Darah Kebiasaan Wanita

Penulis: Ummul Hasan
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

Haid bagi wanita merupakan salah satu bentuk nikmat dari Allah. Keberadaan darah haid pada wanita menunjukkan bahwa wanita tersebut memiliki kemampuan untuk memiliki keturunan. Islam memberikan penjelasan tentang beberapa hal berkaitan dengan darah haid wanita.

Makna Haid

Menurut bahasa, haid berarti sesuatu yang mengalir (سَيْلاً،جَرْيً).

Adapun menurut istilah syar’i, haid adalah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab dan terjadi pada waktu tertentu. Jadi, darah haid adalah darah normal, bukan disebabkan oleh suatu penyakit, luka, gangguan atau proses melahirkan. Darah haid antara wanita yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan, misalnya jumlah darah yang keluar, masa dan lama keluar darah haid setiap bulan. Perbedaan tersebut terjadi sesuai kondisi setiap wanita, lingkungan, maupun iklimnya.

Masa Haid

Menurut pendapat yang paling kuat diantara para ulama, masa haid wanita tidak memiliki batas minimal maupun maksimal. Hal ini berdasarkan dua alasan:

1. Dalil pertama adalah dari Al-Qur’an

Allah berfirman, yang artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘Haid itu suatu kotoran.’ Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita pada tempat keluarnya darah (farji), dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.” (Qs. Al-Baqarah:222)

Dalam ayat ini yang dijadikan Allah sebagai batas larangan adalah kesucian, bukan sehari-semalam ataupun tiga hari, ataupun lima belas hari. Hal ini menunjukkan bahwa illat (alasan) nya adalah ada atau tidaknya darah haid. Jadi, jika ada haid maka berlakulah hukum itu dan jika telah suci (tidak haid) maka tidak berlaku lagi hukum-hukum berkaitan dengan haid tersebut.

2. Dalil kedua adalah dari As-Sunnah

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anhu yang mendapatkan haid ketika dalam keadaan ihram untuk umrah, “Lakukanlah segala sesuatu yang dilakukan jama’ah haji, akan tetapi jangan melakukan thawaf di Ka’bah sebelum kamu suci.”Kata Aisyah, “Setelah masuk hari raya kurban barulah aku suci.”

Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anhu, “Tunggulah. Jika kamu suci, maka keluarlah ke Tan’im.”

Dalam hadits tersebut yang dijadikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai batas akhir larangan adalah kesucian, bukan suatu masa tertentu. Ini menunjukkan bahwa hukum tersebut berkaitan dengan haid, yakni ada atau tidaknya.

Akhir masa haid wanita dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu ketika darah haid telah berhenti, tandanya jika kapas dimasukkan ke dalam tempat keluarnya darah setelah dikeluarkan tetap dalam kondisi kering, tidak ada darah yang melekat di kapas (-ed.). Yang kedua yaitu ketika telah terlihat atau keluar lendir putih agak keruh (قُصَّةُ الْبَيْضَاءُ). Pada saat tersebut seorang wanita muslimah diwajibkan untuk segera mandi dan mengerjakan sholat jika telah masuk waktu sholat. Hal ini sekaligus merupakan nasehat agar para wanita tidak bermudah-mudah untuk meninggalkan sholat padahal dia telah suci, dengan alasan bahwa mereka belum mandi suci.

Wahai saudariku, ketika masa haid telah berakhir dan tidak ada udzur syar’i bagimu untuk menunda mandi suci, maka segeralah mandi suci! Tidakkah kita takut kepada Allah ketika sengaja menunda waktu mandi suci agar tidak melaksanakan shalat?! Semoga Allah melindungi kita dari tipu daya setan.

Darah Haid yang Terputus dan Istihadhah

Selama masa haid, terkadang darah keluar secara terputus-putus, yakni sehari keluar dan sehari tidak keluar. Dalam hal ini terdapat dua kondisi:

  • Jika kondisi ini selalu terjadi pada seorang wanita setiap waktu, maka darah itu adalah darah istihadhah (darah karena penyakit), dan berlaku baginya hukum istihadhah.
  • Jika kondisi ini selalu terjadi pada seorang wanita tetapi kadangkala saja datang dan dia mempunyai saat suci yang tepat.

Maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Adapun penjelasan yang benar dalam masalah ini adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni,
“Jika berhentinya darah kurang dari sehari maka seyogyanya tidak diangap sebagai keadaan suci. Berdasarkan riwayat yang kami sebutkan berkaitan dengan nifas, bahwa berhentinya darah yang kurang dari sehari tidak perlu diperhatikan dan inilah pendapat yang shahih, insyaa Allah. Alasannya adalah bahwa dalam keadaan keluarnya darah yang terputus-putus (sekali keluar dan sekali tidak) bila diwajibkan bagi wanita pada setiap saat terhenti keluarnya darah untuk mandi, tentu hal ini akan menyulitkan, padahal Allah berfirman, yang artinya: “Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Qs. Al-Hajj:78)

Atas dasar ini, berhentinya darah yang kurang dari sehari bukan merupakan keadaan suci kecuali jika si wanita mendapatkan bukti yang menunjukkan bahwa dia suci. Misalnya, berhentinya darah tersebut terjadi pada akhir masa kebiasaan atau melihat lendir putih.”

“Sehari” yang dimaksud pada penjelasan diatas adalah dua belas jam. Adapun contoh kasus dalam masalah ini adalah:

Seorang wanita biasanya haid selama enam hingga tujuh hari setiap bulan. Pada hari ke-5 biasanya darah hanya akan keluar sedikit seperti noktah seukuran uang logam (berbekas pada pakaian dalamnya). Pada malam hari (saat aktivitas sedikit) darah tidak keluar. Pada hari ke-6 darah akan tetap keluar namun sangat sedikit. Dalam kasus ini, wanita tersebut belum dianggap suci pada malam di hari ke-5 karena menurut kebiasaan haidnya, pada hari-hari akhir haid darah hanya akan keluar pada pagi hingga sore hari (yaitu di saat dia banyak melakukan aktivitas). Kemudian pada pagi di hari ke-7 dia melakukan banyak aktivitas tetapi darah haid tidak lagi keluar sama sekali dan telah keluar pula lendir putih yang biasanya memang muncul jika masa haidnya telah selesai. Pada hari ke-7 itulah, wanita tersebut telah suci dari haid.

Hukum-Hukum Haid

Ketika seorang wanita sedang dalam keadaan haid, ada hal-hal yang terlarang untuk dilakukan:

  1. Shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah. Wanita haid tidak disyariatkan untuk mengganti shalat fardhu yang tidak dikerjakannya selama masa haid.
  2. Puasa, baik puasa fardhu maupun puasa sunnah. Akan tetapi, puasa fardhu (misalnya puasa Ramadhan) wajib diganti (qadha’) di hari lain di luar masa haidnya.
  3. Thawaf.
  4. Jima’. Suami tidak boleh melakukan jima’ (senggama) dengan istrinya yang sedang haid. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya,“Hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita pada tempat keluarnya darah (farji), dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.” (Qs. Al-Baqarah:222)

Sedangkan hal-hal yang tetap boleh dilakukan oleh wanita yang sedang haid adalah:

  1. Berdiam diri di masjid.
    Dalam masalah ini terdapat perbedaan yang luas dikalangan ulama (-ed.). tetapi, pendapat yang lebih kuat menurut kami, wanita yang sedang haid tetap boleh berdiam diri di masjid karena suatu kebutuhan (misalnya, mengikuti kajian yang dilangsungkan di masjid). Hal ini didasarkan pada kisah seorang wanita di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertugas mengurus masjid. Dia membangun tenda di dalam masjid dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari hal tersebut.
  2. Membaca Al-Qur’an dan menyentuh mushaf
    Sebagian wanita menghentikan sama sekali rutinitasnya membaca Al-Qur’an, padahal tidak ada larangan sama sekali membaca Al-Qur’an bagi wanita haidh. Masalah yang diperselisihkan adalah boleh tidaknya menyentuh mushaf Al-Qur’an (-ed.). Sebagian ulama’ berpendapat bahwa wanita haid tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur’an. Mereka berdalil dengan ayat Al-Qur’an yang artinya,“Dan dia (Al-Qur’an) tidaklah disentuh kecuali oleh al-muthohharuun (orang-orang yang suci).” (Qs. Al-Waaqi’ah: 79)

    Hal tersebut tidaklah benar, sebagaimana penjelasan Syaikh Al-Albani bahwa yang dimaksud al-muthohharuun pada ayat tersebut adalah para malaikat. Pendapat lain yang menyatakan bolehnya wanita haid menyentuh mushaf Al-Qur’an, yaitu pendapat Ibnu Hazm.

Meski demikian, sebaiknya jika mau menyentuh mushaf, memilih mushaf yang memuat terjemahnya dalam rangka keluar dari khilaf ulama, karena menurut ulama yang melarang menyentuh mushaf ketika haid, mushaf yang dimaksudkan adalah mushaf asli. Adapun mushaf yang saat ini banyak digunakan oleh kaum muslimin, seperti mushaf yang memuat ayat-ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya atau yang memuat ayat-ayat Al-Qur’an beserta keterangan tambahan mengenai kaidah tajwid, bukanlah mushaf yang terlarang untuk disentuh oleh wanita haid.

Tetap Bersemangat Meskipun Sedang Haid

Sebagian wanita muslimah akan mengalami penurunan semangat beribadah atau bahkan penurunan iman di saat sedang haid. Padahal hal tersebut merupakan kesempatan emas bagi syaithan untuk menggoda mereka. Dijumpai beberapa kejadian wanita yang terkena gangguan jin terjadi di saat wanita tersebut sedang haid. Berikut ini adalah amalan-amalan bernilai ibadah yang bisa dilakukan di masa haid:

  1. Memperbanyak dzikir kepada Allah.
  2. Menghadiri majelis-majelis ta’lim.
  3. Membaca buku-buku agama.
  4. Bergaul dengan orang-orang shalihah yang dapat menjaga semangatnya.
  5. Mengisi waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat bagi akhiratnya.
  6. Membaca Al-Qur’an.

Wallahu a’lam bishshawab.

[Disarikan dari "Darah Kebisaan Wanita” (terjemah kitab Risalatu Fiid Dimaa' Ath-Thabii'iyah Lin-Nisaa') oleh Syaikh Ibnu 'Utsaimin, penerbit: Darul Haq, Juni 2005, dengan beberapa tambahan]

***
Artikel www.muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

104 Comments

  1. ahyaramnur says:

    Alhamdulillah, satu lagi keindahan dan kemaha besaran Alloh ta’ala menurunkan syariatnya. semoga para wanita dpt merenungi dan mentafakkuri mereka. Wassalam.

  2. ahmad tito says:

    subhanalloh koment nya sangat memuaskan,ana pernah dpt pertanyaan mengenai itu dari seorang dokter.smoga ber manfaat.jazza kumullohu khoiron

  3. aisyah says:

    Assalamu’alaikum..

    Kalau misalkan kita suci dari haid dan pada saat itu sudah masuk waktu asar. Maka apakah kita harus mengqadha sholat zohornya. jazakumullah…

    wassalamu’alaikum

  4. rara says:

    alhamdulillah sy dpt penjelasan yang sejelasnya krn berdsarkan pd al-qr’an n hadist

  5. lina says:

    Assalamualaikum wr.wb
    Apakah benar jika muslimah sedang mengalami masa haid tidak boleh keramas, potong kuku, dan rambut yang jatuh harus dikumpulkan?? mohon penjelasannya.
    Trim’s

  6. Sitha says:

    Assalamualaikum WR. Wb.
    Subhanallah…….
    Begitu sempurnanya ciptaan Allah.
    Saya juga ingin tahu seperti yang di atas saya.
    Alias pertanyaan saya sama.

  7. @Lina
    Perlu ukhti ketahui bahwa tidak ada dalil shahih yang melarang seorang muslimah keramas, memotong kuku, dan mengumpulkan rambut ketika dia sedang haidh.
    Karena memotong kuku dan keramas itu perlu bagi kebersihan dan keindahan pribadi seorang muslimah. Dan Allah menyukai keindahan dan mencintai orang-orang yang bersih.

    Ada 5 hal yang tidak boleh dilakukan oleh wanita yang sedang haidh, yaitu:
    1. Sholat
    2. Shaum
    3. Jima’
    4. Thawaf di Ka’bah
    5. Membaca dan menyentuh al-Qur’an (namun para ulama ikhtilaf dalam masalah ini, baca kembali artikel tentanghukum seputar haidh)

    Jika anti mendengar dan mendapat penjelasan ataupun pendapat dari siapa pun juga, anti harus menanyakan tentang keberadaan dalil-dalil yang mendukung pendapat atau pernyataan tersebut. Jangan sampai kita melakukan suatu amalan yang tidak kita ketahui ilmunya berdasarkan firman Allah Ta’ala:

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. al-Isra': 36)

    @Aisyah
    Apabila seorang wanita mendapatkan masa sucinya setelah waktu ‘ashar, maka tidak ada kewajiban baginya untuk melakukan shalat dzuhur. Disini kalimatnya adalah perintah untuk melakukan dan bukan mengqadha’, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencontohkan untuk mengqadha’ sholat, melainkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan untuk mengqadha shaum pada bulan Ramadhan, berdasarkan riwayat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari jalan Mu’adzah (ia berkata):
    Saya pernah bertanya kepada ‘Aisyah. Saya katakan: “Bagaimana dengan wanita haidh, ia mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat?” ‘Aisyah menjawab: “Apakah kamu seorang Haruriyah (kelompok Khawarij)?” Saya menjawab: “Tidak, saya hanya bertanya.” ‘Aisyah berkata: “Kami pernah mengalami hal itu. Lalu, kami diperintahkan untuk mengqadha puasa, dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadha sholat.” [Riwayat Muslim (I/182)]

    Wallahu Ta’ala a’lam

  8. lina says:

    Alhamdulillah, terima kasih banyak atas penjelasannya.

    wassalamualaikum,

  9. SEKARung senyum says:

    salam..saya pernah ketiduran sebelum mengerjakan sholat isya’. pada sepertiga malam, saya terbangun dan berniat menunaikan sholat isya’ sekaligus qiyamullail, tapi waktu kekamar kecil, ternayat saya haidh. apakah saya harus mengganti sholat isya’ saya?

  10. asy sYifa says:

    untuk SEKARung senyum (sekarung senyum saya utk ukhty;)) )

    iya, ukhty harus tetap mengganti sholat isya’ yg belum ukhty dikerjakan… karena ukhty telah mendapati sebagian waktu yg cukup utk melakukan 1 rokaat sholat;))

    wallohu Ta’ala a’lam

  11. NANI says:

    alhamdulilah, trima kasih atas penjelasan-penjelasannya, ada yang mau ditanyakan nih kalo sedang haid potong rambut boleh ga sih, trus ada yang bilang lagi haid rambut kita yang berjatuhan harus dikumpulkan dan ikut disucikan ketika kita bersuci dari haid, benarkah itu dan ada hadisnya ga? trims saya tunggu penjelasannya.

  12. tita says:

    Assalamualaikum ukhty
    saya mau bertanya..
    saya baru menikah beberapa bulan. sejak gadis mens saya kurang teratur.. mungkin siklusnya 30-40 hari. pernah bertanya kedokter katanya tidak apa2.. asalkan tidak stress.cuman dikasih vitamin kalo ga salah.

    setelah menikah mens saya jadi lebih cepat siklusnya. 20 hari sudah mens lagi. saya heran inikenapa ya??

    selain itu karna mens yang tidak teratur saya jadi bingung melakukan hubungan dengan suami. pernah saya berhubungan karna saya fikir saya bersih, ternyata abis berhubungan saya mens.

    selain itu pernah juga saya fikir mens saya sudah selesai, karna sudah satu stgh hari tidak keluar darah lagi. tapi ternyata waktu saya berhubungan dengan suami, tiba2 waktu mandi darah saya keluar lagi.

    saya benar2 bingung dan takut. karena pernah tahu juga sangat tidak dianjurkan bahkan dilarang berhubngan suami istri waktu haid. tapi untuk kasus saya bagaimana sebaiknya..

    terima kasih sebelumnya

    terima kasih.
    wasalam

  13. tsabita says:

    assalamualaikum.. apakah pembalut bekas mens, sebelum dibuang harus dicuci dulu darahnya? atau boleh dibungkus saja lalu dibuang? jazakallah khairan..

  14. Diyanah says:

    salamun ‘alaik… bilakah waktu yang betul-betul haid habis. ada yang cakap masa warna kuning seperti kuning isi epal haid itu dah boleh sembahyang ,dan masa betul-betul xde langsung, iaitu warna puteh.harap jelaskan…

  15. kamila says:

    betul betul, meskipun haid, harus tetep semangat!

  16. shabira says:

    kalau istri melakukan oral sex saat haid, boleh nggak?

  17. vivi says:

    assalammu’alaikum saya mau nanya biasa’a masa haid saya lebih dari 8 hari,apakah hari ke 9 saya mandi wajib dan mengerjakan ibadah seperti biasa’a?

    • www.muslimah.or.id says:

      Ukhti, untuk masa haid, maka yang tepat tidak ada batasan waktu. Jika dikenali selama hari-hari tersebut yg keluar adalah darah haid, maka wanita tetap dihukumi sedang dalam masa haid. Jadi, misalnya ukhti baru benar2 bersih setelah 10 hari, maka mandilah ketika benar2 sudah bersih dari darah haid. Wallahu a’lam

  18. an najm says:

    Assalamualaikum…syukran artikelnya.
    ana ingin tanya,jka drah haid keluar dwktu2 shalat,sedang kita blm shalt.apa kita perlu mngganti shalat tersebut stelah suci?lalu,kalau kita mandi wajib pda wktu shalt ashar,perlukah kita mngganti shalat dzuhur sblumnya,atau saat shalat isya perlukah kita ganti shalat magrib sbelumnya.ana ragu2 mengenai hal ini.mohon penjelasannya…

    afwan,jazakillah khoir

  19. indah says:

    assalamualikum ,…..
    sy pernah dgar klo wanita pas hari pertma haid ,… dan mwngucapkan Do’a (….) akan dijuhkan dari panasnya api neraka ,….
    yg sya mau tyakan benarkah itu ,… klo bnar ,… do’anya ap ????
    terimaksh . . .
    wasalamualaikum ,….

  20. Dian says:

    Bismillah………..Assalamua’laikum wr.wb…….Segala puji bagi Allah Seru Sekalian Alam……..
    Terus terang memang sy khususnya masih perlu keterangan mengenai wanita kala haid,soalnya yg sy dengar bnyk sekali pendapat yg berbeda2yg membingungkan kami yaitu masalah wanita yg sedang haid yg ktnya boleh mengaji jg boleh ke mesjid tp ada pula yg menyatakan wanita yg sedang haid tdk boleh mengaji/memegang Al Qur’an jg tak boleh ke mesjid. Nah dr semua perbedaan itu tlg diperjelas lg keterangan itu agar kami khususnya sy bs mengambil keputusan yg benar jg kelak sy dpt memberikan suatu alasan/keterangan yg benar2 bs /dpt dipertanggungjawabkan pd orang yg kelak mengajukan pertanyaan ke sy dan sy dpt menjawabnya dengan keterangan yg benar. Wassalam……..

  21. mauizatul hasanah says:

    Ass saya paham dalam penjelasan al-quran allah terima kasih atas nikmat yang kau beri.wasalam

  22. Ummu Zahra says:

    Kalimat berikut :

    “Akhir masa haid wanita dapat ditentukan dengan dua cara, yaitu (1) ketika darah haid telah berhenti, tandanya jika kapas dimasukkan ke dalam tempat keluarnya darah setelah dikeluarkan tetap dalam kondisi kering, tidak ada darah yang melekat di kapas (-ed.). (2) Yang kedua yaitu ketika telah terlihat atau keluar lendir putih agak keruh (??????? ????????????). ”

    Kedua cara tersebut pilihan atau digabungkan? Coz, kebiasaan saya darah berhenti di hari ke-7, tapi lendir putih mungkin keluar di hari ke-8 atau ke-9. Jadi, sebenarnya saya harus bersuci di hari ke-7 atau hari ke-8/hari ke-9, ya….? Bingung…

  23. @ Ummu Zahra
    Kedua cara tersebut tidak digabungkan tapi salah satunya saja karena tiap wanita memiliki cara berbeda-beda sesuai dengan kebiasaan yang ia temui.
    hemat kami,tanda suci haid Ukhti adalah keluarnya cairan putih (qashshatul baidho) jadi waktu keluar cairan putih adalah waktu bersuci bagi Ukhti.
    Allahua’lam

  24. abdul hanan says:

    kebanyakan di komunitas muslim jawa barat, tidak diperkenankan wanita had menyentuh al-qur’an kecuali orang yang suci dalam arti orang yang punya wudhu, dengan adanya uraian ustad ada pencerahan bagi ibu-ibu yang hed untuk ingat kepada allah dan membaca al-qur’an. terima kasih

  25. vida says:

    Tks bwt ilmunya..jazakillahu khairan..

  26. nisya says:

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    saya masih berumur 17 tahun,sejak pertama kali mendapat haidh (13thn)saya memang haidh dengan tidak teratur , kadang 2 bulan sekali bahkan pernah 8 bulan berhenti,dan kadang tiap bulannya berlangsung lebih dari 10 hari,pernah saya konsultasi ke dokter kandungan dan katanya itu hanya masalah hormon dan pengaruh aktivitas sekolah saya yang cukup padat.Sehari sebelum bulan ramadhan ini darah haidh saya keluar hingga hari ke 12 tapi selama rentang waktu itu darah yang keluar sangat sedikit hanya berupa noda kecil sekitar 1-2 cm.karena saya takut puasa saya tidak sah maka saya memutuskan untuk tidak berpuasa.dan di hari ke 24 tiba tiba darah keluar lagi dan agak banyak walaupun tidak sebanyak darah haidh normal(sekitar 5cm).
    apa selama 12 hari diawal puasa tersebut keputusan saya untuk tidak berpuasa itu benar?
    haidh dihari ke 24 itu benar benar haidh yg menyebabkan saya tidak boleh berpuasa atau termasuk darah penyakit?
    bolehkah saya mandi besar dikala darah tidak keluar dengan alasan mengejar 10 hr terakhir walaupun nantinya darah akan keluar lagi?

    mohon bantuan dan penjelasannya..
    jazakillah..
    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    • @ Nisya
      Wa’alaikmussalam warahmatullahi wabarakatuh,
      Yang bisa kami sampaiakan berkenaan dengan kasus Anti,
      1. Jika memang kebiasaan haid Anti seperti itu maka keputusan Anti -insya Allah- sudah benar untuk tidak berpuasa. Karena wanita haid haram hukumnya untuk shalat dan berpuasa. Hal ini didasarkan kepada pendapat ulama seperti Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa hukum haid itu berlaku dengan ada tidaknya darah. Pendapat inilah yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan di rajihkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin. Jadi, ketika seorang wanita menjumpai adanya darah haid maka berlaku hukum-hukum wanita haid kapanpun terjadinya. Sehingga seorang wanita bisa saja keluar darah haid diawal bulan kemudian berhenti dan keluar lagi di akhir bulan.
      2. Tidak boleh mandi wajib sampai benar-benar suci dari haid. Sehingga wajib bagi seorang wanita mengetahui tanda-tanda suci haid yang menjadi kebiasaan dirinya.

  27. Ayudianie says:

    Assalamu’alaikum warohmatullah
    ukhty ana mau tanya,seringkali pada masa haidh ana sebelum keluarnya darah didahului dengan flek2 berwarna kecoklatan seperti coklat susu, dan tak jarang pada keesokan harinya kecoklatan menjadi agak kehitaman. yg mau ana tanyakan apakah pada saat itu ana sudah dikatakan haidh dan hukum haidh sudah berlaku (maksudnya ana tdk boleh shalat atau shaum) lalu jika pada saat itu ana sedang puasa sunnah apakah puasa ana batal? mohon berkenan berikan jawaban. Jazakillah khoyron katsiron

    • @ Ayudiani
      Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh,
      Iya benar, meskipun hanya flek ia tetap terhitung darah haid sehingga haram shalat dan puasa. Karena kebiasaan yang terjadi pada umumnya wanita adalah demikian yaitu keluar flek terlebih dahulu baru keluar darah kotornya.

  28. fitri says:

    asslm.wr.wb…

    ukhti, untuk masalah haid saya mempunyai masalah, biasanya saya mendapati mens 10hr dengan kondisi hari pertama hanya flek yg sudah berwarna merah, stlh itu kadang satu hari tidak keluar, esok harinya seperti itu lagi, stlh 3/4 hr darah haid baru keluar n hari ke 9 biasanya sudah berganti dengan flek (seperti keputihan) tp msh berwarna agak keruh..pertanyaannya..
    1.sebaiknya setelah keluar flek (seperti keputihan yg agak keruh) itu saya sudah boleh mandi atau belum?
    2. jika jangka waktu haidnya pernah sampai 15hr dikarenakan awal haid dengan flek yg biasanya 3 hr menjadi 6 hr sehingga darah haid br keluar hr ke7dan sampai keluar flek itu di hari ke 12, maka saya wajib mandi atau tidak? (pada hari kebiasaan haid yaitu 10hr) krn jika wajib mandi pernah dalam kondisi seperti itu saya menunggu sampai benar2 keputihan berwarna normal, apakah saya wajib mengqodho sholat saya atas waktu sholat yg ditinggalkan?..trimakasih.

  29. @ Fitri
    Pertama yang perlu kami tekankan disini adalah sangat penting bagi seorang wanita untuk mengenal ciri atau sifat-sifat darah haid, idtihadhah dan darah nifas. Sehingga dia akan bisa membedakan antara ketiganya dengan benar. Serta mengenal tanda suci dari darah haid dan nifas
    Berkaitan dengan kasus yang Anti alami
    1. Tanda suci ada dua macam, aljufuf (rahim kering,tidak keluar cairan apapun bila diletakkan kapas di jalan keluar darah) dan qashshatul baidha (keluarnya cairan putih). Dan setiap wanita memiliki tanda suci yang berbeda sesuai dg kebiasaannya. Jika kebiasaan tanda suci yang anti alami adalah keluar cairan putih maka Anti wajib menunggu cairan tersebut benar-benar keluar.
    2. Jika memng darah tersebut memiliki ciri dan sifat sebagaimana darah haid maka tetap terhitung sebagai darah haid meskipun keluarnya melebihi jumlah hari yang menjadi kebiasaan. Dan pendapat yang benar ketika seorang wanita mendapati darah haid baik melebihi atau kurang dari jumlah hari yg mnjadi kebiasaannya maka tetap terhitung sebagai darah haid. Allahu a’lam

  30. shanti says:

    Assalamualaikum..

    saya punya kista di indung telur dan sekarang sedang tahap pengobatan, dan hal tersebut menyebabkan pola haid saya berubah. haid saya bersih pada hari ke-5 atau ke-6 (sama persis seperti pola haid saya sebelum ada kista), tapi sejak ada kista setiap selang 1 hari bersih, hari ke-7 atau ke-8 keluar cairan berwarna coklat, berlendir, basah, lembab, agak banyak shg saya harus pakai pantyliner terus. dan itu berlangsung selama 6-7 hari.

    kalau menurut dokter dan terapi alternatif saya itu termasuk keputihan yang merupakan efek dari kista saya. menurut ukhti, pada hari ke-6 saya bersih dari haid, bolehkah saya mandi junub dan terus melakukan sholat di hari2 berikutnya meskipun ada keputihan coklat yg agak banyak? saya merasa sedih kalo sampai 2 minggu lebih tidak bisa melakukan solat.

    dan bolehkah saya melakukan jima’ dengan suami setelah saya mandi junub tersebut, apakah haram jima’ pada saat kita sedang keputihan?

    terima kasih, ukhti semoga dapat memberi penjelasan kepada saya supaya lebih tenang.

    wassalamualaikum

    • @ Shanti

      Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh

      Pertanyaan Ukhti Shanti telah kami ajukan pada Ustadz Aris Munandar hafizhahullah, dan beliau menjawab,

      Cairan coklat di luar masa haid bukanlah darah haid.
      Jika memang sebagaimana yang anda katakan bahwa cairan coklat tersebut keluar setelah selang sehari dari bersihnya haid maka cairan coklat tersebut bukan haid.
      Sehingga anda tetap wajib shalat dan boleh jima’ dengan suami.

  31. Titien Nurhayati says:

    Bagaimanakah cara yang tepat mengetahui masa haidh? selama ini saya mengunakan kapas bersih yang di sapukan ke vagina jika hasilnya bersih maka saya bersuci. tetapi, saat haid bulan desember kemarin, saya menyapukan kapas lebih dalam dan ternyata hasilnya masih ada warna coklat yang menempel pada kapas padahal saat di sapukan seperti biasanya sudah bersih.
    Jika kita bersuci sudah masuk waktu asar apakah solat dhuhur harus di qodho?

  32. Zakiyyah says:

    Afwan, ana mw tanya. Kalo keluarnya Lendir putih itu di barengi dengan keluarnya lendir kuning, itu sudah suci belum? Tp yang keluar duluan adl lendir putih baru kmudian diikuti lendir kuning ( dlam waktu yg hampir bersamaan ). Syukron. Jazakillah..

  33. Nisa Zakiyyah says:

    Afwan, ana mw tanya. Kalo keluarnya Lendir putih itu di barengi dengan keluarnya lendir kuning, itu sudah suci belum? Tp yang keluar duluan adl lendir putih baru kmudian diikuti lendir kuning ( dlam waktu yg hampir bersamaan ). Syukron. Jazakillah…

  34. Alifrida says:

    umm,saya mw brtanya. Dulu ktika sudah kluar lendir putih,saya menunda mandi besar saya krena saya ragu apakah saya sudah suci atau belum,akhirnya bbrapa shalat saya tinggalkan. Nah yg ingin saya tnyakan, apakah shalat2 yg ditinggalkan karena menunda mandi besar itu wajib d qodho’?

  35. abu hanif says:

    ijin copas, untuk share di fb

  36. rini anggraini says:

    alhamdulillah dengan membaca artikel nya saya lebih semangat

  37. Uke says:

    Assalamualaikum

    Saya sedang mengalami kebingungan. Semoga bisa bantu menjawabnya.

    Masa haid saya cukup panjang, dari mulai hingga keadaan bersih kira-kira 14-15 hari.
    Namun sudah 3 bulan ini haid yang saya alami berkepanjangan dan melampaui 15 hari. Jika mengikuti aturan, di hari ke berapakah saya sudah bisa kembali sholat? Hari ke 15 atau 16?
    Kemudian, jika haid saya berhenti di hari ke 15, saya kembali sholat, lalu di hari ke 18 kembali keluar darah, apakah ini berarti saya tidak boleh melakukan sholat lagi?
    Mohon pencerahannya karena baru kali ini saya mengalami haid berkepanjangan seperti ini.

    Wassalam

    • @ Uke

      1. Masa haid yang cukup panjang.
      Silakan berkonsultasi dengan dokter. Biasanya, dokter yang akan memberi jawaban berdasarkan pertimbangan medis tentang apakah seluruh darah tersebut adalah darah haid atau bukan. Jika menurut dokter seluruh darah yang keluar lebih dari 15 hari tersebut adalah darah haid, maka selama masa itu berlaku hukum wanita haid pada diri Ukhti Uke. Jika darah berhenti maka Ukhti wajib melakasanakan shalat dan hilanglah hukum wanita haid atas diri Ukhti.

      2. Darah haid yang keluar secara terputus-putus (berhenti di hari ke-15 dan keluar lagi di hari ke-18).
      Berdasarkan artikel di atas, untuk kasus Ukhti ini terdapat dua kondisi:
      Jika kondisi ini selalu terjadi pada seorang wanita setiap waktu, maka darah itu adalah darah istihadhah (darah karena penyakit), dan berlaku baginya hukum istihadhah.
      Jika kondisi ini selalu terjadi pada seorang wanita tetapi kadangkala saja datang dan dia mempunyai saat suci yang tepat, maka kesimpulannya: berhentinya darah yang kurang dari sehari bukan merupakan keadaan suci kecuali jika si wanita mendapatkan bukti yang menunjukkan bahwa dia suci. Misalnya, berhentinya darah tersebut terjadi pada akhir masa kebiasaan atau melihat lendir putih.

  38. Luthfia says:

    Afwan, ana mw tanya. Apakah lendir tanda suci haid itu selalu berwarna putih? Soalnya, ana ketika darah haid sudah tidak keluar muncul lendir berwarna kuning. Derajat kekuningan ini semakin lama semakin berkurang hingga akhirnya ana dapatkan lendir yang benar2 berwarna putih. Yang ingin ana tanyakan, kapankah waktu suci ana ? saat keluar lendir berwarna kuning ? atau yang putih?
    Keluarnya lendir putih ini bisa berselang lama dari berhentinya darah, bisa sampai 4-5 hari. Mohon pencerahan. Jazakumullah

    • @ Luthfia
      1. Jika tempat keluar darah belum kering dan lendir kuning tersebut keluar bergandengan dengan keluarnya darah maka ia masih terhitung haid. Maka Anda wajib menunggu keluarnya lendir putih (qashshatul baidha). Sebagaimana kisah sahabiyyah yang diutus untuk mendatangi ‘Aisyah dengan membawa kapas yang masih ada cairan kekuningan. Maka beliau radhiallahu’anha berkata,
      ?? ?????????? ?????? ???????? ?????????? ???????????? . ??????? ???????? ????????? ???? ??????????? . ???? ??????? ???????
      “Janganlah kalian tergesa-gesa sehingga kalian melihat qashshatul baidha sebagai tanda suci dari haid.”
      2. Namun jika tempat keluarnya darah benar-benar sudah kering dan keluarnya cairan kuning ada selang waktu dengan keluarnya darah (tidak bergandengan secara langsung) maka Anda tidak perlu menunggu cairan putih. Setelah kering langsung mandi wajib. Hal ini ditegaskan Imam Nawawi dalam Majmu’.
      Fatwa ini kami jumpai pada link berikut [ini] dan [ini]

  39. eha says:

    Bismillah

    Assalamu’alaykum wa rahmatullah

    Kebiasaan haid ana 7 hari sejak keguguran menjadi 6hari (berturut2 selama 3bulan), ana menentukan masa suci ketika farji kering atau dengan munculnya lendir bening.

    Bulan ini ketika hari ke 5 farji ana kering sejak malam sampai subuh sehingga ana memutuskan untuk bersuci kemudian shalat shubuh dan paginya ana melakukan jima’, sekitar sejam kemudian mendapati cairan berwarna pink samar encer sedikit dan sebentar keluar dr farji dan kemudian farji kering lagi.

    Yang ingin ana tanyakan:
    1. Apakah ini hasil perlukaan dinding leher vagina setelah jima’ shingga ana tidak perlu menganggap yg kluar itu apa2? atau ini masih merupakan darah haid sehingga ana harus menunggu masa suci kembali?

    2. Afwan, masa menunggu suci 12jam (sehari) atau sehari semalam (24 jam)

    Jazakillah khairan

  40. nope says:

    Assalamu’alaykum..

    Mohon ilmunya, bagaimana bila ana mendapatkan tanda suci dari haid di kantor? Dmn ada air, tapi tentu saja tidak memungkinkan utk mandi, dan juga tidak memungkinkan utk pulang dl dikarenakan jarak yg lumayan jauh dan macet. Bagaimana ana harus bersikap?

    Jazaakumullah khairan

    Wassalamu’alaykum

    • @ Nope
      Wa’alaikumussalam,
      Syarat mandi wajib adalah menguyurkan air keseluruh tubuh dengan mengurai rambut. Meski hanya ada satu gayung air namun cukup untuk seluruh tubuh dan tidak memakai shampo ataupun sabun mandinya pun tetap sah.

  41. nope says:

    Assalamu’alaykum…

    Tolong satu kasus lagi, ana haid tgl 6 April, tgl 12 sudah kering/tdk keluar apa2 lagi, sengaja ana tunggu sampai tgl 13 krn cairan putih blm keluar, lalu subuh tgl 14 ana mandi dan shalat, krn ana berasumsi sudah kering dan lewat dari kebiasaan ana haid (8 hari).

    Ternyata jam 7 pagi keluar cairan yg agak coklat keruh kekuningan, dan setelah beberapa jam setelah itu baru cairan putih keluar.

    Bagaimana hukum mandi ana sebelumnya? Apakah harus diulang lagi krn cairan yg keluar tgl 14 jm 7 pagi itu??

    Wassalamu’alaykum

    • @ Nope
      Wa’alaikumussalam,
      Perlu diingat cairan coklat ataupun kuning yang keluar setelah masa suci tidak dianggap sebagai haid. Berdasarkan hadits berikut,
      ????? ?? ???? ??? ???? ???? ???? : (??? ?? ??? ?????? ??????? ??? ????? ????? ) ???? ??????? (326) ???? ???? 307
      “kami tidak menganggap (sebagai haid)cairan kuning dan kecoklatan yang keluar setelah masa suci”

  42. Yani heryani says:

    Assalamualaikum,sewaktu gadis haid saya 7 hari setelah menikah dan memakai alat kb spiral haid saya menjadi 10 hari,hari ke 5 berhenti kemudian hari 6 sampai 10 keluar bercak bercak kadang kadang dlm 1 hari tidak keluar bagaimana hukumnya biar saya bisa mengerjakan kewajiban sebagai umat muslim

  43. Dini says:

    Assalaamu’alaykum

    izin copy paste

  44. novi says:

    assalammu’alaikum wr wb
    mohon bantuannya menjawab masalah saya.
    rata2 lama haid saya adalah 6 hari. di hari ke-6 sudah tidak ada darah yang keluar (dihari ke-5 hanya flek warna hitam kecoklatan dan ada darah/ jaringan rahim berbentuk seperti benang/lendir kental warna kehitaman). malam hari sebelum bersuci saya mengecek cairan vagina yg keluar dimulut vagina sudah tdk ada warna dan jumlahnya hanya sedikit.
    setelah bersuci, saya solat kemudian berhubungan badan dgn suami. ditengah2 berhubungan, kami mendapati bahwa cairan vagina yang keluar masih berwarna coklat susu (bukan coklat muda kekuningan) dan masih ada sedikit lendir kental warna kehitaman. jumlah cairan itu hanya seperti flek2 saja. tetapi tak lama setelah itu cairan yg keluar sudah tidak berwarna lagi. yg ingin saya tanyakan apakah saya masih dlm masa haid dan jika iya, apa yg harus saya lakukan, misalnya membayar denda seperti di hadist.
    atas jawabannya saya ucapkan terima kasih

  45. Najieb says:

    di kampung saya, wanita haidh tida boleh baca qur’an… bagaimana hukum yang sebenarnya ? syukran

  46. Assalamu’alaikum wrwb,…swktu belum ikut KB sy haidh normal paling lma 6 hari,tpi skrng haidh sy menjadi 15 hari,sehari keluar sehari tidak,kdang sudah ikut puasa nnt pertengahan hari sekitr jam 12 keluar darah haidh,gmn hukum’y,..?

  47. icha says:

    Assalamualaikum wr.wb saya mau tanya tp ni permsalahn tmn saya,, d bulan Ramadhan ni,tmn saya lg kdapatan haid,,tp darah yg kluar gak terataur,, dan cm sedikit,, stelh itu gk kluar lg,,kadang bsoknya pun sudah brsh,tp d waktu siang hnya kluar sdikit, apa puasanya jg batal?

  48. Ratri Iswari says:

    Assalamualaikum,di awal puasa saya mendapati keluarnya flek darah dan saya pikir itu adalah haid yg maju dari jadwal. Setelah hari ke 4 saya baru menyadari bahwa itu bukan haid. Setelah saya periksa dokter ternyata rahim saya bermasalah dan flek baru berhenti setelah 10 hari dg bantuan obat. Hari ke 5 karena yakin itu darah istihadhah (diagnosa dokter melalui USG)saya lalu mulai puasa dan sholat. Karena mencari amannya setiap sahur saya mandi wajib demikian juga setiap mau sholat. Bagaimana sebenarnya cara bersuci bagi wanita istihadhah. Mohon penjelasan. Syukron.

  49. Haadiya says:

    Assalamu’alaikum Ukhti, masa haid saya bersih 8-10 hr. Apabila pada hr ke-7 kita sudah yakin masa haid selesai dan sudah keluar lendir yang bening, kemudian kita mandi janabah. Setelah 2 hari bersih, saya melakukan hubungan suami istri, kemudian setelah itu ketika mandi junub, di lendir keluar sedikit serabut darah. Apakah hal ini termasuk darah haid? Wassalam

    • @ Haadiya

      Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh.

      Bercak darah atau lendir keruh yang keluar setelah masa suci merupakan sesuatu yang tidak perlu dihiraukan dan itu tidak dianggap haid.

      Kesimpulan ini berdasarkan riwayat yang disampaikan Ummu Athiyah radhiallahu ‘anha, “Kami tidak menghiraukan bercak kuning atau keruh sesudah datangnya masa suci.” (H.r. Abu Daud; hadis sahih)

Leave a Reply