Baby Blues Syndrome

Abi pusing tujuh keliling dengan perubahan sikap istrinya, Ummi, setelah kelahiran putra kedua mereka. Sikap Ummi yang dulu penyabar menghadapi anak, menjadi mudah marah dan gampang tersinggung. Bahkan Abi sering menghadapi sang Istri menangis dan tidak bisa tidur di malam hari. Tentu saja semua ini membuat keluarga kecil yang biasanya ceria menjadi muram.


Apa yang dialami Ummi adalah suatu kondisi umum yang dialami oleh ibu melahirkan dan hampir mengenai 50% ibu baru. Seringkali perasaan gembira karena hadirnya seorang anak juga disertai dengan perasaan sedih, cemas, dan kaget silih berganti, sehingga menimbulkan kelelahan secara psikis bagi sang ibu. Gejala tersebut dikenal dengan baby blues syndrome atau stress pasca persalinan, yaitu salah satu bentuk depresi yang sangat ringan yang biasanya terjadi dalam 14 hari pertama setelah melahirkan dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau keempat pasca persalinan.

Penyebab Baby Blues Syndrome
Beberapa hal yang disebutkan sebagai penyebab terjadinya baby blues syndrome, diantaranya:

  1. Perubahan hormonal. Pasca melahirkan terjadi penurunan kadar estrogen dan progesterone yang drastis, dan juga disertai penurunan kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang menyebabkan mudah lelah, penurunan mood, dan perasaan tertekan.
  2. Fisik. Hadirnya si kecil dalam keluarga menyebabkan pula perubahan ritme kehidupan sosial dalam keluarga, terutama ibu. Mengasuh si kecil sepanjang siang dan malam sangat menguras energi ibu, menyebabkan berkurangnya waktu istirahat, sehingga terjadi penurunan ketahanan dalam menghadapi masalah.
  3. Psikis. Kecemasan terhadap berbagai hal, seperti ketidakmampuan dalam mengurus si kecil, ketidak mampuan mengatasi dalam berbagai permasalahan, rasa tidak percaya diri karena perubahan bentuk tubuh dari sebelum hamil serta kurangnya perhatian keluarga terutama suami ikut mempengaruhi terjadinya depresi.
  4. Sosial. Perubahan gaya hidup dengan peran sebagai ibu baru butuh adaptasi. Rasa keterikatan yang sangat pada si kecil dan rasa dijauhi oleh lingkungan juga berperan dalam depresi.

Gejala
Gejala biasanya bervariasi dari derajat ringan hingga berat. Adapun gejala yang biasanya muncul antara lain:

  1. Perasaan cemas yang berlebihan, sedih, murung, dan sering menangis.
  2. Seringkali merasa kelelahan dan sakit kepala.
  3. Perasaan ketidakmampuan, misalnya dalam mengurus si kecil.

Seringkali  ibu yang pada awalnya mengalami baby blues syndrome kemudian berkembang menjadi lebih lama dan lebih berat intensitasnya. Apabila gejala yang terjadi telah mengganggu dalam melaksanakan tugas sehari-hari maka termasuk dalam kategori depresi pasca melahirkan, biasanya lebih sering terjadi pada wanita dengan riwayat depresi sebelumnya. Depresi pasca melahirkan disertai dengan tanda-tanda:

  1. Kelelahan yang berkepanjangan, susah tidur, dan insomnia.
  2. Hilangnya perasaan bahagia dan minat untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan.
  3. Tidak memperhatikan diri sendiri dan menarik diri dari keluarga dan teman.
  4. Tidak memperhatikan atau bahkan perhatian yang berlebihan pada si kecil.
  5. Perasaan takut telah menyakiti si kecil.
  6. Tidak tertarik pada seks.
  7. Perasaan berubah-ubah dengan ekstrim, terganggu proses berpikir dan konsentrasi.

Cara mengatasi Baby Blus Syndrome
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan, antara lain:

  1. Selalu berdoa kepada Allah agar diberi taufik dan kemudahan dalam menjalankan kewajiban kita sebagai seorang ibu.
  2. Tanamkan pada diri untuk selalu bersikap ikhlas dan tulus berperan sebagi ibu baru. Ingatlah balasan yang akan kita dapat di akhirat kelak!
  3. Belajar bersikap tenang dengan mengambil nafas panjang dan fleksibel dalam mengurus si kecil.
  4. Tidurlah ketika si kecil tidur.
  5. Komunikasikan rasa cemas yang dialami dengan pasangan, saudara atau teman dekat.
  6. Luangkan waktu untuk diri sendiri, meski hanya 15 menit untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan, seperti mendengarkan murotal, baca buku, atau olah raga ringan.
  7. Ibu tidak diharapkan menjadi ‘super mama’, jadi berlaku jujurlah pada diri sendiri maupun orang lain sejauh mana kita dapat melakukan sesuai kemampuan dan minta bantuan orang lain.
  8. Biarkan pasangan atau keluarga membantu dalam urusan rumah tangga dan mengurus si kecil.
  9. Bergabung dan berbagi cerita dengan ibu-ibu baru.
  10. Baby blues bukanlah hal yang memalukan, jadi jangan ragu untuk mengkomunikasikan dengan orang terdekat.

Agar baby blues syndrome dapat diminimalisir maka yang pertama harus dipersiapkan oleh sebuah keluarga yang akan menginginkan seorang anak adalah kehamilan yang terencana yang didukung oleh kesiapan mental, financial, dan sosial dari ayah dan ibu. Persiapkan pula pengetahuan dasar calon ayah dan calon ibu tentang kehamilan, proses melahirkan, sampai dengan cara merawat si kecil. Sebaiknya diskusikan juga tentang pembagian kerja anata ibu dan ayah pada saat kehamilan hingga si kecil dilaharkan sehingga ibu mempunyai waktu yang cukup untuk beristirahat. Jika diperlukan pertimbangkan pula untuk mempunyai asisten dalam membantu mengurus rumah tangga.

Disusun ulang oleh Ummu Muhammad dengan  sedikit perubahan dari Majalah Natura, Media Cerdas untuk Sehat

***

Artikel muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

50 Comments

  1. anne says:

    ooo gthu tho,,,ijin copas

  2. abu khansa says:

    sebagai suami, apa yg harus dilakukan bila istri saya sepertinya mengalami baby blues syndrome? Karena hal ini benar2 menguji kesabaran saya sebagai suami dan membuat suasana rumah bukannya bahagia dgn kehadiran si kecil tetapi menjadi penuh ketegangan.
    Mohon didoakan juga agar istri saya diberi hidayah dan saya diberi kesabaran.

  3. Whyna says:

    Assalamualaikum wr wb ,terima kasih info nya ,

  4. abu mundzir says:

    Salam ‘alaik abu khansa. Allah bersama orang-orang yang sabar dan sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan Insya Allah. Alhamdulillah sesungguhnya akhi mengambil berat tentang isteri akhi. Bukankah isteri senang pada kelemah-lembutan dan pujian. Sembilan bulan isteri kita berpenat lelah menjaga kandungannya dengan penuh kasih-sayang dan kemuncaknya melahirkan zuriat kita. Apalah kiranya kita bersabar waktu isteri berada dalam keadaan ‘baby blues’ berilah isteri perhatian dan kata-kata pujian agar isteri rasa dicintai. Sesungguhnya apabila isteri akhi rasa disayangi dan akhi memahami kebimbangnya maka Insya Allah semua perkara boleh diatasi. Menyiapkan secawan kopi untuk isteri dan memujinya tentang kepandaiannya mengurus rumahtangga walaupun pada hakikat tidak sebaik sebelum melahirkan akan tetapi hargailah kepenatannya berusaha. Kalau akhi sedang bertugas sms kata-kata cinta untuk isteri. Seringkali kita suami lupa untuk mengucapkan Jazakillahu khairan katsiran untuk isteri yang bertugas 24 jam di rumah. Ana doakan semoga ‘baby blues’ isteri akhi berlalu dengannya akhi dan isteri akan bertambah bahagia. Amin.

  5. Ummu hindun says:

    Bismillah, admin.. Ana pingin deh isi artikel di web ini.. Apakah harus anggota YPIA? sdangkan ana bukan.. Bagaimana? Apa bisa?

  6. amir says:

    syukron ya…

    wah, ana nambah ilmu baru nih buat si dia nanti -insya Allah…hehe

    jazaakillaah khaira

  7. Wahyu Fahmy says:

    Izin copas yah…. Artikel yang bermanfaat…

  8. Nining Nurhayati says:

    Assalamualaikum, ana sudah setahun mengalami baby blues syndrome dan sekarang ana mengkonsumsi obat anti depresan dan obat anti cemas. Selain itu ana juga selalu berusaha mendekatkan diri padaNYA, meminta kekuatan dan kesabaran dalam menjalani baby blues sydrome ini. Mohon dukungannya dan doa dari rekan2 sekalian. Terima kasih, wassalam…..

  9. ummu masyitah says:

    assalamualaikum buat saudara abu khansa,semoga Allah memberkahimu di atas ketanggungjawaban saudara.saya di sini ingin berterus terang bahawa saya pernah alami sindrome ini hinggakan hampir menjadi orang gila dan benci dengar Quran padahal Quran lah sahabat saya kala saya hamilkan anak sulong.Syukur Alhamdulillah suami banyk memberi sokongan dan tak putus munajat padaNya. Saya tidak pandai bercerita.Hanya Allah maha mengetahui kehidupan kami dan tunggang langgang hidup kami waktu itu. Tetapi yakinlah,Alllah bersama doa para hambaNya.Allah dekat dengan kita dan Allah maha Baik.Janji Allah maha benar

  10. assalamu’alaikum..ana juga pernah mengalaminya. waktu itu ana malah kurang perduli sama anak ana. tapi seketika itu juga jadi merasa bersalah, sampai nangis2, dan berpikir kalau ana itu bukan ibu yang baik. tapi kalau anak ana rewel lagi ana jadi sebel. pokonya waktu itu ana berasa seperti orang lain. kayak orang stress.. kadang bahagia liat bayi ana, kadang merasa sebel..masyaAllah.. semoga nanti ketika ana melahirkan anak kedua ana tidak mengalaminya, atau minimal tidak separah itu.

  11. irinne says:

    betul, betul, betul
    kehamilan memang seharusnya terencana serta didukung oleh kesiapan mental, financial, dan sosial dari ayah dan ibu.
    dan jangan lupa tingkatkan terus keimanan kita semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang soleh. amin.

  12. Ummu syifa says:

    Selain dgn cara2 yang sdh dsebutkan di atas, mungkin bs dicoba jg dengan memperbanyak konsumsi kurma. Krn di dlm kurma bnyk mengandung triptofan dan omega 3 yang berperan dalam meningkatkan kadar serotonin dalam tubuh. Serotonin yg rendah pasca melahirkan bperan penting dlm timbulnya baby blues syndrome (post partum depression).
    Semoga bermanfaat.

  13. Assalamu’alaykum..

    Saya ijin copas ya…Syukron

  14. fahrian says:

    assalamualaikum. saya sedang skripsi yang berhubungan dengan baby blues (sedang dikejar deadline sekarang). sedang kesulitan dengan subjek? ada yang berkenan untuk diteliti? kalo berkenan mohon reply ke email saya fama149218@gmail.com. nanti saya akan mengirimkan quisionernya. terima kasih banyak sebelumnya

  15. ega says:

    assalamu’alaikum wr.wb.
    Artikel yg bgs, kelg. trutama suami memang sgt diperlukan sbg support system utk ibu,tdk hnya pd masa fase awal dlm childbearing tp bksinambungan, jazakillah khoir atas ilmunya..

  16. abu affaan al fahrisy says:

    Assalamu’alaikum…akhti..salam ta’aruf…Barokallohufiik…ana ikhwan yang bisa dikatakan baru mengenal manhaj salaf assholih.., Ana bersyukur bisa menemukan sites antum…dan banyak pelajaran dan hikmah yang ana ambil darinya.., apakah dalam pengisian kolom artikel downloadnya selalu baru dan bertambah…kerna ana masih sangat banyak menimba ilmu ttng dienul Islam yang haq…Jazakalloh…

  17. Siti Rohana says:

    terima kasih artikelnya
    salam kenal,
    Siti Rohana

  18. rina paridayanti says:

    pasca melahirkan anak kelima mungkinkah bisa mengalami syndrom baby blues ? pasca melahirkan anak ke 5 emosi sy ga stabil ,kl ada mslh sedikit sj bawaannya pengen nangis terus.merasa minder dan ga pede .merasa lebih kurang bila dibandingkan dgn wanita lain.sebenarnya sebelum melahirkan sudah ada rasa takut yg berlebih ,takut susah melahirkan ,takut penyakit kambuh dll.. mohon saran dari teman2 terima kasih.

  19. marni says:

    ana mau donk kopas biar lebih pede jadi umi2…..boleh ya…syukron jiddan

  20. reni yunita says:

    mksh,stlh baca jd sdikit tao cara ngatasi baby blus syndrm.mang nyiksa bngt klo ngalamin ni smua,skrg pun aku sdng alami

  21. muthe says:

    bnr bgt…wkt hamil saya smpt baca artikel “baby blues”,saya pikir saya bisa utk tidak begitu tp trnyt saya mengalaminya juga..

  22. @ Nining Nurhayati
    Ana doakan semoga ukhty Nining bisa segera sembuh dan tidak lagi mengonsumsi obat anti depresan. Sekedar meluruskan, apa yang ukhty Nining alami sudah tidak bisa dikategorikan sebagai baby blues melainkan sudah masuk pada depresi pasca persalinan. Hal ini mengingat, lamanya yang sudah 1 tahun dan juga sampai harus mengonsumsi obat anti depresan.
    Perlu diketahui bahwa depresi setelah persalinan adalah suatu depresi yang ditemukan pada perempuan setelah melahirkan, yang terjadi dalam kurun waktu 4 pekan. Hal ini dapat berlangsung hingga beberapa bulan bahkan beberapa tahun bila tidak diatasi. Sedangkan baby blues merupakan jenis depresi yang lebih ringan pada ibu setelah melahirkan, biasanya dialami oleh perempuan setelah melahirkan antara hari ke-7 hingga 14, yang terjadi untuk sementara waktu dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.

    @ Abu Syifa

    Ketika antum menyadari bahwa sepertinya istri antum mengalami baby blues syndrome, itu sudah menunjukkan bahwa antum memperhatikan kondisi istri antum. Karena tidak sedikit suami yang tidak memahami bahkan marah dengan kondisi istri, sehingga makin memperburuk kondisi kejiwaan istri. Satu hal yang bisa antum lakukan adalah dengan memberinya dukungan. Bahkan, hal ini sudah diteliti oleh Alfiben dkk di RSCM Jakarta, yang melaporkan bahwa dukungan suami dapat menurunkan terjadinya depresi pasca persalinan. Tentu saja bentuk dukungan yang bisa antum lakukan sangatlah banyak dan disesuaikan dengan kondisi istri. Jika istri sepertinya kecapekan, antum bisa menawarkan untuk memijitnya, dan menggantikannya menggendong dan merawat bayi. Jangan hanya menyaksikan istri memandikan bayi, tapi bantulah mengambilkan pakaian bayi atau menyiapkan peralatan mandinya. Selain membantu meringankan pekerjaan fisik istri, antum juga bisa menghiburnya dengan hadiah yang tentunya diharapkan bisa bermanfaat, misalnya buku tentang mengasuh anak atau tentang pendidikan anak. Karena dari penjelasan antum, sepertinya ini merupakan pengalaman pertama memiliki anak, sehingga sangat wajar jika istri belum berpengalaman mengurus bayi dan kemudian menimbulkan kekhawatiran tersendiri dalam diri istri. Selain usaha tersebut di atas, jangan lupa untuk selalu berdoa dan tawakal. Semoga apa yang dialami oleh istri antum bisa segera berlalu.

    @ Rina Paridayanti
    Seseorang bisa mengalami baby blues syndrom pada kelahiran yang keberapapun. Emosi tidak stabil yang anti alami setelah kelahiran anak kelima sangat mungkin merupakan gejala baby blues. Jika pada kelahiran anak pertama, mungkin lebih banyak karena faktor belum siap atau belum berpengalaman mempunyai anak. Maka pada anak yang kelima, seperti apa yang anti alami, kemungkinan besar lebih pada banyaknya beban pikiran anti. Seperti memikirkan semakin banyak anak yang harus diurus, makin banyak pengeluaran, makin repot, makin banyak pekerjaan rumah, dsb. Saran ana, bersyukurlah karena anti dikarunia banyak anak. Selanjutnya, anti kerjakan saja pekerjaan semampunya. Lakukan pekerjaan secara bertahap, tidak perlu sekaligus harus selesai, supaya anti tidak kecapekan. Tidak perlu pula menargetkan pekerjaan selesai dengan sempurna, tapi semampunya saja. InsyaAllah suami memahami kalau anti pastilah sangat repot mengurus anak-anak sehingga tidak lagi menuntut kondisi rumah harus bersih dan rapi. Jangan memaksakan diri, tapi mintalah bantuan pada suami. Biasakanlah anak-anak yang lebih tua untuk mandiri dan melakukan pekerjaan yang sekiranya mampu mereka lakukan, seperti misalnya membereskan mainan setelah selesai bermain, merapikan tempat tidur, dll. Sebenarnya, dengan memiliki banyak anak berarti makin banyak pula yang bisa membantu menjagakan bayi ketika anti ada keperluan seperti misalnya mau ke kamar mandi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan anak yang tertua sudah bisa diajari untuk merawat adik-adiknya (tentu saja disesuaikan dengan kemampuan mereka). Dengan memikirkan hal-hal positif karena banyaknya anak akan jauh lebih bermanfaat daripada memikirkan kerepotan yang akan anti alami. Selain itu, tetaplah percaya diri, tidak perlu merasa minder dengan kondisi anti yang mungkin secara usia sudah tidak muda lagi dan sudah berkali-kali melahirkan. Percayalah bahwa setiap perempuan memiliki kelebihan masing-masing. Dengan menjadi ibu yang baik bagi anak-anak anti insyaAllah sudah menjadi nilai tambah di mata suami dan anak-anak. Bahkan cinta seorang suami akan makin bertambah demi melihat pengorbanan seorang istri dalam merawat dan mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang. Buang jauh-jauh pikiran yang negatif dan banyak doa serta jangan lupakan tawakal pada Allah. Baarakallahu fiik

  23. ummi nya hasan says:

    ijin copas…
    jazaakumulahu khoiran…

  24. leia says:

    sy mau brtanya,sebelum mempunyai anak,sy wanita pekerja.sy seorang muslimah,tp sholat sy msh bolong2.Setelah melahirkan dan mengurus anak sendiri.sy malah jarang melakukan sholat,sy sendiri bingung?? sy capek,sy stres,pekerjaan sy tinggalkan,perekonomian jd turun,tidak bs bantu suami cari uang,bnyk hutang untuk biaya operasi caesar,pokoknya pikiran sy makin komplek aja semenjak ada si kecil.terkadang saya membenci anak saya itu,dan kadang sy jg menyalahkan ortu sy yg menyuruh2 sy buruan punya anak.sdgkan beliau tidak mau ngemong anak sy, BAgaimana solusinya?

    • @ Leila
      Semoga Allah memberi kesabaran kepada Anti dan memberikan keberkahan dalam keluarga Anti. Banyak2lah memohon petunjuk dan bimbingan kepada Allah, Dzat yang mengatur semua kehidupan makhluk-Nya dan dzat yang memberi rizki kepada siapa saja yang Dia kehendaki. teruslah memohon dan memohon kepada-Nya. Allahu yubarik fik.

  25. abu razan says:

    Assalamualaikum.Setelah saya baca artikel ini,saya jadi merasa bersalah dengan istri saya.Saat ini istri saya baru saja melahirkan anak kami yang kedua,sekarang mungkin dia terkena syndrome ini.Emosinya tidak stabil,dan saya tidak bisa berada disampingnya untuk membantu.Sekarang saya lagi tugas kerja ke luar negeri sampai 1tahun.Hanya Allah lah tempat hamba meminta pertolongan,semoga Allah memberikan keluarga kami rahmat dan hidayahNYA.
    Selain menghubungi lewat telpon dan sms,apa lagi yg bisa saya lakukan?saya merasa tidak berdaya…
    Terima kasih atas artikelnya,,,

  26. @ Abu Razan
    Wa’alaikumussalam. Kehadiran orang tercinta, terlebih suami, memang satu hal yang sangat penting bagi seorang istri setelah melahirkan. Namun jika qadarullah seorang suami terpisah jarak dari istrinya, maka hendaknya tetap memberikan perhatian dan dukungan penuh. Setiap telfon atau sms, maka jangan lupa menanyakan kabar istri dan anak. Berikan kata-kata positif yang menunjukkan dukungan antum terhadap aktivitas menyusui dan aktivitas mengurus bayi, karena pastilah istri antum sangat lelah seharian. Antum juga bisa mengiriminya artikel bermanfaat atau buku bacaan seputar menyusui dan merawat bayi. Dengarkanlah curahan hati istri dengan sabar, meskipun mungkin nampaknya sepele bagi antum. Jangan bosan untuk mengingatkan istri mengenai betapa besarnya balasan pahala bagi seorang ibu yang mengurus anaknya dengan ikhlas. Satu hal yang terpenting, jangan lupa untuk selalu mendo’akan kebaikan untuk istri dan anak. (dr. Avie Andriyani Ummu Shofiyyah)

  27. khusnul khotimah says:

    Saya mengalami baby blues ketika kelahiran anak ke2 karena banyaknya tugas yang harus saya selesaikan, antara lain mengasuh si Sulung yang masih berusia 2 th. Jarak kelahiran yang dekat membutuhkan perhatian extra untuk bisa adaptasi dengan anggota baru.

    Baby blues bisa saya atasi dengan melakukan rutinitas dengan ikhlas dan tidak berpikir ini tidak adil,aku repot suamiku enak-enakan. Apa yang bisa saya lakukan saya lakukan dengan sepenuh hati.

  28. nisa says:

    Ass. saya bukan ibu baru, anak saya sudah hampir 2 tahun, tp belakangan saya seperti mengalami baby blues. penyebabnya krn anak saya tidak mau makan sama sekali hanya mau minum susu, tidak bisa diam, dan di mata saya sepertinya nakal sekali. kadang saya suka marahi dia, tp kadang saya kasihan melihatnya kalau saya sedang marahi. di tambah masalah KB yg membuat saya stress krn badan saya sepertinya tambah mekar saja. gmn ya cara mengatasi stress akibat bermacam permasalahan tersebut? wass.

  29. ummu hamzah says:

    @ Bunda nisa :
    izinkan saya memberi sedikit masukan:
    Bunda, sebenarnya masalah ibu secara garis besar adalah 2 yaitu (maaf) badan ibu yang sedikit lbh gemuk dan ibu kurang suka thd hal tsb, dan yang kedua anak ibu yang akhir2 ini sukar makan. Kedua permasalahan tersebut bersumber terhadap pola pikiran ibu sendiri. Mungkin sebaiknya ibu berusaha rileks dulu, santai dulu, karena jika ibu terlalu memikirkan kedua masalah itu dalam-dalam, maka ibu akan sulit sendiri dalam mencari solusinya dan ibu sendiri yang akan repot.Selesaikanlah masalah mengenai badan yang membesar (misal:dg berfikiran positif thd badan yang membesar atau mungkin bisa mencari cara mengatasinya msl dg olahraga), baru kemudian menyelesaikan masalah kedua. Jika ibu terus-terus dalam kepenatan maka walhasil emosi yang akan keluar, marah-marah kepada anak. Padahal si anak sebenarnya butuh perhatian ekstra, kesabaran dan kelembutan untuk bisa menyelesaikan masalahnya (yaitu tdk mau makan). Nah jika ibunya saja uring-uringan, si anak malah jadi takut dan bisa jadi malah lebih membangkang terhadap perintah ibunya.mungkin itu bu sedikit sharing dari saya, maaf jika ada kata-kata kurang berkenan.

    wallahu a’lam.

  30. vina says:

    Assalamualaikum, saya seorang ibu dengan bayi berusia 3 bulan. Pasca melahirkan saya merasa kepribadian saya banyak berubah, sering marah thdp suami, dan kesal kpd mertua karena banyak mengatur rumah tangga saya. Apakah hal yang saya alami ini berpotensi baby blues?

  31. Istiqomah says:

    mohon ijin untuk copas semua artikel di muslimah.or.id
    Jazakumullah khairan

  32. lina agustin says:

    terima kasih banyak atas artikel nya, saat ini saya baru melahirkan 24 hari, dan dr tanda2 yg saya rasakan saya pikir saya mengalami baby blues, apalg saya sblm hamil memang ada riwayat gangguan panik, jd skrg bener2 saya mersa tersiksa, sering pusing,pandangan kabur, persaan sedih dan gelisah, badan lemes.pokokny gak enak banget. apa yg mesti saya lakukan ? saya bener2 pengen mendptkan penganan yg tepat, terima kasih sebelumnya.

  33. cyntara says:

    Addduuuhh …
    jadi deg2an nhe menanti kelahiran anak..
    aku kan tipe orang yang gampang cape…
    :'(

  34. #vina

    Wa’alaykumussalam. Setelah melahirkan, seorang ibu memang
    berpotensi mengalami baby blues syndrome. Namun perlu diketahui bahwa sifatnya hanya sementara wktu dan tidak lama/menetap. Untuk itu, perlu kiranya anti introspeksi dengan sikap anti yang mudah marah pada suami dan kesal pada mertua. Bisa jadi hal ini karena kurangnya komunikasi sehingga anti melampiaskan ketidakpuasan tersebut dengan marah-marah. Ada baiknya anti membicarakan masalah tersebut dgn suami supaya bisa dicari solusinya dan anti tidak berlarut-larut dalam perasaan marah/kesal pada orang-orang yang seharusnya anti sayangi dan hormati. (dr. Avie Andriyani)

  35. #lina agustin

    Jika keluhan baby blues yang anti alami sudah sangat mengganggu
    dan bahkan brpengaruh secara fisik (pandangan kabur,lemas), sebaiknya anti menemui psikiater untuk mendapat penanganan yang tepat, dan mungkin perlu obat-obatan tertentu untuk mngatasi keluhan fisik tersebut. Secara umum, anti bisa mengurangi ketidaknyamanan yang anti alami dengan mendekatkan diri pada Allah Subhanahu wa Taala dan senantiasa bersyukur dengan nikmat yang anti dapatkan. Perbanyak dzikir dan do’a supaya sifat panik yang anti miliki bisa terkendali. Minta dukungan dan senantiasa berbagi cerita dengan suami juga bisa mengurangi beban pikiran. (dr. Avie Andriyani)

  36. Divi says:

    ass…
    mau tanya donk, sya melahirkan anak pertama saya pada bulan ke 5, karena jabang bayi nya meninggal di dalam rahim sebelum di lahirkan,dan saya menjalani persalinan normal seperti biasa yg di induksi dan mengalami nifas juga, apakah saya berpeluang juga mengalami baby blues syndrome??
    terimakasih..
    wass..

  37. # divi

    Wa’alaykumussalam. Tiap wanita yang hamil akan mengalami
    perubahan hormonal. Sehingga, ketika akhirnya dia melahirkan, akan
    terjadi penurunan hormon yang sebelumnya meningkat ketika hamil. Hal ini diduga meningkatkan risiko terjadinya baby blues atau bahkan depresi pasca persalinan. Oleh karena itu, anti juga berpotensi mengalami baby blues, karena telah terjadi perubahan hormon, meskipun akhirnya bayi anti meninggal di dalam kandungan dan terpaksa dilahirkan sebelum waktunya. Tapi anti tidak perlu terlalu khawatir, karena tidak semua ibu yang melahirkan akan mengalami baby blues. Hendaknya anti tabah dan menerima semua ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan lapang dada. Mudah-mudahan dengan begitu anti akan terhindar dari baby blues syndrome.

  38. fita firmansyah says:

    Ass… sebagai calon Ibu sy jg sering cemas,was_was dan takut,, info ini bguna bgt, pasti akan sy dikusikan dengan suami,,, makasih bnyak yaa,, smg sy dan calon ibu lainya bkn trmsuk baby blues syndrom nantinya,,,,
    jazaklhro…

  39. Mieda Queen says:

    Dear all…
    Aq aj bru pny ponaan kandung “Carissa Ifra Naznin” yg umurnya hampir 4 bln, bisa kena sindrom Baby Blues. Krna papa’a n’ mama’a carissa kn krja, jd’a aq n’ mama q dech yg jagain. Aq aj yg cm bunde’a bs ngrasain Baby Blues, ampun dech. Gmn y dgn mama’a carissa? Meybe lbh parah dr ap yg aq rsakan.

    Tp nie adlh ujian bgi stiap wnita yg tlah melahirkn, nikmat bgi mrka yg bisa memiliki keturunan.!

  40. yuni says:

    trims infonya.
    Tnyt tnp ak sadari ak ada gejala baby blues.
    Ijin copas

  41. Bunda Abi dan Fikri says:

    hiks….hiks…… betul sekali….

  42. yani mulyani says:

    artikel sesuai dengan yg sedang saya alami sekarang. tadinya saya tdk tahu kl ini blue baby syndrome,sp akhirnya teman mengomentari status saya di fb,yang waktu itu emang saya lg tidak mood sekali.waktu itu habis melahirkan sekitar 10 hari.setelah melahirkan saya mengalami hal yg tercantum di atas,alhamdulilah tdk sp depresi.saya sering melamun,takut mati,ditambah melihat kondisi ayah dan ibu yg sakit,rasa semakin takut kehilangan org tua dan ketakutan tjd sesuatu pd si kecil semakin besar.pengaruhnya ke selera makan,air susu tdk keluar,tambah stress saya waktu itu.tp saya sadar,saya di beri kepercayaan oleh Allah memiliki anak,dan emang itu yg saya harapkan selama ini.hanya dengan berdoa saya jd mulai terbiasa dengan perubahan saya.

  43. sri murni says:

    saya tau baby blues dari temen sewaktu hamil, tapi saya ga tau gejalanya n cara mengatasinya, sekarang setelah saya melahirkan saya merasakan semua gejala baby blues, saya sempet bertengkar dg suami n mertua,,, saya binggung sendiri, ketidaktauan suami saya tentang baby blues dia hanya menganggap itu adalah watak saya yg sebenarnya,,, saya hanya bisa menanggis sendiri di toilet, setelah saya sherching ternyata tau bahwa saya mungkin terkena baby blues,, saya binggung gmn solusinya, smg setelah saya baca artikel dari anda saya bisa melawannya,,, saya cape dg keadaan ini karena disekeliling saya tdk mengerti dengan keadaan ini amin

  44. icha novita virginia says:

    saya jg tdk tau ap saya trkena baby blues ato bkn..yg pasti perasaan na saya hmpir sm persis d atas..kecapean, dr awal mau melahirkan ud cemas gag bs tidur, suami kadang bantuin kadang gag, d bilangin gag mau tau ex: cuci tangan sblm pegang baby, bau rokok..gag as tidur kalo gag ad suami d samping, merasa kecapean, pegal linu, takut gag cukup mimik na, makan kadang lupa gara2 sibuk netek yg kelamaan, kurang d perhatikan, org tua saya gag bs dateng.. menjenguk karena jarak na jauh plus papa saya yg suka kumad sakit na..merasa sibuk sendiri mulai dr mempersiapkan aer mandi sampe kelar..

    • @ Icha
      Saudariku yang kami sayangi…Pertama kami turut bergembira dengan kelahiran anak Saudari. Satu nikmat besar yang Allah berikan bagi siapa saja yang Allah kehendaki dan Allah tahan untuk tidak dikarunia anak kepada siapa saja yang Allah kehendaki. Sudah sepatutnya kita banyak-banyak bersyukur atas nikmat ini dan kami sekedar memberi saran apapun yang kita hadapi baik keletihan, kecapean, dan rasa sakit saat merawat anak selalu hadirkan dalam hati bahwasanya semua ini kita lakukan demi mengharap pahala dan ganjaran dari Allah. Mengharap balasan setimpal berupa kenikmatan surga kelak diakherat. Insyaallah jika kita hadirkan niatan seperti ini separah apapun babyblues syndrome yang dihadapi seorang ibu yang baru melahirkan akan terasa ringan bahkan tidak akan lagi menghantuinya sehingga pikiran dan hatinya menjadi tenang dan stresspun akan terkendalikan biidznillah.

  45. ari says:

    Saya mengalami depressi pasca melahirkan anak pertama, selama krg lbh 3 mggu. Mgkn tmasuk kategori berat, krn smpai mengalami berbagai halusinasi yang menurut saya sgt mengerikan.(dari anak mau diculik, kami smua mau dibunuh dan masih byk lagi). Alhmdulillah, saya smbh setelah mndptkn pengbatan/perawatan. Benrkah jika prnh alami babby blues akan jg mesti/ berpotensi besar utk mengalaminya lg(bhkan lbh parah) pd kelahiran berikut?

  46. dr.avie says:

    # ari : Seorang yang pernah mengalami depresi pasca persalinan memang berpotensi untuk terulang lagi selama faktor risikonya masih ada dan belum diatasi. Namun demikian, bukan berarti tidak bisa dihindari/dicegah untuk persalinan berikutnya. Untuk itu, kami sarankan untuk mengatasi faktor-faktor risiko yang mencetuskan. Penyebab yang pasti hingga kini memang belum diketahui dan masih dalam penelitian para ahli. Namun demikian, terdapat beberapa faktor risiko yang diperkirakan mempengaruhi terjadinya depresi setelah persalinan, antara lain :
    1. Rendahnya atau ketidakpastian dukungan suami dan keluarga.
    2. Keadaan atau kualitas bayi. Masalah pada bayi tersebut antara lain adanya komplikasi kelahiran (misalnya perdarahan yang terlalu banyak atau ibu mengalami infeksi, bayi yang lahir dengan jenis kelamin yang tidak diharapkan, atau lahir dengan cacat bawaan).
    3. Tidak siapnya seorang ibu dalam menyambut kehadiran bayinya (kehamilan yang tidak diharapkan).
    4. Adanya stressor (pemicu stress) bagi seorang ibu, baik yang berkaitan dengan kehidupan sosial maupun kejiwaannya.
    5. Terdapatnya riwayat depresi sebelumnya atau masalah emosional lainnya pada seorang ibu.
    6. Perubahan produksi hormon (progesteron, estrogen, prolaktin, dan kortisol) pada masa nifas.
    7. Keengganan ibu yang melahirkan untuk mengungkapkan perasaan sedihnya, karena menganggap rasa sedih setelah melahirkan akan hilang dengan sendirinya.
    Faktor-faktor risiko ini perlu ditelusuri untuk membantu proses penyembuhan dan mengantisipasi kondisi berulangnya depresi setelah persalinan bayi berikutnya. Selain itu, hendaknya anti tidak berputus asa atau berkecil hati karena pernah mengalami depresi pasca persalinan.

  47. dedek says:

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    saya pada tahun 2009 juga pernah mengalami babys blues syndrom pd kelahiran anak pertama. tapi hilang dengan sendirinya setelah hari ke 40 pasca persalinan. Alhamdulillah,hidup saya normal kembali,sebelumnya saya tidak tahu dengan kadaannya saya waktu itu, perasaan cemas yg berlebihan dan rasa takut kehilangan orang2 yg dekat dng saya.kondisi saya seperti itu sering membuat suami saya hampir memukul saya.kalau ingat waktu itu saya ingin menangis lagi. karena saya merasa suami saya tidak memiliki perhatian dan rasa sayang dengan keadaan saya waktu itu.mengingat usia anak pertama sudah pantas memiliki seorang adik lagi.suami sering bilang ingin nambah anak lagi, tp saya masih enggan karena perlakuan suami waktu itu.insya Allah, setelah suami saya ilmu agamanya sudah cukup dan beribadah kepada Allah SWT ditingkatkan, Insya Allah saya mau nambah anak lagi.terimaksih atas nasihatnya.

Leave a Reply