Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman
Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.
Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)
Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.
Fitnah Kubur
Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)
Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!
Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.
Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bentuk-Bentuk Siksa Kubur
Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”
Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:
Adzab dan nikmat kubur adalah benar adanya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ‘ijma ahlu sunnah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal itu. Dan hal ini hanya diingkari oleh orang-orang Mulhid (atheis). Mereka mengatakan bahwa seandainya kita membongkar kuburan tersebut, maka akan kita dapati keadaannya seperti semula. Namun, dapat kita bantah dengan dua hal:
Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak mengecapnya. Demikian juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan bagaimananya. Sebab akal memang tidak dapat memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini.
Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)
Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya, kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan… maka jangan siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi ???
Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
***
Artikel www.muslimah.or.id
© 2006 - 2009 muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah
Assalamu’alaikum
Saya ingin bertanya mengenai azab-azab kubur (6 poin) diatas. Kalau tidak salah di salah poin (pemakan riba), bukankah itu adalah adzab di neraka (Ketika nabi melakukan mi’raj?). Afwan, tolong sertakan referensinya/dalilnya per poin.
Jazakillahu khairan.
Assalamualaikum wr wb
Alhamdulillah artikel yang sangat menarik, mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanya sebentar dan dunia ini adalah tempat yang sangat tidak aman (di pandang dari sudut science dan agama).
Maaf ukthi bolehkah saya bertanya tapi mungkin sedikit dihubungkan dengan topic/tags lain yaitu syahadat (walaupun masih dalam 1 kategori artikel aqidah).
Mengapa pertanyaan pertama di kubur adalah “Man Robbuka?” bukan Man Ilahaka?”.
Padahal syahadat kita adalah syahadat ‘uluhiyah’.
Wassalamualaikum wr wb.
Buat ukhti Erlina:
Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
Pertanyaan yang cukup bagus. Sampai saat ini kami belum mengetahui jawabannya. Insya Allah nanti akan kami tanyakan kepada ustadz. Yang jelas, pembedaan kata “Rob” dan “Ilah” dalam syariat memiliki makna dan tujuan yang berbeda. Pada syahadat menggunakan kata “Ilah”, dan kita insya Allah sudah mengerti maknanya, dan pada ayat dan hadits juga banyak penggunaan kata “Robb”. Wallahu a’lam.
Hanya tambahan saja,
Sebatas yang ana ketahui
Tidak diwajibkan bagi kita untuk mengetahui setiap hikmah dari syariat Alloh Ta’ala. Oleh karena itu terkadang pertanyaan mengapa ? untuk syariat Alloh yang kita memang tidak mengetahuinya dan tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut, tidak baik dan kita tidak memberatkan diri untuk mengetahuinya.
karena hal itu tidak pernah dicontohkan para salaf kita. Meskipun jika kita tahu hikmah dari syariat alloh itu lebih baik.
Afwan jika salah
tolong diinfokan di web antum yah. syukron
HADIRILAH KAJIAN KHUSUS PUTRI
CITA WANITA PERINDU SURGA
Bersama: Ustadz ARIS SUGIYANTORO
(Pimpinan PonPes Al Ukhuwah, Sukoharjo & Penasihat Majalah NIKAH)
AHAD, 7 September 2008
Pukul 08.00 s/d 11.30 WIB
Di MASJID AN-NUUR SMA NEGERI 1 GEMOLONG, SRAGEN
Gratis Untuk Putri
INFORMASI:
Akhowat: 0852 9363 1396
Penyelenggara:
Lembaga Bimbingan Islam Ilmiah (LBII) Gemolong
Pesantren Remaja Ma’had Roudhotul ‘Ilmi Gemolong
Majelis Kerohanian Islam SMAN 1 Gemolong
Sumber: http://www.blogrohismanig.wordpress.com
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
Ukhti/pengelola web, mohon dikoreksi kalau saya salah karena saya masih perlu banyak belajar.
Pertanyaan pertama dalam kubur “Man Robbuka?”, menanyakan Rob. Sehingga untuk menjawabnya kita harus memiliki pemahaman rububiyah dan sudah bertauhid rububiyah. Karena dengan bertauhid rububiyah otomatis akan membuat kita bertauhid uluhiyah.
Hal ini seperti, kalau ada orang lewat di depan kita dan kita tidak mengenalnya mustahil kita akan memberi hormat. Tetapi kalau kita tahu siapa orang tersebut, berilmu tinggi, berkedudukan tinggi, seorang raja/presiden otomatis kita akan memberi hormat.
Demikian pula kalau kita mengenal Allah, pencipta, pengatur, pemelihara, penguasa, pemberi rejeki (bertauhid rububiyah) otomatis kita akan bersujud dan hanya menyembahNya (bertauhid uluhiyah) karena kita memiliki alasan yang kuat untuk menyembahNya..
Dan banyak ayat dalam Quran, Allah memerintahkan kita untuk selalu memikirkan ciptaanNya sebab di dalamnya terdapat tanda tanda KEBESARANNYA.
Selain itu dalam QS 7:172, Allah telah mengambil kesaksian/membuat perjanjian dg roh manusia ketika dilahirkan: “Bukankah Aku ini Robbuka?” dan dijawab “Betul (Engkau Tuhan kami/Rob), kami bersaksi.”
Ini relevan dengan pertanyaan pertama di alam kubur “Man Robbuka?”
Sehingga kalimat tauhid seharusnya meliputi maksud di atas, bukan hanya maksud uluhiyah saja, meskipun memakai kata ilah. Wallahu a’lam.
Jazakillahu khairan.
Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
Kami ingin sedikit meluruskan pernyataan ukhti yang ini:
Yang benar adalah kebalikannya, dengan bertauhid uluhiyah otomatis kita bertauhid rububiyah.
Pernyataan ukhti di atas yang kami beri tanda quote dibantah oleh Allah pada beberapa firman-Nya di dalam Al Quran, diantaranya adalah:
“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10]: 31)
Realitanya dari zaman Jahiliyah hingga zaman sekarang, sangat banyak orang-orang yang bertauhid rububiyah, yang mana mereka mengakui bahwa Allah yang menciptakan alam semesta dan seluruh mahluk, Allah yang maha mengatur, dst… akan tetapi tidak membuat mereka beriman kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka tetap menyembah berhala, menyembah Nyi Roro Kidul, dll.
Dalam ilmu tauhid dijelaskan bahwa tauhid rububiyah menimbulkan konsekuensi tauhid uluhiyah. Maksudnya adalah bahwa seorang yang mengakui bahwa Allah yang menciptakan seluruh mahluk maka menimbulkan konsekuensi bahwa dia seharusnya menyembah dan beribadah kepada penciptanya. Sehingga apabila dia hanya mengakui rububiyah Allah tanpa mau beribadah kepada Allah, maka dia sebenarnya belum bertauhid, karena inti dari tauhid itu adalah menyerahkan peribadatan HANYA kepada Allah semata.
Pelajaran selanjutnya dalam ilmu tauhid, bahwa tauhid uluhiyah meliputi tauhid rububiyah. Maksudnya, ketika seseorang sudah bertauhid uluhiyah, sudah mesti dia sudah bertauhid rububiyah. Seseorang yang sudah menyembah Allah dan mengikhlaskan peribadatan HANYA kepada Allah, sebelumnya itu dia mesti sudah mengakui bahwa Allah lah yang menciptakannya dan menciptakan seluruh makhluk.
Jadi, ukthi jangan salah paham. Ketika kita membahas uluhiyah, bukan berarti meniadakan/menafikan rububiyah, akan tetapi pembahasan rububiyah sudah tercakup ke dalam uluhiyah secara keseluruhan.
Kembali ke masalah “Man Robbuka”…… coba perhatikan firman Allah yang kami sebutkan di atas:
Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?
Trus apa jawaban orang-orang kafir?
Maka mereka akan menjawab: “Allah.
Jelas sekali bukan, mereka mengakui tauhid rububiyah? :), akan tetapi apa jawaban Allah?
Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?
Nah, itulah konsekuensi dari tauhid rububiyah! tauhid uluhiyah lah konsekuensinya, yaitu peribadatan dan penghambaan diri HANYA kepada Allah.
Ketika seorang kafir selama hidupnya di dunia, dia mengakui rububiyah Allah, akan tetapi dia selama hidupnya menyembah Nyi Roro Kidul atau Yesus atau menyembah dewa dewa, kemudian dia mati dan di dalam kuburnya ditanya oleh malaikat, “Siapa Robbmu?” atau “Man Robbuka?” coba tebak, apakah orang kafir tersebut bisa menjawabnya dan kemudian lulus dari fitnah dan siksa kubur? Jika menggunakan konsep ukhti Erlina, tentu saja jawabannya “IYA, dia bisa menjawabnya” berarti orang kafir tersebut lulus dari azab kubur? dan konsekuensinya seluruh orang kafir di dunia ini dari zaman dahulu hingga zaman sekarang yang mengakui hanya rububiyah Allah maka akan lulus ujian dan dijamin masuk surga.
Akan tetapi tidak seperti itu, bukan? karena jika ditelisik lebih jauh, pertanyaan “Man Robbuka” tersebut pendek akan tetapi maksudnya sangat dalam. Dan pertanyaan tersebut tidak akan bisa dijawab oleh orang-orang kafir, karena mereka tidak menjalankan konsekuensi dari pengakuan mereka terhadap rububiyah Allah! dan pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab oleh orang-orang yang benar-benar menjalankan konsekuensi pengakuan rububiyahnya, yaitu mengikhlaskan peribadatan dan penghambaan HANYA kepada Allah, dan itulah inti dari tauhid, dan itulah inti dan tujuan kita diciptakan di dunia ini wahai ukhti :)
Sebenarnya pembahasan tauhid ini sangat menyenangkan dan cukup panjang. Dan untuk membahasnya harus di bawah bimbingan seorang guru yang mumpuni, dan tidak cukup hanya dengan membaca literatur terjemahan saja ataupun artikel singkat.
Oya ukhti, bisa kami tahu alamat pos ukhti? tolong dikirimkan ke e-mail: muslimah.or.id@gmail.com
Semoga Allah meneguhkanmu pada Islam sesuai dengan manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya ya ukhti…….
Ilmu/tahu dan paham adalah pengertian yang sangat berbeda. Ketika orang ditanya apakah agama kita sudah sempurna dan tidak perlu tambahan mereka akan menjawab “sempurna dan tidak perlu tambahan” tapi mereka tetap melakukan bid’ah. Atau ketika kita ditanya “apakah sholat tahajud itu baik dan bisa meningkatkan derajat kita” kita akan menjawab “jelas sekali” tapi untuk bangun malam kita masih malas, beda dengan para ulama yang mereka akan bersegera bangun seakan akan dibakarkan api neraka bila mereka tidak bangun. Apakah kita sudah seperti ulama ini? Kalau sudah berarti kita sudah paham, kalau belum berarti kita baru sekedar ilmu/tahu tapi belum paham. Snouck Hurgronje mungkin lebih berilmu dari kita tapi dia tidak paham, ilmunya hanya sampai ke otaknya saja tidak masuk ke hati. Dan orang2 musyrik tahu ilmu rubbubiyah tapi tidak paham jadi mereka masih mensyirikan Allah dan tidak bertaqwa. Dan kita saja tidak mungkin paham rubbubiyah Allah 100% karena yang kita tahu hanya alam sekitar kita saja, padahal di luar bumi ada langit yang jauh lebih besar, untuk tubuh kita sendiri tidak bisa paham 100 % seperti QS 14:34. Perintah di quran banyak sekali agar kita mempelajari rubbubiyah sebanyak mungkin supaya kita semakin paham. Orang yang paham rubbubiyah dengan benar pasti tidak akan mengkhianati Allah karena tanpa Allah kita tidak berarti apa2.
Jadi permisalan di atas ada benarnya. Ketika ada kita punya majikan yang telah merawat kita, memberi kita makan, memberi kita pekerjaan dan semua keperluan kita dipenuhi, menolong kita dari keadaan kita yang menderita dan sangat menyayangi kita maka kita akan menghormati dia dan akan bertekad untuk mengabdi dia selama mungkin, karena kita telah mengenal dengan baik kebaikan dia dan tidak mungkin kita akan menyakiti/mengkhianati dia. Dan tidak mungkin terjadi sebaliknya kita menghormati dan mengabdi pada orang yang tidak kenal sama sekali, atau baru kenal sebentar. Maka kita harus mengenal rubbubiyah Allah dengan benar baru kita bisa masuk uluhiyah dengan benar dan tidak mungkin mensyirikan-Nya karena kita telah mengenal dan memahami kekuasaan-Nya. Jadi pemahaman rubbubiyah adalah modal dasar dari tauhid uluhiyah dan bukan sebaliknya.
Assalamualaikum Wr. Wb.
aQ senang sama rubrik ini soalna nambah ilmu pengetahuan aQ yang baru tau ilmu agama hanya sebatas kulitnya saja, Alhamdulillah mudah-mudahan Allah SWT memudahkan aQ dalam belajar agama. Amin
Afwan
Jazakillahu Khairan
assalamu’alaikum…
semoga Allah meneguhkan kita di atas tauhid dan sunnah sampai liang kubur menjemput kita…
wassalamu’alaikum…
Kalau dialam kubur pertanyaan sholat nomer berapa ya..?
mohon petromatnya .
Koes
utk Ibnu Abdulloh..
poin 1 sampai 6 adalah berdasar hadits dari Samurah bin Jundub. bukan ketika peristiwa mi’raj. mohon maaf karena teks lengkap hadits cukup panjang shg kami hanya mengambil intinya saja. mohon maaf pula kami lupa mencantumkan refernsinya.
teks lengkap hadits dpt antum lihat di buku “Huru-hara di hari kiamat” penerbit Pustaka Ibnu Katsir di bagian berjudul (klo tdk salah) Bentuk2 siksa di alam KUbur
utk Yadi..
mengenai pertnyaan sholat di alam kubur, saya belum pernah membaca ayat Al Qur’an maupun hadits mengenai hal tersebut. mohon maaf, saya tidak tahu.
tapi disebutkan dlm sebuah hadits bahwa sholat adalah amalan yg pertama kali dihisab di hari kiamat (yaitu ketika yaumul hisab)
wallohu a’lam
mengutip perkataan seorang ulama
“wahai saudaraku..
siang dan malam adalah fase fase yang dilewati tiap orang..
jika engkau mampu menyiapkan bekal tiap hari bagi dirimu untuk menghadapi kematian, maka lakukanlah!!!karena sungguh perjalanan itu akan berakhir dengan cepat bahkan lebih cepat dari yang engkau duga…
dan sungguh…
aku tidak mengetahui seseorang yang lebih mengabaikan waktunya dari pada DIRIKU SENDIRI”
Subhanallah.. seorang dengan ilmu yang mumpuni (maaf ana lupa namanya) lebih pandai melihat aib dirinya, ketimbang aib orang lain…
lalu bagaimana dengan kita yang ilmu kita tidak lebih dari seujung jari para ulama…
namun ketawaduan kita pun hanya secuil…
semoga Allah mengampuni setiap khilaf yang kita lakukan dan menjadikan kita orang-orang yang bisa mengoreksi diri dan bertaubat sebulum ajal menjemput…
Wassalam.
artikelnya di update lg dun.
agar kita bisa nambah pengetahuan lebih luas lg dan dapat memberi manfaat jg buat bnyk orang.
ditunggu yah.
kita selalu setia membacanya.
by rohis sman 50 jakarta
Mohon diceritakan apa yang akan terjadi setelah masuk liang kubur bagi kaum non muslim sampai tahap yang paling akhir.Serta apa yang akan terjadi di padang masyar dan yang lainnya…
TERIMA KASIH
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, mohon maaf saya mau menanyakan hal di bawah ini mohon di perjelas lagi ya Ukht..
Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Bukankah ayat ini di katakan Allah adzab di neraka, bukan azab kubur,? jadi apakah ukhti yang salah atau penafsiran ukhti atau saya yang salah?, atau adzab kubur ini = azab neraka??
Wallahualam, jzk
Assalamu’alaikum,..Izin share, copas ke facebook ya ukhti..syukron jazakumullah khair..Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
assalamu’alaikum
ukhti, ana izin copas ya…..penting banget buat pribadi ana….
# Ukhti Mye
InsyaAlloh tulisan di atas sudah benar.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang…”
>> maksudnya adalah: mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang ketika mereka berada di alam kubur
dan hal ini pun sudah diperjelas dengan hadits Al Barra’ bin ‘Azib, bahwa orang2 kafir yang tidak dapat menjawab 3 pertanyaan, maka kepada mereka ditampakkan tempat tinggalnya di neraka. Hal ini akan dilakukan sampai hari kiamat.
Kemudian pada hari kiamat besar… maka ruh2 akan dikembalikan ke jasad mereka dan bangkit dari kubur mereka utk menghadap Allah. Dan berlangsunglah kejadian2 berikutnya… sampai datang masa manusia harus mempertanggungJawabkan perbuatannya..
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “…. dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.”
Jika ukhti masih ragu, silahkan meruju’ kepada sumber asli tulisan kami.
Wallohu Ta’ala a’lam
y ampun sungguh sangat mengerikan siksa didalam kubur..
maka dari itu jauhilah maksiat kita selama ini..