Ketika Kita Ingin Dilihat

Penyusun: Ummu Aiman
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar

Masya Allah, anti sudah hafal 5 juz ???
Hmmm…

Secara fitrah manusia, pastilah senang jika dirinya dipuji. Saat pujian datang -apalagi dari seseorang yang istimewa dalam pandangannya- tentulah hati akan bahagia jadinya. Berbunga-bunga, bangga, senang. Itu manusiawi. Namun hati-hatilah duhai saudariku, jangan sampai riya’ menghiasi amal ibadah kita karena di setiap amal ibadah yang kita lakukan dituntut keikhlasan.


Niat yang ikhlas amatlah diperlukan dalam setiap amal ibadah karena ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amal di sisi Allah. Sebuah niat dapat mengubah amalan kecil menjadi bernilai besar di sisi Allah dan sebaliknya, niatpun mampu mengubah amalan besar menjadi tidak bernilai sama sekali.

Kali ini, kita tidak hendak membahas tentang ikhlas melainkan salah satu lawan dari ikhlas, yaitu riya’.

Hudzaifah Ibnu Yaman pernah berkata:

“Orang-orang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal-hal yang baik sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal jelek agar aku terhindar dari kejelekan tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Maka saudariku muslimah, marilah kita mempelajari tentang riya’ agar kita terhindar dari kejelekannya.

Mari Kita Berbicara tentang Riya’

Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ru’yah (الرّؤية), maknanya penglihatan. Sehingga menurut bahasa arab hakikat riya’ adalah orang lain melihatnya tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya.

Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan, “Riya’ ialah menampakkan ibadah dengan tujuan agar dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amal tersebut.”

Pernahkah ukhti mendengar tentang sum’ah? Sum’ah berbeda dengan riya’, jika riya’ adalah menginginkan agar amal kita dilihat orang lain, maka sum’ah berarti kita ingin ibadah kita didengar orang lain. Ibnu Hajar menyatakan: “Adapun sum’ah sama dengan riya’. Akan tetapi ia berhubungan dengan indera pendengaran (telinga) sedangkan riya’ berkaitan dengan indera penglihatan (mata).”

Jadi, jika seorang beramal dengan tujuan ingin dilihat, misalnya membaguskan dan memperlama shalat karena ingin dilihat orang lain, maka inilah yang dinamakan riya’. Adapun jika beramal karena ingin didengar orang lain, seperti seseorang memperindah bacaan Al Qur’annya karena ingin disebut qari’, maka ini yang disebut sebagai sum’ah.

Bahaya Riya’

Ketahuilah wahai saudariku, bahwa riya’ termasuk ke dalam syirik asghar/kecil. Ia dapat mencampuri amal kita kemudian merusaknya.

Amalan yang dikerjakan dengan ikhlas akan mendatangkan pahala. Lalu bagaimana dengan amalan yang tercampur riya’? Tentu saja akan merusak pahala amalan tersebut. Bisa merusak salah satu bagiannya saja atau bahkan merusak keseluruhan dari pahala amalan tersebut.

Berikut ini beberapa bentuk riya’:

  1. Riya’ yang mencampuri amal dari awal hingga akhir, maka amalannya terhapus.

    Misalnya seseorang yang hendak mengerjakan shalat lalu datang seseorang yang ia kagumi. Kemudian ia shalat dengan bagus dan khusyu’ karena ingin dilihat orang tersebut. Riya’ tersebut ada dari awal hingga akhir shalatnya dan ia tidak berusaha untuk menghilangkannya, maka amalannya terhapus.

  2. Riya’ yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah amal dan dia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ ini tidak mempengaruhi pahala amalannya. Misalnya seseorang yang shalat kemudian muncul riya’ di tengah-tengah shalatnya dan ia berusaha untuk menghilangkannya sehingga riya’ tersebut hilang, maka riya’ tersebut tidak mempengaruhi ataupun merusak pahala shalat tersebut.
  3. Riya’ muncul tiba-tiba di tengah-tengah namun dibiarkan terus berlanjut, maka ini adalah syirik asghar dan menghapus amalannya. Namun dalam kondisi ini ulama berselisih pendapat tentang amalan mana yang terhapus, misalnya riya’ dalam shalat. Apakah rakaat yang tercampuri riya’ saja yang terhapus ataukah keseluruhan shalatnya?

Pendapat pertama menyatakan bahwa yang terhapus hanyalah pada amalan yang terkait. Pendapat kedua, yaitu perlu dirinci:

  1. Kalau amalannya merupakan satu rangkaian dan tidak mungkin dipisahkan satu dengan yang lain, misalnya shalat dhuhur empat rakaat, maka terhapus rangkaian amal tersebut.
  2. Kalau amalannya bukan merupakan satu rangkaian, maka amal yang terhapus pahalanya adalah sebatas yang tercampuri saja. Misalnya seseorang yang bersedekah kepada sepuluh orang anak yatim. Saat bersedekah pada anak kesatu sampai yang kelima ia ikhlas. Akan tetapi riya’ muncul saat ia bersedekah pada anak ke-enam, maka pahala yang terhapus adalah sedekah pada anak ke-enam. Contoh yang serupa adalah puasa.

Riya’ itu Samar

Pada asalnya, manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan takut dicela. Hal ini menyebabkan riya’ menjadi sangat samar dan tersembunyi. Terkadang, seorang merasa telah beramal ikhlas karena Allah, namun ternyata secara tak sadar ia telah terjerumus kedalam penyakit riya’.

Saudariku, pernahkah engkau mendengar langkah laki seekor semut? Suara langkahnya begitu samar bahkan tidak dapat kita dengar. Seperti inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kesamaran riya’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kesyirikan itu lebih samar dari langkah kaki semut.” Lalu Abu Bakar bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kesyirikan itu ialah menyembah selain Allah atau berdoa kepada selain Allah disamping berdoa kepada selain Allah?” maka beliau bersabda.”Bagaimana engkau ini. Kesyirikan pada kalian lebih samar dari langkah kaki semut.” (HR Abu Ya’la Al Maushili dalam Musnad-nya, tahqiq Irsya Al Haq Al Atsari, cetakan pertama, tahun 1408 H, Muassasah Ulum Al Qur’an, Beirut, hlm 1/61-62. dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Targhib, 1/91)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan bahaya riya’ atas umat Islam melebihi kekhawatiran beliau terhadap bahaya Dajjal. Disebutkan dalam sabda beliau: “Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Dajjal.” Kami menyatakan, “Tentu!” beliau bersabda “Syirik khafi (syirik yang tersembunyi). Yaitu seseorang mengerjakan shalat, lalu ia baguskan shalatnya karena ia melihat ad seseorang yang memandangnya.”

Hal ini tidak akan terjadi, kecuali karena faktor pendukung yang kuat. Yaitu karena setiap manusia memiliki kecenderungan ingin mendapatkan pujian, kepemimpinan dan kedudukan tinggi di hadapan orang lain.

Bentuk Riya’

Wahai ukhti muslimah, didalam mencapai tujuannya, para mura’i (orang yang riya’) menggunakan banyak jalan, diantaranya sebagai berikut:

  1. Dengan tampilan fisik, yaitu seperti menampilkan fisik yang lemah lagi pucat dan suara yang sangat lemah agar dianggap sebagai orang yang sangat takut akhirat atau rajin berpuasa.
  2. Dengan penampilan, yaitu seperti membiarkan bekas sujud di dahi dan pakaian yang seadanya agar tampil seperti ahli ibadah. Ketika menjelaskan QS Al Fath, dalam Hasyiah Ash Shawi 4/134 disebutkan, “Yang dimaksud ‘bekas sujud’ bukanlah hitam-hitam di dahi sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh yang ingin riya’ karena hitam-hitam di dahi merupakan perbuatan khawarij.”
  3. Dengan perkataan, yaitu seperti banyak memberikan nasehat, menghafal atsar (riwayat salaf) agar dianggap sebagai orang yang sangat memperhatikan jejak salaf.
  4. Dengan amal, yaitu seperti memperlama rukuk dan sujud ketika shalat agar tampak khusyu’ dan lain-lain.

Kiat Mengobati Penyakit Riya’

Wahai saudariku, setiap insan tidak akan pernah lepas dari kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat kepada Allah atas kesalahan yang pernah dilakukannya.

Hati manusia cepat berubah. Jika saat ini beribadah dengan ikhlas, bisa jadi beberapa saat kemudian ikhlas tersebut berganti dengan riya’. Pagi ikhlas, mungkin sore sudah tidak. Hari ini ikhlas, mungkin esok tidak. Hanya kepada Allahlah kita memohon agar hati kita diteguhkan dalam agama ini. َ

Selain itu, hendaknya kita berusaha untuk menjaga hati agar terhidar dari penyakit riya’. Saudariku, inilah beberapa kiat yang dapat kita lakukan agar terhindar dari riya’:

1. Memohon dan selalu berlindung kepada Allah agar mengobati penyakit riya’

Riya’ adalah penyakit kronis dan berbahaya. Ia membutuhkan pengobatan dan terapi serta bermujahadah (bersungguh-sungguh) supaya bisa menolak bisikan riya’, sambil tetap meminta pertolongan Allah Ta’ala untuk menolaknya. Karena seorang hamba selalu membutuhkan pertolongan dan bantuan dari Allah. Seorang hamba tidak akan mampu melakukan sesuatu kecuali dengan bantuan dan anugerah Allah. Oleh karena itu, untuk mengobati riya’, seorang selalu membutuhkan pertolongan dan memohon perlindungan kepada-Nya dari penyakit riya’ dan sum’ah. Demikian yang diajarkan Rasulullah dalam sabda beliau:

“Wahai sekalian manusia, peliharalah diri dari kesyirikan karena ia lebih samar dari langkah kaki semut.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami memelihara diri darinya padahal ia lebih samar dari langkah kaki semut?” beliau menjawab, “Katakanlah:

اللّهُمَّ إِنَّانَعُوْذُبِكَ مِنْ أََنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًانَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُ

‘Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami mohon ampunan kepada-Mu dari apa yang tidak kami ketahui.’” (HR. Ahmad)

2. Mengenal riya’ dan berusaha menghindarinya

Kesamaran riya’ menuntut seseorang yang ingin menghindarinya agar mengetahui dan mengenal dengan baik riya’ dan penyebabnya. Selanjutnya, berusaha menghindarinya. Adakalanya seorang itu terjangkit penyakit riya’ disebabkan ketidaktahuan dan adakalanya karena keteledoran dan kurang hati-hati.

3. Mengingat akibat jelek perbuatan riya’ di dunia dan akhirat

Duhai saudariku di jalan Allah, sifat riya’ tidaklah memberikan manfaat sedikitpun, bahkan memberikan madharat yang banyak di dunia dan akhirat. Riya’ dapat membuat kemurkaan dan kemarahan Allah. Sehingga seseorang yang riya’ akan mendapatkan kerugian di dunia dan akhirat.

4. Menyembunyikan dan merahasiakan ibadah

Salah satu upaya mengekang riya’ adalah dengan menyembunyikan amalan. Hal ini dilakukan oleh para ulama sehingga amalan yang dilakukan tidak tercampuri riya’. Mereka tidak memberikan kesempatan kepada setan untuk mengganggunya. Para ulama menegaskan bahwa menyembunyikan amalan hanya dianjurkan untuk amalan yang bersifat sunnah. Sedangkan amalan yang wajib tetap ditampakkan. Sebagian dari ulama ada yang menampakkan amalan sunnahnya agar dijadikan contoh dan diikuti manusia. Mereka menampakkannya dan tidak menyembunyikannya, dengan syarat merasa aman dari riya’. Hal ini tentu tidak akan bisa kecuali karena kekuatan iman dan keyakinan mereka.

5. Latihan dan mujahadah

Saudariku, ini semua membutuhkan latihan yang terus menerus dan mujahadah (kesungguhan) agar jiwa terbina dan terjaga dari sebab-sebab yang dapat membawa kepada perbuatan riya’ bila tidak, maka kita telah membuka pintu dan kesempatan kepada setan untuk menyebarkan penyakit riya’ ini ke dalam hati kita.

Belajar dari Para Salaf

Duhai muslimah, berikut ini adalah kisah salaf yang menunjukkan betapa mereka menjaga diri dari riya’ dan sum’ah. Mereka tidak menginginkan ketenaran dan popularitas. Justru sebaliknya, mereka ingin agar tidak terkenal. Mereka memelihara keikhlasan, mereka takut jika hati mereka terkena ujub (bangga diri).

Abu Zar’ah yahya bin Abu ‘Amr bercerita: Pernah Adh-Dhahhak bin Qais keluar untuk memohon hujan bersama-sama dengan orang-orang, tapi ternyata hujan tidak turun dan beliau juga tidak melihat awan. Beliau berkata: “Dimana gerangan Yazid bin Al Aswad?” (dalam satu riwayat: tidak seorang pun yang menjawab pertanyaan beliau. Beliau pun bertanya lagi: “Dimana Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi? Jika beliau mendengar, saya sangat berharap beliau berdiri.”) “Ini saya”, seru Yazid. “Berdirilah dan tolonglah kami ini di hadapan Allah. Jadilah kamu perantara(*) kami agar Allah menurunkan hujan kepada kami.”, kata Adh-Dhahhak bin Qais. Kemudian Yazid pun berdiri seraya menundukkan kepala sebatas bahu serta menyingsingkan lengan baju beliau kemudian berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu ini memohon syafaatku kepada-Mu.” Beliau berdoa tiga kali dan seketika itu pula turunlah hujan yang sangat deras sehingga hampir terjadi banjir. Kemudian beliau pun berkata: “Sesungguhnya kejadian ini membuat saya dikenal banyak orang. Bebaskanlah saya dari keadaan seperti ini.” Kemudian hanya berselang satu hari, yaitu Jum’at setelah peristiwa itu beliau pun wafat. (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fasawi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).

(*) Dalam keadaan ini, meminta perantara dalam berdo’a diperbolehkan, karena Yazid bin Al Aswad Al Jurasyi yang menjadi perantara masih dalam keadaan hidup, dan beliau adalah seorang yang shaleh. Bedakan dengan keadaan orang-orang yang berdo’a meminta kepada orang yang dianggap shaleh yang sudah meninggal dunia di kubur-kubur mereka! dan ini merupakan Syirik Akbar yang membuat pelakunya kekal di neraka jika belum bertaubat. -ed

Berkata Hammad bin Zaid rahimahullah: “Saya pernah berjalan bersama Ayyub tapi beliau melewati jalan-jalan yang membuat diriku heran dan bertanya-tanya kenapa beliau sampai berbuat seperti ini (berputar-putar melewati beberapa jalan). Ternyata beliau berbuat seperti itu karena beliau tidak mau orang-orang mengenal beliau dan berkata: ‘Ini Ayyub, ini Ayyub! Ayyub datang, Ayyub datang!’” (Riwayat Ibnu Sa’ad dan lainnya).

Hammad berkata lagi: “Ayyub pernah membawa saya melewati jalan yang lebih jauh, maka sayapun berkata: ‘Jalan ini lebih dekat!’ Beliau menjawab: ‘Saya menghindari kumpulan orang-orang di jalan tersebut.’ Dan memang apabila dia memberi salam, akan dijawab oleh mereka dengan jawaban yang lebih baik dari jawaban kepada yang lainnya. Dia berkata: ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya! Ya Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menginginkannya!’” (Riwayat Ibnu Sa’ad (7/248) dan Al Fawasi (2/239-pada penggal yang terakhir). Atsar ini shahih).

Kita berlindung kepada Allah dari penyakit riya’. Semoga Allah menjadikan kita seorang mukhlishah, senantiasa berusaha untuk menjaga niat dari setiap amalan yang kita lakukan. Innamal ‘ilmu ‘indallah. Wa’allahu a’lam.

Maraji’:

  1. Terjemah Sittu Duror, Landasan Membangun Jalan Selamat. ‘Abdul Malik Ahmad Ramdhani. Media Hidayah. Cetakan pertama. 2004.
  2. Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi. Abu ‘Isa ‘Abdullah bin Salam. Cetakan pertama. LBIA Al Atsary.
  3. Majalah As-Sunnah edisi 05/ VIII/ 1425H/ 2004M.

***

Artikel www.muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

10 Comments

  1. www.muslimah.or.id says:

    1. ummu nauroh
    December 22nd, 2007 at 6:43 pm

    subhanallah…
    jazakillah khoir sdh diingatkan kembali.
    salam ta’aruf bwt ukhty2 yg mengelola situs ini…semoga terus istiqomah! :)
    barokallahufeek

    2. Rony Setiawan
    December 23rd, 2007 at 8:51 pm

    Assalamu ‘alaikum wr wb,
    Menurut saya, memang menguasai ilmu ikhlas sangat tidak gampang. Sering kali hati galau, ketika menyadari ada setitik riya atas semua ibadah yang lalu.
    Ada suatu kondisi selain yang disebutkan artikel diatas. ini adalah fakta yang kita alami. Sering kali ketika kebetulan setelah melakukan sebuah kebaikan, sebagai contoh shalat berjamaah, pulang dari masjid, kebetulan berpapasan dengan seseorang, dalam hati ini timbul perasaan bahwa orang lain itu akan berprasangka bahwa kita orang baik atau bahkan shaleh. Astaghfirullah, sungguh halus tipu daya setan.
    Selain itu, kita sering terjebak dengan dengan kondisi bahwa ketika kita menyadari bahwa ada setitik keriyaan maka selalu terbesit untuk membatalkan ibadah yang akan kita lakukan. Namun, kita menyadari bahwa kalau kita batalkan ibadah itu, termasuk riya juga dan pada akhirnya meskipun tetap melaksanakannya, tidak ada kekhusyuan yang kita rasakan.
    Saya adalah orang yang sering mengalami kondisi itu dan saya gelisah karenanya
    Mungkin ada teman-teman yang mau berbagi?

    3. abu yazid
    December 25th, 2007 at 3:36 pm

    semoga tetap istiqomah dan ikhlas dalam berdakwah.

    4. anie ahmad
    December 29th, 2007 at 2:04 am

    jazakallah khairan katsira….
    sudah membahas topik ini,untuk peringatan kita semua karna kita di keseharian kerap sekali melakukan yang namanya riya walau tanpa kita sadari…Astagfirullah…
    salam ta’aruf bwt saudara-saudara semua..

    5. ichwan muslim
    December 30th, 2007 at 4:22 am

    alangkah bagus jika artikel ini diiringi dengan pembahasan dengan tema “beramal shalih dengan orientasi duniawi” beserta macam-macamnya. kami rasa topik ini cukup penting diperhatikan, terutama mereka yang bergelut di medan dakhwah. barakallahu fiikum.

    6. nana azzahra palermo
    December 31st, 2007 at 8:21 am

    Riya itu salah satu penyakit hati, mohon posting utk penyakit hati yg lain, misal iri hati dan sombg, beserta solusinya.,,,
    karena saya pribadi masih sering dihinngapi penyakit itu,,
    thx

    7. Rahmayanti Bahar
    January 1st, 2008 at 6:44 am

    Ya Allah Lindungilah kami dari apa yang kami tau,Dan Ampunilah kami dari apa yang kami tidak tau

    8. indra
    January 11th, 2008 at 2:48 am

    Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan keikhlasan kepada kita dalam bentuk apapun. barokallahufik

    9. ulika
    January 13th, 2008 at 3:07 am

    saya setuju dengan rony,,khususnya sering terbersit di hati tuk mbatalin ibadah tadi,,inilah yang diinginkan setan,,wlopun dilaksanakan malah ga khusyuk khan,,ikhlas itu mang yang paling berat palagi kita ga tau apa yang kita lakuin itu bener2 ikhlas karena yang tau kita ikhlas pa gak cuman Allah SWT.ya khan??saran saya gmn klo kita b’usaha sekuat tenaga tuk slalu konsentrasi saat b’ibadah coz setankan ganggu org2 yang hatinya saat itu lagi kosong ya kan?nah caranya klo kita sholat bacaan sholatnya dibaca n b’usaha tuk ngartiin artinya or ngertiin tiap baris bacaannya otomatis pikiran kita konsen tuh,,jadi ga ada kesepatan tuk mikir yang macam2 nah klo riya’nya datang sebelum beribadah ya langsung istighfar aja,,baca do’a biar gak diganggu setan saat b’ibadah trus mulai dgn niat karena Allah,trus lanjutin ibadah dgn tips yang awal saya sampein tadi,,,moga berguna ya bagi semua juga bagiku,,Amiiiin,,,moga Allah juga memudahkan kita dalam meluruskan niat ibadah kita,,Amiiin,,af1 ya klo tipsnya kurang b’manfaat,menurut saya sih b’manfaat,,hihihihi

    10. Abul ‘Izz
    January 17th, 2008 at 12:48 am

    Barakallahu fikum, Alhamdulillah hanya itu yang patut untuk terucap jika kita mampu untuk mengalahkan tipu daya syetan untuk memalingkan dan menjerumuskan anak2 adam dari perangkap-perangkapnya. karena tidak seorang pun yang mampu untuk lepas darinya kecuali orang2 yang dirahmati dan di beri petunjuk oleh Allah.
    Ibadah yang kita lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah berupa shalat,puasa,atau yang selainnya dapat menjadi amalan yang sangat mulia disisi Allah, tapi jangan lupa ia juga dapat menjadi serendah-rendah perbuatan juga karena niat yang telah tercampuri dengan riya’ dan sum’ah, termasuk ketika komentar ini ana sampaikan fikiran dan hati masih juga terus berperang dengan bisikan2 riya’ itu, Astagfirullah. Benar apa yang telah diutarakan okeh Ibnu Qayyim Rahimahullah riya bagaikan JEJAK semut hitam yang berjalan diatas batu hitam di tengah kegelapan malam, hanya orang2 yang hatinya di penuhi dengan cahaya Tauhid yang akan mampu keluar sebagai pemenang dari pertarungan yang selalu kita hadapi dalam setiap aktifitas ibadah kita….Ya..Allah jadikan kami sebagai golongan orang-orang yang selalu menjaga diri kami dari siksa dan nerakamu..

    11. vina
    January 20th, 2008 at 7:57 am

    Assalamu’alaikum
    Artikel yang cukup bagus…
    Tapi dalam pengaplikasiannya, saya sering lalai, sering tanpa sadar bersifat riya’.
    Semoga dengan artikel ini, makin mengingatkan sy untuk lebih berhati2 dlm bersikap.

    12. nurfatihah
    February 5th, 2008 at 10:13 pm

    Assalamualaikum…
    manusia akn selalu m’cari nama…
    riak pada mrk bagaikan stu permainan yang tidak pernah wujud.mrk tidak tahu akn hukumnya,sbb itulah manusia smakin galak dlm mengamalkan riak.
    salm ta’fuf,semoga selalu dirahmati

    13. cewe_Muslim
    February 6th, 2008 at 7:03 am

    Assalamu’alaikum……
    menurt saya artikel ini sangat bagus. dan sangat bermanfaat untk saya, keluarga dan teman-teman saya.
    untk saudara-saudara Muslim lainnya, semoga selalu dalam lindungan-Nya, dan semoga selalu menjadi Muslim yang “MENGUASAI ILMU IKHLAS”
    Wassalamu’alaikum…..

    14. AL JazEerA
    February 19th, 2008 at 9:44 pm

    Doa saat dipuji:
    Ya Allah, semoga engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan..
    H.R Bukhari

    15. vinanoviana
    March 6th, 2008 at 2:12 am

    Assalamu’alaikumwr.wb
    jazakillah, saya diingatkan…karena terkadang sulit menghindari rasa ingin dilihat. Semoga kita senantiasa selalu ada dalam lindungan dan ampunan Allah…

  2. lia says:

    ass
    salam taaruf buat ukhti semuanya..
    teruslah berkarya
    subkhanallah artikel2nya..
    bikin kita selalu semangat mencari hakikat ttg apa tugas kita di dunia ini
    ALLAH HU AKBAR!!!
    wass

  3. nissa says:

    terkadang aku sedih dengan melihat lingkungan keluarga dan kerabatku yang sudah terbiasa dan mengganggap biasa dalam hal pamer atau mungkin riya’, dalam hal apapun itu, entah bersedekah, berpakaian, berkehidupan mewah, jabatan, dsb. setiap aku menasehatinya, aku dianggap berlebih lebihan, sok alim, sok pinter, malah jadi cemoohan, kuatkan imanku ya Alloh…………. semoga mereka semua diberi haidayahMu….

  4. abu umar al patii says:

    oiya, moga yang pada posting juga Allah mudahkan untuk melepaskan diri dari jerat semua penyakit hati termasuk riya’ -trutma sy sndr-
    jg ustadz2&ustadzah2nya dan smw kaum muslimin yang sedang mencari kebenaran dan sudah berusaha keras untuk itu…
    [14. AL JazEerA
    February 19th, 2008 at 9:44 pm

    Doa saat dipuji:
    Ya Allah, semoga engkau tidak (janganlah_pencitt.) menghukumku karena apa yang mereka katakan. Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. Dan jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka perkirakan..
    H.R Bukhari]
    aqulu: aaamin…
    wassalamu’alaikum.

  5. Irwin Ananta says:

    Bagus sekali artikelnya…….

  6. defnie says:

    izin copas artikelnya, jazakillah khoir !

  7. Novi says:

    assalamualaikum ustadzah..

    saya adalah anak kost yang menyewa 1 kamar untuk 2 orang bersama teman saya. di artikel atas tertulis salah satu cara menghindari riya’ adalah ibadah yang sembunyi sembunyi untuk ibadah sunnah.
    yang ingin saya tanyakan, jika saya bangun malam untuk shalat tahajud, otomatis saya melakukan shalat di kamar yang juga ada teman saya. lalu apa yang bisa saya lakukan untuk menghindari riya’ yang berbahaya itu?

    Mohon penjelasan Ustadzah.
    Jazakallahu khair.

    wassalamualaikum.

    • @ Novi
      Wa’alaikumussalam warahmatullah,

      Al-Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’ dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedang ikhlas, jika Allah Ta’ala menyelamatkanmu dari keduanya.” (Riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 6879)

      Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Makna perkataan beliau, barangsiapa yang telah bertekad melakukan suatu amalan, kemudian ia meninggalkan amalan tersebut karena khawatir dilihat orang, maka ia telah melakukan riya’, sebab ia meninggalkan amalan karena manusia. Adapun jika ia meninggalkan shalat sunnah di keramaian untuk kemudian mengerjakannya saat tidak dilihat orang, maka yang seperti ini disunnahkan. Kecuali shalat wajib, atau zakat wajib, atau ia seorang ulama yang menjadi panutan, maka lebih afdhal dikerjakan secara terang-terangan.” (Syarhul Arba’in, Al-Imam An-Nawawi, hal. 11)

      Silahkna membaca selengkapnya diartikel bermanfaat ini Ukhti,
      http://www.ahlussunnah-jakarta.com/artikel_detil.php?id=445

  8. oomar khattab says:

    subhanalloh tnyata sirik yak terlihat n tak terasa…tw2 diakhiran di jembrengin daftar riya qt oleh Alloh ktika dihisab….
    astghfirulloh….smga sy tdk riya dlm cmment ini…jzklloh ilmu’y

  9. asepz says:

    ria itu ada dalam hati, fikiran, atau lidah
    makash kpd smwa pengelola situs ini,istiqomah terus ya?

Leave a Reply