Penyusun: Ummu Ziyad
Muroja’ah: Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi
Saudariku! Jangan Pandang Sebelah Mata Pembahasan Ini
Mungkin ada diantara kita yang merasa cukup dengan apa yang telah dipelajari selama ini dari bangku SD hingga bangku SMA (bahkan bangku perkuliahan) atau merasa tidak ada yang perlu dibahas lagi, sudah tahu bahwa Nabi itu ada 25, sifat nabi yang wajib ada 4, shidiq, fatonah, amanah, dan tabligh. Jika demikian pemahamanmu wahai saudariku, maka kebutuhanmu semakin besar dalam membaca tulisan kali ini, sehingga dengan izin Allah, engkau akan menyadari makna dan konsekuensi yang benar dari pernyataan keimananmu kepada Nabi dan Rasul-Nya ‘alaihimush shalatu wassalam.
Definisi Nabi dan Rasul
Nabi dalam bahasa Arab berasal dari kata naba. Dinamakan Nabi karena mereka adalah orang yang menceritakan suatu berita dan mereka adalah orang yang diberitahu beritanya (lewat wahyu). Sedangkan kata rasul secara bahasa berasal dari kata irsal yang bermakna membimbing atau memberi arahan. Definisi secara syar’i yang masyhur, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan sedangkan Rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dalam syari’at dan diperintahkan untuk menyampaikannnya (*). Sebagian ulama menyatakan bahwa definisi ini memiliki kelemahan, karena tidaklah wahyu disampaikan Allah ke bumi kecuali untuk disampaikan, dan jika Nabi tidak menyampaikan maka termasuk menyembunyikan wahyu Allah. Kelemahan lain dari definisi ini ditunjukkan dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
(*) Syaikh Ibn Abdul Wahhab menggunakan definisi ini dalam Ushulutsalatsah dan Kasyfu Syubhat, begitu pula Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin.
“Ditampakkan kepadaku umat-umat, aku melihat seorang nabi dengan sekelompok orang banyak, dan nabi bersama satu dua orang dan nabi tidak bersama seorang pun.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga menyampaikan wahyu kepada umatnya. Ulama lain menyatakan bahwa ketika Nabi tidak diperintahkan untuk menyampaikan wahyu bukan berarti Nabi tidak boleh menyampaikan wahyu. Wallahu’alam. Perbedaan yang lebih jelas antara Nabi dan Rasul adalah seorang Rasul mendapatkan syari’at baru sedangkan Nabi diutus untuk mempertahankan syari’at yang sebelumnya.
Bagaimana Beriman Kepada Nabi dan Rasul ?
Ketahuilah saudariku! Beriman kepada Nabi dan Rasul termasuk ushul (pokok) iman. Oleh karena itu, kita harus mengetahui bagaimana beriman kepada Nabi dan Rasul dengan pemahaman yang benar. Syaikh Muhammad ibn Sholeh Al Utsaimin menyampaikan dalam kitabnya Syarh Tsalatsatul Ushul, keimanan pada Rasul terkandung empat unsur di dalamnya (*).
(*) Perlu diperhatikan bahwa penyebutan empat di sini bukan berarti pembatasan bahwa hanya ada empat unsur dalam keimanan kepada nabi dan rosul-Nya.
Jumlah Nabi dan Rasul
Ketahuilah saudariku, jumlah Nabi tidaklah terbatas hanya 25 orang dan jumlah Rasul juga tidak terbatas 5 yang kita kenal dengan nama Ulul ‘Azmi. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari, ia bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, berapa jumlah rasul?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tiga ratus belasan orang.” (HR. Ahmad dishahihkan Syaikh Albani). Dalam riwayat Abu Umamah, Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa tepatnya para nabi?”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “124.000 dan Rasul itu 315 orang.” Namun terdapat pendapat lain dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa jumlah Nabi dan Rasul tidak dapat kita ketahui. Wallahu’alam.
Oleh karena itulah, walaupun dalam Al-Qur’an hanya disebut 25 nabi, maka kita tetap mengimani secara global adanya Nabi dan Rasul yang tidak dikisahkan dalam Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Al-Mu’min 40:78). Selain 25 nabi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an, terdapat 2 nabi yang disebutkan Nabi shalallahu’alaihiwasalam, yaitu Syts dan Yuusya’.
Berkenaan dengan tiga nama yang disebut dalam Al-Qur’an yaitu Zulkarnain, Tuba’ dan Khidir terdapat khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama apakah mereka Nabi atau bukan. Akan tetapi, untuk Zulkarnain dan Tuba’ maka yang terbaik adalah mengikuti Rasulullah shalallahu’alaihiwasalam, Beliau shalallahu’alaihiwasalam bersabda, “Aku tidak mengetahui Tubba nabi atau bukan dan aku tidak tahu Zulkarnain nabi atau bukan.” (HR. Hakim dishohihkan Syaikh Albani dalam Shohih Jami As Soghir). Maka kita katakan wallahu’alam. Untuk Khidir, maka dari ayat-ayat yang ada dalam surat Al-Kahfi, maka seandainya ia bukan Nabi, maka tentu ia tidak ma’shum dari berbagai perbuatan yang dilakukan dan Nabi Musa ‘alaihissalam tidak akan mau mencari ilmu pada Khidir. Wallahu’alam.
Tugas Para Rasul ‘alaihissalam
Allah mengutus pada setiap umat seorang Rasul. Walaupun penerapan syari’at dari tiap Rasul berbeda-beda, namun Allah mengutus para Rasul dengan tugas yang sama. Beberapa diantara tugas tersebut adalah:
Kesalahan-Kesalahan Dalam Keimanan Kepada Nabi dan Rosul
Terdapat berbagai pemahaman yang salah dalam hal keimanan pada Nabi dan Rasul-Nya ‘alaihisholatu wassalam. Beberapa di antara kesalahan itu adalah:
Kekhususan Bagi Nabi
Kebutuhan manusia pada para Nabi dan Rasul-Nya adalah sangat primer. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan, “Risalah kenabian adalah hal yang pasti dibutuhkan oleh hamba. Dan hajatnya mereka pada risalah ini di atas hajat mereka atas segala sesuatu. Risalah adalah ruhnya alam dunia ini, cahaya dan kehidupan. Lalu bagaimana mau baik alam semesta ini jika tidak ada ruhnya, tidak ada kehidupannya dan tidak ada cahayanya.”
Demikianlah saudariku. Kita mengetahui kebutuhan hamba akan risalah yang disampaikan oleh Rasul-Nya sangatlah besar. Karena tidaklah seorang hamba dapat melaksanakan ibadah yang dicintai dan diridhoi oleh Allah ta’ala kecuali dengan pengajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dengan diutusnya para Rasul ini, kita mengetahui bahwa Allah menyayangi dan memberi pertolongan pada hambanya. Oleh karena itulah kita wajib bersyukur dengan nikmat yang besar ini. Wallahu ‘alam.
Maraji’:
***
Artikel www.muslimah.or.id
© 2006 - 2011 muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah
regita pramesti
6th February 2012 pada waktu 21:59
ass…
kak ap sih fungsi iman kpd rasul ..?
tlong d.jwab yah …
wss…
muslimah.or.id
27th October 2011 pada waktu 21:06
@ Irwan
Maksud “nabi ada pilihan ketika meninggal” adalah ketika malaikat maut mendatangi seorang nabi maka nabi tersebut diberi pilihan apakah ia ingin diperpanjang umurnya ataukah mati saat itu juga. Sebagai contoh kisah malaikat maut menghampiri Nabi Musa ‘alaihissalam. Hingga akhirnya beliau diberi pilihan tetap hidup ataukah mati. Allahua’lam
muslimah.or.id
23rd October 2011 pada waktu 15:22
@ Nurul
Maksudnya adalah jasadnya masih utuh. Wallahua’lam
irwan
22nd October 2011 pada waktu 11:42
ass.
maz.. aq mau tanya,,
maksud ” nabi ada pilihan ketika meninggal”??
nurul
21st October 2011 pada waktu 11:35
kekhususan yang diberi kepada nabi kan salah satunya jasadnya tidak dimakan bumi. apa maksud dari pernyataan tersebut???
muslimah.or.id
16th May 2011 pada waktu 03:51
@ Yudi
1. Jumhur Ulama berpendapat Lukman adalah seorang wali dan bukan nabi. Sementara Ikrimah dan Asy-Sya’bi berpendapat kenabiannya akantetapi yang benar sebagaimana pendapat Imam Qurtubi dalam tafsir beliau (14/59) bahwa Lukman adalah seorang yang Allah berikan hikmah kepadanya. Meski demikian ketudaktauan kita tentang hal tersebut apakah beliau seorang nabi ataukah seorangwali tidaklah membahaykan sama sekali karena yang terpenting bagi kita adalah meneledani perjalanan beliau serta mengambil hikmah darinya. Sumber diforum ini.
2. Tentang jumlah nabi dan rasul maka Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia) mengatakan, “Tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
Sumber: http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&PageID=895&PageNo=1&BookID=3
Adapun hadits-hadits yang memberitakan jumlah nabi dan rasul maka semuanya tidak lepas dari kelemahan (hadits lemah) sebagaimana yang difatwakan oleh Syaikh Ibnu Jibrin dan Syaikh Ibnu Baz rahimahumullah. Silahkan baca penjelasannya [di sini].
yudy syarif
10th May 2011 pada waktu 09:30
1. Mohon Beri penjelasanya dari semua Nabi Apakah Nama LUKMANUL HAKIM. bisa di katogorikan sebagai nabi, Karna nama Beliau ada di dalam Al-Qur’an ??
2. Apakah Nabi- nabi yang ada dengan jumlah 124.000 ada didalam alquraan maupun hadist ?? mohon jawabanya.. Trimakasih
muslimah.or.id
22nd March 2011 pada waktu 16:33
@ I love Islam
Sifat Nabi maksudnya adalah ciri-ciri Nabi. AllahuA’lam
usman
22nd March 2011 pada waktu 08:38
syukron katsiiir semoga tetap dalam ridha Allah Swt.
i love islam
20th March 2011 pada waktu 20:08
kak mau nanyak
arti dari sifat nabi apa ya
mohon dijawab
sista
19th March 2011 pada waktu 00:07
bagus artikelya tuk menambah ilmu.. Jazakalloh..
Izin ngopi..
Linggar
23rd February 2011 pada waktu 19:20
Makasih atas artikelnya yaaa…..
ujangzapo
23rd February 2011 pada waktu 19:09
mas/mbak..
banner anda sudah saya pasang di wp saya trims atas infonya