Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berjilbab? (1)

Saudariku…
Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.

Saudariku…
Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil “kado istimewa” itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali kutanya, “Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai?” Padahal sudah banyak waktu kau luangkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah jilbab. Sudah sekian judul buku engkau baca untuk memantapkan hatimu agar segera berjilbab. Juga ribuan surat cinta dari saudarimu yang menginginkan agar jilbabmu itu segera kau kenakan. Lalu kenapa, jilbabmu masih terlipat rapi di dalam lemari dan bukan terjulur untuk menutupi dirimu?

Mengapa Harus Berjilbab?

Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita –kaum Hawa- dan bukan kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ‘segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,

“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)

Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,

“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)

Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?

“Aku Belum Berjilbab, Karena…”

1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”

Wahai saudariku… Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? Dia-lah Allah, Rabb-mu, Rabb seluruh manusia, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Allah yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Seperti shalat dan amalan lain yang senantiasa engkau kerjakan, maka berjilbab pun adalah satu amalan yang seharusnya juga engkau perhatikan. Allah Ta’ala telah menurunkan perintah hijab kepada setiap wanita mukminah. Maka itu berarti bahwa hanya wanita-wanita yang memiliki iman yang ridha mengerjakan perintah ini. Adakah engkau tidak termasuk ke dalam golongan wanita mukminah?

Ingatlah saudariku, bahwa sesungguhnya keadaanmu yang tidak berjilbab namun masih mengerjakan amalan-amalan lain, adalah seperti orang yang membawa satu kendi penuh dengan kebaikan akan tetapi kendi itu berlubang, karena engkau tidak berjilbab. Janganlah engkau sia-siakan amal shalihmu disebabkan orang-orang yang dengan bebas di setiap tempat memandangi dirimu yang tidak mengenakan jilbab. Silakan engkau bandingkan jumlah lelaki yang bukan mahram yang melihatmu tanpa jilbab setiap hari dengan jumlah pahala yang engkau peroleh, adakah sama banyaknya?

2. “Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Allah.”

Duhai saudariku…Tahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?

Seseorang yang beramal hanya sebatas perbuatan dan lisan, tanpa disertai dengan keyakinan penuh dalam hatinya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Sementara seseorang yang beriman hanya dengan hatinya, tanpa direalisasikan dengan amal perbuatan yang nyata, maka dia termasuk kepada golongan orang fasik. Keduanya bukanlah bagian dari golongan orang mukmin. Karena seorang mukmin tidak hanya meyakini dengan hati, tetapi dia juga merealisasikan apa yang diyakininya melalui lisan dan amal perbuatan. Dan jika engkau telah mengimani perintah jilbab dengan hatimu dan engkau juga telah mengakuinya dengan lisanmu, maka sempurnakanlah keyakinanmu itu dengan bersegera mengamalkan perintah jilbab.

3. “Aku kan masih muda…”

Saudariku tercinta… Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? Apakah engkau telah mengetahui jatah hidupmu di dunia, sehingga engkau berkata bahwa engkau masih muda dan masih memiliki waktu yang panjang? Belumkah engkau baca firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,

“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (Qs. Al-Mu’minuun: 114)

“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35)

Tidakkah engkau perhatikan tetanggamu atau teman karibmu yang seusia denganmu atau di bawah usiamu telah menemui Malaikat Maut karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla? Tidakkah juga engkau perhatikan si fulanah yang kemarin masih baik-baik saja, tiba-tiba menemui ajalnya dan menjadi mayat hari ini? Tidakkah semua itu menjadi peringatan bagimu, bahwa kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sekarat atau pun orang yang lanjut usia? Dan Malaikat Maut tidak akan memberimu penangguhan waktu barang sedetik pun, ketika ajalmu sudah sampai. Setiap hari berlalu sementara akhiratmu bertambah dekat dan dunia bertambah jauh. Bekal apa yang telah engkau siapkan untuk hidup sesudah mati? Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat…

4. “Jilbab bikin rambutku jadi rontok…”

Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,

“Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.

Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)

5. “Kalau aku pakai jilbab, nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Jadi, aku pakai jilbabnya nanti saja, sesudah menikah.”

Wahai saudariku… Tahukah engkau siapakah lelaki yang datang meminangmu itu, sementara engkau masih belum berjilbab? Dia adalah lelaki dayyuts, yang tidak memiliki perasaan cemburu melihatmu mengobral aurat sembarangan. Bagaimana engkau bisa berpendapat bahwa setelah menikah nanti, suamimu itu akan ridha membiarkanmu mengulur jilbab dan menutup aurat, sementara sebelum pernikahan itu terjadi dia masih santai saja mendapati dirimu tampil dengan pakaian ala kadarnya? Jika benar dia mencintai dirimu, maka seharusnya dia memiliki perasaan cemburu ketika melihat auratmu terbuka barang sejengkal saja. Dia akan menjaga dirimu dari pandangan liar lelaki hidung belang yang berkeliaran di luar sana. Dia akan lebih memilih dirimu yang berjilbab daripada dirimu yang tanpa jilbab. Inilah yang dinamakan pembuktian cinta yang hakiki!

Maka, jika datang seorang lelaki yang meminangmu dan ridha atas keadaanmu yang masih belum berjilbab, waspadalah. Jangan-jangan dia adalah lelaki dayyuts yang menjadi calon penghuni Neraka. Sekarang pikirkanlah olehmu saudariku, kemanakah bahtera rumah tanggamu akan bermuara apabila nahkodanya adalah calon penghuni Neraka?

6. “Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”

Saudariku… Islam tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang selama hal tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah. Akan tetapi, Islam membatasi segala hal yang dapat membahayakan seorang wanita dalam melakukan aktivitasnya baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhiratnya. Jilbab yang menjadi salah satu syari’at Islam adalah sebuah penghargaan sekaligus perlindungan bagi kaum wanita, terutama jika dia hendak melakukan aktivitas di luar rumahnya. Maka dengan perginya engkau untuk bekerja di luar rumah tanpa jilbab justru akan mendatangkan petaka yang seharusnya dapat engkau hindari. Alih-alih mempertahankan pekerjaan, engkau malah menggadaikan kehormatan dan harga dirimu demi setumpuk materi.

Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rizki? Bukankah Allah -Rabb yang berada di atas ‘Arsy-Nya- yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rizki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun? Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rizkinya bergantung kepada kemurahan Allah?

Apakah jika engkau lebih memilih untuk tetap tidak berjilbab, maka atasanmu itu akan menjamin dirimu menjadi calon penghuni Surga? Ataukah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menurunkan perintah ini kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mengadzabmu akibat kedurhakaanmu itu? Pikirkanlah saudariku… Pikirkanlah hal ini baik-baik!

7. “Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.”

Saudariku… Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. Sungguh, dia tidak sebanding. Apakah engkau belum mendengar firman Allah yang berbunyi,

“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.’” (Qs. At-Taubah: 81)

Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,

“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami' (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]

Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri…

8. “Jilbab itu pilihan. Siapa yang mau pakai jilbab silakan, yang belum mau juga gak apa-apa. Yang penting akhlaknya saja benar.”

Duhai saudariku… Sepertinya engkau belum tahu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Engkau menafikan jilbab dari cakupan akhlak mulia, padahal sudah jelas bahwa jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. Jika tidak, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.

Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Allah mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?

Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. Adapun cemburunya Allah disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]

9. “Sepertinya Allah belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.”

Saudariku… Hidayah Allah tidak akan datang begitu saja, tanpa engkau melakukan apa-apa. Engkau harus menjalankan sunnatullah, yakni dengan mencari sebab-sebab datangnya hidayah tersebut.

Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiq. Hidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. Adapun hidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Allah. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Allah kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.

Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya, “Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinik (Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

-Bersambung Insya Allah-

Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Murojaah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah

***

Artikel muslimah.or.id

84 Responses to “Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berjilbab? (1)”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 51
    Ummu Qa'is Says:

    Alhamdulillah…semoga banyak muslimah yang bisa mengambil banyak hikmah dari artikel di atas….

    Afwan, izin untuk mengcopy artikelnya sebagai salah satu bahan mading di kampus.
    Syukran

  2. 52
    lidia Says:

    izin share ya…
    trimakasih…

  3. 53
    trini kusmiah Says:

    Alhamdulillah, Pertanyaan yang dulu sering terlontar dari bibirku,kini kutemukan jawabnya…izin mengcopy utk Mading tempat saya mengajar. Insya Allah artikel ini akan membantu dan akan dituliskn sumbernya sebgai bentuk pengakuan atas hak atas kekayaan intelektual. Syukran…

  4. 54
    anna ummu fikrina Says:

    bagus artikelnya semakin memantapkan hati ana untuk berjilbab (yang syar’i) ijin share ya ukhti…. jazakillah khairon

  5. 55
    helmi Says:

    alhamdulillah.. artikelnya bagus.. mohon ijin untuk di kopi ya

  6. 56
    Nasywaa Says:

    Alhamdulillah semoga bermanfaat bagi muslimah yg belum menutup auratnya amiiiin
    izin share

  7. 57
    fikaResita Says:

    sungguh artikel ini sangat bermanfaat sekali. sebenarnya saya ingin sekali mengenakan jilbab, tetapi ada hal yang menghalangi saya untuk berjilbab. yaitu sekolah. saya siswi kelas 3 SMA negeri. sekolah saya melarang siswi muslimnya untuk tidak mengenakan jilbab. sudah banyak usaha guru agama dan guru lainnya yg beragama islam untuk meminta izin, tetapi sampai sekarang tidak diperkenankan.
    apa saya harus menunda mengenakan jilbab yaitu pada saat kuliah nanti?

  8. 58
    najwa Says:

    assalamu’alaikum ya ukhti…
    saya minta izin utk ambil info2 dari blog2 anda bagi mbuat assign. saya…
    trima aksih..

  9. 59
    Nasuhi Says:

    Subhanallah….smoga dapat menggugah hati yang lengah tak menjalankan syari’at …Jazakallah

  10. 60
    Rini Says:

    Assalamu’alaikum wr wb..
    atikelnya bagus sekali..izin share ya ukhti..syukron

  11. 61
    n.fathin Says:

    subhanallah…artikel yg bagus..
    saya izin share ya..

  12. 62
    iis Says:

    assalammualaikum wr.wb
    alhamdulillah kni sy sorg yg brjilbab. awal’a mgkn krn sya memang nymn skli dgn pkaian trtu2p, namun lambat laun sya pun ingn mncri tahu mkna yg sbnr’a d blik jilbab. sungguh sya ingin brtnya..

    apakh bnr2 d wjibkn sorg prmpuan memakai bju jubah??bgmn dgn bju trt2p yg mnggunkn bju muslim dn rok terusan!!?

    mhon blasn ats prtnyan sya. mhon btuan’a. sblm dn ssudh’a sya ucpkn trima kasih.

    wassalammualaikum wr.wb

  13. 63
    Murni lindo Says:

    Hati kecil ku tergetar.

  14. 64
    ngasiful Says:

    SUBHANALLAH…..!!!!!!!
    ijin copy ya,,,,,sukron….

  15. 65
    uti Says:

    Assalamu’alaykum, ijin share ya ukh jzkllh :)

  16. 66
    sri hartatik Says:

    subhanallah..artikel bgus sX..tp ko gbs dCopy yax??

  17. 67
    ABDULLAH Says:

    Alhamdulilah semoga bermanfaat, dan barokah untuk penulis mohon izin untuk copy tulisan untuk disebarluaskan

  18. 68
    dewi Says:

    subhanallah,,,,, artikelnya bgs skli.
    aku juga ingin selalu menjadi sosok muslimah yg soleha
    menghabiskan waktuku hanya karena Allah swt….
    menjadikan jilbab menjadi bagian dari hidupku…..
    mga..bermanfaat trus jazakilahi khoiron katsiron……….
    izin copy artikelx yachhh..

  19. 69
    lia Says:

    good article…semoga para remaja dan juga ibu dan bapak yang memiliki gadis remaja dapat membaca article ini…
    Toek para saudara-saudara yg masih ragu berjilbab…JANGAN RAGU DALAM MENAPAKI SEBUAH KEBENARAN…
    pake aja dulu jilbabnya…
    rasakan dalam dalam….
    lihat dicermin bagaimana wajah kita…
    bandingkan “before” dan “after” berjilbab
    tarik nafas….and smile….
    and… you’ll see…jilbab is very comfortable..
    and you look more beutifull, out and inside….of course
    and you know…??
    saya seorang wanita …tomboyyy sekali…(dulu)
    almost menjurus kearah hormon laki-laki..
    at least…saya takut dengan ketidaknormalan ini..
    teman saya bilang “PAKE AJA JILBAB” ntar kamu akan normal lagi menjadi seorang wanita yang sebenarnya…
    Akhirnya, tanpa berpikir panjang, besok saya langsung pake jilbab agar bisa hidup sesuai dengan fitrahnya..
    Orang tua melarang (terutama ibu)…tapi yyaah cuex aja…biar mereka marah, tetap SAYA HARUS BERJILBAB…(dulu tidak tahu ilmunya…niatnya..hanya karena ingin hidup normal sebagai wanita)
    saya tidak punya persiapan baju sama sekali…dan..”tahun itu” jilbab dilarang oleh pihak sekolah (konsekuensi berjilbab adalah dikeluarkan dari sekolah)..begitu banyak kesulitan…tapi saat jilbab itu sudah terjulur..TIDAK ADA KETAKUTAN DAN YANG ADA HANYA KEBERANIAN UNTUK MENEMPUH SEGALA KESULITAN AGAR JILBAB TETAP BERTAHAN………akhirnya…Allah memudahkan segalanya,,,dan yang paling penting,,SAYA MENJADI WANITA SEUTUHNYA….SESUAI DENGAN AWAL PENCIPTAAN SAYA dan saat ini saya berjilbab dengan ilmu (insya allah)….semangat yah yang mau berjilbab…dont be afraid,ok

  20. 70
    eka Says:

    subhanallah, begitu besar cinta Allah SWT kepada kita , sehingga Allah memerintahkan setiap muslimah untuk menutup auratnya…
    tetapi sayangnya masih banyak yang belum mengambil hikmah di baliknya, bahkan masih banyak yang belum bisa menunaikan ibadah tersebut….
    .izin untuk mencopy…
    .syukron…

  21. 71
    nay Says:

    assalamualaikuumm
    ijin share ya mba :))
    jzk

  22. 72
    erma Says:

    artikel yg sngt membangun…
    smga da kesadaran dri setiap perempuan yg membacanya…amien
    izin mengcopy y..

  23. 73
    Abun Supryatna Says:

    Subhanallah artikelnya menark banget,mudah mudahan banyak saudari saudari kita yang tergerak hatinya untuk memakai JILBAB..Mohon izin share di wall.Jazaakallahu khairan.sukra.

  24. 74
    adelia novianti m Says:

    saiaa ingin berjilbab,,tapi saia tkt tidak dapat kerja..saia takut saia tidak konsisten,,saia takut suatu sat nanti saia malah membuka nya,,

  25. 75
    asdarlooy Says:

    assalamualaikum… Ijin share yah.

  26. 76
    bunaki cakes Says:

    ukhti… Alhamdulillah Allah menuntun saya untuk membaca artikel ini. Semua yg diutarakan ukhti adalah yg pernah terlontar dr hati saya sblm berjilbab. Ijin share ya ukhti, semoga mendatangkan barokah bagi kita semua.amiin

  27. 77
    ummu fauzi Says:

    ana izin copas y…syukron…

  28. 78
    Hla Says:

    artikel yg bgus,smakin memantapkan langkah q untuk lebih mengenal Rabb q..

  29. 79
    Rossa Says:

    Assalamualaikum,
    TOLONG BANTU SAYA, SAYA TAKUT JADI MUNDUR UNTUK MENGENAKAN JILBAB KARENA KEBINGUNGAN SAYA.
    Saya sudah yakin akan memakai jilbab. Tapi saya takut, deg2an. Dan masih terlintas dalam benak saya, kalo saya berjilbab bagaimana kalo saya didalam rumah ada teman yang datang apakah saya harus pakai jilbab juga? dan bagaimana bila saya keluar rumah hanya sekedar ke warung tidak mengenakan jilbab apakah tidak sia-sia jilbab saya? Jujur, saya belum bisa untuk memakai jilbab sampai seperti itu. Saya berjilbab ketika saya bepergian dan kuliah. Itu bagaimana hukumnya? sia-siakah amalan berjilbab saya?
    BANTU SAYA, SAYA BENAR-BENAR BINGUNG. Terimakasih.
    Wassalamualaikum.

  30. 80
    erma Says:

    izin share ya…
    terima kasih :)

  31. 81
    eka fani mawadah Says:

    alhamdulillah … sekarang aku sudah lebih yakin dan percaya untuk mengenekan jilbab ,, makasih.

  32. 82
    fajar setiawan Says:

    Izin share in my blog… thanks

  33. 83
    Rismadiani Says:

    Jazakillah khair ukh, saya izin copas.

  34. 84
    ummi Says:

    Assalamu’alaykuum..
    artikelny sangat bermanfaat trutama yg blum mmantapkan hati untuk berjilbab.
    saya ijin share dan copas.
    Jazakillau khair ya ukhty..

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Design by cizkah powered by Wordpress