Saatnya Memahami Islam Dengan Benar

Penyusun: Ummu ‘Abdirrahman
Muroja’ah: Ust. Subhan Khadafi, Lc.

Saudariku, ketahuilah sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah memilihkan Islam sebagai agamamu.

“Sesungguhnya agama (yang haq) di sisi Allah adalah Islam.” (QS. Ali Imron 19)


Dan Allah meridhoi Islam, menyempurnakan, dan melengkapinya untukmu agar engkau dapat meraih tujuan hidupmu yang utama yaitu beribadah kepada Allah.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhoi Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3)

Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah nikmat terbesar dari berbagai nikmat yang Allah berikan kepada umat ini. Yaitu Allah telah menyempurnakan untuk mereka agama mereka, sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain dan juga tidak membutuhkan nabi selain nabi mereka, Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, Allah menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan menjadikannya pula sebagai nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal melainkan apa yang dihalalkannya dan tidak ada yang haram selain apa yang diharamkannya serta tidak ada agama yang benar kecuali agama yang disyari’atkannya.”

Engkau Bisa Meraih Nikmat Islam

Dan saudariku, ketahuilah… engkau belum bisa mendapatkan nikmat Islam dalam hatimu sampai engkau memahaminya dengan benar. Pegangan utama seorang muslimah dalam memahami Islam adalah mengikuti Al Quran dan hadits. Allah telah menjamin akan menganugerahkan keistiqomahan kepada orang-orang yang mengikuti Al Quran, sebagaimana disebutkan tentang perkataan jin dalam Al Quran.

“Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada jalan kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Ahqoof: 30)

Allah juga menjamin akan memberikan keistiqomahan kepada para pengikut rasul sholallahu ‘alaihi wassalam yang disebutkan dalam firmanNya,

“Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy Syu’ara: 52)

Realita yang Engkau Hadapi

Pada realitanya, banyak sekali orang yang mengaku ber-ittiba’ (mengikuti) dan memahami Al Quran dan hadits. Sebagaimana para filosof dan orang-orang sufi mengatakan, “Kami adalah orang yang ber-ittiba’ terhadap Al Quran dan hadits dan memahaminya.” Para pengikut filsafat memang mengikuti Al Quran dan hadits, akan tetapi mereka menjadikan nash-nash Al-Qur’an dan hadits tunduk pada tuntutan akal mereka. Dengan demikian mereka sebenarnya telah meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan akal mereka sebagai Tuhan. Para pengikut sufi juga mengambil Al Quran dan hadits, namun mereka menjadikan nash-nash keduanya tunduk kepada perasaan mereka. Dengan demikian mereka pun meninggalkan Al Quran dan hadits dan menjadikan perasaan mereka sebagai Tuhan.

Kedua pemahaman tersebut merupakan contoh bahwa perpecahan telah terjadi pada umat Islam menjadi bergolong-golong. Mengapa umat Islam bisa berpecah belah? Tidak lain hal ini disebabkan manusia bersandar pada dirinya dalam memahami Al Quran dan hadits. Namun mereka tidak menyadari pemikiran manusia berbeda-beda dan tidak seragam. Di samping itu, kemampuan manusia dalam memahami Al Quran dan hadits sangat terbatas. Tidak ada satu akal pun yang sempurna, demikian juga tidak ada seorang pun yang terlepas dari kesalahan. Sehingga jadilah manusia berpecah-belah sesuai dengan pemikiran mereka masing-masing.

Semua pemahaman dari golongan-golongan tersebut salah adanya selama meraka masih berpegang pada hawa nafsu yang buruk dalam memahami Al Quran dan hadits, kecuali orang-orang yang Allah berikan petunjuk. Allah mengancam penyelewengan mereka terhadap Al Quran dan hadits dengan neraka.

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab terpecah menjadi 72 golongan dan umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. 72 golongan di dalam neraka dan 1 golongan berada di surga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ad Darimi, Ath Thabroni, dll.)

Ash Shan’ani rahimahullah berkata, “Penyebutan bilangan dalam hadits itu bukan untuk menjelaskan banyaknya orang yang celaka dan merugi, akan tetapi untuk menjelaskan betapa luas jalan-jalan menuju kesesatan serta betapa banyak cabang-cabangnya, sedangakan jalan menuju kebenaran hanya satu.”

Dan orang-orang yang berpecah-belah karena memahami Al Quran dan hadits dengan hawa nafsu mereka yang menyimpang adalah teman-teman setan yang mengikuti jalan kesesatan.

Dari Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu hari Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassalam membuat sebuah garis lurus dan bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat garis-garis lain di kanan kirinya, dan bersabda: ‘Ini jalan-jalan lain dan pada setiap jalan ini terdapat setan yang menyeru ke jalan-jalan tersebut.’ Beliau lalu membaca (firman Allah ta’ala): ‘Dan sesungguhnya inilah jalanKu yang lurus. Oleh karena itu, ikutilah. Janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain yang akan memecah belah kamu dari jalanNya.’” (QS. Al An’am 153)

Lalu, Bagaimana Memahami Islam yang Benar ?

Setelah menilik realita yang ada, kita dapat mengetahui bahwa tidak semua orang yang belajar Al Quran dan hadits mendapatkan nikmat Islam dalam hatinya. Hal ini memang merupakan hal yang sangat disayangkan. Semua golongan-golongan dalam Islam tidak akan pernah mendapat nikmat Islam karena tidak memahami Al Quran dan hadits dengan benar. Lalu, bagaimana memahami Islam yang benar?

Wahai saudariku, renungkanlah apa yang engkau baca dengan lisanmu setiap engkau sholat maka engkau akan mendapatan jawabannya. Sesungguhnya Allah berfirman, “Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka.” (Qs. Al Fatihah: 6-7)

Dari sini, engkau mendapatkan jawabannya, saudariku! Bahwa untuk mendapatkan nikmat Islam adalah memahami Al Quran dan hadits dengan mengikuti orang-orang yang telah terlebih dahulu mendapatkan nikmat Islam. Siapakah mereka?

Ibnul Qoyyyim berkata, “Siapa saja yang lebih mengetahui kebenaran serta istiqomah mengikutinya maka ia lebih pantas untuk mendapatkan ash shiraathal mustaqiim (jalan yang lurus).”

Syaikh Abdul Malik Ramadhani menjelaskan bahwa manusia yang paling utama yang telah Allah beri nikmat ilmu dan amal adalah para shahabat Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, karena mereka mendapatkan petunjuk langsung dari Rasul shollallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Dengan demikian penafsiran dan pemahaman merekalah yang paling selamat. Selain itu, mereka adalah generasi terbaik dari umat ini dalam memahami Al Quran dan hadits serta mengamalkannya.

“Sebaik-baik umat ini adalah generasiku, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka, kemudian orang yang mengikuti mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi/ HR. Bukhori Muslim)

Yang dimaksud dengan generasiku adalah para shahabat beliau. Generasi orang yang mengikuti para shahabat dalam memahami Al Quran dan hadits adalah tabi’in dan yang mengikuti tabi’in adalah tabi’ut tabi’in.

Para shahabat merupakan kaum yang dipilihkan oleh Allah untuk menemani nabiNya, dan menegakkan agamaNya.

Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya Allah memandang kepada hati para hambaNya. Dia mendapati Muhammad adalah yang paling baik hatinya. Lalu Allah memilihnya untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Allah kembali memandang hati hamba-hambaNya yang lain. Dia mendapati para shahabat adalah orang-orang yang paling baik hatinya setelah beliau shollallahu ‘alaihi wasallam. Allah lalu jadikan mereka sebagai pembantu NabiNya dan mereka berperang membela agamaNya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad)

Dan pemahaman para shahabat sering juga disebut manhaj salafus sholih (pemahaman pendahulu yang sholih).

Wajibnya Berpegang Teguh pada Manhaj Salafus Sholih

Ketahuilah saudariku bahwa perpecahan umat menjadi bergolong-golong adalah tercela dan dibenci. Allah ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Masing-masing golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Ruum: 31-32)

Dan meskipun perpecahan tidak diridhoi oleh Allah, namun hanya sedikit orang yang bisa selamat darinya. Dan tidaklah seseorang selamat dari bencana ini kecuali orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah bersabda yang artinya: “Orang-orang Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan dan orang-orang Nashrani seperti itu juga. Adapun umat ini terpecah menjadi 73 golongan.” didalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya: “Siapa yang (selamat) itu wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “(Yang mengikuti aku dan para sahabatku).” (HR.Tirmidzi dengan sanad yang hasan)

Allah hanya menginginkan kebaikan dari para hambaNya agar hambaNya kembali kepada kampung halamannya, yaitu surga. Oleh karena itu, diwajibkan atas seorang hamba untuk menyelamatkan diri dari perpecahan dan berpegang teguh pada jalan Rasulullah dan para sahabatnya.

Rasulullah saw bersabda dalam hadits Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu yang artinya, “Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rosyidin, pegang eratlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan lain-lain)

Allah memuji orang-orang yang mengikuti jejak salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti mereka, karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Hidayah untuk kembali kepada Allah dan meraih surga hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 137)

Allah mengancam orang yang durhaka kepada Rasulullah dan menyelisihi kaum mukmin pada zamannya (yaitu shohabat) dengan neraka jahannam.

“Barangsiapa yang mendurhakai Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan kaum mukmin, Kami biarakan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)

Ya Allah… mudahkanlah kami menempuh jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat atas mereka, yaitu orang-orang yang memeperoleh hidayah dan istiqomah. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, yang hati mereka telah rusak sehingga mereka menyimpang dari kebenaran meskipun telah mengetahuinya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat yang tidak memiliki dan tidak mau belajar ilmu agama, sehingga mereka terus-menerus dalam kesesatan dan tidak mendapatkan petunjuk kepada kebenaran. Amiin…

Washollallahu ‘ala Nabiyyi Muhammad wa ‘ala alihi wa Shahbihi wa sallam

Rujukan:

  1. Sittu Duror Landasan Membangun Jalan Selamat karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani
  2. Membedah Akar Bid’ah karya Ali Hasan Al Halabi Al Atsari
  3. Artikel ‘Sudah Saatnya Meniti Manhaj Salaf’ yang merupakan penjelasan Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali dalam ceramah beliau dalam Majalah As Sunnah edisi 01/Tahun XI/ 1428H/2007M
  4. Artikel ‘Mengapa Harus Salafi?’ karya Abu ‘Abdirrahman bin Toyyib As Salafi dari situs salafindo.com

***

Artikel www.muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

22 Comments

  1. www.muslimah.or.id says:

    1. catur
    September 26th, 2007 at 8:24 pm

    Mudah mudahan alloh memberikan hidayah pada kita semua supaya kita benar2 bersih dari segala hal yang batil amin

    2. Fitriyani Astuti
    September 26th, 2007 at 9:41 pm

    Assalamu’alaikum,

    Semoga istiqamah, amin…

    Wassalam.

    3. prasetya utama
    September 26th, 2007 at 11:00 pm

    bismillah, alhamdulillah.
    mudah2an mendatangkan manfaat bagi kita semua, amiin.

    4. Andi
    September 29th, 2007 at 4:34 am

    Kisah:”Aku berwudhu. Kuhilangkan beban kantuk, dan awan kegelisahan yang mematikan dengan tetesan air dingin nan suci yang sudah lama kutinggalkan karena lalai dan bodoh. Kupercepat langkahku menuju masjid. Ternyata pengawasan dan perhitungan ketat adalah pada firman-Nya yang artinya:
    “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf: 18)

    Ternyata catatan-catatan panjang, yang didalamnya telah terhitung amalan sekecil apapun, meskipun hanya seberat biji zarrah (debu yang terkecil):
    “Barangsiapa yang megerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS az-Zalzalah: 7-8)

    Ternyata berisikan keterangan-keterangan yang tidak mungkin tersembunyikan:
    “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.”(QS Ghafir: 19)

    Sebuah akhir kepastianpun menggetarkanku:
    “Segolongan masuk surga dan segolongan masuk Jahannam.” (QS Asy-Syura:7)

    Akupun tersadar dari kelalaianku. Pengawasan tersebut tidak hanya lahir beberapa minggu yang lalu, bahkan telah ada semenjak awal usia, sejak aku meneriakkan tangisan pertama, dan semenjak aku menapakkan kakiku ke tanah. Sebuah pengawasan panjang, yang terus berlangsung, tidak akan menyerah dan bosan hingga aku diletakkan di kuburanku. Sebuah pengawasan yang menakjubkan, di dalamnya dihitung segenap ucapan dan perbuatan, bahkan bisikan-bisikan hati dan getaran-getaran dada.
    “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.” (QS Qaff: 50)”

    5. Wong Agung Sumbut
    October 6th, 2007 at 2:16 am

    Bismillah
    Islam itu apa sih..?? apa sekedar Sahadah, Sholat, Puasa, Zakat dan Haji ??? – kalau sekedar itu banyak yang bisa, bahkan pemilik rumah2 bordir di lokalisasi PSK telah melakukan kelima-limanya, masya Allah.
    Siapapun yang bisa “SELAMAT” dari kehidupan dunia dan “SELAMAT” dari siksa di akhirat, maka ISLAM-lah dia.
    Mungkin sebaiknya kita menjalani hidup ini seperti sedang BER-IHROM, hati hati menjaga kesucian “PAKAIAN IHROM”, tidak melanggar “LARANGAN IHROM” dan menghindar Rofats, Fasiq dan Jidal .
    “To be a good moslem” tidak semudah yang kita fikirkan.
    Berfikir tentang ajaran Islam secara sederhana, akan membuat ajaran Islam terasa direndahkan.
    Ajaran ISLAM bukan sekedar agama, tapi jauh lebih dari pada itu…….berfikir keraslah

    6. ade aja
    October 17th, 2007 at 4:12 am

    Assalamu’alaikum..
    Tolonh beri tau dimana tempat belajar Islam, khusus putri, di Surabaya! Terima kasih!

    7. Desri Wardani
    October 27th, 2007 at 12:43 am

    Subhanallah..yang telah menuntunku dan aku akan berusaha mengikuti jalan yang lurus yaitu mengikuti perintah Allah dan Rasulullah SAW, dan aku tidak ingin ibadahku ini sia-sia karena tidak ikhlas. Mari sebelum kita beribadah yakinlah bahwa kita ikhlas menjalaninya dan ibadah tersebut benar-benar dicontohkan Rasulullah SAW. Jangan sampai kita berbuat sesuatu yang tak ada tuntunannya, itu harus kita hindari. Ya Allah tunjukkanlah kami jalan yang lurus..Amin ya Rabbal’alamin….

    8. unga
    November 21st, 2007 at 10:18 pm

    Assalamualaykum…
    Bismillah
    ya semoga kita semua dapat berpikir dan memahami bahwa Islam itu bukanlah hanya sekedar aturan dan ritual, bukanlah sebab dan akibat juga bukan penafsiran “pribadi”
    Wassalamualaykum…

    10. ummu hasanain
    February 19th, 2008 at 11:02 pm

    assalamu”alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
    um, artikelnya bagus bangeth…. semoga semakin memantapkan kita dalam beribadah kepada Allah. Dan semoga banyak akhwat dan ikhwan lain yang mau memahami manhaj salaf yang lurus ini, bukan hanya tahu atau malah mencemooh saja. amin.
    saya minta ijin untuk menampilkan artikel-artikel anti di MP biar bisa dibaca teman – teman di MP ya…

    11. Pajar Machmud
    March 5th, 2008 at 12:00 am

    Assalamu’Alaikum WR.WB
    Smoga kita semua slalu di lindungi OlehNYA.Amin

  2. ass..alhamdulillah semoga kita, betul-betul bisa menjalankan perintah Allah s.w.t dan menjauhi segala larangan-Nya. artikelnya bermamfaat bagi yang membaca.

  3. anang teguh m says:

    islam yang benar adalah menerapkan sesuatu yang menyelamatkan orang lain, bukan membuat kegaduhan di mana-mana

  4. hamba Allah says:

    saudaraku,…
    aku adalah orang yang sangat kebingungan.
    banyak aliran-aliran yang mengajakku.
    aku ingin sekali mendapatkan kebenaran itu.
    saat aku meyakini kebenaran itu telah datang,
    orang tuaku menolak secara terang-terangan karena menganggap itu sesat.
    berbulan-bulan aku terkatung seperti ini.
    sering aku menangis, mengapa kebenaran itu tidak jelas.
    kabur..
    tolong saudaraku
    jelaskan padaku….
    jazakilah katsiron

  5. hamba allah says:

    sy tdk bermaksud untuk komen aper2.. sy sgt3 jahil ttg islam wpun sy adalah seorang islam… sy mahu bertaubat.. memahami islam dan mengamalkan islam. terus terang sy x tau dimana sepatutnya saya bermula. sesiapa shj yg lbh arif bantulah sy kerana allah.. mudah mudahan allah mengurniakan sy petunjuk dan hidayah.. sesiapa yg ader info dan nasihat emelkan…

  6. Mas Agus says:

    # hamba allah
    Kondisi seperti itu mungkin dialami oleh hampir semua orang yang mencoba mengikuti jalan kebenaran yang bertentangan dengan pemahaman masyarakat disekitarnya.

    Saya rasa itu merupakan sunatullah.

    Perhatikanlah bagaimana hubungan nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan ayahnya setelah beliau mendapatkan wahyu, bagaimana kisah nabi luth dan rasulullah shallallahu ‘alaihiwassalam dan para sahabatnya ketika mendapatkan penentangan dari keluarga dan masyarakat disekitar mereka.

    Satu hal yang mesti menjadi perhatian kita saat mengalami hal tersebut adalah, bahwa kita harus benar2 mengetahui dan memastikan bahwa pemahaman baru yang kita dapatkan adalah benar2 merupakan suatu kebenaran yang bersumber dari kitabullah dan sunnaturrasul sesuai dengan pemahaman para sahabat dan para ulama terdahulu dimasa awal2 islam.

    Jika kita telah yakin bahwa yang kita ikuti adalah suatu kebenaran, maka janganlah ketidak setujuan atau penentangan dari orang-orang disekitar kita menyebabkan kita menjadi surut dari mengikuti kebenaran.

    Perhatikanlah perkataan ‘Ali bin Abi Thalib ketika awal beliau masuk islam sedangkan beliau masih kecil. Rasulullah ketika itu menyarankan agar ia meminta pertimbangan orang tuanya dahulu. akan tetapi ia menjawab: “Allah tidak meminta pertimbangan mereka saat menciptakan aku”.

    Mengenai ketidaksetujuan dan penentangan yang kita alami maka hendaknya hal tersebut menjadi cambuk bagi kita agar kita belajar lebih keras dalam memahamai islam dengan benar. Karena ketidakmampuan kita dalam menjelaskan kebenaran, pada hakikatnya merupakan tanda bahwa kitasebenarnya belum mengilmui apa yang kita yakini dengan benar.

    Saat mendapatkan bantahan kita hanya bisa menjawab dengan kata “pokoknya…” atau dengan mengutip perkataan ustadz tanpa memahami hakikak ilmu dibalik perkataan tersebut. sehingga kata-kata yang kita ucapkan tersebut merupakan ucapan kosong ilmu yang tidak membuat hati orang lain tergetar atau bahkan tersentuh sedikitpun.

    Kemudian kesalahan yang umum terjadi adalah bahwa kita seringkali berdakwah tanpa menggunakan hikmah, tidak menggunakan tatakrama dan akhlak yang baik karena terburu-buru ingin mendapatkan hasil dari dakwah kita. Dan terkadang pula, kita memposisikan diri sebagai guru yang seakan2 kita adalah yang paling tahu akan kebenaran dan semua hal yang tidak kita ketahui adalah salah. Sering kali terjadi seseorang ikhwah membid’ahkan suatu praktik ibadah yang berbeda dari yang ia pelajari, padahal sebenarnya itu adalah ikhtilaf ulama yang tidak sampai pada derajat kebid’ahan.

    Hal-hal seperti ini tidaklah kita ketahui sebelum kita benar-benar belajar dengan mendalam. Dan berdakwah tanpa ilmu pada hakikatnya menimbulkan mudharat yang jauh lebih besar dari maslahatnya.

    Ingatlah bahwa “Al-’Ilmu Qablal Qouli wal ‘amal”, bahwasannya berilmu itu adalah suatu kewajiban sebelum beramal dan berdakwah.

  7. Ummul Hasan says:

    untuk ukhti “hamba allah”:

    sabarlah saudariku… dalam al-quran ada penyemangat untukmu:
    “wa man jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa” (maknanya: barangsiapa yang bersungguh-sungguh menempuh jalan Kami, akan kami berikan hidayah padanya)

    ada pula penawar sedihmu di dalam al-quran:
    “innamaa asykuu batstsii wa huznii ilalloh” (maknanya: sesungguhnya aku hanya mengadukan keluh kesah dan sedihku pada ALLOH)

    tetaplah pada usaha mencari kebenaran. teruslah mohoh hidayah pada ALLOH. hubungilah orang-orang yang sekiranya dapat membantumu menemukan kebenaran itu. tampaknya, ukhti tinggal di malaysia…. bolehkah saya tahu alamat ukhti? atau nomor telepon ukhti yang bisa saya hubungi. email saya bisa ukhti tanyakan pada redaksi muslimah.or.id.

    salam kenal yang penuh kehangatan dari saudarimu ini…

    salaamun ‘alayk

  8. gerry rapega dien says:

    wahai seluruh umat islam yang ada di dunia.. kita sebagai manusia harus mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang hak dan yang bathil, oleh sebab itu banggalah kita sebagai umat islam, karena agama islam adalah agama yang di ridhai di sisi Allah, berpedomanlah kepada AL-Qur’an dan AL-Hadist.

  9. Rahmat says:

    Terima kasih,

    saya izin copy untuk buletin jum’at. terima kasih semoga yang saya terbitkan adalah benar2x berpahala bukan jalan kesesatan

    Insya Allah.

  10. ClouDVaNDalL says:

    saya suka mempelajari semua agama. dan saya ambil yg baik” nya dan thx atas ilmu nya ^^ .semoga allah swt selalu melindungiku dan menjagaku

  11. Abu says:

    Allah memuji orang-orang yang mengikuti jejak salaf dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan di dalamnya terdapat perintah akan wajibnya mengikuti mereka, karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka.

    Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

    Hidayah untuk kembali kepada Allah dan meraih surga hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

    Para Shahabat radhiyallahu ‘anhum.ajmain pada saat itu berdakwah dengan mengorbankan harta diri dan waktunya menemui ummat manusia ke seluruh dunia menebarkan rachmat mengajak seluruh ummat manusia untuk masuk Islam. Marilah kita amalkan apa yang sudah dicontohkan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum.ajmain tersebut karena keridhoan Allah tidak mungkin bisa diraih melainkan hanya dengan mengikuti mereka dan Hidayah untuk kembali kepada Allah dan meraih surga hanya bisa diperoleh lewat jalannya para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

  12. ramadhani says:

    assalam mu’alailkum wr,wr…
    aq tahu islam itu benar….!!! tp dimana aq bisa belajar sholat,baca al qur’an yg benar, krn aq pengen ada pembimbing..
    Ya alloh buka kan hati hamba mu ini ke jalan yang benar…amin

  13. zen says:

    saya ingin sekali belajar islam yang benar tapi dimana sama siapa saya bisa belajar,

  14. zen says:

    tolong bisa kasih tau saya, dimana bisa belajar islam yang lurus, sy tinggal di cilegon banten

  15. makasih informasinya…… :)
    *sampe bingung mau nulis komen apaan….

  16. edi says:

    Alhamdulillah ……mudahan-mudahn kita senantiasa tetap dalam lindungannya sehingga tetap pada jalan NYA. saya rasa artikel semacam inilah yang saya butuhkan dan untuk kita semuanya.

  17. kusnandar says:

    memang benar Allah akan membiarkan orang yang berlaku durhaka, dan menunggu sampai orang itu bertaubat, tetapi apabila tiba masanya nanti, ia meninggal dunia, atau dunia kiamat, tetapi ia tidak bertaubat, maka ia akan masuk api neraka selamanya. amin

    sebaiknya bertaubatlah sebelum meninggalkan dunia ini, mengikuti petunjuk Allah .

  18. Hamba ALLAH says:

    Bagaimana lankah kita kalau kita salah pilih suami dan dia tidak mau brubah,biarpun kita sudah nasehati,tetap aja dia tidak mau berubah,apa kita tingalin aja atau bagaimana,Tolong saudaraku saya harus bagaimana karna saat ini saya tuh sangat bingun sekali.

  19. Hamba Allah says:

    bagaimana cara untuk menjadi seorang pemimpin yang baik juga menjadi seorang sahabat,teman,anak yang baik ?!?!?

  20. Djokolono says:

    Assalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Terima kasih dengan perkenannya untuk mempelajari dan mengunduh Ilmu yang bermanfaat untuk didunia dan diakhirat kelak.

    Ya Allah, atas kuasa dan kehendak MU, jadikanlah setiap hembusan nafas Saudaraku sebagai jalan untuk membuang segala penderitaan dan kegalauan dalam hidupnya. Jadikanlah juga setiap tarikan nafasnya sebagai pembuka rezeki, rakhmat, kesuksesan dan kebahagiaan yang mengalir tanpa henti dari segala penjuru dengan mudah dan sederhana, serta penuh dengan ridha MU. Aamiin

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Djokolono

  21. ilham says:

    Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

    Ana ijin untuk copy artikelnya untuk di masukkan kedalam buletin jum’at ya ukh, insyaAllah ana akan cantumkan sumbernya ….

    Jazaakillah khair

Leave a Reply