Akhirnya Aku Mengerti Hakikat Tauhid…(2)

Setelah diskusi berlangsung beberapa kali, pendeta tersebut minta maaf karena tidak bisa melanjutkan diskusi lagi karena akan pergi ke luar negeri selama beberapa waktu. Beliau merekomendasikan dua orang pendeta untuk menggantikan posisi beliau selama beliau tidak ada. Pendeta pertama adalah seorang yang dulunya beragama Islam namun keluar (murtad) dari agama Islam dan menjadi pendeta. Saat kami mendatangi rumah pendeta ini, dari pembicaraan dengannya terkesan bahwa beliau menolak dan menghindar dengan alasan yang tidak jelas. Pendeta kedua adalah seorang doktor teologia ahli perbandingan agama dan memiliki kedudukan yang cukup tinggi di sebuah universitas. Karena kesibukan dan kedudukan beliau inilah, kami agak kesulitan menemui beliau. Ketika akhirnya kami berhasil menemuinya, ternyata beliau keberatan dan tidak bersedia berdiskusi bersama kami dengan alasan sibuk. Pendeta kedua ini menyarankan agar kami kembali berdiskusi dengan pendeta X.

1 67

Setelah diskusi berlangsung beberapa kali, pendeta tersebut minta maaf karena tidak bisa melanjutkan diskusi lagi karena akan pergi ke luar negeri selama beberapa waktu. Beliau merekomendasikan dua orang pendeta untuk menggantikan posisi beliau selama beliau tidak ada. Pendeta pertama adalah seorang yang dulunya beragama Islam namun keluar (murtad) dari agama Islam dan menjadi pendeta. Saat kami mendatangi rumah pendeta ini, dari pembicaraan dengannya terkesan bahwa beliau menolak dan menghindar dengan alasan yang tidak jelas. Pendeta kedua adalah seorang doktor teologia ahli perbandingan agama dan memiliki kedudukan yang cukup tinggi di sebuah universitas. Karena kesibukan dan kedudukan beliau inilah, kami agak kesulitan menemui beliau. Ketika akhirnya kami berhasil menemuinya, ternyata beliau keberatan dan tidak bersedia berdiskusi bersama kami dengan alasan sibuk. Pendeta kedua ini menyarankan agar kami kembali berdiskusi dengan pendeta X.

Karena proses diskusi ini (yang tadinya aku berharap begitu banyak para pendeta ini dapat memberi pelajaran pada A) ternyata sedikit terhambat, akhirnya aku mendatangi pendeta X seorang diri. Aku menceritakan semua hal berkenaan dengan latar belakang diskusi ini dan aku memohon kepada beliau untuk membantuku meneruskan proses diskusi dengan A. Sayangnya… ternyata beliau menolak permintaanku dengan alasan yang tidak jelas –bahkan bisa dikatakan tanpa alasan-. Sebagaimana harapan besar lainnya – yang jika tertumpu pada seseorang namun ternyata tidak dipenuhi oleh orang tersebut-, maka kekecewaan yang besar pun kurasakan waktu itu. Ketika aku pamit pulang, pendeta tersebut masih sempat berpesan kepadaku,

“Apapun yang terjadi, jangan sampai kamu menikah dengan dia (A). Kalau dia tidak mau masuk agama Kristen, pertahankan imanmu (iman Kristen).”

Gundah, bingung, sedih, dan kekecewaan yang menumpuk, semua bergumul menjadi satu setelah mendapat berbagai penolakan dari pihak-pihak yang aku harapkan dapat membantuku memberi penjelasan tentang agama Kristen ini kepada A. Bahkan pihak-pihak ini adalah orang yang kuanggap pakar dan ahli sehingga dapat membantuku menjawab dan menjelaskan tentang agama Kristen kepada A. Aku pun merasakan sesuatu yang janggal dari pesan terakhir dari pendeta X. Aku simpulkan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki argumen dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan aku merasakan bahwa ada sesuatu yang kurang dari agama ini (Kristen).

Sejak itulah, aku berusaha melihat dan menilai Islam dan Kristen sebagai dua agama yang sejajar kedudukannya, dan aku berusaha berada pada posisi netral seakan-akan sedang menjadi juri untuk keduanya. Berat dan tertekan. Itu yang aku rasakan ketika harus bergumul dan berusaha keras untuk melepaskan diri dari doktrin Kristen. Doktrin yang telah aku cintai sejak kecil dan telah kuikat secara sungguh-sungguh. Namun, dari sinilah aku mulai membuka diri dengan selain Kristen. Aku baru bisa mulai mempelajari seperti apa Islam sebenarnya. Kesan pertama yang kudapatkan dalam penilaianku adalah, ‘Apa yang jelek dari Islam? Kelihatannya ajarannya ok ok saja.’ Sambil melakukan ini, aku tetap terus membaca Alkitab Kristen.

Suatu ketika, A mengajukan suatu ayat dalam Alkitab yang mengatakan,”Jangan sampai kita sudah setiap hari menyeru ‘Tuhan-Tuhan,’ tetapi tidak selamat seperti yang tertulis dalam Injil.”

Kata-kata ini terpatri dalam benakku. Malam harinya, aku mencari ayat itu dalam Alkitab dan menemukannya, yaitu pada Matius 7:21, yang isinya, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-ku yang di sorga.”

Aku termenung seakan-akan tak percaya yang aku baca. Perlahan-lahan ‘ku tutup Alkitab yang sedang kubaca tersebut.

Keesokan harinya dan hari-hari sesudahnya terasa seperti hari penuh perenungan untuk pikiran dan benakku. Walaupun aku (berusaha) beraktifitas seperti biasa, namun pikiranku tidak tenang memikirkan ayat tersebut. Untuk meyakinkan diriku, ‘ku baca kembali ayat tersebut berulang-ulang, namun ternyata aku justru menjadi ketakutan setelah memikirkan makna yang terkandung di dalamnya. Sepertinya ayat ini sangat berkaitan dengan apa yang telah aku lakukan selama ini, dan aku takut ternyata aku termasuk yang pada akhirnya tidak masuk surga. Jangan-jangan apa yang kulakukan selama ini walaupun dengan kecintaan dan kesungguhan dan penuh perjuangan adalah hal sia-sia.

Sejak itu, aku mulai tertarik dengan Islam dan menjadikannya alternatif pengganti agamaku. Aku mulai bekerja di luar kota Yogyakarta di sebuah Puskesmas di Banjarnegara. Sendirian… tanpa sanak saudara ataupun teman dekat dan sahabat yang dapat kuajak diskusi tentang Islam. Aku belajar tentang Islam dari pengajian-pengajian masjid di desa yang terdengar dari pengeras suara atau acara desa dan kecamatan yang biasanya terdapat sentilan tentang ajaran Islam. Dan tentu saja tak ketinggalan, aku belajar dari diskusi yang sangat sangat banyak dengan A.

Sampai pada akhirnya, A menawarkanku untuk masuk Islam, dan akupun menyetujuinya walaupun tidak langsung melaksanakannya. Aku masih terus berdiskusi, belajar dan berpikir sehingga aku benar-benar merasa yakin dan mantap untuk memeluk agama Islam. Dan ketika keyakinan ini bertambah kuat, aku merasa ada kebutuhan mendesak yang harus kulakukan, yaitu aktifitas menyembah Allah. Rasanya keyakinanku akan sia-sia dan terasa hampa jika tidak ada aktifitas ibadah yang harus aku lakukan untuk menyembah Allah. Namun, aku sama sekali belum bisa cara beribadah yang ada pada Islam.

Dengan melihat orang sholat di televisi dan memperhatikan teman sholat, akhirnya aku berusaha meniru gerakan sholat. Tentu saja segala sesuatunya masih kacau saat itu. Dengan hanya memakai piyama tidur (tanpa tahu ada aturan harus menutup seluruh aurat saat shalat) menggelar selimut untuk dijadikan sajadah, dan berdiri tidak mengetahui harus menghadap kemana, aku sholat. Ya! Aku sholat! Hanya dengan tiga kalimat yang aku ketahui, bismillahirrahmanirrahim, allahu akbar, dan alhamdulillah dan dengan gerakan yang tanpa urutan dan aturan. Rasanya melegakan karena aku melepaskan keinginan untuk menyembah satu Ilah dan hanya Ilah inilah yang harus aku sembah. Aku lakukan ini berkali-kali tanpa diketahui oleh siapapun. Aku masih belum mengetahui tentang pembagian sholat yang lima waktu. Aku masih sendirian saat itu, menjadi kepala Puskesmas, dan aku pun masih merahasiakan statusku dari siapapun termasuk staf di kantor bahkan Si A tidak tahu kalau aku melakukan sholat karena aku masih malu, takut dan masih menutup diri. Sehingga tidak ada seorangpun yang dapat mengajariku.

Sampailah waktunya…
Aku dan A memberanikan diri datang kepada orangtuaku. Di situ, A mengutarakan keinginanku untuk memeluk agama Islam kepada orangtuaku. Dapat dibayangkan apa yang terjadi. Kekagetan luar biasa, marah, tidak percaya mengelegak keluar. Orangtua memintaku mengutarakan sendiri hal tersebut, dan aku pun mengatakan hal yang sama, “Aku ingin masuk Islam.” Mereka tetap tidak percaya dan memintaku memikirkannya kembali. Aku kembali ke Banjarnegara dan A juga kembali ke Jakarta tempat ia bekerja.

Beberapa waktu kemudian, Bapak, Ibu dan adikku menemuiku di Banjarnegara. Menanyakan kembali keputusan akhirku. Saat itu, aku meminta A menemaniku, karena aku dalam kondisi sangat takut dan kalut. Jawabanku pun tetap sama, “Aku ingin masuk Islam.”

Betapa orangtuaku marah mendengarnya. Sebuah kemarahan yang aku belum pernah menyaksikan sebelumnya. Ibu berkata, “APA KAMU SANGGUP MENGHIANATI YESUS!!! TEGANYA ENGKAU DENGAN YESUS!!!”

Rasanya hatiku teriris mendengar teriakan marah dan kekecewaan yang luar biasa dari kedua orangtuaku tersebut. Aku pun memahami jika akan seperti ini, karena seluruh keluarga besar beragama Kristen dan hampir seluruhnya adalah aktivis-aktivis gereja, sering berkhotbah di gereja. Tidak ada satupun yang beragama lain. Dan… aku yang diperkirakan juga akan mengabdi dengan sesungguhnya pada agama Kristen ternyata menjadi orang pertama yang masuk ke agama Islam. Tentu ini hal yang sangat berat terutama untuk kedua orangtuaku. Anggapan-anggapan negatif baik dari pihak keluarga, jemaat gereja, keluarga besar lainnya tentu akan datang bertubi-tubi menekan mereka. Dengan keputusanku yang tidak berubah ini, akhirnya hubunganku dengan keluarga menjadi agak renggang.

Derai air mata sejak itu masih terus mengalir. Aku sempat ragu ketika mengingat perkataan ibuku,

“Sanggupkah engkau mengkhianati Yesus.”
“Tegakah pada Tuhan Yesus.”

Pikiranku terus berkecamuk, ‘Benarkah itu? Benarkah aku harus menyembah Yesus? Benarkah jika aku memeluk Islam, Yesus akan marah?’ Berkutat pada kebimbangan antara perkataan orangtuaku dan apa yang telah kupelajari dalam Islam. Dalam puncak kebingunganku, aku bermimpi…

Aku hendak pergi tidur. Tiba-tiba… terdengar ketukan dari jendela kayu yang bersebelahan dengan tempat tidurku. Kubuka jendela tersebut dan aku kaget karena ternyata di depanku ada sesosok Yesus (wajahnya memang tidak jelas, namun berjubah dan dalam mimpi itu aku dipahamkan bahwa itu adalah Yesus). Sosok itu tidak berbicara apa-apa namun tampak seperti tersenyum, tidak marah dan mengulurkan tangannya (seperti) hendak menyalamiku. Sosok tersebut tidak berbicara namun aku dipahamkan bahwa maksud beliau adalah mengucapkan selamat kepadaku. Setelah itu sosok tersebut berlalu.

Aku pun terbangun dalam keadaan bingung dan takut. ‘Apa maksud mimpi ini?’ pikirku. Apakah ini suatu tanda bahwa pilihanku benar.

Waktupun berlalu dan aku semakin mengokohkan keputusanku untuk memeluk agama Islam. A yang hampir selalu hadir dalam perjalananku menggapai hidayah Islam ini akhirnya melamarku. Alhamdulillah…akhirnya orangtuaku pun mengizinkan kami menikah. Hubungan kami dengan keluargaku sudah baik kembali sampai saat ini. Kami menikah dengan wali dari KUA. Rasa haru dan bahagia menyelimutiku saat itu. Setelah menikah, aku langsung minta dibelikan mukena dan minta diajarkan shalat. Dan A terus mendampingiku dan mengajarkanku shalat lima waktu. Sampai aku telah dapat melakukan shalat sendiri, A baru bisa menjalankan kewajibannya untuk shalat di masjid.

Perjalananku dalam memahami Islam tentu saja tidak berhenti sampai di situ. Setelah lima tahun sejak aku masuk ke dalam agama Islam, aku melanjutkan studi S2 di FK UGM, jurusan Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis (minat Histologi dan Biologi Sel) dan aku seperti tersentak untuk kedua kalinya. Aku baru menyadari dan memahami betapa Allah mengatur segala sistem dalam tubuh kita dengan begitu rapi, canggih, teratur, beralasan dan sempurna sampai ke tahap molekuler, tanpa kita sadari. Aku banyak termenung saat menyadari hal itu, namun juga menjadikanku banyak bertanya kepada dosen pakar saat itu. Subhanallah, Dia-lah pencipta, pengatur, pemelihara yang sedemikian rupa rumitnya. Dan tidak mungkin semua itu berjalan, berproses dan bermekanisme dengan sendirinya. Mulai saat itulah aku lebih terpacu lagi untuk belajar dengan membaca dan memahami Al-Qur’an.

Dan proses belajar itu terus berlangsung sampai sekarang. Dahulu aku telah mengetahui bahwa Allah-lah, Ilah yang disembah dalam agama Islam. Namun, perlu waktu bertahun-tahun untuk aku memahami bahwa hanya Allah-lah Ilah yang BERHAK untuk disembah. Dan pemahaman ini ternyata suatu perkembangan, semakin kita belajar mengenal Rabb kita, insya Allah semakin bertambahlah pemahaman dan ketauhidan kita, dan akan semakin sadar bahwa masih banyak sekali hal yang tidak kita ketahui. Dari proses pembelajaran inilah aku semakin memahami siapakah Allah yang selama ini aku sembah, mengapa hanya Allah yang harus aku sembah. Kini aku sedikit lebih paham (karena masih banyak hal yang belum aku pahami), tentang kekuatan rububiyah Allah (sebagai pencipta, yang berkuasa) yang melazimkan bahwa hanya Dia-lah yang berhak disembah dan mengapa aku tidak boleh mempersekutukan-Nya karena jika aku melakukan kesyirikan maka ia akan menjadi dosa yang tak terampuni (jika tidak bertaubat).

Saudariku… agama Islam terlalu tinggi, canggih dan terlalu sempurna, dengan konsepnya yang sangat jelas, sehingga agama-agama lain menjadi sangat lemah untuk menjadi pembandingnya, termasuk agama Kristen yang aku anut dahulu.

***

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
127 1 0 0 0 2
In this article

Ada pertanyaan?

67 comments

  1.    Reply

    dengan nama ALLAH yg maha Sempurna…

    ketahuilah oleh mu… sesunguhnya mulai dari Adam Alaihi Salam hinga Muhammad Rasulullah Saw..Semua kitab dan Agama yg Allah turunkan Adalah TAUHID..

    ketahui oleh mu ” sesunguhnya Allah dan malaikatnya Bersalawat Untuk nabi Muhammad Saw,” maka bersalawat oleh mu sebanyak banyaknya..Hinga Allah mengekalkan Iman mu dengan islam.sebutlah ALLAH dengan hati mu dalam setiap nafas mu.

    lihatlah rasia apa yang akan dapat oleh mu dari ALLAH subehanaulah huwata a`lla

    tiada tuhan melainkan ALLAH yg patut dan yang hak di sembah.

  2.    Reply

    Subhanallah … alhamdulillah beliau dapat hidayah dari Allah sudah dibukaakna pintu hatinya sama Allah untuk mempelajari ajaran Islam, semoga tetap teguh pendiriannya dengan agama yang benar ini.

  3.    Reply

    Ana minta ijin copas ya,syukron…

  4.    Reply

    Subhanallah

  5.    Reply

    subhanallah, akhirnya kamu kembali ke jalan yang lurus, ini sesuai dengan yang kita ucapkan dahulu, seperti yang DIA rekam di kitab-Nya, tepatnya di ayat 172 surah Al A’Raaf

  6.    Reply

    subhanalloh….

  7.    Reply

    Alhamdulillah semoga leb ih banyak lagi yang masuk agama islam amin

  8.    Reply

    Alhamdulillah semoga lebih banyak lagi yang masuk islam setelah membaca cerita tersebut amin.

  9.    Reply

    subhanallah…kisah ini bener2 menyentuh batin ku…..dan Allah hanya akan memberikan hidayah Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki….

  10.    Reply

    Subhanallaah… subhanallaah… subhanallaah…

    Salam ukhuwah ukhti Erlina. ana juga adalah seseorang yang mendapatkan hidayah melalui suami ana. tetapi ana sudah memeluk agama islam sejak lahir, keluarga ana juga semuanya islam. hanya saja dulu ana selalu mementingkan urusan duniawi, hingga melalaikan urusan agama.

    alhamdulillaah… Allah telah menunjukkan jalan yg benar. betapa manisnya hidayah ini, dan betapa indahnya islam.

    barokallahu fiikum.

  11.    Reply

    barokalloh fiik.

  12.    Reply

    Alhamdulillah… puji syukur kehadirat illahi robbi yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya serta inayahnya kepada penulis artikel ini… sungguh artikel ini sangat dahsyat… dan menyentuh hati.. dan membuat ku bertambah keimanan ku.. kepada allah swt. amiin..

  13.    Reply

    Subhanallah, saya tidak dapa t berkata apa2 hanya bisa memujiNya,, Subhanallah,,,,

  14.    Reply

    subhaanalloh…keep istiqomah ya ukhtifillah..

  15.    Reply

    Subhanallah.. Walhamdulillah..
    Semoga Allah ‘Azza wa Jalla mewafatkan kita semua di atas Manhaj yang Lurus.. Amiin.

  16.    Reply

    Subhanallah.. Syukran ukhty. . . Hati trharu dan airmata metes mmbca artikel ini. Sungguh luar biasa hidayah yg Allah brikan kpd hamb” yg di sayangi-Nya.trmsuk ukhty

  17.    Reply

    subhanallah… Allahu Akbar..

  18.    Reply

    sungguh terharu saya menelusuri kisah ini,,,alhamdulillah ternyata hidayah-Nya masih terus turun kepada hamba-Nya yang dikehendaki,,,mudah – mudahan kita semua termasuk orang-orang yang tetap lurus berada di jalan-Nya

  19.    Reply

    tahniah dan syabas!! Alhamdulilah saudari tlh dpt mengatasi segala kesulitan dlm memilih Islam sbagai agama yang Benar…semoga saudari terus berusaha dlm mempelajari agama Islam krn dengan Islamlah diri kita akan tenang dan insyaAllah akan digolongkan bersama org2 yang soleh

  20.    Reply

    subhanallah…semoga Allah SWT selalu memberikan hidayahnya kepada kita semua.. aminn ya Rabb

  21.    Reply

    SubhanAllah..MasyaAllah.. Allah lah maha pembolak- balik hati2 manusia. Semoga anti selalu diberi keistiqomahan dalam hati anti. Selalu berdoa kepada Alloh untuk keteguhan dan keistiqomahan iman dalam hati ya ukhti.

  22.    Reply

    zubhanalloh..Aq sampai merinding mmbaca kisah mba’, sungguh bgtu menharukan.. Tetap istikomah yah mba’ .
    Salam Ukhuwah selalu .

  23.    Reply

    Zubhanalloh . . Aq sampai merinding membaca kisah mba’, sungguh.. Kisah yg luar biasa dn salut dengan pilihan mba’ inilah pilihan yg sesungguhnx, tetap istikhomah ya mba’ . Semoga Allah SWT meridhoi stiap langkah kita . Amin
    Salam Ukhwah slalu .

  24.    Reply

    Subhanallah….jeng Er, baru sekarang aku tahu yang sedetailnya. Bersyukurlah selalu karena hidayah-Nya kepada jeng, sehingga jeng Er mendapatkan nikmatnya ber-Islam. Salut dengan segala “perjuangan” jeng untuk mendapatkan nikmat ini, dan menambah keimanan di hati. Semoga kita selalu dalam bimbingan-Nya, mendapatkan petunjuk-Nya, mendapatkan kejelasan bahwa yg tampak benar itu memang benar2 benar dan kita diberikan kekuatan dan kemudahan utk mengikutinya, dan yg salah tampak salah dan kita diberikan kekuatan utk menghindari dan meninggalkannya…..Amien.

  25.    Reply

    Ass.wr.wb, Subhanalloh, ukhti termsk slh seorang manusia pilihan,amin.

  26.    Reply

    …………….
    “apakah akan Kami biarkan kamu berkata beriman kepada Kami sedangkan tidak Kami ujian ke atasmu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui mana yang benar dan mana yang dusta”….
    SELAMAT yah,,, INSYAALLAH UKHTI salah satu yang mendapat Shafaat di hari akhir… amien

  27.    Reply

    Subhanallah…air mata mengalir tak tertahankan..
    Semoga Allah selalu memberikan hidayah-Nya pada kita semua.

  28.    Reply

    Subhanallah hidayah telah menyentuh jiwa anda semoga Allah membangunkan istana disisi surga untuk anda dan keluarga. amin…

  29.    Reply

    Barokallohu fiikum,
    Saya gak bisa ngomong apapun. Saya cuma bisa berucap Alhamdulillah anti telah mendapatkan hidayah-Nya.

  30.    Reply

    Alhamdulillah…
    saudariku, anda adalah salah satu wanita yang di pilih oleh Allah.
    salah satu wanita yang di sayang Allah
    anda masih diberi hidayah oleh-Nya. di luar sana, masih banyak wanita2 dan lelaki2 yang dibiarkan Allah berkehendak sesuai kemauannya, mengikuti jalan syaithon dan akhirnya di campakkan dalam neraka.
    besyukurlah anda, sebab alhamdulillah kita termasuk hamba-hamba yang dipilihnya, di beri hidayah. :’)
    mendengar cerita anda, saya sangat terharu. dan merinding.
    semoga kita tetap dijaga oleh Allah, iman kita, dsb. amin..

  31.    Reply

    subhanallah, memang hidayah itu mahal, maka yang mendapatkannya, hendaklah untuk mempertahankannya.

  32.    Reply

    assalamu’alaikum,,,,
    subhanallah….syukur billisan bahwasanya Allah SWT tlah memilih ukhti sebgai orang yang sangat disayangi-Nya…..

  33.    Reply

    Subhanallah…,
    Erlina, belasan tahun kita tidak pernah berjumpa. Saya tahu betul siapa Erlina dulu, seorang kristiani yang betul2 taat kepada agamanya. Saat ini saya sgt terharu, gembira dan entah perasaan yang tak bisa terungkapkan dalam kata2 karena sahabatku telah mendapat hidayahNya, dibukakan matahatinya dalam menggapai kebenaran. Sahabatku, setelah membaca tulisanmu aku merasa semakin tebal dengan keimanan Islamku. Terimakasih sahabatku, semoga engkau tetap istiqomah.

  34.    Reply

    Subhanallaah……alhamdulillah ya Allah….siiiip artikelnya sobatku…

  35.    Reply

    Erlin perjuangan yang sungguh hebat, semoga kisahmu ini bisa membantu mereka yang sedang dalam proses pencarian.

  36.    Reply

    Alhamdulillah erlina, sungguh aku terharu membaca tulisanmu, ternyata Allah sangat sayang padamu, hingga menunjukkan jalan yang sebenarnya untuk menuju kebahagiaan di akhirat, Mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan rahmatNya kepadamu

  37.    Reply

    Subhanallah, btp tersentuh ny hati mmbaca artikel tersebut..
    semoga kita semua para muslimah berada dalam lindungan Allah,,
    Amiiiin…………

    dan saya merasa lebih semangat untuk mengetahui lebih dalam lagi mengenai agama Islam yang saya anut.

    terima kasih artikel ny..!!!!

  38.    Reply

    Subhanallah.
    Kisah yang sanggup menggetarkan hati dan membuat malu pemeluk Islam turunan, yang sejak kecil telah Islam namun tak paham.Moga Allah menetapkan hidayah Islam kita semua.

  39.    Reply

    kisah menggapai hidayah yang mengharukan,
    dan harapan kita semoga kita semua dapat istiqamah di atas agama yang haq ini sampai ajal menjemput kita

  40.    Reply

    izin share ke teman2 ya, ukhti..
    jazakillah khoiron..

  41.    Reply

    Assalamu’alaikum warrohmatullahiwabarokatuh
    subhanalloh….smoga artikel ini mnjadi motivator utk kita agar trus mentauhidkan islam, mngakarkan islam dalam hidup kta….
    mncintai Alloh sbg Rabb yg memiliki Arsy…
    menanamkan dan menumbuhkan islam agar trpatri dalam generasi kita slanjutnya, agar menciptakan generasi yg Rabbani…
    jazakallah

  42.    Reply

    Syukron sdh brbagi cerita…
    HidayahNya bisa dtg kpn saja dan kepada siapa saja yg dikehendakiNya…

  43.    Reply

    Subhanallah..semoga anti selalu istiqomah dan semoga anti juga sudah berada diatas Qur’an & sunnah sesuai dengan pemahaman sahabat.

  44.    Reply

    subhanallah..
    baguz bgt artikelnya..
    membuat saya merasa bangga akan keimanan islam saya..
    syukron bwt yg nulis artikel dan mw berbagi ceritanya..
    semoga bermanfaat untuk semua..
    AMIN Ya Rabb

  45.    Reply

    Subhanallah..saya salut dengan ukhti. Semoga tetap istiqamah di agama yang lurus ini.

  46.    Reply

    Bismillah..
    subhanallah… berdesir hati ini membaca kisah ukhty..
    Semoga dapat istiqomah di jalan Allah..
    Barakallah

  47.    Reply

    yang kubaca ini cukup mengejutkankau ternyata islam itu banyak juga yang orang menyanjungnya dimana hanya tuhan kita allah lah yang kita sembah

  48.    Reply

    subhanalloh. . T_T

  49.    Reply

    Subhanallahu…
    Saya terharu membacanya…

  50.    Reply

    Subhanallah… Suatu rangkaian peristiwa ‘convert’ seorang manusia yang sangat indah. Mudah-mudahan banyak lagi pintu hidayah yang dibukakan Allah kepada hamba-Nya. Sejauh mana pun kedalaman ilmu kita tentang suatu agama, Islam tetap memberikan yang terbaik untuk kehidupan manusia dalam mengenal Ilah yang sebenarnya.