Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh barokah, banyak pahala yang menanti bagi yang mau memanfaatkannya. Bukan hanya menjalankan kewajiban kita untuk berpuasa saja,namun alangkah lebih baik jika kita ikuti dengan sunnah-sunnah yang lainnya.
Ada banyak sunnah yang dapat dilakukan antara lain shalat sunnah. Begitu pun shalat sunnah ada berbagai macam dan salah satunya adalah shalat witir. Shalat ini dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan semasa hidupnya, beliau selalu melaksanakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suri tauladan yang mulia bagi kita. Beliau adalah manusia yang telah diampuni dosanya yang lalu dan akan datang, namun sangat antusias dalam melaksanakan ibadah sunnah. Dengan demikian kita sebagai manusia yang tak luput dari dosa harus berjuang terus melawan rasa malas, malulah kita kepada-Nya! Semoga di bulan yang suci ini (bulan Ramadhan) kita dapat meningkatkan ibadah kita.
Shalat witir bagi sebagian orang mungkin terlalu diremehkan karena waktunya adalah setelah shalat Isya’ hingga datangnya fajar subuh. Waktu-waktu tersebut adalah waktu tatkala badan terasa lelah setelah seharian beraktifitas; waktu di mana sang pekerja istirahat, waktu di mana sang ibu meninabobokan putra-putrinya, waktu di mana sang pelajar asyik dengan tugas-tugasnya dan waktu di mana sang pemalas untuk berkencan dengan bantal dan guling. Bagi yang lupa, atau belum tahu akan keutamaan shalat witir,marilah simak artikel berikut ini. Siapa tahu dengan demikian dapat membuka hidayah dan akhirnya dapat bersemangat menegakkan shalat witir ini di rumah-rumah saudari-saudariku.
Hukum dan Keutamaan Shalat Witir
Shalat witir hukumnya sunnah muakkadah yaitu sunnah yang ditekankan sekali. Meskipun ditekankan sekali namun bukan berarti menjadi wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak pernah meninggalkan shalat witir baik saat bermukim maupun sedang bepergian.
Dalil-dalilnya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah itu ganjil dan mencintai yang ganjil.” (Muttafaqun’alaihi)
Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia bertutur, “Sesungguhnya shalat witir tidak harus dikerjakan dan tidak (pula) seperti shalat kamu yang wajib, namun Rasulullah melakukan shalat witir, lalu bersabda, “Wahai orang-orang yang cinta kepada Al-Qur’an, shalat witirlah, karena sesungguhnya Allah itu ganjil yang menyenangi (shalat) yang ganjil.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:959, Ibnu Majah I: 370 no:1169, Tirmidzi I:282 no: 452, Nasa’i III:228 dan 229 dalam dua hadits dan ‘Aunul Ma’bud IV:291 no:1403 secara marfu’ saja)
Waktu Pelaksanaan
Begitu pula yang telah dicontohkan melalui perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadist ‘Aisyah Radhiyallahu’anha,
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata, “Kadang-kadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan witir di awal malam, pertengahannya dan akhir malam. Sedangkan kebiasaan akhir beliau adalah beliau mengakhirkan witir hingga tiba waktu sahur.” (HR. Muslim)
Jumlah Rakaat dalam Shalat Witir
Ibnu Umar sendiri menyatakan, “Rasulullah pernah memisahkan antara dua rakaat dan yang satu (dalam Witir) dengan salam yang bisa kami dengar( HR Imam Ahmad 2/72,ath-thahawi 1/278 dan Ibnu Hibban 2/35)
Bacaaan Surat ketika Shalat Witir Tiga Rakaat
Dibaca dalam Witir pada rakaat pertama dengan “Sabbihisma Rabbikal A’la,” pada rakaat kedua dengan “Qul ya Ayyuhal Kafirun,” dan pada rakaat ketiga dengan “Qul Huwallahu Ahad, Berdasarkan hadist Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan,
“Nabi dalam shalat Witir membaca: Sabbihisma rabbikal A’la, Qul ya Ayyuhal Kafirun dan Qul Huwallahu Ahad pada masing-masing raka’at.” (At Tirmidzi no 462, An Nasa’i:no1702,Ibnu Majah no 1172 dishahihkan Al-Albani dalam shahih Sunan An-Nasa’i,1/372,shahih Sunan Ibnu Majah,1/139 dan shahih Sunan At-Tirmidzi,1/144)
Semoga dengan artikel ini dapat bermanfaat, bagi yang sudah tahu tentangnya akan lebih bersemangat dalam mengamalkannya dan bagi yang belum mengenalnya semoga bisa membuka pintu hidayah dalam memahami dan mengamalkannya. Wallahu a’lam.
Penyusun : Ummu Hamzah Galuh Pramita Sari
Muroja’ah: M. A. Tuasikal
Rujukan:
Al Wajiiz Terj. Penerbit Pustaka As-Sunnah
As Sunnah edisi 03/th XIV
Rahasia Qiyamul Lail Penerbit Darul haq
***
Artikel muslimah.or.id
© 2006 - 2011 muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah
August 24th, 2010 at 08:30
Assalaamu’alaikum. Barokallohu fiik.
Kalau sudah sholat witir sebelum tidur (karena belum terbiasa bangun sebelum shubuh) tapi ternyata suatu saat bangun sebelum shubuh dan waktunya cukup longgar untuk sholat. Boleh sholat tahajud tidak?
kalau semasa bulan ramadhan, boleh sholat tarawih tidak? apa sholat witir lagi setelah itu?
Jazakumullah khair…
August 24th, 2010 at 22:44
@ Umm Maryam
Wa’alaikumussalam,
Setelah witir boleh shalat tahajjud. Tidak perlu shalat witir lagi karena shalat witir itu cukup dilakukan sekali dalam semalam. Meski demikian yang paling utama adalah menjadikan witir sebagai penutup shalat malam.
August 25th, 2010 at 07:29
Assalamu’alaykum.
Afwan,masih bingung dengan kasus yg sama.
Bagaimana jika di masyarakat terbiasa melakukan shalat witir setelah tarawih,sedangkan kita berencana untuk shalat malam.
Kalau begitu berarti ada dua pilihan?
Pertama,ikut shalat witir berjam’ah, dan malamnya shalat malam kemudian tanpa witir.
Kedua, jika tidak shalat witir berjama’ah,bagaimana kaitannya dengan hadis yang mengatakan bahwa dilarang untuk memutus shaf,padahal kita tetap duduk di tempat tanpa melakukan shalat.
Mana yang lebih baik?
Mohon penjelasan dengan dalil yg shahih.
Jazakumullah khair..
August 25th, 2010 at 16:03
@ nita
wa’alaikumussalam
Hanya ada 1 witir dalam semalam. Adapun menjadikan witir sebagai penutup shalat malam, bukan sebuah keharusan melainkan sebuah keutamaan. Kalau tidak dijadikan sebagai penutup shalat malam tidak mengapa. Jadi boleh melakukan shalat malam setelah witir.
Jika seseorang ikut jama’ah di masjid, dan ingin shalat witir di rumah, maka seharusnya dia keluar dari shaf (mundur ke belakang) supaya tidak memutus shaf.
wallahu a’lam
August 26th, 2010 at 20:05
@nita
cba kunjungi link ini..
rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2683-setelah-shalat-witir-bolehkah-shalat-sunnah-lagi.html
August 28th, 2010 at 05:01
jazakumullahu khairan
August 28th, 2010 at 11:52
@ dee
wa anti fa jazakillahu khayran
May 15th, 2011 at 10:35
ass …… stlh sy mmbc artikel ttg jmlh shalat witir dan shalat witir yg sy lkkn 3 rakaat 2 x salam srt yg sy bc srt al kafirun dan al ikhlas dan itu sy lkkn stlh shlt isya dan stlh shlt tahajud prtnyaan sy apkh shlat yg sdh sy lakukan BENAr tks u jwbnny
May 16th, 2011 at 04:10
@ Suherlan
Shalat witir dilakukan sekali saja dalam semalam. Jadi Anda bisa memilih waktunya setelah shalat Isya’ saja atukah setelah shalat tahajud saja meskipun yang lebih utama adalah mengerjakannya setelah selesai shalat tahajud karena shalat witir itu sebagai penutup. Adapun jumlah rakat yang Anda lakukan sudah benar.
May 25th, 2011 at 16:52
Assalamu’alaikum
Jazzakillahu khairan atas penjelasannya. Hanya saja ana masih belum paham tentang pelaksanaan jumlah rakaatnya. Kalo ana mengerjakan dengan 3 rakaat. Selama ini yg ana kerjakan,1 rakaat salam kemudian dilanjut dengan 2 rakaat salam. Bagaimana itu? mohon penjelasannya..
Syukran.
May 28th, 2011 at 22:08
Assalamu’alaikum
apakah dalam sholat witir ada doa qunutnya
May 31st, 2011 at 04:53
@ agus
Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh.
Ya, dalam shalat witir, ada doa qunut. Pembahasan selengkapnya bisa dibaca di http://www.rumaysho.com/hukum-islam/shalat/3164-hukum-doa-qunut-witir.html
May 31st, 2011 at 05:34
@ tanti
Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh.
Untuk shalat witir 3 rakaat, yang benar berdasarkan dalil sahih adalah: dilaksanakan dengan dua rakaat salam, kemudian ditambah satu rakaat salam. Ini didasarkan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu; beliau berkata:, “Dahulu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisah antara yang ganjil dan genap dengan salam, dan beliau perdengarkan kepada kami.” (H.R. Ahmad; dinlai sahih oleh Syekh Al-Albani dalam Irwa‘ Al- Ghalil, no. 327).
Perincian tentang bilangan shalat witir bisa dibaca di http://www.majalah-assunnah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=217:shalat-witir&catid=50:fikih&Itemid=100
July 22nd, 2011 at 10:38
assalamu’alaikum, sebenarnya melaksanakan shalat witir iti baiknya di lakukan sebelum shalat tahajud atau setelah shalat tahajud ,trus boleh gak klw shalat tahajud di lakukan 4rakaat sekali salam?,,,, trima kasih, mohon penjelasan nya?
August 16th, 2011 at 18:41
Syukran, bisa minta tolong jelaskan pelaksaan shalat witir menurut imam Hanafi tidak???? soalnya para madzhab hanafi pada rakaat terakhir agak beda, syukron…
September 21st, 2011 at 13:35
artikelnya bagus,
salam… :’)
January 11th, 2012 at 21:34
assalamu’alaikum………….
insyaalloh khoiiir
saya sering melaksanakan sholat witir 3 rokaat akan tetapi ketika saya ingin mengerjakan sholat witir 1 rokaat saya bingung bagaaimana niatnya?
sebelum dan sesudah syukron katsir
February 1st, 2012 at 15:40
Assalammualaikum,Wr,Wb,,
saya linda, ingin bertnya,
yang no:3 dilakukan secara bersambung tiga rakaat dengan satu malam,
saya kurang paham, mohon bantuanya
February 2nd, 2012 at 07:28
@ Linda
Wa’alaikumussalam,
Maksudnya adalah dilakukan sekaligus tiga raka’at dengan satu tahiyyat yaitu tahiyyat akhir baru kemudian salam.
February 6th, 2012 at 08:38
Salam, mau tanya, kalau kita sholat tahajud kemudia witir (bahkan kadang masih sholat tahajud), belum selesai sholat tapi sudah keburu adzan subuh. Bagaimana ya? (Sewaktu kejadian ini saya lanjutkan sampai salam dengan bacaan wajib saja).
February 6th, 2012 at 22:09
@ Dee
Jika Anda telah mengerjakan satu raka’at witir lalu terdengar adzan subuh maka selesaikan shalatnya dan shalat witir yang Anda kerjakan sah. Berdasarkan hadits:
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلاَةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلاَةَ
“Barangsiapa yang mendapatkan satu rakaat dari suatu shalat, maka dia telah mendapatkan shalat tersebut.” (HR. Bukhari, Muslim).