Hukum Seputar Darah Wanita: HAID

Penulis: Ummu Hamzah
Muroja’ah: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar

Pada tulisan yang telah lalu telah dibahas mengenai hal-hal yang diharomkan bagi wanita haid. Pada tulisan bagian kedua ini, akan dipaparkan tiga permasalahan penting terkait wanita haid, yaitu mengenai boleh tidaknya wanita haid masuk ke dalam masjid serta menyentuh dan membaca Al Qur’an.

Bolehkah seorang wanita yang sedang haid masuk dan duduk di dalam masjid ?

Sebagian ulama melarang seorang wanita masuk dan duduk di dalam masjid dengan dalil:

لاَأُحِلُّ الْمَسْجِدُ ِلحَائِضٍُ وَلا َجُنُبٍ

“Aku tidak menghalalkan masjid untuk wanita yang haidh dan orang yang junub.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud no.232, al Baihaqi II/442-443, dan lain-lain)

Akan tetapi hadits di atas merupakan hadits dho’if (lemah) meski memiliki beberapa syawahid (penguat) namun sanad-sanadnya lemah sehingga tidak bisa menguatkannya dan tidak dapat dijadikan hujjah. Syaikh Albani -rahimahullaah- telah menjelaskan hal tersebut dalam ‘Dho’if Sunan Abi Daud’ no. 32 serta membantah ulama yang menshahihkan hadits tersebut seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu al Qohthon, dan Asy Syaukani. Beliau juga menyebutkan ke-dho’if-an hadits ini dalam Irwa’ul Gholil’ I/201-212 no. 193.

Berikut ini sebagian dalil yang digunakan oleh ulama yang membolehkan seorang wanita haid duduk di masjid (Jami’ Ahkamin Nisa’ I/191-192):

  1. Adanya seorang wanita hitam yang tinggal di dalam masjid pada zaman Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Namun tidak ada dalil yang menyatakan bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memerintahkannya untuk meninggalkan masjid ketika ia mengalami haidh.
  2. Sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu’anha, “Lakukanlah apa yang bisa dilakukan oleh orang yang berhaji selain thowaf di Baitullah.” Larangan thowaf ini dikarenakan thowaf di Baitullah termasuk sholat, maka wanita itu hanya dilarang untuk thowaf dan tidak dilarang masuk ke dalam masjid. Apabila orang yang berhaji diperbolehkan masuk masjid, maka hal tersebut juga diperbolehkan bagi seorang wanita yang haidh.

Kesimpulan:

Wanita yang sedang haid diperbolehkan masuk dan duduk di dalam masjid karena tidak ada dalil yang jelas dan shohih yang melarang hal tersebut. Namun, hendaknya wanita tersebut menjaga diri dengan baik sehingga darahnya tidak mengotori masjid.

Bolehkah seorang wanita yang sedang haid membaca Al Qur’an (dengan hafalannya) ?

Sebagian ulama berpendapat bahwa wanita yang haid dilarang untuk membaca Al Qur’an (dengan hafalannya) dengan dalil:

لاَ تَقرَأِ الْحَا ءضُ َوَلاََ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْانِ

“Orang junub dan wanita haid tidak boleh membaca sedikitpun dari Al Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi I/236; Al Baihaqi I/89 dari Isma’il bin ‘Ayyasi dari Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar)

Al Baihaqi berkata, “Pada hadits ini perlu diperiksa lagi. Muhammad bin Ismail al Bukhari menurut keterangan yang sampai kepadaku berkata, ‘Sesungguhnya yang meriwayatkan hadits ini adalah Isma’il bin Ayyasi dari Musa bin ‘Uqbah dan aku tidak tahu hadits lain yang diriwayatkan, sedangkan Isma’il adalah munkar haditsnya (apabila) gurunya berasal dari Hijaz dan ‘Iraq’.”

Al ‘Uqaili berkata, “Abdullah bin Ahmad berkata, ‘Ayahku (Imam Ahmad) berkata, ‘Ini hadits bathil. Aku mengingkari hadits ini karena adanya Ismail bin ‘Ayyasi’ yaitu kesalahannya disebabkan oleh Isma’il bin ‘Ayyasi’.”

Syaikh Al Albani berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari penduduk Hijaz maka hadits ini dhoif.” (Diringkas dari Larangan-larangan Seputar Wanita Haid dari Irwa’ul Gholil I/206-210)

Kesimpulan dari komentar para imam ahli hadits mengenai hadits di atas adalah sanad hadits tersebut lemah sehingga tidak dapat digunakan sebagai dalil untuk melarang wanita haid membaca Al Qur’an.

Hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha beliau berkata, “Aku datang ke Mekkah sedangkan aku sedang haidh. Aku tidak melakukan thowaf di Baitullah dan (sa’i) antara Shofa dan Marwah. Saya laporkan keadaanku itu kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, ‘Lakukanlah apa yang biasa dilakukan oleh haji selain thowaf di Baitullah hingga engkau suci’.” (Hadits riwayat Imam Bukhori no. 1650)

Seorang yang melakukan haji diperbolehkan untuk berdzikir dan membaca Al Qur’an. Maka, kedua hal tersebut juga diperbolehkan bagi seorang wanita yang haid karena yang terlarang dilakukan oleh wanita tersebut -berdasar hadits di atas- hanyalah thowaf di Baitullah. (Jami’ Ahkamin Nisa’ I/183)

Kesimpulan:

Wanita yang sedang haid diperbolehkan untuk berdzikir dan membaca Al Qur’an karena tidak ada dalil yang jelas dan shohih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang melarang hal tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam.

Bolehkah seorang wanita yang sedang haid menyentuh mushhaf Al Qur’an ?

Telah terjadi perselisihan pendapat di kalangan ulama. Ulama yang melarang hal tersebut berdalil dengan ayat:

لاَّ يَمَسَّةُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ

Artinya:

“Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (QS. Al Waqi’ah: 79)

يَمُسُّ maksudnya adalah menyentuh mushhaf al Qur’an. المُطَهَّرُونَ maksudnya adalah orang-orang yang bersuci. Oleh karena itu tidak boleh menyentuh mushaf al Qur’an kecuali bagi orang-orang yang telah bersuci dari hadats besar atau kecil.

Mereka juga berdalil dengan hadits Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam menulis surat kepada penduduk Yaman dan di dalamnya terdapat perkataan:

لاَّ يَمَسُّ الْقُرْاَنَ إِلاَّ طَا هِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci.” (Hadits Al Atsram dari Daruqutni)

Sanad hadits ini dho’if namun memiliki sanad-sanad lain yang menguatkannya sehingga menjadi shahih li ghairihi (Irwa’ul Ghalil I/158-161, no. 122)

Ulama yang membolehkan wanita haid menyentuh mushhaf Al Qur’an memberikan penjelasan sebagai berikut:

إِنَّهُ لَقُرْءَانٌ كَرِيْمٌ فِي كِتَابٍ مَّكْنُو نٍ لاَّ يَمَسَّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُونَ تَتِريلٌ مِّن رَّبِّ الْعَا لَمِينَ

Artinya:
“Sesungguhnya Al qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia pada kitab yang terpelihara. Tidak menyentuhya kecuali (hamba-hamba) yang disucikan. Diturunkan oleh Robbul ‘Alamin.” (QS. Al Waqi’ah: 77-80)

Kata ganti ﻪ (-nya pada “Tidak menyentuhnya”) kembali kepada ﻛﺘﺎﺏ ﻣﻜﻨﻮﻥ (Kitab yang terpelihara). Ibnu ‘Abbas, Jabir bin Zaid, dan Abu Nuhaik berkata, “(yaitu) kitab yang ada di langit”.

Adh Dhahhak berkata, “Mereka (orang-orang kafir) menyangka bahwa setan-setanlah yang menurunkan Al Qur’an kepada Muhammad shallallaahu’alaihi wa sallam, maka Allah memberitakan kepada mereka bahwa setan-setan tidak kuasa dan tidak mampu melakukannya.” (Tafsir Ath Thobari XI/659).

Mengenai ﺍﻟﻤُﻄَﻬَّﺮُﻭﻥَ menurut pendapat beberapa ulama, di antaranya:

  1. Ibnu ‘Abbas berkata, “Adalah para malaikat. Demikian pula pendapat Anas, Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Adh Dhahhak, Abu Sya’tsa’ , Jabir bin Zaid, Abu Nuhaik, As Suddi, ‘Abdurrohman bin Zaid bin Aslam, dan selain mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir (Terj.)]
  2. Ibnu Zaid berkata, “yaitu para malaikat dan para Nabi. Para utusan (malaikat) yang menurunkan dari sisi Allah disucikan; para nabi disucikan; dan para rasul yang membawanya juga disucikan.” (Tafsir Ath Thobari XI/659)

Imam Asy Syaukani berkata dalam Nailul Author, Kitab Thoharoh, Bab Wajibnya Berwudhu Ketika Hendak Melaksanakan Sholat, Thowaf, dan Menyentuh Mushhaf: “Hamba-hamba yang disucikan adalah hamba yang tidak najis, sedangkan seorang mu’min selamanya bukan orang yang najis berdasarkan hadits:

الْمُؤْمِنُ لاَ يَنْجُسُ

“Orang mu’min itu tidaklah najis.” (Muttafaqun ‘alaih)

Maka tidak sah membawakan arti (hamba) yang disucikan bagi orang yang tidak junub, haid, orang yang berhadats, atau membawa barang najis. Akan tetapi, wajib untuk membawanya kepada arti: Orang yang tidak musyrik sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” (QS. At Taubah: 28)

Di samping itu lafadz yang digunakan dalam ayat tersebut adalah dalam bentuk isim maf’ul-nya (orang-orang yang disucikan), bukan dalam bentuk isim fa’il (orang-orang yang bersuci). Tentu hal tersebut mengandung makna yang sangat berbeda.

Mengenai hadits “Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci”, Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata, “Yang paling dekat -Wallahu a’lam- maksud “orang yang suci” dalam hadits ini adalah orang mu’min baik dalam keadaan berhadats besar, kecil, wanita haid, atau yang di atas badannya terdapat benda najis karena sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam: “Orang mu’min tidakah najis” dan hadits di atas disepakati keshahihannya. Yang dimaksudkan dalam hadits ini (yaitu hadits Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci) bahwasanya beliau melarang memberikan kuasa kepada orang musyrik untuk menyentuhnya, sebagaimana dalam hadits:

نَهَى أَنْ يُسَا فَرَ بِا لْقُرْانِ إِلَى أَرْضِ اْلعَدُو

“Beliau melarang perjalanan dengan membawa Al Qur’an menuju tanah musuh.” (Hadits riwayat Bukhori). (Dinukil dari Larangan-larangan Seputar Wanita Haid dari Tamamul Minnah, hal. 107).

Meski demikian, bagi seseorang yang berhadats kecil sedang ia ingin memegang mushaf untuk membacanya maka lebih baik dia berwudhu terlebih dahulu. Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqash berkata, “Aku sedang memegang mushhaf di hadapan Sa’ad bin Abi Waqash kemudian aku menggaruk-garuk. Maka Sa’ad berkata, ‘Apakah engkau telah menyentuh kemaluanmu?’ Aku jawab, ‘Ya.’ Dia berkata, ‘Berdiri dan berwudhulah!’ Maka aku pun berdiri dan berwudhu kemudian aku kembali.” (Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwaththa’ dengan sanad yang shahih)

Ishaq bin Marwazi berkata, “Aku berkata (kepada Imam Ahmad bin Hanbal), ‘Apakah seseorang boleh membaca tanpa berwudhu terlebih dahulu?’ Beliau menjawab, ‘Ya, akan tetapi hendaknya dia tidak membaca pada mushhaf sebelum berwudhu”.

Ishaq bin Rahawaih berkata, “Benar yang beliau katakan, karena terdapat hadits yang dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau bersabda, ‘Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci’ dan demikian pula yang diperbuat oleh para shahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” (Dari Larangan-larangan Seputar Wanita Haid, dari Irwaul Gholil I/161 dari Masa’il Imam Ahmad hal. 5)

Abu Muhammad bin Hazm dalam Al Muhalla I/77 berkata, “Menyentuh mushhaf dan berdzikir kepada Allah merupakan ibadah yang diperbolehkan untuk dilakukan dan pelakunya diberi pahala. Maka barangsiapa yang melarang dari hal tersebut, maka ia harus mendatangkan dalil.” (Jami’ Ahkamin Nisa’ I/188).

Kesimpulan:

Wanita yang sedang haid diperbolehkan menyentuh mushhaf Al Qur’an karena tidak ada dalil yang jelas dan shohih yang melarang hal tersebut. Wallaahu Ta’ala A’lam.

Rujukan:

  1. Larangan-larangan Seputar Wanita Haid, artikel Majalah As Sunnah 01/ IV/ 1420-1999, Abu Sholihah Muslim al Atsari.
  2. Jami’ Ahkamin Nisa’, Syaikh Musthofa al ‘Adawi.
  3. Tafsir Al Qur’an Al ‘Adziim (Terj. Tafsir Ibnu Katsir Jilid 8), Ibnu Katsir.

***

Artikel www.muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

142 Comments

  1. win says:

    assalamu ‘alaikum…
    mau tanya… sebenarnya darah haid yg ada di pembalut itu langsung dibuang di bak sampah, ataukah hrs dibersihkan dulu sehingga darahnya mengalir semua, baru pembalutnya bisa dibuang begitu? jazakillah atas jawabannya…

    • @ Win
      Wa’alaikumusaalam,
      Tidak ada peraturan khusus tentang hal ini. Namun alangkah baiknya jika kita bisa menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sehingga mencuci darah dan menghilangkannya sebelum dibuang ketempat sampah adalah langkah lebih tepat guna menghindari pencemaran lingkungan, bau tidak enak dan pemandangan yang tidak menyenangkan.

  2. Syarifah Anna says:

    Assalamualaikum.wr.wb..

    pak ustad…bagaimana hukumnya,bila wanita membaca Al-Qur’an
    tetapi tidak memakai jilbab atau kerudung,membacanya misalnya di dalam kamar,bukan di tempat terbuka.Bila di tempat terbuka pun apa boleh,bagi yg belum berjilbab?terimakasih Pak Ustad

    • @ Syarifah Anna
      Tidak mengapa seorang wanita membaca al Quran tanpa memakai kerudung. Adapun di tempat umum/terbuka, dia berdosa. Bukan karena membaca al Quran tanpa kerudung, tapi karena membuka auratnya di depan laki-kali asing (bukan mahram). Maka seharusnya dia segera bertaubat dari dosa tersebut dan memperbaiki diri dengan menutup aurat dengan sempurna.
      Bahasan mengenai adab membaca al Quran secara detail silahkan diunduh disini

  3. fajar dhinii says:

    assalamualaikum, mw tanya,

    saya pernah dengar dari teman saya kalau wanita yang sedang haid itu kalo rambutnya rontok harus disimpan dan saat mandi besar ikut di cuci bamn hukumnya?

  4. fajar dhinii says:

    matur suwun, hmm o ya kata teman saya iu sumbernya dari kitab risalatul ma haid, tapi saya juga masih bingung

    • @ fajar dhinii

      Salah satu referensi yang memuat penjelasan cukup ringkas dan jelas terkait dengan haid, istihadhah, dan nifas adalah kitab karya Syekh Al-Utsaimin yang berjudul Risalah fid Dima’ Ath-Thobi’iyyah lin Nisa’. Sala satu terjemahannya dalam bahasa Indonesia berjudul “Darah Kebiasaan Wanita”, terbitan Darul Haq, Jakarta.

  5. riq says:

    Maaf sebelumnya.

    Apakah hanya dengan ketidak-shohihan suatu hadits (dho’if)Anda dapat membolehkan sesuatu yang diharamkan dalam hadits dho’if tersebut?

    • @ Riq
      Apakah yang Anda maksudkan berkaitan dengan hukum berdzikir dan membaca al-qur’an bagi wanita haid? Jika iya, maka kami katakan bahwa hukum asal dzikir dan membaca al-qur’an bagi seorang muslim baik laki-laki dan perempuan adalah perkara yang sangat dianjurkan bahkan merupakan amalan ibadah yang utama dan inilah amalan yang Allah perintahkan. Sehinggga jika ada orang yang mengaharamkan dzikir dan membaca Al-Qur’an bagi wanita haid maka wajib baginya untuk mendatangkan dalil. Mana dalil shahih yang mengharamkan wanita haid untuk berdzikir dan membaca Al-Qur’an? Jika dalil yang dibawa (orang yang mengaharamkan tersebut) shahih maka wajib kita terima namun jika dhaif tidak selayaknya menjadikannya sebagai sandaran dalam berhukum. Allahu A’lam

  6. teddy says:

    Assalamu’alaikum.wr.wb.
    m’f ustzh saya monanya apa hukumnya seorang wanita yg sdang haid menyentuh surah yaasin??
    Trimakasi seblum dan sesudahnya>>

  7. Amraeni Latief says:

    assaalamu alaikum
    mau nanya, klo wanita yg sedang haid boleh gak potong kuku ma rambut?
    ada hadist yg ngelandasin gak?
    al’y 2 hal i2 sangat membingungkan, ada yg bilang boleh, tp ada jg yg gak boleh

  8. intan says:

    assalamualaikum wr.wb
    boleh kah saya bertanya
    apa diperbolehkan atau tidak keramas saat haid…
    tolong dijlskan,,, sekian dan terimaksih

    • @ intan
      wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
      Tidak ada larangan untuk keramas pada saat haid. Kalau kita tidak ada dalil yang melarangnya, maka kembali ke hukum asal, yaitu boleh.

  9. shofiyyah says:

    ana izin untuk mengutip artikel ini di web kampus kami untuk kolom muslinah

  10. turidu says:

    bismillah….
    klo mnrt ana cie
    memang tdak ad hadits yg pasti tntang hal trsbut….
    tp kta mngkuti kyaqinan kta aj….
    klo mnrt kta agag ragu2 mndg dtinggalkan aja,,,,
    “ssgguhnya sswtu yg mragukan ,wajib dtinggalkan”

  11. zickry says:

    bagaimana dengan Firman Allah SWT,(??????????? ?????????????????,….??? ????? (????? ?

  12. zalm a says:

    Assalamu ‘alaikum warohmatulloh…jazakallloh,saya sangat senang…awalnya saya bingung karena lg menghadapi persoalan sulit seputar dalil mana yang kuat tnt boleh tidaknya wanita masuk masjid….

  13. puty liana says:

    BOLEHKAH WANITA HAIDH MASUK KE DALAM MASJID

    Oleh Al-Lajnah Ad-Daimah Lil ifta’

    Pertanyaan
    Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Ifta’ ditanya : Bolehkah seorang wanita yang sedang haidh masuk kedalam masjid dan apa dalilnya .?

    Jawaban
    Tidak boleh seorang wanita yang sedang haidh masuk kedalam masjid kecuali hanya untuk berjalan melewati masjid jika hal itu diperlukan, sebagaimana halnya orang yang sedang junub berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    “Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. [An-Nisaa : 43]
    [Fatawa Al-Lajnah Ad-Dai'mah Lil Ifta, 5/398]

  14. ningrum says:

    assalamu’alaikum……..
    maaf mau tanya,,,
    apakah orang haid itu nggak bleh potong rabut n kuku???
    mhon jwabannya.

  15. ummu hisyam says:

    Assalamualaikum,jazakallohukhair.atas ilmu yang telah di muat ini sangat berman paat untuk saya.se1hingga bisa di jadikan rujukan saya dalam memperaktekan dalam keseharian saya.

  16. suci khairunnisa says:

    Assalamualaikum… Pak Ustad, suci mw nanya,suci baru 13 thn. suci kan anak tsanawiyah jadi suci sering diskusi sama teman2 perempuan suci masalah hukum islam. kata teman teman suci perempuan yg sedang haid tidak boleh keramas walaupun tidak berniat mandi wajib karena sedang kotor2nya. Suci bingung… Yg suci mw tanyakan bagaimana menurut hukum islam??? apakah memang tidak boleh??? atas jawabannya suci ucapkan terimakasih. Assalamualaikum.

    • @ Suci Khairunnisa

      Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh. Wanita yang sedang haid tetap boleh keramas. Tidak ada larangan untuk melakukan hal tersebut. Wallahu a’lam. Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh.

  17. nonik says:

    assalamualaikum,,
    bener gak sih kita tuh wajib mencuci pembalut kita?
    kalo wajib, emg ada hadist nya?
    ahadist nya apa?
    trims.
    waalaikumsalam

  18. akhwat says:

    assalam..mau nanya..
    afwan kn pas haidh, ga boleh jima’..
    nah, cara melindungi suaminya gimana??syukron

  19. Pratucha Wastu R says:

    Alhamdulillah…
    trimakasih atas penjelasannya,,,,
    Saya mau melaksanakan Ijab Qobul Pernikahan minggu besok, tanggal 6 Maret 2011, sedangkan calon istri saya haid…
    berarti boleh yaaa. melakukan ijab qobul saat haid di dalam masjid…

  20. agus supriatna says:

    hatur nuhun ilmu na nya…

  21. Iqbal says:

    Subhanallah, begitu indah dan ringannya islam itu… janganlah kita mendzolimi diri kita sendiri dengan mempersulit diri kita untuk beribadah kepada Allah.. Wallahu a’lam

  22. nuris says:

    keramas dwktu haid boleh, krna blum ada dalil shahih yang melarang wanita keramas wktu haid krna dkawatirkan rambut rontok n blum sempat disucikan sewaktu bersuci.
    apakah hukum mubah ini berlaku juga untuk seorang wanita yang memotong kukunya saat sedang haid?

  23. fandi says:

    assalamu alaikum wrwb
    saya ingin bertanya istri saya haid biasanya 7 hari,pada hari kedelapan istri saya sudah bersih dan yakin kalu sudah tidak ada darah lagi mengalir.pada pagi harinya saya berhubungan,pada malam hari sebelum shalat isya ternyata ada darah keluar sedikit sekali,pertanyaan saya bagaimana hukumnya apa tidak apa2 atau berdosa?

  24. puspa says:

    hmmm… kalau yang di maksud darah haid itu yang bagaimana? saya pernah dengar jenis darah haid, tapi saya kurang paham darah apa yang sudah termasuk suci, (maksudnya boleh sholat)
    tolong di jelaskan ya… makasih,,,

    • @ Puspa

      Darah sudah tidak keluar lagi = Haid sudah berhenti

      1. Jika yang Ukhti Puspa maksudkan adalah darah menjelang berhentinya haid, maka yang biasanya terjadi pada umumnya wanita, adalah darah tersebut berwarna coklat kekuningan.
      2. Jika yang Ukhti Puspa maksudkan adalah cairan yang menandakan berhentinya masa haid, maka cairan tersebut berwarna putih kekuningan (dalam hadis disebut dengan istilah “qushshotul baydho’“)

  25. ika says:

    mau tanya, kl wanita haid apakah ada dalil ttg larangan memotong kuku, rambut dan keramas? trm kasih

  26. spice see says:

    ass…saya ada petanyaan….maaf pembalut dari wanita yang dipakai saat haid,…setelahnya apakah wajib dicuci sebelum dibuang? trims..wass

  27. Lisa Said says:

    Assalamu alaikum Wr.Wb.
    alhamdulillah syukran atas ilmunya,
    cm mau nanya..sejak seusai melahirkan anak pertama, darah nifas saya agak lama keluar, firasat saya mengatakan ada malpraktik saat melahirkan krn luka jahitan berbulan-bulan baru mengering.
    krn sdh lewat 40 hari, maka saya tetap shalat dengan mengganti pembalut setiap akan shalat.
    namun setelah darah nifas berhenti, saya mulai kb suntik 3 bulan krn masih menyusui smp skrg sdh 2 kali suntik (anak usia 7 bln). akibatnya haid saya tidak lancar dan sering kali ada bercak darah ketika saya lelah beraktivitas.
    akibatnya, amat mengganggu ibadah saya puasa & shalat. apa yg harus saya lakukan? saya benar2 pusing dengan kondisi ini. apakah tetap shalat ataukah meninggalkan shalat? saya takut berdosa..
    terima kasih
    mohon jawabannya disertai dalil naqli

  28. dunia wanita says:

    Ass.kum…
    Alhamdulillah…saya jadi lebih yakin untuk masalah haid, terima kasih banyak atas informasinya. salam hangat dari saya, wassalam…

  29. hana says:

    assalamualaikum, saya mau bertanya,
    kebiasaannya saya sering begini, setelah saya merasakan telah suci (tiada lagi cairan yang keluar) beberapa jam kemudian akan keluar cairan yg kekuningan. ini berlaku pada hari kelapan. sedangkan saya sudah mandi. adakah saya perlu mandi sekali lagi? jzkk

    • @ Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh.

      Jika darah itu berhenti kurang dari 12 jam (sehari) maka dia masih dihukumi masa haid. Sebagaimana penjelasan para ulama,

      “Atas dasar ini, berhentinya darah yang kurang dari sehari bukan merupakan keadaan suci kecuali jika si wanita mendapatkan bukti yang menunjukkan bahwa dia suci. Misalnya, berhentinya darah tersebut terjadi pada akhir masa kebiasaan atau melihat lendir putih.” (http://muslimah.or.id/fikih/darah-kebiasaaan-wanita.html)

      Kesimpulannya, Ukhti Hana tetap harus mandi lagi.

      *

      Selain itu, hendaknya seorang wanita tidak terburu-buru mandi wajib jika darah berhenti kurang dari 12 jam atau cairan putih kekuningan belum keluar. Dalilnya adalah perkataan Aisyah radhiallahu ‘anha, “Janganlah tergesa-gesa sebelum kamu melihat lendir putih.” (H.r. Al-Bukhari)

      Maksudnya, cairan putih yang keluar dari rahim setelah masa haid habis.

  30. Mughni Wahdaniyah S says:

    Assalamu alaykum Wr. Wb. ^_^

    syukur alhamdulillah…
    dg Ilmu seputar haid ini sngat membantu Ku dlm menjalani Hidup sebagai seorang Wanita yg mengalami Haid sesuai dg Hukum Islam
    makasi byk buat Ilmu tentang seputar Haid ni.

  31. ika says:

    assalamualaikum,
    saya mau tanya,apakah boleh kita keramas untuk mebersihkan hadats haid di salon sekalian potong rambut. Jadi kita mandi biasa di rmh dl kemudian keramasnya di salon??
    terima kasih
    wassalam…

  32. ahriani says:

    setau sy wanita haid tdk blh sehelai rambut pun yg rontok/terjatuh……krn 1 helai bs menjadi petir d akherat nanti…..wlou pun rontok/terjatuh harus d cuci itupun dgn niat tersendiri ..,….bagaimana itu benar atau tidak

  33. nur saadah says:

    alhamdulillah.trimakasih banyak penjelasannya kini saya gak ragu lagi untuk baca al quran meski dalam keadaan haid. karena saya sangat tenang jika membaca al quran.semoga dengan banyak membaca al quran Allah mengampuni dosa – dosa saya .Amiiin

  34. nia says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    saya mau tanya..saya pernah mencuci mukena dan sajadah pada waktu haid terus saya di tegur ibu kos kata bliau tidak boleh mencuci mukena dan sajadah waktu haid. Yang saya tanyakan benarkah ada larangan seperti itu dan adakah hadist yang memperkuatnya. dan suatu ketika suami saya pernah mencumbu waktu haid walaupun tidak berhubungan badan.bagaimana hukumnya tentang itu pak ustad.Mohon penjelasannya supaya pengetahuan agama saya bertambah. terima kasih..

  35. siti says:

    Hadis yang
    diriwayatkan
    oleh Umm
    Athiah
    radhiallahu
    anha bahawa
    Rasulullah
    shalallahu
    alaihi
    wasallam
    telah
    bersabda:
    Suruhlah
    keluar
    wanita-
    wanita dan
    anak-anak
    gadis yang
    berada di
    dalam rumah
    (kepada solat
    dua hari raya)
    supaya
    mereka dapat
    menyaksikan
    kebaikan dan
    seruan orang
    mukmin, dan
    jauhilah
    wanita haid
    daripada
    mushalla. [Sha
    al-Bukhari –
    no: 1652
    (Kitab al-Haj)
    katanya yg dimaksud mushola dihadis itu tanah lapang.ya kalau di tanah lapang aja harus dijauhkan apalagi dimasjid.gimana sih…

  36. ummu naya says:

    Assalamu ‘alaykum wr wb,
    mhn penjelasan ukh, kesimpulan dari artikel ini sangat bertolak belakang dengan kesimpulan pada artikel berikut : http://muslimah.or.id/fikih/hukum-membaca-al-quran-tanpa-berwudhu.html
    dimana kedua-duanya mencantumkan dalil2 yang meyakinkan. apakah ini berarti para akhwat boleh memilih salah satunya sesuai dalil mana yg menjadi pegangannya ?

    • @ Ummu Naya
      Wa’alaikumussalam warahmatullah,
      Memang dalam masalah ini apakah wanita berhadats boleh memegang mushaf Al-qurkan ataukah tidak, trdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama. Diantara ulama yang melarang adalah Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad dan Jumhur ulama. Adapun yang membolehkan semisal Ibnu Abbas, sejumlah sahabt, Ibnu Hazm, Ibnul Mundzir, dn ini mrupakan madzab Imam Abu Hanifah. (Shahih Fiqh Sunnah I/144). Silahkan memilih pendapat brdasar dalil yang Anda nilai paling kuat dan mendekati kbenaran . Allahua’alam

  37. lia says:

    afwan, klo masalah rambut rontok ketika haid itu gmn ya? tlong dbri pnjelasan n klo ada dgn dalilnya jg. jazalakallah…….

  38. elia says:

    sebelumnya saya minta maaf, tapi menurut saya haram bagi wanita yang sedang haid untuk menyentuh atau memasuki masjid, karena masjid itu rumah ALLAH dan AL-QUR’AN adalah kitab suci yang diturunkan oleh ALLAH kepada Nabi Besar MUHAMMAD SAW, tapi kalau untuk membaca dalam hati itu tidak dilarang! terimakasih

  39. anna says:

    assalamu’alaikum
    maaf sy mau tanya pabila qt pada saat haid, tapi keluar darahnya gak lancar.
    dalam artian keluar darah 4 hari trus sudh suci 4 hari, tp keluar darah lage 7 hari.
    tlong penjelasannya. trima ksh. wassalamu’alaikum

  40. Hamba Allah says:

    Wahai manusia yang punyai akal….lihatlah apakah maksud sebenar larangan itu..dan lihatlah dalam sudut semua displin ilmu. Janganlah yang halal jadi haram yang haram jadi halal. Lihat dan lakukanlah istiharah dalam pendapat mu..kesimpulan dalam bab wanita tidak suci dengan alquran ini kabur lagi mengelirukan lagi sesat..istiharah dahulu sebulan sebelum kesimpulannya..Jangan ambil jalan senang..dan jangan tafsirkan mudah maksud Hadith Rasulullah s.a.w…

    • @ Hamba Allah

      Alhamdulillah tulisan ini dibuat dengan melihat dalam sudut semua disiplin ilmu, ditulis berdasarkan dalil shahih lagi sharih. Bilamana Anda melihat ada yang keliru, sila sebutkan kekeliruan tersebut. Jazakallohu khayran.

  41. sasa says:

    bagaimanakah hukum wanita yang sedang haid terus membaca al qur’an ?

  42. sasa says:

    apa perbeda’an darah nifas dan wiladah?

  43. hamba Allah says:

    assalaam Muslimah,

    saya seorang wanita yang ragu tentang haid saya
    sekarang saya sedang mengalami haid setelah 3 bulan tidak haid
    haid yang saya alami kini normal (darahnya merah dan banyak)
    nah, selama interval 3 bulan itu saya pernah 2 kali mengalami flek yang menyerupai haid
    tapi tidak juga menyerupai istihadhah, karena warnanya cokelat
    namun jumlahnya sedikit

    karena saya mengira itu haid maka saya pun tidak bershalat
    semula saya yakin itu haid
    tapi, karena saya skrg sedang mengalami haid yg dalam jumlah banyak, saya jadi sangat ragu apakah yang 2 kali saya alami itu bukan haid

    sekarang saya jadi sangat tertekan memikirkan shalat saya yang saya tinggalkan waktu itu
    saya merasa sangat bodoh
    bagaimana cara mengqadha shalat sebanyak itu?
    apakah qadha shalat boleh dicicil?

    tolong saran dan jalan keluarnya serta dalil yang meyakinkan

    syukron
    wassalaam

  44. H DAENG SIGAUK says:

    klu berhati wanita haid lebih bagus tidak menyentuh al quran dan tidak masuk mesjid apa lagi membacanya ……!!!!

  45. sity says:

    ass
    mw nyak emank gc bleh ya motong kuku n membiarkan rambut rontok saant hait
    wass

  46. renosaputra says:

    assalaamualaikum.
    untuk memegang mushaf,yg saya tau itu boleh bagi mereka yg haid ataupun junnub dengan catatan tidak untuk dibaca,,contoh :”mereka yg haid dan junnub memindahkan mushaf ketempat yg baik.khawatir jika ditempat itu akan rusak”
    namun yg tidak boleh adalah membaca nya.

  47. ade pertiwi says:

    adakah hadist yg menjelaskan tentang larangan rambut rontok saat haid.Sekalipun rontok harus dikumpulkan dan dicuci saat mandi bersih?
    Saya ragu tentang hal itu.Karena pendapat temen2 saya juga berbeda2. Mohon penjelasannya.Terimakasih

  48. Ardi Perkasa says:

    Bagaimana dengan ini?

    Dari Abdurrahman bin Yazid dari Salman, Kami bepergian bersama Salman. Suatu ketika beliau pergi untuk buang hajat setelah kembali aku berkata kepada beliau, Wahai Abu Abdillah, berwudhulah agar kami bisa bertanya kepadamu tentang ayat-ayat al Quran. Beliau berkata, Silahkan bertanya namun aku tidak akan menyentuhnya. Sesungguhnya tidaklah menyentuhnya melainkan orang-orang yang disucikan (QS al Waqiah:77). Kamipun mengajukan beberapa pertanyaan kepada beliau dan beliau bacakan beberapa ayat kepada kami sebelum beliau berwudhu (Diriwayatkan oleh al Hakim no 3782 dan dinilai shahih oleh al Hakim dan disetujui oleh adz Dzahabi, Daruquthni no 454 dll).

  49. siti sobiah says:

    assalamu’alaikum
    saya biasa haid 7-9hari pernah sampai 12 hari, nah sekarang saya mengalami haid yg sangat mmbuat saya bingung, saya haid selama 10 hari dan suci subuh krena saya cek sudah bening,, nah pas menjelang dzuhur keluar cairan aga keruh, saya ttp shalat nah pas magrib keluar cairan dan ada flek darahnya sperti bnng merah
    mohon penjelasannya, apakah itu masih termasuk haid atau bukan??

  50. anisa says:

    ass,saya masih binggung tenteng hukum rambut dan kuku yang terlepas dari badan?????????karn ad yang bilang wajib hukumnya di sucikan ada pula yang bilang tidak wajib

    • www.muslimah.or.id says:

      @anisa tidak ada dalil untuk hal ini ukhti. Maka hal ini (mengumpulkan rambut dan kuku) tidak perlu dilakukan.

Leave a Reply