Lafadz-Lafadz yang Ringan di Lidah

Penulis: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ust. Aris Munandar

Banyak kata…keluar dari lisan kita. Tapi entah berapa yang mengeluarkan sepatah dua patah yang menambah bekal pahala di akhirat nanti. Ya saudariku…hanya sepatah dua patah kata…yang terasa ringan untuk diucapkan, mudah untuk dihafalkan, dan dapat menambah keimanan kita. Bukankah iman bertambah dan berkurang? Semoga kita tidak lupa untuk mengamalkan sunnah ini dan bersemangat untuk menghafalkan dan mengamalkan do’a dan dzikir lainnya (yang membutuhkan waktu untuk menghafalkan dan mengamalkannya) yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bismillah

Untuk lafadz yang satu ini, mungkin kita sendiri lupa entah kapan mulai mempelajarinya. Ternyata banyak saat-saat yang kita disunnahkan untuk mengluarkan lafadz ini. Yang pertama adalah saat hendak mulai makan. Hei…mungkin langsung ada yang bertanya-tanya, bukankah saat hendak makan doa yang dibaca “Allahumma bariklana…?”

Jawabnya, “Bukan saudariku.” Bahkan do’a tersebut tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena hanya disebutkan dalam hadits yang lemah riwayat dari Ibnu Sunni. Cukup dengan ‘bismillah’. Maka setan tidak akan dapat ikut makan bersama kita.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Apabila seseorang masuk rumahnya dia menyebut Allah Ta’ala pada waktu masuknya dan pada waktu makannya, maka setan berkata kepada teman-temannya, ‘Kalian tidak punya tempat bermalam dan tidak punya makan malam.’ Apabila ia masuk tidak menyebut nama Allah pada waktu masuknya itu, maka setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’, dan apabila ia tidak menyebut nama Allah pada waktu makan, maka setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.’” (HR. Muslim)

Adapun jika kita terlupa membaca ‘bismillah’ di awal waktu kita makan, maka kita cukup membasa ‘bismillah awwalahu wa aakhirohu’ di saat kita ingat.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang kamu makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala (bismillah -pen). Jika ia lupa menyebut nama Allah di awal makannya, maka hendaklah ia mengucapkan,

بِسْمِ اللهِ أوَّلَهُ وَ اخِرَهُ

(Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan pada akhirnya)’.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)

Kita juga disunnahkan membaca bismillah ketika kendaraan yang kita kendarai mogok. (HR. Abu Daud, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud III/941)

Subhanallah
Alhamdulillah, dzikir yang satu ini pun sudah kita hafal sejak lama. Dzikir ini dapat kita amalkan setelah sholat sebanyak 33 kali (HR. Bukhari dan Muslim) atau kita dzikirkan pula sebelum tidur sebanyak 33 kali (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam satu riwayat lain, dibaca sebanyak 34 kali sebelum tidur. Lafadz ini juga disunnahkan untuk diucapkan ketika kita dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang menurun (HR. Bukhari dalam al-Fath VI/135). Dapat pula kita ucapkan ketika kita sedang takjub dengan kebesaran ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala (HR. Bukhari)

Adapula lafadz tasbih lainnya yang telah diajarkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai Allah Yang Maha Pengasih, (yaitu),

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

ّ
“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, maha suci Allah Yang Maha Agung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai Allah adalah

سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِ هِ

(HR. Muslim)

Alhamdulillah
Lafadz ini adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabbnya dengan memberikan pujian kepada-Nya. Lafadz ini juga disunnahkan dibaca setelah sholat sebanyak 33 kali dan juga sebelum tidur 33 kali.

Setelah bersin, kita juga disunnahkan mengucapkan alhamdulillah atau alhamdulillah ‘ala kulli haal (HR. Bukhari). Nah, bagi yang mendengar lafadz alhamdulillah dari orang yang bersin, maka berikanlah do’a kepadanya, yaitu

يَر حَمُكَ اللّه

yarhamukallah
“Semoga Allah merahmatimu.”

Kalau sudah mendapat do’a ini, maka orang yang bersin tadi membaca

يَهْدِ يكُمُ اللّهُ و يُصلح بَالَ كُمْ


yahdikumullah wa yuslih baalakum’
“Semoga Allah memberi petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.”

Keutamaan dzikir alhamdulillah dan dzikir subhanallah juga terdapat dalam hadits berikut,

“Dari Abu Malik al-Asy’ary dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersuci adalah setengah iman, الحَمْدُ لِلَّهِ memenuhi timbangan, dan سُبْجَانَ اللّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya) memenuhi antara tujuh langit dan bumi.”‘” (HR. Muslim)

Allahu Akbar
Sama seperti dua lafadz sebelumnya, lafadz ini juga disunnahkan dibaca setelah sholat dan sebelum tidur. Setelah shalat sebanyak 33 kali dan sebelum tidur sebanyak 33 kali (dalam riwayat lain 34 kali).

Lafadz Allahu Akbar juga sunnah diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dari ciptaan Allah (HR. Bukhari dalam al-Fath). Dan tahukah saudariku, ternyata lafadz ini juga termasuk dzikir yang sunnah diucapkan ketika dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang menanjak. (HR. Bukhari dalam al-Fath VI/135)

Laa ilaha illallah
Alhamdulillah, kita semua tentu telah melafadzkan ini karena inilah salah satu pembeda antara muslim dengan kafir. Tentu saja pelafalan lafadz laa ilaha illallah harus disertai dengan keyakinan hati dan pemaknaan yang benar, bahwa tidak ada ilah atau sesembahan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan tentang lafadz ini dalam haditsnya,

“Sebaik-baik dzikir adalah ada لا اله الا الله (tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah).” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”)

Dan sungguh manis ganjaran orang yang yang melafadzkan dzikir ini, sebagaimana dijelaskan oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaah illallah, maka ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di Surga.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”)

Saudariku tentu juga mengetahui, pernah menjadi tren ‘latah’ yang menyebar di berbagai kalangan. Salah satu ciri latah ini adalah jika seseorang dikagetkan atau terkejut, maka akan keluar kata-kata yang tidak dia sadari. Atau bahkan ia bisa dikontrol oleh orang yang mengejutkannya sehingga berkata-kata atau bertingkah laku yang tidak-tidak. Padahal untuk urusan yang terlihat kecil ini, ternyata telah pula diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang terkejut disunnahkan untuk mengucapkan lafadz ‘laa ilaha illallah’. (HR. Bukhari dalam Fathul Baari VI/181 dan Muslim IV/22208)


Masya Allah
Yang satu ini, seringkali penulis dengar dilafalkan bukan pada tempatnya. Masya Allah memiliki makna “Atas kehendak Allah”. Lafadz ini diucapkan ketika kita takjub melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, baik berupa harta, kondisi fisik atau yang lainnya. Dalam surat Al Kahfi, terdapat tambahan,

“Masya Allah laa quwwata illa billah”

“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah.”

Lafadz ini juga berkaitan dengan penyakit ‘ain. Dengan melafadzkan “Masya Allah” ketika kita mengaggumi kelebihan yang dimiliki orang lain, diharapkan orang tersebut tidak terkena penyakit ‘ain disebabkan pandangan kita. Karena penyakit ‘ain ini dapat terjadi baik kita sengaja ataupun tidak.

Nah…yang sering menarik pandangan seseorang adalah tingkah dan fisik anak kecil yang menggoda. Pipinya yang lucu, matanya yang nakal dan lain sebagainya. Lalu datanglah pujian dari sanak, saudara atau teman sekitar kita. Namun kita mungkin lupa, bahwa anak juga merupakan anugrah yang dapat terkena ‘ain. Maka, ingatkanlah orang-orang sekitar untuk mengucapkan masya Allah ketika memberikan pujian kepada anak kita. Begitupula dengan kita sendiri ketika memuji anak atau benda milik seseorang, maka ucapkanlah ‘masya Allah’ ini.

Astaghfirullah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Pujian yang paling tinggi adalah la ilaha illallah, sedangkan doa yang paling tinggi adalah perkataan astaghfirullah. Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesakan Allah dan memohon ampunan bagi diri sendiri dan bagi orang-orang mukmin.”

Memohon ampunan dengan lafadz ini sunnah diucapkan sebanyak 3 kali setelah selesai salam dari sholat wajib. Kita juga dapat memohon ampunan sebanyak-banyaknya, sebagaimana banyak ayat Al-Qur’an menunjukkan hal ini. Begitupula dari contoh perbuatan Rasululllah shallallahu’alaihi wa sallam (padahal beliau sudah diampuni dosanya yang telalu lalu dan akan datang). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohn ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari)

Kita sebagai wanita juga diperintah untuk memperbanyak istighfar, sebagaimana dalam hadits berikut,

“Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian adalah kebanyakan penghuni neraka!”

Seorang wanita dari mereka bertanya, “Wahai Rasululllah, mengapa kami menjadi kebanyakan penghuni neraka?”

Beliau menjawab, “Kalian terlalu banyak melaknat dan ingkar (tidak bersyukur) terhadap (kebaikan) suami, aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya bisa mengalahkan lelaki yang berakal kecuali kalian.”

Ia bertanya, “Apa maksudnya kurang akal dan agama?”

Beliau menjawab, “Persaksian dua orang wanita sama dengan seorang laki-laii dan wanita berdiam diri beberapa hari tanpa shalat.”
(HR. Muslim)

Ini adah lafadz-lafadz dzikir yang ringan di lidah dan mudah untuk dihafal dan diamalkan, insya Allah. Semoga yang ringan ini juga menjadi pemicu untuk menghafal dan mempraktekkan do’a dan dzikir-dzikir lain yang lebih panjang. Barakallahufikunna.

Maraji’:
Hisnul Muslim (terj), Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani, at-Tibyan
Istighfar (terj), Ibnu Taimiyah, Darul Falah, cetakan pertama 2002 M
Riyadus Shalihin, Jilid 1 (terj), Imam Nawawi dengan tahkik Syaikh Nashiruddin al-Albani, Duta Ilmu, cetakan kedua 2003
Riyadus Shalihin, Jilid 2 (terj), Imam Nawawi dengan tahkik Syaikh Nashiruddin al-Albani, Duta Ilmu, cetakan kedua 2003

***

Artikel muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

58 Comments

  1. anne says:

    ijin copas,,,n skalian tanya ukh,,,wlopun hadits lemah,,,jk di TK ank2 kecil diajarkan allohuma bariklana,,,dan kita pun mengajarkannya,,,apakah boleh atau tidak???,,,jazakillahu khoir,,,

  2. www.muslimah.or.id says:

    Tidak boleh ya ukhti…hadits lemah tidaklah diamalkan.
    Dan hati-hati mengajarkan atau menyampaikan hadits yang tidak berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ancamannya sungguh keras.

    Ajarkanlah yang berdasarkan hadits yang shaihih. Dan bukankah lebih mudah daripada anak menghafalkan bacaan yang salah dan membekas sampai akhir hayat.

  3. angie says:

    As salamualaikum. .

    Jdi bagaimana thd saudara2 qta yg tdk tau ttg membca”allahuma bariklana”swkt mkan?
    Apkah mrka jga brdosa.?

  4. ayyasi says:

    tapi udah kebiasaan di indonesia, doa mau makan ya allahuma bariklana, selesai makan alhamdulillahiladzi athamana …. gimana caranya memberi tahu bahwa itu salah, sedangkan doa2 sejenis itu ada di kurikulum TPA2, doa berbuka puasa yang biasa kita baca jg allahuma lakasumtu … apa itu jg haditsnya lemah?

  5. www.muslimah.or.id says:

    Pelan-pelan dan bertahap ukhti, kita beritahu ibadah yang benar kepada saudari kita yang lain. Bisa dengan memberikan tulisan tentang ini atau cara lainnya.

    Untuk doa buka puasa, memang benar bukan itu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Coba cek artikel berikut.

    Pada dasarnya, orang yang ‘jahil’ (tidak mengilmui) akan sesuatu syariat karena terhalang untuk mengetahuinya (seperti di daerah terpencil atau tidak ada yang mengajarkan dan tidak ada sarana untuk mempelajarinya), maka orang tersebut tidak dikenakan dosa.

    Kewajiban bagi seorang muslim dan muslimah adalah menuntut ilmu din ini. Sehingga dapat diketahui ibadah yang shahih yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Dan bukan sekedar menerima perintah ibadah namun tidak mengilmuinya. Jangan sampai kita terjatuh kepada apa yang telah terjadi pada kesalahan kaum musyrikin, sebagaimana dalam firman-Nya,

    “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (Qs. Luqman)

    “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ?.”
    (Qs. Al-Maaidah: 104)

    Wallahu a’lam

  6. ummu musa says:

    Yup, benar sekali tuh. Di Indonesia ini, banyak sekali tersebar kebiasaan-kebiasaan yang ngga syar’i. Baik diambil dari hadits-hadits lemah atau bahkan palsu, maupun dari adat- istiadat turun-temurun yang dimasukkan ke dalam syariat Islam. Subhanalloh…jika di beri tau kepada yang seharusnya dari agama ini, mereka akan berkata, ” Dari dulu udah kaya gini qo!”. Persis seperti surat Al-Maidah:104. Nasalulloh hal ‘aafiyah. Semoga Allah ‘azza wa jalla tetap memberikan kepada kita, yang ingin menjalankan syariat Islam sesuai dengan yang Allah Ta’ala inginkan dan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan, taufik dan hidayah-Nya. Aamiin

  7. merny 19 says:

    Assalamu’alaikum…..
    ukhti, aq seorang yg baru hijrah, butuh bgt bnyak belajar, untuk itu mohon bimbinganya ya Ukhti.
    aq mau tanya, bagaimana hukumnya jika tetap mengamalkan doa sebelum makan yg tdak dlakukan oleh rosuluLLah???
    apa benar2 sangat tidak boleh misal kita melakukan kebiasaan yg tak pernah rosuLL lakukan?
    mohon dijawab ya ukhti…..
    semoga qt sll diberi petunjuk untuk dapat beramal Syar’i. amiin…
    jazakumuLLah.
    wasalamu’alaikum…

  8. satria says:

    subhanallah…

    artikel yang bagus

  9. www.muslimah.or.id says:

    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Di sini perlu diperjelas antara kebiasaan dan syari’at karena tidak semua hal yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah hal ibadah yang harus kita lakukan (misalnya masalah jenis pakaian).

    Yang jelas tidak boleh melakukan amalan ibadah yang tidak disyari’atkan oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Hukum asal segala amalan yang diniatkan ibadah harus ada dalilnya dari Al-Qur’an, Sunnah maupun ijma.

    Dan dalil-dalil selain Al-Qur’an harus jelas keshahihannya.

    Sedangkan untuk masalah adat (kebiasaan) maka hukum asalnya adalah boleh (misalnya makan dan pakaian) dan ketika makananan itu diharamkan (misalnya babi, katak dll) atau pakaian itu diharamkan (misalnya memakai pakaian ketat) maka harus ada dalilnya (dan ini ada dalilnya dari Al-Qur’an dan Sunnah).

    Wallahu a’lam

  10. satria says:

    Assalamu’alaikum…

    Ukhti..
    ana mau tanya, bagaimana dengan hukum membaca doa sesudah makan yang sudah biasa diajarkan yaitu “alhamdulillahilladzi….dst” apakah doa itu diambil dari hadist yang kuat?
    mohon penjelasannya…

  11. www.muslimah.or.id says:

    Untuk doa setelah makan, alhamdulillahilladzi athamana itu juga tidak shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Hadits yang shahih atau sampai derajat hasan tentang doa setelah makan adalah sebagai berikut:

    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وََرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حوْلٍ مِنِّي وَ لاَ قُوَّةٍ

    “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku makanan ini, telah menjadikannya sebagai rezekiku tanpa daya dan kekuatan dari diriku sendiri.” (Dikeluarkan ash-Haabussunan, kecuail an-Nasaa-i. Lihat Shahih Tirmidzi III/159)

    الْحَمْدُ لِلَّهِ حَنْدًا كثِيراً طَيِّباً مُبَارَكاً فِيهِ غَيْرَ (مَكْفِيٍّ وَ لاَ) مُوَدَّعٍ وَ لاَ مُسْتَغْنَيً عَنْهُ رَبَّناَ

    “Segala puji bagi Allah dengan puja-puji yang banyak dan penuh berkah, meski bukanlah puja-puji yang memadai dan mencukupi dan meski tidaklah dibutuhkan oleh Rabb kita.” (HR. Bukhari VI/214 dan Tirmidzi dengan lafalnya V/507)

    Insya Allah artikel muslimah ini memberi penjelasan tentang adab makan lebih jelas.

    Barakallahu fik

  12. dodi kurniawan says:

    Bismillahirrahmanirrahim.
    ukhty ana mau tanya apkah doa ini
    [allahumma inni as aluka birahmatikallati wasi'ta kulli syai'in antakhfirli]
    termasuk dzikir berbuka puasa dan apakah derajat hadistnya.
    allahu yasfih wa barakallahufik.

  13. www.muslimah.or.id says:

    Doa tersebut dinyatakan hasan oleh al-Hafidz dalam takhrij al-Adzkar.

    Sedikit koreksi, “wasi’at” bukan wasi’ta. Wallahu a’lam

  14. ummu ghifari says:

    Assalamu’alaikum…
    Ukhti, ijin copas yaa… mudah2an bisa memberi manfaat bagi keluarga ana yg blm terbiasa dengan hal ini..

  15. ummu anisya says:

    assalammu alaikum warahmatullah wabarakatuh,

    subhanallah..banyak hal yang baru saya tahu..
    saya share ya tulisan ukhti di muslimah.or.id
    jazakillah

  16. ummu fadhl says:

    Bismillaah

    Jazaakillahu khoiron..Ummu Ziyad

  17. rahmat says:

    bismillah, assalamu’alaikum.
    izin copy yaa ukhti.

  18. Ummu Shafa says:

    Assalaamu’alaykum… izin copas, ukth. Untuk pembelajaran bersama. Barakallah fiik.

  19. lif says:

    minta ijin copas…buat referensi saya..trims,sangat bermanfaat

  20. nizar says:

    Assalamualaikum…izin copas ya?

  21. Ummu Zahrah says:

    Assalamu ‘alaykum, izin copy ya um.

  22. yuni says:

    assala’mualaikum
    bagus banget artikelnya numpang copy ya sukron katsiron

  23. Suri says:

    Bagiamana dengan zikir Laa ilaha illallah yang diucapkan 99 x setelah shalat subuh dan shalat magrib pada malam Jumat. ????

  24. isnaini apriani says:

    assalammualaikum, ana minta izin share di fb ya…. Jazakalloh

  25. budiaman says:

    syukron atas infonya
    ijin copas ya…

  26. titik says:

    alhamdulilah dengan ada nya artikel ini semoga kita semua bisa lebih memperbanyak berzdikir …

  27. Kristy Wulandari Surya says:

    Saya baru tahu ternyata doa makan yang sering diajarkan orang tua pada anaknya merupakan hadis lemah…Syukron infonya mbak… ^_^ ijin share ya…

  28. kiki says:

    assalamualaikum…..
    maaf saya jadi bingung…
    jadi do’a sebelum makan seperti apa??
    tolong di kirim ke e-meil saya??
    wassalamualaikum….

  29. Santi says:

    Assalamualaikum

    Ukhti…. bgs bgt ney artikel…ijin share y….syukron….^_^

  30. royan says:

    ass. ukhti artikelnya bagus tapi ukhti alangkah lebih bagus kalo belajar lagi, biar lebih sempurna….wass

  31. winna says:

    assalamualaikum ukhti,

    senang sekali bisa menemukan artikel ini, dari ke-4 maraji’ di atas, mana yang membahas mengenai lafadz Masya Allah? saya ingin lebih dalam mempelajari mengenai lafadz-lafadz di atas, apakah dari ke-4 maraji tersebut saya bisa mempelajarinya? ataukah ada kitab khusus mengenai lafadz-lafadz toyibah?

    terima kasih

  32. ummu syifa' abdirrahman says:

    izin share ukhti di blog ana, jazakillah khoir

  33. Kaamilah says:

    ukhti, jazakillah khair atas jawaban yang kemarin.

    mau tanya lagi boleh ya ukh…

    penyakit ain itu apa ya? dan bagaimana gejala/ciri2nya?

    mohon penjelasan juga tentang kalimat berikut:
    Di sini perlu diperjelas antara kebiasaan dan syari’at karena tidak semua hal yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan adalah hal ibadah yang harus kita lakukan

    Pada kalimat “tidak semua hal adalah ibadah yang harus kita lakukan”…Apakah ada yang membahas lengkap tentang ini ukh? Supaya saya juga tidak mencampuraduk mana yang wajib, mana yang tidak.

    syukran

  34. Ariana Hamidoen says:

    Alhamdulillah ijin share ya jazakallah khairon

  35. Dew Fiwi says:

    bisa kirim ke email saya untuk urut2 an baca dzikirnya pada saat selesai sholat…karena saya kadang mendengar ada yang disambung atau terputus2..bagaimana kalau demikian??

    terimakasih

  36. Andri says:

    Ijin copas ya ukhti trims

  37. Yanuardi Hidayat says:

    Assalamu’alaykum.

    “Setelah bersin, kita juga disunnahkan mengucapkan alhamdulillah atau alhamdulillah ‘ala kulli haal (HR. Bukhari).”

    Bagaimana jika yang diucapkan adalah “Alhamdulillahirobbilalamin”?
    Apakah ini diperbolehkan..?

    Syukron.

    • @yanuardi
      wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh
      selain “Alhamdulillaah” dan “Alhamdulillaah ‘ala kulli haal”,
      bisa mengucapkan
      “Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin” berdasar hadits Riwayat Bukhari dalam kitab al Adabul Mufrad
      boleh juga mengucapkan
      “Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan ‘alaihi kamaa yuhibbu Rabbunaa wa yardhaa” berdasar hadits riwayat Abu Dawud, dan dishahilkan oleh syaikh Al Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud

      Bahasan lebih lengkap salah satunya bisa merujuk ke buku Adab Menguap dan Bersin

  38. Hima says:

    bismillah…. saya ijin copas di blog saya… bolehkah????

  39. ira says:

    asalamuallaikum
    ijin copas ya ukhti….
    alhamdulillah…
    terima kasih ilmunya…

  40. abu aljauzi says:

    Assalaamu’alaikum Ustadz,

    1. Kalau kita mendengar kejelekan / berita baik seseorang, apa yg mesti diucapkan?
    2. Sebagian org biasanya mengucapkan istighfar saat melihat org lain marah, atau saat ia
    jatuh/mendapat musibah. Bagaimana tuntunan yg benar ustadz?
    jazakallaahu khoir

  41. rizal says:

    Assalamu’alaikum semua.. Untuk yang ingin belajar agama, janganlah belajar dari internet, hasil copas.. Alquran dan Hadist tidak bisa bicara sendiri.. tapi belajarlah langsung dari ulama2/ Kyai2 yang maqomnya dekat dengan Allah dan telah diakui oleh masyarakat.. Wassalamu’alaikum..

  42. Ana says:

    Assalamu’alaikum

    saya mau tanya, bolehkan membaca semua lafdz lafadz tersebut ketika diperjalan misal seperti pergi kesekolah yang kondisi jalannya datar?

    jazakillahu khairan katsiran ^_^

  43. Aldi Inzaghi says:

    Izin copas……

  44. alkandaliy says:

    rizal@ jika antum tidak percaya dengan tulisan yg ada di internet, cukup crosscheck dengan kitab yang menjadi sumber rujukannya langsung, atau bertanya kepada ustadz yg telah membaca kitab yg digunakan oleh penulis. #its simple ^^,

  45. aprilia says:

    assalamualaikum ,saya mau tanya tadi di fp apple membahas soal hukumnya membaca subhanallah dan masya Allah,katanya kita kalo melihat sesuatu tdk boleh mengucapkan subhanallah harusnya masya Allah.itu benar gak ya?

    • @ Aprillia
      Betul Ukhti. مَا شَاءَ اللّهُ diucapkan tatkala kita sedang melihat sesuatu yang menakjubkan, sesuatu yang baik-baik. Adapun subhanallah maka diucapkan tatkala melihat sesuatu yang tidak baik, sesuatu yang buruk. Subahanallah brarati Allah Maha Suci dari keburukan-keburukan tersebut.

  46. yulia ni says:

    Pada dasarnya, orang yang ‘jahil’ (tidak mengilmui) akan sesuatu syariat karena terhalang untuk mengetahuinya (seperti di daerah terpencil atau tidak ada yang mengajarkan dan tidak ada sarana untuk mempelajarinya), maka orang tersebut tidak dikenakan dosa.

    jd,org suku d pedalaman indonesia tdk di kenakan dosa krn alasan d atas?

    • @ Yuliani
      Bisa jadi ada penduduk pedalaman di negeri kita ini yang belum mendengar syiar Islam sama sekali. Jika demikian keadaannya ia mendapatkan udzur biljahl (mendapatkan dispensasi karena kejahilannya) sehingga tidak mendapatkan dosa. Allahua’lam

  47. Nur Akhmadi says:

    sebaiknya kita selalu berucap yg baik dari mulut kita, biasakan berzikir, beristighfar dan selalu bermunajad kepada Allah, swt

  48. devianto says:

    kalau ada yg beda agama mengucapkan salam ke kita terus kita balas apa??????

  49. devi says:

    syuqron ustadz atas penjelasan
    izin copy paste ustadz
    baraakallahu fikum, jazaakallahu khoiron katsiron

  50. devi says:

    Bismillah,
    maaf admin, hanya mengoreksi pada lafadz subhanallah wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim, tertulis سُبْحَانَ الله وَ بِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الغَظِيْمِ

    bukan kah seharusnya سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

    juga pada kalimat
    ” Seorang yang terkejut disunnahkan untuk mengucapkan lafadz
    ‘laa ilah illallah’. (HR. Bukhari dalam Fathul Baari VI/181 dan Muslim IV/22208)”

    bukankah seharusnya lafadznya “Laa ilaha illallah ”

    maaf sy baru belajar sunnah, jadi ingin jelas dan terang dalam belajar, apakah betul koreksi sy,
    wallahu ‘alam
    barakallahu fik

Leave a Reply