Mahar

Penulis: Ummu Asma’ Dewi Anggun Puspita Sari
Muroja’ah: Ustadz Jamaluddin, Lc

“Saya terima nikahnya Fulanah binti Fulan dengan maskawin seperangkat alat sholat dibayar tunai…”

Sungguh pernikahan adalah saat yang dinanti-nanti bagi sepasang hati yang saling berjanji untuk mengikatkan cinta dalam balutan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang tidak ingin menikah? Setiap yang mengaku menjadi pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu tidak ingin meninggalkan sunnah beliau yang satu ini. Menikah bagaikan mendulang kebahagiaan yang berlimpah. Ada satu dari beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika hendak menikah, yaitu mahar atau maskawin.

Mahar adalah tanda kesungguhan seorang laki-laki untuk menikahi seorang wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

“Berikanlah mahar (maskawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang wajib. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mahar itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (Qs. An-Nisa’ : 4)

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan memberikan mahar kepada wanita yang hendak dinikahi, maka hal tersebut menunjukkan bahwa mahar merupakan syarat sah pernikahan. Pernikahan tanpa mahar berarti pernikahan tersebut tidak sah, meskipun pihak wanita telah ridha untuk tidak mendapatkan mahar. Jika mahar tidak disebutkan dalam akad nikah maka pihak wanita berhak mendapatkan mahar yang sesuai dengan wanita semisal dirinya (‘Abdurrahman bin Nashr as-Sa’di dalam Manhajus Salikiin hal. 203).

Adapun mahar dapat berupa:

1. Harta (materi) dengan berbagai bentuknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-Nisa’: 24)

2. Sesuatu yang dapat diambil upahnya ( jasa).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Berkatalah dia (Syu’aib), ‘Sesungguhnya Aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik’.” (Qs. Al-Qoshosh: 27)

3. Manfaat yang akan kembali kepada sang wanita, seperti:

  • Memerdekakan dari perbudakan
  • Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan Shafiyah binti Huyayin (kemudian menikahinya) dan menjadikan kemerdekaannya sebagai mahar.” (Atsar riwayat Imam Bukhari: 4696)
  • Keislaman seseorang
  • Hal tersebut sebagaimana kisah Abu Thalhah yang menikahi Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anhuma dengan mahar keislaman Abu Thalhah. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhubekata, “Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim. Maharnya keislaman Abu Thalhah. Ummu Sulaim telah masuk Islam sebelum Abu Thalhah, maka Abu Thalhah melamarnya. Ummu Sulaim mengatakan,’Saya telah masuk Islam, jia kamu masuk Islam aku akan menikah denganmu.’ Abu Thalhah masuk Islam dan menikah dengan Ummu Sulaim dan keislamannya sebagai maharnya.” (HR. An-Nasa’I : 3288)
  • Atau hafalan al-qur’an yang akan diajarkannya. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menikahkan salah seorang sahabat dengan beberapa surat al-qur’an hafalannya (HR. Bukhari dan Muslim)

Mahar merupakan hak penuh mempelai wanita. Tidak boleh hak tersebut diambil oleh orang tua, keluarga maupun suaminya, kecuali bila wanita tersebut telah merelakannya. Wahai saudariku, mahar memang merupakan hak wanita. Kita bebas menentukan bentuk dan jumlah mahar yang kita inginkan karena tidak ada batasan mahar dalam syari’at Islam. Namun Islam menganjurkan agar meringankan mahar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik mahar adalah mahar yang paling mudah (ringan).” (HR. al-Hakim : 2692, beliau mengatakan “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Bukhari Muslim.”)

Maka hikmah di balik anjuran untuk meringankan mahar adalah mempermudah proses pernikahan. Berapa banyak laki-laki yang mundur teratur akibat adanya permintaan mahar yang tinggi? Bahkan ada sebagian daerah yang mensyaratkan pemberian mahar yang tergolong tinggi. Menghadapi hal semacam ini, hendaknya pihak wanita bersikap bijak. Tidak masalah jika pihak laki-laki memiliki kemampuan untuk membayar mahar tersebut, namun jika ternyata yang datang adalah laki-laki yang memiliki kemampuan materi yang biasa saja, maka tidaklah layak menolaknya hanya karena ketidakmampuannya membayar mahar. Terutama jika yang datang adalah laki-laki yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya.

Wahai saudariku, untuk apa kita memegang aturan lain jika syari’at dalam agama kita telah memerintahkan sesuatu yang lebih mudah dan mulia? Sesungguhnya sebagian wanita telah berbangga dengan tingginya mahar yang mereka dapatkan, maka janganlah kita mengikuti mereka. Berapa banyak wanita yang terlambat menikah hanya karena maharnya yang terlalu tinggi sehingga laki-laki yang hendak menikahinya harus menunggu selama bertahun-tahun agar dapat memenuhi maharnya. Alangkah kasihannya mereka yang harus menggadaikan hati padahal perkara ini amat mudah penyelesaiannya. Maka, ringankanlah maharmu, wahai saudariku!

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Dawud (n. 2117), Ibnu Hibban (no. 1262 dalam al-Mawaarid) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (I/221, no. 724) dshahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihihul Jaami’ (no. 3300))

Bahkan seandainya seseorang tidak memiliki harta sedikit pun untuk dijadikan mahar, maka diperbolehkan membayar mahar dengan mengajarkan al-Qur’an yang telah dihafalnya kepada wanita yang hendak dinikahi.

Mahar ada beberapa macam yang semuanya diperbolehkan dalam Islam, yaitu 1) mahar yang disebutkan (ditentukan) ketika akad nikah dan 2) mahar yang tidak disebutkan ketika akad nikah. Jika mahar tersebut disebutkan dalam akad nikah, maka wajib bagi suami untuk membayar mahar yang tersebut. Apabila mahar tidak disebutkan dalam akad nikah namun tidak ada kesepakatan untuk menggugurkan mahar, maka wajib bagi suami untuk memberikan mahar semisal mahar kerabat wanita istrinya, seperti ibu atau saudara-saudara perempuannya (mahar mitsl).

Diperbolehkan bagi laki-laki antara membayar tunai dan atau menghutang mahar dengan persetujuan si wanita, baik keseluruhan maupun sebagian dari mahar tersebut. Jika mahar tersebut adalah mahar yang dihutang baik yang telah disebutkan jenis dan jumlahnya sebelumnya maupun yang tidak, maka harus ada kejelasan waktu penangguhan atau pencicilannya. Tidak diperbolehkan seorang suami ingkar terhadap mahar istrinya, karena hal tersebut merupakan khianat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Syarat yang paling berhak kamu penuhi adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan farji (seorang wanita).” (HR. Bukhari : 2520)

Jika Suami Istri Berpisah

Jika Allah mentakdirkan suami meninggal, baik setelah dukhul (berkumpul) ataupun belum, maka sang istri tetap berhak atas mahar secara sempurna, baik dalam mahar yang telah ditentukan sebelumnya maupun dalam mahar mitsl (yang belum ditentukan). Sebagaimana ini dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Demikian juga halnya jika terjadi perpisahan antara suami istri dan telah terjadi dukhul, baik pisah dengan thalaq maupun dengan fasakh. Namun jika thalaq terjadi sebelum dukhul, jika sebelumnya mahar telah ditentukan maka istri berhak setengah dari milik keseluruhannya, dan jika sebelumnya tidak pernah ditentukan maka hak istri atas mahar gugur secara keseluruhan, dan hanya berhak mut’ah (semacam pesangon) dari suami dengan besaran yang disesuaikan dengan tingkat ekonomi suami (lihat Qs. Al-Baqarah: 236-237).

Demikian juga hak mahar akan gugur secara keseluruhan jika thalaq dan fasakh terjadi atas pengajuan istri, atau fasakh terjadi atas pengajuan suami lantaran cacat istri yang belum pernah ia ketahui sebelumnya misalkan, lalu pengajuan itu dikabulkan oleh hakim. Wahai Saudariku, murahkanlah maharmu, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi pernikahanmu. Akhirnya Saudariku, teriring do’a untukmu: baarakallahulaki wa baraka ‘alaiki wa jama’a bainakumaa fii khair…

Maraaji’:
Manhajus Saalikiin wa Taudhlihul Fiqhi Fiddiin, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashr as-Sa’diy
Untukmu yang Merindukan Keluarga Sakinah
, Abu Zahroh al-Anwar, Pustaka Al-Furqon

Donasi dakwah YPIA

141 Comments

  1. Iwan Sabar says:

    Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh ..
    Saya ikhwan (45th) mempunyai istri (31th) dan seorang anak (9th) ..
    Saat ini rumah tangga kami sedang mengalami ujian yang sangat berat, istri saya tercinta meminta saya untuk menceraikannya dengan alasan tidak bahagia, merasa hidup tertekan dan sudah tidak mencintai saya lagi.
    Yang ingin saya sampaikan atau tanyakan adalah apakah ada ustazdah yang bisa memberi semacam counselling kepada kami berdua mengingat istri saya sudah tidak bisa diajak berkomunikasi dengan pihak2 keluarga.
    Kami tinggal di Mega Cinere, Depok Jawa Barat …
    Terimakasih sebelumnya atas perhatiannya ….

    wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

  2. Uwie says:

    Assalamu’alaikum warohmatulloh….

    Izin share ya, ukh…

  3. muslimah says:

    Assalamu’alaikum warahmatullah wabaraktuh
    Permasalahan rumah tangga adalah permasalahan yang pelik dan kompleks.Membutuhkan pondasi ilmu yang kuat dan kokoh untuk menyelesaikannya, untuk itu saya disini hanya sekedar memberikan saran dan masukan kepada Bapak dengan berbekal sedikit ilmu yang ada. Semoga dapat diambil manfaatnya.
    1. Bapak sebagai kepala dan penanggung jawab rumah tangga berkewajiban mendidik istri dan anak2.
    Termasuk dalam hal ini adalah menasehati istri ketika keliru dengan lemah lembut tentunya, mengajari istri hakekat kebahagiaan sejati, wajibnya bersabar ketika tertimpa kesusahan dalam keluarga, wajibnya mencintai suami, taat dan patuh kepada suami, wajibnya bersyukur dan berterimakasih kepada suami seberapapun pemberiannya, menjelaskan bahaya dan ancaman bagi istri yang meminta khulu’(memint acerai kepada suami)tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at. Jika Bapak kesulitan mengajari istri secara langsung, Bapak bisa memanggil ustadzah-sebagaimana keinginan Bapak-, bisa juga Bapak mengajak keluarga untuk mendatangi pengajian-pengajian dengan ustadz2 yang terpercaya keilmuannya.
    2. Introspeksi diri
    kenapa istri saya tidak mencintai saya lagi?
    kenapa dia tidak bahagia hidup dengan saya?
    kenapa dia merasa hidupnya tertekan?
    bisa jadi jawaban pertanyaan diatas kebanyakan karena kesalahan dan perlakuan buruk suami kepada istri. Untuk itu prinsipp muwazanah (menimbang baik dan buruk)terhadap pasangan sangat penting diterapkan dalam kehidupan berumah tangga.
    2. Menghadirkan perwakilan keluarga dari masing2 pihak untuk bermusyawarah.
    “Dan jika kamu khawatir terjadi prsengkataan terhadap keduanya, maka kirimkanlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. jika keduanya(juru damai itu )bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. sungguh Allah Maha Mengetahui dan Maha Teliti”.an Nisa:35.
    Coba Anda meminta bantuan keluarga yang disegani istri dan mampu memberikan nasehat kepadanya.Semoga bermanfaat.
    Allahua’lam bishshowab

  4. light says:

    Assalamualaikum……
    makasih bwt infonya,.semoga ini bermanfaat untuk saya dan teman2 yg lain kedepannya nnti,..sukron…

  5. zainal says:

    assalamu’alaikum wr wb,
    saya seorang ikhwan berumur 24 thn, dan saya mengenal seorang akhwat yg berumur 22 thn. kami sdh saling mengenal sejak dua thn, keinginan kami utk menikah sdh sangat kuat. namun yg menjadi penghalang adlh, karena saya masih kulia. kami sekampung, namun utk sementara ini saya masih kulia di jakarta. apakah ustazah bisa memberikan masukan kepada kami berdua.

  6. Ukhty nida says:

    Ijin share:-)

  7. Akh Haidar says:

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh…
    Ana ikhwan (26) yang insyaALLAH sudah siap untuk segera menunaikan salah satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu menikah dikarenakan dorongan yang sangat kuat untuk menghindari maksiat. Ana telah mengenal seorang akhwat (18) sekitar kurang lebih 1 tahun dan ana ingin sekali menikahinya. Akan tetapi dia sekarang kuliah dan dia termasuk pihak keluarga ingin menikah setelah lulus kuliah yang menurut ana terlalu lama buat ana (3 tahun lg baru lulus). Karena dorongan utk menikah semakin kuat dan insyaALLAH ana sudah mampu, maka ana memutuskan mencari akhwat lain dari kalangan ma’had. Permasalahannya adalah ana sudah terlanjur punya perasaan yg sangat kuat kepada akhwat yg telah ana kenal itu, akan tetapi jika harus menunggu selama 3 tahun ana khawatir dan takut akan jatuh kepada kemaksiatan. Pertanyaannya apa yang harus ana lakukan, apakah ana harus menunggu ataukah ana mencari akhwat lain tsb dengan kekhawatiran ana takut tidak bisa melupakan akhwat yg telah ana kenal tersebut. Mohon masukannya buat ana. Jazakillahu khairan…

  8. noorcalypso says:

    Alhamdulillah…
    sangat beruntung membuka internet hari ini dan mendapatkan artikel ini disini.
    i just got proposed by a good personality man.. which is i didnt know well.dan hari ini setelah membaca ini.. aku memutuskan untuk lebih mempertimbangkannya lagi n i do feel good by doing it :)
    terima kasih Ukhtiy…

  9. Abu 'Isa says:

    alhamdulillah, artikelnya bagus. barakallah fiikum. semoga bisa dibaca oleh para orang tua khususnya para bapak agar memudahkan proses pernikahan dan tidak mempersulit.

    semoga berkah tulisan ini.

  10. althaf says:

    jazakillah khoir,,,
    semoga bisa menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi ana….

  11. Iin says:

    assalamu’alaikum
    ana mampir yah…
    subhanalloh, artikelnya bagus
    Barokallohufik

  12. cici says:

    assalamualaikum ukhti..

    saya mau nanya seputar mahar..
    saya sedikit bingung,

    suami saya waktu itu memberi saya uang sebesar 2 juta.., kemudian oleh saya saya peruntukkan untuk membeli mahar (sudah diskusi dengan calon suami saya waktu itu)

    kemudian, saya tambahkan 2 juta lagi(uang saya pribadi,dan tanpa sepengetahuan orang tua bahwa itu uang saya, tapi sudah memberitahu suami sebelumnya)

    kemudian oleh orang tua saya,dibelikan mahar (emas)
    nah orang tua saya ini membelikan mahar(emas) seharga 2.600.000,-

    dan sewaktu setelah akad(bebrapa hari kemudian)
    saya iseng2 liat kwitansi emas saya (mahar)

    saya kaget waktu melihat kelebihannya berupa 600 ribu
    apakah itu tidak apa2?? karena 600 ribu itu ternyata menggunakan uang saya bukan uang suami (dan dalam hal ini saya ikhlas memberikannya pada suami, saya tidak mau dibayar)

    lalu bagaimana dengan kata “TUNAI” yang diucapkan suami saya waktu itu?

    oiya ukhti, jawaban bisa dikirim ke email saya?

    saya sangat berterima kasih atas jawabannya..:)

    wasalam

  13. suwung says:

    jadi inget pas nikahan ama mboke rangga

  14. Yasmine says:

    Subhanallah..bagus artikelnya..
    Insya Allah bisa kalo bikin buku ukh..

  15. ukthi dewi says:

    assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh……
    saya menemukan jodoh lewat suatu kajian islam dgn perantara murobi.
    alhamdulilah kmrn tgl 26 nov 2009 saya sudah di khitbah seorang ikhwan.insyaalloh tgl 12 desember 2009 nanti kami akan menikah.mohon doa semoga kami menjadi keluarga yg sakinah mawadah warohmah..amien

  16. annna says:

    Assalamualaikum..
    rasanya hampir semua mengalami kejadian yang sama….ingin sekali menikah di usia muda..dan masih kuliah…adakah solusi untuk masalah ini..???

  17. ummu sa'id says:

    assalamu’alaykum. artikelny bgs n sangat m+ ilmu agama saya. ijin share smw artikelnya..biar bs brbagi ilmu dg sodara2 yang lain..jazakllahukhoir

  18. rahmat s says:

    Solusi
    1. Kalau belum diijinkan oleh orangtua menikah diusia muda dan masih kuliah, “bersabarlah”.
    2. Kalau orangtua memberikan pilihan antara kuliah atau menikah, “berusahalah”.

    Tapi jangan lupa keduanya harus digandeng dengan penuh rasa “Tawakkal” hanya kepada Allah. Ingatlah janji Allah dalam surat At-Talaq ayat 3 (artinya): ” Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan cukupkan (keperluan)nya.

    Semoga Allah memudahkan segala urusan hamba-hamba-Nya, aamiin wa Baarakallahu fiikum.

  19. cici says:

    assalamualaikum ukhti..

    saya mohon maaf sebelumnya..
    cuma mau konfirmasi ulang seputar pertanyaan saya yang diatas,kok saya belum terima yah di email saya?

    makasih sebelumnya, wasalam..:)

  20. Ummu Alif says:

    Assalamu’alaikum…
    Sebelumnya, ana mohon jawaban dari tulisan ini dikirim langsung ke e-mail ana. Ana tidak tahu link bertanya ke asatidz yang ada dan khawatir kurang sopan.
    Ana akhwat berusia 21 tahun, masih kuliah tingkat akhir. Ana telah menikah selama sekitar 4 bulan dan belum hamil sampai hari ini. Suami ana berusia 29 tahun. Kami ta’aruf selama dua bulan lalu akhirnya menikah. Cukup banyak masalah yang mendera kami sebelum pernikahan, perjuangan kami, terutama ikhwannya, sangat keras sampai akhirnya kami menikah. Keluarga dari suami ana sangat awam, dan suami sempat “disidang” sebelum menikah karena berjanggut dan bercelana ngatung. Ana pun sampai saat ini ketika ke rumah orangtua suami harus lepas cadar.
    Singkat kata, setelah konsultasi dengan ustadz, kami menikah. Tapi ternyata setelah menikah ana kurang dapat beradaptasi dengan suami ana. Suami ana meminta ana untuk banyak berinisiatif dan berpikir. Misalnya, ketika ana meminta izin untuk membeli buku atau berinfaq, suami tidak menjawab. Tapi di lain waktu suami berkata, “Coba kamu pikirkan mana yang benar-benar penting dan darurat!” Memang suami ana berasal dari keluarga berada, namun sekarang lebih memilih untuk berwirausaha. jadi keadaan maisyah kami memang masih seadanya, tapi tidak kurang sama sekali.
    Ana pun seringkali kurang bisa paham apa yang suami inginkan dari ana. Jujur saja ana memang dimanja oleh orangtua, tidak dibiasakan kerja keras karena ana ada masalah kesehatan (tapi tidak parah). Suami ana berkata, “Ini bukan mau saya, tapi ya kamu jadilah seperti sewajarnya perempuan…” Ketika ana bingung dan bertanya, suami malah berkata ana membantah. Ketika ana menyarankan ini itu dalam cara menyampaikan pada ana, suami berkata ana banyak maunya. Suami sering berkata, “Kamu tuh belum siap nikah!”, akan tetapi ana menyangkal hal itu. Dia mengakui secara syari’at pengertian siap ana benar, tapi secara aplikasi ana masih kurang.
    Kadang ana merasa kesal dan terlanjur emosi. Ana SMS suami ketika sedang kerja dan mengomel beberapa hal, hal ini terjadi beberapa kali. Sampai akhirnya suami membalas SMS, “Nanti saya akan kembalikan kamu ke orangtua…”
    Suami memang baru mengaji, akan tetapi ana melihat agamanya baik sehingga ana mau menerima pinangannya. Dulu ana memberi syarat bahwa dirinya harus rutin mengaji dan dia setuju, sedangkan kini entah mengapa jadi jarang mengaji (lebih suka mendengar radio dan baca buku sendiri). Ana mengingatkan, akan tetapi mungkin ana salah memilih kata dan akhirnya ia merasa disepelekan dan keluarlah kata itu… Dia serius dengan perkataannya. Ana sempat memohon untuk tidak dikembalikan dan dia berkata iya. Akan tetapi ana masih ragu apakah telah jatuh talak kepada ana. Ana pun takut sebelumnya suami memberi sindiran semacam itu.
    Ana sudah sangat sayang pada suami, tapi jujur saja ana masih canggung bahkan untuk menyentuh suami. Mungkin salah satu yang membuat suami kesal adalah hal ini.
    Yang menjadi pertanyaan ana, bagaimana supaya ana bisa lebih mengerti suami ana yang begitu adanya? Dia keras, tidak mau banyak bicara, menuntut ana inisiatif, tapi di sisi lain ana juga ingin jika meminta izin lalu dijelaskan boleh tidaknya dengan jelas.
    Kedua, apakah kata-kata suami itu termasuk thalaq? Dan apakah ketika ia berkata “Iya” ketika ana memohon tidak dikembalikan berarti dia tidak jadi men-thalaq ana? Apakah thalaq bisa dicabut?
    Ketiga, suami sering merasa rendah diri ketika ana nasehati dan sering berkata, “Iya saya tahu…” Memang ana sudah mengaji lebih lama, tapi ana tidak pernah berniat merendahkan suami. Bagaimana cara yang baik untuk menasehati suami tanpa berkesan ana merendahkannya? Karena ana tidak pernah ada niat semacam itu.
    Keempat, bagaimana cara menghilangkan canggung yang masih ada? Memang kami sepekan hanya bertemu 1 kali, dan ana memang ada di rumah orangtua. Jadi ana tidak tau apakah selama ini telah dikembalikan atau bagaimana…
    Jazakillah khoir untuk bantuannya. Ana harap bisa dibalas dalam waktu yang tidak terlalu lama. Qadarullah mungkin ini semua salah ana, tapi ana berniat untuk tetap bertahan dalam pernikahan ana yang baru seumur jagung ini…

  21. riena says:

    Assallamuallaikum ukhti…
    saya akhwat saya mau bertanya tentang mahar,
    1. apa boleh kalau mempelai wanita meminjamkan uang untuk mempelai pria untuk membeli mahar untuk pernikahan mereka, n apabila sudah ada akan di bayar secara berangsur, dan gimana akadnya? boleh ga di anggap “tunai”…
    2. kalau maharnya pinjam sama org lain hanya untuk syarat nikah, setelah nikah dikembalikan gimana akadnya? boleh dianggap “tunai” atau tidak? n apakah pernikahannya itu sah?
    syukran ukhti..saya tunggu jawabannya ya!!

  22. Lyana says:

    Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,
    Saya seorang istri (36thn) dan memiliki 2 anak, laki (9th) & perempuan (4th).
    Rumah tangga saya sedang bermasalah, pokok permasalahannya adalah suami tidak memberi nafkah materi (belanja bulanan, pakaian, sekolah dll) bahkan untuk beberapa kali zakat fitrahnya saya yang menalangi…kami sering ribut tentang hak saya yang tidak dia berikan karena dia lebih memilih menafkahi ibunya (janda) dan adiknya (kuliah) dan adik laki2nya yang telah menikah namun agak kekurangan (suami istri bekerja). Suami telah membelikan rumah untuk kami tempati, namun sebagai istri saya tetap meminta haknya walaupun secara penghasilan saya mampu mencukupi kebutuhan kami, namun saya merasa penghasilan saya sudah tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup yang semakin berat karena saya memikirkan masa depan anak2. Suami juga sangat posesif dan mudah melontarkan kata2 kasar namun saya berusaha bersabar demi anak2. Suami marah besar dgn permintaan saya dan meminta pisah..
    Pertanyaan saya berdosakah saya jika saya berpisah dengannya karena suami tidak ridho dengan permintaan saya, lalu apakah hukumnya suami yang seperti itu..apakah jika saya minta berpisah secara agama dapat diterima dengan alasan bahwa suami tidak memberikan nafkah?. Mohon jika ada seseorang yang bisa saya mintai conceling dapat di infokan kepada saya agar saya bisa tepat dalam membuat keputusan.
    Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.
    Wasalam

  23. dhede says:

    aslm…
    pernikahan.banyak orang yg menginginkan pernikahan,tetapi apakah mereka tahu hakikat dari pernikahan?

  24. ummu hamzah says:

    untuk mba liana:
    Silakan bertanya ke ustadzaris.com atau mungkin link2 ustadz yang lain. Mba liana, adukan semua itu kepada Allah Subhanahu wa ta’alla. Semoga mba liana diberi kesabaran.

  25. sulthon says:

    perlu pembenahan masalah ijab kabul. sudah kita ketauhi bersama yg dinikahkan itu adalah seorang laki2 menikahi perempuan akan tetapi sighatnya saya terima nikahnya nya berarti seorang perempuan menikahi seorang laki2

  26. @ Sulthan

    Perlu diingit kembali bahwa yang menikahkan adalah wali mempelai wanita. Sehingga mempelai laki2 ckup mengatakan saya terima nikahnya Fulanah bintu Fulan…. Lagipula menurut saya-lafadz ini tidak menunjukkan bahwa wanita menikahi laki2.

    @ Mba Lyana dan Mba Riena

    Saya setuju dengan Ummu Hamzah. Ada baiknya kalo pertanyaan Ukhti berdua ditujukan kepada blog asatidz, semisal link berikut:
    http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com
    http://ustadzkholid.com
    http://ustadzaris.com
    http://abiubaidah.com
    silahkan Ukhti layangkan pertanyaan ke link-link diatas agar kamipun bisa mendapatkan manfaat dari jawaban ustadz.
    Barakallahufikunn.

  27. poetra says:

    Ass. dalam pernikahan saya memberikan 3 buah mahar, yang pertama: seperangkat alat sholat, kedua: uang tunai dan ketiga: sepasang cincin kawin di byar tunai, yang saya tannyakan SYAH / TIDAK SAYAH pernikahan saya? bila saya berbohong tentang total dari emas yg saya berikan untuk mahar. dalam mahar tertulis emas yg saya berikan adalah 9,1/2 gram tapi aslinya adalah hanya 6 Gram. tetapi istri saya tahu tentang itu, kita berbohong agar tidak malu karna yg di brikan hannya 6 Gram. Bolehkah saya membayarnya setelah pernikahan telah usai? terima kasih atas jawabbanya.

  28. poetra says:

    Ass. dalam pernikahan saya memberikan 3 buah mahar, yang pertama: seperangkat alat sholat, kedua: uang tunai dan ketiga: sepasang cincin kawin di byar tunai, yang saya tannyakan SYAH / TIDAK SYAH pernikahan saya? bila saya berbohong kepada orang tua isti dan saksi2 pernikahan tentang total dari emas yg saya berikan untuk mahar. dalam mahar tertulis emas yg saya berikan adalah 9,1/2 gram tapi aslinya adalah hanya 6 Gram. TETAPI ISTRI SAYA TAHU TENTANG MASALAH KEKURANGAN MAHAR EMAS TERSEBUT, kita berbohong agar tidak malu karna yg di brikan hannya 6 Gram. Bolehkah saya membayarnya setelah pernikahan telah usai? terima kasih atas jawabbanya.

  29. Cepi says:

    Assalamualaikum Warahmatullohi Wabarakatuh.
    Sebelumnya saya perkenalkan diri, nama saya cepi, saya seorang suami dari seorang istri, kami telah menikah selama 9 tahun. Yang menjadi ganjalan saya sekarang ini bahwa mahar yang saya berikan adalah atas pemberiaan dari istri saya. Hal ini terjadi karena saya sendiri tidak mampu membeli mahar tersebut, kedua istri saya begitu mencintai saya dan ingin menikah dengan saya, sehingga tanpa harus merendahkan perkawinan itu sendiri, sehingga maharpun dia yang beli berupa mas perhiasan yang saya anggap jumlahnya wajar saja selanjutnya diberikan kepada saya sebagai mahar perkawinan. Atas berbagai informasi mengenai hukum mahar itu yang saya terima saat ini, sehingga saya terbuka hati dan wajib mencari penjelasan ini, dan memohon sarannya untuk kebaikan kami berdua. untuk itu sebelumnya saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga atas penjelasan dan saran yang diberikan.Wassalam

  30. ummu Asma' says:

    poetra: untuk pertanyaan ini anda bisa menanyakan di website http://www.ustadzaris.com, tanyajawabagamaislam.blogspot.com atau http://www.ustadzkholid.com agar anda mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap. namun hendaknya anda memohon ampun kepada Alloh karena bagaimanapun anda telah melakukan dosa dusta meskipun anda tidak bermaksud buruk dengan kedustaan tersebut.
    cepi: sebagaimana telah disebutkan dalam artikel di atas bahwa mahar adalah syarat sah pernikahan. istri anda berhak untuk mendapatkan mahar yang umum diterima oleh wanita dalam keluarganya apabila dia tidak meminta. anda diperbolehkan berhutang kepada istri untuk membayar mahar, namun anda wajib mengembalikannya kecuali apabila dia telah merelakannya bagi anda. untuk jawaban lebih lengkap anda berdua dapat bertanya pada link di atas.
    wallohu Ta’ala a’lam

  31. um auzrea says:

    ana izin mngCopy pasTe ya um… syukron..

  32. intan says:

    aku mau tanya nih… terus ada perbedaan gak sih antara mas kawin zaman dulu dan sekarang??????

  33. Fadiyah says:

    Subhanallah… bagus sekali bahasan tentang mahar ini…

    Saya ingin bertanya, bolehkah mahar itu berupa perjanjian seperti abu thalhah kepada ummu sulaim? tetapi karena calon suami telah berislam, maka maharnya itu diganti dengan perjanjian sang suami untuk mengikuti proses tarbiyah hingga akhir hayatnya.

    Tolong dijawab segera ya ukh… Ana membutuhkannya segera….
    Syukron :)

  34. Ummu Maryam says:

    Benarkah jika seorang lelaki menikahi perempuan karena agamanya, lalu ketika perempuan itu terdapat kekurangan dalam hal agama, misalnya berbohong ketika merusak perabotan karena takut suami marah ataupun kurang bisa menahan marah, lalu istri itu bisa dicerai? Mohon penjelasannya.

  35. titik says:

    trimakasih..artikel nya sangat bermanfaat banget,terutama buat saya yang inssyaallah sebentar lagi mau menikah…

  36. M. Jagat Lalana says:

    Assalamu’alaikum…..
    Terima kasih atas artikel nya sangat berarti untuk menambah keilmuan saya, ada sedikit yg ingin saya perjelas bagaimana dgn hukum ny istri menjual mahar yg diterima nya, apakah terlarang atau sah-sah saja secara syar’i….Terima kasih atas tanggapannya
    Wassalam

  37. jajuk widiastuti says:

    assalammualaikum…
    Saya mau tanya kalau mahar boleh tidak dibagi dua? maksudnya setengah dari calon pengantin laki-laki dan setengah lagi dari calon pengantin perempuan? Harap jawaban melalui email saya. Terima kasih.

  38. Ikhwan says:

    Assalamu’alaikum..
    Untuk bapak iwan sabar: smoga tdk patah smangat utk ttp mmprtahankan keutuhan rumah tangga anda, dlm hal ini jg perlu instropeksi diri dan yg utama ialah jika istri sudah menyimpang maka anda wajib untuk meluruskan tentunya dg santun dan ketegasan. smoga Allah Swt slalu memberikan rahmatnya untuk seluruh umatnya. wasslm..

    • Mahar diberikan ketika prosesi akad berlangsung dan termasuk syarat sah pernikahan. Jika pernikahannya itu sendiri gagal (dibatalkan) maka tidak ada kwajiban membayar mahar. jika sudah terlanjur diberikan maka semua kembali kepemilik mahar (pihak laki-laki) apakah dia mengambilnya lagi ataukah direlakan sebagai hadiah. Adapaun pihak wanita tidak berhak untuk mengklaim mahar tersebut adalah miliknya. Allahu A’lam

  39. roslinda says:

    di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari abu hurairah Ra.yuassiru wala tuassir,wabassiru wala tunaffir,,
    hadis ini berbenturan dengan sebuah tradisi/ budaya suatu daerah…
    nah,,bagaimana menyikapi jika sebuah syariat islam berbenturan dengan hukum adat yang berlaku di sebuah wilayah..contohnya tradisi makassar yang maharnya mahal..?????

    • Bila sebuah syari’at berbenturan dengan tradisi adat kebiasaan setempat maka tentu yang diutamakan adalah syariat itu sendiri. Karena tidaklah Allah menciptakan syariat ini kecuali untuk kemashlahatan manusia. Adapun selain syariat adalah aturan yang dibuat-buat mansia terkadang membawa mashlahat dan tidak jarangpula membawa bencana. oleh karena itu berpegang teguh kepada syariat Allah adalah kunci kesuksesan dunia dan akherat. Terkaiat dengan mahalnya mahar yang menjadi kebiasaan adat suatu daerah, sebagaimana nasehat Syaikh Utsaimin kepada para wanita arab (umumnya para muslimah) hendaknya mereka tidak berlebih-lebihan menetapkan mahar sehingga memberatkan calon suami, dan hendaknya para wanita mempermudah proses pernikahan tersebut.

  40. julia Alfari'ah says:

    Assalamu’alaikum…
    maaf ustadzah, mungkin saya agak keluar dr jalur diskusi ini…
    saya berencana menikah..tp ada satu kendala bwt kami, ayah saya ingin saya mnjadi PNS, tp beliau mngizinkan saya menikah bila calon suami saya bs menyanggupi biaya dan emas kawin yg beliau pinta..dan ternyata sangat besar..
    krn beliau bilang, uang dan emas itu nanti utk modal jika ada tes CPNS, jika lewat jalur khusus…apakah yg sebaiknya kami lakukan, utk memberikan pngertian kpd beliau..krn ju2r calon suami saya tdk snggup dg permintaan ayah saya..krn dia mnggunakan biaya dr jerih payahnya sendiri, tdk memberatkan orang tuanya..tolong solusinya dr ustadzah,,,terima kasih..Wassalamu’alaikum wr.wb.

  41. @ Julia
    Wa’alaikumussalam..
    Salah satu solusinya adalah dengan terus melakukan pendekatan kepada orangtua,memberikan pengertian dan pemahaman yang benar tentang arti mahar dan pernikahan disertai dengan tuturkata yang lembut dan sopan. Semoga Allah memudahkan urusanmu Ukhti..

  42. irmarch says:

    Apakah syarat dan mahar itu sama?

    Bolehkan meminta sesuatu yang bermanfaat (entah sebagai syarat atau mahar) tapi berupa “janji”?

    Misalnya, setelah menikah istri ingin terus tinggal di kota yang sekarang ditinggali (karena suasana yang kondusif dan banyaknya kajian serta asatidz yang tinggal di kota tersebut), syarat bahwa sang suami harus terus ikut kajian dan mengajari apa yang dikaji (jika suatu hari telah memiliki anak dan istri tidak dapat lagi ta’lim bersama). Ataupun janji tidak akan menceraikan istri selama istri tidak selingkuh dan perbuatan dosa besar lain. Bolehkah syarat semacam itu?

  43. Mu'adz says:

    Assalamu’alaikum wr.. wb..
    saya ingin bertanya,mohon segera dijawab ya…
    Saya telah menemukan seorang gadis yang ingin saya nikahi, namun orang tuanya tidak memberikan ia menikah sekarang, intinya orang tua dia ingin agar ia selesaikan kuliah dulu. Masalahnya kami suda 3 tahun berkomunikasi pasti sudah barang tentu ada kemaksiatan. Saya pribadi berfikir mencari solusi agar kami bisa halal jika berkomunikasi dan bertemu tapi mustahil kalau tidak menikah. Baru – ini saya mengajak dia untuk segera menikah tanpa sepengetahuan orang tua dia, tapi dengan sepengetahuan kakak dia saja yang telah menganjurkan kami segera menikah. pertanyaan saya:
    Apakah boleh kami menikah dengan wali kakak wanita tesebut sementara orangtuanya tidak mengetahuinya???
    Niat saya menikah cepat-cepat agar tidak terus-terusan terjerumus kedalam kemaksiatan dan menghindari fitnah serta yang tentu yang lebih utama menjalankan sunnah nabi saw..
    Tolong dijawab segera ya..????

  44. dedy purwanto says:

    Saya Dedy (33Th) Mempunyai Istri (36Th),dan sudah mempunyai anak 2 orang 10th dan 9 th, Saya dulu menikah dengan istri saya Masih berhutang mahar seberat 5 gram logam mulia, Itupun sudah persetujuan wali nikah kami tapi terkadang saya merasa berdosa karena belum bisa menunaikan kewajiban saya , pernah saya mengganti mahar saya dengan uang sebesar Rp.500.000 kepada istri saya ,tetapi terkadang istri saya masih menanyakan mahar itu dan bagaimana status pernikahan saya selama ini, apa masih dianggap syah oleh agama Terima Kasih Atas Jawabannya

    • @ Dedy Purwanto
      Kami hanya bisa menyarankan Anda untuk segera melunasi mahar tersebut, karena bagaimanapun mahar adalah kewajiban yan harus Anda tunaikan kepada istri. Setahu kami, mahar boleh dihutang dan pembayarannya disesuaikan dengan kesepakatan antara suami dan istri, sehingga pernikahan Anda tetap sah. Allahua’alam

  45. Zainal Abidin says:

    Assalamu’alikum wr. wb.
    Saya Seorang suami (28th) mempunyai seorang istri (20th)
    pada saat kami kami menikah, saya mengikhlaskan mahar dan yang jadi masalahnya adalah, apa hukum menggunakan uang mahar yang telah diberikan kepada istri saya dengan keikhlasan istri saya tapi saya berjanji untuk menggantinya,
    terima kasih atas pemberitahuannya.
    wassalamua’laikum wr. wb.

    • @ Zainal Abidin
      Wa’alaikumussalam,
      Setahu kami, seorang suami boleh menggunakan harta istri (seperti harta mahar) dengan kerelaan sang istri. Namun jika Anda berjanji mengembalikannya maka kewajiban Anda adalah menunaikan apa yang Anda janjikan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

      “Wahai orang-orang yang beriman penuhilan janji-janji…” (Al-Maidah :1)

  46. budi says:

    Mahar berupa uang tunai apakah wajib/harus segera dibelanjakan ?

  47. vivian handriyana says:

    siapakah yang berhak menentukan mahar? calon mempelai wanita ataukah orang tua dari calon mempelai wanitanya?

    • @ Vivian
      Mahar adalah pemberian kerelaan dari pihak laki-laki. Dan tentunya sesuai dengan kemampuan pihak laki-laki. Adapun jika pihak wanita menetapkan ini dan itu sebagai maharnya maka jika pihak laki-laki menyanggupinya, insya Allah tidak ada masalah. Dan seyogyanya wanita yang baik tidak memberatkan calon suaminya dengan meminta mahar yang tinggi.

  48. nenock says:

    terkait artikel ini yang berbunyi mahar dapat berupa -> Harta (materi) dengan berbagai bentuknya. dalam kondisi saat ini..apakah memberatkan bila seorang wanita meminta mahar sebuah perangkat IT (contoh : laptop)? terkait manfaatnya itu karena sang lelaki masih kuliah, sehingga laptop dapat digunakan bersama nantinya…mohon sarannya ya…terima kasih..

    • @ Nenock
      Memberatkan ataukah tidak semua kembali kepada pihak laki-laki. Jika dirasa mahar berupa laptop ataupun seperangkat PC tidak meberatkan bagi calon mempelai laki-laki maka tidak mengapa. Namun yang perlu diperhatikan harta mahar adalah sepenuhnya hak istri. Jika nanti dalam penggunaannya istri ridha mahar tersebut dipakai bersama-sama (suamiistri) maka hal ini pun juga tidak masalah. Allahu a’lam.

Leave a Reply