Setelah Kita Dimasukkan ke Liang Kubur…

Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap …

240 75

Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman

Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa': 35). Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.

Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)

Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.

Fitnah Kubur

Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)

Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?

Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!

Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.

Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”

Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.

Bentuk-Bentuk Siksa Kubur

Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”

Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:

  1. Dipecahkan kepalanya dengan batu, kemudian Allah tumbuhkan lagi kepalanya, dipecahkan lagi demikian seterusnya. Ini adalah siksa bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya dan  juga siksa bagi orang yang meninggalkan sholat wajib.
  2. Dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepala, demikian juga hidung dan kedua matanya. Merupakan siksa bagi orang yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu berdusta dan kedustaannya itu mencapai ufuk.
  3. Ada kaum lelaki dan perempuan telanjang berada dalam bangunan menyerupai tungku. Tiba-tiba datanglah api dari bawah mereka. Mereka adalah para pezina lelaki dan perempuan.
  4. Dijejali batu, ketika sedang berenang, mandi di sungai. Ini merupakan siksa bagi orang yang memakan riba.
  5. Kaum yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek adalah kaum yang mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni perbuatan jelek mereka.
  6. Kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah dan dada mereka. Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.

Adzab dan nikmat kubur adalah benar adanya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ‘ijma ahlu sunnah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal itu. Dan hal ini hanya diingkari oleh orang-orang Mulhid (atheis). Mereka mengatakan bahwa seandainya kita membongkar kuburan tersebut, maka akan kita dapati keadaannya seperti semula. Namun, dapat kita bantah dengan dua hal:

  1. Dengan dalil Al Qur’an dan Sunnah dan ‘ijma salaf yang menunjukkan tentang adzab kubur.
  2. Sesungguhnya keadaan akhirat tidak bisa disamakan dengan keadaan dunia, maka adzab atau nikmat kubur tidaklah sama dengan apa yang bisa ditangkap dengan indra di dunia. (Diringkas dari Syarah Lum’atul I’tiqod, hal 65-66)

Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak mengecapnya. Demikian juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan bagaimananya. Sebab akal memang tidak dapat memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini.

Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)

Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?

Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:

Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)

Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)

Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya, kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)

Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan… maka jangan siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi ???

Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.

Maraji':

  1. Aqidah Ath-Thahawiyah, Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi (diambil dari Mutuunut Tauhidi wal ‘Aqiidati)
  2. Syarah Al Waajibaat al Mutahattimaat al Ma’rifah ‘alaa kulli Muslim wa Muslimah (edisi terjemah), Syaikh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al Khuraishi, Pustaka Imam Syafi’i
  3. Syarah Lum’atul I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin
  4. Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah (jilid 2. edisi Terjemah), Syaikh Abdul Akhir  Hammad al Ghunaimi, Penerbit At Tibyan

***

Artikel www.muslimah.or.id

Sebarkan!
1348 4 0 0 0 84
In this article

Ada pertanyaan?

75 comments

  1.    Reply

    aslamualaikum,wr.wb
    saya ingin menanyakan,
    bagaimanakah jawaban seorang yang beriman tentang ke3 pertanyaan tersebut??
    terimakasih,,
    wasalamualikum wr.wb

  2.    Reply

    Assalamu’alaikum. afwan ukhti ana izin share yah untuk shbat n saudara2 ana. :)
    jazakillahukhoiran…:)

  3.    Reply

    ijin save and share

  4.    Reply

    kalau sudah menulis seperti itu ya harusnya sudah melakukan apa yang mereka tulis…

  5.    Reply

    Innaalillahi wainna ilaihi rooji’uun.
    Mohon maaf, mau tanya pada pengasuh atau pda siapa saja sahabat.
    Ada kebingungan terbersit dalam fikiran saya, terkait dengan siksa kubur, seseorang akan menanggung siksa tersebut sampai hari kiamat, lantas bagaimana dengan orang yang sudaj meninggal puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, dia menunggu hari kiamat dalam masa yang panjang, sedangkan orang yang katakanlah meninggal tinggal satu tahun menuju kiamat, bahkan menunggu hari menuju kiamat dia menunggu dalam waktu yang relatif lebih sebentar dari orang yang saya sebut pertama, lantas “dimana letak keadilan Allah ?”
    Mohon maaf sekali lagi, saya sangat yakin akan adanya siksa kubur, namun pertanyaan tadi menjadi beban di fikiran saya. Terimaksih ata penjelasannya.

    1.    Reply

      @ Kitapak
      Perlu kami sampaikan beberapa poin:
      Pertama: Sesungguhnya Allah tidak pernah berbuat dzalim kepada hambanya akantetapi hamba itu sendiri yanng berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri. Allah Maha Adil dan Bijakasana menetapkan semua kejadian di dunia ini dengan Kesempurnaan hikmah dan keadilanNya.
      kedua: Allah tidak ditanya tentang perbuatanNya akatetapi manusialah yang akan ditanya tentang perbuatan mereka.
      Ketiga: Yakinlah bahwa semua perbuatan manusia yang baik dan yang buruk akan dibalas setimpal dan sesuai dengan kadar perbuatannya selama di dunia. Baik tatkala ia dialam kubur dan berlangsung terus sampai akherat kelak. Setiap manusia akan mendapatkan ganjaran dan balasan yang sepadan tidak meleset sedikitpun. Jadi tidak usah khawatir orang yang selama di dunia suka berbuat maksiat, fasiq mka kelak baik di alam kuburnya dan berlangsung terus sampai akherat ia akan mendapatkan siksaan sesuai kadar perbuatannya. Meski ia meninggal setahun sebelum kiamat maka siksaan di alam kuburnya akan terbayarkan tidak lebih dan tidak kurang. Begitujuga orang yang mati sejuta tahun sebelum kiamat maka jatah siksaan kuburnya akan tertunaikan sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Bagaimanapun bentuk siksaan tersebut PASTI akan terbayarkan tidak lebih dan tidak kurang. Begitujuga orang yang selama hidupnya berbuat baik dengan amalan shalih maka meski ia mati setahun sebelum kiamat maka jatah nikmat kuburnya akan tertunaikan begitujuga orang yang mati sejuta tahun sebelum kiamat jatah nikmat kuburnya pun akan tertunaikan sesuai amal perbuatannya di dunia. Wallahu A’lam bishshawab.

  6.    Reply

    Bismillahirrahmanirrahim,

    Afwan,
    Mohon konfirmasinya hadits al-Bara’ bin ‘Azib ??? ???? ??? ttg fitnah qubur di sini ditulis riwayat bukhari-muslim, tp saya tidak menemukannya.

    Referensi saya:
    HR. Abu Dawud no. 4753; Ahmad IV/287-288, 295-296; Abu Dawud ath-Thayalisi no. 753; Al-Hakim I/37-40, dari Sahabat al-Bara’ bin ‘Azib ??? ???? ??? . Lihat Ahkamul Janaa-iz (hlm. 199-202). Dishahihkan al-Hakim dan disetujui Imam adz-Dzahabi.
    ~Lihat Syarah Aqidah Ahlussunnah Waljama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafi’i (Hlm. 305-306)

    Syukran.

    1.    Reply

      @ Abu Abdillah
      Jazakumullahu khaira atas koreksinya. Anda benar lafadz hadits yang tertulis diatas diriwayatkan Abu Dawud (2/281) Hakim (1/37-40) Thalayisi (no 753) sebagaimana disebutkan Syaikh Al ALbani dalam Ahkamul Janaiz. Namun begitu kami temukan hadits tentang pertanyaan malaikat dialam kubur dalam Shahih Bukhari pada Bab “Tentang Adzab Kubur” no.1303 dari shahabat Barra’ bin ‘Azib, teksnya sebagai berikut:

      ????? ??? ?? ??? ????? ???? ?? ????? ?? ???? ?? ??? ?? ????? ?? ?????? ?? ???? ??? ???? ????? ?? ????? ??? ???? ???? ? ??? ???
      : ( ??? ???? ?????? ?? ???? ??? ?? ??? ?? ?? ??? ??? ???? ??? ????? ???? ???? ???? ???? { ???? ???? ????? ????? ?????? ?????? } )
      ????? ???? ?? ???? ????? ???? ????? ???? / ???? ???? { ???? ???? ????? ????? } ???? ?? ???? ?????
      Syarah:
      [ ? ????? ???? ?? ????? ???? ?????? ?????? ??? ??? ???? ????? ?? ????? ?? ????? ???? ??? 2871
      ( ??? ) ???? ??????? ??????? ?? ????? . ( ?????? ?????? ) ???? ??? ?????? ????? ??? ???? ??????? ???? ????? ?? ?????? . / ??????? 27 / ]

      Adapun redaksi hadits yang diriwayatkan Imam Muslim terdapat pada Bab “Sifat Surga, kenikmatannya serta Penduduknya” no 2871 dari shabat Barra’ bin ‘Azib
      ????? ???? ?? ???? ?? ????? ?????? ????? ???? ?? ???? ????? ???? ?? ????? ?? ???? ?? ??? ?? ????? ?? ?????? ?? ????
      : ?? ????? ??? ???? ???? ? ??? ??? { ???? ???? ????? ????? ?????? ?????? } [ 14 / ??????? / 27 ] ??? ???? ?? ???? ????? ????? ?? ?? ??? ? ????? ??? ???? ????? ???? ??? ???? ???? ? ??? ???? ???? ?? ? ?? { ???? ???? ????? ????? ?????? ?????? ?? ?????? ?????? ??? ?????? }

      Allahu a’lam

  7.    Reply

    Jangan hanya bisa Menulis saja, laksanakan apa yg kamu Tulis…
    Sudahkah anda?

  8.    Reply

    afwan ana ijin share n copas sebagian artikel..

  9.    Reply

    assalamua’wr wb …

    ana boleh bertanya , ana masih kecil tp ana hnya mau ingin memngingat kematian dan siksa di alam kubur
    ana ingin menanyakan bahwa di dlam surah alqur’an terdapat yg habis setiap shalat yg akan di baca yaitu ayat yg tidak di siksa dalam alam kubur …
    hanya itu yg dapat ana sampai kan lebih dan kurang mohon di maaf kan

    wassalamualaikum wr wb …

  10.    Reply

    Assalamu’alaikum ustadzah…
    apakah bedanya siksa neraka dan siksa kubur?
    apakah bentuknya sama?

  11.    Reply

    Mbak, maaf, yg benar MAN RABBUKA atau MAR RABBUKA klo dtnjau dr grammar bhs arab? Syukron.

    1.    Reply

      @Paijo
      Katanya adalah ?? ???? dari kata man dan rabbuka. Huruf nun pada kata man bertemu dengan huruf ra pada kata rabbuka dibaca idgham bi laa ghunnah (masuk ke huruf berikutnya tanpa disertai dengung), sehingga kata ?? ???? (man-rabbuka) dibaca mar rabbuka.

  12.    Reply

    Assalamualaikum Wr.Wb,

    terimakasih atas artikel diatas minta ijin untuk saya share ke temen2 kantor ya??
    makasih semoga barokah ya?? amin

    Wasalamualaikum Wr. Wb
    Liesti

  13.    Reply

    Assalaamu’alaikum wr wb,

    jazakumullah ustdzh, artikelnya,,
    saya mau bertanya untuk yang bentuk-bentuk adzeb kubur yang ada 6 point itu sumbernya apa? dan apakah dalilnya shahih? karena ada yang menanyakan kpd saya stlh saya posting (dengan mencantumkan sumber link).

    atas jawabannya jazakumullah khair,,smoga Allah swt memberikan rahmatNya pada kita semua. Amiinn

    wasaalaamu’alaikum wr wb

    1.    Reply

      @ Nur Hadi
      Wa’alaikumussalam,
      Berikut ini adalah dalil tentang bentuk-bentuk siksa dalam kubur sebagaimana yang telah disebutkan dalam artikel diatas. Hadits dari Samurah bin Jundub radhiallahu’anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1386) (7047),

      ??? ???? ?? ???? ?????? ??????? ?????? ???: ??? ?????? ??????? ?????? ??????? ???????? ???????? ??? ???? ?? ???? ???????: < ?? ??? ??? ???? ?????> ???? ???? ?? ??? ?????? ?? ???? ????
      ??? ??? ??? ????: < ??? ????? ?????? ?????? ?????? ???? ??: ?????? ???? ?????? ?????? ???? ????? ??? ??? ????? ???? ??? ???? ???? ????? ???? ?? ???? ??????? ????? ?????????? ???? ??????? ????? ?? ???? ????? ????? ?????? ??? ???? ???? ??? ??? ???? ??? ???? ?? ???? ???? ????? ?? ??? ?? ??? ????? ??????!> ???: < ??? ????: ????? ??????! ?? ????? ???? ??: ????? ?????? ???????? ?????? ??? ??? ????? ????? ???? ??? ???? ???? ?????????? ?? ???? ???? ?? ???? ??? ??? ???? ?????? ???? ??? ???? ?????? ??? ???? ????? ??? ???? ?? ????? ??? ?????? ????? ????? ?? ??? ?? ??? ??????? ????? ??? ???? ?? ??? ?????? ??? ??? ??? ?????? ??? ???? ?? ???? ???? ????? ??? ?? ??? ?? ????? ??????> ???: < ???: ????? ??????! ?? ????? ???: ???? ??: ????? ?????? ???????? ?????? ??? ??? ??????> ????? ??? ???: < ???? ??? ??? ??????? ??????? ??? ???? ??? ???? ????? ????? ???? ?? ?????? ??? ?? ???? ???? ???? ????? ??? ????? ??????????. ???: ?? ?????? ???? ??: ????? ?????? ???????? ?????? ??? ??? (???? ??? ??? ???? ???? ??? ????) ???? ?? ????? ??? ???? ???? ???? ??? ?? ????? ??? ?? ??? ???? ????? ?????? ???? ??? ?????? ???? ?? ???? ?? ???? ??? ???? ?? ??? ???? ??????? ????? ?? ??? ?????? ????? ?????? ????? ?? ???? ???? ???? ??? ???? ??? ?? ??? ?????? ?????? ??? ????: ?? ????? ???? ??: ????? ?????? ???????? ?????? ??? ??? ???? ?????? ?? ????? ?? ??? ???? ????? ???? ???? ?? ???? ??? ????? ????? ?????. ??? ????: ?? ???? ???? ??: ????? ?????? ???????? ?????? ??? ???? ????? ???? ?? ?? ???? ??????? ???? ??? ???? ?????? ??? ???? ?? ???? ??? ???? ????? ?? ?????? ???? ??? ????? ?? ???? ????? ?????? ??? ???: ?? ??? ??? ?????? ???? ??: ????? ?????? .
      ???????? ?????? ??? ???? ????? ?? ?? ???? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ??: ??? ????. ???????? ???? ??? ????? ????? ????? ??? ????? ???? ?????? ??? ??????? ????????? ???? ??? ???????? ??????? ???? ??? ?? ????? ????? ?? ??? ???? ???? ???? ????? ?? ??? ???? ???? ???: ?????? ????? ?? ??? ?????? ???? ?? ??? ????? ???? ??? ???? ????? ?? ??????? ?????? ?????? ??? ?? ????? ????? ?? ??? ??? ????? ???? ?????? ?? ???? ????> ???: ???? ??: < ??? ??? ???? ????? ?????? ???? ???? ????? ???? ??? ??? ??????? ???????. ???? ??: ???? ?????! ??? ????: ???? ?????? ????? ?????? ?????? ????: ??? ???? ??? ???? ?????? ??? ????: ???? ???? ??? ?????? ????? ??? ??? ???? ????? ???? ??: ??? ??? ??????: ??? ????? ????? ???? ???? ???? ???? ???? ?????? ???? ????? ???? ?????? ??????? ????? ?? ?????? ????????. ???? ????? ???? ???? ????? ???? ??? ???? ?????? ??? ???? ????? ??? ???? ???? ????? ???? ?? ???? ????? ?????? ???? ??????. ???? ?????? ??????? ?????? ????? ?? ?? ??? ???? ?????? ????? ?????? ????????. ???? ????? ???? ???? ???? ???? ?? ????? ????? ??????? ???? ??? ?????. ???? ????? ?????? ?????? ???? ??? ????? ????? ????? ????? ??? ???? ???? ????. ???? ????? ?????? ???? ?? ?????? ???? ???????. ???? ???????? ????? ???? ??? ????? ??? ??? ??????> ??? ????? ????????: < ??? ??? ??????> ???? ??? ????????: ?? ?????? ??????? ?????? ????????? ???? ?????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????: < ?????? ????????. ???? ????? ????? ????? ??? ???? ??? ???? ??? ???? ????? ??? ????? ????? ?????? ???? ????? ????? ?????? ????> ??????? ????????????.

      Dari Samurah bin Jundub Radhiallahu’anhu katanya: “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sering bertanya kepada para sahabat: “Adakah seseorang di antara kalian melihat sesuatu mimpi?” Kemudian beliau Shallallahu’alaihi wasallam diceriterakanlah sekehendak Allah perihal apa yang diceriterakan itu. Sesungguhnya beliau Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda pada suatu pagi, demikian:

      “Semalam aku didatangi oleh dua orang. Keduanya berkata kepadaku: “Berangkatlah.” Akupun berangkatlah bersama dua orang itu. Kami lalu datang kepada seorang lelaki yang sedang berbaring, tiba-tiba ada orang lain yang sedang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah batu besar. Sekonyong-konyong orang yang berdiri itu menjatuhkan batu tersebut ke arah kepala orang yang berbaring tadi, kemudian pecahlah kepalanya, sedang batu itu terus menggelinding ke arah sana. Yang melempar itu mengikuti perginya batu tersebut lalu mengambilnya. la tidak kembali kepada orang yang disiksanya itu, sehingga orang ini sembuh kembali kepalanya sebagaimana keadaannya semula. Orang yang berdiri itu lalu kembali mendekati orang yang berbaring dan melakukan sebagaimana yang dilakukan dalam kali pertama tadi.”

      Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku lalu bertanya kepada dua orang yang mengajakku: “Subhanallah, siapakah ini?” Lalu keduanya berkata: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami kepada seorang lelaki yang tidur terlentang pada tengkuknya, tiba-tiba di situ ada pula orang yang berdiri di atasnya dengan membawa sebuah alat pengait dari besi, sekonyong-konyong ia mendatangi orang yang terlentang tadi menuju ke salah satu belahan mukanya, kemudian memotong-motong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya, juga dari lobang hidung ke tengkuknya serta dari mata ke tengkuknya. Setelah itu ia berpindah kepada belahan mukanya yang lain, lalu mengerjakan sebagaimana yang dikerjakan terhadap belahan muka yang satunya tadi. Belum lagi ia selesai mengerjakan yang ini, sehingga belahan pertama itu telah menjadi sembuh kembali sebagaimana dulunya, lalu diulangkanlah mengerjakan terhadap belahan pertama tadi sebagaimana ia melakukan untuk pertama kalinya itu.”

      Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Aku lalu bertanya: “Subhanallah, siapakah kedua orang ini?” Kedua orang yang menyertai aku itu berkata: “Berangkatlah, berangkatlah!” Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami kepada sebuah tempat semacam tungku besar.” Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Aku mengira beliau Shallallahu’alaihi wasallam juga menyebutkan: “Dalam tungku itu terdengar teriakan yang bercampur-baur serta berbagai suara gemuruh.” Kami melihat ke dalamnya, ternyata yang ada di situ adalah orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan yang semuanya telanjang bulat. Mereka itu didatangi oleh nyala api yang berasal dari bawah mereka, Jikalau nyala api itu menjiiat-jilat tubuh mereka, maka merekapun gemuruhlah suaranya. Aku bertanya: “Siapakah orang-orang itu?” Kedua kawan aku itu menjawab: “Berangkatlah, berangkatlah!”

      Kamipun berangkatlah, sehingga kami datang di suatu sungai.” Orang yang meriwayatkan Hadis ini berkata: “Aku mengira beliau Shallallahu’alaihi wasallam juga mengucapkan: “Sungai itu merah warnanya bagaikan darah.” Ternyata di sungai itu ada seorang yang berenang menuju tepinya, sekonyong-konyong di tepi sungai tadi ada pula seorang lelaki lain yang telah mengumpulkan batu-batu besar di sisinya. Orang yang berenang itu terus berenang sekuat ia melakukannya, setelah hampir di tepinya, lalu datanglah orang yang sudah mengumpulkan batu-batu tadi dan yang berenang itu membukakan mulutnya, kemudian dilemparnya dengan batu oleh yang ada di tepi. Sekali lagi orang itu berenang ke tengah terus kembali lagi dan setiap kembali, ia pun membukakan mulutnya lalu yang di tepi melemparkan batu tepat di mulutnya itu. Aku bertanya kepada kedua kawan aku: “Siapakah kedua orang itu – yakni yang berenang dan yang melempari?” Keduanya berkata kepada aku: “Berangkatlah, berangkatlah!”

      Kamipun berangkatlah sehingga datanglah kami kepada seseorang yang buruk sekali rupa wajahnya, atau ia adalah sejelek-jelek orang lelaki yang pernah engkau lihat tentang rupa wajahnya. Di sisinya ada api dan ia menyalakan itu dan ia berjalan di sekelilingnya. Aku bertanya lagi kepada kedua kawan aku: “Siapakah orang itu?” Keduanya menjawab: “Berangkatlah, berangkatlah!”

      Kamipun berangkatlah, sehingga datanglah kami di suatu taman yang rimbun tanamannya lagi panjang-panjang, di dalamnya tampaklah penuh sinar cahaya musim bunga, tiba-tiba di antara kedua sudut taman itu ada seorang lelaki yang tinggi perawakannya, hampir-hampir aku tidak dapat melihat kepalanya karena menjulang tinggi sekali ke langit, sedang di sekamir orang tersebut ada beberapa anak dan amat banyak sekali jumlahnya dan aku tidak pernah samasekali melihat mereka itu. Aku bertanya: “Siapakah orang ini dan siapa pula anak-anak itu?” Kedua kawan aku menjawab: “Berangkatlah, berangkatlah!”

      Kamipun berangkatlah sehingga datanglah kami di suatu pohon besar yang belum pernah samasekali aku melihat pohon yang lebih besar serta lebih indah daripadanya. Kedua kawan aku itu berkata: “Naiklah di taman itu!” Kamipun naiklah menuju ke suatu kota yang dibangun dengan bata-bata yang terbuat dari emas dan bata-bata dari perak. Kami mendatangi gerbang kota, lalu kami minta supaya dibukakan, kemudian pintupun dibukalah untuk kami. Kami masuk di dalamnya, lalu kami dijemput oleh beberapa orang lelaki yang sebagian wajah mereka itu bagus-bagus sebagaimana yang pernah engkau lihat, sedang sebagiannya Iagi buruk sebagaimana yang pernah engkau lihat. Kedua kawan aku itu berkata kepada orang-orang tersebut: “Pergilah lalu terjunlah dalam sungai itu.” Tiba-tiba sungai itu adalah sungai yang melintang dan airnya mengalir, seolah-olah airnya adalah susu kerena putihnya. Mereka lalu terjun di dalamnya kemudian kembali ke tempat kami, sedang keburukan wajahnya sudah lenyap semua dan mereka berganti memiliki wajah yang sebagus-bagusnya.

      Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda; kedua kawan berkata kepada aku: “Inilah yang disebut surga ‘Adn dan di sana itu tempat kediamanmu” Penglihatan aku lalu naik ke atas, amat tinggi sekali, sekonyong-konyong tampaklah sebuah istana bagaikan awan yang putih sekali. Sekali lagi keduanya berkata: “Nah, di sana itulah tempat tinggalmu.” Aku berkata kepada keduanya: “Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kalian. Sekarang biarkanlah aku ke sana akan masuk ke dalamnya.” Keduanya berkata: “Adapun sekarang, maka jangan dulu, tetapi engkau akan memasukinya nanti.”

      Seterusnya aku berkata kepada kedua kawan aku itu: “Sejak tadi malam aku telah melihat berbagai keajaiban, maka apakah sebenarnya yang aku lihat itu?” Keduanya berkata kepada aku: “Kini aku akan memberitahukan kepadamu.

      Adapun orang pertama yang engkau datangi, ia dipecah kepalanya dengan batu, maka sesungguhnya itulah orang yang mengambil al-Quran lalu menyisihkannya -yakni menolaknya sesudah mengerti isi dan maknanya-, juga itulah orang yang tidur -yakni lalai- dari melakukan shalat-shalat yang diwajibkan.

      Adapun orang yang engkau datangi, ia sedang dipotong-potong ujung mulutnya sampai ke tengkuknya dan dari lobang hidung sampai ketengkuknya dan juga dari matanya sampai ketengkuknya itu ialah orang-orang yang pergi dari rumahnya lalu membuat kata-kata dusta dengan kedustaan yang sampai mencapai ke segaia penjuru.

      Adapun orang-orang lelaki dan perempuan yang berada di dalam tempat semacam tungku besar itu adalah para pezina lelaki dan wanita.

      Adapun orang lelaki yang Engkau datangi sedang berenang dalam sungai dan dilempari batu di mulutnya itu ialah pemakan riba.

      Adapun orang yang tampak buruk sekali roman mukanya yang di sisinya ada api yang dinyalakan olehnya dan ia berjalan di sekelilingnya itu ialah malaikat Khazin, yaitu penjaga neraka Jahanam.

      Adapun orang yang tinggi perawakannya yang ada di dalam taman, maka ia adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihis salam sedang anak-anak yang di sekelilingnya itu ialah setiap anak bayi yang meninggal di atas kefitrahan.”Dalam riwayat al-Barqani disebutkan: “Anak yang mati menetapi kefitrahan.”Kemudian sebagian kaum Muslimin ada yang berkata: “Dan anak-anaknya kaum musyrikin bagaimanakah nasibnya, ya Rasulullah?” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab: “Juga anak-anaknya kaum musyrikin termasuk di kalangan mereka itu.”

      Adapun orang yang sebagian mukanya bagus dan sebagian Iagi buruk, maka mereka itu ialah orang-orang yang mencampur-adukkan antara amal perbuatan yang shalih sedang yang lainnya jelek, tetapi Allah telah memberikan pengampunan kepada mereka itu.”

  14.    Reply

    saya fadhli tingal di desa pakam mau tanya kapan siksa kubur itu berakhir ? trims. Assalamualaikum WR WB…

  15.    Reply

    assalamualaikum,terima kasih, karena berkat membaca artikel ini saya jadi sadar bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan kita harus memanfaatkan kehidupan di dunia ini hanya unruk beribadah.

  16.    Reply

    aku mau tanya 5 tahapan yaumul hisab tolong broo

  17.    Reply

    Assalam mualaikum….

    saya mau nanyak…
    lebih lanjut tentang artikel saudara di atas…

    yang mau saya tanyakan…
    Bagaimana siksa kubur bagi manusia yang jasadnya tidak di temukan, sehingga Dya pun tidak dapat di kubur kan???

    Mohon penjelasan,, kalo bisa terakan dengan dalilnya AL quran Atau AL sunah….

    1.    Reply

      @ Muhammad
      Wa’alaikumussalam,
      Tidak ditemukan manusia bukan berarti Allah tidak mengetahui keberadaannya bukan?
      Allah Maha mengetahui segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi. Bukan hanya itu Allah-lah yang mengatur semua kejadian di jagad raya ini sampai daun yang berguguran Allah mengetahui dan mengilmuinya.

  18.    Reply

    Terima kasih atas artikel ini. Sy menangis membacanya, membayangkan siksa kubur yg tak mungkin ada manusia sanggup menahannya. Insya Allah, artikel semacam ini bisa mengingatkan kita semua untuk memperbaiki moral & akhlak sebelum kita dipanggil pulang ke haribaan Allah SWT.

  19.    Reply

    koreksi diri,perbaiki diri menjadi yg lbh baik lg
    semoga qt semua terhindar dr azab allah swt.amien

  20.    Reply

    Assalam yya ukhti, maaf kalo keluar dari materi , tapi saya lagi dapet tugas dari sekolah , disuruh buat web , dan saya buat web tentang ukhti , adakah yang bisa bantu saya ? dan saya juga minta ijin buat ngopy materi-materinya . Syukron sebelumnya .
    Kumsalam .

  21.    Reply

    artikel yg bagus.ijin share ya ukhti….

  22.    Reply

    Semua Orang sudah pasti akan mati

  23.    Reply

    Nasehat yang sangat berharga. Terima kasih.

  24.    Reply

    Alhamdulillah sy bisa bergabung diforum ini smg msh byk lg yg bisa ambil hikmah disini,Amin….

  25.    Reply

    y ampun sungguh sangat mengerikan siksa didalam kubur..

    maka dari itu jauhilah maksiat kita selama ini..

  26.    Reply

    # Ukhti Mye

    InsyaAlloh tulisan di atas sudah benar.

    Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
    “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang…”
    >> maksudnya adalah: mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang ketika mereka berada di alam kubur

    dan hal ini pun sudah diperjelas dengan hadits Al Barra’ bin ‘Azib, bahwa orang2 kafir yang tidak dapat menjawab 3 pertanyaan, maka kepada mereka ditampakkan tempat tinggalnya di neraka. Hal ini akan dilakukan sampai hari kiamat.

    Kemudian pada hari kiamat besar… maka ruh2 akan dikembalikan ke jasad mereka dan bangkit dari kubur mereka utk menghadap Allah. Dan berlangsunglah kejadian2 berikutnya… sampai datang masa manusia harus mempertanggungJawabkan perbuatannya..

    Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “…. dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.”

    Jika ukhti masih ragu, silahkan meruju’ kepada sumber asli tulisan kami.

    Wallohu Ta’ala a’lam

  27.    Reply

    assalamu’alaikum
    ukhti, ana izin copas ya…..penting banget buat pribadi ana….

  28.    Reply

    Assalamu’alaikum,..Izin share, copas ke facebook ya ukhti..syukron jazakumullah khair..Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  29.    Reply

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, mohon maaf saya mau menanyakan hal di bawah ini mohon di perjelas lagi ya Ukht..
    Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?

    Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:

    Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)

    Bukankah ayat ini di katakan Allah adzab di neraka, bukan azab kubur,? jadi apakah ukhti yang salah atau penafsiran ukhti atau saya yang salah?, atau adzab kubur ini = azab neraka??

    Wallahualam, jzk

  30.    Reply

    Mohon diceritakan apa yang akan terjadi setelah masuk liang kubur bagi kaum non muslim sampai tahap yang paling akhir.Serta apa yang akan terjadi di padang masyar dan yang lainnya…
    TERIMA KASIH

  31.    Reply

    artikelnya di update lg dun.
    agar kita bisa nambah pengetahuan lebih luas lg dan dapat memberi manfaat jg buat bnyk orang.
    ditunggu yah.

    kita selalu setia membacanya.
    by rohis sman 50 jakarta

  32.    Reply

    mengutip perkataan seorang ulama
    “wahai saudaraku..
    siang dan malam adalah fase fase yang dilewati tiap orang..
    jika engkau mampu menyiapkan bekal tiap hari bagi dirimu untuk menghadapi kematian, maka lakukanlah!!!karena sungguh perjalanan itu akan berakhir dengan cepat bahkan lebih cepat dari yang engkau duga…
    dan sungguh…
    aku tidak mengetahui seseorang yang lebih mengabaikan waktunya dari pada DIRIKU SENDIRI”
    Subhanallah.. seorang dengan ilmu yang mumpuni (maaf ana lupa namanya) lebih pandai melihat aib dirinya, ketimbang aib orang lain…
    lalu bagaimana dengan kita yang ilmu kita tidak lebih dari seujung jari para ulama…
    namun ketawaduan kita pun hanya secuil…
    semoga Allah mengampuni setiap khilaf yang kita lakukan dan menjadikan kita orang-orang yang bisa mengoreksi diri dan bertaubat sebulum ajal menjemput…
    Wassalam.

  33.    Reply

    utk Ibnu Abdulloh..

    poin 1 sampai 6 adalah berdasar hadits dari Samurah bin Jundub. bukan ketika peristiwa mi’raj. mohon maaf karena teks lengkap hadits cukup panjang shg kami hanya mengambil intinya saja. mohon maaf pula kami lupa mencantumkan refernsinya.
    teks lengkap hadits dpt antum lihat di buku “Huru-hara di hari kiamat” penerbit Pustaka Ibnu Katsir di bagian berjudul (klo tdk salah) Bentuk2 siksa di alam KUbur

    utk Yadi..

    mengenai pertnyaan sholat di alam kubur, saya belum pernah membaca ayat Al Qur’an maupun hadits mengenai hal tersebut. mohon maaf, saya tidak tahu.

    tapi disebutkan dlm sebuah hadits bahwa sholat adalah amalan yg pertama kali dihisab di hari kiamat (yaitu ketika yaumul hisab)

    wallohu a’lam

  34.    Reply

    Kalau dialam kubur pertanyaan sholat nomer berapa ya..?

    mohon petromatnya .

    Koes

  35.    Reply

    assalamu’alaikum…
    semoga Allah meneguhkan kita di atas tauhid dan sunnah sampai liang kubur menjemput kita…
    wassalamu’alaikum…

  36.    Reply

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    aQ senang sama rubrik ini soalna nambah ilmu pengetahuan aQ yang baru tau ilmu agama hanya sebatas kulitnya saja, Alhamdulillah mudah-mudahan Allah SWT memudahkan aQ dalam belajar agama. Amin
    Afwan
    Jazakillahu Khairan

  37.    Reply

    Jadi permisalan di atas ada benarnya. Ketika ada kita punya majikan yang telah merawat kita, memberi kita makan, memberi kita pekerjaan dan semua keperluan kita dipenuhi, menolong kita dari keadaan kita yang menderita dan sangat menyayangi kita maka kita akan menghormati dia dan akan bertekad untuk mengabdi dia selama mungkin, karena kita telah mengenal dengan baik kebaikan dia dan tidak mungkin kita akan menyakiti/mengkhianati dia. Dan tidak mungkin terjadi sebaliknya kita menghormati dan mengabdi pada orang yang tidak kenal sama sekali, atau baru kenal sebentar. Maka kita harus mengenal rubbubiyah Allah dengan benar baru kita bisa masuk uluhiyah dengan benar dan tidak mungkin mensyirikan-Nya karena kita telah mengenal dan memahami kekuasaan-Nya. Jadi pemahaman rubbubiyah adalah modal dasar dari tauhid uluhiyah dan bukan sebaliknya.

  38.    Reply

    Ilmu/tahu dan paham adalah pengertian yang sangat berbeda. Ketika orang ditanya apakah agama kita sudah sempurna dan tidak perlu tambahan mereka akan menjawab “sempurna dan tidak perlu tambahan” tapi mereka tetap melakukan bid’ah. Atau ketika kita ditanya “apakah sholat tahajud itu baik dan bisa meningkatkan derajat kita” kita akan menjawab “jelas sekali” tapi untuk bangun malam kita masih malas, beda dengan para ulama yang mereka akan bersegera bangun seakan akan dibakarkan api neraka bila mereka tidak bangun. Apakah kita sudah seperti ulama ini? Kalau sudah berarti kita sudah paham, kalau belum berarti kita baru sekedar ilmu/tahu tapi belum paham. Snouck Hurgronje mungkin lebih berilmu dari kita tapi dia tidak paham, ilmunya hanya sampai ke otaknya saja tidak masuk ke hati. Dan orang2 musyrik tahu ilmu rubbubiyah tapi tidak paham jadi mereka masih mensyirikan Allah dan tidak bertaqwa. Dan kita saja tidak mungkin paham rubbubiyah Allah 100% karena yang kita tahu hanya alam sekitar kita saja, padahal di luar bumi ada langit yang jauh lebih besar, untuk tubuh kita sendiri tidak bisa paham 100 % seperti QS 14:34. Perintah di quran banyak sekali agar kita mempelajari rubbubiyah sebanyak mungkin supaya kita semakin paham. Orang yang paham rubbubiyah dengan benar pasti tidak akan mengkhianati Allah karena tanpa Allah kita tidak berarti apa2.

  39.    Reply

    Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
    Kami ingin sedikit meluruskan pernyataan ukhti yang ini:

    Pertanyaan pertama dalam kubur “Man Robbuka?”, menanyakan Rob. Sehingga untuk menjawabnya kita harus memiliki pemahaman rububiyah dan sudah bertauhid rububiyah. Karena dengan bertauhid rububiyah otomatis akan membuat kita bertauhid uluhiyah.

    Yang benar adalah kebalikannya, dengan bertauhid uluhiyah otomatis kita bertauhid rububiyah.

    Pernyataan ukhti di atas yang kami beri tanda quote dibantah oleh Allah pada beberapa firman-Nya di dalam Al Quran, diantaranya adalah:

    “Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah. Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10]: 31)

    Realitanya dari zaman Jahiliyah hingga zaman sekarang, sangat banyak orang-orang yang bertauhid rububiyah, yang mana mereka mengakui bahwa Allah yang menciptakan alam semesta dan seluruh mahluk, Allah yang maha mengatur, dst… akan tetapi tidak membuat mereka beriman kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka tetap menyembah berhala, menyembah Nyi Roro Kidul, dll.

    Dalam ilmu tauhid dijelaskan bahwa tauhid rububiyah menimbulkan konsekuensi tauhid uluhiyah. Maksudnya adalah bahwa seorang yang mengakui bahwa Allah yang menciptakan seluruh mahluk maka menimbulkan konsekuensi bahwa dia seharusnya menyembah dan beribadah kepada penciptanya. Sehingga apabila dia hanya mengakui rububiyah Allah tanpa mau beribadah kepada Allah, maka dia sebenarnya belum bertauhid, karena inti dari tauhid itu adalah menyerahkan peribadatan HANYA kepada Allah semata.

    Pelajaran selanjutnya dalam ilmu tauhid, bahwa tauhid uluhiyah meliputi tauhid rububiyah. Maksudnya, ketika seseorang sudah bertauhid uluhiyah, sudah mesti dia sudah bertauhid rububiyah. Seseorang yang sudah menyembah Allah dan mengikhlaskan peribadatan HANYA kepada Allah, sebelumnya itu dia mesti sudah mengakui bahwa Allah lah yang menciptakannya dan menciptakan seluruh makhluk.

    Jadi, ukthi jangan salah paham. Ketika kita membahas uluhiyah, bukan berarti meniadakan/menafikan rububiyah, akan tetapi pembahasan rububiyah sudah tercakup ke dalam uluhiyah secara keseluruhan.

    Kembali ke masalah “Man Robbuka”…… coba perhatikan firman Allah yang kami sebutkan di atas:

    Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?

    Trus apa jawaban orang-orang kafir?

    Maka mereka akan menjawab: “Allah.

    Jelas sekali bukan, mereka mengakui tauhid rububiyah? :), akan tetapi apa jawaban Allah?

    Maka katakanlah: Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?

    Nah, itulah konsekuensi dari tauhid rububiyah! tauhid uluhiyah lah konsekuensinya, yaitu peribadatan dan penghambaan diri HANYA kepada Allah.

    Ketika seorang kafir selama hidupnya di dunia, dia mengakui rububiyah Allah, akan tetapi dia selama hidupnya menyembah Nyi Roro Kidul atau Yesus atau menyembah dewa dewa, kemudian dia mati dan di dalam kuburnya ditanya oleh malaikat, “Siapa Robbmu?” atau “Man Robbuka?” coba tebak, apakah orang kafir tersebut bisa menjawabnya dan kemudian lulus dari fitnah dan siksa kubur? Jika menggunakan konsep ukhti Erlina, tentu saja jawabannya “IYA, dia bisa menjawabnya” berarti orang kafir tersebut lulus dari azab kubur? dan konsekuensinya seluruh orang kafir di dunia ini dari zaman dahulu hingga zaman sekarang yang mengakui hanya rububiyah Allah maka akan lulus ujian dan dijamin masuk surga.

    Akan tetapi tidak seperti itu, bukan? karena jika ditelisik lebih jauh, pertanyaan “Man Robbuka” tersebut pendek akan tetapi maksudnya sangat dalam. Dan pertanyaan tersebut tidak akan bisa dijawab oleh orang-orang kafir, karena mereka tidak menjalankan konsekuensi dari pengakuan mereka terhadap rububiyah Allah! dan pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab oleh orang-orang yang benar-benar menjalankan konsekuensi pengakuan rububiyahnya, yaitu mengikhlaskan peribadatan dan penghambaan HANYA kepada Allah, dan itulah inti dari tauhid, dan itulah inti dan tujuan kita diciptakan di dunia ini wahai ukhti :)

    Sebenarnya pembahasan tauhid ini sangat menyenangkan dan cukup panjang. Dan untuk membahasnya harus di bawah bimbingan seorang guru yang mumpuni, dan tidak cukup hanya dengan membaca literatur terjemahan saja ataupun artikel singkat.

    Oya ukhti, bisa kami tahu alamat pos ukhti? tolong dikirimkan ke e-mail: [email protected]

    Semoga Allah meneguhkanmu pada Islam sesuai dengan manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya ya ukhti…….

  40.    Reply

    Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

    Ukhti/pengelola web, mohon dikoreksi kalau saya salah karena saya masih perlu banyak belajar.
    Pertanyaan pertama dalam kubur “Man Robbuka?”, menanyakan Rob. Sehingga untuk menjawabnya kita harus memiliki pemahaman rububiyah dan sudah bertauhid rububiyah. Karena dengan bertauhid rububiyah otomatis akan membuat kita bertauhid uluhiyah.
    Hal ini seperti, kalau ada orang lewat di depan kita dan kita tidak mengenalnya mustahil kita akan memberi hormat. Tetapi kalau kita tahu siapa orang tersebut, berilmu tinggi, berkedudukan tinggi, seorang raja/presiden otomatis kita akan memberi hormat.
    Demikian pula kalau kita mengenal Allah, pencipta, pengatur, pemelihara, penguasa, pemberi rejeki (bertauhid rububiyah) otomatis kita akan bersujud dan hanya menyembahNya (bertauhid uluhiyah) karena kita memiliki alasan yang kuat untuk menyembahNya..
    Dan banyak ayat dalam Quran, Allah memerintahkan kita untuk selalu memikirkan ciptaanNya sebab di dalamnya terdapat tanda tanda KEBESARANNYA.

    Selain itu dalam QS 7:172, Allah telah mengambil kesaksian/membuat perjanjian dg roh manusia ketika dilahirkan: “Bukankah Aku ini Robbuka?” dan dijawab “Betul (Engkau Tuhan kami/Rob), kami bersaksi.”

    Ini relevan dengan pertanyaan pertama di alam kubur “Man Robbuka?”
    Sehingga kalimat tauhid seharusnya meliputi maksud di atas, bukan hanya maksud uluhiyah saja, meskipun memakai kata ilah. Wallahu a’lam.
    Jazakillahu khairan.

  41.    Reply

    tolong diinfokan di web antum yah. syukron

    HADIRILAH KAJIAN KHUSUS PUTRI

    CITA WANITA PERINDU SURGA
    Bersama: Ustadz ARIS SUGIYANTORO

    (Pimpinan PonPes Al Ukhuwah, Sukoharjo & Penasihat Majalah NIKAH)

    AHAD, 7 September 2008
    Pukul 08.00 s/d 11.30 WIB
    Di MASJID AN-NUUR SMA NEGERI 1 GEMOLONG, SRAGEN

    Gratis Untuk Putri

    INFORMASI:

    Akhowat: 0852 9363 1396

    Penyelenggara:

    Lembaga Bimbingan Islam Ilmiah (LBII) Gemolong

    Pesantren Remaja Ma’had Roudhotul ‘Ilmi Gemolong

    Majelis Kerohanian Islam SMAN 1 Gemolong

    Sumber: http://www.blogrohismanig.wordpress.com

  42.    Reply

    Hanya tambahan saja,
    Sebatas yang ana ketahui
    Tidak diwajibkan bagi kita untuk mengetahui setiap hikmah dari syariat Alloh Ta’ala. Oleh karena itu terkadang pertanyaan mengapa ? untuk syariat Alloh yang kita memang tidak mengetahuinya dan tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut, tidak baik dan kita tidak memberatkan diri untuk mengetahuinya.
    karena hal itu tidak pernah dicontohkan para salaf kita. Meskipun jika kita tahu hikmah dari syariat alloh itu lebih baik.
    Afwan jika salah

  43.    Reply

    Buat ukhti Erlina:
    Wa’alaikumussalam warohmatullah wabarokatuh
    Pertanyaan yang cukup bagus. Sampai saat ini kami belum mengetahui jawabannya. Insya Allah nanti akan kami tanyakan kepada ustadz. Yang jelas, pembedaan kata “Rob” dan “Ilah” dalam syariat memiliki makna dan tujuan yang berbeda. Pada syahadat menggunakan kata “Ilah”, dan kita insya Allah sudah mengerti maknanya, dan pada ayat dan hadits juga banyak penggunaan kata “Robb”. Wallahu a’lam.

  44.    Reply

    Assalamualaikum wr wb

    Alhamdulillah artikel yang sangat menarik, mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanya sebentar dan dunia ini adalah tempat yang sangat tidak aman (di pandang dari sudut science dan agama).
    Maaf ukthi bolehkah saya bertanya tapi mungkin sedikit dihubungkan dengan topic/tags lain yaitu syahadat (walaupun masih dalam 1 kategori artikel aqidah).

    Mengapa pertanyaan pertama di kubur adalah “Man Robbuka?” bukan Man Ilahaka?”.
    Padahal syahadat kita adalah syahadat ‘uluhiyah’.

    Wassalamualaikum wr wb.

  45.    Reply

    Assalamu’alaikum

    Saya ingin bertanya mengenai azab-azab kubur (6 poin) diatas. Kalau tidak salah di salah poin (pemakan riba), bukankah itu adalah adzab di neraka (Ketika nabi melakukan mi’raj?). Afwan, tolong sertakan referensinya/dalilnya per poin.

    Jazakillahu khairan.