” </em>(HR.Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam kitab  <em>Takhrij Ahadits Musykilah Al-Faqr wa Kaifa &#8216;Alajaha Al-Islam</em> )</p>
<p>Pelajaran apakah yang bisa kita petik dari hadits ini?<br />
Bahwa sebelum kita bertawakkal, kita harus menempuh sebab yakni dengan berusaha (di dalam hadits dicontohkan dengan mengikat unta) terlebih dahulu, baru kemudian kita bertawakkal.</p>
<p>Bisa disimpulkan bahwa terdapat dua jenis pondasi dalam tawakkal:<br />
1. Adanya usaha yang sungguh – sungguh<br />
2. Adanya penyandaran dan pasrah diri hanya kepada Allah setelah berusaha</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda</em>,<br />
<em>“Sesungguhnya salah seorang dari kamu, penciptaannya telah dihimpun di perut ibunya selama empat puluh hari berupa nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian, diutuslah malaikat kepadanya, meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan untuk menulis empat hal: menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia&#8230;” </em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hal yang perlu diperhatikan di sini menyikapi takdir adalah:<br />
Takdir manusia memang telah ditetapkan di <em>Al-Lauh Al-Mahfuzh</em> dan tidak akan pernah berubah. Adapun berkenaan dengan ketentuan takdir yang terdapat dalam catatan malaikat, maka masih dapat berubah sesuai dengan amalan hamba. Manusia hanya diperintahkan untuk berusaha (disertai dengan berdoa dan bertawakkal tentunya) agar manusia dipermudah kepada apa yang telah ditakdirkan baginya.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<br />
<em>“Wahai sekalian manusia bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah usaha mencari rezeki, karena jiwa tidak akan mati sampai sempurna rezekinya walaupun kadang agak tersendat –sendat. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mengusahakannya, ambillah yang halal dan buanglah yang haram.” </em>(HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam<em> Shahih Ibnu Majah</em> no.1741)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<br />
<em>“Setiap orang yang berbuat telah dimudahkan untuk melakukan perbuatan (yang telah ditakdirkan baginya -pen).”</em> (HR. Muslim, bab <em>Al-Qadar</em>, no.2648)</p>
<p>Manusia hanya bisa berusaha, sedangkan Allah lah Yang Maha Kuasa. Siapapun yang didapat nantinya merupakan anugrah terbaik dari Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em>, maka bersyukurlah&#8230;meskipun kenyataan yang didapati merupakan hal yang kurang disukai.</p>
<p class="arab">&#8230;فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا</p>
<p><em>“…Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak…”</em> (Qs. An–Nisa&#8217;: 19)</p>
<p>Ibnul Qayyim<em> rahimahullahu</em> berkata,</p>
<p class="arab">من ملأ قلبه من الرضى بالقدر : ملأ الله صدره غنى وأمنا وقناعة وفرغ قلبه لمحبته والإنابة إليه والتوكل عليه</p>
<p><em>“Barangsiapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir, maka Allah memenuhi dadanya dengan kecukupan, rasa aman, dan qana’ah, serta mengosongkan hati orang tersebut untuk mencintaiNya, kembali kepada Allah dengan melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan Allah [4], dan bertawakkal kepadaNya.”</em> (<em>Madarij As-Salikin</em>)</p>
<p>Bagaimana jika seseorang sudah berusaha keras menjadi shalih/shalihah, namun ternyata pasangan hidupnya jauh dari ketaatan dan standar idaman? Apakah Allah menyalahi janjinya bahwa pria shalih akan mendapat wanita shalihah? Tidak! Dan apakah menghadapi kenyataan itu, lalu kita menghabiskan waktu kita dengan muka bermuram durja? Sedih, kecewa, putus asa…atau malah ingin segera mengakhiri perjalanan bahtera rumah tangga?? Tentu tidak! Taruhlah jika seseorang itu sudah benar dalam berusaha dan berdoa, tapi nyatanya dia mendapat pasangan yang justru “berbeda derajat” keshalihan/keshalihahannya, jauh panggang daripada api, ada dua hal yang bisa dirunut di sini:</p>
<p>•    Allah hendak menguji dia melalui pasangan hidupnya. Siapa tahu justru dirinya yang menjadi perantara pasangannya untuk kembali mengenal kebenaran. Siapa pula yang tahu bahwa kesabaran, dakwah, dan didikan yang dilakukan bagi pasangannya, justru menjadi ladang pahala yang bisa mempermudah dia meretas jalan menuju ke FirdausNya. Pasti ada banyak hikmah yang terkandung dalam segala takdir yang Allah tetapkan, namun terkadang manusia tidak mengetahui karena keterbatasan akal pikiran.</p>
<p><strong><em>Satu hal yang pasti, Allah tidak selalu memberikan semua yang kita inginkan, namun Allah akan memberi pilihan terbaikNya dari yang kita perlukan.</em></strong></p>
<p>Mari kita cermati kisah – kisah monumental yang terabadikan dalam KitabNya yang mulia tentang dua nabi shalih yakni Nabi Nuh dan Nabi Luth<em> ‘alaihimassalam</em>, niscaya kita akan mendapatkan &#8216;ibrah yang besar dari kisah tersebut. Mereka berdua memiliki istri yang disifati<strong> “berkhianat”</strong> kepada suaminya. Ada lagi kisah wanita mulia Asiyah bersuamikan thaghut semacam Fir’aun yang bahkan melakukan kekufuran nyata ketika dia berseru, <em>“Ana rabbukum Al-A’la.”</em> Siapa yang menyangsikan kredibilitas keshalihan dua nabi tersebut?<br />
Siapa pula yang meragukan keshalihahan Asiyah?<br />
Tentu tiap orang yang masih benar akalnya akan berujar bahwa mereka adalah sosok nabi yang shalih dan wanita shalihah. Akan tetapi, lihatlah ujian yang Allah berikan pada mereka dengan pasangan hidup yang mereka miliki.</p>
<p>•    Adakalanya seseorang yang dikira shalih/shalihah, kurang sesuai dengan hakikat aslinya, karena hanya Allah lah yang tahu benar kadar ketakwaan yang tersembunyi di dalam hati tiap hambaNya.</p>
<p class="arab">هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى</p>
<p><em>“Dia yang mengetahui tentang orang yang bertakwa.”</em> (Qs. An-Najm: 32)</p>
<p>Contoh konkretnya begini, ada seorang yang dikenal shalih, dia pun senantiasa berdakwah, beramar makruf nahi munkar, namun ternyata di balik itu semua dia sering melanggar apa yang dia serukan dan bermudah-mudahan dalam melakukan dosa ketika dia bersendirian. Inilah yang dimaksud &#8220;shalih&#8221; menurut sangkaan manusia, tetapi sebenarnya bukan demikian hakikatnya. [5]</p>
<p><strong>8. Bersabar ketika menanti pasangan<br />
</strong><br />
Allah<em> Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat.”</em> (Qs. Al-Baqarah: 153)</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> menjelaskan bahwa cara terbaik untuk meminta pertolongan Allah dalam menghadapi berbagai musibah yang menimpa (di antaranya ketika jodoh belum kunjung tiba) adalah dengan <strong>bersabar dan shalat</strong>.</p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullah</em> berkata ketika menafsirkan ayat ini,<br />
<em>“&#8230;Sedangkan sabar dalam ayat ini ada dua macam, yaitu sabar dalam rangka meninggalkan berbagai perkara haram dan dosa; dan bersabar dalam menjalankan ketaatan dan ibadah. Bersabar bentuk yang kedua lebih banyak pahalanya, dan itulah sabar yang lebih dekat maksudnya untuk mendapatkan kemudahan. Adapun bentuk sabar yang ketiga adalah bersabar atas musibah dan kejadian yang menimpa. Sabar yang demikian merupakan suatu keharusan, sebagaimana keharusan beristighfar  dari berbagai kesalahan.&#8221;</em></p>
<p>Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, <em>“Sabar ada dua bentuk: bersabar untuk Allah dengan menjalankan apa yang Dia cintai walaupun berat bagi jiwa dan badan. Dan bersabar untuk Allah dari segala yang Dia benci walaupun keinginan nafsu menentangnya. Siapa yang kondisinya seperti ini maka dia termasuk dari golongan orang-orang yang sabar yang akan selamat, insya Allah&#8230;”</em> (<em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al-&#8217;Azhim lil Hafizh Ibn Katsir</em>)</p>
<p><strong>9. Optimis (<em>Tafa&#8217;ul</em>) dan berpikir positif<br />
</strong><br />
Optimis: [n] orang yg selalu berpengharapan (berpandangan) baik dl (dalam pen) menghadapi segala hal. [6]</p>
<p>Allah Subhanahu <em>Ta&#8217;ala</em> dan RasulNya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>menyukai <em>tafa&#8217;ul</em> التَّفَاؤُلُ (<em>optimisme</em>) dan membenci <em>tasya&#8217;um</em> التَّشَاؤُمُ (<em>pesimisme</em>). Optimisme dapat ditumbuhkan dengan senantiasa berhusnuzhzhan kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dan dengan mempertinggi tawakkal dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p class="arab">قَالَ  الْحَلِيْمِيُّ وَإِنَّمَا كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ لِأَنَّ التَّشَاؤُمَ سُوءُ ظَنِّ بِاللَّهِ تَعَالَى بِغَيْرِ سَبَبٍ مُحَقَّقٍ وَالتَّفَاؤُلُ حُسْنُ ظَنٍّ بِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَأْمُورٌ بِحُسْنِ الظَّنِّ بِاللَّهِ تَعَالَى عَلَى كُلِّ حَالٍ</p>
<p>Al-Halimi <em>rahimahullah</em> mengatakan, &#8220;Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> suka dengan optimisme, karena pesimis merupakan cermin persangkaan buruk kepada Allah <em>Ta&#8217;ala</em> tanpa alasan yang jelas. Optimisme merupakan wujud persangkaan yang baik kepadaNya. Seorang mukmin diperintahkan untuk berprasangka baik kepada Allah dalam setiap kondisi&#8221;. (Fathul Bari, hadits no. 5755, bab Al-Fa&#8217;l)</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي &#8230;الحديث</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata, “Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Allah Ta&#8217;ala berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu terhadapku&#8230;” </em>(HR. Bukhari no. 7405)</p>
<p class="arab">قَوْلُهُ (يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي) أَيْ قَادِرٌ عَلَى أَنْ أَعْمَلَ بِهِ مَا ظَنَّ أَنِّي عَامِلٌ بِهِ</p>
<p>Makna sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, “Allah berfirman, <em>“Aku menurut persangkaan hambaKu terhadapKu.”</em> yakni : Allah mampu berbuat sesuatu (merealisasikan suatu perbuatan) atas dasar persangkaan hambaNya bahwa Allah akan berbuat demikian.” (Fathul Bari,  hadits no. 7405)</p>
<p class="arab">قَالَ الْقُرْطُبِيُّ في المفهم قيل معنى ظن عبد بِي ظَنُّ الْإِجَابَةِ عِنْدَ الدُّعَاءِ وَظَنُّ الْقَبُولِ عِنْدَ التَّوْبَةِ وَظَنُّ<br />
الْمَغْفِرَةِ عِنْدَ الِاسْتِغْفَارِ وَظَنُّ الْمُجَازَاةِ عِنْدَ فِعْلِ الْعِبَادَةِ بِشُرُوطِهَا تَمَسُّكًا بِصَادِقِ وَعْدِهِ</p>
<p>Al-Qurthubi berkata di dalam kitab <em>Al-Mufhim</em> (<em>Al-Mufhim li Ma Asykala min Talkhishi Kitabi Muslim</em> pen), “Ada yang mengatakan bahwa makna prasangka hambaKu terhadapKu adalah prasangka dalam hal pengabulan doa ketika memanjatkan doa, prasangka tentang diterimanya taubat ketika hamba bertaubat, prasangka mengenai adanya ampunan ketika hamba beristighfar, dan prasangka akan diberi pahala ketika melaksanakan ibadah beserta syarat-syaratnya dalam rangka berpegang teguh pada kebenaran janjiNya.” (<em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, hadits no. 2496, bab <em>Fi Husnizhzhan billahi Ta&#8217;ala</em>)</p>
<p>Salah satu faidah yang terkandung di dalam hadits di atas adalah: anjuran berprasangka baik terhadap Allah, di dalam segala hal termasuk dalam hal keoptimisan bahwa doanya akan terkabul. Bukankah Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa yang bisa mewujudkan doa kita, jika memang Dia menghendakinya? Mewujudkan hal yang demikian adalah mudah bagi Allah. Jangankan hanya untuk mengabulkan doa kita, bahkan untuk penciptaan alam semesta seisinya serta berbagai jenis makhlukNya pun adalah hal yang mudah bagi Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin sejati adalah orang yang berkepribadian mantap dan senantiasa berpikiran optimis jauh ke depan.</p>
<p>Eksperimen yang cukup dikenal untuk sedikit mengetahui apakah Anda seorang yang optimis ataukah pesimis, adalah dengan melihat gelas yang diisi air hingga setengah penuh. Seorang yang optimis akan berpandangan baik dan positif bahwa gelas ini setengah terisi. Akan tetapi, orang yang pesimis akan berpandangan bahwa gelas ini setengah kosong. Kalau demikian adanya, Anda termasuk orang yang seperti apa?</p>
<p><strong>10. Berhati – hati dan menjaga diri</strong></p>
<p>Sudah maklum kiranya bahwa masa pra nikah adalah masa yang rentan godaan bagi kedua calon pasangan. Apalagi jika keduanya merasa begitu memiliki banyak kesamaan dan mulai ada ketertarikan. Pada masa ini sangat mungkin bersemi benih rasa suka, yang berbunga rindu dan berbuah cinta. Amat mungkin pula terbuka peluang untuk “<em>berpacaran gaya terselubung</em>” ala aktivis dakwah. Mengapa dikatakan terselubung? Karena gaya interaksi semacam ini memang terkamuflasekan oleh suatu dalih. Contohnya: alasan <em>“perhatian kepada saudara atau saudari di jalan Allah”</em> atau malah yang dikemas secara apik dan menarik atas nama dakwah. <em>”Sayang&#8230;sudah hafalan Qur’an belum hari ini? Tadi belajar apa saja? Pematerinya ustadz siapa?”</em> Si pujaan hati pun -misalkan- menimpali, <em>“tadi datang gak ke kajian? Sudah hafalan hadits belum hari ini?”</em>. [Silahkan baca artikel menarik: <a href="http://ustadzaris.com/pacaran-terselubung-via-chatting-dan-hp">Pacaran Terselubung Via Hp dan Chatting</a> red].</p>
<p><em>Wal’iyadzubillah</em>&#8230;Semoga kita semua dijauhkan dari hal – hal yang seperti itu. Panggilan atau ungkapan  mesra seperti: sayang, cinta, rindu sangatlah tidak beradab jika dilontarkan pada wanita atau pria yang belum dihalalkan bagi kita. Apalagi jika perkataan mesra itu dibalut dengan sajak rayuan cinta yang mengundang nafsu.
</p>
<p style="text-align: center;"><em>Cinta&#8230;kau begitu manis terasa<br />
Kau indah nan sempurna<br />
Kau hidupku, kau sayangku, kau pengantinku di surgaNya<br />
Kekasih&#8230;kau yang kupuja dan kucinta hingga ajal tiba</em></p>
<p><em>Innalillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un… </em></p>
<p>Dari kejadian itu, cukuplah kiranya penulis sampaikan beberapa point yang patut diperhatikan oleh siapapun yang sedang menjalani stase pra nikah,</p>
<p>•    Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,
</p>
<p class="arab">وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيْلاً</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.&#8221; </em>(Qs. Al-Isra&#8217;: 32)</p>
<p>Jenis huruf “<em>la</em>” pada ayat tersebut adalah<em> la An-nahiyyah</em> (لا الناهية) yang berarti “<strong>jangan</strong>” dan bermakna larangan. Dari ayat ini diambil faidah hukum mengenai haramnya mendekati zina dalam bentuk apapun. Karena pada setiap kata yang berbentuk larangan, terkandung hukum asal: <strong>HARAM</strong>nya perbuatan tersebut, kecuali ada dalil yang memalingkan dari hukum asalnya yakni haram. Oleh karena itu, salah satu hikmah mengapa Allah berfirman,<em> “Janganlah kamu mendekati zina”</em>, dan bukan langsung berfirman, <em>“Janganlah kamu berzina”</em> adalah adanya cakupan larangan yang menunjukkan  haramnya mendekati segala macam sarana yang bisa menghantarkan kepada perbuatan zina -termasuk pacaran sebelum ada ikatan pernikahan-.</p>
<p class="arab">..والنهي عن قربانه أبلغ من النهي عن مجرد فعله لأن ذلك يشمل النهي عن جميع مقدماته ودواعيه فإن: &#8221; من حام حول الحمى يوشك أن يقع فيه &#8221; خصوصا هذا الأمر الذي في كثير من النفوس أقوى داع إليه&#8230;</p>
<p><em>“..dan larangan mendekati zina lebih dalam (mengena) maknanya daripada larangan berbuat zina semata, karena larangan mendekati zina mencakup larangan dari segala permulaan dan dari seluruh faktor pendorong perbuatan zina. Barangsiapa yang menggembala (ternaknya) di sekitar pagar daerah terlarang, dikhawatirkan akan terjerumus ke dalamnya. Terlebih dalam perkara zina ini, yang merupakan seruan paling kuat bagi kebanyakan jiwa&#8230;”</em> (<em>Tafsir As-Sa&#8217;di</em>)</p>
<p>Mendekati zina saja sudah merupakan hal yang haram, apalagi melakukannya. Tidak usah terlalu jauh membayangkan zina hanyalah terbatas pada bersatunya dua genital –<em>maaf</em>-, namun zina di sini meliputi lingkup yang lebih kompleks.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<br />
<em>“Telah ditetapkan bagi Anak Adam bahwa ia dapat melakukan zina, itu bukanlah suatu hal yang mustahil: Kedua mata zinanya adalah melihat. Kedua telinga zinanya adalah mendengar. Zina lisan adalah ucapan. Zina tangan adalah menyentuh. Zina kaki adalah langkah. Zina hati berkeinginan dan berangan – angan, lalu kemaluanlah yang bisa membenarkan atau mendustakannya.&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<p>•    Ada salah satu kaidah fiqhiyyah yang berbunyi : <em>“Man ista’jala syaian qabla awanihi ‘uqiba bi hirmanihi”</em></p>
<p class="arab">مَنْ اسْتَعْجَلَ شَيْءً قَبْلَ أَوَانِهِ عُوْقِبَ بِحِرْمَانِهِ</p>
<p>(Barangsiapa yang tergesa – gesa terhadap sesuatu sebelum waktunya, akan diberi hukuman -berupa- tidak boleh mendapatkannya). Apakah pelaku tidak takut jika Allah merenggut kenikmatan pernikahannya, hanya karena dia tergesa – gesa mencoba kenikmatan semu sesaat untuk berhubungan “<em>gelap</em>” dengan lawan jenis?</p>
<p>Pernikahan adalah ikatan sakral yang suci. Tiada pantas ikatan suci tersebut dinodai oleh “<em>pacaran</em>” pra nikah yang sangat mungkin menyebabkan hilangnya barakah pernikahan, <em>wal’iyadzubillah</em>.</p>
<p>Penuntut ilmu agama hanyalah manusia biasa, yang kadang tergelincir dalam dosa. Mereka bukan makhluk yang terpelihara dari dosa. Untuk itulah perlu adanya komitmen dari kedua belah pihak untuk sama – sama teguh menjaga hati, agar tidak terkontaminasi virus merah jambu sebelum saatnya tiba nanti, Insya Allah. Ikhwan ataupun akhawat mungkin pernah terjerumus sesekali. Ketergelinciran ini tidak lalu mengeluarkan mereka dari jajaran ahlussunnah, sehingga kita bisa dengan semena-mena menghakimi, memandang rendah seolah mereka kriminal agamis terkeji sepanjang masa, plus memberikan serentetan tudingan label bahwa mereka bukan orang yang bertakwa dan lain sebagainya [memangnya kita orang yang paling suci sedunia dan tidak pernah melakukan dosa??].</p>
<p>Orang yang bertakwa bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun orang yang jika melakukan kesalahan segera bertaubat dan kembali pada kebenaran. Statemen <em>“Ikhwan dan akhawat hanyalah manusia biasa, yang terkadang tergelincir dalam dosa. Mereka bukan makhluk yang terpelihara dari dosa&#8230;” </em>bukan berarti bentuk pembelaan dan perlindungan subyektif penulis terhadap ketergelinciran mereka, namun di sini penulis sedang mengajak Anda semua untuk lebih bijak dan arif menyikapi kesalahan yang dilakukan oknum “berpacaran terselubung” dari kalangan penuntut ilmu, dalam memberi peringatan dan meluruskan ketergelinciran mereka.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<br />
<em>“Semua Anak Adam (pasti pernah) melakukan kesalahan. Dan sebaik – baiknya orang yang melakukan kesalahan, adalah orang yang banyak bertaubat.&#8221;</em> (HR. Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam <em>Shahihul Jami&#8217;</em>)</p>
<p>Satu hal yang perlu diingat bahwa calon pasangan <strong>belum tentu</strong> menjadi pasangan. Masih banyak kemungkinan – kemungkinan yang bisa terjadi di luar batas kuasa makhluk. Sangat mungkin terjadi suatu hal yang akhirnya berakibat putusnya proses antara calon pasangan. Bermula dari intensnya hubungan itu, besar kemungkinan tersisa seonggok luka, secercah asa, sekeping rasa, bahkan sebentuk cinta yang terlanjur bersemayam di jiwa. Maka dari itu, berhati – hatilah agar jangan sampai perasaan cinta begitu mengakar kuat di dalam dada, hingga bisa mengalahkan ilmu dan akal logika, yang bisa berujung pada kondisi “<em>cinta buta</em>”.</p>
<p>Manakala cinta sang pecinta sudah demikian mendalam pada orang yang dicinta, akan sangat susah melupakannya. Pada akhirnya hanya menjadi sebuah dilema bagi sang pecinta yang sedang dimabuk asmara, apakah dia rela memutuskan proses dengan kekasih hatinya atau tidak. Kenapa harus menjadi dilema dalam dirinya? Karena ternyata cintanya berseberangan dengan ilmu dan logika. Dilema cinta itu hanya ada jika kita menimbangnya dengan logika asmara (logika orang yang kasmaran). Akan tetapi, jika kita menimbangnya dengan syari’at dan logika yang sehat, maka tidak akan ada dilema. Apa yang harus terjadi, maka terjadilah. Andaikata proses lebih baik harus berhenti, maka berhentilah. Andaikata proses berlanjut, maka suatu hari nanti adalah hari H<em>&#8230;..Insya Allah&#8230;..</em></p>
<p><strong>11. Melejitkan potensi diri guna menutup kekurangan</strong></p>
<p>Masing-masing pribadi itu unik dan membawa unikum yang berbeda antara satu dengan lainnya, lengkap dengan paket kelebihan dan kekurangannya. Suatu hal yang selaras dengan fitrah, ketika di satu sisi seseorang dianugrahi banyak kelebihan, namun di sisi lain ada orang yang dianggap punya lebih banyak kekurangan. Adanya kelebihan merupakan anugrah yang patut disyukuri, bukan untuk berbangga diri, dan adanya kekurangan bukanlah hal yang harus ditangisi. Oleh karena itulah, seseorang hendaknya bisa berusaha menutupi kekurangan – kekurangannya dengan menggali dan melejitkan potensi terpendam yang ada dalam diri.</p>
<p>Tiap diri seyogyanya mengenal dan menganalisa segi positif dan negatif yang dikaruniakan padanya. Segi positif itu, diselaraskan dengan syariat untuk membangun keistimewaan, kekuatan, dan kecantikan dalam diri (<em>inner beauty</em>) guna menutup kekurangan yang dia miliki, sehingga orang tersebut nantinya akan memiliki <em>mizah</em> الميزة (ciri khas yang bisa membedakan antara dirinya dengan orang lain). Adapun segi negatifnya, secara perlahan-lahan dikurangi dan ditutupi. Tidak usah minder ataupun rendah diri jika merasa hanyalah orang yang &#8220;<em>biasa saja</em>&#8221; dan memiliki <em>social value</em> (nilai sosial) yang standar lagi rata-rata saja. Bisa jadi jika orang yang &#8220;<em>biasa saja</em>&#8221; itu mengoptimalkan segala aset yang dimiliki, dan berusaha menjalani penempaan diri laksana proses pengasahan permata, bukan hal yang mustahil andaikata justru hasil akhir tempaan itu kemilau pesonanya melebihi orang yang memang terlahir &#8220;<em>lebih dari standar rata-rata</em>&#8220;.</p>
<p>Berbicara sedikit mengenai permata, proses pengasahan bahan mentah permata dari batuan “kusam” menjadi permata yang berkilau, bisa dianalogikan dengan keadaan wanita yang biasa saja namun menjadi luar biasa, karena dia berusaha melejitkan potensi diri dan melebarkan &#8220;<em>jangkauan sayap</em>&#8221; kharismanya.</p>
<p>Pada umumnya, bahan mentah permata hanyalah berupa batuan biasa yang berwarna, kecuali intan yang kebanyakan transparan (meskipun intan pun sebenarnya beraneka macam warnanya). Orang awam yang menemukan bebatuan seperti ini bisa jadi membuangnya begitu saja, lantaran dianggap batuan biasa. Lihatlah bedanya ketika batu ini mengalami penempaan dan proses pengasahan. Subhanallah! Batu “<em>kusam</em>” ini berubah menjadi batu mulia yang kilaunya sungguh memukau mata.</p>
<p>Kalaulah ada yang masih berkecil hati karena harta, rupa, ataupun hal yang menyangkut dunia&#8230;janganlah merasa rendah diri&#8230;masih banyak orang yang lebih banyak celanya dari kita. Syukurilah, berbahagialah dengan apa yang dimiliki, sabar serta ridha atas segala yang Allah karuniakan bagi diri kita.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<br />
<em>“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang lain yang lebih besar karunianya dalam harta dan rupa, maka lihatlah orang yang lebih rendah dari apa yang telah dikaruniakan kepadanya.”</em> (HR. Bukhari no. 6490 dan Muslim no. 2963)</p>
<p>Diriwayatkan dalam Shahih Muslim hal 1987 dari hadits Abu Hurairah <em>radhiyallahu ’anhu</em>,<br />
<em>“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk dan harta yang kalian miliki, akan tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan yang kalian lakukan.”<br />
</em><br />
Dan di dalam riwayat Imam Muslim yang lain:<br />
<em>“Sesungguhnya Allah tidak melihat badan dan bentuk kalian, akan tetapi Dia melihat hati – hati kalian.”<br />
</em><br />
Hasan Al-Bashri <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p class="arab">إذا رأيت الرجل ينافسك في الدنيا فنافسه في الآخرة</p>
<p><em>&#8220;Jikalau engkau melihat ada seorang yang mengunggulimu dalam urusan dunia, maka unggulilah dia dalam urusan akhirat.&#8221; </em>(Lathaif Al-Ma&#8217;arif)</p>
<p>Kita mungkin seringkali menginginkan pasangan sebagaimana yang orang lain dapatkan, dan menganggap rumput tetangga lebih hijau, atau menganggap buah di pekarangan tetangga lebih ranum. Akan tetapi, ingatlah suatu hal bahwa di atas langit tentu masih ada langit lagi. Lalu ingatlah masa awal ketika kita telah menjatuhkan pilihan untuk menikahi si dia, pasti ada alasan kita memilihnya. Peganglah alasan itu dan simpan baik – baik dalam ingatan dan hati kita.</p>
<p><em>“Biarlah orang berkata, diriku ibarat mendapat sebongkah batu hitam yang kurang berharga. Akan tetapi, bagiku engkau laksana permata yang begitu indah dipandang mata&#8230;<br />
karena aku melihatmu bukan hanya dengan dua mata yang berada di kepala, namun dengan mata hati yang bersemayam di dalam jiwa&#8230;”<br />
</em><br />
Bagi yang masih merasa ragu dan minder untuk menikah, berusahalah, berdo&#8217;a, bertawakkal…dan kuatkan tekad dalam hati, <em>&#8220;saya akan segera menikah! Insya Allah&#8221;</em></p>
<p>Niscaya nikmatnya pernikahan bisa terwujud menjadi kenyataan, yang terukir dalam kenangan, bukan hanya impian yang terbingkai indah dalam angan.</p>
<p>Penulis pun berharap…semoga bias indah pelangi cinta segera mewarnai pernikahan Anda bersama pasangan hidup tercinta.</p>
<p>&#8212;<br />
[4] Penulis mengambil pengertian <em>inabah</em> secara istilah dari kitab <em>Syarh Al-Ushul Ats-Tsalaatsah Ibn &#8216;Utsaimin</em></p>
<p>[5] Dua point tentang kemungkinan itu diperoleh dari faidah salah satu kajian yang bertema rumah tangga, yang diisi oleh Ustadz Firanda <em>hafizhahullah</em>. Akan tetapi, penulis lupa judul kajian secara tepat. Jika penulis tidak keliru mengingat judul kajiannya, kajian tersebut berjudul  <em>“Suami Idaman Istri Pilihan”</em> (yang kemudian dibukukan dengan judul yang sama). Penulis hanya mengingat dengan jelas faidahnya saja, namun lupa judul kajiannya. <em>Wallahu A&#8217;lam</em>.</p>
<p>[6] http://kamusbahasaindonesia.org/optimis dan http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php</p>
<p>***<br />
artikel<a href="http://muslimah.or.id"> muslimah.or.id</a><br />
Penulis: Fatih Daya Khairani<br />
Murajaah: Ust Abu Yazid Nurdin<br />
Maraji&#8217;:<br />
1. <em>Latha&#8217;if Al-Ma&#8217;arif</em>, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
2. <em>Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na&#8217;budu wa Iyyaka Nasta&#8217;in</em>, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
3. <em>Pendakian Menuju Allah (terjemah Madarij As-Salikin)</em>, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur.<br />
4. <em>Kamus Inggris Indonesia</em>, John M.Echols dan Hassan Shadily, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.<br />
5. <em>Majma&#8217; Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi&#8217;r Al-&#8217;Arabi</em>, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
6. <em>Setiap Penyakit Ada Obatnya (terjemah Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa&#8217;ala &#8216;an Ad-Dawa&#8217; Asy-Syafi)</em>, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Falah, Jakarta.<br />
7. <em>Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah li Fadhilati Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-&#8217;Utsaimin</em>, Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-&#8217;Utsaimin, Darul Iman, Iskandariyyah.<br />
8. <em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al-&#8217;Azhim lil Hafizh Ibn Katsir</em>, Al-Hafizh Ibnu Katsir, Darul Hadits, Kairo.<br />
9. <em>Zadul Masir</em>, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
10. <em>Taisir Karim Ar-Rahman (Tafsir As-Sa&#8217;di)</em>, Syaikh &#8216;Abdurrahman ibn Nashir As-Sa&#8217;di, Mu&#8217;assasah Ar-Risalah, Beirut.<br />
11. <em>Fathul Bari bi Syarhi Shahih Al-Bukhari</em>, Ibnul Hajar Al-&#8217;Asqalani, Darul Hadits, Kairo.<br />
12. <em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, Muhammad ibn &#8216;Abdirrahman ibn &#8216;Abdirrahim Al-Mubarakfuri, Darul Fikr, Beirut.<br />
13. <em>Musnad Imam Ahmad</em> terbitan Ar-Risalah, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
14. <em>Takhrij Ahadits Musykilah Al-Faqr wa Kaifa &#8216;Alajaha Al-Islam</em>, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Abani, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
15. <em>Sunan At-Tirmidzi</em>, Imam At-Tirmidzi, tahqiq Ahmad Syakir dan Muhammad Fuad Abdul Baqi&#8217; dll, melalui Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
16. <em>Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah</em>, &#8216;Abdul Karim Al-Qusyairi, Darul Ma&#8217;arif, Kairo, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/dilema-cinta-dalam-logika-asmara-bag-02.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dilema Cinta Dalam Logika Asmara (Bag. 01)</title>
		<link>http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/dilema-cinta-dalam-logika-asmara-01.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/dilema-cinta-dalam-logika-asmara-01.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 01:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pojok Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2642</guid>
		<description><![CDATA[Saat bahtera cinta pasutri berlabuh di dermaga rumah tangga, berjuta impian hadir membayangi sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Gambaran indahnya menari-nari di pelupuk mata, tuk rajut hari esok yang penuh warna. Sebuah euforia menyeruak dari rongga dada, tatkala cinta di hati mulai tumbuh berbunga. Akankah asa itu seindah nyata?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fpojok-hikmah%2Fdilema-cinta-dalam-logika-asmara-01.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fpojok-hikmah%2Fdilema-cinta-dalam-logika-asmara-01.html&amp;source=muslimahID&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><em>Saat bahtera cinta pasutri berlabuh di dermaga rumah tangga, berjuta impian hadir membayangi sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara. Gambaran indahnya menari-nari di pelupuk mata, tuk rajut hari esok yang penuh warna. Sebuah euforia menyeruak dari rongga dada, tatkala cinta di hati mulai tumbuh berbunga. Akankah asa itu seindah nyata?<br />
</em><br />
***</p>
<p>Pernikahan bukan hanya tindakan  penyaluran cinta atau kebutuhan biologis tanpa upaya menuai pahala. Akan tetapi, setiap insan tentu mengidamkan suatu pernikahan yang dipenuhi rasa bahagia, penuh nuansa cinta dalam hidup berumah tangga, selain sebagai suatu cara yang bisa menghantarkan pelakunya ke surga (baca: bernilai ibadah). Sungguh lebih nikmat terasa, bersanding dengan tambatan hati yang didamba. Maka tak heran jika terkadang seabrek kriteria pun diajukan, demi mendapat pasangan impian.</p>
<p>Persoalan level standar subyektif yang ditetapkan calon pasangan sangatlah beragam. Tiap individu tentu ingin mendapatkan yang terbaik sebagai pasangan hidupnya, dalam rangka mendambakan bahagia dalam bahtera rumah tangga. Oleh karena itulah, timbul beragam patokan standar pemilihan calon pasangan. Pada dasarnya patokan kriteria itu boleh-boleh saja, selama kriteria tersebut hanya dijadikan patokan sementara yang bersifat opsional dan fleksibel.</p>
<p>Artinya: Jikalau memang ternyata tidak ditemukan yang sama persis dengan kriteria idealnya, maka dia tidak memadharatkan dirinya sendiri dengan menunda pernikahan, demi mendapatkan yang sama persis dengan dambaan hatinya.  Padahal, kondisinya sendiri sudah berada dalam “<em>ambang batas</em>” wajib untuk menikah. Sungguh merugi jika dengan standar yang terlalu tinggi, malah menjadi “<em>batu sandungan</em>” bagi diri sendiri maupun orang lain untuk menuju jenjang pernikahan.</p>
<p>Seseorang seringkali menetapkan kriteria tambahan bagi calon pasangan, seperti : harta, garis keturunan, kepribadian, kebiasaan, bahkan yang paling umum menyangkut fisik dan &#8220;<em>keelokan</em>&#8221; rupa -<em>maaf, mungkin agak sensitif terlebih bagi wanita</em>-. Akan tetapi, terlalu ironis apabila kriteria tersebut -<em>yang sejatinya bisa ditawar</em>- malah justru membantai kriteria asasi (baca: kriteria yang menyangkut agama) yang telah ditetapkan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> melalui lisan RasulNya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Penulis memohon maaf untuk tidak banyak menyinggung berbagai macam kriteria pernikahan, karena bukan dalam kesempatan ini dibahas tentang hal tersebut dalam timbangan syari&#8217;at.</p>
<p>Kriteria opsional memang penting, tapi yang asasi itu tentu jauh lebih penting. Suatu hal yang dianggap manusiawi ketika seseorang menginginkan kriteria asasi maupun opsional terkumpul menjadi satu. Akan tetapi, hendaknya dia lebih bersikap logis dan realistis, daripada menjadi sosok yang terlalu idealis lagi perfeksionis. Mulailah bersikap realistis&#8230;teramat susah mencari pendamping yang nyaris sempurna.<br />
Kalaupun sudah ditemukan, jangan terlalu girang dahulu! Karena bisa jadi si pujaan hati <strong>bukan</strong> mendamba orang seperti Anda menjadi pendamping hidupnya. Yang jadi pertanyaan selanjutnya bagi diri Anda adalah, “<em>Apakah dia sudi bersanding dengan saya? Apakah dia memang benar-benar yang terbaik untuk saya?</em>” Karena belum tentu yang terbaik menurut Anda, merupakan yang terbaik menurut Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>. Bisa jadi justru yang “<em>pas-pasan</em>” itulah yang terbaik bagi Anda.</p>
<p>Andaikata lisan membenarkan pernyataan “<em>saat ini, tidak ada manusia yang sempurna dan terbebas dari cela</em>”, selayaknya hal tersebut terpatri dalam pikiran dan diaplikasikan dalam bentuk perbuatan, yakni bersikap lapang dada dan toleran terhadap kekurangan calon pasangan maupun pasangan yang telah didapatkan. Sekali lagi penulis tandaskan: menetapkan kriteria sampingan tidaklah salah, bahkan itu selaras dengan sisi manusiawi, dan bisa juga turut membantu melanggengkan ikatan cinta pasutri. Akan tetapi, yang hendak dikritisi di sini, <strong>jangan</strong> sampai itu justru menjadi kendala dalam fase menuju pernikahan (belum mau menikah hanya karena keras kepala dalam menetapkan kriteria opsionalnya).</p>
<p class="arab">تريد مهذبا لا عيب فيه &#8230; وهل عود يفوح بلا دخان؟</p>
<p><em>&#8220;Apabila engkau mendamba seorang yang berbudi tanpa cela,<br />
mungkinkah kiranya gaharu menebarkan wanginya tanpa asap?&#8221;</em><br />
(<em>Majma&#8217; Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi&#8217;r Al-&#8217;Arabi</em>)</p>
<p>Pepatah ini mengibaratkan mustahilnya keinginan seseorang untuk mendapatkan orang yang sempurna tanpa cela, baik untuk dijadikan kawan dekat maupun kawan hidup, karena gaharu justru baru akan menebarkan aroma wanginya yang begitu kuat jika dibakar terlebih dahulu kemudian berasap. Justru asap gaharu itulah yang nantinya akan mengeluarkan semerbak harumnya yang khas.</p>
<p>Dikisahkan bahwa Khalifah Umar ibn &#8216;Abdil Aziz <em>rahimahullah</em> pernah menulis surat kepada putranya. Salah satu perkataan Beliau dalam surat tersebut adalah,</p>
<p class="arab">رَحِمَ اللهُ امْرَأً عَرَفَ قَدْرَ نَفْسِهِ</p>
<p>“&#8230;Semoga Allah merahmati orang yang tahu kemampuan dirinya sendiri&#8230;” (<em>Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah</em>)</p>
<p>Perkataan di atas sama sekali tidak bermaksud untuk menyurutkan atau bahkan mematikan semangat dan harapan orang yang belum menikah untuk mendapatkan pasangan yang berkualitas lebih dari dirinya. Akan tetapi, perkataan di atas lebih ditujukan sebagai pengingat bagi para idealis dan perfeksionis yang seringkali “<em>neko-neko</em>” untuk lebih sadar diri tentang kemampuan yang dimilikinya, dalam menetapkan kriteria sampingan yang pada dasarnya masih bisa ditawar. Sebagaimana ungkapan yang sering kita dengar,</p>
<p>“<em>Apabila Anda tidak memiliki kualitas sebaik Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka jangan terlalu berangan tinggi bahwa Anda akan mendapat istri seperti &#8216;Aisyah radhiyallahu &#8216;anha. Bilamana Anda bukan seperti &#8216;Ali radhiyallahu &#8216;anhu, maka jangan terlalu bermimpi mendapatkan wanita sebagaimana Fathimah radhiyallahu &#8216;anha</em>.”</p>
<p>Ungkapan permisalan ini memang tidak bisa dibawa secara paten, karena bisa saja seorang yang berkualitas, namun mendapat pasangan yang kurang sederajat dari segi kualitasnya. Akan tetapi, sekali lagi ungkapan tersebut hanyalah sebagai pendorong bagi seseorang untuk kembali pada alam realita. Ungkapan ini juga berguna sebagai kontrol agar seseorang hendaknya berusaha menyadari kemampuan yang dia miliki, sehingga dia tidak lagi hanyut dalam alam mimpinya untuk mendapatkan pasangan yang serba “<em>wow</em>”.</p>
<p>Maka patut Anda pertanyakan dalam diri Anda, <em>“Apakah Anda memiliki kualitas bak lelaki penghuni surga yang tanpa cela, hingga Anda mengidamkan pasangan semisal bidadari yang sempurna tiada bandingnya?”</em></p>
<p>Fenomena di atas hanya secuil gambaran onak yang bertaburan di jalan pra nikah. Ada lagi kisah calon pengantin yang didera perasaan minder dan sebagainya hingga berkecamuklah gejolak di hatinya,</p>
<p>-    <em>“Saya belum bekerja”… “Saya hanya seorang…”…”Gaji saya cuma pas – pasan”…”Dia dari keluarga berada sedangkan saya dari keluarga biasa saja.”</em></p>
<p>-    <em>“Saya belum bisa mengaji&#8230;ilmu saya masih sedikit&#8230;belum bisa ini&#8230;belum bisa itu&#8230;”<br />
</em><br />
-   <em> “Saya biasa saja, sedangkan calon saya itu terlalu cantik/tampan&#8230;saya merasa tidak sebanding dengan dia.”</em> dan lain sebagainya.</p>
<p>Hati ini merasa miris melihat realita yang terbentang di hadapan mata, manakala banyak orang yang terjangkit sindrom <em>“pilu sendu mengharu biru”</em> pra nikah, karena faktor internal maupun eksternal. Oleh sebab itu, kami ingin menyampaikan beberapa ulasan yang mungkin berguna bagi penderita sindrom tersebut.</p>
<p><strong>1. Mengikhlaskan niat </strong></p>
<p>Niat merupakan titik awal dilakukannya suatu perbuatan. Lurus atau tidaknya niat pada stase awal pernikahan sangat berpengaruh pada kokoh atau tidaknya bangunan rumah tangga. Bangunan pernikahan tipe <strong>“SAMARA”</strong> perlu pondasi niat lurus yang kokoh, pilar-pilar keikhlasan agar selalu tegar dan tegak berdiri, tembok dari ketakwaan yang dapat membentenginya dari serbuan hawa nafsu, dan puncak atap yang tersusun dari keinginan bertemu wajahNya di surga <em>Al-Firdaus Al-A&#8217;la</em>.<br />
Dengan memahami hakikat inti pernikahan, tiap individu hendaknya mencoba bertanya pada diri sendiri, kemudian menjawab dengan hati nurani :</p>
<p>a. Apa sebenarnya tujuan pokok saya menikah? Apa hanya semata – mata memuaskan hasrat kodrati yang manusiawi? atau melaksanakan sunnah? atau dalam rangka menjaga kemaluan dan pandangan&#8230;atau dibumbui beragam tendensi duniawi lainnya?</p>
<p>Tentunya akan didapat berbagai macam versi jawaban sesuai dengan individu itu sendiri, namun jawaban yang paling hakiki akan bermuara pada satu kalimat pungkasan <em><strong>“menggapai ridha ilahi sebagai salah satu usaha menuju kenikmatan surgawi nan abadi, melalui ikatan pernikahan yang suci”</strong></em>. Pada jawaban ini terkandung manifestasi dari tujuan diciptakannya manusia di muka bumi, yakni untuk beribadah kepadaNya. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan segala amalan yang kita kerjakan tentulah akan berpulang pada tujuan awal ini.</p>
<p class="arab">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ</p>
<p><em>“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”<br />
</em>(Qs. Adz-Dzariat: 56)</p>
<p>b. Apakah langkah yang harus saya tempuh untuk meraih tujuan yang paling tinggi dari pernikahan itu sendiri? Apa harus benar &#8211; benar mendapat pasangan yang kaya terlebih dahulu, atau yang semata karena punya keelokan rupa, atau dari keluarga berada..atau..dan atau.. Andai seseorang berlomba-lomba menetapkan kriteria tinggi guna kepentingan ukhrawi tidaklah mengapa, namun jika berlomba-lomba kriteria duniawi yang tinggi…maka itulah sumber awal masalahnya.</p>
<p>Saudaraku, apa karena istri Anda kurang cantik, atau tidak sempurna dalam pandangan Anda…lantas Anda menelantarkan dan ingin meninggalkannya karena sukar mencintainya?</p>
<p>Saudariku…apakah karena suami Anda kurang kaya dan punya beragam cela…maka Anda sulit menghargainya? Lalu untuk apa sebenarnya cita-cita klimaks dan tujuan inti Anda menikah <em>ya Akhi alhabib</em> dan <em>Ukhti alhabibah</em>? Yakni untuk bertemu wajahNya di surga, karena kita berharap surga menjadi tempat hunian yang kekal setelah kematian kita.</p>
<p><strong>2. Mempersiapkan diri dengan ilmu </strong></p>
<p>Ketika sauh bahtera dua jiwa diangkat, bahtera pun mulai berlayar dari dermaga cinta mengarungi samudera rumah tangga menuju tempat akhir yang penuh bahagia. Dalam perjalanan jauh yang harus ditempuh bahtera, pasti seringkali dijumpai berbagai rintangan problematika yang datang silih berganti, sehingga diperlukan bekal ilmu yang cukup untuk menghadapi problematika ini. Ada banyak disiplin ilmu sebelum nikah yang harus dipelajari. Maka pelajarilah ilmu wajib yang memang harus dikuasai masing-masing individu (seperti tauhid dan fiqh amal sehari-hari) dan ilmu yang paling urgent dipelajari terlebih dahulu untuk masuk ke gerbang pernikahan. Adapun disiplin ilmu yang lain dapat dipelajari seiring waktu berjalan, <em>Insya Allah</em>.<br />
Artinya, tiap individu menetapkan skala prioritas tentang apa sajakah ilmu yang mendesak untuk dipelajari terlebih dahulu sehubungan dengan kondisinya yang akan menapaki tangga pelaminan. Contoh ilmu yang urgent dipelajari sebelum pernikahan: belajar tentang bagaimanakah tata cara pernikahan yang syar&#8217;i dan seluk beluk hukum pernikahan beserta adab malam pertama, mempelajari hak dan kewajiban suami istri beserta pernak – perniknya, dsb. Baik juga kiranya untuk berdiskusi dan menimba ilmu rumah tangga dari berbagai pihak yang sudah makan banyak asam garam dalam mengayuh biduk rumah tangga.</p>
<p><strong>3. Mempersiapkan mental</strong></p>
<p>Hidup ini sebagaimana digambarkan dalam sebuah adage (peribahasa) lama yang berbunyi:</p>
<p><em> “Hidup bukanlah sebagaimana ranjang yang bertabur bunga mawar.&#8221;</em> [1]</p>
<p>Begitu juga dengan pernikahan yang dijalani pasutri. Artinya, pernikahan tidak hanya bertabur dengan keindahan dan romantika cinta saja. Akan jauh lebih baik jika tiap diri tidak berlarut-larut dalam lamunan semu romantisme pernikahan belaka. Wajar jika akan ada saat suka dan bahagia datang menyapa, dan akan tiba pula saat duka nestapa melanda.</p>
<p>Jikalau goncangan demi goncangan hanya dihadapi dengan keluhan, sikap lemah, dan jiwa yang rapuh…bukan solusi yang akan didapat, namun malah petaka yang kian mendekat. Maka dari itu, sedari dini persiapkanlah diri untuk bersikap tegar, teguh, tabah dan berpikirlah “dewasa”yang dilandasi dengan ilmu agama  ketika badai ujian menerpa bahtera rumah tangga, meskipun terkadang hantaman realita begitu membuat jiwa terasa menderita.</p>
<p><strong>4. Membenahi diri dalam hal kualitas keshalihan</strong></p>
<p>Pada dasarnya pembenahan diri mutlak dilakukan kapan saja dan di mana saja. Akan tetapi, pada konteks bahasan kali ini, pembenahan diri yang dimaksud adalah pembenahan diri sebelum menginjak pernikahan. Suatu contoh wujud pembenahan diri, -dalam rangka usaha mendapatkan pasangan idaman sesuai impian, jika mungkin yang shalih/shalihah lagi rupawan dan “<em>hartawan</em>”- adalah mengupayakan peningkatan kualitas keimanan dan keshalihan diri kita sendiri.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman</em>,</p>
<p class="arab">الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ</p>
<p><em>“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” </em>(Qs. An–Nur: 26)</p>
<p>Sebab ayat ini turun berkenaan dengan bantahan dari sisi Allah mengenai tuduhan dusta atas perbuatan zina yang dilakukan oleh &#8216;Aisyah dan Shafwan ibn Mu&#8217;aththal As-Sulami <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, yang terkenal dengan peristiwa “<em>Al-Ifk</em>”.</p>
<p>Allah berkehendak untuk menyucikan dan membersihkan tuduhan tersebut dari &#8216;Aisyah dan Shafwan ibn Mu&#8217;aththal As-Sulami <em>radhiyallahu &#8216;anhuma</em>, bahwa mereka berdua tidaklah berzina sebagaimana yang dituduhkan. Oleh karena itu, mayoritas ahli tafsir menafsirkan kata <em>Al-Khabits</em> dan <em>Ath-Thayyib</em> lebih mencakup pada baik dan buruknya perkataan. Akan tetapi, di dalam Kitab <em>Zadul Masir</em>, ditafsirkan bahwa yang dimaksud <em>Al-Khabits</em> dan <em>Ath-Thayyib</em> bukan hanya mencakup orang yang memiliki kebaikan atau keburukan dalam perkataan saja, tapi juga mencakup sisi amal perbuatan.</p>
<p class="arab">والرابع: الخبيثات من الأعمال للخبيثين من الناس، والخبيثون من الناس للخبيثات من الأعمال….  وكذلك الطيبات&#8230;..</p>
<p><em>“&#8230;.Keempat: wanita-wanita yang berbuat keji diperuntukkan bagi para lelaki yang berbuat keji, dan laki-laki yang melakukan perbuatan keji pun diperuntukkan bagi wanita-wanita yang berbuat keji pula. Begitu juga dengan wanita-wanita yang beramal baik</em> (maka wanita-wanita yang beramal baik ini diperuntukkan bagi para lelaki yang beramal baik dan sebaliknya -pen )&#8230;” (<em>Zadul Masir</em>)</p>
<p>Kadangkala timbul persepsi sebagian orang mengenai kelaziman (konsekuensi) mutlak Qs. An–Nur: 26, bahwa jikalau kita beranggapan bahwa diri kita belum begitu baik, maka jodoh kita tidak akan begitu jauh kualitas agamanya dengan diri kita, minimal setingkat dan semisal dengan kita dalam level kualitas agama.</p>
<p>Di satu sisi kita sadar diri bahwa kita masih sangat kurang tingkat keshalihannya, namun di sisi lain kita juga menginginkan pasangan yang kadar takwa, keshalihan, dan ilmunya dianggap jauh lebih tinggi dari kita. Berpatokan dengan kondisi tersebut, kita merasa tidak mungkin dan seolah-olah mustahil untuk mendapatkan pasangan yang berkualitas seperti mereka…ibarat si cebol yang merindukan bulan. Apakah mutlak selalu demikian keadaannya? Kalau memang benar kita bisa mendapatkan pasangan yang dianggap bermutu tinggi, seringkali justru kita yang merasa tidak sepadan dan kurang pantas bersanding dengan orang seperti itu, karena terjadi ketimpangan dalam kadar keshalihan.</p>
<p>1.	Andaikata perkaranya berhenti pada pilihan kata &#8220;mungkin&#8221; atau &#8220;tidak mungkin&#8221; <em>Al-Khabitsah</em> mendapatkan <em>Ath-Thayyib</em> dan sebaliknya, maka jawabnya adalah <strong>mungkin</strong>. Ayat tersebut hanya menekankan perkara hukum yang bersifat mendasar, yakni bersifat <em>aghlabiyyah</em> (sebagian besar/mayoritas) dan <em>aulawiyyah</em> (lebih-lebih). Akan tetapi, dalam ayat tersebut tidak terkandung makna yang mutlak bahwa seseorang yang shalih pasti akan mendapat pasangan yang sekufu (sederajat) juga dalam tingkat keshalihannya. Bisa saja terjadi pengecualian dari kaidah dasar tersebut jika memang Allah menghendaki dengan segala keadilan, kehendak, kuasa dan hikmah yang Allah miliki. (Silahkan temukan contoh nyatanya yang diabadikan dalam Al-Qur&#8217;an, bahwa bisa saja Al-Khabits mendapatkan Ath-Thayyibah dan Ath-Thayyib mendapatkan Al-Khabitsah pada point ke-7)</p>
<p>2.	<em>Subhanallah</em>, begitu mengherankan tatkala mendapati orang yang perasaannya &#8220;menolak&#8221; dengan halus datangnya kebaikan bagi dirinya lewat perantara keshalihan pasangan. Manusia memang diberi perasaan tingkat tinggi untuk melengkapi kinerja akal, sehubungan dengan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi. Akan tetapi, bukan hal yang baik dan bijak jika tiap kejadian hanya dipahami dan dihukumi melalui perspektif perasaan saja.</p>
<p>Duhai jiwa, sesungguhnya Allah memberi petunjuk pada siapapun yang Dia kehendaki, dan lewat jalan yang Dia kehendaki pula. Alih-alih larut dalam perasaan minder &#8220;<em>tidak level</em>&#8220;, bukankah sebaiknya langkah pertama yang kita ambil adalah bersyukur dan berbahagia? Tidak semua orang bisa mendapat anugrah seperti itu, kita justru yang sudah meraihnya malah menyia-nyiakannya.</p>
<p>Langkah kedua, buka pikiran positif dan cerna baik-baik hikmah yang terkandung dalam peristiwa itu, karena mungkin Allah berkehendak membuat diri kita yang sekarang jauh lebih baik dari kita yang dahulu melalui perantara pasangan kita. Maka bergegaslah untuk menyongsong anugrah tersebut dan segeralah menyamakan level! Bukan hanya untuk mendapatkan pengakuan manusia karena malu tidak selevel, namun karena mengharap bertemu wajahNya di surga (baca: merubah diri yang didasari ikhlas karena Allah semata, bukan karena mendahulukan ridha manusia).</p>
<p><strong>5. Melengkapi bekal yang lain sebelum menikah</strong></p>
<p>Ketika kita mendengar kalimat “<strong>perbanyaklah bekal sebelum menikah</strong>”, mungkin yang akan terbayang di benak kita adalah bekal berupa pundi-pundi harta. Ini bukanlah bekal tambahan hakiki untuk menghadapi pernikahan, meskipun tidak bisa dielakkan bahwa materi itu juga penting sebagai salah satu bekal dasar menuju pernikahan. Manakala ilmu tentang kehidupan rumah tangga sudah dipelajari sebagai bekal, maka bekal lain yang sangat penting dimiliki oleh calon pasangan pengantin adalah <strong>bekal ketakwaan</strong>. Bekal ketakwaan ini bukan saja khusus ditujukan bagi yang sedang mempersiapkan mahligai rumah tangga, namun memang harus dimiliki oleh setiap muslim dan muslimah siapapun dia, kapanpun jua, dan di manapun ia berada.</p>
<p class="arab">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (71)</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”</em> (Qs. Al-Ahzab: 70-71)</p>
<p class="arab">وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ</p>
<p><em>“…Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” </em>(Qs. Al-Baqarah: 197)</p>
<p>Telah disinggung di ulasan sebelumnya, bahwa bangunan pernikahan bertipe “<strong>SAMARA</strong>”  (<em>Sakinah, Mawaddah wa Rahmah</em>) memerlukan dinding kokoh dari ketakwaan yang dapat membentengi hati dari serbuan hawa nafsu. Dengan adanya ketakwaan inilah, masing-masing pasangan akan berusaha mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya tentang hak, kewajiban, dan bagaimana adab berinteraksi dengan pasangan. Ketakwaan ini pulalah yang sanggup mengendalikan diri dari hawa nafsu yang buruk, yang bisa menghancurkan diri, rumah tangga, bahkan agama.</p>
<p><strong>6. Memperbanyak doa</strong></p>
<p>Tidak ada seorang muslim yang berakal dan baligh di dunia ini yang tidak pernah memanjatkan doa. Ini suatu bukti bahwa kita senantiasa membutuhkanNya. Doa juga merupakan wujud penghambaan dan perendahan diri kita terhadap Yang Maha Kuasa. Siapakah orangnya yang akan meragukan dahsyatnya kekuatan yang terkandung dalam doa? Untuk itulah kita harus senantiasa menundukkan diri kita dengan terus menerus memohon dan berdoa tanpa putus asa, dengan memenuhi segala adab berdoa[2], agar:</p>
<p>•    Mendapat pasangan shalih/shalihah untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.<br />
•    Terhindar dari perasaan sedih, rasa gundah, khawatir akan masa depan. [silahkan baca lebih lengkap di artikel <a href="http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/untukmu%E2%80%A6yang-dirundung-rindu-dan-sendu-bag-1.html">Untukmu…Yang Dirundung Rindu dan Sendu (Bag.1)</a>]<br />
•    Doa agar dikaruniai pasangan yang TERBAIK bagi diri kita, bukan hanya terbaik menurut kita, karena hanya Allah semata yang paling tahu segala sesuatu yang paling baik bagi hambaNya.</p>
<p>	<strong>Doa agar mendapat kemudahan dalam segala urusan</strong>, khususnya urusan jodoh</p>
<p>Diriwayatkan dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>bersabda,</p>
<p class="arab">اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً</p>
<p><em> “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.”</em> (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 2427, Ibnu Sunni dalam <em>Amal Al-Yaum wa Al-Lailah</em> no. 351, Abu Nu’aim dalam <em>Akhbar Ashfahan</em>: 2/305, Imam Al-Ashbahani dalam <em>At-Targhib</em>: 1/131. Syaikh Al-Albani menilai shahih dalam <em>Silsilah Shahihah</em> dan mengatakan, “<em>Isnadnya shahih sesuai syarat Muslim</em>.”)</p>
<p class="arab">وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Dan Tuhanmu berfirman: &#8220;Berdo&#8217;alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.&#8221;</em> (Qs. Ghafir: 60)</p>
<p class="arab">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ</p>
<p><em>“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya tentang Ku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka memperoleh kebenaran.”</em> (Qs. Al-Baqarah: 186)</p>
<p>Di dalam kedua ayat di atas disebutkan bahwa Allah telah berjanji dan menjamin akan mengabulkan doa hambaNya. JanjiNya bersifat mutlak, karena Allah tidak akan pernah mengingkari janji yang telah dibuatNya. Akan tetapi, <strong>janganlah kita lupa bahwa pengabulan itu memiliki syarat</strong>. Pengabulan doa itu pun tentu menurut pilihanNya yang terbaik, bukan menurut pilihan selera kita, pun pada waktu yang dikehendakiNya, bukan menurut waktu yang kita kehendaki. Bukankah dalam ayat tersebut Allah tidak berfirman dengan kata-kata,<em> “menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri?”</em> Bisa jadi (dengan doa tersebut-red) Allah segera mengabulkannya, atau bisa pula Allah menundanya bahkan hingga di akhirat, atau Allah menghindarkan dia dari musibah yang akan menimpanya.</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا  قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ، قَالَ: «اللَّهُ أَكْثَرُ»</p>
<p>Dari Abu Sa&#8217;id (Al-Khudri pen) <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah seorang muslim yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak untuk memutus tali kekeluargaan, kecuali Allah akan memberinya tiga kemungkinan: Doanya akan segera dikabulkan, atau akan ditunda sampai di akhirat, atau ia akan dijauhkan dari keburukan yang semisal. Lalu mereka berkata, “kalau begitu kita seyogyanya banyak berdoa (meminta).” Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, “Allah akan memberi lebih banyak (dari yang diminta hambaNya pen)” </em>(HR. Ahmad no.11133) [3]</p>
<p>Ketika Allah ternyata menunda terkabulnya doa, atau bahkan Allah menetapkan sesuatu yang berbeda dari tuntutan doa kita, itu bukan berarti Allah melanggar janjiNya untuk mengabulkan doa. Kita pun tidak perlu kecewa hanya karena Allah menunda atau malah mengganti permintaan yang ada dalam untaian doa kita dengan ketetapanNya yang lain, karena <strong>Allah lah yang tahu hal terbaik untuk kita, beserta mashlahat dan madharatnya jika doa yang kita panjatkan itu terkabul</strong>.</p>
<p class="arab">وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ</p>
<p><em>“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” </em>(Qs. Al-Baqarah: 216)</p>
<p>Banyak sebab mengapa doa itu belum jua dikabulkan. Salah satunya karena belum menempuh segala adab yang benar dalam berdoa,  kita masih lalai dalam melaksanakan perintahNya dan masih bermudah-mudahan dalam berbuat dosa, kita masih memakan harta dari jalan yang haram, kita belum betul-betul “<em>menghinakan diri</em>” dalam memanjatkan doa, atau kita malah berputus asa dalam berdoa. Berbicara tentang keputusasaan dalam berdoa, perkara ini banyak terjadi di sebagian kaum muslimin bahkan dari kalangan penuntut ilmu sekalipun. Mereka terlalu tergesa-gesa dalam berdoa. Sesekali waktu doa belum terkabulkan, mereka “<em>ngambek</em>” dan putus asa untuk berdoa lagi&#8230;lagi&#8230;dan lagi.</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, bahwasanya Rasulullah<em> shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Doa salah seorang dari kalian akan dikabulkan selagi dia tidak terburu-buru, yaitu dengan berkata, “Aku sudah memanjatkan doa namun belum juga dikabulkan bagiku.””</em>(HR. Bukhari no.6340)</p>
<p class="arab">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ ، أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، مَا الاِسْتِعْجَالُ ؟ قَالَ : يَقُولُ : قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ ، فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي ، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em>, dari Rasulullah <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>, bahwa Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Doa seorang hamba senantiasa dikabulkan selagi dia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau untuk memutuskan hubungan persaudaraan, asalkan dia tidak tergesa-gesa.” Ada yang bertanya,” Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?” Beliau menjawab, “Dia berkata, “Aku sudah memanjatkan doa dan aku sudah memanjatkan doa lagi, namun belum kulihat doaku dikabulkan. “ Lalu dia merasa letih saat itu dan meninggalkan doa.” </em>(HR.Muslim no.7036)</p>
<p>-Bersambung <em>Insyaallah</em>-</p>
<p>&#8212;<br />
Keterangan:</p>
<p>[1] Peribahasa ini merupakan terjemah dari peribahasa berbahasa Inggris yang berbunyi “Life is no bed of roses”.  Pepatah ini pertama kali penulis temukan dalam Kamus Inggris Indonesia yang disusun oleh John M.Echols dan Hassan Shadily, penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.</p>
<p>[2]  Link seputar adab berdoa:<br />
- <a href="http://muslimah.or.id/fikih/adab-doa-nabi-ibrahim-alaihissalam.html">Adab Doa Nabi Ibrahim Alaihissalam</a><br />
- <a href="http://almanhaj.or.id/content/3100/slash/0">Tidak melampaui Batas Dalam Berdoa</a><br />
- <a href="http://buletin.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/adab-adab-berdoa">Adab-adab Doa</a></p>
<p>[3] Silahkan lihat penjabaran hadits ini lebih detail dalam kitab <em>Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih</em></p>
<p>***<br />
artikel<a href="http://muslimah.or.id"> muslimah.or.id</a><br />
Penulis: Fatih Daya Khairani<br />
Murajaah: Ust Abu Yazid Nurdin<br />
Maraji&#8217;:<br />
1. <em>Latha&#8217;if Al-Ma&#8217;arif</em>, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
2. <em>Madarij As-Salikin baina Manazil Iyyaka Na&#8217;budu wa Iyyaka Nasta&#8217;in</em>, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
3. <em>Pendakian Menuju Allah (terjemah Madarij As-Salikin)</em>, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur.<br />
4. <em>Kamus Inggris Indonesia</em>, John M.Echols dan Hassan Shadily, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.<br />
5. <em>Majma&#8217; Al-Hikam wal Amtsal fi Asy-Syi&#8217;r Al-&#8217;Arabi</em>, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
6. <em>Setiap Penyakit Ada Obatnya (terjemah Al-Jawab Al-Kafi li Man Sa&#8217;ala &#8216;an Ad-Dawa&#8217; Asy-Syafi)</em>, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Falah, Jakarta.<br />
7. <em>Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah li Fadhilati Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-&#8217;Utsaimin</em>, Syaikh Muhammad ibn Shalih Al-&#8217;Utsaimin, Darul Iman, Iskandariyyah.<br />
8. <em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al-&#8217;Azhim lil Hafizh Ibn Katsir</em>, Al-Hafizh Ibnu Katsir, Darul Hadits, Kairo.<br />
9. <em>Zadul Masir</em>, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
10. <em>Taisir Karim Ar-Rahman (Tafsir As-Sa&#8217;di)</em>, Syaikh &#8216;Abdurrahman ibn Nashir As-Sa&#8217;di, Mu&#8217;assasah Ar-Risalah, Beirut.<br />
11. <em>Fathul Bari bi Syarhi Shahih Al-Bukhari</em>, Ibnul Hajar Al-&#8217;Asqalani, Darul Hadits, Kairo.<br />
12. <em>Tuhfatul Ahwadzi</em>, Muhammad ibn &#8216;Abdirrahman ibn &#8216;Abdirrahim Al-Mubarakfuri, Darul Fikr, Beirut.<br />
13. <em>Musnad Imam Ahmad</em> terbitan Ar-Risalah, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
14. <em>Takhrij Ahadits Musykilah Al-Faqr wa Kaifa &#8216;Alajaha Al-Islam</em>, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Abani, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
15. <em>Sunan At-Tirmidzi</em>, Imam At-Tirmidzi, tahqiq Ahmad Syakir dan Muhammad Fuad Abdul Baqi&#8217; dll, melalui Al-Maktabah Asy-Syamilah.<br />
16. <em>Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah</em>, &#8216;Abdul Karim Al-Qusyairi, Darul Ma&#8217;arif, Kairo, melalui program Al-Maktabah Asy-Syamilah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/pojok-hikmah/dilema-cinta-dalam-logika-asmara-01.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehormatanmu, Wahai Saudaraku &#8230; (1)</title>
		<link>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/kehormatanmu-wahai-saudariku-1.html</link>
		<comments>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/kehormatanmu-wahai-saudariku-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 00:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>muslimah.or.id</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak dan Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[Adab dan Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Dunia Muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2336</guid>
		<description><![CDATA[Telah banyak tulisan atau pun buku yang membahas mengenai kewajiban seorang wanita untuk menjaga diri dan kehormatannya. Telah banyak juga artikel yang berisikan kewajiban seorang wanita menjadi manusia yang mulia dengan terus menjaga harga dirinya. Nasihat-nasihat yang ditujukan kepada wanita untuk menjaga &#8216;iffah (kehormatan diri) sering terdengar dan terucap dari para lelaki. Namun, tulisan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: right; margin-left: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fakhlak-dan-nasehat%2Fkehormatanmu-wahai-saudariku-1.html"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fmuslimah.or.id%2Fakhlak-dan-nasehat%2Fkehormatanmu-wahai-saudariku-1.html&amp;source=muslimahID&amp;style=normal&amp;service=bit.ly&amp;b=2" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Telah banyak tulisan atau pun buku yang membahas mengenai kewajiban seorang wanita untuk menjaga diri dan kehormatannya. Telah banyak juga artikel yang berisikan kewajiban seorang wanita menjadi manusia yang mulia dengan terus menjaga harga dirinya. Nasihat-nasihat yang ditujukan kepada wanita untuk menjaga &#8216;iffah (kehormatan diri) sering terdengar dan terucap dari para lelaki. Namun, tulisan ini tidak akan membahas cara agar seorang wanita menjaga diri, melainkan membahas arti kehormatan dan bentuk penjagaan diri seorang laki-laki.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman, </p>
<p class="arab">قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (١)الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ (٢)وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (٣)وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (٤)وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (٥)إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (٦)فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (٧) </p>
<p>“<em>Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang orang yang khusyu’ dalam shalatnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari hal lain di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas</em>.” (Qs. Al-Mu’minun, 1&#8211;7)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah mengingatkan kita dalam sabdanya, </p>
<p class="arab">مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ  </p>
<p>“<em>Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki, melebihi (ujian terkait) wanita</em>.” (Hr. Bukhari, no. 4808; Muslim, no. 2740; dari Usamah bin Zaid)</p>
<p class="arab"> إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya, dunia ini manis dan hijau. Allah menjadikan kalian sebagai pengatur di dalamnya secara turun temurun, lalu Dia melihat sikap kalian perbuat. Karena itu, berhati-hatilah kalian terhadap dunia, dan berhati-hatilah kalian terhadap wanita karena awal bencana yang menimpa Bani Israil adalah pada wanitanya</em>.” (Hadits <em>sahih</em>; Hr. Muslim, no. 2742)</p>
<p>Telah jelaslah bagi kita, baik muslim maupun muslimah, bahwa seorang wanita itu dapat melemahkan iman seorang laki-laki. <em>Wallahu a’lam. </em></p>
<p>Meski begitu, pernahkah kita berpikir dan merenungi bahwasan seorang laki-laki pun dapat menjadi<em> fitnah</em> (ujian, <em>ed.</em>) untuk seorang wanita? Memang, tidak ada hadits Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang menyatakan bahwa seorang laki-laki dapat menjadikan <em>fitnah</em> bagi wanita, tetapi hendaknya seorang laki-laki menyadari bahwa di dalam kehidupan ini terdapat dua jenis insan: wanita dan laki-laki. Setiap sebab dan akibat tentulah memiliki koherensi atau kesinambungan satu sama lain. Apakah mungkin ada akibat tanpa ada sebab? Atau, sebaliknya? <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Bagaimana bisa?</strong></p>
<p>Penulis berikan contoh yang menggambarkan bahwa seorang lelaki muslim pun dapat menjadi <em>fitnah</em> bagi seorang muslimah. Jika ada seorang laki-laki dengan kemampuan ilmu yang tinggi, baik ilmu agama atau pun ilmu dunia (misalnya, kemampuan dalam bidang teknologi, dengan di dukung penampilan fisik yang menyejukkan mata, kefasihan dalam berbahasa, atau tingkat keuangan yang mencukupi), maka apakah semua ini akan berlalu begitu saja bagi seorang wanita? Tentu tidak, wahai lelaki muslim!</p>
<p>Seorang wanita itu juga memiliki hawa nafsu, layaknya seorang lelaki, walaupun tingkat hawa nafsunya tidak sebanding dengan laki-laki. Allahu<em> a’lam.</em></p>
<p>Asy-Syaukani berkata, &#8220;Sebabnya adalah lelaki senang kepada wanita karena demikianlah ia telah diciptakan &#8211;memiliki kecondongan kepada wanita&#8211;. Demikian juga, karena sifat yang telah dimilikinya, berupa syahwat untuk menikah. Demikian juga, wanita senang kepada lelaki karena sifat-sifat alami dan naluri yang telah tertancap dalam dirinya. Oleh karena itu, setan menemukan sarana untuk mengobarkan syahwat yang satu kepada yang lainnya, sehingga terjadilah kemaksiatan.” (<em>Nailul Authar</em>, 9:231)</p>
<p><em>&#8216;Iffah</em> berlaku untuk lelaki maupun wanita</p>
<p>&#8220;<em>‘Iffah</em>&#8220;, sebuah kata yang pernah atau biasa kita dengar. &#8220;Si Fulan adalah seorang yang <em>‘afif</em>&#8220; atau &#8220;Si Fulanah adalah seorang yang <em>‘afifah</em>&#8220; merupakan sebutan bagi lelaki dan wanita yang memiliki iffah. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan &#8220;<em>&#8216;iffah</em>&#8221; itu?</p>
<p>Secara bahasa, &#8220;<em>‘iffah</em>&#8220; adalah &#8216;menahan&#8217;. Adapun secara istilah, artinya &#8216;menahan diri sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah haramkan&#8217;. Dengan demikian, seorang yang <em>‘afif</em> adalah orang yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan, walaupun jiwanya cenderung mengarah kepada perkara tersebut dan menginginkannya. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab"> وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ </p>
<p> “<em>Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya</em>.” (Qs. An-Nur:33)</p>
<p>Termasuk dalam makna &#8220;‘<em>iffah</em>&#8221; adalah menahan diri dari meminta-minta kepada manusia. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman, </p>
<p class="arab"> يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ </p>
<p>“<em>Orang yang tidak tahu tersebut menyangka bahwa mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang berkecukupan karena mereka ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia)</em>.” (Qs. Al-Baqarah:273)</p>
<p>Abu Sa’id Al-Khudri <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengabarkan bahwa orang-orang dari kalangan Anshar pernah meminta-minta kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Tidak ada seorang pun dari mereka yang meminta kepada Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melainkan beliau berikan, hingga habislah harta yang ada pada beliau. Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun bersabda kepada mereka ketika itu, </p>
<p class="arab">مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ </p>
<p>“<em>Tidak ada harta di sisiku yang tidak kuberikan kepada kalian. Sesungguhnya, barang siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan menjaganya, barang siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan menjadikannya sabar, dan barang siapa yang merasa cukup dengan Allah &#8211;sehingga dia tidak meminta kepada selain-Nya&#8211; maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas selain daripada kesabaran</em>.” (Hr. Al-Bukhari, no. 6470; Muslim, no. 1053)</p>
<p>Al-Imam An-Nawawi <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk <em>ta’affuf</em> (menahan diri dari meminta-minta), qana’ah (merasa cukup), dan bersabar atas kesempitan hidup dan hal lainnya dari beragam kesulitan (perkara yang tidak disukai) di dunia.” (<em>Syarah Shahih Muslim</em>, 7:145)</p>
<p>Memang, usaha yang dilakukan untuk menjaga sebuah<em> ‘iffah </em>bukanlah usaha yang ringan. Perlu perjuangan jiwa yang sungguh-sungguh dengan meminta tolong kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah menyatakan, </p>
<p class="arab">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ  </p>
<p> “<em>Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.</em>” (Qs. Al-Ankabut:69)</p>
<p>Bagi seorang wanita muslimah, menjaga diri dan kehormatan itu sangatlah penting, namun bukan berarti perkara ini tidaklah penting bagi para lelaki muslim. Bisa jadi, berawal dari tidak pandainya seseorang menjaga diri dan kehormatan akan muncul berbagai bahaya dalam diri orang tersebut, sehingga akhirnya seorang anak Adam terpelosok ke dalam kubangan maksiat. Hal ini bisa disebabkan beberapa faktor, misalnya: penyimpangan dalam penggunaan sarana telekomunikasi, seperti: telepon, internet, dan sejenisnya. Juga, maraknya peredaran majalah dan VCD porno, serta yang semisalnya.</p>
<p>Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala</em> befirman, </p>
<p class="arab">لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ  </p>
<p> “<em>Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh untuk mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar</em>.” (Qs. An-Nur:21)</p>
<p>Allah<em> Subhanahu wa Ta’ala </em>berfirman, </p>
<p class="arab">وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (١٣٥)أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (١٣٦) </p>
<p> “<em>Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu mereka memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka; dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui. Bagi mereka ada balasan berupa ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal</em>.&#8221; (Qs. Ali Imran:135&#8211;136)</p>
<p>Ibnul Jauzi <em>rahimahullah </em>berkata, “Seandainya orang yang berakal disuruh untuk memilih antara memenuhi keinginan nafsunya sesaat atau menghabiskan sisa umurnya dalam kerugian akibat mengikuti keinginan nafsu tersebut, pastilah orang itu memilih untuk tak akan pernah mendekati nafsunya tadi kendati ia diberi dunia dengan seluruh isinya. Hanya saja, karena mabuk untuk mengikuti hawa nafsu itu telah menghalangi untuk membedakan antara akal pikiran dan hawa nafsu.” (<em>At-Taubah Wazhifatul ‘Umr</em>, hlm. 213)</p>
<p><em>Bersambung, insya Allah &#8230;.</em></p>
<p>Penulis: Ummu Khaulah Ayu.<br />
Muraja&#8217;ah: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.A.</p>
<p><strong>Artikel www.muslimah.or.id</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/kehormatanmu-wahai-saudariku-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

