Infertilitas Pasutri (1)

Tidak lengkap rasanya sebuah keluarga tanpa kehadiran seorang anak. Celoteh, tangis, kemanjaan, dan kerewelan seorang anak bahkan adalah lantunan kehidupan yang mampu menggelorakan cinta dan semangat hidup kedua orangtuanya. Bukankah salah satu tujuan pernikahan adalah meneruskan keturunan? Apalagi bila buah hati yang dinanti adalah generasi yang diharapkan kelak bisa dididik menjadi seorang hamba Allah yang shalih.

Anak adalah salah satu nikmat dari Allah. Maka, saat sang buah hati yang dinanti belum juga dikaruniakan oleh-Nya, hendaklah sepasang suami-istri tetap ber-husnuzhon (berprasangka baik) dan ridha akan ketetapan Rabb-nya. Meski demikian, baik suami maupun istri hendaknya tetap terus berusaha dan berdoa. Bukan hanya sekedar doa memohon kehadiran seorang anak, tetapi kehadiran anak-anak yang shalih dan shalihah.

Salah satu usaha yang bisa dilakukan adalah dari segi kesehatan. Bisa jadi ada sebab atau penyakit tertentu yang menyebabkan suami-istri tersebut sulit memiliki keturunan. Istilah yang mungkin sering kita dengar adalah “infertilitas”. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan infertilitas?

Pada dasarnya, infertilitas adalah ketidakmampuan secara biologis dari seorang laki-laki atau seorang perempuan untuk menghasilkan keturunan. Infertilitas juga berarti perempuan yang bisa hamil namun tidak sampai melahirkan sesuai masanya (37-42 minggu). Dalam bahasa awam, infertil disebut juga tidak subur.

Definisi Infertilitas

Menurut dokter ahli reproduksi, sepasang suami-istri dikatakan infertil jika:

  • Tidak hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur kurang dari 34 tahun.
  • Tidak hamil setelah 6 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur lebih dari 35 tahun.
  • Perempuan yang bisa hamil namun tidak sampai melahirkan sesuai masanya (37-42 minggu).

Infertilitas Primer vs Infertilitas Sekunder

Infertilitas sendiri ada dua macam, yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Pasangan dengan infertilitas primer tidak bisa hamil sedangkan infertilitas sekunder adalah sulit untuk hamil setelah sudah pernah sekali hamil dan melahirkan secara normal sebelumnya.

Kejadian Kasus Infertilitas

  • Secara umum, di dunia diperkirakan 1 dari 7 pasangan bermasalah dalam hal kehamilan.
  • Di Indonesia, angka kejadian perempuan infertil 15% pada usia 30-34 tahun, meningkat 30 % pada usia 35-39 tahun dan 64 % pada usia 40-44 tahun.
  • Berdasar survei kesehatan rumah tangga tahun 1996, diperkirakan ada 3,5 juta pasangan (7 juta orang) yang infertil. Mereka disebut infertil karena belum hamil setelah setahun menikah. Kini, para ahli memastikan angka infertilitas telah meningkat mencapai 15-20 persen dari sekitar 50 juta pasangan di Indonesia.
  • Penyebab infertilitas sebanyak 40% berasal dari pria, 40% dari wanita, 10% dari pria dan wanita, dan 10% tidak diketahui.

Penyebab Infertilitas

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi infertilitas, antara lain:
  2. Umur.
  3. Lama infertilitas.
  4. Emosi.
  5. Lingkungan.
  6. Hubungan seksual.
  7. Kondisi sosial dan ekonomi.
  8. Kondisi reproduksi wanita, meliputi cervix, uterus, dan sel telur.
  9. Kondisi reproduksi pria, yaitu kualitas sperma dan seksualitas.
  10. Penyebab lain.

(1) Umur

Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase menopause.

Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut menarche) dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin, dan timbunan lemak di pinggul. Fase pubertas wanita terjadi pada umur 11-13 tahun. Adapun fase menopause adalah fase di saat haid berhenti. Fase menopause terjadi pada umur 45-55 tahun.

Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur. Semenjak wanita mengalami menarche sampai menopause, wanita mengalami menstruasi secara periodik yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur menipis dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkan pun menurun sehingga tingkat keguguran meningkat. Sampai pada akhirnya kira-kira umur 45 tahun sel telur habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi alias tidak dapat hamil lagi. Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah atau USG saat menstruasi hari ke-2 atau ke-3.

(2) Lama Infertilitas

Berdasarkan laporan klinik fertilitas di Surabaya, lebih dari 50% pasangan dengan masalah infertilitas datang terlambat. Terlambat dalam artian umur makin tua, penyakit pada organ reproduksi yang makin parah, dan makin terbatasnya jenis pengobatan yang sesuai dengan pasangan tersebut.

(3) Emosi

Stres memicu pengeluaran hormon kortisol yang mempengaruhi pengaturan hormon reproduksi.

(4) Lingkungan

Paparan terhadap racun seperti lem, bahan pelarut organik yang mudah menguap, silikon, pestisida, obat-obatan (misalnya: obat pelangsing), dan obat rekreasional (rokok, kafein, dan alkohol) dapat mempengaruhi sistem reproduksi. Kafein terkandung dalam kopi dan teh.

(5) Hubungan Seksual

Penyebab infertilitas ditinjau dari segi hubungan seksual meliputi: frekuensi, posisi, dan melakukannya pada masa subur.

(6) Frekuensi

Hubungan intim (disebut koitus) atau onani (disebut masturbasi) yang dilakukan setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang dianjurkan adalah 2-3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memproduksi sperma dalam jumlah cukup dan matang.

(7) Posisi

Infertilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas, yaitu dilakukan dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi. Penetrasi adalah masuknya penis ke vagina sehingga sperma dapat dikeluarkan, yang nantinya akan bertemu sel telur yang “menunggu” di saluran telur wanita. Penetrasi terjadi bila penis tegang (ereksi). Oleh karena itu gangguan ereksi (disebut impotensi) dapat menyebabkan infertilitas. Penetrasi yang optimal dilakukan dengan cara posisi pria di atas, wanita di bawah. Sebagai tambahan, di bawah pantat wanita diberi bantal agar sperma dapat tertampung. Dianjurkan, setelah wanita menerima sperma, wanita berbaring selama 10 menit sampai 1 jam bertujuan memberi waktu pada sperma bergerak menuju saluran telur untuk bertemu sel telur.

(8) Masa Subur

Marak di tengah masyarakat bahwa supaya bisa hamil, saat berhubungan seksual wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena kehamilan terjadi bila sel telur dan sperma bertemu. Hal yang juga perlu diingat adalah bahwa sel telur tidak dilepaskan karena orgasme. Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap menstruasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut ovulasi. Sel telur kemudian menunggu sperma di saluran telur (tuba falopi) selama kurang-lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.

Cara untuk mengetahui masa subur antara lain:

  1. Dengan memperhatikan keluarnya lendir mulut rahim yang dapat diraba dengan jari (pastikan jari bersih untuk mencegah terjadinya infeksi). Pada saat subur, keluarlah cairan bening seperti putih telur sehingga kelamin terkesan basah. Banyak wanita menganggap hal itu sebagai keputihan. Di luar saat subur, lendir mulut rahim hanya sedikit dan lebih kental sehingga kelamin terkesan kering.
  2. Dengan mengukur suhu tubuh setiap pagi sebelum bangun tidur selama beberapa bulan siklus menstruasi (biasanya sampai tiga bulan). Tanda ovulasi adalah apabila terjadi sedikit kenaikan suhu tubuh pada pertengahan siklus haid. Suhu tubuh itu disebut sebagai suhu basal tubuh, yaitu suhu tubuh dalam kondisi istirahat penuh. Peningkatan suhu tubuh yang jelas, walalupun sedikit (sekitar 0,2-0,5 °C), terjadi karena produksi hormon progesteron yang muncul segera setelah ovulasi. Pemeriksaan meliputi pengukuran suhu tubuh setiap pagi pada waktu bangun tidur, dan dicatat pada suatu grafik khusus (bisa didapatkan dari dokter). Cara mengukur sendiri suhu basal tubuh:
    • Guncang termometer (termometer dapat dibeli di apotek) hingga di bawah 36 °C, dan siapkan termometer di dekat tempat tidur Anda sebelum tidur.
    • Saat terbangun di pagi hari, letakkan termometer di mulut anda (termometer oral) selama 10 menit. Penting untuk Anda ingat adalah jangan banyak bergerak. Tetaplah berbaring dan istirahat dengan mata tertutup. Jangan bangun selama 10 menit hingga selesai pengukuran.
    • Setelah 10 menit, bacalah dan catat suhu tubuh Anda pada grafik saat tanggal pemeriksaan itu.
  3. Dengan memeriksa lendir rahim di bawah mikroskop. Pada saat subur akan tampak bentukan seperti daun pakis yang sempurna.
  4. Dengan pemeriksaan USG melalui vagina. Dengan pemeriksaan USG melalui vagina dapat dilihat dengan jelas sel telur yang sudah dilepaskan dari indung telur.

(9) Kondisi Sosial dan Ekonomi

Kondisi Sosial dan ekonomi yang semakin buruk akan memperbesar kemungkinan terjadinya infertilitas.

Bersambung insya Allah…

Referensi:

  • Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006
  • Seleksi Pasutri pada Kasus Infertilitas, oleh: H. Soehartono DS.
  • Skor Infertilitas Surabaya (Berdasarkan Faktor Risiko), oleh: Samsul Hadi.
  • Vitahealth. 2008. Infertil: Informasi Lengkap Untuk Penderita dan Keluarganya. Jakarta: Gramedia.
  • www.kesrepro.info.net
  • www.klinikyasmin.co.id
  • www.mhhe.com
  • www.wikipedia.com

***

Penulis: dr. Ian Danny Kurniawan (Abu ‘Ammar)
Artikel muslimah.or.id

28 Komentar untuk “Infertilitas Pasutri (1)”

Halaman Komentar: [2] 1 » Show All

  1. Nuryani
    20th March 2012 pada waktu 01:12

    Oiya, maksud saya, saat ini umur saya hampir 45 tahun. Terima kasih.

  2. Nuryani
    20th March 2012 pada waktu 01:10

    Saya baru menikah 2 tahun lalu umur saya hampir 45 tahun. Saya dan suami sudah mencoba memiliki anak dengan proses bayi tabung, namun sudah 2 kali mencoba tetap gagal krn kondisi sel telur saya.
    Saat treatment 1, ada 4 sel telur yang dapat diambil utk dipertemukan dgn sperma suami, tapi gagal.
    saat treatment 2, hanya ada 1 sel dan gagal juga. Apakah kondisi ini mencerminkan bahwa saya sudah tidak ada harapan lagi utk memiliki anak ? kondisi suami saya sama sekali tidak bermasalah, karena dia berasal dari keluarga besar dan sdh memiliki 4 orang anak dari perkawinannya yg pertama.
    Saya ingin sekali punya anak dan merasa menjadi wanita normal dlm perkawinan ini. Saya tunggu informasinya di email pribadi saya. Terima kasih banyak.

  3. tari
    15th February 2012 pada waktu 09:23

    assalaamualaikum wr wb, saya menikah selama 4 bulan.pada awal menikah saya minum pil kb selama krg lebih 2 minggu. tapi setelah saya bilang pada suami bahwa saya ingin cepat punya anak, kami sepakat saya berhenti menggunakan pil kb. beberapa wktu kami pergi ke dr kandungan dan usg kata dr ada kemungkinan saya hamil, dr menyarankan lagi agar saya cek lagi setelah pada tanggal siklus mens saya. sebenarnya saya sudah sangat berharap tetapi pada tanggal siklus menstruasi saya. ternyata saya haid lagi dan sangat kecewa. suami saya berada 2 minggu di rumah setiap bulannya, karena 2 minggu kemudian akan kerja di luar kota. begitu seterusnya, apakah ini mempengaruhi kami dalam berhubungan seksual? oiy pada awal pernikahan, kedua kalinya berhubungan saya miss V mengeluarkan darah. tapi anehnya setelah suami saya bekerja selama 2 minggu dan kami berhubungan lagi miss V saya berdarah lagi dan terjadi selama 2 kali masa kerja suami saya padahal tidak sedang mens. meskipun akhir2 ini sudah tidak keluar darah pada miss V saat berhubungan.apa penyebab hal itu??? saya juga takut karena pernah memelihara kucing yang terkenal bisa menularkan penyakit yg menyebabkan virus yg jadi momok bagi wanita. saya sangat takut, apa yg harus kami lakuakan agar bisa cepat punya keturunan???dan hal ini membuat saya sangat gelisah setiap hari. tolong jawab ke email saya.terima kasih banyak.

  4. Herry herwanda
    4th January 2012 pada waktu 21:36

    Assalaamu’alaikum wr wb,sy menikah lebih kurang sudah 8th,tetapi blm dikaruniai anak oleh Allah swt,dulu istri sy pernah hamil di luar kandungan,dr.menyarankan utk di operasi(K E T),setelah 1th,kami melakukan pemeriksaan HSG,hasilnya ternyata nonpaten kedua tuba,dr.menyarankan jika ingin punya anak harus bayi tabung,kami blm puas dg hasil ini,akhir kami konsultasi ke dr.kandungan yg lain,ternyata hasilnya sama jg,nonpaten kedua tuba,dan ternyata tubapalopi istri sy yg satunya telah di angkat(di buang) sy tdk tahu persis apakah yg sebelah kiri atau kanan,dan rupanya tuba yg satunya lg mengalami penyumbatan/buntu,yg ingin sy tanyakan apakah ada solusi lain utk istri sy selain bayi tabung?krn kami berdua sangat2 mendambakan sekali seorang anak,apakah istri sy harus di laparascopi?kalau memang harus di laparascopi,kira2 brpkah biayanya dok?dan di rmh sakit mana kami harus di rujuk,mhn infonya dok,syukron…

  5. rakhma
    23rd November 2011 pada waktu 10:15

    cover buka apa se yang di buat reverensi?????

  6. mayang
    17th November 2011 pada waktu 11:23

    aq pernah melahirkan anak 9 thun lalu dan skrng pengen pnya ank lg,tp aq merasa sngt kesulitan untuk hamil,,

  7. nina
    14th November 2011 pada waktu 15:07

    makanan apa saja yang bisa memperlambat masa menopause ? mengingat usia sy skr 41 tahn, tp Tuhan blm jg sy keturunan, pdhl berbagai usaha sdh sy lakukan, mulai dari medis sampe alternatif

  8. azma
    22nd July 2011 pada waktu 09:25

    jadi pil KB jg biza di gunakan oleh wanita yg blom berkelurga yg mengalami nyeri haid yg hebat ???

Halaman Komentar: [2] 1 » Show All

Berikan komentar

donasi muslimah
Toko Muslim Islam Download Your Ads Radio Muslim UmmiUmmi.com Donasi Buletin KonsultasiSyariah Yufid.com

Arsip

Buletin Tauhid

Design by cizkah powered by Wordpress