Al Maudhu’
1. Al maudhu’ (الموضوع): Hadits yang didustakan atas Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Hadits maudhu’ merupakan hadits yang tertolak (1). Tidak boleh disebutkan kecuali disertai penjelasan tentang kepalsuannya dalam rangka memperingatkan bahwa hadits tersebut palsu. Sebagaimana sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam,
من حدث عني بحيث يرى أنه كذبٌ فهو احد الكاذبين
“Barang siapa mengucapkan dariku dengan sebuah hadits yang dia kira bahwa hadits tersebut adalah dusta maka dia salah seorang pendusta.” (HR Muslim)
3. Diantara tanda hadits palsu adalah sebagai berikut:
4. Hadits-hadits maudhu’ banyak sekali diantaranya:
- “Cintailah orang arab karena tiga hal, karena aku adalah orang arab, Al Quran itu berbahasa arab, dan bahasa penghuni surga adalah bahasa arab”
- “Ikhtilaf umatku adalah rahmat”
- “Bekerjalah untuk dunia seolah engkau hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhirat seolah engkau akan mati esok hari”
- “Cinta dunia adalah sumber dari segala dosa”
- “Cinta tanah air adalah bagian dari iman”
- “Sebaik-baik nama adalah yang mengandung pujian dan penghambaan”
- “Aku melarang jual beli dengan syarat”
- “Hari puasa kalian adalah hari kalian menyembelih kurban”
Banyak dari ahli hadits yang menulis buku untuk menjelaskan hadits-hadits palsu dalam rangka membela sunnah dam memperingatkan umat darinya semisal:
5. Pemalsu hadits sangat banyak
Diantara tokoh pemalsu hadits yang terkenal adalah: Ishaq bin Najh Al Malathi, Makmun bin Ahmad Al Harowi, Muhammad ibnu As Saib Al Kulbi, Al Mughiroh bin Sa’id Al Kufi, Muqotil bin Abi Sulaiman, Al Waqidi, Ibnu Abi Yahya.
Pemalsu hadits itu terdiri dari beberapa kelompok, diantaranya:
1. Az Zindik
Yaitu mereka yang pura-pura masuk Islam untuk merusak akidah kaum muslimin, dan memperburuk citra islam, dan merubah hukum Islam.
Misal: Muhammad bin Sa’id Al Mashlub yang dibunuh oleh Abu Ja’far Al Manshur. Dia memalsukan hadits dari Anas rodhiallahu ‘anhu yang disandarkan pada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku adalah penutup nabi, tidak ada nabi setelahku kecuali yang Allah kehendaki.”
Yang lain adalah ‘Abdul Karim bin Abi Al ‘Aujai yang dibunuh oleh salah seorang gubernur Abasiyah di Bashroh. Dia berkata saat dibawa untuk dibunuh, “Sesungguhnya aku telah membuat di tengah-tengah kalian empat ribu hadits. Di dalamnya aku haramkan yang halal dan aku halalkan yang haram.”
Sungguh dikatakan bahwa orang-orang zindik telah memalsukan atas nama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 14.000 hadits.
2. Orang yang hendak mencari muka kepada kholifah atau gubernur.
Misalnya Ghiyats bin Ibrohim. Ia pergi menemui Khalifah Al Mahdi yang sedang bermain burung merpati. Dikatakan padanya, “Sampaikan hadits pada amirul mukminin”, maka dia menyebutkan sebuah sanad untuk membuat hadits palsu atas Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bahwasannya Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak boleh ada taruhan kecuali pada pacuan unta, melempar tombak, memanah, atau pacuan merpati.” Mendengar itu, Al Mahdi berkata “Aku yang menjadi penyebab orang itu membuat hadits palsu”, kemudian beliau meninggalkan burung merpati tersebut dan memerintahkan untuk disembelih (2).
3. Orang yang mencari perhatian kepada orang awam, dengan menyebut cerita yang aneh-aneh dalam rangka memotivasi mereka untuk berbuat taat, menakuti-nakuti mereka untuk berbuat maksiat, untuk mencari harta (3), atau mencari kedudukan.,Semacam tukang-tukang kisah di masa silam, yaitu orang-orang yang berbicara, memberikan pengajian di masjid-masjid di tempat orang berkumpul dengan cerita yang membuat keterpengahan, berupa cerita yang aneh-aneh.
Semisal dari Imam Ahmad ibn Hambal dan Imam Yahya ibn Ma’in. Keduanya suatu hari sholat di masjid Rosafah. Setelah selesai sholat berdirilah seorang tukang kisah/penceramah yang kemudian dia bercerita dan mengatakan “Bercerita kepada kami Ahmad ibn Hambal dan Yahya ibn Ma’in kemudian menyebutkan sanad sampai Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian dia mengatakan, “Barang siapa yang mengucapkan la ilaha illallah maka Allah ciptakan untuk setiap kalimat seekor burung, paruhnya dari emas, dan bulunya dari marjan (semacam tumbuh-tumbuhan yang indah) kemudian dia sebutkan sebuah kisah yang panjang (4).”
Ketika telah selesai bercerita, maka kemudian dia mengambil pemberian dari hadirin yang terkesima dengan ceritanya. Kemudian Imam Yahya ibn Ma’in berisyarat dengan tangannya kepada orang tersebut. Maka dia datang karena mengira akan mendapat uang. Imam Yahya ibn Ma’in bertanya kepadanya, “Siapa yang bercerita kepadamu hadits seperti ini?” Maka orang tersebut menjawab tanpa merasa bersalah, “Yang bercerita adalah Ahmad ibn Hambal dan Yahya ibn Ma’in (5).” Maka Yahya ibn Ma’in mengatakan, “Saya ini Yahya ibn Ma’in dan sebelah saya ini adalah Ahmad ibn Hambal. Dan kami tidak pernah mendengar hadits seperti ini dalam haditsnya Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.”
Maka si tukang cerita itu berkata, “Aku tidak pernah mengira kalau Yahya ibn Ma’in dan Ahmad ibn Hambal itu lebih bodoh daripada dari hari ini. Memangnya Ahmad ibn Hambal dan Yahya ibn Ma’in di dunia ini hanya dua saja.” Maka si tukang cerita berkata dengan beraninya, “Selalu saja aku dengar bahwasannya Yahya ibn Ma’in itu lebih dungu yang kuperkirakan kecuali pada detik ini. Aku tidak pernah mengira Yahya ibn Ma’in seorang bodoh, dan tidak pernah kuperkirakan ia ternyata lebih bodoh lagi dari hari ini. Seakan-akan di dunia ini tidak ada Yahya ibn Ma’in dan Ahmad ibn Hambal kecuali kalian berdua. Sungguh aku telah menulis hadits dari 17 orang yang bernama Ahmad ibn Hambal dan 17 orang yang bernama Yahya ibn Ma’in.” Maka Imam Ahmad pun meletakkan lengan bajunya ke wajahnya dan mengatakan kepada Yahya ibn Ma’in, “Biarkan dia pergi.” Lalu dia berdiri dengan gaya seperti orang yang mengejek Yahya ibn Ma’in dan Ahmad ibn Hambal (6).
4. Semangat membela agama (7)
Akhirnya membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan Islam dan hal-hal yang berkaitan dengannya, tentang zuhud di dunia dan semacam itu. Maksudnya mulia, lillahita ‘ala tidak untuk mendapat uang tapi agar orang mempunyai perhatian terhadap agama. Semacam yang dilakukan Abu ‘Ishmah Nuh ibn Abi Maryam. Padahal dia seorang hakim di daerah Marwa. Dia membuat hadits-hadits palsu tentang keutamaan surat-surat Al-Qur’an, surat persurat (8). Kemudian diia mengatakan motivasi membuat hadits palsu, “Sungguh aku lihat banyak orang berpaling dari membaca Al-Qur’an. Orang sibuk mempelajari fiqh Abu Hanifah dan kitab Siroh Ibnu Ishaq. Maka aku membuat hadits palsu tersebu.t”
5. Karena penyakit fanatik
Yaitu orang yang fanatik dengan madzhab fiqih atau suatu metode atau suatu negara yang dia ikuti (9). Mereka membuat hadits-hadits tentang sesuatu yang mereka fanatik dengan menyanjung-nyanjungnya, semacam perbuatan Maisaroh ibn Abdu Robbihi yang mengaku telah memalsukan hadits Nabi sebanyak 70 hadits tentang keutamaan Ali ibn Abi Thalib .
Demikian yang beliau katakan di Qowaid wal Ushul Jamiah.
© 2006 - 2011 muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah
February 25th, 2010 at 07:59
Masih ditunggu kelanjutannya…
February 26th, 2010 at 04:40
Saya menyimak rubrik hadits ini. Sangat bagus dan bermanfaat, insya Allah. Namun, ingin memberi saran tambahan: hendaknya lafal2 hadits/atsar, –meskipun yang dhaif/maudhu’– tetap dituliskan lafal arabnya. Demikian, pula nukilan2 perkataan kalau bisa juga dengan arabnya, agar mudah mengeceknya di software (syamilah/sejenisnya).
Jazakunnallah khair.
February 26th, 2010 at 23:30
banyak sekali hadits palsu yang dikira benar.. Apakah masih banyak yang terdapat di buku2 nowadays?
February 27th, 2010 at 21:20
Barakallahu fik
Saran yang sangat bagus masya Allah. Semoga ALlah memudahkan untuk merealisasikannya.
March 2nd, 2010 at 03:27
Ukhti, mau nanya :
3. Tanzihusy Syari’atil Marfu’atu ‘Anil Akhbarisy Syani’atil Maudhu’ah (تنزيه الشريعة المفوعة عن الأخبار الشنيعة الموضوعة), ditulis oleh Ibnu ‘Iroqi yang wafat pada tahun 963 H. Kitab ini termasuk kitab terlengkap yang ditulis mengenai hal ini.
Afwan, yg dimaksud Ibnu Iroqi disini apakah Al Iroqi? Apa terjadi kesalahan tulis?
March 2nd, 2010 at 05:06
Tidak akhi. Betul Ibnu Iroqi. Silakan di cek ke kitab aslinya.
Apa akhi sedang membicarakan tokoh lain (antara Ibnu Arobi dan Ibnul Arobi?).
Karena pada pembahasan ini, adalah ulama dengan nama Ibnu Iroqi.
Wallahu a’lam
March 2nd, 2010 at 18:24
#Tommi dan muslimah.or.id
Setelah kami cek ternyata yang tepat bahwa nama penulis adalah:
أبو الحسن علي بن محمد بن عرّاق الكنان
Abul Hasan Ali bin Muhammad bin ‘Arraq Al Kanani (atau Ibnu ‘Arraq)
Ada kitab online-nya di http://islamport.com/w/krj/Web/1274/1.htm
Atau dapat di download di http://www.almeshkat.net/books/open.php?book=1533&cat=29
March 2nd, 2010 at 23:22
Jika benar seperti itu, barangkali bagian tersebut terlewat dari muroja’ah ust. Insya Allah akan kami cek lagi.
March 14th, 2010 at 11:49
selalu menunggu kelanjutannya juga..
April 1st, 2010 at 06:12
menambahkan : kalau ga memberatkan sih, kami memohon agar muroja’ah dr penukilan tulisan2 tersebut ditampilkan juga baik kutaib fi indonesi aw lughoh arabi..
wa’allohu a’lam. syukron, barokallohu fiikum..
April 3rd, 2010 at 03:38
Maaf, kami kurang paham maksudnya.
Tulisan ini, seluruhnya merupakan terjemahan dari kitab Taisir Mustholah Hadits milik syaikh Sholih bin ‘Utsaimin dan ditambah penjelasan dari ustadz kami, ust. Aris Munandar. Silakan lihat penjelasan pada pendahuluan kitab ini.
Wa fiikum barakallah
June 6th, 2010 at 11:09
Pada kalimat ini
2. Dalam hadits ini, terdapat tiga jenis permainan yang itu diperbolehkan dengan bertaruh, boleh juga tanpa bertaruh. Oleh karena itu, Syaikh Abdurrohman As Sa’di rohimahullah, membagi permainan menjadi tiga jenis,
1. Permainan yang haram, baik menggunakan taruhan atau tidak. Misal : permainan yang menggunakan dadu, catur.
2. Permainan yang halal, yang diperbolehkan menggunakan taruhan atau tidak, yaitu tiga jenis lomba ini.
3. Permainan yang halal jika tidak menggunakan taruhan. Yaitu perlombaan yang selain tiga jenis ini.
Demikian yang beliau katakan di Qowaid wal Ushul Jamiah.
===================
=====> ini maksudnya apa ya? Kok saya tidak paham? Kaitannya dengan materi hadits palsu apa?
Jazakunnallah khaira
June 6th, 2010 at 21:43
Ini adalah point penjelasan/footnote dari matan:
Padahal tiga jenis permainan yang boleh dengan bertaruh hanya tiga, tapi pembuat hadits palsu menambahkan dengan yang keempat untuk menyenangkan khalifah.
June 7th, 2010 at 16:22
Oo… fotnoote..
Sekarang baru paham…
Jazakunnallah khaira
June 18th, 2010 at 19:34
Ditunggu kelanjutannya (kok agak lama ya?)….afwan
barakallahu fiikum
September 27th, 2011 at 12:37
jazakumullah ahsanal jaza, ditunggu artikel berikutnya.