Jika Masih Ada yang Bertanya-tanya “Di manakah Allah”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata dalam kitab beliau, AL-Aqidah Al-Wasithiyyah,

“Dan telah kami sebutkan bahwasanya diantara unsur iman kepada Allah adalah mengimani berita yang Allah sampaikan melalui kitab-Nya, juga berita yang Allah sampaikan melalui sabda Rasul-Nya shallallahu’alaihi wasallam yang mutawatir dan berita-berita yang disepakati (kebenarannya) oleh para ulama terdahulu. Dan diantara (berita) tersebut menyebutkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berada diatas langit, bersemayam diatas’Arsy-Nya dan tinggi diatas makhluk-Nya. Allah Subhanah senantiasa bersama makhluk-Nya dimanapun mereka berada dan mengetahui segala sesuatu yang mereka kerjakan. Sebagaimana hal ini Allah sebutkan dalam firman-Nya,

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid :4)

Dan ayat ini (Allah bersama kalian dimanapun kalian berada) tidaklah bermakna Allah bercampur-baur dengan hamba-Nya. Karena makna seperti ini tidak bisa diterima dari sisi kaidah bahasa. Bahkan rembulan yang menjadi salah satu tanda atas kebesaran Allah, dimana ia adalah makhluk kecil diantara makhluk-makhluk ciptaan-Nya juga berada diatas langit. Ia pun selalu bersama dengan musafir maupun yang bukan musafir dimanapun mereka berada. Sementara Allah berada diatas ‘Arsy dan Dia juga dekat dengan hamba-Nya, senantiasa mengawasi, mengetahui apa yang mereka kerjakan dan sifat-sifat lainnya yang memiliki makna rububiyyah. Dan kalimat yang Allah sebutkan ini (yaitu Allah berada diatas ‘Arsy dan juga senantiasa bersama kita) adalah kalimat yang benar tidak perlu diselewengkan maknanya (kepada makna yang lain).”

***

Penjelasan:

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah menjelaskan perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah diatas,

“Sang Penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -pent) rahimahullah telah mengkhususkan dua pembahasan, yaitu bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy dan tentang kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya, dengan penjelasan yang mampu menghilangkan kejanggalan. Terkadang ada beberapa permasalahan yang tampaknya bertentangan antara kedua hal tersebut yang menyebabkan timbulnya kerancuan. Ada orang yang menyangka bahwa sifat tersebut merupakan sifat makhluk dan sesungguhnya Allah berada di tengah-tengah makhluk-Nya. Jika demikian, bagaimana mungkin Allah berada di atas makhluk-Nya, bersemayam di atas ‘Arsy namun Dia juga berada dekat dengan makhluk-Nya, tanpa adanya campur-baur?

Jawaban dari kerancuan ini -sebagaimana yang telah disebutkan oleh Penulis (Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah -pent) rahimahullah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang:

Sudut pandang pertama

Sesungguhnya pemahaman (yang keliru) semacam ini tidak sesuai dengan (kaidah) bahasa Arab yang dengan bahasa itulah Al-Quran diturunkan. Sesungguhnya, kata مع dalam bahasa Arab menunjukkan kebersamaan secara mutlak dan tidak menunjukkan makna adanya percampuran, tidak pula persekutuan, maupun persentuhan.

Engkau boleh saja mengatakan, “ زوجتي معي (Istriku ada bersamaku),” sedangkan engkau berada di sebuah tempat dan istrimu berada di tempat lain. Engkau juga boleh saja mengatakan, “ مازلنا نسير والقمر معنا” (Kami senantiasa berjalan sedangkan rembulan bersama kami)” padahal saat itu rembulan berada di langit dan engkau bersama dengan para musafir maupun yang bukan musafir di mana pun mereka semua berada.

Jika kalimat tersebut sesuai dengan hakikat rembulan sementara dia adalah makhluk yang kecil, maka bagaimana mungkin hakikat semisal itu (yaitu, tentang makna ma’iyyah/kebersamaan) tidak pantas diperuntukkan bagi Sang Khalik yang tentunya jauh lebih agung dibandingkan apa pun jua?

Sudut pandang kedua

Sesungguhnya pendapat ini (yang mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy namun juga berada dekat dengan makhluk-Nya -pent) telah menyelisihi kesepakatan umat terdahulu dari kalangan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para tabi’in, serta para tabi’ut tabi’in. Mereka semua adalah generasi terbaik umat ini sekaligus menjadi teladan. Ketiga generasi utama tersebut telah bersepakat bahwa sesungguhnya Allah bersemayam di atas ‘Arsy-Nya, berada tinggi di atas makhluk-Nya, di tempat yang benar-benar tinggi dari makhluk-Nya.

Mereka pun bersepakat bahwa sesungguhnya ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala berada bersama makhluk-Nya. Sebagaimana mereka menafsirkan firman Allah “وهو معكم (Dan Dia berada bersama kalian)” dengan penafsiran tersebut.

Sudut pandang ketiga

Sesungguhnya pendapat keliru tentang keberadaan Allah ini telah menyelisihi fitrah yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk makhluk-Nya yang Dia tancapkan dalam fitrah para makhluk-Nya. Maka, sungguh makhluk Allah telah dikaruniai fitrah untuk menetapkan ketetapan ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas makhluk-Nya. Makhluk Allah pun menghadapkan diri mereka kepada Allah, ke arah atas, di kala kesulitan dan bencana menimpa. Mereka tidak menghadap ke kanan maupun ke kiri, tanpa ada seorang pun yang mengajarkan mereka untuk melakukan itu, karena itu semua merupakan fitrah yang telah dikaruniakan Allah bagi makhluk-Nya.

Sudut pandang keempat

Sesungguhnya pendapat yang keliru tersebut telah menyelisihi berita yang disampaikan oleh Allah dalam kitab-Nya (yaitu Al-Quran, pent). Telah diriwayatkan pula secara mutawatir dari Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas ‘Arsy, berada tinggi di atas makhluk-Nya, dan Dia bersama dengan mereka di mana pun mereka berada.

Yang dimaksud dengan nash yang mutawatir adalah nash yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang diyakini tidak mungkin bersepakat untuk berdusta di antara mereka, dari periwayat pertama hingga periwayat terakhir. Ayat Al-Quran dan hadits tentang keberadaan Allah ini sangat banyak jumlahnya. Di antaranya adalah ayat yang telah disebutkan oleh Penulis (Ibnu Taimiyyah, pent) rahimahullah.

***
artikel muslimah.or.id

Diterjemahkan dari kitab Syarah Al-’Aqidah Al-Washithiyyah li Syeikhil Islam Ibni Taimiyyah, yang berisi penjelasan dari Syaikh Al-’Allamah Muhammad Khalil Haras, Syaikh Al-’Allamah Muhammad Ash-Shalih Al-Utsaimin, dan Syaikh Al-’Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, hlm. 456–457, cetakan Dar Ibnul Jauzi.

Penerjemah: Ummu Asiyah Athirah dan sedikit tambahan dari redaksi.
Murajaah: Ust Abu Rumaysho Muhammad Abduh Tuasikal.

Donasi dakwah YPIA

30 Comments

  1. HM Nur Prasojo says:

    Saya jadi bingung. Kalau Allah di “ATAS” berarti memerlukan tempat untuk bersemayam. Kalau memerlukan tempat “TEMPAT”, berarti Allah “BERBENTUK”, sesuatu yang berbentuk berarti “BENDA”, kalau “BENDA” berarti tidak kekal……

    • @ HM. Nur Prasojo

      Allah tidak memerlukan tempat dan tidak diliputi oleh tempat. Allah tidak memerlukan makhluk-Nya sama sekali. Allah Mahakekal, selamanya, sebagaimana yang Allah beritakan.

      ?????? ??? ??????? ?????? ???? ???????? ??????????? ??? ?????????? ?????? ????? ?????? ????? ??? ??? ????????????? ????? ??? ????????

      “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). tidak mengantuk dan tidak tidur ….” (QS. Al-Baqarah: 255)

      Pak H.M. Nur Prasojo maupun saudara muslimin dan muslimah yang lain tak perlu bingung dan menjadikan akidah ini menjadi pelik, karena para ulama kaum muslimin telah memberi contoh kepada kita supaya tidak kebingungan.

      Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

      ???? ?????? ???? ??? ?? ???? ??? ???? ????? ????? ????? ???? ???? ??? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ????

      Aku beriman kepada Allah dan kepada segala berita yang datang dari Allah, serta aku beriman kepada Rasulullah dan kepada seluruh berita yang datang dari Rasulullah.

      Suatu saat, seseorang pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas rahimahullah tentang firman Allah {??????????? ????? ????????? ????????}, Bagaimana Allah beristiwa? Maka, Imam Malik menjawab,

      ???????? ?????? ?????????? ??????????????? ?????? ?????? ?????????? ????????????? ???? ??????? ???????????? ?????? ???????? ???????? ??????? ???? ???????? ???????

      Hakikat dari istiwa tidak mungkin digambarkan, namun istiwa Allah diketahui maknanya. Beriman terhadap sifat istiwa adalah suatu kewajiban. Bertanya mengenai (hakikat) istiwa adalah bidah. Aku khawatir engkau termasuk orang sesat.

      Kemudian orang tersebut diperintah untuk keluar. (Lihat Al-Uluw lil Aliyyil Ghafar, hlm. 378)

  2. aw says:

    jika Allah benar berada di atas ‘ars maka dimanakah Allah sebelum ‘ars diciptakan?atau pada zaman langit dan bumi belum diciptakan (zaman azali)padahal Allah itu tidak mungkin berubah ,Qs. Al-Hadid :4 rupanya ayat mutasabihat yang perlu dimaknai lagi seperti ayat “yadullah” yang arti tekstualnya adalah tangan Allah ,padahal Allah bukanlah seperti mahluq yang jisim (laisakamistlihi syaiun)hati hati memaknai Al qura’an apalagi tingkat keilmuan kita masih rendah dibandingkan dengan para imam dan waliullah .

    • @ aw

      Sebagai seorang yang beriman, kita tak perlu menanyakan hal-hal yang tidak Allah jelaskan. Mari kita sibukkan diri dengan mempelajari sangat banyak hal yang sudah Allah jelaskan, karena mempelajari itu semua saja sudah memerlukan waktu dan kesungguhan yang besar.

      Di antaranya adalah meyakini bahwa Allah memiliki tangan, sebagaimana yang Allah sebutkan di Alquran (QS. Al-Maidah:64). Namun, tangan Allah tidak mungkin sama dengan tangan makhluk, karena:

      ?????? ?????????? ?????? ?????? ?????????? ?????????

      Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura:11)

      Menetapkan bahwa Allah memiliki tangan bukan tindakan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, karena Allah sendiri yang memberitahukan kepada kita di Alquran. Adapun yang keliru adalah menyimpangkan makna tekstual dari “tangan Allah”, padahal Allah maupun Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan hal tsb. Maka, apa dalil sahih untuk menyimpangkan makna “tangan Allah” dari makna tekstualnya?

      Penjelasan lain bisa disimak di http://muslimah.or.id/aqidah/memahami-nama-dan-sifat-allah.html

  3. um muhammad says:

    Amanna bihi kullummin ‘indi robbina.wa ma yadzakkaru illa ulul albab…(kami beriman dengannya,semua adalah dr sisi tuhan kami.dan tdklah ada yg mengambil pelajaran kecuali ulul albab)…
    islam artinya berserah diri kpd Alloh.tunduk kpdNya dgn ketaatn dan meninggalkan kesyirikan dan para pelaku kesyirikan…
    jika kita mjd muslim…qt imani semua yg dikabarkn Alloh, ga usah repot ngebantah karena qt adalah hamba.

  4. fauzan says:

    assalamu’alaikum wrwb

    izin share artikelnya..

  5. Ummu 'Khaulah says:

    Assalamualaykum
    Afwan ana mau menanyakan dearajat hadist berikut ini , Dari Abi Razin Al-Uqaili, dia menceritakan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah:

    Wahai Rasulullah, di manakah Tuhan kita sebelum terciptanya
    langit dan bumi ? Beliau menjawab: Dia berada di Ama,
    yaitu posisi yang tidak ada di atasnya ha…wa dan tidak pula di bawahnya hawa.

    (HR. At- Tirmidzi dalam Sunannya hadits ke 3109 dan beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hasan. Juga hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah jilid. 1 hal. 419 hadits ke 625.

  6. mufrodisk says:

    itulah serpihan pemahaman harus dipadukan mjd satu yg komprehensif. jangan seperti si-buta yg baru kenal dg seekor gajah. ok ?!

  7. hamba yg dho'if says:

    @aw,

    Anda berkata, “…apalagi tingkat keilmuan kita masih rendah dibandingkan dengan para imam dan waliullah”

    Saya berkata, makanya mas, klo ngaku tingkat keilmuanmu masih rendah, tidak ush pake bertanya2 : “jika Allah benar berada di atas ars maka dimanakah Allah sebelum ars diciptakan?”. Wong para ulama dan para imam yg tingkat keilmuannya sudah mumpuni pun ga pernah mempertanyakan kayak begitu. Anda usil bgt pake nanya2 begitu, wong tinggal mengimani saja kok nash2 yg datang dari Al Qur’an. Hati2 jgn sampe terjebak ilmu kalam.

    Wallahu a’lam

  8. Abu Yahya says:

    Afwan, yang ana tahu -dari salah seorang ustadz-, pemaknaan istiwa’ dengan bersemayam bukanlah pemaknaan yang benar. Istiwa’ itu telah dimaklumi didalam bahasa Arab, tetapi memaknakannya dengan bersemayam juga bukanlah pemaknaan yang tepat. Jadi alangkah baiknya kita sebut “Allah beristiwa’ di atas arsy”.
    Wallahu ‘alam bish shawab

  9. abu ilyas says:

    izin share…

  10. kira says:

    na’udzubillah, menyamakan Allah dengan makhluqNya, Allah pencipta tempat dan tak layak baginya tempat, karena jelas dalam al-qur’an
    laisa kamitlihi syai’. yang mana Allah sama sekali tidak menyerupai dengan makhluqNya, mengapa Anda merujuk pada ulama’ sesat macam ibnu Taimiyah? dia itu di kafirkan oleh para ulama’ salaf, bahkan bapaknya sendiri mengkafirkannya, dia orang yg bingung dengan aqidahnya. para ulama’ salaf mena’wil semua ayat yg mutasyabihat, tapi Anda karena mengikut ibnu taimiyah yang sangat SESAT itu sehingga tidak mena’wilnya, lebih pintar mana ulama’ salaf di banding ibnu Taimiyah yg sesat itu?
    sebaiknya anda mikir dulu, mosok Tuhan diserupakan dengan Makhluq, istawa di situ harus di ta’wil, yg sesuai dengan dzat Allah, orang wahabi emang susah di omongin, kalo udah disesatkan oleh Allah ya begitulah.
    sayyidina Ali mengatakan: “Huwalladzi ayyanal aina, la yuqoolu lahu aina”. allah yg menciptakan tempat dan tak layak bagiNya tempat.. dibanding sayidina Ali, lebih pinter mana sama si taimiyah itu????lebih alim mana saydina Ali dibanding taimiyah? apalagi anda?
    sekarang di akal aja udah bisa, kalo belum ada arsy, allah ada dimana? kalo seperti itu, berarti Allah seperti makhluq Nya, dan tidak kuasa, naudzubillah….
    paham wahabi emang sngat menyesatkan, paham seperti ini adalah menyebabkan kekufuran, dan percuma meski sholat lima waktu,da’wah sana sini, kalo aqidahnya udah kufur, maka tak ada gunanya amal-amal anda.
    belajarlah pada ulama’ ahlussunnah wal jama’ah, jangan belajar pada ulama’ yg sesat macam wahabi,

  11. binsajen says:

    “Sanad itu termasuk dari agama, kalau seandainya tidak ada Sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya apa yang ia inginkan” -Abdullah bin al-Mubarak (wafat 181 H) , Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi (1/87).

    @ Afwan akhi Kira, yang omong begitu Sayyidina Ali Radhiallahu ‘Anhu atau Pak Kiayai Ali si ahli bid’ah ?

    Mustahil Sayyidina Ali r.a omong – “Allah yg menciptakan tempat dan tak layak bagiNya tempat” – kerana beliau serta para Sahabat dan Imam Imam mu’tabar seperti Asy-Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hanbali, juga Ibnu Tamiyah – merekalah yang paling tamak untuk ibadah dan merekalah yang paling faham agama.

    Mereka semua TIDAK PERNAH menyamakan ALLAH dengan makhluk, TIDAK PERNAH menggambarkan bagaimana, TIDAK PERNAH bertanya bagaimana, TIDAK PERNAH menta’wilkan, dan mereka juga MELARANG bertanya bagaimana “…Dia bersemayam diatas Arasy….”, kerana mereka SANGAT FAHAM maksud ayat “…tidak ada sesuatu pun yang serupa atau setara denganNya..” – (Surah 42:11 dan Surah 112:4).

    Menurut fahaman mereka dan juga sesiapa yang ikut manhaj salafussoleh dalam hal agama, bagaimana BERANI sesiapa berkata ” ..tak layak bagiNya tempat..” sedangkan 7 kali dalam AlQuran Allah berfirman ” Dia bersemayam diArasy” – (Sila lihat Surah 7:54, 10:3, 13:2, 20:5, 25:59, 32:4, 57:4 ).

    Allah juga berfirman, ” Dia diLangit ” – Surah 67:16~17.

    Harap jangan ada sesiapa yang berani menolak, menidakkan, menyangkal, menta’wil, merubah firman Allah yang Dia sendiri khabarkan bahawa Dia berada diArasy atau diLangit.

    Yang bahaya lagi ialah bertanya soalan celaru yang tiada penghujungnya, yang tidak pernah terfikir oleh para salafussoleh seperti soalan – ” kalo belum ada arsy, allah ada dimana? ” – kerana tidak akan tercapai jawapan yang di luar jangkauan batas akal manusia.

    Dalam hal agama, mereka hanya berkata “…kami dengar dan kami ta’at…” – Surah 24:51………Allahul Musta’an.

  12. Tommi says:

    @akh kira,

    Komentar yg penuh dengan emosi, caci maki dan tidak menjawab esensi artikel (antum terlalu ta’ashub dengan kyai antum).

    Cukuplah kita katakan (spt yg telah dikatakan muslimah.or.id) :
    1. jika memang paparan Anda yg panjang lebar itu benar, jangan lupa sertakan dalil sahih ucapan Anda itu.
    2. jika memang Ibnu Taimiyyah dikafirkan oleh ulama2 salaf dan juga ayah beliau, mohon disertakan rujukannya dan sanadnya. Atau jangan2 antum ga tau definisi salaf dan kholaf itu apa?

    (saya jd pengen ketawa, abad ulama salaf berakhir pada kira2 akhir abad 2 Hijriyah sedangkan Ibnu Taimiyyah hidup pada abad 6 H hingga abad 7 H, hehehe kok bisa2nya mengklaim Ibnu Taimiyah dikafirkan oleh ulama salaf??? Brarti Ibnu Taimiyah mengalami reinkarnasi dong akh, makin keliatan kebodohan antum akibat ta’ashub ama kyainya)

    Sudahlah akhi kira, saran saya jgnlah dulu berkomentar mengenai dimana Allah. Antum carilah dulu apa itu makna salaf, apa itu makna kholaf. Baru boleh komen disini, okay.

    Barokallohu fiik

  13. kira says:

    wkwkwkwkwkwkwkkkk, makin lucu, ternyata gak berani nampakin komenku ya, gak ada yg bisa jawab ya? hanya karena ada sdikit kesalah di komen pertama ku jadi berani nampakin, kok sekarang tidak?????

    ya sudahlah, yg penting buat renungan Anda aja ya… kalo masih kurang jelas, kirim e-mail ke saya aja, tentang aqidah apalagi, itu yg terpenting,

  14. fhia says:

    Assalamu’alaykum..
    bamanakah jwbannya kija ada seseorg yg bertnya kpd qt,dimanakah ALLOH berada???

  15. dihyah says:

    @kira,

    Iya akh, setuju tuh sama akhi Tommi, antum belajar dulu deh apa makna salaf dan apa makna kholaf, jgn terburu2 membahas aqidah dimanakah Allah. Mana referensinya Ibnu Taimiyyah rahimahullah dikafirkan oleh ulama SALAF??? Ini dulu yg seharusnya antum hadirkan disini.

    Maaf ya akhi kira, kita ini bicara agama, tidak boleh sembarangan asal mengutip tapi tidak tau sumbernya darimana apalagi cuma ikut2an kata org. Bisa2 syaikhul islam menuntut antum nanti di yaumul hisab.

  16. Ummu Sufyan says:

    Kepada al-Akh Kira :

    Ab Hurairah radhiyallhu anhu pernah berkata, bahwa Raslullh Shallallhu alaihi wa Sallam bersabda:
    ?????????? ???????????? ???? ??????????? ?????????? ????????? ???? ???????? ????? ?????????? ????? ?????????? ??????? ???? ??????? ???? ??????? ???? ????? ?????????? ???? ?????????? ?????? ??????? ???????? ????????? ????? ???? ????? ????????? ??????????? ????????? ?????????? ??????? ????????? ????? ?????? ????? ??????? ???? ?????????? ?????????? ??????? ??? ??????? ??????? ???? ?????? ??? ???????? ??????? ?????? ?????? ??????? ??? ??????? ??????? ??????? ????????? ???????? ???????? ????? ????? ??? ?????????? ??????? ???????? ?????????? ??????? ???????????????? ??? ????????? ????? ???????????? ??? ??????????? ????? ?????? ?????????? ??????????? ??????? ?????????? ??????? ????????? ????????????? ????????? ???????? ?????????? ????????? ?????????? ?????????? ?????? ??????????? ???????? ????????? ????????? ?????????? .
    Sesungguhnya di dalam Surga ada seratus derajat (tingkatan) yang disiapkan Allh untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara dua derajat itu seperti (jarak) antara langit dan bumi. Maka jika kamu meminta kepada Allh, mintalah kepada-Nya Surga Firdaus karena itu Surga paling tengah dan paling tinggi, sedang di atasnya adalah Arsy Rabb Yang Rahmn, dan darinya mengalir sungai-sungai Surga.
    [Hadts Shahh, diriwayatkan oleh Imm al-Bukhri dalam Kitb at-Tauhd, Bab Wa Kna Arsyuhu alal M⒔, (IV/2700)]

    Imm Ibnu Khuzaimah rahimahullh mengomentari hadts tersebut: Khabar ini menjelaskan bahwa Arsy-Nya Rabb kita Jalla wa Al berada di atas Surga-Nya dan sesungguhnya Dia telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia bersemayam di atas Arsy-Nya.
    [Lihat Ibnu Khuzaimah dalam Kitb at-Tauhd, (I/231-289), Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Ijtimul Juysy al-Islmiyah, (48-61) dan Imm adz-Dzahabi dalam Mukhtashar al-Ulw, (hal. 81)]

    Ibnu Masd radhiyallhuanhu berkata:
    ?????????? ?????????? ?? ??????? ???????????? ?????????? ???????? ?? ???????? ?????????? ???????? ?? ????????? ???? ???????? ???? ?????? ???? ????? ?????????? ??????? ?????:”??? ?????? ?????????? ?????????? ????????? ???????? ????????? ?????? ??????? ?????? ????? ?????? ????? ??????? ????????? ?????? ??????? ?????? ????? ?????? ?????????? ???????????? ?????????????? ????????? ?????? ??????? ?????? ????? ?????? ????????????? ?????????? ????????? ?????? ??????? ?????? ??????????? ????? ????????? ????????? ????? ??????? ????? ????????? ???????? ??? ???????? ????????”.
    Arsy itu di atas air dan Allh Azza wa Jalla di atas Arsy, Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.
    [Hadts Shahh, diriwayatkan oleh ath-Thabrni dalam Mujmul Kabr, (no. 8987). Imm adz-Dzahbi dalam kitabnya Mukhtashar al-Ulw, (hal. 103) berkata: Sanadnya shahh. dan Syaikh Albni menyetujuinya]

    Para Shahabat dan orang-orang yang mengikuti manhaj mereka, telah beriman dengan itsbt (menetapkan) bahwa sesungguhnya Allh Azza wa Jalla istiw (bersemayam) di atas Arsy-Nya tanpa:
    1. Tahrif [?????] yaitu: merubah lafazh atau artinya.
    2. Tawl [?????] yaitu: memalingkan dari arti yang zhahir kepada arti yang lain.
    3. Tathl [?????] yaitu: Meniadakan atau menghilangkan sifat-sifat Allh baik sebagian maupun secara keseluruhannya.
    4. Tasybh [?????] yaitu: Menyerupakan Allh dengan makhluk.
    5. Takyf [?????] yaitu: Bertanya tentang kaifiyat (caranya).
    [Lihat Imam Al-Llikai dalam Syarh Ushl Itiqd Ahlus Sunnah wal Jamah, (II/398, III/431), Ad-D?rimi dalam Ar-Radd Alal Jahmiyah, (hal. 33), Ab Nuaim dalam Al-Hilyh (VI/325), Al-Baihaqi dalam Al-Asm wa Shift, (hal. 516), At-Tirmidzi (IV/692), al-Hfzh Syamsuddin adz-Dzahbiy dalam Muqaddimah al-Ulw lil Aliyyil Azhm, tahqiq: Abdullh bin Shlih al-Brak, cet. I, Riydh; Dr al-Wathn, thn. 1420 H, (hal. 7)]

    Berkata Imm Ibnu Khuzaimah rahimahullh:
    ???? ???? ???? ???? ?? ???? ?? ?????? ???? ??? ????, ?? ???? ???? ???? ??? ???? ???? ??? ???? ??? ??? ??? ???? ??????? ???????: ??? ?????? ??? ???? ?? ?????. ?????? ???? ??? ???? ??? ??? ???? ?????? ??? ????? ?? ?????? ???, ?????? ???? ??????? ???? ???? ?? ???? ???? ???????.

    Kami beriman kepada khabar Allh Jalla wa Al bahwa Pencipta kita bersemayam di atas Arsy-Nya. Kita tidak mengubah kalm Allh dan tidak mengatakan selain apa yang dikatakan kepada kita, tidak seperti Kaum Muaththilah Jahmiyah yang berkata: Sesungguhnya Dia istawla (berkuasa) atas Arsy-Nya, bukan istiw (bersemayam). Jadi, mereka mengganti dengan perkataan lain di luar apa yang dikatakan kepada mereka seperti apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi manakala mereka diperintah supaya mengatakan: Hiththatun (ampunkanlah dosa-dosa kami), tetapi mereka mengatakan: Hinthah (gandum)’, sehingga menyalahi perintah Allh Subhanhu wa Tala, demikian pula dengan kelompok Jahmyah.
    [Lihat Imm Ibnu Khuzaimah dalam At-Tauhd wa Itsbt Shiftir Rabb, tahqiq: Dr. Abdul Aziz bin Ibrhim asy-Syahwn, cet. Riydh; Dr ar-Rasyad, thn. 1408 H (I/231)]

    Imm Ab Zurah dan Ab Htim rahimahumallh berkata:
    Ahli Islm telah bersepakat untuk menetapkan sifat bagi Allh dan bahwasanya Allh di atas Arsy berpisah dari makhluk-Nya dan ilmu-Nya disetiap tempat. Barang siapa yang mengatakan selain ini maka baginya laknat Allh.
    [Lihat Imm al-Llikai dalam Syarh Ushl Itiqd Ahli Sunnah wal Jamah, (I/198)]

    Dan simaklah…! Alangkah bagusnya jawaban Imm Mlik rahimahullh ketika beliau ditanya, Bagaimana caranya Allh bersemayam di atas Arsy?
    Beliau menjawab:
    ???????? ??? ?????, ?????? ??? ?????, ???????? ?? ????, ??????? ??? ???? .
    Istiw-nya Allh malum (sudah diketahui maknanya), dan kaifiyat-nya majhl (tidak dapat dicapai nalar/tidak diketahui), dan beriman kepadanya wajib, dan bertanya tentang hal tersebut adalah perkara bidah, dan aku tidak melihatmu kecuali dalam kesesatan.
    Kemudian Imm Mlik rahimahullh menyuruh orang tersebut pergi dari majelisnya.
    [Lihat Imm adz-Dzahbi dalam Mukhtashar al-Ulw lil Aliyyil Azhm, tahqiq: Syaikh Nshiruddin al-Albni, (hal. 137 no. 119); Ibnu Abi al-'Izz dalam Syarhul Aqdah ath-Thahwiyyah, takhrij dan taliq: Syuaib al-Arnauth dan Abdullh bin Abdul Muhsin at-Turki, cet. Beirut; Muassasah ar-Rislah (hal. 386-387); Imm al-Llika-i dalam Syarh Ushl Itiqd Ahlus Sunnah wal Jamah, tahqiq: Dr. Ahmad bin Sad al-Ghmidi, cet. Riydh; Dr Thayyibah (III/398); Imm ash-Shbuni dalam ?qidatus Salaf Ash-habil Hadts, (hal. 17); Imm Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhd, tahqiq: Imaduddin Ahmad Haidar, cet. Muassasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, (VII/138); Ibnu Ab Zaid al-Qirwani dalam risalah-nya, dan Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam Ijtimul Juysy al-Islmiyyah, tahqiq: Basyir Muhammad Uyun, cet. Beirut; Maktabah Drul Bayn (hal. 83), Imm Zainuddn Mar bin Ysuf al-Karimi al-Maqdisi dalam Aqwl ats-Tsiqt f Tawl al-Asm wa as-Shift wa al-Ayt al-Muhkamt wa Musytabiht, tahqq: Syuaib al-Arnauth, cet. I, Beirut; Muassasah ar-Rislah, thn. 1406 H, (hal. 120), Syaikhul Islm Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa, (V/360), al-Hfizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bri, (XIII/406)]

    Imm ath-Thahwi rahimahullh berkata:
    Allh tidak membutuhkan Arsy dan apa yang ada dibawahnya. Allh menguasai segala sesuatu dan apa yang ada diatasnya. Dan Dia tidak memberi kemampuan kepada makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.
    Beliau menjelaskan bahwa Allh menciptakan Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allh membutuhkan Arsy tetapi Allh memiliki hikmah tersendiri tentang hal itu. Bahkan sebaliknya, sekalian makhluk termasuk Arsy bergantung kepada Allh Jalla wa Al.
    [Lihat Imm al-Qadhi Ali bin Ali bin Muhammad bin Abdil Izz ad-Dimasyqi dalam Syarh Aqidah at-Thahwiyah, (hal. 372)]

    Abdurrahmn bin Ab Htim ar-Rzi rahimahullh berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Ab Syuaib dan Ab Tsaur, dari Ab Abdillh Muhammad bin Idris asy-Syfii rahimahullh, ia berkata: Sesungguhnya Allh Tala di atas Arsy-Nya mendekat kepada makhluk-Nya sebagaimana yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Allh Tala turun ke langit dunia sebagaimana yang Dia kehendaki.
    [Lihat Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam Ijtimul Juysy al-Islmiyah, (hal. 94) dan Imm adz-Dzahabi dalam Mukhtashar al-Ulw, (hal. 176)]

    Dan telah berkata Syaikhul Islm al-Imm Abdul Qdir Jailani rahimahullh:
    Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Dia berada di setiap tempat. Bahkan (wajib) mengatakan, Sesungguhnya Dia di atas langit (yakni) di atas Arsy sebagaimana telah Dia firmankan: Ar-Rahmn bersemayam di atas Arsy. (QS. Thh: 5). Dan patutlah memutlakkan sifat istiw tanpa tawil, sesungguhnya Dia bersemayam (istiw) dengan Dzat-Nya di atas Arsy. Dan keadaan-Nya di atas Arsy telah tersebut pada setiap kitab yang Dia turunkan kepada setiap Nabi yang Dia utus tanpa (bertanya), Bagaimana caranya Allh bersemayam di atas Arsy-Nya?
    [Lihat Syaikhul Islm Ibnu Taimiyyah dalam Fatw Hamawiyyah Kubr, (hal. 87)]

    Maka, Ahlus Sunnah didalam menyikapi lafazh istawa’, mereka itsbat (menetapkannya) yang merupakan salah satu dari sifat Allah, dan mereka mengetahui maknanya dari bahasa Arab, adapun kaifiyah (cara atau hakikat) istaw-Nya mereka tafwidh atau menyerahkannya kepada Allah, karena tidak ada satu pun dalil yang menerangkan hal itu.
    [Lihat Syaikh al-Allmah Muhammad bin Shlih al-Utsaimn dalam Syarh al-Aqdah al-Wsithyah, (I/93), Syaikh al-Albni dalam At-Talqt as-Saniyah Syarh Ushl ad-Dawah as-Salafiyah, talq: Amr Abdul Munim Sulaim, cet. I, al-Riyadh; Dr adh-Dhiya, thn. 1422 H]

    Wallahu a’lam bishowab.

  17. abu fauzan says:

    afwan, ijin copas

  18. Budi says:

    Allah berada diatas makluknya yaitu arsyi, dan Allah juga bersama makluknya dimana mereka berada. ini menunjukkan pada kita bahwa Allah SAW memiliki ke-ilmuan yang teramat tinggi dan agung, sehingga bisa bersama makluknya walaupun berada di tempat yang amat tinggi. seperti halnya perkataan Allah SAW ” …..Allah lebig dekat dari urat lehermu ….”

  19. Saya ingin mengingatkan bahwa diskusi ini membahas seputar Dimana Allah ? check poinnya pada kata Dimana. Baik, saya berikan simulasi:

    Simulasi I:

    Budi bertanya kepada Iwan: Dek, dimana kak Wati?
    Jawab Iwan: Kak Wati di kamar.

    Simulasi II:

    Budi bertanya kepada Iwan: Dek, dimana kak Wati?
    Jawab Iwan: Kak Wati dekat, mas
    Lho, saya tidak menanyakan tentang kak Wati lagi dekat sini atau tidak, dek, yang saya tanyakan kak Wati sekarang berada dimana? timpal Budi.

    Cukup jelas bukan? ketika ada pertanyaan dimana tentu saja yang dimaksud adalah menanyakan tempat, oleh karena itu hadist tentang budak perempuan yang ditanyakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: dimana Allah dan jawabannya: Di atas langit. Dan jawaban budak tersebut langsung dibenarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Adakah jawaban tersebut dianggap salah oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? coba simak hadits tersebut dengan seksama:

    Beliau bertanya kepada budak perempuan itu: Dimanakah Allah? Jawab budak perempuan: Di atas langit. Beliau bertanya lagi: Siapakah aku? Jawab budak perempuan: Engkau adalah Rasulullah. Beliau bersabda: Merdekakan dia! Karena sesungguhnya dia seorang muminah (perempuan yang beriman). (HR. Muslim dan lainnya)

    Cek poin pada hadits di atas berkaitan dengan pembahasan kita:

    Allah berada di atas langit. (Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membenarkan jawaban budak perempuan tersebut.)
    Mengakui bahwa Allah berada di atas langit (arsy) merupakan ciri-ciri seorang mukmin/mukminah.

    Dalil dari hadits lainnya:

    Apakah kalian tidak mempercayaiku, sedangkan aku dipercaya oleh Allah yang ada di atas langit? (Muttafaqun Alaihi)

    Itu dalil dari 2 hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dan banyak hadits lainnya yang menguatkan hal tersebut yang tidak disebutkan disini.

    Dalil dari Al Quran pun sangat banyak, baik tersirat maupun tersurat yang menguatkan bahwa Allah berada di atas langit (ingat perhatikan kata di atas dan bukan di dalam (langit)). Berikut kami sitir sedikit saja:

    AYAT I

    Lalu Allah bersemayam di atas Arsy. (QS. Al-A raaf: 54)

    AYAT II

    Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy. (QS. Thaahaa: 5)

    ayat 1 dan ayat ke 2 di atas saya kira sudah cukup jelas. Sekarang kita perhatikan ayat ke 3:

    AYAT III

    Dan Firaun berkata: Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui ada Ilah bagimu selain aku. Maka bakarlah wahai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta. (QS. Al-Qashash: 38)

    Ayat ke 3 di atas sungguh gamblang sekali siratan maknanya tentang keberadaan Allah. Dari ayat ke 3 di atas dapatlah kita ketahui bahwa salah satu dakwah nabi Musa adalah: Mengimani bahwa Allah berada di atas Langit (di Arsy). Akan tetapi dakwaan nabi Musa tersebut disangkal dan didustakan oleh Firaun, dan bahkan Firaun mencap bahwa nabi Musa seorang pendusta. Oleh karena itu, Firaun dengan sombongnya menyuruh pembantunya; Haman, untuk membuatkan bangunan yang tinggi agar dia dapat naik ke atasnya untuk membuktikan dakwahan nabi Musa bahwa Allah itu berada di atas langit.

    Cek Poin pada ayat ke 3 di atas:

    Mengimani bahwa Allah berada di atas Langit (di Arsy) adalah dakwah nabi Musa kepada Firaun dan kaumnya.
    Tidak mempercayai bahwa Allah di atas arsy merupakan aqidahnya Firaun.

    Saya kira ayat di atas cukup jelas, dan tidak membutuhkan takwil-takwilan.

    Dan kemudian. Kisah Isra dan Miraj Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga merupakan dalil yang kuat tentang dimana Allah. Dan saya yakin, semua pembaca website ini sudah pernah membaca kisah Isra dan Miraj Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kisah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diangkat ke langit hingga langit ketujuh dan kemudian ke atas lagi sampai sidratul muntaha menghadap Allah. Bagi Anda yang menyangkal bahwa Allah berada di atas Arsy, coba Anda jelaskan kisah Isra dan Miraj ini. dan coba jelaskan ayat-ayat dan hadits-hadits yang sudah saya sebutkan di atas :)

    Kemudian mengenai ayat QS. Al-Baqoroh: 186 yang dijadikan dalil oleh akhi Agus dan ukhti Erlina. Coba kita perhatikan teks ayat tersebut:

    Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqoroh: 186)

    Lihat teks ayat di atas. Perhatikan bagian: Wa idza sa alaka ibaadiy anniy

    Perhatikan kata anniy yang diartikan Tentang Aku. Pertanyaan tersebut bukan pertanyaan tentang dimana Aku. tapi tentang Aku. yaitu pertanyaan tentang sifat Allah. Dan itu dijelaskan dan dikuatkan dengan ayat selanjutnya: fa inni qoriibun yang diartikan maka (jawablah) bahwasanya Aku Maha Dekat dan kemudian ayat ini dikuatkan dengan kelanjutan ayat: .Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

    Dan ketahuilah wahai saudaraku bahwa aqidah Islam yang menjelaskan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tidaklah bertentangan dengan QS. Al-Baqoroh: 186, justru ayat-ayat tentang Asma dan Sifat Allah tersebut saling menjelaskan. Ketahuilah Allah itu Maha Besar, dan kita ini sangat kecil di hadapan-Nya, Allah Maha Kuasa dan kita ini sangat lemah di hadapan-Nya. Boleh jadi kita katakan bahwa arsy Allah itu jauuuuuuuuuuhhhhh sekali jaraknya ditinjau dari perspektif kita, akan tetapi semuanya kecil bagi Allah. Kita manusia dan semua mahluk-Nya dibatasi oleh ruang dan waktu akan tetapi tidak bagi Allah.

    Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. (QS. Asy-Syuura: 11)

  20. ALDIEN says:

    inilah yang perlu di baca setiap muslim yang betul-betul menginginkan kemurnian Aqidah,Imam Ibn Tamiyiah adalah benar-benar sosok Mujadid,Mujtahid dan Mujahid.Kalau Masih ada yang ragu tentang Alloh diatas Arasy,tanyakan lagi pada UStadz2 kenapa Isro’ Miraj nabi ke Langit,kenapa kalau berdoa tangan kita menghadap ka atas dan kenapa semua orang bilang bahkan non muslim juga berkata TERGANTUNG YANG DIATAS,

  21. khirmaen Thea says:

    asalamu’alaikum
    klo dlm artikel d atas bahwa Allah berada d atas arasy, kmudian bgmna dngn ayat bahwa Allah lbih dkt dri urat nadi/batang tenggorokan. mohon penjelasannya trmksh….
    wassalam

  22. Abie says:

    Ayat-ayat Al-Qur’an itu ada yang muhkamat (jelas) dan ada yang mutasyabihat (samar). Orang2 yg ada penyakit didalam hatinya mereka cenderung kepada yang mutasyabihat untuk mencari-cari ta’wilnya.
    Keterbatasan akal pikiran manusia tidak dapat memikirkan sesuatu yang ghaib (yg tdk dapat di indera)termasuk memikirkan Dzat Allah, kita diperintahkan mengimani yg ghaib sedangkan kunci-kunci yg ghaib hanya ada pada Allah. Krn satu-satunya yg memiliki sifat ‘alimul ghaib (mengetahui yg ghaib) hanyalah Allah. Bahkan Rasulullah SAW tidak mengetahui yg ghaib melainkan sedikit saja yg diberikan oleh Allah. Ingatlah bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu apalagi sesuatu yg digambarkan oleh akal pikiran kita yg sejengkal saja.
    Allah maha melihat dan maha mendengar, secara bodoh akal kita refleks akan memikirkan tentang mata dan telinga.
    Bukan demikian wahai saudara2ku.
    Didalam Al-Qur’an telah diberikan petunjuk bahwa Allah Istwa diatas Arsy yg berada diatas langit. That’s it, jgn tanya lagi Arsy itu apa, bentuknya seperti apa, bagaimana, terbuat dari apa dll.
    Janganlah kamu menanyakan sesuatu kepada Nabi mu yang apabila diterangkan kepadamu akan membuatmu menjadi susah, apabila km menanyakannya pada saat Al-Qur’an diturunkan niscaya akan dijelaskan kepadamu…..
    Allah yahdina insya Allah dan Semoga aqidah kita dibersihkan oleh Allah dari benih-benih syirik dan bid’ah.

  23. bagaimana dengan ayat ini????
    Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah [83]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
    (QS. Al Baqarah 115)

Leave a Reply