Iman Kepada Takdir Baik dan Buruk

Banyak orang mengenal rukun iman tanpa mengetahui makna dan hikmah yang terkandung dalam keenam rukun iman tersebut. Salah satunya adalah iman kepada takdir. Tidak semua orang yang mengenal iman kepada takdir, mengetahui hikmah dibalik beriman kepada takdir dan bagaimana mengimani takdir. Berikut sedikit ulasan mengenai iman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk.

Takdir (qadar) adalah perkara yang telah diketahui dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan telah dituliskan oleh al-qalam (pena) dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga akhir zaman. (Terj. Al Wajiiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah, hal. 95)


Allah telah menentukan segala perkara untuk makhluk-Nya sesuai dengan ilmu-Nya yang terdahulu (azali) dan ditentukan oleh hikmah-Nya. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya dan tidak ada sesuatupun yang keluar dari kehendak-Nya. Maka, semua yang terjadi dalam kehidupan seorang hamba adalah berasal dari ilmu, kekuasaan dan kehendak Allah, namun tidak terlepas dari kehendak dan usaha hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

إنا كل شىء خلقنه بقدر

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Qs. Al-Qamar: 49)

وخلق كـل شىء فقدره, تقديرا

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Qs. Al-Furqan: 2)

وإن من شىء إلا عنده بمقدار

“Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr: 21)

Mengimani takdir baik dan takdir buruk, merupakan salah satu rukun iman dan prinsip ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak akan sempurna keimanan seseorang sehingga dia beriman kepada takdir, yaitu dia mengikrarkan dan meyakini dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu berlaku atas ketentuan (qadha’) dan takdir (qadar) Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يؤمن عبد حتى يؤمن بالقدر خبره وشره حتى بعلم أن ما أصابه لم يكن ليخطئه وأن ما أخطأه لم يكن ليصيبه

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)

Jibril ‘alaihis salam pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai iman, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الإيمان أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره

“Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir serta qadha’ dan qadar, yang baik maupun yang buruk.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya di kitab al-Iman wal Islam wal Ihsan (VIII/1, IX/5))

Dan Shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma juga pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كل شيء بقدر حتى العجز والكيسز

“Segala sesuatu telah ditakdirkan, sampai-sampai kelemahan dan kepintaran.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (IV/2045), Tirmidzi dalam Sunan-nya (IV/452), Ibnu Majah dalam Sunan-nya (I/32), dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/23))

Tingkatan Takdir

Beriman kepada takdir tidak akan sempurna kecuali dengan empat perkara yang disebut tingkatan takdir atau rukun-rukun takdir. Keempat perkara ini adalah pengantar untuk memahami masalah takdir. Barang siapa yang mengaku beriman kepada takdir, maka dia harus merealisasikan semua rukun-rukunnya, karena yang sebagian akan bertalian dengan sebagian yang lain. Barang siapa yang mengakui semuanya, baik dengan lisan, keyakinan dan amal perbuatan, maka keimanannya kepada takdir telah sempurna. Namun, barang siapa yang mengurangi salah satunya atau lebih, maka keimanannya kepada takdir telah rusak.

Tingkatan Pertama: al-’Ilmu (Ilmu)

Yaitu, beriman bahwa Allah mengetahui dengan ilmu-Nya yang azali mengenai apa-apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi, baik secara global maupun terperinci, di seluruh penjuru langit dan bumi serta di antara keduanya. Allah Maha Mengetahui semua yang diperbuat makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan, mengetahui rizki, ajal, amal, gerak, dan diam mereka, serta mengetahui siapa di antara mereka yang sengsara dan bahagia.

Allah Ta’ala telah berfirman,

ألم تعلم أن الله يعلم ما فى السـماء والأرض ۗإن ذلك فى كتـب ۚإن ذلك على الله يسر

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (Qs. Al-Hajj: 70)

وعنده, مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو ۚ ويعلم ما فى البر والبحر ۚوما تسقـط من ورقة إلا يعلمها ولا حبة فى ظلمت الأرض ولا رطب ولا يا بس إلا فى كتب مبين

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua perkara yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia Maha Mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak juga sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Al-An’aam: 59)

إن الله بكل شيء عليم

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” (Qs. At-Taubah: 115)

Tingkatan Kedua: al-Kitaabah (Penulisan)

Yaitu, mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menuliskan apa yang telah diketahui-Nya berupa ketentuan-ketentuan seluruh makhluk hidup di dalam al-Lauhul Mahfuzh. Suatu kitab yang tidak meninggalkan sedikit pun di dalamnya, semua yang terjadi, apa yang akan terjadi, dan segala yang telah terjadi hingga hari Kiamat, ditulis di sisi Allah Ta’ala dalam Ummul Kitab.

Allah Ta’ala berfirman,

و كل شيء أحصينه فى إمام مبـين

“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Qs. Yaasiin: 12)

ما أصاب من مصيبة فى الأرض ولا فى أنفسكم إلا فى كـتب من قبل أن نبرأهاۚۚإن ذلك على الله يسر

“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (Qs. Al-Hadiid: 22)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كتب الله مقادير الخلا ئق قبل أن يخلق السماوات زالأرض بخمسبن ألف سنة

“Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya, kitab al-Qadar (no. 2653), dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhuma, diriwayatkan pula oleh Tirmidzi (no. 2156), Imam Ahmad (II/169), Abu Dawud ath-Thayalisi (no. 557))

Dalam sabdanya yang lain,

إن أول ما حلق الله القلم, قل له: أكتب! قل: رب وماذا أكتب؟ قل: أكتب مقادير كل شيء حتى تقوم الساعة

“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah al-qalam (pena), lalu Allah berfirman, ‘Tulislah!’ Ia bertanya, ‘Wahai Rabb-ku apa yang harus aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai terjadinya Kiamat.’”(Shahih, riwayat Abu Dawud (no. 4700), dalam Shahiih Abu Dawud (no. 3933), Tirmidzi (no. 2155, 3319), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 102), al-Ajurry dalam ­asy-Syari’ah (no.180), Ahmad (V/317), dari Shahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu)

Oleh karena itu, apa yang telah ditakdirkan menimpa manusia tidak akan meleset darinya, dan apa yang ditakdirkan tidak akan mengenainya, maka tidak akan mengenainya, sekalipun seluruh manusia dan golongan jin mencoba mencelakainya.

Tingkatan Ketiga: al-Iraadah dan Al Masyii-ah (Keinginan dan Kehendak)

Yaitu, bahwa segala sesuatu yang terjadi di langit dan di bumi adalah sesuai dengan keinginan dan kehendak (iraadah dan masyii-ah) Allah yang berputar di antara rahmat dan hikmah. Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya dengan rahmat-Nya, dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dengan hikmah-Nya. Dia tidak boleh ditanya mengenai apa yang diperbuat-Nya karena kesempurnaan hikmah dan kekuasaan-Nya, tetapi kita, sebagai makhluk-Nya yang akan ditanya tentang apa yang terjadi pada kita, sesuai dengan firman-Nya,

لايسئل عما يفعل وهم يسئلون

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai.” (Qs. Al-Anbiyaa’: 23)

Kehendak Allah itu pasti terlaksana, juga kekuasaan-Nya sempurna meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi, meskipun manusia berupaya untuk menghindarinya, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan terjadi, meskipun seluruh makhluk berupaya untuk mewujudkannya
.
Allah Ta’ala berfirman,

فمن يردالله أن يهديه يشرح صدره للإسلام ۚومن يرد أن يضله يجعل صدره ضيقاحرجا

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit.” (Qs. Al-An’aam: 125)

وَمَا تَشَاؤُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menhendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (Qs. At-Takwir: 29)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إن قلوب بني أدم كلها بين إصبعـين من أصا بع الرحمن, كـقلب وا حد, يصرفه حيث يشاء

“Sesungguhnya hati-hati manusia seluruhnya di antara dua jari dari jari jemari Ar-Rahmaan seperti satu hati; Dia memalingkannya kemana saja yang dikehendaki-Nya.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2654). Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 1689))

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para Imam Salaf dari kalangan umat Islam telah ijma’ (sepakat) bahwa wajib beriman kepada qadha’ dan qadar Allah yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit, yang sedikit maupun yang banyak. Tidak ada sesuatu pun terjadi kecuali atas kehendak Allah dan tidak terwujud segala kebaikan dan keburukan kecuali atas kehendak-Nya. Dia menciptakan siapa saja dalam keadaan sejahtera (baca: menjadi penghuni surga) dan ini merupakan anugrah yang Allah berikan kepadanya dan menjadikan siapa saja yang Dia kehendaki dalam keadaan sengsara (baca: menjadi penghuni neraka). Ini merupakan keadilan dari-Nya serta hak absolut-Nya dan ini merupakan ilmu yang disembunyikan-Nya dari seluruh makhluk-Nya.” (al-Iqtishaad fil I’tiqaad, hal. 15)

Tingkatan Keempat: al-Khalq (Penciptaan)

Yaitu, bahwa Allah adalah Pencipta (Khaliq) segala sesuatu yang tidak ada pencipta selain-Nya, dan tidak ada rabb selain-Nya, dan segala sesuatu selain Allah adalah makhluk. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الله خـلق كل شىء ۖوهو على كل شىء وكيل

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Qs. Az-Zumar: 62)

Meskipun Allah telah menentukan takdir atas seluruh hamba-Nya, bukan berarti bahwa hamba-Nya dibolehkan untuk meninggalkan usaha. Karena Allah telah memberikan qudrah (kemampuan) dan masyii-ah (keinginan) kepada hamba-hamba-Nya untuk mengusahakan takdirnya. Allah juga memberikan akal kepada manusia, sebagai tanda kesempurnaan manusia dibandingkan dengan makhluk-Nya yang lain, agar manusia dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Allah tidak menghisab hamba-Nya kecuali terhadap perbuatan-perbuatan yang dilakukannya dengan kehendak dan usahanya sendiri. Manusialah yang benar-benar melakukan suatu amal perbuatan, yang baik dan yang buruk tanpa paksaan, sedangkan Allah-lah yang menciptakan perbuatan tersebut. Hal ini berdasarkan firman-Nya,

والله حلقكم وما تعملون

“Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (Qs. Ash-Shaaffaat: 96)
Dan Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya,

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (Qs. Al-Baqarah: 286)

Hikmah Beriman Kepada Takdir

Beriman kepada takdir akan mengantarkan kita kepada sebuah hikmah penciptaan yang mendalam, yaitu bahwasanya segala sesuatu telah ditentukan. Sesuatu tidak akan menimpa kita kecuali telah Allah tentukan kejadiannya, demikian pula sebaliknya. Apabila kita telah faham dengan hikmah penciptaan ini, maka kita akan mengetahui dengan keyakinan yang dalam bahwa segala sesuatu yang datang dalam kehidupan kita tidak lain merupakan ketentuan Allah atas diri kita. Sehingga ketika musibah datang menerpa perjalanan hidup kita, kita akan lebih bijak dalam memandang dan menyikapinya. Demikian pula ketika kita mendapat giliran memperoleh kebahagiaan, kita tidak akan lupa untuk mensyukuri nikmat Allah yang tiada henti.

Manusia memiliki keinginan dan kehendak, tetapi keinginan dan kehendaknya mengikuti keinginan dan kehendak Rabbnya. Golongan Ahlus Sunnah menetapkan dan meyakini bahwa segala yang telah ditentukan, ditetapkan dan diperbuat oleh Allah memiliki hikmah dan segala usaha yang dilakukan manusia akan membawa hasil atas kehendak Allah.

Ingatlah saudariku, tidak setiap hal akan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka hendaklah kita menyerahkan semuanya dan beriman kepada apa yang telah Allah tentukan. Jangan sampai hati kita menjadi goncang karena sedikit ‘sentilan’, sehingga muncullah bisikan-bisikan dan pikiran-pikiran yang akan mengurangi nikmat iman kita. Dengarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إحرص على ما ينفعك, واستعن بالله ولا تعجز, فإن أصا بك شيء فلا تقل: لو أني فعلت كذا وكذا لكن كذا وكذا, ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل, فإن (لو) تفتح عمل الشيطان

“Berusahalah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan Allah dan janganlah sampai kamu lemah (semangat). Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata ‘seandainya aku melakukan ini dan itu, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi katakanlah ‘Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya).’ Karena sesungguhnya (kata) ‘seandainya’ itu akan mengawali perbuatan syaithan.”
(Shahih, riwayat Muslim dalam Shahih-nya (no. 2664))

Tidak ada seorang pun yang dapat bertindak untuk merubah apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Maka tidak ada seorang pun juga yang dapat mengurangi sesuatu dari ketentuan-Nya, juga tidak bisa menambahnya, untuk selamanya. Ini adalah perkara yang telah ditetapkan-Nya dan telah selesai penentuannya. Pena telah terangkat dan lembaran telah kering.

Berdalih dengan takdir diperbolehkan ketika mendapati musibah dan cobaan, namun jangan sekali-kali berdalih dengan takdir dalam hal perbuatan dosa dan kesalahan. Setiap manusia tidak boleh memasrahkan diri kepada takdir tanpa melakukan usaha apa pun, karena hal ini akan menyelisihi sunnatullah. Oleh karena itu berusahalah semampunya, kemudian bertawakkallah.

Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

وتوكل على الله ۚ إنه هو السميع العليم

“Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Anfaal: 61)

ومن يتو كل على الله فهو حسبه

“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (Qs. Ath-Thalaq: 3)

Dan jika kita mendapatkan musibah atau cobaan, janganlah berputus asa dari rahmat Allah dan janganlah bersungut-sungut, tetapi bersabarlah. Karena sabar adalah perisai seorang mukmin yang dia bersaudara kandung dengan kemenangan. Ingatlah bahwa musibah atau cobaan yang menimpa kita hanyalah musibah kecil, karena musibah dan cobaan terbesar adalah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam sabdanya,

إذا أصاب أحدكم مصيبة فليذكر مصيبة بى, فإنها من أعظم المصائب

“Jika salah seorang diantara kalian tertimpa musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku, sungguh ia merupakan musibah yang paling besar.”
(Shahih li ghairih, riwayat Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat (II/375), Ad-Darimi (I/40))

Apabila hati kita telah yakin dengan setiap ketentuan Allah, maka segala urusan akan menjadi lebih ringan, dan tidak akan ada kegundahan maupun kegelisahan yang muncul dalam diri kita, sehingga kita akan lebih semangat lagi dalam melakukan segala urusan tanpa merasa khawatir mengenai apa yang akan terjadi kemudian. Karena kita akan menggenggam tawakkal sebagai perbekalan ketika menjalani urusan dan kita akan menghunus kesabaran kala ujian datang menghadang.
Wallahu Ta’ala a’lam wal musta’an.

Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly
Muraja’ah: Ust. Aris Munandar

Maraji’:
Al-Iqtishaad fil I’tiqaad, karya Imam Ibnu Qudamah, cetakan Maktabah Al-’Uluum wal Hikam.
Al-Wajiz fii ‘Aqidatis Salafish Shalih Ahlis Sunnah wal Jama’ah (Edisi Indonesia: Panduan ‘Aqidah Lengkap), karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid Al-Atsari, cetakan Pustaka Ibnu Katsir.
‘Aqidatus Salaf Ash-habul Hadiits (Edisi Indonesia: ‘Aqidah Salaf Ash-habul Hadits), karya Syaikh Abu Isma’il Ash-Shabuni, cetakan Pustaka At-Tibyan.
‘Aqidah Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karya Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
At-Ta’liqat Al-Mukhtasharah ‘Ala Matni Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah (Edisi Indonesia: Penjelasan Ringkas Matan Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah), karya Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, cetakan Pustaka Sahifa.
At-Tawakkul ‘alallaahi Ta’aalaa (Edisi Indonesia: Hidup Tentram dengan Tawakkal), karya Dr. ‘Abdullah bin ‘Umar Ad-Duwaiji, cetakan Pustaka Ibnu Katsir.
Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari, karya Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, cetakan Darul Hadits.
Fathul Majid Syarah Kitaabut Tauhid (Edisi Indonesia: Fathul Majid), karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, cetakan Pustaka Sahifa.
Meniru Sabarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Edisi Terjemah), karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali, cetakan Pustaka Darul Ilmi.
Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cetakan Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Syarah Lum’atul I’tiqad (Edisi Indonesia: Wahai Saudaraku, Inilah ‘Aqidahmu), karya Syaikh Muhammad bin Utsaimin, cetakan Pustaka Ibnu Katsir.
Syarah Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Imam Al-Hafizh Al-Laalikai, cetakan Darul Hadits.
Ushulus Sunnah (Edisi Indonesia: ‘Aqidah Shahih Penyebab Selamatnya Seorang Muslim), karya Al-Hafizh Abu Bakar Al-Humaidi, cetakan Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
Ushulus Sunnah (Edisi Indonesia: Ushulus Sunnah), karya Imam Ahmad bin Hambal, cetakan Pustaka Darul Ilmi.

***
Artikel muslimah.or.id

Donasi dakwah YPIA

28 Comments

  1. ropii says:

    alhamdulilah, kiranya tulisan ini memberikan hidayah dan kepemahaman yg berlipat dlm hal takdir bagi ana. amin. syukron

  2. Aisya Humaira says:

    SubhanALLAH…artikel yg sgt bagus…bisa membuatkan saya tersenyum….bsrnya manfaat bagi org yg redha dgn Qada’dan Qadar ALLAH…sangat bermanfaat untuk hati yg penuh dengan keluh kesah…

  3. ardh rizk says:

    allhamdllah, artkelnya bgus

  4. Abu Lutfie says:

    alhamdulillah,artikelnya sngat brmanfaat bg ana.. Barakallahu fikum

  5. Alhamdulillah artikelny sangat2 bagus. Smoga Alloh pemilik langit dan bumi beserta isinya selalu melimpahkan hidayah & kasih sayangNya kpd kita semua sehingga ttp istiqomah dlm manhaj Salafush Sholih. Dari saudaramu yg mncoba istiqomah di hamparan ombak laut cina selatan, kepulauan Anambas.

  6. kembara says:

    salam

    [sepertimana kenyataan dlm artikel bertajuk Iman Kepada Takdir Baik dan Buruk]

    “Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”

    ….terlebih dahulu saya mohon maaf jika dianggap keterlaluan persoalan saya . Dengan cara apakah kita mampu menghitung sehingga dapat memutus bahawa Allah telah menulis setiap takdir makhlukNya sejak lima ribu tahun sebelum alam dunia tercipta ?

    …sukatan bilangan masa , hari sehingga terkumpul menjadi tahun diukur dari sudut mana ? , sebab tiada kejadian yg tercipta pd waktu tersebut , seperti matahari dan perjalan pergerakannya yg membentuk siang dan malam ..saya mohon sedikit penjelasan dari penulis artikel ..wasalam

    • kalimat ini,

      “Allah telah menulis seluruh takdir seluruh makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.”

      adalah sabda Nabi shallallahu’alaihiwassallam. Hadits ini riwayat Muslim yang telah kita sepakati keshahihannya, sehingga apa yang beliau shallallahu’alaihiwasallam sampaikan adalah wahyu diturunkan Allah. Lalu siapakah yang menghitung sehingga mendapatkan angka 50000 tahun? Dialah Allah Dzat Yang Maha mengetahui segala penciptaanNya.

  7. kembara says:

    salam

    T/k atas penjelasan muslimah.or.id

    Telah dikalahkan Rom [iaitu kalah pada Farsia] , Q 30 : 2

    [yang letaknya] dekat negeri [Arab] , sedang mereka sesudah kalah itu akan menang , Q 30 : 3

    Dalam beberapa tahun . Kepunyaan Allah semua urusan sebelum itu dan kemudiannya . Pada hari itu [hari kemenangan] akan bergembiralah orang-orang yang beriman , Q 30 : 4

    Firman di atas diwahyukan kepada baginda Rasul Muhamad saw , bahawa Farsia akan mengalami kekalahan dengan kerajaan Rom . Tempoh masa bagi kerajaan Farsia menerima kekalahan pada kerajaan Rom adalah sekitar beberapa tahun selepas kemenangan Farsia .

    Perlu direnungi dan dicari sebab, mengapakah firman Allah tidak memperjelaskan kepada baginda rasul tempoh masa [jumlah tahun] kekalahan Farsia dengan tepat ? Melalui uslub di atas disebut “dalam tempoh beberapa tahun” Fii bidh’i siniina [ فى بضع سنين ] , berapakah bilangan tahunnya ? kenapa firman tidak menyebut secara tepat seperti empat tahun , lima tahun atau tujuh tahun Kerajaan Farsia akan kalah pada Kerajaan Rom ?

    Sedang jika berdasarkan kenyataan yg dianggap hadis nabi , bahawa “Allah telah menulis seluruh takdir makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” . Justeru , apakah firman tidak dapat memberi hitungan tahun yg tepat kekalahan Farsia pada kerajaan Rom melalui uslub ke empat dari surah Rum ini ?.

    Sebaliknya melalui pengisahan lain , firman Allah memberitakan pada baginda rasul dengan jelas bahawa kumpulan ashabul Kahfi tertidur di dalam gua selama 309 tahun , rujuk Quran ;

    Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun , Q 18 : 25

    Melalui uslub ini mengapa pula firman dapat menjelaskan jumlah tahun dengan jelas dan tepat kepada baginda rasul ? Sudah pasti dua peristiwa ini telah pun ditulis takdirnya sejak 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi . Apakah pengertian hikmahNya di sebalik pendekatan pemberitan dua uslub Quran tersebut ?

    Ternyata , dua peristiwa ini berada pada kedudukan perselisihan perbezaan iaitu ghaib dan zahir . Pengisahan melalui surah Ar Rum , mengenai kekalahan Farsia pada Rom adalah berada dalam keadaan ghaib atau berada pada Ilmullah , iaitu kejadian kemenangan Kerajaan Rom belum berlaku atau belum terlaksana . Bilamana perkara ghaib yg belum terlaksana diberitakan melalui uslub menyebabkan tiada hitungan perjumlahannya yg tepat . Sedang setiap perjumlahan itu terhitung di alam zahir atau alam sifat , bermaksud setiap perjumlahan yg berupa hitungan itu bermula di alam zahir [di dunia] . Justeru , sewaktu berkedudukan ghaib tiada hitungan seperti ketika di alam nyata , sebab ghaib bukan merupakan sifat yg dapat dihitung perjumlahannya .

    Sementara pengisahan melalui surah Al Kahfi , mengenai ashabul kahfi yg tertidur itu merupakan peristiwa yg telah berlaku di suatu ketika dahulu . Bermaksud peristiwa ashabul kahfi ini sudah terlaksana di alam zahir , kemudian peristiwa ini kembali dan tersimpan pada ilmullah [ghaib] . Sewaktu peristiwa ini terjadi sudah terdapat hitungan atau sudah berada di alam sifat atau sudah berada di alam perjumlahan . Bilamana peristiwa ini diberitakan semula kepada baginda rasul menyebabkan wujudnya hitungan pada uslub yg memaparkan kisah tersebut [309 tahun] .

    Pengajaran melalui dua peristiwa ini menunjukkan sewaktu ghaib tiada hitungan , sebaliknya setelah nyata atau zahir barulah wujudnya hitungan . Sebab itu dalam komentar saya yg pertama itu saya mohon kepastian dari penulis artikel . Allah [Alloh] itu bersifat mukholafah dengan makhlukNya , oleh itu jangan ada perkara yg berunsur mumathalah dengan makhlukNya . Bersihkan dgn betul2 maksud pengertian “Alloh telah menulis seluruh takdir makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”

    Salah dan silap saya mohon maaf pada penulis artikel . wasalam

    • Salah satu prinsip dari aqidah ahlusunnah adalah membenarkan semua berita yang datang dari Nabi shallallahu’alaihiwasallam, selama berita tersebut memang benar-benar shahih tanpa mempertanyakan kenapa Allah berbuat begini dan begitu. Kenapa Allah Ta’ala menyebutkan bilangan dengan pasti pada satu kejadian dan tidak menyebutkan bilangan pasti kurun waktu kejadian lainnya maka itu semua adalah masyiah (kehendak) Allah.Apakah Allah merahasiakan suatu bilangan atau mengkhabarkan bilangan tersebut maka itu semua adalah kehendak Allah Ta’ala. semua yang Allah khabarkan melalui lisan Nabi shallallahu’alaihiwasallam wajib dibenarkan, diterima dengan ketundukan dan keberserahan diri.
      Semoga Allah memberikan taufiq kepadamu…

  8. kembara says:

    السلام عليكم ورحمة الله تعالى وباركاته

    Setiap sesuatu yg berlaku adalah bersebab , tidak akan terjadi sesuatu perkara tanpa didahului dengan sebab dan musababnya kecuali Zat wajibalwujud di mana kewujudanNya tidak dikerana dengan suatu kerana iaitu tiada disebabkan oleh sesuatu yg lain sehingga menyebabkan Allah wujud .

    Adakah menjadi satu kesalahan dan kesilapan sekiranya terdapat di kalangan hambaNya yg ingin mencari serta mendapatkan kebenaran [ حق ] dari Allah dgn mengajukan soalan2 di sebalik sebab dan musabab sehingga terjadinya sesuatu perkara . Sekiranya saya bertanya “mengapakah Allah perintahkan kepada semua umat manusia supaya menyerah diri padaNya” ? pasti ada jawapannya iaitu [ اِن الدين عند الله الاِسلام ]. Begitu jua sekiranya saya bertanya mengapakah Islam itu merupakan ugama yg diberi jaminan kesejahteraan buat manusia dunia dan akhirat ? , pasti ada jawapannya . Sekiranya sesuatu itu merupakan kebenaran pasti ada jawapannya kecuali dalam perkara dusta atau batil . Sedangkan pertanyaan2 yg diajukan itu tidak sampai pun ke peringkat mentakyifkan [ تكييف ] Allah begitu jua tidak sampai ke tahap mempersoalkan tentang Zat Allah .

    فَسْئَلُواأَهْلَ الذِّكْرِاِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

    ..bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui , Q 16 : 43

    Mahu buang ke mana perintah Allah di atas ? [ كل امر للوجوب كل نهي لتّحرم ] tk tahu pulak saya kalau2 perintah Allah itu bertukar menjadi sunat sebab terlalu banyak kaedah melalui ilmu usulfiqh . Maaf saya pun kurang arif .

    اِنَّمَايَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْءِوَالْفَحْشَاءِوَاَنْ تَقُوْلُوْاعَلَى الله مَالَاتَعْلَمُوْنَ

    Sesungguhnya syaitan itu menyuruh kamu supaya berbuat kejahatan dan perbuatan keji begitu jua ia merayumu untuk mengatakan terhadap Allah hal2 yang kamu tidak ketahui , Q 2 : 169

    Persoalannya , apakah anda sudah pasti bahawa setiap perkhabaran [ خبر ] yang dianggap hadis di mana tersusun sanadnya yg tidak terputus sehingga sampai ke matannya yg disandarkan kepada nabi adalah kesemuanya benar belaka , sekali pun teriring dgn nama2 dan tokoh terkemuka tertentu di kalangan mereka yg diiktiraf oleh ilmu mustalahal hadis ? apakah mereka ini maksum kesemuanya ? . Di tangan anda itu ada Al Quran yg terpelihara kesahihannya.

    Rasanya , lebih baik berdoa pd diri sendiri untuk mendapatkan taufiq hidayah Allah sebelum mendoakan orang lain , akan tetapi tidak dinafikan perbuatan anda itu adalah baik menurut syari’at baginda rasul Muhamad saw..wasalam

    • @ Kembara

      wa’alaykumussalaam warahmatullah wabarakatuh

      [1] Dari mana kita tahu tentang bilangan “50000 tahun” tersebut?
      Jawaban: Penulis artikel telah menyertakan periwayat hadits tersebut. Alhamdulillah, berdasarkan penilaian para ahli hadits, hadits tersebut shahih. Para ahli hadits ini adalah orang-orang yang sudah terpercaya ilmunya di bidang hadits, serta terpercaya sifat amanah dan ilmiahnya, insya Allah. Ulama hadits yang meriwayatkan hadits ini pun terbilang banyak jumlahnya, dan mereka semua adalah ulama-ulama yang terkenal. Karenanya, sepantasnya kita mempercayai bahwa hadits tersebut memang shahih. Sebagaimana dalam ilmu dunia pun kita akan percaya jika ahli dalam suatu bidang telah berbicara tentang hal tersebut. Jika pun ada kekeliruan yang diperbuat oleh ulama hadits ini, insya Allah akan ada ulama lain yang mengoreksinya. Akan tetapi, setahu kami, sejauh ini belum ada ulama lain yang menyangkal bahwa hadts ini patut diimani. Jika pun Saudara Kembara mengetahui ada ulama yang mempermasalahkan hadits ini, mohon diberitahukan kepada kami agar kita bisa saling berbagi ilmu dengan saudara muslim yang lain. Wallahu a’lam.

      [2] Mengenai perkara-perkara, ada yang telah Allah jelaskan bilangannya secara rinci adapula yang tidak dijelaskan secara rinci. Sebagai muslim yang baik dan beriman bahwa Allah memiliki sifat Maha Mengetahui dan Maha Hikmah, tentu patutlah jika kita tak memperdalam pertanyaan mengenai mengapa tak Allah sebutkan bilangannya secara rinci, namun mengapa untuk hal lain Allah sebutkan secara rinci. Jikalau maksud Saudara Kembara adalah hendak mencari hikmah di balik penyebutan bilangan secara rinci dan ada yang tidak, maka sepatutnya pula kita lihat apakah ada penjelasan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika ada, alhamdulillah ilmu kita pun bisa bertambah. Jika pun tak ada, maka kita tetap bersyukur pada Allah dan tak perlu mempersulit diri dengan mencari-cari tahu, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tak menjelaskan pada kita, maka dari sumber manakah kita hendak mencari tahu hikmah di balik firman Allah ini? Insya Allah, banyak khazanah ilmu lain yang kan lebih bermanfaat tuk kita kaji, yaitu yang telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya, sehingga tak perlu lagi membuat kita bingung dan kesulitan menyibak maknanya.

      [3] Jazakallahu khayran, semoga Allah membalas Saudara Kembara dengan kebaikan, karena Saudara telah mengingatkan kami untuk mendoakan diri kami terlebih dahulu. Tidaklah maksud berkata “semoga Allah memberimu taufik”, melainkan karena kami ingin agar Allah memberi taufik kepada Saudara sebagaimana semoga Allah pun memberi taufik kepada kami. Di dalam doa ada harapan menginginkan yang terbaik bagi saudaranya sesama muslim.

  9. Tambahan bagi Saudara Kembara,

    1. Allah tidak ditanya tentang perbuatanNya tapi merekalah (manusia) yang akan ditanya tentang perbuatannya. (Al Anbiya’: 23)
    Bertolak dr ayat ini maka sudah jelas, apa yang Allah perbuat adalah wewenang Allah, apakah Allah akan merahasiakan ataukah menghabarkan kepada NabiNya maka itu semua kembali kepada kehendak Allah.

    2. Sudah kami tegaskan pada jawaban kami sebelumnya, bahwa salah satu prinsip aqidah ahlusunnah adalah membenarkan berita yang shahih, tunduk dan berserah diri kepadanya. Adapun jika saudara tidak memakai prinsip ini maka maaf jika kami tidak melayani diskusi untuk selanjutnya.

  10. Ummu Maryam says:

    Assalaamu’alaikum
    Ada yang ingin saya tanyakan.

    Banyak orang yang ditakdirkan sebelum mengenal manhaj salaf, mereka tersesat ke manhaj yang lain, melakukan maksiat, bahkan mungkin pernah berbuat kesyirikan.

    Yang ingin ana tanyakan, apakah boleh seorang yang akan menikah menanyakan/menyelidiki masa lalu pasangannya? Misalnya ingin tahu jika memang pernah menyimpang sejauh mana penyimpangannya, karena khawatir akan masa depan rumah tangga dan anak-anaknya.

    Lalu apakah boleh faktor masa lalu (misalnya pernah belajar sihir, atau filsafat, atau sufi) menjadikan seorang perempuan menolak pinangan seorang laki-laki yang memang seperti itu masa lalunya? Ataukah itu hanya waswas syaithan?

    Jazakumullah khair.

    • @ Ummu Maryam
      Wa’alaikumussalam,
      Setiap manusia pasti pernah berbuat salah atau punya masa lalu yang kelam, baik berkubang dengan maksiat, bid’ah atau bahkan kesyirikan-waliyyadzubillah- dan sebaik-baik hamba yang pernah berbuat salah adalah yang bertaubat sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
      كل بن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
      “Setiap anak adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat”. Hadits ini dihasankan Syaikh Albani dan di shahihkan oleh Al-Hakim. Lihat takhrij hadits selengkapnya disini
      Dan semoga kita semua termasuk orang yang bersegera untuk bertaubat kepada Allah.

      Tentang pertanyaan Anti, kami sarankan sebaiknya Anti tidak perlu banyak tanya tentang masa lalu, karena bagaimanapun kesalahan adalah sebuah aib apalagi orang yang bersangkutan telah bertaubat dari kesalahannya. Alangkah baiknya jika kitapun memaafkan dan tidak mengungkitnya. Allahu a’lam

      wa anti fajazakillahukhaira

  11. hespe says:

    bagus dan sangat menyentuh hati

  12. batiksragen says:

    nice artikel,
    lengkap dari definisi, cara bersikap, dan bagaimana cara beriman kepada takdir Allah. sukron katsiron

  13. david says:

    ijin share yaaaaa

  14. Ahmad says:

    Makasih mudah2 alloh ta’ala memb
    erikan keberkah
    han . . Amin2 ya
    mujibassailin

  15. Ahmad says:

    Bismillah ” makasih untk para ust ,alim ulama saudara2 ygkucintai karna alloh

  16. hanifah says:

    sy mau tanya, bagaimana dg do’a? sy pernh membca sbuah buku,didalm buku tu trtulis kalo do’a dapat mengalahkan takdir..

    • @hanifah
      terdapat sebuah hadits
      “Tidak ada yang mampu menolak takdir kecuali doa”. [Sunan At-Tirmidzi, bab Qadar 8/305-306]

      dan berikut penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika ditanya “Apakah doa memiliki pengaruh mengubah apa yang ditetapkan Allah kepada manusia sebelum terjadi?”

      Beliau menjawab, “Tidak diragukan lagi, bahwa doa memiliki pengaruh untuk mengubah apa yang telah ditetapkan Allah. Akan tetapi, perubahan karena sebab doa itu pun sebenarnya telah ditetapkan Allah sebelumnya. Janganlah engkau mengira bahwa apabila engkau telah berdoa, berarti engkau meminta sesuatu yang belum ditetapkan. Akan tetapi, doa yang engkau panjatkan itu hakikatnya telah ditetapkan dan apa yang terjadi karena doa tersebut juga telah ditetapkan.

      Oleh sebab itu, terkadang kita menjumpai seseorang yang mendoakan kesembuhan untuk orang sakit, kemudian sembuh. Dan juga kisah sekelompok sahabat yang diutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah bertamu di suatu kaum, tetapi kaum tersebut tidak mau menjamu mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menakdirkan seekor ular menyengat pemimpin mereka. Lalu mereka mencari orang yang bisa membaca doa kepadanya agar sembuh. Kemudian para sahabat mengajukan persyaratan upah tertentu untuk membacakan doa kesembuhan kepadanya. Kemudian mereka (kaum) memberikan sepotong kambing, maka berangkatlah salah seorang dari sahabat untuk membacakan al-Fatihah untuknya. Maka, hilanglah racun tersebut seperti unta terlepas dari ikatannya. Maka, bacaan doa tersebut berpengaruh menyembuhkan orang yang sakit.

      Dengan demikian, doa memiliki pengaruh, namun tidak mengubah ketetapan Allah. Akan tetapi kesembuhan tersebut telah tertulis dengan lantaran doa yang juga telah tertulis. Segala sesuatu terjadi karena ketentuan Allah, begitu juga segala sebab memiliki pengaruh terhadap musabbab (akibat)-nya dengan kehendak Allah. Semua sebab telah tertulis dan semua hal yang terjadi karena sebab itu juga telah tertulis.” (Lihat Majmu Fatawa wa Rasa’il Ibnu Utsaimin, 2/71).

  17. abdullah rizki says:

    Jazakumullah khoir.. artikel bagus, bikin hati jadi adem…
    ijin copas akhi….

  18. kunjungan malem,terima kasih atas informasinya ini sangta bermanfaat

    http://goo.gl/CG3YIu

  19. terimakasih atas informasinya

  20. Setelah membaca artikelnya ternyata informasi yang ada didalam nya sangat bagus dan menambah wawasan,terimakasih

  21. Isi artikel nya sangat bagus dan sangat bermanfaat,terima kasih

  22. isi artikel nya sangat bermanfaat sekali terimakasih .

  23. artikel nya sangat bermanfaat dan bagus sekali, terimakasih abnyak informasinya gan !

Leave a Reply