Khitan bagi Wanita

Penyusun: Ummu Muhammad Bagi masyarakat muslim Indonesia, khitan bagi anak laki-laki adalah sebuah perkara yang sangat wajar, meskipun di sana sini masih banyak yang perlu diluruskan berhubungan dengan …

132 86

Penyusun: Ummu Muhammad

Bagi masyarakat muslim Indonesia, khitan bagi anak laki-laki adalah sebuah perkara yang sangat wajar, meskipun di sana sini masih banyak yang perlu diluruskan berhubungan dengan pelaksanaan sunnah bapak para nabi (Ibrohim ‘alaihissalam). Namun, bagi kaum hawa, khitan menjadi sebuah perkara yang sangat jarang dilakukan, bahkan bisa saja masih menjadi sesuatu yang tabu dilakukan oleh sebagian orang, atau bahkan mungkin ada yang mengingkarinya. Padahal tentang disyariatkannya khitan bagi kaum wanita adalah sesuatu yang benar-benar ada dalam syariat islam yang suci ini, dan setahu kami (penulis) tidak ada khilaf ulama mengenai hal ini. Khilaf di kalangan mereka hanya berkisar antara apakah khitan itu wajib dilakukan oleh kaum wanita ataukah sekedar sunnah (mustahab). Semoga tulisan ini dapat memberikan sedikit penjelasan tentang permasalahan ini.

Pengertian Khitan

Khitan secara bahasa diambil dari kata (ختن ) yang berarti memotong. Sedangkan al-khatnu berarti memotong kulit yang menutupi kepala dzakar dan memotong sedikit daging yang berada di bagian atas farji (clitoris) dan al-khitan adalah nama dari bagian yang dipotong tersebut. (lihat Lisanul Arab, Imam Ibnu Manzhur).

Berkata Imam Nawawi, “Yang wajib bagi laki-laki adalah memotong seluruh kulit yang menutupi kepala dzakar sehingga kepala dzakar itu terbuka semua. Sedangkan bagi wanita, maka yang wajib hanyalah memotong sedikit daging yang berada pada bagian atas farji.”(Syarah Sahih Muslim 1/543, Fathul Bari 10/340)

Dalil Disyariatkannya Khitan

Khitan merupakan ajaran nabi Ibrohim ‘alaihissalam, dan umat ini diperintahkan untuk mengikutinya, sebagaimana dalam QS. An-Nahl: 123,

ثم أوحينا إليك أن اتبع ملّة إبراهيم حنيفا

“Kemudian Kami wahyukan kapadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrohim, seorang yang hanif.”

Disebutkan dalam Tufatul Maudud, halaman 164 bahwa Saroh ketika menghadiahkan Hajar kepada nabi Ibrohim ‘alaihissalam , lalu Hajar hamil, hal ini menyebabkan ia cemburu. Maka ia bersumpah ingin memotong tiga anggota badannya. Nabi Ibrohim ‘alaihissalam khawatir ia akan memotong hidung dan telinganya, lalu beliau menyuruh Saroh untuk melubangi telinganya dan berkhitan. Jadilah hal ini sebagai sunnah yang berlangsung pada para wanita sesudahnya.

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال : قاال رسول الله صلي الله عليه وسلم : خمس من الفطرة : الاستحداد والختان، وقص الشارب،ونتف الابط،وتقليم الأظفا ر.

Dari Abu Harairah radhiyallahu’anhu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ” lima hal yang termasuk fitroh yaitu: mencukur bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim)

Hukum Khitan bagi Wanita

a. Ulama yang mewajibkan khitan, mereka berhujjah dengan beberapa dalil:

1. Hukum wanita sama dengan laki-laki, kecuali ada dalil yang membedakannya, sebagimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Ummu Sulaim radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita itu saudara kandung laki-laki.” (HR. Abu Daud 236, Tirmidzi 113, Ahmad 6/256 dengan sanad hasan).

2. Adanya beberapa dalil yang menunjukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut khitan bagi wanita, diantaranya sabda beliau:

إذ التقى الختا نا ن فقد وجب الغسل

“Apabila bertemu dua khitan, maka wajib mandi.” (HR. Tirmidzi 108, Ibnu Majah 608, Ahamad 6/161, dengan sanad shahih).

عن عائسة رضي الله عنها قالت,قال رسول الله صلي الله هليه و السلم : إذ جلس بين شهبها الأربع و مسّ الختان الختان فقد وجب الغسل.

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila seorang laki-laki duduk di empat anggota badan wanita dan khitan menyentuh khitan maka wajib mandi.” (HR. Bukhori dan Muslim)

عن أنس بن مالك, قال رسول الله صلي الله عليه والسلم لأمّ عاطية رضي الله عنها : إذا خفضت فأشمي ولا تنهكي فإنّه أسرى للوجه وأحضى للزوج.

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu’anhu berkata, Rosulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ummu ‘athiyah,”Apabila engkau mengkhitan wanita biarkanlah sedikit, dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi oleh suami.”(HR. Al-Khatib)

3. Khitan bagi wanita sangat masyhur dilakukan oleh para sahabat dan para shaleh sebagaimana tersebut di atas.

b. Ulama yang berpendapat sunnah, alasannya:

Menurut sebagian ulama tidak ada dalil secara tegas yang menunjukkan wajibnya, juga karena khitan bagi laki-laki tujuannya membersihkan sisa air kencing yang najis yang terdapat pada tutup kepala dzakar, sedangkan suci dari najis merupakan syarat sahnya sholat. Sedangkan khitan bagi wanita tujuannya untuk mengecilkan syahwatnya, jadi ia hanya untuk mencari sebuah kesempurnaan dan bukan sebuah kewajiban. (Syarhul Mumti’, Syaikh Ibnu Utsaimin 1/134)

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah pernah ditanya, “Apakah wanita itu dikhitan ?” Beliau menjawab, “Ya, wanita itu dikhitan dan khitannya adalah dengan memotong daging yang paling atas yang mirip dengan jengger ayam jantan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, biarkanlah sedikit dan jangan potong semuanya, karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih disenangi suami.’ Hal ini karena, tujuan khitan laki-laki ialah untuk menghilangkan najis yang terdapat dalam penutup kulit kepala dzakar. Sedangkan tujuan khitan wnaita adalah untuk menstabilkan syahwatnya, karena apabila wanita tidak dikhitan maka syahwatnya akan sangat besar.” (Majmu’ Fatawa 21/114)

Jadi, khilaf mengenai hukum khitan ini ringan, baik sunnah atau wajib keduanya adalah termasuk syariat yang diperintahkan, kita harus berusaha untuk melaksanakannya.

Waktu Khitan

Terdapat beberapa hadits yang dengan gabungan sanadnya mencapai derajat hasan yang menunjukkan bahwa khitan dilaksanakan pada hari ke tujuh setelah kelahiran, yaitu:

  1. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu’anhuma, bahwasannya Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan aqiqah Hasan dan Husain serta mengkhitan keduanya pada hari ketujuh.(HR. Thabrani dan Baihaqi)
  2. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu berkata, “Terdapat tujuh perkara yang termasuk sunnah dilakukan bayi pada hari ketujuh: Diberi nama, dikhitan,…” (HR. Thabrani)
  3. Dari Abu Ja’far berkata, “Fathimah melaksanakan aqiqah anaknya pada hari ketujuh. Beliau juga mengkhitan dan mencukur rambutnya serta menshadaqahkan seberat rambutnya dengan perak.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Namun, meskipun begitu, khitan boleh dilakukan sampai anak agak besar, sebagaiman telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhyallahu’anhu, bahwa beliau pernah ditanya, “Seperti apakah engkau saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia ?” Beliau menjawab, “Saat itu saya barusan dikhitan. Dan saat itu para sahabat tidak mengkhitan kecuali sampai anak itu bisa memahami sesuatu.” (HR. Bukhori, Ahmad, dan Thabrani).

Berkata Imam Al-Mawardzi, ” Khitan itu memiliki dua waktu, waktu wajib dan waktu sunnah. Waktu wajib adalah masa baligh, sedangkan waktu sunnah adalah sebelumnya. Yang paling bagus adalah hari ketujuh setelah kelahiran dan disunnahkan agar tidak menunda sampai waktu sunnah kecuali ada udzur. (Fathul Bari 10/342).

Walimah Khitan

Acara walimah khitan merupakan acara yang sangat biasa dilakukan oleh umat Islam di Indonesia, atau mungkin juga di negeri lainnya. Persoalannya, apakah acara semacam itu ada tuntunannya atau tidak ?

Utsman bin Abil ‘Ash diundang ke (perhelatan) Khitan, dia enggan untuk datang lalu dia diundang sekali lagi, maka dia berkata, ” Sesungguhnya kami dahulu pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendatangi walimah khitan dan tidak diundang.” (HR. Imam Ahmad)

Berdasarkan atsar dari Utsman bin Abil’Ash di atas, walimah khitan adalah tidak disyariatkan, walaupun atsar ini dari sisi sanad tidak shohih, tetapi ini merupakan pokok, yaitu tidak adanya walimah khitan. Karena khitan merupakan hukum syar’i, maka setiap amal yang ditambahkan padanya harus ada dalilnya dari Al-Qur’an dan As Sunnah. Dan walimah ini merupakan amalan yang disandarkan dan dikaitkan dengan khitan, maka membutuhkan dalil untuk membolehkannya. Semoga Allah ta’ala memudahkan kaum muslimin untuk menjalankan sunnah yang mulia ini.

Di ringkas oleh Ummu Ibrohim, dari:

  1. Khitan bagi Wanita, Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Al-Furqon edisi 6 Tahun V/ Muharram 1427/ Februari 200
  2. Khitan bagi Wanita, Ustadz Abu Nu’aim Al-Atsari, As Sunnah edisi 1/V/1421 H/2001 M
Sebarkan!
230 0 0 0 0 12
In this article

Ada pertanyaan?

86 comments

  1.    Reply

    To sister Anne Veronica, I say welcome to the club. Since you are now Muslimah and your husband also wants it done, you should definitely get it done.

    Female circumcision has many benefits, but make sure what you get is the one known as hoodectomy where they remove the prepuce (hood) of your clit and nothing else.

    I had it done as an adult and enjoy its benefits. No more smelly odour from my clit and no more urinary tract infections. Sex has also become more pleasurable with my exposed clit and oral sex is simply wonderful. It took just a couple of days to heal. Hardly any pain and the benefits last a lifetime!

    If you still have doubts there is an interesting website you could visit http://www.hoodectomyinformation.com.

    I’m sure you’ll opt for the snip once you learn about its benefits. Who would n’t ?

  2.    Reply

    saya wanita mualaf
    calon suami saya meminta saya untuk dikhitan sebelum akad nikah
    jujur saya sendiri belum berani
    saya mohon penjelasannya tentang manfaat khitan bagi wanita

  3.    Reply

    ini kan katanya sunah kan…jadi kalo ga dilaksanakan g pa-pa kan soal nya aku g tau nih dah dikhitan pa belum,trus seandainya belum aku juga takut kalo ngebayangin dikhitan….

  4.    Reply

    Here’s an excellent article on Female Circumcision in Islam

    There are many ahadith or sayings of the Prophet Muhammad (Peace Be Upon Him)to show the important place, circumcision,whether of males or females, occupies in Islam.

    Among these traditions is the one where the Prophet is reported to have
    declared circumcision (khitan) to be sunnat for men and ennobling for
    women (Baihaqi). He is also known to have declared that the bath
    (following sexual intercourse without which no prayer is valid) becomes
    obligatory when both the circumcised parts meet (Tirmidhi). The fact that
    the Prophet defined sexual intercourse as the meeting of the male and
    female circumcised parts (khitanul khitan or khitanain) when stressing on the need for
    the obligatory post-coital bath could be taken as pre-supposing or
    indicative of the obligatory nature of circumcision in the case of both
    males and females.

    Stronger still is his statement classing circumcision (khitan) as one of the
    acts characteristic of the fitra or God-given nature (Or in other words,
    Divinely-inspired natural inclinations of humans) such as the shaving of
    pubic hair, removing the hair of the armpits and the paring of nails
    (Bukhari) which again shows its strongly emphasized if not obligatory
    character in the case of both males and females. Muslim scholars are of
    the view that acts constituting fitra which the Prophet expected Muslims
    to follow are to be included in the category of wajib or obligatory.

    That the early Muslims regarded female circumcision as obligatory even
    for those Muslims who embraced Islam later in life is suggested by a
    tradition occurring in the Adab al Mufrad of Bukhari where Umm Al
    Muhajir is reported to have said: I was captured with some girls from
    Byzantium. (Caliph) Uthman offered us Islam, but only myself and one
    other girl accepted Islam. Uthman said: Go and circumcise them and
    purify them. More recently, we had Sheikh Jadul Haqq, the
    distinguished head of Al Azhar declaring both male and female
    circumcision to be obligatory religious duties (Khitan Al Banat in Fatawa
    Al-Islamiyyah. 1983). The fatwa by his successor Tantawi who opposed
    the practice cannot be taken seriously as we all know that he has
    pronounced a number of unislamic fatwas such as declaring bank interest
    halal and questioning the obligation of women wearing headscarves.

    At the same time, however, what is required in Islam, is the removal of
    only the prepuce of the clitoris, and not the clitoris itself as is widely
    believed. The Prophet is reported to have told Umm Atiyyah, a lady who
    circumcised girls in Medina: When you circumcise, cut plainly and do
    not cut severely, for it is beauty for the face and desirable for the
    husband (idha khafadti fa ashimmi wa la tanhaki fa innahu ashraq lil
    wajh wa ahza ind al zawj) (Abu Dawud, Al Awsat of Tabarani and Tarikh
    Baghdad of Al Baghdadi).

    This hadith clearly explains the procedure to be followed in the
    circumcision of girls. The words: Cut plainly and do not cut severely
    (ashimmi wa la tanhaki) is to be understood in the sense of removing the
    skin covering the clitoris, and not the clitoris. The expression It is beauty
    (more properly brightness or radiance) for the face (ashraq lil wajh) is
    further proof of this as it simply means the joyous countenance of a
    woman, arising out of her being sexually satisfied by her husband. The
    idea here is that it is only with the removal of the clitoral prepuce that
    real sexual satisfaction could be realized. The procedure enhances sexual
    feeling in women during the sex act since a circumcised clitoris is much
    more likely to be stimulated as a result of direct oral, penile or tactile
    contact than the uncircumcised organ whose prepuce serves as an
    obstacle to direct stimulation.

    A number of religious works by the classical scholars such as Fath Al
    Bari by Ibn Hajar Asqalani and Sharhul Muhadhdhab of Imam Nawawi
    have stressed on the necessity of removing only the prepuce of the
    clitoris and not any part of the organ itself. It is recorded in the Majmu Al
    Fatawa that when Ibn Taymiyyah was asked whether the woman is
    circumcised, he replied: Yes we circumcise. Her circumcision is to cut
    the uppermost skin (jilda) like the cocks comb. More recently Sheikh
    Jadul Haqq declared that the circumcision of females consists of the
    removal of the clitoral prepuce (Khitan Al Banat in Fatawa Al Islamiyya.
    1983).

    Besides being a religious duty, the procedure is believed to facilitate good
    hygiene since the removal of the prepuce of the clitoris serves to prevent
    the accumulation of smegma, a foul-smelling, germ-containing cheese-
    like substance that collects underneath the prepuces of uncircumcised
    women (See Al Hidaayah. August 1997). A recent study by Sitt Al Banat
    Khalid Khitan Al-Banat Ru yah Sihhiyyah (2003) has shown that
    female circumcision, like male circumcision, offers considerable health
    benefits, such as prevention of urinary tract infections and other diseases
    such as cystitis affecting the female reproductive organs.

    For more benefits of Islamic female circumcision also known as hoodectomy see http://www.hoodectomyinformation.com

  5.    Reply

    Artikelnya aku suka dan jelas. tapi aku pernah dengar bahwa mencabut bulu ketiak (maaf) itu berpengaruh kepada kelenjar. Nah itu bener atau nggak??

  6.    Reply

    “Assalamu alaikum”
    Saya mau nanya.
    Yg di potong itu bagian mana dan apa bahasa medisnya. . ?
    Mohon di jawab di e-mail saya secara lengkap, karna informasinya sangat berharga untuk seorang muslimah yg akan saya nikahi.
    Terimakasih

  7.    Reply

    ya sebenarnya saya juga perlu akan informasi seperti ini..karena dalam waktu dekat saya juga menikah dengan seorang wanita yang Inysa Allah akan menjad Muallaf..tapi mohon tanggapan apabila sebagian yang mengerti mengatakan bahwa : Khitan bagi wanita adalah SUNNAH nah…persoalannya adalah seorang wanita dewasa dan muallaf akan di khitan? apakah secara Medis itu tidak ada masalah?kemudian apakah bila hal tersebut di tiadakan akan meyalahi syariat?tentu berbeda halnya apabila wanita tersebut di khitan pada saat balita.MOHON TANGGAPANNYA…

  8.    Reply

    Adapun walimah khitan, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Bisa dilihat di : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/07/hukum-mengadakan-walimah-khitan-dan.html

  9.    Reply

    Menarik sekali karena di Metro pernah di tayangkan film dokumenter yang mendeskriditkan tentang khitan bagi perempuan .

  10.    Reply

    baru tau neh….oh jd itu toh..

  11.    Reply

    ada yang punya informasi mengenai rumah sakit atau bidan yang mau mengkhitan bayi perempuan sesuai syariat?
    saya sudah hubungi beberapa rs di yk, mereka hanya membersihkan tidak mengkhitan:(

  12.    Reply

    Dulu anak perempuanku disunat oleh Ibu Cahyono di Depok. No telp 021-7773534

    Katanya di RS Hermina juga bisa

    (tadi di atas udah ada yg posting hehehehe)

  13.    Reply

    Mohon dibantu, untuk di daerah sekitar Depok (Jawa Barat) dimanakah tempat praktek dokter untuk khitan anak wanita ? Karena kami belum menemukan dokter anak untuk mau menjalankan syariah ini? Mungkin karena pemahaman yang kuranga atau khawatir kena delik bahwa itu termasuk kategari pelanggaran HAM ?????

  14.    Reply

    Benar yang dikatakan ummu salma, saat ana di bangku kebidanan juga tidak di ajarkan teknis khitan bayi perempuan dg alasan diatas, bahkan jika masyarakat memaksa atau demi alasan sosial -beberapa- bidan melakukan khitan ‘basa-basi’ yakni membersihkan kelamin bayi prmpn lalu diusap betadine. Padahal khitan bayi perempuan adalah sunnah yg harus kita jaga, mengingat maslahat yang terkandung didalamnya, jua pahala ittiba. oleh sebab itu, mari para bidan dan nakes kita pelajari bagaimana keagungan syariat ini mengajarkan teknis khitan bayi perempuan, agar masyarakat tidak lagi bingung kemana harus mengkhitankan bayi perempuan mereka.

  15.    Reply

    Saya seorang Bidan, kami dilarang lg menyunat bayi perempuan dg alasan merusak alat kelamin perempuan & jk msh melakukan nya ijin prktek dicabut tp sy ttp menganjurkan pasien u ttp menyunat by pr krn ada sunahnya

  16.    Reply

    saya mau bertanya,anak II saya tidak disunat,sekarang umurnya 18 bln,sedangkan kakaknya sudah disunat waktu masih bayi berbarengan dengan ditindik anting,jika sekarang adiknya ingin disunat,harus dibawa kemana yah kedokter anak atau kedokter kandungan,btw saya tinggal di arab saudi,syukron…..

  17.    Reply

    Jadi kamu Mas atau Mbak ??? hehehehe

    blum sunat ya ??

  18.    Reply

    Kagak sii,

    temen yg c0ba ngirim .
    Dan katanya sii dia emg mau .

    Kal0 akuh sii bl0m yakin .
    Hehe . . .

    Makasii y inf0nya .
    Wasalam .

  19.    Reply

    Ini Mas Dhanii atau Mbak Dhanii ????

    Proses sunat buat cewe itu kulit penutup clit nya dipotong dikit, supaya clit nya jadi terbuka seperti burung cowok yg sudah sunat. Hasilnya jadi lebih bersih dan lebih nikmat orgasmenya.

    Sakit nggak ?? yach sakit dikit laah, wong namanya juga disunat. Tapi kalo disunat aja takut sakit, gimana kalo nanti melahirkan bayi ????

    sapa yg takut mo khitan ??? kamu mo khitan ??

  20.    Reply

    Kira kira kalau wanita dewasa dikhitan sakit banget ya ?
    Gimana sih proses sunat buad cewe ?
    Takut ni mo khitan,hehe .

  21.    Reply

    Sama-sama :)…dinda yg mo khitan yach ???? hehhehe

    Tira

  22.    Reply

    trims, Dinda

  23.    Reply

    Buat Dinda,

    Cob di Jl. Pancoran Barat X dg Bidan Delima dan Bidan ambarwati

  24.    Reply

    Buat mas Danny,

    Itulah manfaat khitan wanita jika dilakukan secara benar yaitu membuang kulit penutup klitoris. hasilnya klitoris menjadi lebih bersih dan terbuka, sehingga orgasmenya juga lebih lancar.

    Wanita yg kehidupan seksnya memuaskan tentunya tidak akan cari-cari kepuasan di luar nikah.

    Itulah yg dimaksud dengan ‘mengendalikan syahwat’

  25.    Reply

    Assalamualaikum,setahu saya aturan itu dibuat bukan untuk dilanggar namun untuk ditaati.Bilamana telah disebutkan entah itu di Al Quran sendiri ataupun hadits,maka begitulah adanya.Istri saya saja dikhitan ketika berusia 30 tahun,dikhitan oleh seorang bidan.Alhamdulilah,malah setelah khitan orgasmenya menjadi lebih mudah.Mohon maah bilamana saya keliru karena saya sendiri mualaf jadi belum mengetahui Islam lebih dalam lagi.Wasalamualaikum

  26.    Reply

    Assalamualaikum, saya mau tanya kalau untuk wanita dewasa ingin dikhitan dimana?
    Wassalam,
    Dinda

  27.    Reply

    O iya, saya mau bertanya lagi, kalau laki-laki mengendalikan nafsu bagaimana caranya ya? selain poligami loh (oh iya, kalau poligami bukan “mengendalikan”, tetapi “menyalurkan”)
    terima kasih

  28.    Reply

    Komentar dari Rajab:”Menurut hemat saya bahwa PSK yang banyak bermunculan itu karena tidak di khitan”
    loh? memangnya orang jadi PSK karena nafsu seksualnya berlebihan? bukannya lebih condong karena masalah ekonomi ya? bukannya PSK itu untuk menyalurkan syahwat laki-laki? wah saya jadi bingung nih. kalau laki-laki dikhitan bisa mengendalikan nafsu seksual juga? kalau wanita harus mengendalikan nafsu seksual, berarti laki-laki juga dong ya?
    terima kasih.

  29.    Reply

    Lengket ?? Koq aneh ?? Emang khitan di mana ??? Jangan khitan di dukun atau bidan kampung yang nggak jelas higene dan skill nya.

    Sebaiknya konsultasi ke dokter.

    Untuk adiknya sich tanggung juga yach usia 6 tahun. Biarkan saja dia memutuskan sendiri kalo sudah dewasa

  30.    Reply

    Anak saya pr umur 6 th,tp belum dikhitan.Karena waktu kakaknya umur 9 th dikhitan malah bentuknya jd seperti lengket.Sehingga saya putuskan tdk mengkhitan adiknya.Saya takut seperti kakaknya.Gimana jalan terbaik bagi kedua putri saya.Apakah kakaknya harus dioperasi plastik dan hukumnya gimana. Untuk adiknya apakah harus dikhitankan? Terima kasih

  31.    Reply

    Coba di RSIA Hermina Bogor, telp 0251 328222 dengan Ibu Bidan Okta

  32.    Reply

    Dulu anak perempuanku disunat oleh Ibu Cahyono di Depok. No telp 021-7773534

    Katanya di RS Hermina juga bisa

  33.    Reply

    Assalamu’alaikum wr. wb. Saya tinggal di Bogor, ingin tahu dimanakah tempat untuk mengkhitankan anak perempuan saya yang benar-benar sesuai dengan tulisan ini, karena saya takut salah yang dikhitan jika dilakukan sembarangan. Wassalam

  34.    Reply

    busyeet dah. . . .

  35.    Reply

    Istriku mualaf koq.

    Dulu sebelum akad nikah sudah disunat oleh bidan

  36.    Reply

    Mas, kalo istrinya belum khitan, bawa aja ke dokter SpOG atau SpKK, yg wanita tentunya, keluali Anda rela bagian paling pribadi istri Anda dipegang-pegang lelaki lain.

    Jangan main potong sendiri, ntar bisa-bisa infeksi

  37.    Reply

    Assalam mualaikum,

    Untuk mengetahui wanita sudah dikhitan atau belum, ybs bisa memeriksa sendiri bagian klitoris/ kelentit nya, dengan menggunakan sebuah cermin kecil.

    Bila sudah dikhitan, maka klitorisnya terbuka dan tidak ada kulit yg menutupi. Jika masih ada kulit yg menutupi, maka wanita tsb belum khitan.

    Jika ternyata belum khitan, jangan takut untuk khitan. Bisa dilakukan di dokter SpOG atau SpKK yg wanita

  38.    Reply

    assalamu’alaikum. iya mbak, kami juga ingin tahu, perbedaan wanita yg sudah dikhitan atau belum apa ya??? karena mungkin banyak muslimah yg juga belum tahu dan masih ragu, dulu dirinya sudah dikhitan atau belum. jazakumulloh infonya.

  39.    Reply

    untuk bedain wanita dikhitan apa belom tu gmn yah…
    kemaren tu ada temen yang nganterin temennya untuk menghitankan anak perempuannya. tapi tu kayak ga di khitah tapi cuma di bersiih gt ga ada bekas kayak di khitan. eh iya kalo mualaf wanita apa wajib khitan sebagai mana laki2?

  40.    Reply

    assalamu’alaikum
    jazakallah ya….sy bru tau klo wanita itu dikhitan juga yaa???klo gitu hitannya sebaiknya umur berapa???n lo gak khitan dosa gak??
    syukron ya……..
    wassalamu’alaikum

  41.    Reply

    assalamu’alaikum,
    kata rasulullah,”potong sedikit.” menurut ayah saya, itu seperti halnya lelaki, berarti memotong sedikit DAGING YANG PALING ATAS YAITU KULIT YANG MENUTUPI KELENTIT/CLITORIC. dan untuk pendapat yang begini, saya sependapat dengan ayah saya. lalu bagaimana keadaan saya? alhamdulillah, saya punya ayah yang bijaksana, cerdas menganalisis hadist, dan akibatnya membahagiakan saya dan suami.
    wassalamu’alaikum.

  42.    Reply

    wah istri jg blm dikhitan gmn? Trus masak dikhitan sendiri? bgm caranya, ntar infeksi lak tambah berbahaya…?

  43.    Reply

    Sebaiknya mualaf wanita juga melakukan khitan.

    Jangan takut sakit. Wong melahirkan bayi saja bisa koq, masak digunting sedikit aja takut :)

    Kalo di Malaysia bisa dilakukan di Pusrawi atau Pusat Rawatan Islam oleh dokter wanita

    Saya pernah baca ada RS Islam di Bandung yg bisa mengkhitan wanita dewasa, kalo nggak salah RS Islam Awibitung

  44.    Reply

    apakah wanita muallaf juga harus khitan ??? Calon adik ipar saya muallaf, usia 28 tahun. Apakah dia juga harus khitan ???

    Di mana ada dokter atau klinik yang bisa mengkhitan wanita dewasa ??

  45.    Reply

    ane ijin ngopy yakkk,,,jazakillah khoir,,,oia carane tau udah dikhitan pa belon,,,pye????kan bingung tho….ga tau perbandingannya hehehehe

  46.    Reply

    Assalamu’alaikum,

    afwan ada teman yang bertanya kepada ana tentang beberapa hal berhubungan dengan khitan bagi wanita, antara lain:
    1. Ada gak keringanan bagi wanita utk tidak melakukan khitan ini?
    2. Sejauh mana hukumannya jika meninggalkan khitan ini terutama bagi wanita2 yang telah udzur namun baru mengetahuinya setelah tua?
    3. Apakah ada yg punya bukti medis bahwa, afwan memotong daging paling atas dari kemaluan dapat mengurangi syahwat wanita?
    4. Kalau memang benar demikian berarti dapat disimpulkan bahwa syahwat wanita terletak di daging paling atas dari kemaluan?

    Afwan jika ada kata2 yang kurang berkenan, mohon bantuannya untuk menjawab pertanyaan di atas.

    syukron ,

    wassalamu’alaikum.

  47.    Reply

    Segala sesuatu yang datangnya dari Allah dan Rasulnya dan nash itu jelas dan diperkuat dengan pemahaman para Salafussholeh maka wajib untuk kita ikuti karena dien ini adalah Qolalloh wa Wo Qola Rosulullah wa Ijma Shahabat, Barokallohufiikum

  48.    Reply

    Wanita harus di khitan sebab khitan itu berguna untuk mengurangi shawatnya. Kenapa banyak wanita yang tidak berkhitan hal itu disebabkan ketidaktahuan orang tuanya dengan ajaran Islam. Menurut hemat saya bahwa PSK yang banyak bermunculan itu karena tidak di khitan.

  49.    Reply

    assalaamu’alaikum
    mbak, gimana carane dapatin buletinnya akhwat2 LBIA? pengen ane kasihin ke Ummi dan kerabat di rumah, juga buat akhwat2 IPDN n Unpad…jazakillah khoiron…

    http://salafiyunpad.wordpress.com

  50.    Reply

    Saya sangat senang dengan permasalahan ini,karna ada banyak jutaan(hampir smuanya)bhw khitan bagi kaum wanita jaman skarag ini sudah mrupakan suatu hal yg trlupakan dan dilupakan!!kcuali oleh anak prmpuan yg orag tuany bermanhaj salafusalih,insya 4wl!