Mendidik Anak Di Rumah

Pembelajaran anak di rumah berbeda dengan di sekolah. Pembelajaran di sekolah terikat dengan tempat, waktu, jadwal, kurikulum, dan seterusnya. Adapun mendidik anak di rumah berlaku setiap hari, bahkan setiap saat. Mengandaikan pendidikan anak sebagai prosedur khusus yang memerlukan waktu-waktu khusus, akan banyak menyita kesempatan orang tua. Mendidik anak menjadi tak alamiah dan tak menggembirakan. Sebaliknya terkesan sebagai beban, baik bagi anak maupun orangtua. Mendidik anak jadi seperti kursus dengan paket-paket yang dikemas dalam sebuah kurikulum dengan anak sebagi peserta wajib dan orangtua guru resminya. Kita sadar bahwa tidak semua orangtua mempunyai kapasitas dan kesempatan untuk itu. Ditambah lagi banyaknya faktor pendukung yang diperlukan.

Sebenarnya ada banyak peristiwa-peristiwa keseharian yang merupakan pintu masuk seluruh unsur pendidikan yang ingin diberikan. Karenanya kita harus berusaha agar semua tidak terlewatkan begitu saja. Kita perlu mengetahui dan menerapkan berbagai macam metode sehingga setiap detik kebersamaan kita dengan anak bisa menjadi sebuah pembelajaran berharga baginya. Dengan terkumpulnya metode-metode pembelajaran tersebut diharapkan proses pendidikan akan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orangtua tidak merasa terbebani. Dengan mengharap pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, mudah-mudahan kita akan meraih keberhasilan. Diantara metode tersebut antara lain:

  1. Metode Keteladanan
  2. Keteladanan yang baik lagi shalih adalah sarana terpenting dalam pendidikan. Ia memiliki pengaruh yang sangat besar. Orang tua adalah contoh paling tinggi bagi anak. Anak tetap akan mengikuti perilaku dan akhlaknya, baik sengaja atau pun tidak. Bila ia selalu jujur dalam ucapan dan dibuktikan dengan perbuatan niscaya anak akan tumbuh dengan semua prinsip-prinsip pendidikan yang tertancap dalam pikirannya. Dengan adanya teladan, seorang anak akan belajar dengan sesuatu yang nyata. Ini akan lebih mudah diserap oleh jiwa.

    Dengan adanya teladan, seorang anak akan belajar shalat dan menekuninya ketika melihat kedua orangtuanya tekun menunaikannya disetiap waktu, demikian juga ibadah-ibadah lainnya. Dengan adanya teladan, seorang anak akan tumbuh dengan sifat-sifat terpuji dan baik yang didapatnya dari orangtua atau gurunya.

    Sebaliknya ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan akan menjadi racun dalam pendidikan. Sebagai contoh, seorang anak yang melihat ayahnya suka berdusta tidak akan dapat mempelajari kejujuran darinya. Sebagaimana seorang anak perempuan yang melihat ibunya tak mempan dengan nasehat, maka jangan harap ia tumbuh menjadi anak yang mudah diberi nasehat oleh ibunya.

    Allah telah mencela para pendidik yang perbuatannya menyelisihi ucapannya.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣)

    Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaf:2-3)

  3. Bimbingan dan Nasehat
  4. Nasehat yang baik termasuk sarana yang menghubungkan jiwa seseorang dengan cepat. Apalagi nasehat yang kita ucapkan tulus dari dasar hati kita yang paling dalam. Niscaya akan memberikan pengaruh yang yang langsung menghujam di hati anak. Agar nasehat membawa perbaikan maka perhatikanlah hal-hal berikut :
    – Ulang-ulangilah nasehat, karena tabiat manusia adalah lupa, namun jangan berlebih-lebihan sehingga membuat jiwa menjadi bosan.
    – Pilihlah waktu yang tepat, yaitu waktu ketika kondisi kejiwaannya dalam keadaan kondusif.
    – Gunakanlah kata-kata yang mudah dan dapat dipahami sesuai dengan usia anak serta daya tangkap dan nalarnya.

  5. Kisah dan Cerita
  6. Kisah termasuk sarana pendidikan yang efektif. Sebab ia dapat mempengaruhi perasaan dengan kuat. Apalagi kisah nyata, sangat besar pengaruhnya pada jiwa anak, dapat memperkokoh ingatan anak dan kesadaran berfikirnya. Sebuah pelajaran akan lebih mudah dicerna dan difahami oleh akalnya bila diberi ilustrasi cerita. Yaitu cerita yang disertai penjiwaan. Dengan catatan cerita yang bawakan tidak menyimpang dari kaidah-kaidah syariat, jauh dari khayalan, dusta, dan kerusakan.

    Allah juga menggunakan metode ini dalam mendidik, mengajar, dan mengarahkan. Dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala menyebutkan tentang kisah para nabi dan rasul.

    وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (١٢٠)

    Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud :120)

    Kisah dan cerita juga dapat mempererat hubungan antara orangtua dan anak. Akan menciptakan kehangatan dan keakraban tersendiri, sehingga akan membantu kelancaran komunikasi.

  7. Mengambil Pelajaran Dari Berbagai Peristiwa dan Kejadian
  8. Mendidik anak berlangsung setiap hari. Dan peristiwa sehari-hari sebenarnya adalah peristiwa besar, sekalipun tampak sepele. Peristiwa keseharian ini akan memberi pengaruh sikap terhadap peristiwa-peristiwa yang dialami anak di lain waktu. Pendidik yang cerdas lagi sangat menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya tidak akan membiarkan suatu kejadian melintas begitu saja tanpa mengambil pelajaran darinya untuk ia sampaikan kepada anak-anaknya. Karena hidup memang penuh dengan peristiwa dan kejadian. Manusia senantiasa akan menemui peristiwa-peristiwa ini selama masih hidup di dunia. Dan peristiwa-peristiwa kehidupan termasuk sarana terpenting dalam mendidik, karena memiliki pengaruh yang besar bagi anak. Ambilah setiap kejadian sebagai pengarahan, bimbingan, pengajaran, dan sarana untuk meluruskan kesalahan. Manfaatkan saat-saat yang tepat hingga bisa mengetuk jiwanya dan mempengaruhi hatinya. Sewaktu perasaannya dapat merekam dengan jelas sehingga pelajaran berharga masuk dalam jiwanya.

    Demikianlah manhaj Al-Qur’an, bahkan Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur menurut peristiwa yang terjadi agar lebih mengakar dalam hati manusia. Sebagai contoh peristiwa yang menimpa kaum muslimin dalam perang Hunain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

    لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (٢٥)

    Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (Qs. At Taubah: 25)

  9. Metode Pembiasaan
  10. Biasakan anak melakukan kebaikan. Sebab bila anak terbiasa mengerjakannya secara teratur, maka ia akan menjadi sebuah kebiasaan. Dengan pembiasaan maka urusan yang banyak akan menjadi mudah. Tanamkan kepada mereka kebiasaan melakukan sesuatu yang baik dan membawa keberuntungan baginya dalam urusan dunia maupun agama. Baik itu ibadah, adab, tutur kata, sopan santun, rutinitas keseharian, dan lain sebagainya.

  11. Memanfaatkan Waktu Luang
  12. Dorong anak untuk mengisi waktu luang dengan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat, sehingga tidak dimasuki oleh keburukan, kerusakan, dan kesesatan. Berikan pengarahan yang benar dalam jalur kebaikan. Luangkan waktu Anda bersama anak, untuk menemani, membimbing, dan beraktivitas bersama mereka. Sehingga anak akan terlepas dari sebab-sebab penyimpangan dan kerusakan, karena terlalu banyaknya waktu kosong tanpa tahu harus diisi dengan apa. Karena Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari)

  13. Pemberian Motivasi
  14. Berikanlah motivasi positif pada anak! Baik motivasi yang sifatnya konkrit maupun maknawi. Berikan dorongan dan semangat kepada anak untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Seiring dengan itu teruslah menggali apa yang menjadi bakat dan potensi mereka. Biasakan mereka untuk berusaha dengan keras dan bersaing secara sehat. Ikut sertakan anak dalam perlombaan yang positif.

    Motivasi yang terus menerus akan meningkatkan kreativitas anak dalam melakukan kebaikan dan hal yang bermanfaat. Dampingi terus mereka dan berikan dukungan sebaik-baiknya. Motivasi ini bisa berbentuk bahasa kata-kata ataupun bahasa tubuh. Dengan memberikan dukungan moril maupun materiil. Dengan memfasilitasi anak atau dengan memberikan hadiah ketika anak melakukan kebaikan.

  15. Pemberian hukuman
  16. Pendidikan anak dalam Islam dimulai dengan metode pengarahan yang baik serta mengajak anak pada nilai-nilai mulia penuh dengan kesabaran. Namun kadang, kita sudah menmpuh segala langkah nasehat maupun pengarahan untuk meluruskan kesalahan anak dan kenyataannya hal itu tidak mempan. Bahkan mereka semakin parah penyimpangannya sekalipun telah diajak kembali ke jalan yang lurus dengan cara yang baik dan halus. Dalam keadaan seperti ini kita harus mengambil cara yang tegas demi kebaikan anak. Yaitu dengan memberikan hukuman. Namun pemberian hukuman itu harus diimbangi dengan pemberian pujian dan balasan yang baik.

    Pendidikan dengan pemberian hukuman ini hendaknya bermula dari ancaman hingga berakhir pada penjatuhan sanksi. Jika ternyata anak tidak menghiraukan, maka sanksi harus benar-benar kita jatuhkan. Dengan demikian akan tertanam pada jiwa anak bahwa ancaman kita itu sungguh-sungguh dan bukan main-main. Demikianlah metode yang Allah ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

    اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (٣٤)

    Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (An Nisa:34)

    Kesimpulannya, metode pemberian sanksi baru kita gunakan apabila seluruh metode mengalami kegagalan. Dan saat menjatuhkan sanksi, perhatikan waktu yang tepat dan bentuk sanksi yang sesuai dengan kadar kesalahan. Bentuk sanksi ini bisa bervariasi dari yang teringan, misalnya mengurangi jatah harian anak, mengurangi jam bermain atau yang semisalnya. Bisa berbentuk sanksi sosial berupa pengacuhan sampai yang terberat, yaitu hukuman fisik.

    Kita dapat membuat kesepakatan dengan anak tentang bentuk sanksi dan kapan sanksi dijatuhkan. Sehingga anak lebih memiliki kesadaran dan kesiapan untuk menerimanya.

    Demikianlah delapan metode pembelajaran yang kita harapkan dapat membantu kesuksesan kita dalam mendidik anak. Mendidik anak dengan memberi contoh akan menghasilkan karakter yang mulia. Pengajaran dengan tutur kata dan bimbingan yang baik mampu meluruskan berbagai kekurangan dan kesalahan, memberikan wacana yang baik dalam kehidupannya serta membiasakan mereka dengan kebaikan pula. Dengan memanfaatkan waktu senggang, anak mampu menyalurkan potensi tubuh, akal dan perasaan untuk sesuatu yang bermanfaat. Motivasi akan membangkitkan semangat dan persaingan hidup yang sehat serta mengasah kemampuan dan keterampilan. Sementara sanksi hanya berfungsi sebagai sarana kontrol akhir bila semua sarana dan metode di atas tidak bermanfaat.

***
artikel muslimah.or.id
Diringkas dari: Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan Chairriyah & Abu Ihsan Al-Atsari, Darul Ilmi

Donasi dakwah YPIA

25 Comments

  1. trawang says:

    bagi saya pribadi info ini sangat bermanfaat,terima kasih

  2. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk seluruh kaum muslimin

  3. Arti says:

    Semoga kita bisa menjadi orang tua shalih, yang mampu mendidik pura-putri kita menjadi sebaik-baik keturunan ^_^

  4. sumarsih says:

    Ass, untuk redaksi muslimah.or.id ana izin ngopy untuk dishare ke suami dan temen- temen. artikelnya bagus, jazakallahu khairon katsiron

  5. yus maida says:

    jazakillah khairan katsira…ibu adalah madrasah bagi anak2 nya… Subhanallah :)

  6. ummu aisyah says:

    jazakumullah khairan atas artikelnya
    insyaalloh bmanfaat dlm membimbing anak anak saya

  7. mutia says:

    Assalamu’alaikum makasih ats artikelny sy sngat bharap agr bs mdidik ank ssuai dg sunnah n Insya ALLAH..

  8. RAINNY says:

    Assm….

    sebelum saya berkomentar, artikel ini memberikan saya sebuah brain yang jelas, bahwa setiap manusia mempunyai sifat karakter mendasar, orang tua yang seharusnya menjadi suri tauladan, orang tua yang seharusnya bisa mencetak goal dalam agama keluarga tidak ada sebuah pondasi yang kuat.

    anak bagaimana didikan dan karakter dari orang tua tersebut, bukan sebuah asumsi tapi sebuah kenyataan, artikel ini mewajibkan orang tua dapat mendidikan anak dng satu kebijakan, dimana seharusnya anak bisa berkiprah sebagai anak yang berguna,

    munking sebagai orang tua yang mempunyai inteligent yang tinggi, bisa membimbing anak ke arah yang lebih mandiri, dan keluar dari ketakutan dunia.

    dan apabila ada orang tua yang semasa hidupnya, terus berkorban untuk anaknya, didiklah anak itu menjadi anak yang mandiri, dan ajarkan sebuah agama yang kuat agar pondasi dan keimanan anak itu kuat, dan apabila orang tua kita sudah mencapai kekuasaan duniawi.

    ajarkanlah kepada anak untuk mandiri, dan kesengsaraan dalam hidup ini bukan semata-mata karena uang yang mengendalikan.

    mudah mudahan artikel ini, semua manusia memeliki sifat dasar, dan faktor utama adalah keuangan, janganlah uang dipatokan sebagai pemicu nafsu dunia, tapi gimana caranya kita dapat mengendalikan uang, jangan pernah memanjakan anak dng kebiasaan menagis, karen a merengek, jadikan dia asset dan motivator keluarga.

  9. roa says:

    mari perbaiki diri mulai skr agar kelak bisa mencetak generasi-generasi rabbani

  10. ummu muhammad says:

    artikel yg sangat bagus.mudah mudahan Allah memberikan keberkahan untuk penulis artikel ini & juga untuk situs ini. semoga bermanfaat bagi saya pribadi & seluruh kaum muslimin yang membacanya. amiin yaa robb

  11. luna astrid alkindy says:

    assalamu’alaikum
    luna izin copy…

  12. lalang says:

    ijin share… syukron

  13. savaira says:

    ass.

    makasih, artikel yg tersaji sangat bermanfaat u saya dalam mendidik anak, semoga saya bisa menjadi orangtua yg baik dan menjadikan anak” yg sholeh…thanks

  14. nadya says:

    assalam mu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..

    menurut sy ini artikel yg sangat bgs dan bermanfaat. Pada kesempatan kali ini sy mohon bantuan dan jalan keluar dr ustdz /ustzah ats permasalahan mendidik anak yg tengah sy hadapi.

    sy tngh dititip seorang anak usia 4 thn..ayahnya gemar sekali berbohong dan mengkonsumsi makanan yg tdk sehat spt mecin dan jajanan kotor. ibu dan bpknya bekerja shg siangnya dia suka dititipkan kpd sy. saya adl IRT dg satu anak. jika anak tersebut sy nasehati mengenai mkanan tdk sehat tsb, dia marah dan melawan. sy hanya berfikir ini mgkn dampak dr polah asuhan yg berbeda shg menyebabkan anak tsb nakal. mengenai dampak berbohong jg sgt menggangu sy dlm mendidik anak tsb, contoh bapaknya suka sekali berbohong pd anaknya akan pergi sebentar tp ternyata lama, shg anak tsb jd suka histeris klo ditinggal pergi bpknya, selain dr itu terdapat perbedaan sudut pandang dlm cara pemngasuhan antara sy dan ortunya, misalnya sy tdk akan memberilan snack atau susu jk blm mkn nasi, sdngkan klo ada bapaknya semua dikasih, bahkan pernah mkan ice cream tp blm mkan apa2x. yg pasti dmpknya anak tsb males makan nasi dan srng masuk angin.
    stlh sy amat amati bapaknya gemar berbohong dan suka memberikan apapun yg seharusnya yg dilarang, krn bapaknya tdk mau marah dan males memdengar rengekan anaknya. walhasil anak tsb disiplin dan mandiri klo tdk ada orang tuanya.
    Yang ingin sy tanyakan apa yg hrs sy lakukan thp ortu anak tsb dan cara prngasuhan yg terbaik untuk anak dg kasus ortunya yg spt itu, krn sy merasa sedih melihat nasip anak ini, yg saya inginkan adalah kebahagaiaan dan kesuksesan dia didunia dan diakhirat…sy mohon jwbnnya.
    wassalam mu’alaikum warohatullohi wanarokatuh

  15. yuly says:

    Subhanalloh, izin share ya…..tuk dibagikan ke teman2 tutor PAUD

  16. mei sugiarti says:

    saya cuma pengen curhat dan minta arahan…tentang anak saya yang sekarang berumur 5 tahun, waktu masih berumur 3 tahun anak saya sering sholat berjamaah dengan kami. tapi sekarang sudah tidak mau lagi sholat…mengapa yach..terus bagaimana caranya supaya anak saya rajin sholat seperti dulu lagi…makasih atas jawabannya

    • @ Mei Sugiarti

      Bu Mei yang kami hormati, sebagaimana telah kita ketahui, dalam usia belia, anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan yang dia tiru dari lingkungan sekitarnya. Seperti dahulu anak Ibu bisa diarahkan untuk shalat berjamaah dengan Ibu sekeluarga, memang bisa juga sekarang anak Ibu tidak lagi rajin shalat seperti dahulu.

      Yang bisa kami sarankan, Bu Mei coba melihat lingkungan sekitarnya: teman bermain, sekolah, pengasuh (kalau ada), tetangga, keluarga yang biasa dekat dengannya. Apakah ada di antara orang-orang tersebut yang memberi contoh tidak baik pada anak Ibu sehingga sekarang dia enggan shalat? Selain itu, Ibu juga bisa mencoba membacakan kisah-kisah orang shalih yang rajin shalat, balasan pahala bagi orang yang rajin shalat, kedudukan yang mulia dan kecintaan di sisi Allah bagi orang yang rajin shalat. Dengan tabiat anak-anak yang “suka meniru”, semoga kisah-kisah tersebut bisa menjadi teladan bagi anak Ibu sehingga dia semakin rajin shalat.

      Mudah-mudahan, Allah menumbuhkan anak-anak kita dan anak-anak kaum muslimin dalam ketaatan kepada-Nya. Amin.

  17. Ennny says:

    Alhamdulillah. Smg bermanfaat bagi semuanya…. Dunia akhirat, anak anak adl asset utama kita. Mari kita selamatkan mereka….

  18. dian ayu says:

    assalamualaikum
    salam sejahtera bagi kita semua semoga Rahmat Allah selalu tercurah kepada kita semua
    Amin

    saya ingin bertanya
    bagaimana dampak dari pola asuh anak yang slah seprti tidak ada kasih sayang dari ayah dan ibu selalu diberi kekerasan fisik kekerasan psikis
    apa dampak saat anak itu dewsa dan kepada lingkungan

    terima kasih

  19. J.Hasyim says:

    Assalamualaikum wr.wb.
    Alhamdulillah, syukur kepada Allah saya ucapkan.
    Saya sangat berterima kasih atas tulisan tertikel tersebut.Metode-metode tersebut perlu dimiliki oleh semua orang tua muslim. bagaimana membentuk kaaluarga sakinah mawaddah warahman. Dalam keluarga yang bahagia tidak lepas dari keberhasilan mendidik anak,
    anak merupakan buah hati dambaan orang tua. Apabila anak soleh, maka berbahagialah orang tuanya, sebaliknya apabila anak toleh (durhaka) menderitalah orang tuanya. Namun saya masih menambahklan satu permasalahan yang harus diperhatikan orang tua adalah yang memberikan makanan yang halal 100 persen kepada mareka. Sebab makanan ibara nakhoda dalam dalam tubuh kita.Kalau makanan halal, secara otomatis dia cendrung kepada kebaikan, sebaliknya makanan haram, ia akan membutakan mata hatinya, akalnya tidak dapat berpungsi dengan normal, sehinvgga ada kecendrungan berbuat negatif.
    Wassalam,

  20. syifa says:

    Subhanallah…semoga kita mampu mendidik anak2 kita.aamiin

  21. Hartini says:

    jazakumullah khairan atas artikelnya………
    insyaalloh bermanfaat dlm membimbing Putri saya
    sangat2 bermanfaat artikel………

  22. ifdhal febrioza says:

    ASS,

    artikel ini sangat bermanfaat sekali bagi saya. Saya sebagai ibu di ingatkan lagi bahwa tugas sebagai orang tua itu tidaklah mudah. perlu pengorbanan yang dilakukan untuk menjadikan semua itu nyata. Kita ingin memiliki anak yang sholeh dan sholeha, ya bekerja keraslah, ikhlaskan diri bahwa anak yang kita asuh, anak yang kita rawat ketika dewasa insya Allah mereka akan menjadianak yang sholeh dan sholehah. Semoga allah selalu memmbimbing kita… Amin

  23. emimaryami says:

    sangat bermanfaat sekali khususnya untuk saya ,izin share, terimakasih.

  24. Elfatica says:

    Assalamu’alaykum,
    Mau menanyakan bagaimanakah cara mensiasati pendidikana anak terutama pada usia SD dan setelahnya, dimana anak tersebut menimba ilmu di fullday school yang pulangnya biasanya sore hari? Hal ini dikarenakan anak biasanya saat pulang sore sudah dalam kondisi capek.
    Jazakumullah khayr..

Leave a Reply