Dirikanlah Shalat (1): Muqaddimah

Penulis: Ummul Hasan
Muraja’ah: Ustadz Abu ‘Ukkasyah Aris Munandar

Sudah bukan rahasia lagi bahwa shalat adalah ibadah yang paling utama. Diantaranya adalah bahwa shalat merupakan amalan yang pertama kali akan dihisab di Hari Akhir kelak berkaitan dengan hak Allah atas hamba-Nya. Beberapa keutamaan yang lain telah banyak kita ketahui.

Dengan memohon pertolongan Allah, kita akan berusaha membahas perkara shalat secara lebih terperinci. Rujukan utama yang akan kita gunakan adalah kitab Al-Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz karya Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Ibnu Badawi. Agar kita dapat menyerap ilmu secara bertahap dan memahaminya dengan benar, maka insya Allah pembahasan akan kita bagi menjadi sepuluh seri:

  1. Muqaddimah (meliputi: kedudukan shalat, hukum meninggalkan shalat, siapa yang wajib melaksanakan shalat?)
  2. Waktu-waktu shalat (meliputi: Kapankah waktu shalat tiba? Kapankah seseorang dapat dianggap telah mendapatkan waktu shalat? Kapankah seseorang dianggap telah mendapati waktu shalat?)
  3. Waktu-waktu shalat yang terlarang dan tempat yang tidak boleh dijadikan tempat shalat.
  4. Adzan dan iqamah (meliputi: amalan saat kita mendengar adzan dan iqamah berkumandang), serta syarat sah shalat.
  5. Rukun-rukun shalat.
  6. Hal-hal yang wajib dalam shalat.
  7. Sunnah-sunnah dalam shalat.
  8. Hal-hal yang makruh dilakukan dalam shalat.
  9. Hal-hal yang mubah (boleh) dilakukan dalam shalat.
  10. Hal-hal yang membatalkan shalat.

Semoga antunna sekalian tidak jemu untuk terus mengikuti lanjutan setiap seri pembahasan. Bersabarlah dan jangan mudah patah semangat.

Allahumma anfa’naa bi maa ‘allamtanaa wa ‘allimnaa bi maa yanfa’unaa wa zidnaa ‘ilman (Yaa Allah, berikanlah manfaat atas ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami serta ajarkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan mohon tambahkanlah ilmu kepada kami)

Kedudukan Shalat dalam Agama

Saudariku muslimah, kedudukan shalat yang begitu mulia dalam agama Islam tergambar melalui hadits berikut ini :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : (بُنِيَ اْلإِسَلاَمِ عَلَى خمَسْ ٍشَهَادَةٍ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَ إِقَامَاةِ الصَّلاَةَ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةَ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ)

Dari ‘Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya):

“Islam dibangun di atas lima perkara, yaitu syahadat (persaksian) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, serta berpuasa pada bulan Ramadhan.”

Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat

Kaum muslimin telah bersepakat bahwa barangsiapa yang tidak menunaikan shalat lima waktu maka dia telah melakukan suatu perbuatan yang dapat mengantarkannya kepada kekafiran.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum orang yang meninggalkan shalat, namun dia tetap meyakini bahwa shalat itu wajib dikerjakan. Perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, tanpa ada pembedaan yang tegas antara orang yang benar-benar mengingkari kewajiban shalat (al-jaahid) dengan orang yang sekedar meremehkan kewajiban shalat (al-mutahaawin). Adapun pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah bahwa orang yang meninggalkan pelaksanaan shalat (meskipun dia yakin bahwa sebenarnya shalat itu wajib dikerjakan) maka dia telah kafir. Dalil pendapat ini adalah sebagai berikut:

Dalil dari Al-Qur’an

فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوْا الصَّلاَةَ وَآتُوْا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّيْنِ وَنُفَصِّلُ اْلآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At-Taubah: 11)

Dalil dari Hadits (As-Sunnah)

إِنَّ بَيِنَ الرَّجُلِ وَ بَيْنَ الشِّرْكِ وَ الْكُفْرِ تَركُ الصَّلاَةَ

Artinya: “Sesungguhnya pembatas antara seseorang dengan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Iman dari sahabat Jabir Ibn ‘Abdillah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Siapakah yang Wajib Mengerjakan Shalat?

Shalat wajib dikerjakan oleh setiap muslim dan muslimat yang telah baligh dan berakal.

عَنْ عَلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : رُفِعَ الْقَلَمُ عَلَى ثَلاَثَةٍ : عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَ عَنِ الصَّبِي حَتَّى يَحْتَلِمَ، وَ عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَعْقِلَ

Artinya: “Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda (yang maknanya), “Pena diangkat atas tiga golongan: dari orang yang sedang tidur hingga dia bangun, dari anak kecil hingga dia dewasa, dan dari orang gila hingga dia waras (berakal).” (Hadits shahih; Shahih Ibnu Majah (3513), Sunan Abu Daud (12/78/4380))

Untuk membiasakan anak melaksanakan shalat, maka wajib bagi orang tua untuk memerintahkan anaknya yang masih kecil untuk shalat meskipun anak kecil tidak wajib melaksanakan shalat.

عَنْ عَمْرو بْنِ شُعَيْبِ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : ( مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَ هُمْ أَبْنَاءُ سَبْعَ سِنِيْنَ، وَ اضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَ هُمْ أَبْنَاءُ عَشْرَ سِنِيْنَ، وَ فَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ )

Artinya: “Dari ‘Amr Bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang maknanya), “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika mereka tidak mengerjakan shalat pada usia sepuluh tahun, dan (pada usia tersebut) pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Hadits shahih; Shahih Ibnu Majah (5868), Sunan Abu Daud (2/162/419) lafazh hadits ini adalah riwayat Abu Daud, Ahmad (2/237/84), Hakim (1/197))

Tanda baligh bagi laki-laki dan perempuan adalah:

  1. Telah mencapai usia 15 tahun. Berdasarkan hadits tentang seorang anak laki-laki (yaitu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu) yang belum dizinkan ikut berperang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena saat itu belum berusia 15 tahun.
  2. Telah mengalami “mimpi basah”.
  3. Tumbuh rambut pada kemaluan.
  4. Khusus bagi wanita, yaitu keluarnya darah haid dari farji.

Seorang muslim wajib mengerjakan shalat sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hak tersebut dilaksanakan semaksimal kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi seorang muslim untuk tidak melakukan shalat ketika tidak ada udzur syar’i (misalnya: wanita yang sedang haid atau nifas). Jika seseorang mampu shalat berdiri, maka dia melakukannya sambil berdiri dengan menyempurnakan syarat sah dan rukunnya. Jika dia sakit, maka dia mengerjakannya sambil duduk. Jika tidak bisa sambil duduk, maka dilakukan sambil berbaring. Perincian mengenai hal ini insya Allah akan kita bahas pada seri-seri yang akan datang.

Maraji’:

  1. Al-Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz oleh Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Ibnu Badawi, tahun terbit 1421 H/2001 M, Mesir: Daar Ibnu Rajab.
  2. Materi Ta’lim Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul 2008 M, Ma’had al-’Ilmi Puteri Yogyakarta.

***

Artikel muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

11 Comments

  1. ukhti says:

    Assalamu’alaikum,,,

    Subhanallah,, bgs bgt artikelnya,, bisa nambah ilmu..

    sholat adalah kewajiban bagi kita yg beragama Islam,,, tapi msh banyak ana lihat orang2 disekitar ana yg meninggalkannya, bahkan dikeluarga ana sendiri..

    ana mau tnya, gmn ya caranya untuk mengingatkan saudara kita untuk tidak meninggalkan sholat?
    ana sudah sering menegurnya, menyuruh untuk sholat, kadang2 dia menuruti perintah ana, tapi sering juga dia cuma menganggap angin lalu saja omongan ana..

    ana takut kalo dia jadi terbiasa meninggalkan sholat, padahal dia adalah orang Islam,,,

    mohon jawabannya, terima ksaih…

    oia,, ana tunggu artikel selanjutnya…

    InsyaAlloh ana mau memberikan artikel ini buat saudara ana, mudah2an dia bisa menjadi hamba Alloh yang lebih baik lagi, amien..

    Wassalamu’alaiakum…

  2. cizkah says:

    alhamdulillah, semoga Allah memberikan balasan atas apa yang telah Ukhti lakukan. Kejadian serupa mungkin dialami juga oleh saudari kita yang lain ataupun diri saya sendiri.

    Allah tidak memberi beban kepada kita di luar kemampuan kita. Karena hidayah taufik adalah milik Allah. Adapun hidayah bayan (penjelasan) insya Allah bisa kita lakukan. Namun, apa bila penjelasan kita atau nasehat kita tidak diterima, maka insya Allah telah lepas tanggung jawab kita — yaitu menasehati saudara kita –.

    Wallahu a’lam

  3. ikhsan says:

    Assalamu’alaikum
    Alhamdulillah ada pmbahasan kitab Al-Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz karya Syaikh Abdul Azhim Ibnu Badawi.Ana punya kitab ini tapi kajian yg membahas kitab ini pas jam kerja dan di hari kerja
    Semoga bermanfaat bagi kita dan diberi kemudahan oleh Allah dalam mengkaji,mempelajari,memahami dan mengamalkan

  4. hamba Allah says:

    @ukhti
    mungkin ana ada sdikit pemikiran,pesan buat ana,ukhti,pembaca yg lain:
    kenapa kita kadang2 untuk hal yg bersifat duniawi,kita ingin yg trbaik,misal:kita beli sepeda motor,maka kadang2 kita akan brusaha utk mndaptkan yg baik mnrut prtimbangan kita,tdk hanya asal punya
    tapi untuk ibadah,kadang memenuhi batas minimal saja,misal:klo diajak sholat wajib tepat waktu,tp kita undur2 dng alasan yg pnting sholat drpd tidak sholat.Apakah ada jaminan sholat yg dilaksanakan “sak kobere” itu sdh smpurna dan diterima oleh Allah ta’ala?
    Kenapa pembanding yg dipakai adalah sesuatu yg minimal?tapi utk urusan duniawi,standardnya adlah yg maksimal?
    Mungkin ukhti bs mmberitahukan pas saat santai,mngenai keutamaan sholat,ancaman2 orang yg meninggalkan dan atau meremehkan sholat.tp sebisa mngkin tdk bernada mnyuruh dan menggurui tp mmbritahu n mengajak utk sholat
    berdo’a kpd Allah,sabar
    yg haq katakan haq,batil katakan batil tp dengan cara lemah lembut dan sabar
    Allahlah yg membolak balik hati manusia dan Allahlah yg memilikki dan memberikan hidayah kpd umat
    Wallahu a’lam

  5. ukhti says:

    Assalamu’alaikum..

    Alhamdulillah,, mksh bwt cizkah dan hamba Allah atas jawabannya,, bisa jadi masukan bwt ana…

    ” Namun, apa bila penjelasan kita atau nasehat kita tidak diterima, maka insya Allah telah lepas tanggung jawab kita yaitu menasehati saudara kita . ”

    ana setuju dengan cizkah,,,
    ana juga sempet berfikir,, ah.. ya sudahlah, toh ana sudah menasehatinya bwt sholat, klo dia tetep ga sholat ya uda, toh dia juga yang nanggung dosanya..
    tapi lama2 koq risih juga ya,, liat sodara kita sendiri tetep aja sering ninggalin sholat, rasanya jadi sedih sendiri, apalagi dia orang terdekat ana..

    Dan bwt hamba Alllah,,
    mksh atas masukannya,, insyaAllah ana akan coba, mungkin juga selama ini ana memenag kurang lembut dan sabar dlm menasehati sudara ana itu..

    ana akan berusaha semaksimal mungkin, semampu ana untuk terus mengingatkan saudara ana itu untuk sholat…
    dan juga selalau mendoakannya, agar Alloh swt menyadarkan dan memberikan hidayah epada saudara ana itu…

    makasih bwt semuanya..

    Wassalamu’alaikum…

  6. wong dheso says:

    Bagi para Sahabat r.a. sholat sebagai kebutuhan bila ada masalah selalu mengerjakan sholat maka kita banyak belajar bila ada masalah mengerjakan sholat

  7. Aswad says:

    Bolehkan membuat shalat jama’ah kedua dalam sebuah masjid?
    Simak penjelasan Ustadz Kholid Syamhudi, Lc:
    http://ustadzkholid.com/fiqih/hukum-jama%e2%80%99ah-kedua-dalam-satu-masjid

  8. mahira says:

    assalamualaikum.. saya ingin bertanya kepada semua, siapa yang boleh dicadangkan untuk jadi panel forum yang membicarakan khusus tentang fiqh muslimah. saya dalam proses mencari panel yang arif tentang fiqh muslimah ni.. mohon cadangan boleh email saya atau contact 0135449691… terima kasih…

    ***
    ‘afwan ukhti. no kontak ukhti kami sembunyikan agar menghindari fitnah, karena pengunjung situs ini tidak hanya akhwat. untuk akhowatifillah yang dapat memberikan saran dan ingin menghubungi ukhti mahira dapat kontak lewat emai muslimah.or.id.
    jazakunnallahu khoiro…

    muslimah.or.id

  9. faraamelia says:

    Asskum q adalah anak pndok tpi setiap aku pulang aku dikira anak sombong.karna aku gak pernah keluar .tpi aku kan sudah tau kalo main2 sama anak laki2 bukan mahrom haram hukumnya.gmna cara mencegahnya.

  10. Abdul razak says:

    Minta izin copy…Terimakasih

  11. ucokmonalisa says:

    ass wr wbr terima kasih hampir semuanya di web ini kami copy dan Insya Allah akan dprint wassalam

Leave a Reply