Saudariku, Apa yang Menghalangimu untuk Berjilbab? (1)

Saudariku Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita kaum wanita adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil kado istimewa itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali kutanya, Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai..?

60 134

Saudariku…
Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.

Saudariku…
Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil “kado istimewa” itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali kutanya, “Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai?” Padahal sudah banyak waktu kau luangkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah jilbab. Sudah sekian judul buku engkau baca untuk memantapkan hatimu agar segera berjilbab. Juga ribuan surat cinta dari saudarimu yang menginginkan agar jilbabmu itu segera kau kenakan. Lalu kenapa, jilbabmu masih terlipat rapi di dalam lemari dan bukan terjulur untuk menutupi dirimu?

Mengapa Harus Berjilbab?

Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita –kaum Hawa- dan bukan kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ‘segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,

“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.'” (Qs. An-Nuur: 31)

Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,

“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.” (Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)

Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?

“Aku Belum Berjilbab, Karena…”

1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”

Wahai saudariku… Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? Dia-lah Allah, Rabb-mu, Rabb seluruh manusia, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Allah yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Seperti shalat dan amalan lain yang senantiasa engkau kerjakan, maka berjilbab pun adalah satu amalan yang seharusnya juga engkau perhatikan. Allah Ta’ala telah menurunkan perintah hijab kepada setiap wanita mukminah. Maka itu berarti bahwa hanya wanita-wanita yang memiliki iman yang ridha mengerjakan perintah ini. Adakah engkau tidak termasuk ke dalam golongan wanita mukminah?

Ingatlah saudariku, bahwa sesungguhnya keadaanmu yang tidak berjilbab namun masih mengerjakan amalan-amalan lain, adalah seperti orang yang membawa satu kendi penuh dengan kebaikan akan tetapi kendi itu berlubang, karena engkau tidak berjilbab. Janganlah engkau sia-siakan amal shalihmu disebabkan orang-orang yang dengan bebas di setiap tempat memandangi dirimu yang tidak mengenakan jilbab. Silakan engkau bandingkan jumlah lelaki yang bukan mahram yang melihatmu tanpa jilbab setiap hari dengan jumlah pahala yang engkau peroleh, adakah sama banyaknya?

2. “Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Allah.”

Duhai saudariku…Tahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?

Seseorang yang beramal hanya sebatas perbuatan dan lisan, tanpa disertai dengan keyakinan penuh dalam hatinya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Sementara seseorang yang beriman hanya dengan hatinya, tanpa direalisasikan dengan amal perbuatan yang nyata, maka dia termasuk kepada golongan orang fasik. Keduanya bukanlah bagian dari golongan orang mukmin. Karena seorang mukmin tidak hanya meyakini dengan hati, tetapi dia juga merealisasikan apa yang diyakininya melalui lisan dan amal perbuatan. Dan jika engkau telah mengimani perintah jilbab dengan hatimu dan engkau juga telah mengakuinya dengan lisanmu, maka sempurnakanlah keyakinanmu itu dengan bersegera mengamalkan perintah jilbab.

3. “Aku kan masih muda…”

Saudariku tercinta… Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? Apakah engkau telah mengetahui jatah hidupmu di dunia, sehingga engkau berkata bahwa engkau masih muda dan masih memiliki waktu yang panjang? Belumkah engkau baca firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,

“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (Qs. Al-Mu’minuun: 114)

“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35)

Tidakkah engkau perhatikan tetanggamu atau teman karibmu yang seusia denganmu atau di bawah usiamu telah menemui Malaikat Maut karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla? Tidakkah juga engkau perhatikan si fulanah yang kemarin masih baik-baik saja, tiba-tiba menemui ajalnya dan menjadi mayat hari ini? Tidakkah semua itu menjadi peringatan bagimu, bahwa kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sekarat atau pun orang yang lanjut usia? Dan Malaikat Maut tidak akan memberimu penangguhan waktu barang sedetik pun, ketika ajalmu sudah sampai. Setiap hari berlalu sementara akhiratmu bertambah dekat dan dunia bertambah jauh. Bekal apa yang telah engkau siapkan untuk hidup sesudah mati? Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat…

4. “Jilbab bikin rambutku jadi rontok…”

Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,

“Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.

Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)

5. “Kalau aku pakai jilbab, nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Jadi, aku pakai jilbabnya nanti saja, sesudah menikah.”

Wahai saudariku… Tahukah engkau siapakah lelaki yang datang meminangmu itu, sementara engkau masih belum berjilbab? Dia adalah lelaki dayyuts, yang tidak memiliki perasaan cemburu melihatmu mengobral aurat sembarangan. Bagaimana engkau bisa berpendapat bahwa setelah menikah nanti, suamimu itu akan ridha membiarkanmu mengulur jilbab dan menutup aurat, sementara sebelum pernikahan itu terjadi dia masih santai saja mendapati dirimu tampil dengan pakaian ala kadarnya? Jika benar dia mencintai dirimu, maka seharusnya dia memiliki perasaan cemburu ketika melihat auratmu terbuka barang sejengkal saja. Dia akan menjaga dirimu dari pandangan liar lelaki hidung belang yang berkeliaran di luar sana. Dia akan lebih memilih dirimu yang berjilbab daripada dirimu yang tanpa jilbab. Inilah yang dinamakan pembuktian cinta yang hakiki!

Maka, jika datang seorang lelaki yang meminangmu dan ridha atas keadaanmu yang masih belum berjilbab, waspadalah. Jangan-jangan dia adalah lelaki dayyuts yang menjadi calon penghuni Neraka. Sekarang pikirkanlah olehmu saudariku, kemanakah bahtera rumah tanggamu akan bermuara apabila nahkodanya adalah calon penghuni Neraka?

6. “Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”

Saudariku… Islam tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang selama hal tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah. Akan tetapi, Islam membatasi segala hal yang dapat membahayakan seorang wanita dalam melakukan aktivitasnya baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhiratnya. Jilbab yang menjadi salah satu syari’at Islam adalah sebuah penghargaan sekaligus perlindungan bagi kaum wanita, terutama jika dia hendak melakukan aktivitas di luar rumahnya. Maka dengan perginya engkau untuk bekerja di luar rumah tanpa jilbab justru akan mendatangkan petaka yang seharusnya dapat engkau hindari. Alih-alih mempertahankan pekerjaan, engkau malah menggadaikan kehormatan dan harga dirimu demi setumpuk materi.

Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rizki? Bukankah Allah -Rabb yang berada di atas ‘Arsy-Nya- yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rizki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun? Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rizkinya bergantung kepada kemurahan Allah?

Apakah jika engkau lebih memilih untuk tetap tidak berjilbab, maka atasanmu itu akan menjamin dirimu menjadi calon penghuni Surga? Ataukah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menurunkan perintah ini kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mengadzabmu akibat kedurhakaanmu itu? Pikirkanlah saudariku… Pikirkanlah hal ini baik-baik!

7. “Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.”

Saudariku… Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. Sungguh, dia tidak sebanding. Apakah engkau belum mendengar firman Allah yang berbunyi,

“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.'” (Qs. At-Taubah: 81)

Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,

“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami‘ (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]

Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri…

8. “Jilbab itu pilihan. Siapa yang mau pakai jilbab silakan, yang belum mau juga gak apa-apa. Yang penting akhlaknya saja benar.”

Duhai saudariku… Sepertinya engkau belum tahu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Engkau menafikan jilbab dari cakupan akhlak mulia, padahal sudah jelas bahwa jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. Jika tidak, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.

Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Allah mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?

Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. Adapun cemburunya Allah disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]

9. “Sepertinya Allah belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.”

Saudariku… Hidayah Allah tidak akan datang begitu saja, tanpa engkau melakukan apa-apa. Engkau harus menjalankan sunnatullah, yakni dengan mencari sebab-sebab datangnya hidayah tersebut.

Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiq. Hidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. Adapun hidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Allah. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Allah kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.

Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya, “Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinik (Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

-Bersambung Insya Allah-

Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Murojaah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah

***

Artikel muslimah.or.id

Sebarkan!
3447 15 0 0 0 263
In this article

Ada pertanyaan?

134 comments

  1.    Reply

    ana ijin copas untuk tmn2 ana ya ukh..

  2.    Reply

    Assalaamu’alaykum.ijin share y..
    syukr0n

  3.    Reply

    ijin share y umi..
    syukr0n

  4.    Reply

    Subhanallah… betapa artikel yg menyadarkan dan menyegarkan hati. Semoga segera hadir kelanjutannya…Semoga artikel ini menggugah para saudari kita yg belum berjilbab.Yang dengan ketaatan kita pada Allah akan mengalir segala keberkahan… Alhamdulillah, kini saya telah mantap berjilbab syar’i.
    Ukhti tercinta jangan dengarkan celaan & hinaan orang pada ketaatan kita…
    Kita ada karena Allah…
    Rizqi kita dari Allah…
    Dan keberkahan hidup kita karena ridho Allah…

    Maka tunduk dan patuhlah kepada Allah…
    Tidak ada seorangpun yang menyayangi kita melebihi Allah…

    Semoga Allah melimpahkan berkah & keberkahan pada Ummu Sufyan atas artikel ini… Amin.
    Jazakillah khairan, ijin share ya umi..

  5.    Reply

    Terimakasih atas penjelasany

    alhamdulillah saya telah berjilbab
    do’akan semoga saya dapat terus mempertahankannya y

  6.    Reply

    izin copy iaa..
    syukran katsiir . . .

  7.    Reply

    ass.Maf Mungkn sy bkan ahkwat tp sy jg ska artkel”nya.
    Subhanllah ternyta msh ad d zman skrg ni para muslimah sjati. Sm0ga allh snantiasa membrkn ptnjukNya slalu kpd qt smua agr trus bsa berjuang untk mendptkan ridha ilahi

  8.    Reply

    Subhanallah… isinya sangat menyentuh hati, walaupun saya sudah berjilbab, tp tulisan ini bisa menjadi referensi saya untuk mengajak teman2 saya untuk berjilbab.

  9.    Reply

    subhanallah,alhamdulillah q sdh menjlnk nya,tp dijaman skrng byk kaum wanita salah mengartikan jilbab itu sendiri,byk jg yg menyalahgunakan jilbab,smogaorang tersebut mendapatka hikmahnya amiin

  10.    Reply

    aslm.wr.wb. Ustadz mau izin ngopy yah… semoga Allah memberkahi dan menjadikan Ilmu yang Husnul Khotimah. Amin.. trmksh

  11.    Reply

    Assalamualaikum. Saia izin share ya ukhti. Syukron..

  12.    Reply

    Assalamu’alaikum,Wr.Wb…

    Sukron katsir, dgn membaca artikel ini saya lebih mantap memakai jilbab, saya baru mendapat hidayah berjilbab tahun ini, d ramadhan ini.saya merasa nyaman keluar memakai jilbab.
    Mohon minta alamt share, karena saya masih sangat perlu bimbingan agama,saya ingin menjadi wanita saleha yang d anjurkan agama islam.

  13.    Reply

    saya ingin sekali memakai jilbab,apakah saya masih bs bertobat utk ksalahan2 saya dimasa lalu jika mulai skrg saya berjilbab,dan memperbaiki diri?
    plis reply in my email

    1.    Reply

      @ Annisa
      Kami sangat senang mendengar kabar ada saudari kami memiliki keinginan kuat untuk meunup aurat dengann benar. Sungguh Allah Maha penerima Taubat Ukhti, tidak ada kata terlambat sebelum nyawa terlepas adari jasadnya. Semoga Allah memberkahi Ukhti dan memudahkanmu memakai jilbab sesuai dengan syariat-Nya.

  14.    Reply

    asalammu’alaikum wr wb!!! artkelnya bagus,, ijin copy ya!! syukron

  15.    Reply

    Assalamualaikum Wr Wb

    Dear Muslimah, saya ijin untuk di-share. Terima kasih

  16.    Reply

    i like this…

  17.    Reply

    minta izin, boleh di copy ga ??
    buat dksih tw sama tmen tmen..

  18.    Reply

    Artikel menarik,,ijin u/ copy mba…thx

  19.    Reply

    ass. aku pakai jilbab setelah aku menikah, saat itu aku bernazar kpd Allah agar diberi keturunan,jujur kadang pikiran aku sering diganggu agar aku melepas jilbab. tp suami aku melarang, alhamdulillah dgn berjalannya waktu aku semakin yakin untuk menggunakan jilbab, karna aku takut akan azab Allah, oh iya bahkan setelah aku berjilbab ibu dan ipar aku semuanya jg memakai jilbab. jd buat yg blm pakai jilbab jgn takut, bahkan kita akan semakin cantik jika kita memakai jilbab.

  20.    Reply

    Assalamualikum wr.wb

    Saya memutuskan memakai jilbab 2 tahun yang lalu, walaupun niat saya memakai jilbab sudah dari belasan tahun yang lalu, alhamdulillah setelah memakai jilbab saya mudah sekali mendapatkan pekerjaan, setiap interview yang saya jalani di perusahaan2 besar lolos dengan mudahnya.

    Saya pun berjanji dalam hati laki2 yang mau serius dengan saya disaat saya sudah berjilbab adalah laki2 yang kelak akan menjadi suami saya, alhamdulillah lagi, setelah 7 bulan bersama tahun ini saya akan menunaikan suatu ibadah yg dengannya akan terpenuhilah setengah dien saya yaitu menikah.

    Dengan berjilbab jalan hidup saya rasakan mudah dan berkah, tujuan hidup saya pun semakin jelas, secara tidak langsung jilbab menuntut saya untuk terus memperdalam islam, berbuat baik dan tawakkal dan selalu melibatkan Allah dalam segala urusan saya.

    Sekedar sharing
    Wassalamualikum wr.wb

  21.    Reply

    ASW. af1 ijin share njih….

  22.    Reply

    izin copas…jazakunnallahu khoir

  23.    Reply

    Assalamualaikum wr wb
    ummu,ana izin share ya..syukran
    wasalam

  24.    Reply

    ,Masya allah….mudahan Allah memberi qt semua hidayah..t.

  25.    Reply

    jilbab itu buat ku adalh hal yang biasa
    aku masih berusia 15 thn dan dalam usia ku masih teralu labil untuk memlih mana yang tbaik dalam hidup.di neg indonesia yang mayoritas penduduk nya adlah orang islam tapi tidak seluruh kaum hawa memakai jilbab.aku tak tahu kenapa?mungkin dengan pencampuran budaya yang terlalu besar banyak dari mereka untuk memilih gaya pakain yang lebih modis dr pada memakai jilbab yang ksan nya sok menutup diri
    q skrg jg sudah berusaha untuk memakai jilbab dan rasanya tak terlalu buruk ada komentar posotif dan juga negatif
    lagian yang terpenting dalah kita baik di mata Alloh SWT…bukan hanya dimata manusia saja…ya gak,,,,,,,,,,,??

  26.    Reply

    Assalaamu’alaikum..
    Ana izin share y ukh?
    Syukron..

  27.    Reply

    Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh,
    afwan, izin share artikel ini…
    jazaakillahu khayran

  28.    Reply

    Assalamualaium.wr.wb.

    ukhti admin yang dirahmati Allah dimanapun berada.

    saya seorang perempuan dari keluarga yang kurang begitu memahami islam. alhamdulillah sejak tahun 2008 saya memutuskan memakai jilbab.walaupun dari keluarga tidak ada yang mendukung saya dengan hal ini. keluarga saya semakin menyudutkan saya karena saya menolak pekerjaan dikarenakan harus melepas jilbab. apakah keputusan saya ini salah???? sedang keyakinan saya berjilbab begitu kuat.

    Tapi saya merasa cobaan yang begitu berat, sulitnya mendapatkan pekerjaan karena berjilbab dan kembali keluarga besar menganggap saya sudah fanatik terhadap agama dan menyalahkan karena belum mendapatkan pekerjaan, sedang saya merasa ini adalah kewajiban bagi saya untuk menutup aurat. apa yang harus saya lakukan ,?

    mohon sarannya ukhti untuk saya,
    terimakasih, wassalamualaikum.wr.wb

    1.    Reply

      @ sha
      Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh
      Sikap ukhti untuk mempertahankan jilbab tidaklah salah karena tidak ada ketaatan pada makhluk dalam bermaksiat pada Allah. Namun ukhti tetap harus bersikap baik kepada mereka, terutama orang tua karena inilah yang Allah perintahkan. Berikanlah pengertian dengan cara yang baik dan doakan mereka supaya mendapatkan hidayah. Hati seluruh manusia berada dalam kekuasaan Allah, maka mohonlah kepada Allah.

      Setiap manusia memang pasti akan Allah uji. Diantara hikmahnya untuk menyaring dan memilah siapa diantara mereka yang benar dalam keimanannya. Jika tidak diuji, tentu semua orang dengan mudah mengaku dirinya beriman. Tapi dengan ujian itulah akan terlihat siapa yang benar dalam pengakuannya. Bersabarlah atas ujian ini, karena Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi hamba-Nya yang bersabar.

      Lihatlah para nabi, karena pada diri mereka terdapat tauladan untuk kita. Ujian ini tidak ada seberapanya dibandingkan ujian yang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat nabi alami. Dengan melihat ujian yang mereka alami niscaya kita akan merasa lebih ringan untuk menghadapi ujian kita.

      Janganlah ukhti bersempit hati karena Allah telah menjanjikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertaqwa. Yang penting sibukkan diri kita supaya kita bisa menjadi hamba-Nya yang bertakwa sehingga layak untuk mendapatkan janji-Nya.
      “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya.” (At Thalaq 2-3)

      Semoga Allah memberi hidayah kepada saya, keluarga saya, ukhti dan keluarga ukhti..

  29.    Reply

    izin share ya ukh .
    syukron .

    1.    Reply

      @ ummu abdillah
      silahkan, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat

  30.    Reply

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    Saya mulai mengenakan jilbab di tahun 2003, saat itu jilbab yang saya pakai yang dililit di leher dan saya masih memakai celana panjang. Betul sekali seperti yang ditulis dalam artikel ini, sebelum mengenakan jilbab saya juga punya keraguan2 seperti itu. Alhamdulillah Allah menguatkan niat saya berjilbab dan memupus semua keraguan saya. Sekitar dua tahun kemudian, jilbab saya mulai menutup dada tapi masih memakai celana panjang. Saat itu saya berpikir nggak apa2 pakai celana toh nggak ketat dan atasannya panjang. Setelah membaca artikel2 tentang jilbab dan hukum memakai celana bagi muslimah, sekarang saya memakai jilbab lebar dengan bawahan rok dan mulai mengkoleksi gamis. Benar sekali, rasanya lebih tenang dan nyaman.
    Ya Rabbi, curahkanlah hidayah-Mu agar kami senantiasa istiqomah di jalan-Mu…aamin

  31.    Reply

    Assalamu’alaikum. Do’a apakah yg tepat sy panjatkan spy istri sy mau mengenakan jilbab syar’i. S/d skrg istri msh beralasan blm sanggup memakai jilbab yg longgar&panjang sesuai syariat. Padahal sy selalu memberi nasehat ttg keutamaan jilbab syar’i. S/d skrg hanya jilbab yg panjangnya cuma sebatas punggung sj yg mau dia pakai. Bgmn cara utk mendapatkan Hidayatul Taufiq bagi istri sy tsb.

    1.    Reply

      @ Yadi
      Wa’alaikumussalam,
      Berdoa dengan doa permohonan taufiq kepada Allah bisa dengan lafadz-lafadz yang ada dalam Al-Qur’an dan hal ini sangatlah banyak kita jumpai. Dan yang terpenting adalah tidak berputus asa dalam memohon dan terus tetap memohon agar diberikan hidayah kepada istri ataupun keluarga kita.

  32.    Reply

    assalamualaikum…saya ada satu soalan..saya seorang berjilbab tp jilbab saya tidak mngikut syariat islam kerana mngikut fesyen trkini…..tp setlah sy bc artikel ini dan artikel lain2 sy tersentuh dan ingin skali berjilbab ikut syariat islam…tp sy tkut kalu sy berjilbab ikut syariat islam kawan2 saya akan mngata kepada saya macam2 nanti…contohnya awak dah bertaubat,sudah insaf dan lain2….tolong saya mcm mna saya nak buat ni saya bingun…????

    1.    Reply

      @ Ieda
      Wa’alaikumussalam warahmatullah..
      Saudariku,tidak perlu bingung dengan cemoohan manusia. Apa yang mereka ucapkan tidak lain dan tidak bukan hanya sekedar guraun jika kita gubris hanya menambah luka didada dan ini bukanlah sesuatu yang kita inginkan…Kalau kita pikir sejenak apa yang mereka katakan sebenarnya adalah sesuatu yang benar adanya. Bahwa memang taubat seseorang yang dulunya tidak berjilbab itu dengan dengan berjilbab, taubat tidak hanya penyesalan tapi juga dengan tindakan yang nyata…Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita…

  33.    Reply

    Alhamdulillah ya Allah saya telah berjilbab dari 7 tahun yang lalu, mulai dari jilbab pendek yang hanya sekedar menutup kepala….namun karena kegigihan suami tercinta dan juga lingkungan teman-teman yang senantiasa mendorong saya untuk menekuni islam secara kaffah…..lambat laun saya menyadari bahwa hanya dengan memakai jilbab besar secara syar’i , saya menemukan kedamaian dan ketrentaman yang luar biasa dalam hidup……dan ditambah lagi setelah saya menjadi pelanggan setia website ini, rasanya Allah telah memberikan pencerahan hidup yang tiada hentinya……thx atas artikel-artikelnya ukhti………

  34.    Reply

    trimakasih ya artikel nya bagus…bisa menjadi inspirasi buat saya belajar berjilbab….

  35.    Reply

    Assalamualaikum…
    Para sahabatku yang dimuliakan Alloh SWT…
    Saya sangat senang apabila ada muslimah memakai jilbab dengan sopan dgn tujuan utama menutupi auratnya ( lekukan ), tapi sayangnya banyak diantara mereka memakai jilbab tetapi malah dibarengi dengan pakaian yang tidak sopan dan cenderung mengikuti mode yang tidak sesuai..”Wanita sholehah adalah perhiasan terindah di dunia”
    alangkah baiknya memakai jilbab yang dibarengi dengan pakaian yang sopan pula.
    saya mohon maaf apabila ada kata2 saya yang kurang sopan…
    Saya minta ijin share artikel ni ya.. thank’s

    1.    Reply

      @ akh entis setiyadi

      wa’alaykumussalam warohmatulloh wabarokatuh. silakan.

  36.    Reply

    jazaakillah khoyron..ijin share buat blog ana

    1.    Reply

      @ ummu afifah

      wa jazakillahu khayran. silakan.

  37.    Reply

    Assalamu’alaikum,wr.wb …. saya suka artikel ini …. maaf saya izin share makasih …..

  38.    Reply

    Saudariku Utari…

    Ada apakah saudariku…
    aku momohon smoga Alloh memudahkan urusanmu..

    Tabahlah… sabarlah… kuatkan hati dan imanmu…
    Semoga cobaan itu kelak kan menjadi sumber pahala bagimu… menyelamatkanmu dr api neraka..

    Saudariku… banyak orang menganggap bahwa seorang wanita yg kehilangan pekerjaan karena lebih memilih memakai jilbab, adalah orang yg tidak beruntung… bahkan dianggap orang yg bodoh..

    tapi tahukah engkau saudariku,, justru orang2 yg menertawakan itu… yang bodoh. Tahukah mereka, bahwa seorang wanita yang kehilangan pekerjaan karena mempertahankan jilbabnya, justru adalah orang yang sangat beruntung. Karena Alloh telah melindunginya dari keburukan yg lain jika ia tetap pada pekerjaan itu..

    tak usah engkau pedulikan tertawaan mereka, saudariku.
    Coba pikir,, jika engkau dengarkan mereka, apakah mereka mau membantumu dlm mendapatkan rizki? Jika mereka mau… tapi bisakah mereka membantumu untuk terhindar dr api neraka? TIDAK wahai saudariku… mereka tidak sedikitpun bisa utk melindungimu dr murka Alloh..

    Sesungguhnya rizqi itu di tangan Alloh. Dan seorang manusia takkan mati sebelum sluruh rizqinya diberikan oleh Alloh di dunia..

    Dan ingatlah lagi 1 hal saudariku..

    Rizqi itu di tangan Alloh… dari Alloh… maka carilah dengan ketaatan kepada-Nya… dan jangan sekali-kali engkau mencarinya dg maksiat kepada-Nya…

    Aku memohon kpd Alloh… agar menguatkanku dan engkau, juga saudari2 kita yg lain… smoga Alloh meng-istiqomahkan kita di atas dien ini… amiin…

  39.    Reply

    Subhanallah…Jazakillah khoir atas artikel ini…semakin memantapkan hati saya untuk terus berhijab…

  40.    Reply

    Assalamualaikum wrwb.,

    Ijin share ya ukh…

  41.    Reply

    terima kasih ukhti, alhamdulillah saya telah mengenakan jilbab sdh 3 th lalu , dan segala keraguan yg ukhti sampaikan memang pernah terbersit dlm pikiran [sebelum sy pakai jilbab] ,tp karena keyakinan saya pada Allah swt ,walaupun saat itu sy belum punya pakaian yg panjang dan jilbabnya .Dengan niat Bismillahirrohmanirrohim sy bisa kenakan jilbab punya ibu sy satu2nya yg tertinggal dirumah .sekali lagi Alhamdulillah atas hidayah yg sy terima sampai saat ini

  42.    Reply

    Assalamualaikum Wr. Wb,

    Alhamdulilah segala puji hanya bagi Allah yang Maha Pencipta atas semua makhluk…
    Saya sangat senang artikel dibawah sungguh membuat saya sadar bahwa jilbab yang setiap muslimah gunakan adalah memberikan manfaat yang tiada terhingga. Alhamdulilah saya sekarang sudah memakai jilbab,,,dan hal itu banyak sekali manfaatnya,,lhamdulilah..

    Mohon maaf saya mohon ijin untuk memberikan artikel terindah ini untuk sahabat2 saya terkasih…terimakasih..

    saya masih menunggu untuk lanjutan berikutnya…terimakasih banyak..

    Wasalamualakum Wr.Wb

    Best Regards
    Tiyok

  43.    Reply

    bantu saya , dulu saya kehilangan kerjaan jadi bahan tertawan dan kehilangan pesangon saya .. saya ga tau marah kemana. Tolong jawab … Dalam hati saya pingin sekali tolong sadarkan saya .. tapi kenapa cobaan itu berat sekali..