Indahnya Cinta Karena Allah

بسم الله الرحمن الرحيم Penulis: Ummul Hasan Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc. “Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu …

167 121

بسم الله الرحمن الرحيم

Penulis: Ummul Hasan
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.

“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.”


Secara nalar pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain dibandingkan diri kita? Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepada saudara kita?

Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dalam syarah beliau terhadap hadits diatas (selengkapnya, lihat di Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah).

(“Tidaklah seseorang beriman” maksudnya adalah -pen). Para ulama berkata, “yakni tidak beriman dengan keimanan yang sempurna, sebab jika tidak, keimanan secara asal tidak didapatkan seseorang kecuali dengan sifat ini.”

Maksud dari kata “sesuatu bagi saudaranya” adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i.

“…hingga dia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan sebagaimana dia mencintai jika hal itu terjadi bagi dirinya.”

Syaikh Abu Amru Ibnu Shalah berkata, “Hal ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan mustahil, padahal tidaklah demikian, karena makna hadits ini adalah tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai bagi keislaman saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya. Menegakkan urusan ini tidak dapat direalisasikan dengan cara menyukai jika saudaranya mendapatkan apa yang dia dapatkan, sehingga dia tidak turut berdesakan dengan saudaranya dalam merasakan nikmat tersebut dan tidak mengurangi kenikmatan yang diperolehnya. Itu mudah dan dekat dengan hati yang selamat, sedangkan itu sulit terjadi pada hati yang rusak, semoga Allah Ta’ala memaafkan kita dan saudara-saudara kita seluruhnya.”

Abu Zinad berkata, “Sekilas hadits ini menunjukkan tuntutan persamaan (dalam memperlakukan dirinya dan saudaranya), namun pada hakekatnya ada tafdhil (kecenderungan untuk memperlakukan lebih), karena manusia ingin jika dia menjadi orang yang paling utama, maka jika dia menyukai saudaranya seperti dirinya sebagai konsekuensinya adalah dia akan menjadi orang yang kalah dalam hal keutamaannya. Bukankah anda melihat bahwa manusia menyukai agar haknya terpenuhi dan kezhaliman atas dirinya dibalas? Maka letak kesempurnaan imannya adalah ketika dia memiliki tanggungan atau ada hak saudaranya atas dirinya maka dia bersegera untuk mengembalikannya secara adil sekalipun dia merasa berat.”

Diantara ulama berkata tentang hadits ini, bahwa seorang mukmin satu dengan yang lain itu ibarat satu jiwa, maka sudah sepantasnya dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya karena keduanya laksana satu jiwa sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:

“Orang-orang mukmin itu ibarat satu jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Muslim)

“Saudara” yang dimaksud dalam hadits tersebut bukan hanya saudara kandung atau akibat adanya kesamaan nasab/ keturunan darah, tetapi “saudara” dalam artian yang lebih luas lagi. Dalam Bahasa Arab, saudara kandung disebut dengan Asy-Asyaqiiq ( الشَّّقِيْقُ). Sering kita jumpa seseorang menyebut temannya yang juga beragama Islam sebagai “Ukhti fillah” (saudara wanita ku di jalan Allah). Berarti, kebaikan yang kita berikan tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin, karena sesungguhnya kaum muslim itu bersaudara.

Jika ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin kita menerapkan hal ini sekarang? Sekarang kan jaman susah. Mengurus diri sendiri saja sudah susah, bagaimana mungkin mau mengutamakan orang lain?”

Wahai saudariku -semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita diatas keimanan-, jadilah seorang mukmin yang kuat! Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai Allah. Seberat apapun kesulitan yang kita hadapi sekarang, ketahuilah bahwa kehidupan kaum muslimin saat awal dakwah Islam oleh Rasulullah jauh lebih sulit lagi. Namun kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh melebihi kesedihan mereka pada kesulitan hidup yang hanya sementara di dunia. Dengarkanlah pujian Allah terhadap mereka dalam Surat Al-Hasyr:

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar(ash-shodiquun). Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9)

Dalam ayat tersebut Allah memuji kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk memperoleh kebebasan dalam mewujudkan syahadat mereka an laa ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah. Mereka meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan harta yang telah mereka kumpulkan dengan jerih payah. Semua demi Allah! Maka, kaum muhajirin (orang yang berhijrah) itu pun mendapatkan pujian dari Allah Rabbul ‘alamin. Demikian pula kaum Anshar yang memang merupakan penduduk Madinah. Saudariku fillah, perhatikanlah dengan seksama bagaimana Allah mengajarkan kepada kita keutamaan orang-orang yang mengutamakan saudara mereka. Betapa mengagumkan sikap itsar (mengutamakan orang lain) mereka. Dalam surat Al-Hasyr tersebur, Allah memuji kaum Anshar sebagai Al-Muflihun (orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat) karena kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka (kaum Anshar) sebenarnya juga sedang berada dalam kesulitan. Allah Ta’aala memuji orang-orang yang dipelihara Allah Ta’aala dari kekikiran dirinya sebagai orang-orang yang beruntung. Tidaklah yang demikian itu dilakukan oleh kaum Anshar melainkan karena keimanan mereka yang benar-benar tulus, yaitu keimanan kepada Dzat yang telah menciptakan manusia dari tanah liat kemudian menyempurnakan bentuk tubuhnya dan Dia lah Dzat yang memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendaki oleh-Nya serta menghalangi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki.

Tapi, ingatlah wahai saudariku fillah, jangan sampai kita tergelincir oleh tipu daya syaithon ketika mereka membisikkan ke dada kita “utamakanlah saudaramu dalam segala hal, bahkan bila agama mu yang menjadi taruhannya.” Saudariku fillah, hendaklah seseorang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi agamanya. Misalkan seorang laki-laki datang untuk sholat ke masjid, dia pun langsung mengambil tempat di shaf paling belakang, sedangkan di shaf depan masih ada tempat kosong, lalu dia berdalih “Aku memberikan tempat kosong itu bagi saudaraku yang lain. Cukuplah aku di shaf belakang.” Ketahuilah, itu adalah tipu daya syaithon! Hendaklah kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan agama kita. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 148)

Berlomba-lombalah dalam membuat kebaikan agama, bukan dalam urusan dunia. Banyak orang yang berdalih dengan ayat ini untuk menyibukkan diri mereka dengan melulu urusan dunia, sehingga untuk belajar tentang makna syahadat saja mereka sudah tidak lagi memiliki waktu sama sekali. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menjaga diri kita agar tidak menjadi orang yang seperti itu.

Wujudkanlah Kecintaan Kepada Saudaramu Karena Allah

Mari kita bersama mengurai, apa contoh sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara kita yang juga kita cintai bagi diri kita…

Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim)

Pada hakekatnya ucapan salam merupakan do’a dari seseorang bagi orang lain. Di dalam lafadz salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” terdapat wujud kecintaan seorang muslim pada muslim yang lain. Yaitu keinginannya agar orang yang disapanya dengan salam, bisa memperoleh keselamatan, rahmat, dan barokah. Barokah artinya tetapnya suatu kebaikan dan bertambah banyaknya dia. Tentunya seseorang senang bila ada orang yang mendo’akan keselamatan, rahmat, dan barokah bagi dirinya. Semoga Allah mengabulkan do’a tersebut. Saudariku fillah, bayangkanlah! Betapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan kepada saudara kita sesama muslim bila setiap bertemu dengan muslimah lain -baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal- kita senantiasa menyapa mereka dengan salam. Bukankah kita pun ingin bila kita memperoleh banyak do’a yang demikian?! Namun, sangat baik jika seorang wanita muslimah tidak mengucapkan salam kepada laki-laki yang bukan mahromnya jika dia takut akan terjadi fitnah. Maka, bila di jalan kita bertemu dengan muslimah yang tidak kita kenal namun dia berkerudung dan kita yakin bahwa kerudung itu adalah ciri bahwa dia adalah seorang muslimah, ucapkanlah salam kepadanya. Semoga dengan hal sederhana ini, kita bisa menyebar kecintaan kepada sesama saudara muslimah. Insya Allah…

Bertutur Kata yang Menyenangkan dan Bermanfaat

Dalam sehari bisa kita hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sekedar berkumpul-kumpul dan ngobrol dengan teman. Seringkali obrolan kita mengarah kepada ghibah/menggunjing/bergosip. Betapa meruginya kita. Seandainya, waktu ngobrol tersebut kita gunakan untuk membicarakan hal-hal yang setidaknya lebih bermanfaat, tentunya kita tidak akan menyesal. Misalnya, sembari makan siang bersama teman kita bercerita, “Tadi shubuh saya shalat berjamaah dengan teman kost. Saya yang jadi makmum. Teman saya yang jadi imam itu, membaca surat Al-Insan. Katanya sih itu sunnah. Memangnya apa sih sunnah itu?” Teman yang lain menjawab, “Sunnah yang dimaksud teman anti itu maksudnya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang disunnahkan untuk membaca Surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at.” Lalu, teman yang bertanya tadi pun berkata, “Ooo… begitu, saya kok baru tahu ya…” Subhanallah! Sebuah makan siang yang berubah menjadi “majelis ilmu”, ladang pahala, dan ajang saling memberi nasehat dan kebaikan pada saudara sesama muslimah.

Mengajak Saudara Kita Untuk Bersama-Sama Menghadiri Majelis ‘Ilmu

Dari obrolan singkat di atas, bisa saja kemudian berlanjut, “Ngomong-ngomong, kamu tahu darimana kalau membaca surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at itu sunnah?” Temannya pun menjawab, “Saya tahu itu dari kajian.” Alhamdulillah bila ternyata temannya itu tertarik untuk mengikuti kajian, “Kalau saya ikut boleh nggak? Kayaknya menyenangkan juga ya ikut kajian.” Temannya pun berkata, “Alhamdulillah, insyaAllah kita bisa berangkat sama-sama. Nanti saya jemput anti di kost.”

Saling Menasehati, Baik Dengan Ucapan Lisan Maupun Tulisan

Suatu saat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya tentang aibnya kepada shahabat yang lain. Shahabat itu pun menjawab bahwa dia pernah mendengar bahwa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu memiliki bermacam-macam lauk di meja makannya. Lalu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pun berkata yang maknanya ‘Seorang teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan kepadamu aib mu (agar orang yang dinasehati bisa memperbaiki aib tersebut. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang banyak. Agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang lain. Terdapat beberapa perincian dalam masalah ini -pen).’ Bentuk nasehat tersebut, bukan hanya secara lisan tetapi bisa juga melalui tulisan, baik surat, artikel, catatan saduran dari kitab-kitab ulama, dan lain-lain.

Saling Mengingatkan Tentang Kematian, Yaumil Hisab, At-Taghaabun (Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan), Surga, dan Neraka

Sangat banyak orang yang baru ingin bertaubat bila nyawa telah nyaris terputus. Maka, diantara bentuk kecintaan seorang muslim kepada saudaranya adalah saling mengingatkan tentang kematian. Ketika saudaranya hendak berbuat kesalahan, ingatkanlah bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan kita mati. Dan kita pasti tidak ingin bila kita mati dalam keadaan berbuat dosa kepada Allah Ta’ala.

Saudariku fillah, berbaik sangkalah kepada saudari muslimah mu yang lain bila dia menasehati mu, memberimu tulisan-tulisan tentang ilmu agama, atau mengajakmu mengikuti kajian. Berbaik sangkalah bahwa dia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Sebagaimana dia pun menginginkan yang demikian bagi dirinya. Karena, siapakah gerangan orang yang senang terjerumus pada kubangan kesalahan dan tidak ada yang mengulurkan tangan padanya untuk menariknya dari kubangan yang kotor itu? Tentunya kita akan bersedih bila kita terjatuh di lubang yang kotor dan orang-orang di sekeliling kita hanya melihat tanpa menolong kita…

Tidak ada ruginya bila kita banyak mengutamakan saudara kita. Selama kita berusaha ikhlash, balasan terbaik di sisi Allah Ta’ala menanti kita. Janganlah risau karena bisikan-bisikan yang mengajak kita untuk “ingin menang sendiri, ingin terkenal sendiri”. Wahai saudariku fillah, manusia akan mati! Semua makhluk Allah akan mati dan kembali kepada Allah!! Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal. Maka, melakukan sesuatu untuk Dzat Yang Maha Kekal tentunya lebih utama dibandingkan melakukan sesuatu sekedar untuk dipuji manusia. Bukankah demikian?

Janji Allah Ta’Ala Pasti Benar !

Saudariku muslimah -semoga Allah senantiasa menjaga kita diatas kebenaran-, ketahuilah! Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan kemuliaan di Akhirat. Terdapat beberapa Hadits Qudsi tentang hal tersebut.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)

Dari Abu Muslim al-Khaulani radhiyallahu ‘anhu dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, dengan sabdanya, ‘Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.'”

Abu Muslim radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Kemudian aku keluar hingga bertemu ‘Ubadah bin ash-Shamit, lalu aku menyebutkan kepadanya hadits Mu’adz bin Jabal. Maka ia mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, yang berfirman, ‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.’ Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi; Shahih)

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat (artinya: “Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna.” Do’a ini diucapkan Rasulullah bila beliau mendapatkan hal yang menyenangkan). Allah Ta’aala menyediakan bagi kita lahan pahala yang begitu banyak. Allah Ta’aala menyediakannya secara cuma-cuma bagi kita. Ternyata, begitu sederhana cara untuk mendapat pahala. Dan begitu mudahnya mengamalkan ajaran Islam bagi orang-orang yang meyakini bahwa esok dia akan bertemu dengan Allah Rabbul ‘alamin sembari melihat segala perbuatan baik maupun buruk yang telah dia lakukan selama hidup di dunia. Persiapkanlah bekal terbaik kita menuju Negeri Akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita dan orang-orang yang kita cintai karena Allah di Surga Firdaus Al-A’laa bersama para Nabi, syuhada’, shiddiqin, dan shalihin. Itulah akhir kehidupan yang paling indah…

Maroji':

  1. Terjemah Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyyah karya Ibnu Daqiiqil ‘Ied
  2. Terjemah Shahih Hadits Qudsi karya Syaikh Musthofa Al-‘Adawi
  3. Sunan Tirmidzi

***

Artikel www.muslimah.or.id

Sebarkan!
3274 5 0 0 0 50
In this article

Ada pertanyaan?

121 comments

  1.    Reply

    Kalau kau merasa belum dapat mencintai Allah, maka berusalah untuk menjadi seorang hamba yang DICINTAI ALLAH

  2.    Reply

    Aslm..q bgung ktika mmtuskan utk brpcrn ato tdk..Ktika q mmtuskan utk tdk,nmun hti ini tdk trhndarkan dg jth cinta,kalopun ditahan,trasa sesak dlm dada,..Jjur,q uda bbrpa kali pcrn,n q g dpt manfaat dariny,tp q dpt pelajaran yg sgt berarti..Bhw,pgendalian diri adlh yg trbaik bwt q..Mklum,utk mnikahpun,ortu blm meridhoi..

  3.    Reply

    @Ukhti Nono:
    Ukhti, maukah anti menjadi perhiasan terindah bagi suami anti? Dan maukah anti menjadi wanita madu dunia?
    Untuk menjadi perhiasan terindah dan madu dunia, seorang wanita haruslah menjaga diri dan kehormatannya. Sehingga dirinya menjadi harta yang paling berharga bagi suaminya dan hal termanis yang ada bumi Allah. Wanita demikian itu adalah wanita yang shalihah.
    Insya Allah…

  4.    Reply

    Ukhti Nono, jawabannya tentu saja tak boleh lah…

  5.    Reply

    sbnrya boleh ke kita b’cnta dlm islam..
    mksdnya b’pcran..

  6.    Reply

    aduuuhhh,, kumaha atuh…
    amme bingung…
    dulu tu anne tipe orang yg anti pacaran.. bisa jaga hijab ..
    tapi sejak lu2s sma anne pacaran m se2orang bahkan da planning nikah.. tp te2p z kan pacarannya tidak d benarkan gmn pun juga..
    tp anne gmw jauh dr dia..
    nth knp…..

  7.    Reply

    wah iya setuju banget. pacaran itu sedapat mungkin dihindari.mending puasa.
    ya masa remaja puber2nya ya memang sulit, sibukkan otak aja dengan byk baca dan belajar, puasa.ikut organisasi, lebih dekat dengan keluarga DLLL

  8.    Reply

    assalamu’alaikum q nia
    bagus bagt artikel na q minta yauw buat q pelajarin..

  9.    Reply

    mang bgus bgt bacaannya… saya mawu tanya gmana cara ngindarin pacaran dmasa remaja saya ini kebetulan saya duduk di 1sma skarang,ktk saya sdh tw bahwa pacaran tuh dilarang,terkadang saya bingung coz masa saya skaran adalah masa puber saya

  10.    Reply

    Assalamualaikum..ya akhi wa uhkti, perasaan cinta yg berlebhan pd seseorg sbnr bkn d dtg kan dr allah tp d dtg kan oleh syaitan,mk y trkdang org sering mengambil jalan pnts krn rasa kcw pd seseorg yg dia cinta dan itu smua krn perasaan yg d timbul kan oleh syaitan, jd jgn lah perasaan cinta qm pd allah d kalah kan oleh perasaan mu pd manusia, tmpt kan lah cinta mu pd allah d posisi paling dlm d relung ht mu dan jiwa mu, krn jika allah tlh menduduki posisi pling dlm d ht mu mk cinta manusia mana pun g akn ada yg bs menglah kan nya.

  11.    Reply

    Allah akan mengampuni hambanya yang benar-benar bertaubat kepada-Nya, silakan lihat link berikut:
    http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/keutamaan-taubat.html

  12.    Reply

    Ass…

    seBeLum nA Saiia tariMa kAs!h Ataz d’berikAn na kSs4an tu’ mgutArakAn uneg-unEg SaiiA..

    sAiia suDa pCrAn hAmpr 1,5 tAon.sbNar nA saiia dLu sUda berKomtmen tU, tAg pAcrAn duLu.coW sAiia awaL nA diA sAngat Lah bAek,namUn berJlan na wAktu dia bArbh ,n sAiia pUn mLai tau bAgaimaNA sFt nA.

    sAiia inGin seKaLi mEngAkhiRi hub dgn nA, cZ mEnrut saiia tAg Ada guNA na bagi pribDi mwpUn qmi brDua.nAmun sAianx, qTa sDAh tErikAt tALi yang tAg biSA diPtUz LAgi..

    sAiia inGin seKLi kmbALi menjDi Saiia yG dLu,aPAkh mAsie aDA pintU tauBat tUg sAiia???

    beGitu hinA kAh sAiia d’nAta Alloh SWT ????

    ‘ n bAgaimanA cAra sAiia berTaubt Kepada_Nya??

    tEr!ma Kasiee….

    WAss. . .

  13.    Reply

    Assalamualaikum,…………………
    Kaifahaluk ikhwan-akhwat fillah?
    Bicara masalah cinta, Cinta adalah sesuatu yang jarang diucapkan dan didengar orang. Begitu jarangnya sampai cinta dianggap sebagai masalah sepele dan tidak perlu ada pembahasan khusus, padahal cinta adalah sesuatu yang sangat mendasar dan paling banyak mempengaruhi karakteristik keperibadian seseorang. Dengan cinta, seseorang bisa menjadi hamba Alloh yang mulia dan dengan cinta pula manusia dapat terjerumus ke dalam perilaku yang menentang hukum Alloh SWT. Cinta adalah perasaan jiwa, getaran hati, pancaran naluri, dan terpautnya hati orang yang mencintai pada pihak yang dicintainya, dengan semangat yang menggelora dan wajah yang menampilkan keceriaan. Bagaimana Islam mengakui keberadaan cinta? Islam mengakui keberadaan cinta yang mendasar pada diri manusia, bahkan Islam memberikan tiga tingkatan cinta yaitu: 1)Cinta tingkatan tinggi adalah cinta kepada Alloh, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya. 2) Cinta tingkatan menengah adalah cinta kepada orangtua, anak, saudara, pasangan, dan keluarga. 3) Cinta tingkatan rendah adalah Cinta yang lebih mengutamakan keluarga, harta, dan tempat tinggal daripada mengutamakan Alloh, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan alloh SWT. Wahai ikhwan-akhwat fillah afwan sebelumnya ana jadi cerita dulu masalah seputar cinta, memang di jaman sekarang ini yang ana rasakan begitu beratnya tantangan hidup bagi kaum pemuda-pemudi dimana mereka mempertahankan aqidah mereka di satu sisi di sisi lain ada tantangan yang paling berat yakni masalah pacaran, bukankah Alloh sudah memberikan instruksi kepada kita semua bahwa “janganlah kamu berbuat zina”, dan akhi-ukhti yang sedang berjuang di jalan Alloh tetaplah bersabar dan istiqomah saja ya dalam melawan hawa nafsu dan senantiasa berdo’a semoga kita semua diberikan Alloh SWT kekuatan sampai kita menemukan cinta yang hakiki yakni cinta kepada Alloh SWT, dan semoga kita dapat menghindari yang namanya pacaran sampai kita menemukan jodoh kita dalam pernikahan yang syar’i dan qot’i sesuai ketentuan dari Alloh SWT. Amiin yarobbal a’lamin, jazakumulloh khoiron kepada ikhwan-akhwat fillah…………………!!!!!!

  14.    Reply

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    saya Hari dari Surabaya,
    Alhamdulillah n_n, artikel ini mengetuk hati saya…
    trimakasih ya ^^
    saya sering merasa bingung kalau soal cinta,,
    Bahkan, terkadang rasa ingin memiliki itu muncul dalam hati… ya Allah, bimbinglah Kami.

  15.    Reply

    semoga dengan membaca koment tman2 smua, insya Allah dapat menguatkan hati saya untuk mengambil keputusan yg tegas ttg pcaran….Amien..doakan yah. Mkasih

  16.    Reply

    #ima

    tutuplah pintu kemaksiatan sedini mungkin, karena bila dibiarkan maka pintu akan semakin terbuka lebar dan semakin sulit untuk menutupnya. dan setelah satu pintu kemaksiatan terbuka.. maka pintu pintu yang lain juga akan terbuka. maka semakin sulit untuk kembali….

    jika setan membisikkan sesuatu..
    jangan khawatir…
    yakinlah jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah.. insyaAllah akan Allah ganti dengan yang lebih baik :)

  17.    Reply

    aku pengen tanya gimana caranya men-CUT, cowok yg sudah mengutarakan isi hatinya pada kita??? padahal kyk gtu g boleh kan,, diya sring sms yg g ptg kyk tnya2 tugaslah, cuma ngucap salam lah…,yg ktny ia sllu doain akulah…yang psen utk jaga dirilah,,,nawarin buku ttg cinta, ttg gmn mjd istri sholehah…pokoknya sok PD gitulah… padahal baru kenal n klopun nikah ortu blm ksh izin,,,tolong sapa aja kasih saran…saya tunggu.makasih banget .JAZAKALLAH KHOIR KATSIR

  18.    Reply

    assalamu’alaiky fillah
    alhamdulillah … sungguh lembut, sejuk dan menenangkan hati setelah ana membaca, merenungi dan memikirkan tulisan ini. Insya Allah contoh tauladan yang tersurat di artikel ini senantiasa direalisasikan oleh kaum muslimin dan muslimah khususnya didalam menapaki titian hidup kesehariannya.
    Dan ana izin untuk mempelajari dan menghafal artikel ini untuk ana tebarkan nantinya kepada orang lain sebagai ajang dalam berdakwah. syukran sebelumnya
    Jazakillah khairan

  19.    Reply

    janji-janji Allah harus kita yakini meskipun penuh pengorbanan

  20.    Reply

    Assalamu’allaikum…..

    saya senang dengan membaca semua itu dan sbelumnya juga saya mau tanya ….
    Apakah salah apabila kita berpacaran itu saling berpandangan dan apakah smua itu dilarang?

    Nb : Q juga minta izin bahwa artikel nya saya minta dan saya pelajari

    commen dari saya tambah yang lebih banyak lagi yaw moga sukses….

    wassalamu’allaikum…….

    From : Laila

  21.    Reply

    Setujuuuu, kalo saya mah pacaran yang sebenarnya itu adalah setelah kita menikah..

  22.    Reply

    pacaran gaya baru sekarang lewat HP dengan menyampaikan tentang masalah-masalah agama dan janjai-janji akan hidup cara yang islami

  23.    Reply

    Assalamu’alaikum
    wahai saudara dan saudariku yang terhasut,yang terbuai,yang terlena oleh namanya pacaran. mengapa dirimu hanyut kedalam jurang kenistaan yang seharusnya engkau hindari. mengapa tak kau jaga kesucian hatimu dari noda-noda pacaran, mengapa dan mengapa kau bersikap begitu. tidakkah dirimu tahu bahwa sikapmu yang senantiasa tak menerima kebenaran tentang bahayanya pacaran akan membawamu kedalam kesusahan dan kehinaan hidupmu didunia ini bahkan kelak diakhirat nanti, renungkanlah dosa-dosa yang kelak akan menimpa dirimu, bila saat ini juga tak kau hilangkan sikapmu yang keras demi mempertahankan argumenmu tentang pacaran. STOP dan STOP sekarang juga. mintalah petunjuk kepada Alloh Ta’ala karena Dia yang membolak-balikan hati-hati kita. agar diri kita terlepas dari belenggu yang namanya pacaran.
    Wassalamu’alaikum

  24.    Reply

    Bismillah…

    ALLOH TELAH MENETAPKAN JODOH KITA 50 RIBU TAHUN SEBELUM BUMI DAN LANGIT DICIPTAKAN

    Lalu apa yg perlu kita khawatirkan??

    Jika kita dijanjikan sesuatu yg pasti kita dapatkan, yg untuk m’dapatkannya … kita dihadapkan pada 2 jalan … jalan yg halal (baca: menikah melalui cara yg SYAR’I) atau jalan yg haram (baca: menikah melalui PACARAN terlebih dahulu) …
    lalu, apa yg membuat kita ragu utk lebih memilih jalan yg Halal..

    Meskipun jalan yg halal bisa jadi memang lebih banyak hujan ujiannya… tp kesabaran kita pun insya Alloh takkan sia-sia…

    setiap kita ingin membina keluarga yg Sakinah, mawaddah dan rahmah … maka bagaimana mungkin hal itu ingin kita dapatkan bila dimulai dg cara yg dibenci Alloh (baca: pacaran)

    semoga Alloh Memudahkan kita untuk bertemu (baca: menikah) dg jodoh kita melalui cara yg Syar’i. amiin

    NB: utk saudariku ummul hasan,
    Jazaakillah khoiroo utk stiap nasihatnya .. uhibbuki fillah;)

  25.    Reply

    Assalamualaikum. Wahai saudaraku, sibukkanlah diri kita dengan menuntut Ilmu Agama, mengamalkan, dan mendakwahkannya. inilah Jalan Menuju Surga-Nya. mengenal cinta sesungguhnya hanya kepada Allah Ta’ala dan hanya karena Allah Ta’ala.semoga kita di kumpulkan dalam Jannah-Nya.amiin

  26.    Reply

    Salafiyah_XXI tu Yogi Kn?tmn ana wktu sma?
    Ne izza gie…
    Barakallahu fiik…

  27.    Reply

    Ana juga Dulu pernah pacaran…..(Na’udzubillah) tpi ana perhatiin, apa sih yang bisa ddapat dr pacaran itu sendiri???banyakan Mudharatnya dari pada Manfaatnya…..selain dosa,tw ga?pacaran berarti kena perangkap syaitan,…(La’natullah)…
    Intinya:
    Pacaran=nafsu=syaitan=dosa=dibenci Allah=Neraka.

    Neraka??pa ga ngeri….
    sedangkan siksa neraka yang paling ringan adalah dipasangnya kedua kaki kita dengan Terompah (saNdal) dari api sampai otak kita mendidih.Na’udzubillah..
    Kebayang gaK??itu siksa yang paling ringan…

  28.    Reply

    Assalamu’alaikum
    Alhamdulillah ke 4 komentarku lolos review, kalau seandainya yang omh gie lolos, jadi 5 deh. afwan jiddan lho? ikut bahas rublik ini.
    Wassalamu’alaikum

  29.    Reply

    nih lagi ada pembahasan pacaran, boleh aku ikut nimbrung? memang dari dulu sampai sekarang wabah virus pacaran begitu merajalela tanpa bisa dikendalikan, sampai-sampai wabah itu menjangkiti anak SD kelas 1 lagi, masya ‘Alloh memang dampaknya begitu merusak akhlak kita. memangnya apa sih enaknya kita pacaran? mengapa kalau kita mampu kita tak langsung saja nikah gitu? kan lebih asyik, kata siapa pacaran setelah nikah itu ngak asyik, coba donk rasakan. inget mengapa pacaran itu kita lakukan, buat apa sih, apakah ada manfaatnya buat kebaikan diri kita. menurutku sama sekali tak ada manfaatnya. ayo siapa berani mulai dari sekarang stop pacaran. langkahkan kakimu dengan mantap menuju gerbang pernikahan yang begitu indah untuk dirasakan. STOP pacaran YES nikah.

  30.    Reply

    pacaran,pacaran, sungguh merupakan fenomena anak muda zaman sekarang, kadang orang yang ngak mau pacaran demi menjaga kemuliaan agamanya, dianggap anak yang terbelakang, kurang gaul, dan anggapan-anggapan konyol lainnya yang semisal dengan semua itu. tapi sadarlah buat apa kita pacaran, buat apa kita tesiksa oleh cinta-cinta palsu yang mengajak diri kita kelembah kenistaan, kadang orang sampai gantung diri dikarenakan patah hati, bahkan ada yang nekat bunuh diri tanpa tau dampak perbuatannya tersebut akan membawa siksaan yang lebih dahsyat kelak diakhirat. mulai sekarang ini juga sadarlah wahai saudaraku, cukupkanlah dirimu dengan cinta kepada Alloh Ta’ala berikut pula kepada Rosul-Nya Muhammad Sholallohu’Alaihi Wassalam , niscaya engkau akan mendapakan yang terbaik bagi kebahagianmu kelak. bersabarlah, bersabarlah janji Alloh pasti benar adanya.

  31.    Reply

    Islam memerintahkan menikah, namun Islam melarang pacaran. Jika ada orang berkata menikah itu harus pacaran dahulu, maka kita katakan tentunya Islam tidak mungkin mensyariatkan 2 hal yg bertentangan bukan??

    Dengan kata lain, istilah pacaran tidak ada dalam Islam sejak dahulu. Rasulullah dan para sahabat tidak pacaran, namun mereka bisa menikah dan membentuk keluarga bahagia, saling mencinta, menghasilkan keturunan yg shalih, bahkan merekalah generasi terbaik dalam Islam. Lihat zaman ini, sebagian besar masyarakat kita menganggap biasa pacaran, dan lihatlah bagaimana keadaan generasi kita dalam hal beragama… sungguh memprihatinkan.

  32.    Reply

    Buat mbak iis,
    untuk bisa menemukan jodoh yang tepat tanpa harus pacaran, ya gampang saja.
    Mintalah kepada Allah karena Dialah yang menentukan jodoh kita.
    ikhtiarnya…
    Kalo memang sudah ada niat akan menikah. maka mintalah teman, famili atau ustadz untuk menghubungkan/mengenalkan mbak is dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria yang mbak is inginkan.
    Selanjutnya, mbak is dapat berkenalan lebih jauh melalui media surat, email atau lainnya yang sekiranya tidak terlalu “bebas” untuk menghindari hal2 yang tidak diperbolehkan syariat.
    mengenai jarangnya laki2 yang mau “dekat” dengan wanita tanpa status pacaran, maka hal ini kembali kepada mbak is sendiri. Apakah mbak is menghendaki laki2 yang memandang mbak is sebagai obyek seksual ataukah laki2 yang menghargai mbak is sebagai pribadi.

    tentunya laki2 dengan tipe ke2 ini tidak akan berkeberatan untuk “dekat” tanpa melalui proses pacaran yang haram.

  33.    Reply

    Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

    pacaran dikatakan tidak ada karna sama saja mndekati zina..dan is stuju akan itu…

    tapi is mo nanya bagaimana kita bisa mengenal seseorang??

    proses ta’aruf sblm nikah sekarang kebanyakan orang sudah mengsalahartikan..

    ta’aruf =perkenalan (yg is tau)…sekarang banyak orang menganggap pacaran sebagai proses perkenalan sbelum kejenjang pernikahan…..

    dan sekarang is jadi bingung…..seandainya is ga pacaran lalu gimana is bisa mengenal seseorang…dan jarang sekali laki-laki mau “dekat” dengan wanita kalau tanpa ada status(pacaran)…..

    jadi apa yang harus is lakukan???
    untuk bisa menemukan jodoh yang tepat tanpa harus pacaran???

  34.    Reply

    wahai yang terbuai oleh kesenangan semu, wahai yang hanyut dalam rayuan syaitan. sadarlah stop pacaran, siapkanlah dirimu secara lahir dan bathin. hadirkanlah hatimu ke gerbang pernikahan yang suci, sakral dan penuh berkah.

  35.    Reply

    apa sih enaknya pacaran sebelum nikah?, disamping berdosa juga akan merasa malu jika pacarannya kelewat batas, malu pada diri sendiri, malu pada keluarga,malu kepada tetangga dan yang lebih utama kepada pencipta kita Alloh SWT.

  36.    Reply

    sungguh indah cinta karena Alloh, sungguh bahagia pacaran setelah nikah, wahai ikhwan and akhwat fillah tinggalkan pacaran sekarang juga songsonglah pintu nikah yang penuh berkah insya Alloh hidupmu akan terasa tentram.

  37.    Reply

    Jika kita pacaran jarak jauh?bolehkah dlm agma??

  38.    Reply

    bagus sekali tulisanya…memang cinta itu indah

  39.    Reply

    tuk Ukh Arini

    Sebelum Anti menyampaikan niat Anti untuk menikah kepada orang tua, tanyalah pada diri anti dan pasangan Anti, Apakah kalian sudah siap menikah ?? Siap memikul tanggung jawab dalam rumah tangga?

    Apabila belum, maka mohonlah kepada ALLOh agar terhindar dari dosa pacaran. jika Anti mengatakan tidak terpisahkan lagi, apakah itu benar? apakah standar ukurannya?
    Bukankah ALLOH lebih tahu mana yang paling baik bagi kalian?

    jika memang sudah siap, maka sampaikan maksud kalian untuk menikah pada orang tua. Apakah ortu lebih ridho kalian pacaran daripada menikah? bukankah pacaran juga mengeluarkan biaya? bahkan mungkin lebih besar, padahal pacaran tersebut adalah dosa. sedangkan menikah adalah ikatan yang mulia untuk menjaga diri dari dosa. InsyaALLOh dengan menikah akan menjaga antum sekalian.

    Jikaortu memang belum merestui, maka bersabarlah dan senantiasa memohonlah pada ALLOH agar diberi kemudahan untuk segera menikah demi menjaga agama antum.

    Namun, tetaplah dingat, ketika ortu belum merestui, jangan melanjutkan pacaran tersebut. Berhentilah dan carilah keridhoan ALLOH. ALLOH pasti akan memenuhi janjiNYA pada hamba yang bertaubat.

    wassalaamualaykum waroh matullohi wabaro kaatuh

  40.    Reply

    Asssalaamualaikum warahmatullohi wabarokatuh

    Tuk Ukh Ieda:

    Jelaskan aja apa adanya bahwa sekarang anti sudah mengetahui bahwa tidak boleh pacaran, pacaran itu dosa.
    Jelaskan baik2 agar dia mengerti keburukan pacaran.

    jika merasa sulit dengan lisan, sampaikan lewat tulisan dan bisa dilampirkan artikel-artikel yang terkait hal ini.

    perlu diingat juga untuk mnyampaikannya juga harus memenuhi adab2 dan batasan dalam Islam, sehingga tidak menimbulkan fitnah dan mudharat.

    jika dia tidak menerimanya, Anti sudah berusaha, tinggalkanlah dia untuk mencari keridhoan Alloh. ALLOH pasti akan memenuhi janjiNYA kepada hambaNYA.

    Yakinlah ALLOH akan senantiasa menjaga hambaNYA yang menjalankan SyariatNYA dan meninggalkan keburukan karena ALLOH semata

    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    wassalaamu’alaykum waroh matullohi wabaro kaatuh

  41.    Reply

    KITTA TERJEBAK KETIKA KITA MEMILIH JALAN UNTUK PACARAN……………

  42.    Reply

    ass.
    menrtq betul juga jika dikatakan bahwa merit adalah solusi terbaik untuk menghindari pacaran. tapi bagaimana kalau orangtua tidak merestui or blum memprbolehkn karena faktor2 tertentu???

    kadang2 qt tau bhwa ortu blum siap punya menantu atopun punya cucu. sedangkan tujuan qt adalah demi terhindarnya dosa yang lebih besar lagi karena pacaran tu. bagaimana cara terbaik agar ortu bisa mengerti dan merestui??? sedangkan qt n pasangan qt udah tak dapat di pisahkan lagi, karena qt udh lama menjalin hubungan n udah melewati berbagai suka duka bersama????

    seorang anak. palgi cwek biasanya paling sulit meyakinkn ortu agr menyetujui keputusannya. dengan alasan takut anaknya sengsara, takut anknya di marah2hi oleh mertua, n takut suaminya tk dpat mengurusnya dgn baik. perasaan takut n khawatir itulah yng paling sulit di taklukan. hingga kadang seorang anak rela untuk kawin lari.

    tp ortu juga tk dapat dijadikn penyebab utamanya. qt pun yng menjalaninya jg perlu untuk instropeksi diri. pakah qt benr2 udh siap untuk merit, klo blum ya mending jgn pacaran dlu deh, klo menurut qt pacaran tu dosa.

    yaaa… jalanin ja dlu karir kamu, masalah jodoh udah da yg ngatur koq.

    semoga bermanfaat bagi qt paramuslim-muslimah. amin.

    wasalam

  43.    Reply

    Assalamuallaikum.Wr.Wb…..
    aq mau tnya donk,gmn cr’y ngsh pnjlasan s

  44.    Reply

    Assalamu’alaikum
    Aq minta izin untuk memajang tulisannya ia

  45.    Reply

    pacaran itu mengundang nafsu..karna mengundang nafsu akan menjerumuskan kita berbuat dosa..
    nikah itu lebih baik dari pada pacaran…

  46.    Reply

    Tuk Akh Hendri:

    Asssalaamu’alaikum warahmatullohi wabarokatuh

    Sebelumnya, ana tanya, adakah pacaran dalam Islam?
    Adakah Syariat Islam di dalamnya?

    Yang ada dalam islam adalah Syariat Pernikahan
    Tidak ada pacaran dalam syariat Islam, karena merupakan jalan menuju maksiat yang besar.

    Adakah orang pacaran tidak melihat pacarnya?
    Adakah pacaran tidak bersentuhan tangan/kulit?
    Adakah pacaran tidak berdua-duaan?

    memandang, bersentuhan dan berdua-duan dgn yang wanita bukan mahram tidak diperbolehkan dalam Islam.
    Islam memeberikan solusi yang indah adalah dengan menikah.
    Kalau antum sudah menikah, silakan antum “pacaran’ dengan ISTRI antum. Halalan thoyibah, berpahala dan diridhoi Alloh.

    semoga bermanfaat. Semoga Alloh menjadikan hati kita termasuk hati yang ikhlas. Semoga Alloh memudahkan antum untuk segera menikah dan kaum muslimin-muslimah yang lain agar terjaga dien antum sekalian.
    wassalaam

  47.    Reply

    tak ada cacatnya kalo cinta karena Allah…
    aq minta ijin pasang tulisannya

  48.    Reply

    Assalmualaikum
    Semua makhluk ALLH SWT. Cara ALLH menyayangi makhluk-NYA seperti yg kita saksikan dan kita rasakan.ALLH memberitahu manusia prosedur menuju kebahagiaan dunia&akhirat.Manusia yg tdk mengikuti prosedur akan berujung di kenistaan. Membenci yg tdk ta’at adalah dg mengajak dan memberi tauladan atau tdk mengikuti jalan celaka yg mereka pilih.

  49.    Reply

    Gimana sih batasan batasan islam dalam pacaran!

  50.    Reply

    Isinya menarik n ngbwt hati terketuk u/k dpt bertaubat..