Talak Bagian 1 (Hukum Talak)

Semua yang terjadi dalam perjalanan hidup seorang manusia merupakan kehendak Rabbnya Yang Maha Agung. Seorang manusia tidak akan selamanya merasa bahagia dan juga tidak akan selamanya menanggung nestapa. Dari semua perputaran kejadian yang kita temui pada setiap episode kehidupan membawa pelajaran dan hikmahnya masing-masing agar kita semakin mengerti hakikat penciptaan kita selaku hamba di muka bumi ini.

Allah ta’ala telah menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan, ada laki-laki dan ada perempuan, ada suka dan ada duka, ada pertemuan dan ada perpisahan. Sudah lumrah bagi setiap hal yang memiliki awal pasti juga memiliki akhir, tidak terkecuali dalam ikatan pernikahan. Ada waktunya untuk kita bertemu dengan seseorang yang kita cintai dan ada pula waktunya ketika kita harus berpisah dengan seseorang yang disayangi. Perpisahan yang terjadi bukanlah akhir dari sebuah perjalanan hidup, melainkan sebuah pembelajaran untuk pendewasaan diri.

Kali ini, kita akan berbicara tentang perpisahan antara dua insan yang mencinta, antara sepasang suami istri. Berpisahnya sepasang suami dan istri disebabkan oleh dua hal umum yaitu, kematian dan perceraian.

Ikatan pernikahan yang dipisahkan karena kematian, adalah suatu hal lumrah yang dapat kita fahami bersama. Namun, perpisahan antara suami dengan istri dapat juga disebabkan oleh perceraian. Bagaimanakah Islam mengatur masalah perceraian ini? Kemudian, apa yang sajakah yang harus dilakukan oleh seorang wanita ketika perpisahan itu terjadi?

Ketika Harus Berpisah

Perpisahan yang diakibatkan oleh perceraian memiliki ruang lingkup bahasan yang lebih luas daripada perpisahan yang diakibatkan oleh kematian. Untuk itu, kita harus mengetahui beberapa masalah yang dibahas dalam ruang lingkup perceraian terlebih dulu, sebelum kita membahas hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh seorang wanita setelah terjadinya perpisahan.

A. Definisi dan Hukum Talak

Talak ( الطلاق) menurut bahasa adalah melepaskan ikatan. Kata tersebut diambil dari lafazh لإطلاق yang maknanya adalah melepaskan dan meninggalkan. Sedangkan talak menurut istilah hukum syara’ adalah melepaskan atau memutuskan ikatan pernikahan. [Lihat Terj. Al-Wajiz (hal. 627), Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/383), dan Terj. Subulus Salam (III/12)]

Pada talak berlaku hukum taklifi (pembebanan) yang lima, yaitu: [Lihat uraiannya dalam Ensiklopedi Fiqh Wanita (II/383-385)]

  1. Talak hukumnya menjadi wajib, apabila dalam hubungan berumah tangga, pasangan suami istri sering bertikai. Kemudian seorang hakim mengutus dua orang juru damai dari kedua belah pihak untuk mendamaikan keadaan keduanya. Namun, setelah juru damai melihat keadaan keduanya, mereka berpendapat bahwa perceraian adalah jalan terbaik bagi keduanya. Maka, ketika itu suami wajib menceraikan istrinya. Dan keadaan ini hampir sama seperti seorang suami yang menjatuhkan iilaa’ ketika dia tidak ingin rujuk dengan istrinya setelah masa ‘iddah istrinya habis. Demikian menurut pendapat kebanyakan ulama.
  2. Talak hukumnya menjadi mustahab (dianjurkan), manakala seorang istri melalaikan hak-hak Allah seperti shalat, shaum, dan yang semisalnya. Sementara suami tidak memiliki kemampuan lagi untuk memaksanya atau memperbaiki keadaannya. Talak seperti ini juga dapat dilakukan manakala istri tidak bisa menjaga kehormatannya.
  3. Talak hukumnya menjadi mubah (diperbolehkan), ketika perceraian itu sendiri dibutuhkan. Misalkan suami mendapati akhlak istrinya buruk, sehingga suami merasa dipersulit olehnya. Sementara suami tidak mendapatkan harapan dari kebaikan istrinya. Hal ini berkaitan dengan sikap nusyuz (kedurhakaan) seorang istri terhadap suami, dan masalah ini akan dijelaskan pada tempatnya tersendiri, insyaallah.
  4. Talak hukumnya menjadi makruh, ketika tidak ada alasan kuat untuk menjatuhkan talak karena hubungan keduanya harmonis. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Amr bin Dinar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ibnu ‘Umar menceraikan istrinya, kemudian istrinya berkata, ‘Apakah kamu melihat sesuatu yang kamu benci dariku?’ ‘Tidak,’ jawabnya. Ia berkata, ‘Lalu kenapa kau mentalak seorang muslimah yang menjaga kehormatannya?’ ‘Amr bin Dinar berkata, “Akhirnya beliau rujuk kembali dengannya.” [Sunan Sa'id bin Manshur (no. 1099) dengan sanad yang shahih]
  5. Talak hukumnya menjadi haram, manakala seorang suami mentalak istrinya dalam keadaan haidh atau dalam keadaan suci setelah menggaulinya. Dan ini dinamakan talak bid’ah/talak bid’i, sebagaimana akan datang penjelasannya.

B. Hukum Talak tanpa Sebab

Dari Jabir, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda:

“Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Diantara mereka ada yang lapor: Saya telah melakukan godaan ini. Iblis berkomentar: Kamu belum melakukan apa-apa. Datang yang lain melaporkan: Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istrinya. Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata: Sebaik-baik setan adalah kamu.” (HR. Muslim 2813)

Dalam hadis ini, iblis memuji dan berterima kasih atas jasa tentaranya yang telah berhasil menggoda manusia, sehingga keduanya bercerai tanpa sebab yang dianggap dalam syariat. Ini menunjukkan bahwa perceraian suami istri termasuk diantara perbuatan yang disukai iblis.

Iblis menjadikan singgasananya di atas laut untuk menandingi Arsy Allah ta’ala, yang berada di atas air dan di atas langit ketujuh.

Pada dasarnya talak adalah perbuatan yang dihalalkan. Akan tetapi, perbuatan ini disenangi iblis, karena perceraian memberikan dampak buruk yang besar bagi kehidupan manusia. Terutama terkait dengan anak dan keturunan. Oleh karena itu, salah satu diantara dampak negatif sihir yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an adalah memisahkan antara suami dan istri. Allah berfirman:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِه

Mereka belajar dari keduanya (harut dan marut) ilmu sihir yang bisa digunakan untuk memisahkan seseorang dengan istrinya. (QS. Al-Baqarah: 102)

bersambung insyaallah

***
Artikel muslimah.or.id
Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Maraji’:

  • Ahkaam al-Janaaiz wa Bidaa’uha, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif, Riyadh
  • Al-Wajiz (Edisi Terjemah), Syaikh ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi al-Khalafi, cet. Pustaka as-Sunnah, Jakarta
  • Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta
  • Ensiklopedi Fiqh Wanita, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor
  • Ensiklopedi Islam al-Kamil, Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri, cet. Darus Sunnah, Jakarta
  • Ensiklopedi Larangan Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta
  • Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Lajnah ad-Daimah lil Ifta’, cet. Darul Haq, Jakarta
  • Meniru Sabarnya Nabi, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cet. Pustaka Darul Ilmi, Jakarta
  • Panduan Keluarga Sakinah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cet. Pustaka at-Taqwa, Bogor
  • Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, cet. Pustaka Ibnu Katsir, Bogor
  • Penyimpangan Kaum Wanita, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Jibrin, cet. Pustaka Darul Haq, Jakarta
  • Pernikahan dan Hadiah Untuk Pengantin, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cet. Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta
  • Shahiih Fiqhis Sunnah, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Maktabah at-Taufiqiyyah, Kairo
  • Subulus Salam (Edisi Terjemah), Imam Muhammad bin Ismail al-Amir ash-Shan’ani, cet. Darus Sunnah, Jakarta
  • Syarah Al-Arba’uun Al-Uswah Min al-Ahaadiits Al-Waaridah fii An-Niswah, Manshur bin Hasan al-Abdullah, cet. Daar al-Furqan, Riyadh
  • Syarah Riyaadhush Shaalihiin, Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, cet. Daar al-Wathaan, Riyadh
  • Syarah Riyadhush Shalihin (Edisi Terjemah), Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i, Bogor
  • ‘Umdatul Ahkaam, Syaikh ‘Abdul Ghani al-Maqdisi, cet. Daar Ibn Khuzaimah, Riyadh
Donasi dakwah YPIA

81 Comments

  1. ari says:

    o,iya maafkan saya lupa memberi salam ” Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh “

  2. andi says:

    assalmu alaikum wr wb…
    Nama saya andi dan saya sdh 7tahun berumah tangga,akhir akhir ini hubungan saya dg istri krg romantis. Kami sering bertengkar dri hal kecil mnjdi besar dan setiap bertengkar saya telah mengucapkn kata kata talaq 2 kali kpd istri saya.
    Saya sbnrnya ingin bercerai dg istri saya tpi saya mrsa bersedih melhat anak saya yg skrng sdh berumur 7tahun.
    Pertanyaan saya adlh..apakh yg hrus saya lakukan? Apkh saya hrus betul betul bercerai dgn istri saya?
    Atas saran dan jawaban dari pak ustad saya ucapkan banyak terima kasih.
    Wassalam

  3. rizky prasetyo says:

    maaf saya mau tnya
    sy sudah mnikah 4th dan pny anak 1 umur 3th ..waktu itu butuh dan minta uang 3 jt tpi dibantah dan akhirnya brtengkar trus sy sbenarnya hnya ngancam aja jika kamu gak kasih uang itu kita cerai sy bicara gitu dan berkali kali sy ucapkan ..tapi trnyata istriku memang gak ngasih ..setelah brtengkar malam itu dia pulang kermh orangtuanya ..setelah 3 hari sy merasa kasihan sy brmaksud mengajak dia krmh dngan paksa dan jalani sprti biasa dan jika itu terjadi apa hukumnya bagi sy jika sy tetap jalaninya karna sy ataupun istri sy masih saling mencintai ..

  4. jhonny mahar says:

    saya seorang mualaf ,saya dihianati istri (berzina).hati saya berat untuk berpisah . kami sering bertengkar dan kalimat cerai sering saya ucapkan ,tapi karena saya cinta sama istri saya tidak pernah tega meninggalkannya.akan tetapi kalau saya ingat perbuatan istri saya balas dengan berselingkuh padahal istri saya sudah bertobat dan minta ampun.kadang saya suka menyebar aibnya kepada perempuan yang saya selingkuhi , kejadian istri saya sudah lima tahun yang lalu .sekarang saya menyesal dan ingin selalau hidup bersama istri saya.mohon petunjuk….

  5. Anisa Mahti says:

    ustad….saya mau tanya….
    bagaimana hukumnya seorang suami yg sdh mentalak 3 istrinya…dlm kondisi marah….krn setiap terjadi perselisihan istrinya selalu minta cerai…..mohon ylg kiranya ustad menjawab…karna ini hal yg sangat penting buat saya…terima kasih…

  6. assalamu alaikum wr.wb
    Saya mau bertanya nih.Kemarin saya dalam keadaan marah yang luar biasa,dan di saat itu saya berkata kepada istri saya,begini lafalnya kira2 wkt itu.”sudah kalau kamu tidak bisa mengurusi anak dengan benar,bagaimana kalau ku ceraikan saja kamu,Kalau kamu mengajak cerai,ayo aku gk takut”.begitu kira2 bunyinya waktu itu.
    hanya itu kata2 yang saya ingat waktu itu.tapi kata istriku saya juga mengucapkan kata2 yang lain,yang berhubungan dengan kalimat “cerai”.Ketika itu istriku hanya terdiam saja tanpa bicara sepatah katapun.Yang aneh bagi saya,kenapa setelahnya saya tidak ingat sama sekali,saya seperti tidak menyadarinya.
    Yang ingin saya tanyakan:
    1.Apabila kami berhubungan suami istri,masih sah/halal?
    2.apakah saya sudah termasuk mengucapkan talak?
    3.apakah saya harus membangun nikah lagi?
    Terus terang saya masih awam soal hukum nikah,jadi saya mengharapkan penjelasannya.Terimakasih

    wassalamu alaikum wr.wb

  7. herlina says:

    assalamualaikum….
    mf saya mau tanya..
    apa kah sah kalo seseorang mnjatuhkan talak lgsung tlak 3.. sedang dia tidak tau kalo dengan talak 3 itu tdk bs rujuk lg.
    intinya dia tdk tau hkum talak 3 itu sprti apa…
    mohon jawabannya..
    terimakasih

  8. mita says:

    ass… sy ingin brtanya, ada seorg teman yg sering bertengkar, dan suami sering mengucapkan, kamu saya pulangkan atau saya kembalikan ke rumah orang tuamu saja. suami atau istri tsb tdk mengetahui, bahwa ucapan tsb tmsk talak atau tidak? yg jelas sampai saat ini, mereka masih dalam 1 atap. bgm hukumnya? terima kasih.

  9. nursanti arfah says:

    Assalamualaikum, saya mau bertanya saya belum punya anak, pada suatu malam saya katakan pada suami saya bahwa saya ingin punya anak. Lalu suami saya mengirimkan lewat sms katanya lebih baik kamu menikah lagi dengan orang lain. Berpisah adalah jalan yang terbaik buat kita. Apakah kalimat seperti itu sudah jatuh talak atau sah talaknya. Sekian terima kasih

  10. abu syifa says:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,,,
    Ana mau tanya,,
    apa hukumnya berkata cerai kepada istri sat bercanda tanpa ada niat untuk menceraikannya,,
    Jaakumullah khairan

    • www.muslimah.or.id says:

      @abu syifa

      Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

      ??????? ?????????? ????? ????????????? ????? ?????????? ???????????? ?????????????

      Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius: (1) nikah, (2) talak, dan (3) rujuk (HR. Abu Daud no. 2194, At Tirmidzi no. 1184 dan Ibnu Majah no. 2039. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

      Silakan baca lebih lengkap di artikel ini.

  11. fajar says:

    Assalamuallaikum Pak ustad. saya mau bertanya Pak. saya seorang suami yg sudah menikah selama 4thn dan baru saja memiliki anak usia 7 bln. sedangkan istri saya jauh lbh tua 11 thn dari saya tetapi tiap hari selalu saja bertengkar dan saya selalu saja mengalah tapi lama2 saya jadi tdk sabar jg pak. yg mau saya tanyakan apabila istri sdh menolak diajak berhubungan dan selalu mengatai saya apa boleh saya mentalaknya Pak ustad. soalnya dari dulu selalu saja marah apabila diajak untuk berhubungan tetapi dia meminta segalanya harus ada saat itu juga mohon bantuannya Pak Ustad , soalnya saya masih benar2 tidak tau apa yg harus saya lakukan. Wassalamualaikum

    • Wa’alaykumussalam warohmatulloh wabarokatuh.

      Saudara Fajar, berikut ini jawaban dari Ustadz Aris Munandar hafizhahulloh:


      seringkali pertengkaran itu berawal dari komunikasi yang tidak lancar.
      lakukan evaluasi terhadap diri sendiri. bangun komunikasi yang baik dengan isteri demi anak dan keutuhan rumah tangga.

  12. fitria says:

    Assalamualaikum wr.wb
    Selama saya menikah dngn suami selama 3 th, klau ribut selalu minta cerai…tp stlh itu kita baikan dan suami selalu menggauli saya..saya jg tdk pernah dengar dari telinga saya dy menceraikan sy atau tidak.
    1 minggu yg lalu saya sudah mergokin suami saya dngn cwe lain.setelah saya tau dia selama di bandung sudah 1 kost dngn cwe itu, saya marah dan waktu sy marah itu saya minta di ceraikan.tp saya tidak mendengar dy mau menceraikan lagi. Akhir nya di hr yg ke 5 kiya bertemu dan dy lalu bil boleh ga klo kita jalan sendiri2 aj..dy jg cerita klo selama ini dy sudah talak sy ke 2 kali..dan ini yg ke 3…lalu sy bertanya yg mana saja..dy menjwb..waktu km tampar saya di dpn orng tua sya, wktu kita bertengkar dngn guru sy dan saat ini,, sy lalu bilang pd saat ak menampar di dpn orng tua kita itu blm menikah secara islam krn memang kita msh nikah keristen,,, pd saat kita bertengkr di dpn gurunya sy jg tidak mendengar dy mengucapkan talak….dan sekarng baru yh berantem kemarin br sy dengar dy menyebutkan talak…..ttp setelh dr ht ke hati mlm itu dia menggauli saya karna memang dr dasar hati kita , kita tdk pernah mau berpisah atau cerai…sekarang oni ustad sya , ohon bamtuannya apakah saya ini , sy istri dr suami sy atau sudah bukan….mohon pa ustad selama hampit 8 thn sy nikah (5 th nikah kristen 3 th nikah islam) dan anak saya sudah 3 ustad…terimakasih ustad mohon bantuanny

  13. yoyo says:

    assalamu’alaikum
    bahasan yg sgt brmanfaat & byk skl dr sdr kita yg sgt mbutuhkan bahasan ttg talak ini. Namun sayang dr prtanyaan2 yg diajukan sdr2 kita byk yg tdk dijwb & ditanggapi pdhl sy yakin mrk sgt butuh jwban , nasehat dr orh yg tepat (ustadz) & mgk byk dr pembca yg mpunyai problem yg hampir sama dg yg ditanyakan & sgt butuh nasehat.
    Jazakumullah khairan

  14. sarah says:

    assalamualikum… saya ingin bertanya dan mohon di jawab.
    saya umur 23 tahun dan suami saya 23 tahun juga..
    saya memita cerai dengan suami, bukan karna masalh fisik atau masalah materi tapi karna saya merasa tidak ada kecocokan dari semenjak kita pacaran hingga menikah dengan suami saya ini.. alasan saya menikah karna saya terlalu cinta dengan orang tua .. mereka ingin saya menikah dengan suami saya ingin dengan beberapa alasan…
    lalu pertanyaannya…
    apakah betul hukumnya untuk seorang istri yang meminta cerai, mahar atau mas kawin wajib dikembalikan? lalu apa kah seperti hantaran – hantaran saat kita menikah dikebalikan juga? terimakasi. mohon bantuannya.

  15. Fitri says:

    Mohon arahannya…
    Kami sdh menikah kurang lebih selama 7 th dan belum di karuniai keturunanan. Posisi kami adalah sama sama bekerja. Istri lebih menuruti apa yg menjadi kata ibunya (mertua saya), kalau ada yg kurang sesuai pasti menjadi pertengkaran antara kami sampai akhir2 ini saya berpikir apakah kami lebih baik berpisah saja dengan dasar…barangkali istri saya menemukan suami yg lebih baik dari saya khususnya dlm segi materi dan bisa mempunyai keturunan setelahnya….jujur saat ini saya sdg bingung…tks

    Salam,

    Cat: scr medis kami sdh cek bersama kalau kondisi berdua tidak masalah utk punya keturunan

Leave a Reply