Indahnya Cinta Karena Allah

بسم الله الرحمن الرحيم

Penulis: Ummul Hasan
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.

“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.”


Secara nalar pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain dibandingkan diri kita? Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepada saudara kita?

Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dalam syarah beliau terhadap hadits diatas (selengkapnya, lihat di Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah).

(“Tidaklah seseorang beriman” maksudnya adalah -pen). Para ulama berkata, “yakni tidak beriman dengan keimanan yang sempurna, sebab jika tidak, keimanan secara asal tidak didapatkan seseorang kecuali dengan sifat ini.”

Maksud dari kata “sesuatu bagi saudaranya” adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i.

“…hingga dia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan sebagaimana dia mencintai jika hal itu terjadi bagi dirinya.”

Syaikh Abu Amru Ibnu Shalah berkata, “Hal ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan mustahil, padahal tidaklah demikian, karena makna hadits ini adalah tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai bagi keislaman saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya. Menegakkan urusan ini tidak dapat direalisasikan dengan cara menyukai jika saudaranya mendapatkan apa yang dia dapatkan, sehingga dia tidak turut berdesakan dengan saudaranya dalam merasakan nikmat tersebut dan tidak mengurangi kenikmatan yang diperolehnya. Itu mudah dan dekat dengan hati yang selamat, sedangkan itu sulit terjadi pada hati yang rusak, semoga Allah Ta’ala memaafkan kita dan saudara-saudara kita seluruhnya.”

Abu Zinad berkata, “Sekilas hadits ini menunjukkan tuntutan persamaan (dalam memperlakukan dirinya dan saudaranya), namun pada hakekatnya ada tafdhil (kecenderungan untuk memperlakukan lebih), karena manusia ingin jika dia menjadi orang yang paling utama, maka jika dia menyukai saudaranya seperti dirinya sebagai konsekuensinya adalah dia akan menjadi orang yang kalah dalam hal keutamaannya. Bukankah anda melihat bahwa manusia menyukai agar haknya terpenuhi dan kezhaliman atas dirinya dibalas? Maka letak kesempurnaan imannya adalah ketika dia memiliki tanggungan atau ada hak saudaranya atas dirinya maka dia bersegera untuk mengembalikannya secara adil sekalipun dia merasa berat.”

Diantara ulama berkata tentang hadits ini, bahwa seorang mukmin satu dengan yang lain itu ibarat satu jiwa, maka sudah sepantasnya dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya karena keduanya laksana satu jiwa sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:

“Orang-orang mukmin itu ibarat satu jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Muslim)

“Saudara” yang dimaksud dalam hadits tersebut bukan hanya saudara kandung atau akibat adanya kesamaan nasab/ keturunan darah, tetapi “saudara” dalam artian yang lebih luas lagi. Dalam Bahasa Arab, saudara kandung disebut dengan Asy-Asyaqiiq ( الشَّّقِيْقُ). Sering kita jumpa seseorang menyebut temannya yang juga beragama Islam sebagai “Ukhti fillah” (saudara wanita ku di jalan Allah). Berarti, kebaikan yang kita berikan tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin, karena sesungguhnya kaum muslim itu bersaudara.

Jika ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin kita menerapkan hal ini sekarang? Sekarang kan jaman susah. Mengurus diri sendiri saja sudah susah, bagaimana mungkin mau mengutamakan orang lain?”

Wahai saudariku -semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita diatas keimanan-, jadilah seorang mukmin yang kuat! Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai Allah. Seberat apapun kesulitan yang kita hadapi sekarang, ketahuilah bahwa kehidupan kaum muslimin saat awal dakwah Islam oleh Rasulullah jauh lebih sulit lagi. Namun kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh melebihi kesedihan mereka pada kesulitan hidup yang hanya sementara di dunia. Dengarkanlah pujian Allah terhadap mereka dalam Surat Al-Hasyr:

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar(ash-shodiquun). Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9)

Dalam ayat tersebut Allah memuji kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk memperoleh kebebasan dalam mewujudkan syahadat mereka an laa ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah. Mereka meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan harta yang telah mereka kumpulkan dengan jerih payah. Semua demi Allah! Maka, kaum muhajirin (orang yang berhijrah) itu pun mendapatkan pujian dari Allah Rabbul ‘alamin. Demikian pula kaum Anshar yang memang merupakan penduduk Madinah. Saudariku fillah, perhatikanlah dengan seksama bagaimana Allah mengajarkan kepada kita keutamaan orang-orang yang mengutamakan saudara mereka. Betapa mengagumkan sikap itsar (mengutamakan orang lain) mereka. Dalam surat Al-Hasyr tersebur, Allah memuji kaum Anshar sebagai Al-Muflihun (orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat) karena kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka (kaum Anshar) sebenarnya juga sedang berada dalam kesulitan. Allah Ta’aala memuji orang-orang yang dipelihara Allah Ta’aala dari kekikiran dirinya sebagai orang-orang yang beruntung. Tidaklah yang demikian itu dilakukan oleh kaum Anshar melainkan karena keimanan mereka yang benar-benar tulus, yaitu keimanan kepada Dzat yang telah menciptakan manusia dari tanah liat kemudian menyempurnakan bentuk tubuhnya dan Dia lah Dzat yang memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendaki oleh-Nya serta menghalangi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki.

Tapi, ingatlah wahai saudariku fillah, jangan sampai kita tergelincir oleh tipu daya syaithon ketika mereka membisikkan ke dada kita “utamakanlah saudaramu dalam segala hal, bahkan bila agama mu yang menjadi taruhannya.” Saudariku fillah, hendaklah seseorang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi agamanya. Misalkan seorang laki-laki datang untuk sholat ke masjid, dia pun langsung mengambil tempat di shaf paling belakang, sedangkan di shaf depan masih ada tempat kosong, lalu dia berdalih “Aku memberikan tempat kosong itu bagi saudaraku yang lain. Cukuplah aku di shaf belakang.” Ketahuilah, itu adalah tipu daya syaithon! Hendaklah kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan agama kita. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 148)

Berlomba-lombalah dalam membuat kebaikan agama, bukan dalam urusan dunia. Banyak orang yang berdalih dengan ayat ini untuk menyibukkan diri mereka dengan melulu urusan dunia, sehingga untuk belajar tentang makna syahadat saja mereka sudah tidak lagi memiliki waktu sama sekali. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menjaga diri kita agar tidak menjadi orang yang seperti itu.

Wujudkanlah Kecintaan Kepada Saudaramu Karena Allah

Mari kita bersama mengurai, apa contoh sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara kita yang juga kita cintai bagi diri kita…

Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

Pada hakekatnya ucapan salam merupakan do’a dari seseorang bagi orang lain. Di dalam lafadz salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” terdapat wujud kecintaan seorang muslim pada muslim yang lain. Yaitu keinginannya agar orang yang disapanya dengan salam, bisa memperoleh keselamatan, rahmat, dan barokah. Barokah artinya tetapnya suatu kebaikan dan bertambah banyaknya dia. Tentunya seseorang senang bila ada orang yang mendo’akan keselamatan, rahmat, dan barokah bagi dirinya. Semoga Allah mengabulkan do’a tersebut. Saudariku fillah, bayangkanlah! Betapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan kepada saudara kita sesama muslim bila setiap bertemu dengan muslimah lain -baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal- kita senantiasa menyapa mereka dengan salam. Bukankah kita pun ingin bila kita memperoleh banyak do’a yang demikian?! Namun, sangat baik jika seorang wanita muslimah tidak mengucapkan salam kepada laki-laki yang bukan mahromnya jika dia takut akan terjadi fitnah. Maka, bila di jalan kita bertemu dengan muslimah yang tidak kita kenal namun dia berkerudung dan kita yakin bahwa kerudung itu adalah ciri bahwa dia adalah seorang muslimah, ucapkanlah salam kepadanya. Semoga dengan hal sederhana ini, kita bisa menyebar kecintaan kepada sesama saudara muslimah. Insya Allah…

Bertutur Kata yang Menyenangkan dan Bermanfaat

Dalam sehari bisa kita hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sekedar berkumpul-kumpul dan ngobrol dengan teman. Seringkali obrolan kita mengarah kepada ghibah/menggunjing/bergosip. Betapa meruginya kita. Seandainya, waktu ngobrol tersebut kita gunakan untuk membicarakan hal-hal yang setidaknya lebih bermanfaat, tentunya kita tidak akan menyesal. Misalnya, sembari makan siang bersama teman kita bercerita, “Tadi shubuh saya shalat berjamaah dengan teman kost. Saya yang jadi makmum. Teman saya yang jadi imam itu, membaca surat Al-Insan. Katanya sih itu sunnah. Memangnya apa sih sunnah itu?” Teman yang lain menjawab, “Sunnah yang dimaksud teman anti itu maksudnya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang disunnahkan untuk membaca Surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at.” Lalu, teman yang bertanya tadi pun berkata, “Ooo… begitu, saya kok baru tahu ya…” Subhanallah! Sebuah makan siang yang berubah menjadi “majelis ilmu”, ladang pahala, dan ajang saling memberi nasehat dan kebaikan pada saudara sesama muslimah.

Mengajak Saudara Kita Untuk Bersama-Sama Menghadiri Majelis ‘Ilmu

Dari obrolan singkat di atas, bisa saja kemudian berlanjut, “Ngomong-ngomong, kamu tahu darimana kalau membaca surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at itu sunnah?” Temannya pun menjawab, “Saya tahu itu dari kajian.” Alhamdulillah bila ternyata temannya itu tertarik untuk mengikuti kajian, “Kalau saya ikut boleh nggak? Kayaknya menyenangkan juga ya ikut kajian.” Temannya pun berkata, “Alhamdulillah, insyaAllah kita bisa berangkat sama-sama. Nanti saya jemput anti di kost.”

Saling Menasehati, Baik Dengan Ucapan Lisan Maupun Tulisan

Suatu saat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya tentang aibnya kepada shahabat yang lain. Shahabat itu pun menjawab bahwa dia pernah mendengar bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu memiliki bermacam-macam lauk di meja makannya. Lalu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pun berkata yang maknanya ‘Seorang teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan kepadamu aib mu (agar orang yang dinasehati bisa memperbaiki aib tersebut. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang banyak. Agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang lain. Terdapat beberapa perincian dalam masalah ini -pen).’ Bentuk nasehat tersebut, bukan hanya secara lisan tetapi bisa juga melalui tulisan, baik surat, artikel, catatan saduran dari kitab-kitab ulama, dan lain-lain.

Saling Mengingatkan Tentang Kematian, Yaumil Hisab, At-Taghaabun (Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan), Surga, dan Neraka

Sangat banyak orang yang baru ingin bertaubat bila nyawa telah nyaris terputus. Maka, diantara bentuk kecintaan seorang muslim kepada saudaranya adalah saling mengingatkan tentang kematian. Ketika saudaranya hendak berbuat kesalahan, ingatkanlah bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan kita mati. Dan kita pasti tidak ingin bila kita mati dalam keadaan berbuat dosa kepada Allah Ta’ala.

Saudariku fillah, berbaik sangkalah kepada saudari muslimah mu yang lain bila dia menasehati mu, memberimu tulisan-tulisan tentang ilmu agama, atau mengajakmu mengikuti kajian. Berbaik sangkalah bahwa dia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Sebagaimana dia pun menginginkan yang demikian bagi dirinya. Karena, siapakah gerangan orang yang senang terjerumus pada kubangan kesalahan dan tidak ada yang mengulurkan tangan padanya untuk menariknya dari kubangan yang kotor itu? Tentunya kita akan bersedih bila kita terjatuh di lubang yang kotor dan orang-orang di sekeliling kita hanya melihat tanpa menolong kita…

Tidak ada ruginya bila kita banyak mengutamakan saudara kita. Selama kita berusaha ikhlash, balasan terbaik di sisi Allah Ta’ala menanti kita. Janganlah risau karena bisikan-bisikan yang mengajak kita untuk “ingin menang sendiri, ingin terkenal sendiri”. Wahai saudariku fillah, manusia akan mati! Semua makhluk Allah akan mati dan kembali kepada Allah!! Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal. Maka, melakukan sesuatu untuk Dzat Yang Maha Kekal tentunya lebih utama dibandingkan melakukan sesuatu sekedar untuk dipuji manusia. Bukankah demikian?

Janji Allah Ta’Ala Pasti Benar !

Saudariku muslimah -semoga Allah senantiasa menjaga kita diatas kebenaran-, ketahuilah! Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan kemuliaan di Akhirat. Terdapat beberapa Hadits Qudsi tentang hal tersebut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)

Dari Abu Muslim al-Khaulani radhiyallahu ‘anhu dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, dengan sabdanya, ‘Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.’”

Abu Muslim radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Kemudian aku keluar hingga bertemu ‘Ubadah bin ash-Shamit, lalu aku menyebutkan kepadanya hadits Mu’adz bin Jabal. Maka ia mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, yang berfirman, ‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.’ Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi; Shahih)

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat (artinya: “Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna.” Do’a ini diucapkan Rasulullah bila beliau mendapatkan hal yang menyenangkan). Allah Ta’aala menyediakan bagi kita lahan pahala yang begitu banyak. Allah Ta’aala menyediakannya secara cuma-cuma bagi kita. Ternyata, begitu sederhana cara untuk mendapat pahala. Dan begitu mudahnya mengamalkan ajaran Islam bagi orang-orang yang meyakini bahwa esok dia akan bertemu dengan Allah Rabbul ‘alamin sembari melihat segala perbuatan baik maupun buruk yang telah dia lakukan selama hidup di dunia. Persiapkanlah bekal terbaik kita menuju Negeri Akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita dan orang-orang yang kita cintai karena Allah di Surga Firdaus Al-A’laa bersama para Nabi, syuhada’, shiddiqin, dan shalihin. Itulah akhir kehidupan yang paling indah…

Maroji’:

  1. Terjemah Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyyah karya Ibnu Daqiiqil ‘Ied
  2. Terjemah Shahih Hadits Qudsi karya Syaikh Musthofa Al-’Adawi
  3. Sunan Tirmidzi

***

Artikel www.muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

119 Comments

  1. ana says:

    assalamkm..
    alhmdllh sy mnemukan artikel ini. sy ingin kembali k jalan yg sesuai syar’i. mohon doa dan bimbinganya agar sy bs istiqomah,amin.
    jazkllh.

  2. jundi says:

    Akhwat yang hebat-hebat semua..

  3. anti says:

    bgmn dg TTM (teman tp mesra)?ngakunya g pacaran, malah lebih parah lg.

  4. ntha says:

    Assalamualaikum…
    betapa indahnya mempunyai Cinta yg didasari cinta kpd ALLOH SWT…. mencintai karena ALLOH dan membenci krn ALLOH….
    subhanalloh bgt Qt umat manusia di Anugrahi rasa Cinta…
    Qt hrus Sllu b’syukur dberi anugrah ni…
    tp Qt hrus ingat Bagaimana qt memenej perasaan cinta tersebut…
    semoga Qt adalah muslimah Pencinta kebenaran…. amiin

  5. QONITATUN MARYAM says:

    assalamualaikum, salam kenal dari ana akhwat medan. ana punya masalah ya mungkin bs dibilang gampang2 susah… niatan udah ingin banget untuk menikah. bahkan dari ana aliyah, dan sekarang udah kuliah semester 6. tetapi, masalhnya kalau ana ta’aruf selalu dapat orang2 jauh, yaitu di luar pulau sumatera. jawa misalnya. dan hal ini yang membuat ortu ana enggan untuk menerimanya. sampai2 ada ikhwannya yang mengatakan otru saya salah membuat ana terkekang seperti itu, karena ana dianggap tidak mandiri. dan tergantung pada ortu. karena saya anak tunggal. salahkah ortu saya? dan bagaimana ana harus menyikapinya?? syukron…..

  6. Bruneo says:

    assalamualaikum wr.wb
    salam kenal dari ana akhwat Malang. ana punya masalah ya mungkin bs dibilang gampang2 susah… niatan udah ingin banget untuk berubah pada seseorang. bahkan dari ana Mts, dan sekarang udah smK SEMESTER 4. tetapi, masalahnya kalau ana ta’aruf selalu dapat orang2 jauh, yaitu di luar kota malang. jawa misalnya. dan hal ini yang membuat ortu ana enggan untuk menerimanya. sampai2 ada ikhwannya yang mengatakan otru saya salah membuat ana terkekang seperti itu, karena ana dianggap tidak mandiri. dan tergantung pada ortu. karena saya anak sulung. salahkah ortu saya? dan bagaimana ana harus menyikapinya?? syukron…..
    tapi apakah hal salah bagi aku untuk berubah seperti ini ya ? boleh nggak ya

  7. izmail says:

    subhanallah i’Allah brmnfat bwt ana tuk kdpn’y

  8. supri says:

    emang benar,ana termasuk yang ingin menikah, tapi terhalang oleh keluarga..ketika dihadapkan oleh karir dan menikah…sebelum berkarir ana dianjurkan untuk tidak menikah dulu…..

  9. oriza says:

    subhanallah,sungguh indah jk kt saling mencintai karena Allah.
    syukron jazakallah artikelnya…

  10. donal dan ferry says:

    tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai sodaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri…. I like it dan aku juga sedang berusaha untuk mengaplikasiknnya dalam realita kehidupan…

  11. Ghaliya says:

    subhanallah ,,emang indah cinta karena Allah,,tp jujur buat ngaplikasikannya susah banget……..

  12. ayu says:

    Assalamualaikum…
    subHanallah sungguh indah artikel di atas …
    membuat saya ingin kembali k jalan yang allah ridhai ….
    dan saya ingin sekali mencintai dan di cintai semata mata karna allah …

  13. mustaqim says:

    Pujian yang paling tinggi kepada allah adalah dengan mengatakan alhamdulillahirobbil ‘alamin.
    Betapa beruntungnya teman2 sekalian bisa menjalankan agama diatas ilmu dan basyiroh. mudah2han allah memberikan kelezatan saat mengamalkan apa2 yang diperintahkan dan merasa sedih dan menyesal setiap kesalahan dan kekurangan yang telah diperbuat.
    rasanya sulit sekali mengamalkan rasa cinta karena Allah kecuali mensucikan jiwanya dengan mengikhlaskan ibadah karena Allah dan jiwa yang lembut.
    dan saya memberikan masukkan kepada saya pribadi dan kepada teman2 ikhwan dan akhwat sekalian untuk lebih memperhatikan keadaan hati kita dan mensucikannya dan banyak memohon pertolongan kepada allah.
    karena dengan begitu diharapkan setiap apa yang kita hadapi menjadi baik akhirnya.

  14. seorang ukhti says:

    segala sesuatunya memang harus dilandasi dengan cinta kpd Alah. tapi bagaimana kita tahu bahwa seseorang itu mencintai kita karena Allah? apa tanda-tandanya?

  15. ahmad says:

    izin copy

  16. uwi says:

    Jadi ingin semakin mencintai saudara seiman.
    Ummu, izin copy artikelnya ya…
    Syukron jika dibolehkan..

  17. laila says:

    Subhanalloh…
    Ternyata cinta yang hakiki memang hanya pada-Nya

  18. Nur says:

    AssaLamualaikum..Wr.Wb

    SubhanaLLah…syukron bwt artikeLnya,,,!!!!

    Ana izin copas ya,,,,!!!

  19. Aen Azijah says:

    Assalamualaikum wr.wb
    subhanallah sungguh benar cinta yang hakiki hanyalah untuk Allah SWT.
    Izin mengcopy artikelnya,syukran.
    Wassalam

  20. titik says:

    semoga kita semua dapat saling menyayangi dan mengasihi antar sesama umat seperti kita menyayangi diri kita sendiri..sehingga akan tercipta lah kehidupan yang rukun dan damai…

  21. Umar_Al'Faruq says:

    Ana merindukan seluruh umat islam bsa memiliki sifat seperti kaum Muhajir dan Kaum Anshor di zaman Nabi dulu. (T.T) Ya Rosul seandainya dikau masih ada bersama kami sekarang. banyak sekali yang ingin ana adukan, banyak sekali yang ingin ana ceritakan. Ya Rosul,dulu, ketika seorang akhwat dilecehkan oleh beberapa orang “anjing-anjing yahudi!” maka kau ta’limat kan kepada seluruh mujahid-mujahid Alloh, tentara-tentara Alloh untuk memberi pelajaran kepada anjing-anjing itu…….maka ratusan bahkan ribuan mujahid siap membela seorang saudari mereka. Ya Rosul tapi sekarang, kami banyak terpecah. Ya Alloh hamba yakin sbentar lagi zaman keemasan Islam akan kembali berkibar, membumbung tinggi.

  22. maya says:

    i love Allah !! ^_~

  23. nurul azmi says:

    trimakasih…..

    artikel ini sangatt b’manfaat….
    subhanallah…

  24. Melisa Putri says:

    Assalamualaikum….
    sgt sng rs’a sy mmbc artikel ini.
    sy ingin sgala sesutu yang sy krjkn hanya karena Allah.
    SMOG ada artikel menarik lainnya yang dapat dimuat dan dapat menggugah hati para pembaca.

    I LOVE ALLAH

    Wassalam

  25. aslamattusi says:

    Assalamu ‘alaikum wrb..
    Artkl yg sg bgs skli n bermanfa’at dunya akhirat..
    Minta izin share mau di simpan di sts sy.
    sblmnya sy ucpkan syukron katsiron,atas kebaikannya.
    Jazakallohu ahsanal jaza.

  26. subbhanalah allah emg maha segala2nya. bgus untuk di baca

  27. asslm,jzk. artikelnya

    • @ ukhti latifatul khasanah

      ukhti, sungguh kami mencintaimu karena Alloh. alangkah baiknya jika ucapan salam dan doa ukhti dituliskan secara lengkap, insya Alloh itu yang lebih baik. semoga dikabulkan oleh Alloh. barokallohu fik

  28. hyuga nafiah says:

    assalammualaikum wr wb
    saya adalah orang yg telah mndzolimi
    diri saya ….mohon bntuan agar sllu
    kmbali kejalan Allah

  29. fauzia says:

    assalamu’alaikum…..
    syukron atas artikelnya semoga kita selalu menjadi orang muslim dan muslimah yang saling mengingatkan………..

  30. Mus-Aceh says:

    syukron, sebuah tulisan yang bagus dan berisi..

  31. KoNan Tea Atuh says:

    Assalamualaikum
    Alhamdulilah sy menemukan artikel yg isi’a sangat bagus ini dan sudah lama sy cari2..

    trimakasih.. untuk yg membuat artikel ini ini sangat membantu

  32. rizki kharisma says:

    Aq pengen jadi orang muslim, yang mencintai ALLAH dengan sungguh-sungguh….

  33. Terima kasih atas infonya mbk/mas…
    Cinta adalah anugrah dari allah.swt kita harus mensyukurinya,,
    Artikelnya bagus sekali,dapat membuat orang tergugah untuk bisa menikmati indahnya cinta karena allah.
    Semoga dapat bermanfaat..amin..
    Salam kenal

  34. Desi khulwani says:

    Assalamualaikum….
    Cinta yg dirasakan oleh manusia pd masa remaja adalah sebua gejolak emosiyg hrs di imbangi dgn akal dan keimanan kita,sbgi wujud timbal balik kpd pincipta cinta,shg hati manusia akan sll merasakan indahnya ‘CINTA KARENA ALLAH’ untuk menuju kemulian disisi Allah.
    Wasslamkkm….

  35. fil says:

    alhamdulillah :)
    akhirnya saya menemukan ini :)
    syukron:))

  36. siti patimah says:

    terimakasih banyak ustad yng di rahmati aloh swt. begitu sejuk di hati terasa kesenangan dunia ini jauh lah tiada arti kalo kita ingkar dari nimatnya robul alamin..cinta aloh pada umatnya melebihi segala apapun tapi sekarang umat ahir jaman sedikit sekali yng bersukur dan banyak yng ingkar. semoga kita termasuk ke golongan orang orang yg slalu bersukur atas rahmat robil alamin aaaamin…

  37. SubhanAllah …. mas,izin share ya … Thx

  38. niar says:

    subhanallah…
    akhirnya pertanyaan yang belum trjwab selama ini bisa aku dapatkan. banyak pengetahuan yg bermanfaat sesuai tuntunan islam
    great! ^^ jzkllh :)

  39. Iya Nurliani says:

    Subhanallah…smakin tergugah hati ini toek mnjadi yg lbih baik…

  40. waras says:

    assalamu’alaikum…afwan mau tanya kalau ada saudara seiman mengucapkan aku mencintaimu karena allah…ucapan apa yg tepat utk membalas.y??syukron

  41. fitri handayani says:

    Amin ya Allah….
    smoga semua cinta hanya karena Nya…!

  42. Haniyah Raidah says:

    disini ada kumpulan hadist hdist cinta karena Allah gak?lagi butuh banget nih

  43. nie says:

    jazakumullah khairon katsir… sangat senang membaca ini.
    smoga termasuk k dalam golongan yg beriman n senantiasa memperbaiki diri dari hari kehari…bismilllah

  44. tony says:

    persaudaraan metal

  45. sitinurain says:

    assalamualikm…subhanallah…..indah nya ilmu yg ad di lman ni.moga ad yg trus mngikutinya.

  46. antika says:

    assalamu’alaikum. .
    Artikelx sgt bgus bs insya allah bs membrikn pencerhan bwt ana yg lg brusha utk taubat, ,minta ijin share y ukhti. .
    Sblumnya jazakallahu khairan. . .

  47. meiana el_anjay says:

    subhanallah……….
    indahnya,,,,,,,,,,,

  48. Fajri says:

    maaf, sy tdk punya waktu utk membaca artikel diatas,, InsyaAllah jika sy ada waktu akan sy baca keseluruhan,,

    sy ingin bertanya,
    bagaimana prilaku yg menunjukkan “Cinta kpd Allah” jika:
    seorang lelaki mencintai wanita, bgaimana sharusnya prilaku lelaki tsb??
    mohon dijawab,

  49. Lilis wulansari says:

    assalaamu’alaikum,
    jika seorang wnt yg menyukai seorang ikhwan shrnya bgmn?

    • @ Lilis Wulansari
      Wa’alaikumussalam,
      Segera minta tolong bapak, kakak, paman atau kakek untuk menyampaikan kepada si ikhwan bahwa ada wanita yg mencintainya dan bersedia untuk dinikahi.

Leave a Reply