Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman
Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.
Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)
Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.
Fitnah Kubur
Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)
Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!
Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.
Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bentuk-Bentuk Siksa Kubur
Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”
Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:
Adzab dan nikmat kubur adalah benar adanya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ‘ijma ahlu sunnah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal itu. Dan hal ini hanya diingkari oleh orang-orang Mulhid (atheis). Mereka mengatakan bahwa seandainya kita membongkar kuburan tersebut, maka akan kita dapati keadaannya seperti semula. Namun, dapat kita bantah dengan dua hal:
Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak mengecapnya. Demikian juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan bagaimananya. Sebab akal memang tidak dapat memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini.
Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)
Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya, kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan… maka jangan siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi ???
Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
***
Artikel www.muslimah.or.id
© 2006 - 2011 muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah
August 27th, 2008 at 04:40
Assalamu’alaikum
Saya ingin bertanya mengenai azab-azab kubur (6 poin) diatas. Kalau tidak salah di salah poin (pemakan riba), bukankah itu adalah adzab di neraka (Ketika nabi melakukan mi’raj?). Afwan, tolong sertakan referensinya/dalilnya per poin.
Jazakillahu khairan.
August 28th, 2008 at 00:57
Assalamualaikum wr wb
Alhamdulillah artikel yang sangat menarik, mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanya sebentar dan dunia ini adalah tempat yang sangat tidak aman (di pandang dari sudut science dan agama).
Maaf ukthi bolehkah saya bertanya tapi mungkin sedikit dihubungkan dengan topic/tags lain yaitu syahadat (walaupun masih dalam 1 kategori artikel aqidah).
Mengapa pertanyaan pertama di kubur adalah “Man Robbuka?” bukan Man Ilahaka?”.
Padahal syahadat kita adalah syahadat ‘uluhiyah’.
Wassalamualaikum wr wb.
August 28th, 2008 at 08:37
Buat ukhti Erlina:
Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
Pertanyaan yang cukup bagus. Sampai saat ini kami belum mengetahui jawabannya. Insya Allah nanti akan kami tanyakan kepada ustadz. Yang jelas, pembedaan kata “Rob” dan “Ilah” dalam syariat memiliki makna dan tujuan yang berbeda. Pada syahadat menggunakan kata “Ilah”, dan kita insya Allah sudah mengerti maknanya, dan pada ayat dan hadits juga banyak penggunaan kata “Robb”. Wallahu a’lam.
August 29th, 2008 at 16:35
Hanya tambahan saja,
Sebatas yang ana ketahui
Tidak diwajibkan bagi kita untuk mengetahui setiap hikmah dari syariat Alloh Ta’ala. Oleh karena itu terkadang pertanyaan mengapa ? untuk syariat Alloh yang kita memang tidak mengetahuinya dan tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut, tidak baik dan kita tidak memberatkan diri untuk mengetahuinya.
karena hal itu tidak pernah dicontohkan para salaf kita. Meskipun jika kita tahu hikmah dari syariat alloh itu lebih baik.
Afwan jika salah
August 31st, 2008 at 20:23
tolong diinfokan di web antum yah. syukron
HADIRILAH KAJIAN KHUSUS PUTRI
CITA WANITA PERINDU SURGA
Bersama: Ustadz ARIS SUGIYANTORO
(Pimpinan PonPes Al Ukhuwah, Sukoharjo & Penasihat Majalah NIKAH)
AHAD, 7 September 2008
Pukul 08.00 s/d 11.30 WIB
Di MASJID AN-NUUR SMA NEGERI 1 GEMOLONG, SRAGEN
Gratis Untuk Putri
INFORMASI:
Akhowat: 0852 9363 1396
Penyelenggara:
Lembaga Bimbingan Islam Ilmiah (LBII) Gemolong
Pesantren Remaja Ma’had Roudhotul ‘Ilmi Gemolong
Majelis Kerohanian Islam SMAN 1 Gemolong
Sumber: http://www.blogrohismanig.wordpress.com
September 2nd, 2008 at 02:05
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
Ukhti/pengelola web, mohon dikoreksi kalau saya salah karena saya masih perlu banyak belajar.
Pertanyaan pertama dalam kubur “Man Robbuka?”, menanyakan Rob. Sehingga untuk menjawabnya kita harus memiliki pemahaman rububiyah dan sudah bertauhid rububiyah. Karena dengan bertauhid rububiyah otomatis akan membuat kita bertauhid uluhiyah.
Hal ini seperti, kalau ada orang lewat di depan kita dan kita tidak mengenalnya mustahil kita akan memberi hormat. Tetapi kalau kita tahu siapa orang tersebut, berilmu tinggi, berkedudukan tinggi, seorang raja/presiden otomatis kita akan memberi hormat.
Demikian pula kalau kita mengenal Allah, pencipta, pengatur, pemelihara, penguasa, pemberi rejeki (bertauhid rububiyah) otomatis kita akan bersujud dan hanya menyembahNya (bertauhid uluhiyah) karena kita memiliki alasan yang kuat untuk menyembahNya..
Dan banyak ayat dalam Quran, Allah memerintahkan kita untuk selalu memikirkan ciptaanNya sebab di dalamnya terdapat tanda tanda KEBESARANNYA.
Selain itu dalam QS 7:172, Allah telah mengambil kesaksian/membuat perjanjian dg roh manusia ketika dilahirkan: “Bukankah Aku ini Robbuka?” dan dijawab “Betul (Engkau Tuhan kami/Rob), kami bersaksi.”
Ini relevan dengan pertanyaan pertama di alam kubur “Man Robbuka?”
Sehingga kalimat tauhid seharusnya meliputi maksud di atas, bukan hanya maksud uluhiyah saja, meskipun memakai kata ilah. Wallahu a’lam.
Jazakillahu khairan.
September 2nd, 2008 at 08:23
Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
Kami ingin sedikit meluruskan pernyataan ukhti yang ini:
Yang benar adalah kebalikannya, dengan bertauhid uluhiyah otomatis kita bertauhid rububiyah.
Pernyataan ukhti di atas yang kami beri tanda quote dibantah oleh Allah pada beberapa firman-Nya di dalam Al Quran, diantaranya adalah:
“Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10]: 31)
Realitanya dari zaman Jahiliyah hingga zaman sekarang, sangat banyak orang-orang yang bertauhid rububiyah, yang mana mereka mengakui bahwa Allah yang menciptakan alam semesta dan seluruh mahluk, Allah yang maha mengatur, dst… akan tetapi tidak membuat mereka beriman kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka tetap menyembah berhala, menyembah Nyi Roro Kidul, dll.
Dalam ilmu tauhid dijelaskan bahwa tauhid rububiyah menimbulkan konsekuensi tauhid uluhiyah. Maksudnya adalah bahwa seorang yang mengakui bahwa Allah yang menciptakan seluruh mahluk maka menimbulkan konsekuensi bahwa dia seharusnya menyembah dan beribadah kepada penciptanya. Sehingga apabila dia hanya mengakui rububiyah Allah tanpa mau beribadah kepada Allah, maka dia sebenarnya belum bertauhid, karena inti dari tauhid itu adalah menyerahkan peribadatan HANYA kepada Allah semata.
Pelajaran selanjutnya dalam ilmu tauhid, bahwa tauhid uluhiyah meliputi tauhid rububiyah. Maksudnya, ketika seseorang sudah bertauhid uluhiyah, sudah mesti dia sudah bertauhid rububiyah. Seseorang yang sudah menyembah Allah dan mengikhlaskan peribadatan HANYA kepada Allah, sebelumnya itu dia mesti sudah mengakui bahwa Allah lah yang menciptakannya dan menciptakan seluruh makhluk.
Jadi, ukthi jangan salah paham. Ketika kita membahas uluhiyah, bukan berarti meniadakan/menafikan rububiyah, akan tetapi pembahasan rububiyah sudah tercakup ke dalam uluhiyah secara keseluruhan.
Kembali ke masalah “Man Robbuka”…… coba perhatikan firman Allah yang kami sebutkan di atas:
Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?
Trus apa jawaban orang-orang kafir?
Maka mereka akan menjawab: “Allah.
Jelas sekali bukan, mereka mengakui tauhid rububiyah? :), akan tetapi apa jawaban Allah?
Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?
Nah, itulah konsekuensi dari tauhid rububiyah! tauhid uluhiyah lah konsekuensinya, yaitu peribadatan dan penghambaan diri HANYA kepada Allah.
Ketika seorang kafir selama hidupnya di dunia, dia mengakui rububiyah Allah, akan tetapi dia selama hidupnya menyembah Nyi Roro Kidul atau Yesus atau menyembah dewa dewa, kemudian dia mati dan di dalam kuburnya ditanya oleh malaikat, “Siapa Robbmu?” atau “Man Robbuka?” coba tebak, apakah orang kafir tersebut bisa menjawabnya dan kemudian lulus dari fitnah dan siksa kubur? Jika menggunakan konsep ukhti Erlina, tentu saja jawabannya “IYA, dia bisa menjawabnya” berarti orang kafir tersebut lulus dari azab kubur? dan konsekuensinya seluruh orang kafir di dunia ini dari zaman dahulu hingga zaman sekarang yang mengakui hanya rububiyah Allah maka akan lulus ujian dan dijamin masuk surga.
Akan tetapi tidak seperti itu, bukan? karena jika ditelisik lebih jauh, pertanyaan “Man Robbuka” tersebut pendek akan tetapi maksudnya sangat dalam. Dan pertanyaan tersebut tidak akan bisa dijawab oleh orang-orang kafir, karena mereka tidak menjalankan konsekuensi dari pengakuan mereka terhadap rububiyah Allah! dan pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab oleh orang-orang yang benar-benar menjalankan konsekuensi pengakuan rububiyahnya, yaitu mengikhlaskan peribadatan dan penghambaan HANYA kepada Allah, dan itulah inti dari tauhid, dan itulah inti dan tujuan kita diciptakan di dunia ini wahai ukhti :)
Sebenarnya pembahasan tauhid ini sangat menyenangkan dan cukup panjang. Dan untuk membahasnya harus di bawah bimbingan seorang guru yang mumpuni, dan tidak cukup hanya dengan membaca literatur terjemahan saja ataupun artikel singkat.
Oya ukhti, bisa kami tahu alamat pos ukhti? tolong dikirimkan ke e-mail: muslimah.or.id@gmail.com
Semoga Allah meneguhkanmu pada Islam sesuai dengan manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya ya ukhti…….
September 2nd, 2008 at 19:06
Ilmu/tahu dan paham adalah pengertian yang sangat berbeda. Ketika orang ditanya apakah agama kita sudah sempurna dan tidak perlu tambahan mereka akan menjawab “sempurna dan tidak perlu tambahan” tapi mereka tetap melakukan bid’ah. Atau ketika kita ditanya “apakah sholat tahajud itu baik dan bisa meningkatkan derajat kita” kita akan menjawab “jelas sekali” tapi untuk bangun malam kita masih malas, beda dengan para ulama yang mereka akan bersegera bangun seakan akan dibakarkan api neraka bila mereka tidak bangun. Apakah kita sudah seperti ulama ini? Kalau sudah berarti kita sudah paham, kalau belum berarti kita baru sekedar ilmu/tahu tapi belum paham. Snouck Hurgronje mungkin lebih berilmu dari kita tapi dia tidak paham, ilmunya hanya sampai ke otaknya saja tidak masuk ke hati. Dan orang2 musyrik tahu ilmu rubbubiyah tapi tidak paham jadi mereka masih mensyirikan Allah dan tidak bertaqwa. Dan kita saja tidak mungkin paham rubbubiyah Allah 100% karena yang kita tahu hanya alam sekitar kita saja, padahal di luar bumi ada langit yang jauh lebih besar, untuk tubuh kita sendiri tidak bisa paham 100 % seperti QS 14:34. Perintah di quran banyak sekali agar kita mempelajari rubbubiyah sebanyak mungkin supaya kita semakin paham. Orang yang paham rubbubiyah dengan benar pasti tidak akan mengkhianati Allah karena tanpa Allah kita tidak berarti apa2.
September 2nd, 2008 at 19:45
Jadi permisalan di atas ada benarnya. Ketika ada kita punya majikan yang telah merawat kita, memberi kita makan, memberi kita pekerjaan dan semua keperluan kita dipenuhi, menolong kita dari keadaan kita yang menderita dan sangat menyayangi kita maka kita akan menghormati dia dan akan bertekad untuk mengabdi dia selama mungkin, karena kita telah mengenal dengan baik kebaikan dia dan tidak mungkin kita akan menyakiti/mengkhianati dia. Dan tidak mungkin terjadi sebaliknya kita menghormati dan mengabdi pada orang yang tidak kenal sama sekali, atau baru kenal sebentar. Maka kita harus mengenal rubbubiyah Allah dengan benar baru kita bisa masuk uluhiyah dengan benar dan tidak mungkin mensyirikan-Nya karena kita telah mengenal dan memahami kekuasaan-Nya. Jadi pemahaman rubbubiyah adalah modal dasar dari tauhid uluhiyah dan bukan sebaliknya.
September 4th, 2008 at 01:56
Assalamualaikum Wr. Wb.
aQ senang sama rubrik ini soalna nambah ilmu pengetahuan aQ yang baru tau ilmu agama hanya sebatas kulitnya saja, Alhamdulillah mudah-mudahan Allah SWT memudahkan aQ dalam belajar agama. Amin
Afwan
Jazakillahu Khairan
September 5th, 2008 at 18:55
assalamu’alaikum…
semoga Allah meneguhkan kita di atas tauhid dan sunnah sampai liang kubur menjemput kita…
wassalamu’alaikum…
October 24th, 2008 at 23:41
Kalau dialam kubur pertanyaan sholat nomer berapa ya..?
mohon petromatnya .
Koes
November 25th, 2008 at 19:32
utk Ibnu Abdulloh..
poin 1 sampai 6 adalah berdasar hadits dari Samurah bin Jundub. bukan ketika peristiwa mi’raj. mohon maaf karena teks lengkap hadits cukup panjang shg kami hanya mengambil intinya saja. mohon maaf pula kami lupa mencantumkan refernsinya.
teks lengkap hadits dpt antum lihat di buku “Huru-hara di hari kiamat” penerbit Pustaka Ibnu Katsir di bagian berjudul (klo tdk salah) Bentuk2 siksa di alam KUbur
utk Yadi..
mengenai pertnyaan sholat di alam kubur, saya belum pernah membaca ayat Al Qur’an maupun hadits mengenai hal tersebut. mohon maaf, saya tidak tahu.
tapi disebutkan dlm sebuah hadits bahwa sholat adalah amalan yg pertama kali dihisab di hari kiamat (yaitu ketika yaumul hisab)
wallohu a’lam
December 2nd, 2008 at 20:53
mengutip perkataan seorang ulama
“wahai saudaraku..
siang dan malam adalah fase fase yang dilewati tiap orang..
jika engkau mampu menyiapkan bekal tiap hari bagi dirimu untuk menghadapi kematian, maka lakukanlah!!!karena sungguh perjalanan itu akan berakhir dengan cepat bahkan lebih cepat dari yang engkau duga…
dan sungguh…
aku tidak mengetahui seseorang yang lebih mengabaikan waktunya dari pada DIRIKU SENDIRI”
Subhanallah.. seorang dengan ilmu yang mumpuni (maaf ana lupa namanya) lebih pandai melihat aib dirinya, ketimbang aib orang lain…
lalu bagaimana dengan kita yang ilmu kita tidak lebih dari seujung jari para ulama…
namun ketawaduan kita pun hanya secuil…
semoga Allah mengampuni setiap khilaf yang kita lakukan dan menjadikan kita orang-orang yang bisa mengoreksi diri dan bertaubat sebulum ajal menjemput…
Wassalam.
February 26th, 2009 at 19:49
artikelnya di update lg dun.
agar kita bisa nambah pengetahuan lebih luas lg dan dapat memberi manfaat jg buat bnyk orang.
ditunggu yah.
kita selalu setia membacanya.
by rohis sman 50 jakarta
April 4th, 2009 at 03:51
Mohon diceritakan apa yang akan terjadi setelah masuk liang kubur bagi kaum non muslim sampai tahap yang paling akhir.Serta apa yang akan terjadi di padang masyar dan yang lainnya…
TERIMA KASIH
August 22nd, 2009 at 17:25
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, mohon maaf saya mau menanyakan hal di bawah ini mohon di perjelas lagi ya Ukht..
Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Bukankah ayat ini di katakan Allah adzab di neraka, bukan azab kubur,? jadi apakah ukhti yang salah atau penafsiran ukhti atau saya yang salah?, atau adzab kubur ini = azab neraka??
Wallahualam, jzk
October 15th, 2009 at 02:21
Assalamu’alaikum,..Izin share, copas ke facebook ya ukhti..syukron jazakumullah khair..Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
November 3rd, 2009 at 21:18
assalamu’alaikum
ukhti, ana izin copas ya…..penting banget buat pribadi ana….
November 4th, 2009 at 23:58
# Ukhti Mye
InsyaAlloh tulisan di atas sudah benar.
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang…”
>> maksudnya adalah: mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang ketika mereka berada di alam kubur
dan hal ini pun sudah diperjelas dengan hadits Al Barra’ bin ‘Azib, bahwa orang2 kafir yang tidak dapat menjawab 3 pertanyaan, maka kepada mereka ditampakkan tempat tinggalnya di neraka. Hal ini akan dilakukan sampai hari kiamat.
Kemudian pada hari kiamat besar… maka ruh2 akan dikembalikan ke jasad mereka dan bangkit dari kubur mereka utk menghadap Allah. Dan berlangsunglah kejadian2 berikutnya… sampai datang masa manusia harus mempertanggungJawabkan perbuatannya..
Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “…. dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.”
Jika ukhti masih ragu, silahkan meruju’ kepada sumber asli tulisan kami.
Wallohu Ta’ala a’lam
December 6th, 2009 at 21:22
y ampun sungguh sangat mengerikan siksa didalam kubur..
maka dari itu jauhilah maksiat kita selama ini..
January 30th, 2010 at 09:15
Alhamdulillah sy bisa bergabung diforum ini smg msh byk lg yg bisa ambil hikmah disini,Amin….
February 24th, 2010 at 05:36
Nasehat yang sangat berharga. Terima kasih.
March 1st, 2010 at 21:40
Semua Orang sudah pasti akan mati
March 18th, 2010 at 05:36
artikel yg bagus.ijin share ya ukhti….
April 8th, 2010 at 19:54
Assalam yya ukhti, maaf kalo keluar dari materi , tapi saya lagi dapet tugas dari sekolah , disuruh buat web , dan saya buat web tentang ukhti , adakah yang bisa bantu saya ? dan saya juga minta ijin buat ngopy materi-materinya . Syukron sebelumnya .
Kumsalam .
April 15th, 2010 at 02:09
koreksi diri,perbaiki diri menjadi yg lbh baik lg
semoga qt semua terhindar dr azab allah swt.amien
July 27th, 2010 at 00:31
Terima kasih atas artikel ini. Sy menangis membacanya, membayangkan siksa kubur yg tak mungkin ada manusia sanggup menahannya. Insya Allah, artikel semacam ini bisa mengingatkan kita semua untuk memperbaiki moral & akhlak sebelum kita dipanggil pulang ke haribaan Allah SWT.
August 30th, 2010 at 03:06
Assalam mualaikum….
saya mau nanyak…
lebih lanjut tentang artikel saudara di atas…
yang mau saya tanyakan…
Bagaimana siksa kubur bagi manusia yang jasadnya tidak di temukan, sehingga Dya pun tidak dapat di kubur kan???
Mohon penjelasan,, kalo bisa terakan dengan dalilnya AL quran Atau AL sunah….
August 30th, 2010 at 10:54
@ Muhammad
Wa’alaikumussalam,
Tidak ditemukan manusia bukan berarti Allah tidak mengetahui keberadaannya bukan?
Allah Maha mengetahui segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi. Bukan hanya itu Allah-lah yang mengatur semua kejadian di jagad raya ini sampai daun yang berguguran Allah mengetahui dan mengilmuinya.
September 24th, 2010 at 05:31
aku mau tanya 5 tahapan yaumul hisab tolong broo
October 30th, 2010 at 11:15
assalamualaikum,terima kasih, karena berkat membaca artikel ini saya jadi sadar bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan kita harus memanfaatkan kehidupan di dunia ini hanya unruk beribadah.
January 30th, 2011 at 10:28
saya fadhli tingal di desa pakam mau tanya kapan siksa kubur itu berakhir ? trims. Assalamualaikum WR WB…
May 13th, 2011 at 04:53
Assalaamu’alaikum wr wb,
jazakumullah ustdzh, artikelnya,,
saya mau bertanya untuk yang bentuk-bentuk adzeb kubur yang ada 6 point itu sumbernya apa? dan apakah dalilnya shahih? karena ada yang menanyakan kpd saya stlh saya posting (dengan mencantumkan sumber link).
atas jawabannya jazakumullah khair,,smoga Allah swt memberikan rahmatNya pada kita semua. Amiinn
wasaalaamu’alaikum wr wb
May 16th, 2011 at 03:13
@ Nur Hadi
Wa’alaikumussalam,
Berikut ini adalah dalil tentang bentuk-bentuk siksa dalam kubur sebagaimana yang telah disebutkan dalam artikel diatas. Hadits dari Samurah bin Jundub radhiallahu’anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1386) (7047),
وعن سمرة بن جندب رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال: كان رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم مما يكثر أن يقول لأصحابه: < هل رأى أحد منكم رؤيا؟> فيقص عليه من شاء اللَّه أن يقص، وإنه
قال لنا ذات غداة: < إنه أتاني الليلة آتيان، وإنهما قالا لي: انطلق، وإني انطلقت معهما، وإنا أتينا على رجل مضطجع وإذا آخر قائم عليه بصخرة وإذا هو يهوي بالصخرة لرأسه فَيَثْلَغُ رأسه فيتدهده الحجر ها هنا، فيتبع الحجر فيأخذه فلا يرجع إليه حتى يصح رأسه كما كان، ثم يعود عليه فيفعل به مثل ما فعل المرة الأولى!> قال: < قلت لهما: سبحان اللَّه! ما هذان؟ قالا لي: انطلق انطلق، فانطلقنا فأتينا على رجل مستلق لقفاه وإذا آخر قائم عليه بِكَلُّوبٍ من حديد وإذا هو يأتي أحد شقي وجهه فيشرشر شدقه إلى قفاه ومنخره إلى قفاه وعينه إلى قفاه ثم يتحول إلى الجانب الآخر فيفعل به مثل ما فعل بالجانب الأول فما يفرغ من ذلك الجانب حتى يصح ذلك الجانب كما كان، ثم يعود عليه فيفعل مثل ما فعل في المرة الأولى> قال: < قلت: سبحان اللَّه! ما هذان؟ قال: قالا لي: انطلق انطلق، فانطلقنا فأتينا على مثل التنور> فأحسب أنه قال: < فإذا فيه لغط وأصوات، فاطلعنا فيه فإذا فيه رجال ونساء عراة، وإذا هم يأتيهم لهب من أسفل منهم فإذا أتاهم ذلك اللهب ضَوْضَوُوا. قلت: ما هؤلاء؟ قالا لي: انطلق انطلق، فانطلقنا فأتينا على نهر (حسبت أنه كان يقول أحمر مثل الدم) وإذا في النهر رجل سابح يسبح وإذا على شط النهر رجل قد جمع عنده حجارة كثيرة، وإذا ذلك السابح يسبح ما يسبح ثم يأتي ذلك الذي قد جمع عنده الحجارة فيفغر له فاه فيلقمه حجراً فينطلق فيسبح ثم يرجع إليه كلما رجع إليه فغر له فاه فألقمه حجراً، قلت لهما: ما هذان؟ قالا لي: انطلق انطلق، فانطلقنا فأتينا على رجل كريه المرآة أو كأكره ما أنت راءٍ رجلاً مرأى فإذا هو عنده نار يحشها ويسعى حولها. قلت لهما: ما هذا؟ قالا لي: انطلق انطلق، فانطلقنا فأتينا على روضة معتمة فيها من كل نَور الربيع، وإذا بين ظهري الروضة رجل طويل لا أكاد أرى رأسه طولاً في السماء وإذا حول الرجل من أكثر ولدان رأيتهم قط، قلت: ما هذا وما هؤلاء؟ قالا لي: انطلق انطلق، .
فانطلقنا فأتينا إلى دوحة عظيمة لم أر دوحة قط أعظم منها ولا أحسن قالا لي: ارق فيها. فارتقينا فيها إلى مدينة مبنية بلبِن ذهب ولبِن فضة، فأتينا باب المدينة فاستفتحنا ففتح لنا فدخلناها فتلقانا رجال شطر من خلقهم كأحسن ما أنت راء، وشطر منهم كأقبح ما أنت راء، قالا لهم: اذهبوا فقعوا في ذلك النهر، وإذا هو نهر معترض يجري كأن ماءه المحض في البياض، فذهبوا فوقعوا فيه ثم رجعوا إلينا قد ذهب ذلك السوء عنهم فصاروا في أحسن صورة> قال: قالا لي: < هذه جنة عدن، وهذاك منزلك، فسما بصري صعداً فإذا قصر مثل الربابة البيضاء. قالا لي: هذاك منزلك! قلت لهما: بارك اللَّه فيكما فذراني أدخله، قالا: أما الآن فلا وأنت داخله، قلت لهما: فإني رأيت منذ الليلة عجباً فما هذا الذي رأيت؟ قالا لي: أما إنا سنخبرك: أما الرجل الأول الذي أتيت عليه يثلغ رأسه بالحجر فإنه الرجل يأخذ القرآن فيرفضه، وينام عن الصلاة المكتوبة. وأما الرجل أتيت عليه يشرشر شدقه إلى قفاه ومنخره إلى قفاه وعينه إلى قفاه فإنه الرجل يغدو من بيته فيكذب الكذبة تبلغ الآفاق. وأما الرجال والنساء العراة الذين هم في مثل بناء التنور فإنهم الزناة والزواني. وأما الرجل الذي أتيت عليه يسبح في النهر ويلقم الحجارة فإنه آكل الربا. وأما الرجل الكريه المرآة الذي عند النار يحشها ويسعى حولها فإن مالك خازن جهنم. وأما الرجل الطويل الذي في الروضة فإنه إبراهيم. وأما الولْدان الذين حوله فكل مولود مات على الفطرة> وفي رواية البرقاني: < ولد على الفطرة> فقال بعض المسلمين: يا رَسُول اللَّهِ وأولاد المشركين؟ فقال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: < وأولاد المشركين. وأما القوم الذين كانوا شطر منهم حسن وشطر منه قبيح فإنهم قوم خلطوا عملاً صالحاً وآخر سيئاً تجاوز اللَّه عنهم> رَوَاهُ البُخَارِيُّ.
Dari Samurah bin Jundub Radhiallahu’anhu katanya: “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sering bertanya kepada para sahabat: “Adakah seseorang di antara kalian melihat sesuatu mimpi?” Kemudian beliau Shallallahu’alaihi wasallam diceriterakanlah sekehendak Allah perihal apa yang diceriterakan itu. Sesungguhnya beliau Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda pada suatu pagi, demikian:
“Semalam aku didatangi oleh dua orang. Keduanya berkata kepadaku: “Berangkatlah.” Akupun berangkatlah bersama dua orang itu. Kami lalu datang kepada seorang lelaki yang sedang berbaring, tiba-tiba ada orang lain yang sedang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah batu besar. Sekonyong-konyong orang yang berdiri itu menjatuhkan batu tersebut ke arah kepala orang yang berbaring tadi, kemudian pecahlah kepalanya, sedang batu itu terus menggelinding ke arah sana. Yang melempar itu mengikuti perginya batu tersebut lalu mengambilnya. la tidak kembali kepada orang yang disiksanya itu, sehingga orang ini sembuh kembali kepalanya sebagaimana keadaannya semula. Orang yang berdiri itu lalu kembali mendekati orang yang berbaring dan melakukan sebagaimana yang dilakukan dalam kali pertama tadi.”
Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku lalu bertanya kepada dua orang yang mengajakku: “Subhanallah, siapakah ini?” Lalu keduanya berkata: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami kepada seorang lelaki yang tidur terlentang pada tengkuknya, tiba-tiba di situ ada pula orang yang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah alat pengait dari besi, sekonyong-konyong ia mendatangi orang yang terlentang tadi menuju ke salah satu belahan mukanya, kemudian memotong-motong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya, juga dari lobang hidung ke tengkuknya serta dari mata ke tengkuknya. Setelah itu ia berpindah kepada belahan mukanya yang lain, lalu mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan terhadap belahan muka yang satunya tadi. Belum lagi ia selesai mengerjakan yang ini, sehingga belahan pertama itu telah menjadi sembuh kembali sebagaimana dulunya, lalu diulangkanlah mengerjakan terhadap belahan pertama tadi sebagaimana ia melakukan untuk pertama kalinya itu.”
Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku lalu bertanya: “Subhanallah, siapakah kedua orang ini?” Kedua orang yang menyertai aku itu berkata: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami kepada sebuah tempat semacam tungku besar.” Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Aku mengira beliau Shallallahu’alaihi wasallam juga menyebutkan: “Dalam tungku itu terdengar teriakan yang bercampur-baur serta berbagai suara gemuruh.” Kami melihat ke dalamnya, ternyata yang ada di situ adalah orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan yang semuanya telanjang bulat. Mereka itu didatangi oleh nyala api yang berasal dari bawah mereka, Jikalau nyala api itu menjiiat-jilat tubuh mereka, maka merekapun gemuruhlah suaranya. Aku bertanya: “Siapakah orang-orang itu?” Kedua kawan aku itu menjawab: “Berangkatlah, berangkatlah!”
Kamipun berangkatlah, sehingga kami datang di suatu sungai.” Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Aku mengira beliau Shallallahu’alaihi wasallam juga mengucapkan: “Sungai itu merah warnanya bagaikan darah.” Ternyata di sungai itu ada seorang yang berenang menuju tepinya, sekonyong-konyong di tepi sungai tadi ada pula seorang lelaki lain yang telah mengumpulkan batu-batu besar di sisinya. Orang yang berenang itu terus berenang sekuat ia melakukannya, setelah hampir di tepinya, lalu datanglah orang yang sudah mengumpulkan batu-batu tadi dan yang berenang itu membukakan mulutnya, kemudian dilemparnya dengan batu oleh yang ada di tepi. Sekali lagi orang itu berenang ke tengah terus kembali lagi dan setiap kembali, ia pun membukakan mulutnya lalu yang di tepi melemparkan batu tepat di mulutnya itu. Aku bertanya kepada kedua kawan aku: “Siapakah kedua orang itu – yakni yang berenang dan yang melempari?” Keduanya berkata kepada aku: “Berangkatlah, berangkatlah!”
Kamipun berangkatlah sehingga datanglah kami kepada seseorang yang buruk sekali rupa wajahnya, atau ia adalah sejelek-jelek orang lelaki yang pernah engkau lihat tentang rupa wajahnya. Di sisinya ada api dan ia menyalakan itu dan ia berjalan di sekelilingnya. Aku bertanya lagi kepada kedua kawan aku: “Siapakah orang itu?” Keduanya menjawab: “Berangkatlah, berangkatlah!”
Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami di suatu taman yang rimbun tanamannya lagi panjang-panjang, di dalamnya tampaklah penuh sinar cahaya musim bunga, tiba-tiba di antara kedua sudut taman itu ada seorang lelaki yang tinggi perawakannya, hampir-hampir aku tidak dapat melihat kepalanya karena menjulang tinggi sekali ke langit, sedang di sekamir orang tersebut ada beberapa anak dan amat banyak sekali jumlahnya dan aku tidak pernah samasekali melihat mereka itu. Aku bertanya: “Siapakah orang ini dan siapa pula anak-anak itu?” Kedua kawan aku menjawab: “Berangkatlah, berangkatlah!”
Kamipun berangkatlah sehingga datanglah kami di suatu pohon besar yang belum pernah samasekali aku melihat pohon yang lebih besar serta lebih indah daripadanya. Kedua kawan aku itu berkata: “Naiklah di taman itu!” Kamipun naiklah menuju ke suatu kota yang dibangun dengan bata-bata yang terbuat dari emas dan bata-bata dari perak. Kami mendatangi gerbang kota, lalu kami minta supaya dibukakan, kemudian pintupun dibukalah untuk kami. Kami masuk di dalamnya, lalu kami dijemput oleh beberapa orang lelaki yang sebagian wajah mereka itu bagus-bagus sebagaimana yang pernah engkau lihat, sedang sebagiannya Iagi buruk sebagaimana yang pernah engkau lihat. Kedua kawan aku itu berkata kepada orang-orang tersebut: “Pergilah lalu terjunlah dalam sungai itu.” Tiba-tiba sungai itu adalah sungai yang melintang dan airnya mengalir, seolah-olah airnya adalah susu kerena putihnya. Mereka lalu terjun di dalamnya kemudian kembali ke tempat kami, sedang keburukan wajahnya sudah lenyap semua dan mereka berganti memiliki wajah yang sebagus-bagusnya.
Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda; kedua kawan berkata kepada aku: “Inilah yang disebut surga ‘Adn dan di sana itu tempat kediamanmu” Penglihatan aku lalu naik ke atas, amat tinggi sekali, sekonyong-konyong tampaklah sebuah istana bagaikan awan yang putih sekali. Sekali lagi keduanya berkata: “Nah, di sana itulah tempat tinggalmu.” Aku berkata kepada keduanya: “Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kalian. Sekarang biarkanlah aku ke sana akan masuk ke dalamnya.” Keduanya berkata: “Adapun sekarang, maka jangan dulu, tetapi engkau akan memasukinya nanti.”
Seterusnya aku berkata kepada kedua kawan aku itu: “Sejak tadi malam aku telah melihat berbagai keajaiban, maka apakah sebenarnya yang aku lihat itu?” Keduanya berkata kepada aku: “Kini aku akan memberitahukan kepadamu.
Adapun orang pertama yang engkau datangi, ia dipecah kepalanya dengan batu, maka sesungguhnya itulah orang yang mengambil al-Quran lalu menyisihkannya -yakni menolaknya sesudah mengerti isi dan maknanya-, juga itulah orang yang tidur -yakni lalai- dari melakukan shalat-shalat yang diwajibkan.
Adapun orang yang engkau datangi, ia sedang dipotong-potong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya dan dari lobang hidung sampai ketengkuknya dan juga dari matanya sampai ketengkuknya itu ialah orang-orang yang pergi dari rumahnya lalu membuat kata-kata dusta dengan kedustaan yang sampai mencapai ke segaia penjuru.
Adapun orang-orang lelaki dan perempuan yang berada di dalam tempat semacam tungku besar itu adalah para pezina lelaki dan wanita.
Adapun orang lelaki yang Engkau datangi sedang berenang dalam sungai dan dilempari batu di mulutnya itu ialah pemakan riba.
Adapun orang yang tampak buruk sekali roman mukanya yang di sisinya ada api yang dinyalakan olehnya dan ia berjalan di sekelilingnya itu ialah malaikat Khazin, yaitu penjaga neraka Jahanam.
Adapun orang yang tinggi perawakannya yang ada di dalam taman, maka ia adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salam sedang anak-anak yang di sekelilingnya itu ialah setiap anak bayi yang meninggal di atas kefitrahan.”Dalam riwayat al-Barqani disebutkan: “Anak yang mati menetapi kefitrahan.”Kemudian sebagian kaum Muslimin ada yang berkata: “Dan anak-anaknya kaum musyrikin bagaimanakah nasibnya, ya Rasulullah?” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab: “Juga anak-anaknya kaum musyrikin termasuk di kalangan mereka itu.”
Adapun orang yang sebagian mukanya bagus dan sebagian Iagi buruk, maka mereka itu ialah orang-orang yang mencampur-adukkan antara amal perbuatan yang shalih sedang yang lainnya jelek, tetapi Allah telah memberikan pengampunan kepada mereka itu.”
May 16th, 2011 at 13:31
Assalamualaikum Wr.Wb,
terimakasih atas artikel diatas minta ijin untuk saya share ke temen2 kantor ya??
makasih semoga barokah ya?? amin
Wasalamualaikum Wr. Wb
Liesti
June 2nd, 2011 at 06:20
Mbak, maaf, yg benar MAN RABBUKA atau MAR RABBUKA klo dtnjau dr grammar bhs arab? Syukron.
June 2nd, 2011 at 10:15
@Paijo
Katanya adalah من ربّك dari kata man dan rabbuka. Huruf nun pada kata man bertemu dengan huruf ra pada kata rabbuka dibaca idgham bi laa ghunnah (masuk ke huruf berikutnya tanpa disertai dengung), sehingga kata من ربّك (man-rabbuka) dibaca mar rabbuka.
June 22nd, 2011 at 14:20
Assalamu’alaikum ustadzah…
apakah bedanya siksa neraka dan siksa kubur?
apakah bentuknya sama?
September 17th, 2011 at 19:20
assalamua’wr wb …
ana boleh bertanya , ana masih kecil tp ana hnya mau ingin memngingat kematian dan siksa di alam kubur
ana ingin menanyakan bahwa di dlam surah alqur’an terdapat yg habis setiap shalat yg akan di baca yaitu ayat yg tidak di siksa dalam alam kubur …
hanya itu yg dapat ana sampai kan lebih dan kurang mohon di maaf kan
wassalamualaikum wr wb …
November 12th, 2011 at 18:57
afwan ana ijin share n copas sebagian artikel..
January 6th, 2012 at 21:47
Jangan hanya bisa Menulis saja, laksanakan apa yg kamu Tulis…
Sudahkah anda?