Penyusun: Ummu Nafisah
Muroja’ah:Ustadz Jamaluddin, Lc.
Rindang, sebut saja demikian. Wanita yang kini sedang dalam masa penantian yang amat panjang. Manisnya masa-masa awal pernikahan telah ia rasakan, tinggal satu pelengkap kebahagiaan yang belum didapatkannya, yaitu kehadiran sang buah hati. Bulan demi bulan, tahun demi tahun ia dan suaminya jalani. Hingga usia pernikahannya memasuki tahun ke-10, Allah belum juga menganugerahkan buah hati pada mereka berdua. Berbagai upaya telah mereka tempuh, namun apa daya, Sang Penguasa Takdir belum berkenan mengabulkan keinginan mereka.
Satu Bentuk Cobaan
Mungkin masih banyak pasangan suami istri lain yang bernasib serupa seperti Rindang dan suaminya. Bertahun-tahun berkeluarga, namun belum juga dikaruniai momongan. Sangatlah wajar jika manusia senantiasa menyenangi hal-hal yang indah di dunia ini. Karena sudah menjadi tabiat yang ditanamkan Allah kepada manusia bahwa manusia akan cenderung mencintai harta, anak-anak, dan istri. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Inilah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Qs. Ali-Imran: 14)
Saudariku muslimah, setiap insan di dunia ini tak akan terlepas dari ujian. Dalam surat Al-Baqarah, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya,
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 155)
Belum mendapatkan momongan meskipun telah lama mengarungi bahtera rumah tangga adalah salah satu bentuk dari berbagai macam bentuk ujian yang Allah berikan pada manusia. Kebanyakan orang mengira, bahwa cobaan hanya datang dalam bentuk kesulitan saja. Mereka tidak menyadari bahwa melimpahnya nikmat juga merupakan ujian yang diberikan Allah. Sehingga banyak memang yang dapat melalui cobaan dan bersabar ketika mendapatkan kesulitan namun sangat sedikit yang mampu melampaui ujian berupa kenikmatan dunia, hal ini menjadikan manusia lalai saat kesenangan hidup menyapa mereka. Dalam surat Al-Anbiya ayat 35, Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“…dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kami, kamu akan kembali.”
Juga firman Allah yang artinya,
“Adapun sebagian manusia apabila diberi ujian oleh Tuhannya yaitu diberi tempat yang mulia dan diberi kenikmatan kepadanya, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakan aku’. Adapun apabila Tuhannya mengujinya dengan membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakan aku.’” (Qs. Al-Fajr: 15-16)
Bagimu wahai para orang tua yang belum dikarunia anak, bersabar adalah kunci dalam masalah ini, karena sabar adalah salah satu jalan datangnya pertolongan Allah. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 153)
Hendaknya kita berbaik sangka terhadap takdir Allah. Yakinlah, bahwa segala sesuatu yang telah menjadi keputusan Allah pasti mengandung banyak hikmah meskipun kita tidak menyadarinya. Ingatlah saudariku, tinta takdir telah mengering. Setiap manusia telah dituliskan tentang nasibnya lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rezekipun telah ditetapkan, manusia tidak akan meninggal sebelum jatah rizki yang Allah tetapkan baginya habis.
Sebagaimana makhluk hidup yang lain, manusia membutuhkan keturunan untuk mewarisi dan meneruskan hidupnya. Itulah mengapa anak menjadi dambaan setiap keluarga. Anak bagaikan permata dalam kehidupan mereka. Penyejuk mata ketika keletihan menyapa, menjadi tempat berteduh ketika masa senja mulai tiba.
Sekian lama belum dikarunia anak, tentu akan membuat pasangan suami istri risau dan gelisah. Dalam kasus seperti ini, istrilah yang biasanya merasakan beban paling berat. Apalagi ada pandangan bahwa penyebab semua itu adalah dari pihak istri. Ia yang mandul dan tidak bisa melahirkan keturunan. Padahal bukanlah seperti itu. Bukanlah salah istri, karena setiap takdir Allah-lah yang telah menggariskannya. Lagipula, tidak selalu istri yang menjadi penyebabnya, pihak suami sering pula menjadi sebab belum dikaruniainya anak.
Oleh karena itu, tidak saling menyalahkan adalah jalan terbaik dalam menghadapi ujian ini. Hendaknya pasangan suami dan istri yang belum dikaruniai buah hati saling memberikan dukungan dan nasehat. Saling menasehati untuk bersabar atas takdir yang diberikan Allah. Dengan sikap seperti ini, diharapkan suami dan istri dapat saling menguatkan di tengah badai ujian Allah.
Jangan Lupa Berdoa dan Berusaha
Saat seorang mukmin menghadapi kesulitan dalam hidupnya, semestinya ia tidak berpangku tangan begitu saja tanpa berusaha. Berikhtiarlah. Ambillah sebab-sebab yang dapat menghilangkan kesulitan tersebut selama ikhtiar tersebut dibolehkan syari’at. Seperti halnya mukjizat Nabi Musa, tidaklah Nabi Musa serta merta dapat membelah lautan, melainkan ia harus mengayunkan tongkatnya terlebih dahulu. Atau seperti kisah Maryam ketika mengandung Nabi ‘Isa, untuk mendapatkan makanan (kurma), Allah tidak begitu saja menurunkan makanan tersebut dari langit, melainkan Maryam terlebih dahulu harus menggoyang pohon kurma.
Pasangan suami dan istri yang belum dikaruniai anak dapat berikhtiar dengan banyak cara, seperti berkonsultasi dengan para ahli, orang yang berpengalaman dalam masalah ini, meminum obat-obatan dan ramuan-ramuan, mengkonsumsi makanan-makanan yang dipercaya mampu meningkatkan kesuburan. Memperkaya pengetahuan tentang bagaimana proses terjadinya pembuahan dan fungsi alat reproduksipun termasuk hal yang tidak ada salahnya untuk dicoba.
Yang tidak boleh dilupa adalah doa, tidak selayaknya ditinggalkan. Seorang muslim tidak sepantasnya menyandarkan pada sebab dan usaha, karena semua penentu adalah Allah Sang Pencipta alam raya. Bukankah anak keturunan adalah bagian kecil dari alam raya? Giatlah berdoa agar Allah memberikan anugerah-Nya berupa anak yang mampu menyejukkan mata kita. Sebagaimana kisah Nabi Zakaria ‘alaihi salam yang di usia lanjut belum juga mendapatkan keturunan, ia berdoa:
“Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan permohonanku terhadapmu, ya Rabbi, belum pernah tak terkabulkan. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. Yang akan mewarisi kenabianku dan mewarisi kenabian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai.’” (Qs. Maryam: 4-6)
Satu lagi yang perlu diingat, wahai saudariku, termasuk di antara bentuk usaha adalah dengan memperbanyak taubat dan beristighfar, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya,
“…beristighfarlah kepada Rabb-mu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kalian beristighfar) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat atas kalian, juga memberi banyak harta dan anak keturunan…” (Qs. Nuh: 10-12)
Bersabar
Jika sudah gigih berdoa dan berikhtiar dengan berbagai cara namun belum juga mendapatkan keturunan? Maka langkah selanjutnya adalah senantiasa bersabar atas takdir Allah. Yakinlah bahwa Allah telah memilihkan yang terbaik untuk kita. Jangan lupa berdoa seperti doa yang telah dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Dalam sebuah hadits shahih diceritakan:
Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‘Tidak seorang hambapun yang tertimpa musibah lalu ia mengatakan,
إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ اللّهُمَّ أْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا
“Sesungguhnya kami milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami kembali. Wahai Allah, berikanlah kami pahala dari musibah ini dan berilah ganti yang lebih baik darinya.”
Kecuali Allah akan memberikan ganjaran pahala karena musibah yang menimpanya dan memberikan ganti yang lebih baik.’
Ummu Salamah berkata, “Ketika Abu Salamah wafat, aku membacanya sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah memberikan ganti yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)
Saudariku, engkau tidak sendirian. Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria pun bernasib serupa, mereka dikaruniai keturunan oleh Allah ketika usia mereka telah lanjut. Juga Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, orang yang paling dicintai Rasulullah, bukankah beliaupun tidak memiliki keturunan? Wahai muslimah, hendaknya kita mencontoh kesabaran mereka.
Dengan doa dan kesabaran tersebut, semoga kita mampu bertawakal kepada Allah. Selanjutnya dengan begitu, Allah berkenan menganugerahkan kepada kita kesabaran dan rasa syukur. Kita mampu menjadi orang yang bersyukur ketika dikaruniai anak, sementara ketika masih sulit mendapat anak, kita tetap bersabar dan tidak berprasangka buruk kepada Maha Pencipta, termasuk juga ketika mendapatkan anak yang tidak sesuai dengan harapan kita. Waallahu a’lam.
Maraji’:
***
Artikel www.muslimah.or.id
© 2006 - 2011 muslimah.or.id - Meraih Kebahagiaan Muslimah di Atas Jalan Salaful Ummah
dheenhie
2nd May 2012 pada waktu 17:15
ijin copas ya….untuk terus mengingatkan diri agar lebih bersabar menanti buah hati…semoga Allah memberikan yang terbaik…
gien
9th March 2012 pada waktu 23:25
Subhanallah
saya juga sampai nangis membacanya, sudah hampir 2 thn saya blm dikaruniai keturunan. Setiap saat setiap waktu dalam pikiran saya cuma anak dan anak terus. Dan dalam pikiran saya ada terus pertanyaan yg di ulang2 “kenapa saya blm dikasih keturunan?”dengan bermacam jawaban yg saya jawab sendiri. Saya sampai stres.
Kalau ada teman atau sodara yang baru menikah langsung dikasih keturunan saya sedih.
Sebelumnya kadang saya menghindar dari mereka yang sedang hamil, tiap melihat orang hamil atau liat bayi rasanya nyesek banget…Saya tau ini salah dan sekarang saya berusaha mau berubah.
Saya skr sadar mungkin ini jalan dan rencana Allah yang terbaik buat saya dan suami.
Terimakasih artikel ini sangat bermanfaat, semoga lebih sabar, tawakal, tdk berprasangka buruk dan tdk lg menghindari orang hamil hehehe malah berbahagia untuknya.
Dan mohon doanya agar kami segera diberi keturunan.
Dan semoga bapak2 ibu2 yang masih sabar menunggu dikaruniai keturunan yang sholeh..Amiin
bunga
9th March 2012 pada waktu 17:16
semoga sangat bermanfaat bagi para pembaca..Amiiin
vrieka
25th February 2012 pada waktu 13:58
saya cma berpikir mgkin semua yang sya alami adlah yang terbaik untuk sya dan suami,spti apapun diagnosa dokter bgi Allah tak ada yang tak mungkin,mgkin ada hikmah dibalik ujian yang kmi alami
Hadi Setyono
10th December 2011 pada waktu 16:40
Subhanallah walhamdulillah,
Semoga Allah memberikan petunjuk dan memberikan kekuatan kepada siapa yang bersabar menanti sang buah hati untuk terlahir di muka bumi ini.
Syukron atas artikelnya yang menyentuh dan membawa kekuatan bagi kita semua.
Jazakallahu ahsanal jaza.
eka setya
9th December 2011 pada waktu 23:52
semoga menjadi hikmah untuk kami, dan kami mohon doanya. terimakasih sehingga kami akan lebih sabar dan tawakhal menanti buah hati kami.
Ummu Zahratin Nisa Lathifah
28th August 2011 pada waktu 16:39
Bismillah…
Ingin menambahkan, ini adalah nasehat yg sangat bagus sekali. Khususnya bagi saudari-saudari kita lainnya yg seringkali bertanya ttg hal ini bahkan ada juga cibiran-cibiran jika kita belum hamil, yg bahkan seringkali diucapkan oleh saudari2 kita yg juga udah “ngaji”. Yg mungkin tanpa sadar mereka ucapkan tanpa ada maksud apa2 hanya sekedar ingin tahu berita gembira dari kita. Namun, setiap orang berbeda-beda ada yg cuek & ada yg sensitif, bisa jadi pertanyaan/cibiran-cibiran seperti itu malah akan membuat hati saudari kita sedih. Mungkin bagi sebagian orang berkata: “kita ga bisa menuntut orang untuk mengerti kita, tapi tuntutlah diri kita untuk lebih sabar meskipun pertanyaan2 seperti itu bikin kita eneg.” Bukankah setiap muslim harus saling menjaga perasaan saudarinya? Mungkin kita bisa lebih bijak untuk berusaha memahami keadaan saudari kita yg belum diamanahi anugerah tsb.
Dalam hadits disebutkan:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalian jangan saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi ! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allâh yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya. Takwa itu disini –beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang Muslim. Setiap orang Muslim, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya atas muslim lainnya.”
TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini Shahih, diriwayatkan oleh :
1. Muslim (no. 2564).
2. Imam Ahmad (II/277, 311-dengan ringkas, 360)
3. Ibnu Mâjah (no. 3933, 4213-secara ringkas)
4. Al-Baihaqi (VI/92; VIII/250)
5. Al-Baghawy dalam Syarhus Sunnah (XIII/130, no. 3549).
Penjelasan lengkapnya bisa dibaca di: http://almanhaj.or.id/content/2795/slash/0
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitabnya Ensiklopedia Adab Islam Jilid 1 hal. 58 berkata: “Hendaknya seorang muslim menampakkan kesedihannya ketika sahabatnya sedang sedih & membantunya dengan harta & kata-kata yang baik, kemudian beliau menukil sebuah hadits HR. Bukhari: “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ibarat sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan lain” [HR. Bukhari 2443, 2444, 6952 dari Anas radhiyallahu anhu.]”
Syaikh juga menyebutkan dalam hal.65 bahwa: “Hendaknya seorang Muslim menjaga perasaan saudaranya & tidak menyakitinya, baik dengan perkataan maupun perbuatan meski tanpa disengaja. Bahkan, selayaknya kita harus berhati-hati dan menjaga jangan sampai itu terjadi. Betapa banyak seorang yang mengucapkan perkataan di hadapan saudaranya tanpa ada maksud buruk sedikit pun. Namun, akhirnya kata-kata dipahami tidak sebagaimana yang dimaksud hingga mengakibatkan rusaknya hubungan antara keduanya.”
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنسَانِ عَدُوًّا مُّبِينًا [١٧:٥٣]
“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS. Al-Israa’: 53)
“Dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah : 83)
Bagi kita yg mendapati saudari2 kita yg mungkin mengolok-olok, bertanya secara terus-terusan tanpa melihat situasi, sebaiknya memberi nasehat kepada saudari2 kita yg masih melakukan hal tsb karena memberi nasehat & menegakkan amar ma’ruf wajib hukumnya terhadap saudari kita jg. Bukankah kita sepantasnya menasehati ketika saudari kita tidak sadar akan kelalaiannya? Dalam Al-Qur’an QS. Ali Imran: 110
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ [٣:١١٠]
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)
Dalam hadits tersebut pun Syaikh Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitabnya hal. 149 berkata: “Seandainya ia mampu melarang kemungkaran tanpa menimbulkan kerusakan lain, hendaklah ia melakukannya. Jika ia mengkhawatirkan akan menimbulkan kejahatan & kerusakan, hendaklah ia menasehati mereka dengan kata-kata. Apabila ia seorang lemah & takut terhadap kerusakan yang akan timbul, maka penolakan terhadap kemungkaran itu sudah cukup di dalam hatinya. Selama nasehat bermanfaat, maka hal ini lebih dikedepankan daripada celaan. Jika melarang dengan lisan memiliki pengaruh, maka hal itu sudah cukup, tidak perlu lagi meluruskannya dengan tangan (kekuasaan).”
Dan insya ALLAH ketika beramar ma’ruf pun kita semua paham adab2nya, tahu bagaimana kita harus beramar ma’ruf (bersikap lembut) dalam menyuruh & melarang & bersabar di dalam menegakkan amar ma’ruf tsb. Lebih lengkapnya baca di kitab Syaikh Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitabnya, Ensiklopedia Adab Islam Jilid 1, terbitan Pustaka Imam Syafi’i.
Insya ALLAH kita semua tahu keutamaan sabar, tapi jangan jadikan sabar itu sebagai alasan untuk tidak menasehati, insya ALLAH nasehat yg disampaikan dengan cara yg ma’ruf & tidak mengurangi sabar kami (akhwat2 yg sering ditanya pertanyaan tsb).
Perlu diketahui akibat & pengaruh meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar.
1. Mendapat laknat ALLAH
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ [٥:٧٨]
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.
﴿٧٨﴾
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ [٥:٧٩]
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.
﴿٧٩﴾
(QS. Al-Maidah: 78-79)
Maksud dilaknat dalam ayat ini adalah dijauhkan dari rahmat ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala (Tafsir Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 241)
2. Orang yang meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar mendapat celaan
لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَن قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ [٥:٦٣]
Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu. (QS. Al-Maidah: 63)
Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata: “Para ulama berkata, tidak ada ayat Al-Qur’an yang lebih keras teguran & celaannya terhadap para ulama melainkan ayat ini & ayat ini lebih ditakuti oleh mereka. (Tafsiir Ath-Thabaari [IV/638].)
3. Hati menjadi sakit bahkan mati
Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ighaatsatul Lahafaan, membagi hati menjadi 3 macam, salah satunya hati yang sakit yaitu hati yang sakit akan membiarkan adanya kemungkaran, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tentang orang munafik, “Dalam hati mereka ada penyakit…” (QS. Al-Baqarah: 10 ). Beliau mengatakan bahwa orang yang hatinya sakit, tidak dapat merasakan hatinya yang luka karena perbuatan dosa & maksiatnya. Apabila ia berbuat maksiat atau melihat maksiat, maka dibiarkannya begitu saja & dirinya tidak merasa sakit dengan kebodohannya (ketidaktahuannnya) terhadap kebenaran.
Sesungguhnya berbagai maksiat yang telah merajalela yang tidak diingkari merupakan sebab datangnya berbagai siksa & hukuman serta berbagai musibah. Selain itu, diam dari kemungkaran & tidak menyuruh berbuat ma’ruf juga merupakan perbuatan maksiat, dimana pelakunya berhak mendapat hukuman. (Lihat al-amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar: ushuluhu wa dhawaabithuhu wa adabuhu (halm. 87).)
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu telah menjelaskan kesalahan orang2 yang berdalil dengan ayat ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ [٥:١٠٥]
Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Al-Maidah: 105)
tentang tidak wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar. Abu Bakar radhiyallahu anhu berkata setelah beliau memuji ALLAH & menyanjung-Nya, “Wahai manusia! Sesungguhnya kalian telah membaca ayat ini & tidak meletakkannya pada tempatnya, “jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” dan sesungguhnya kami mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, apabila manusia melihat orang yang melakukan kezhaliman (kemungkaran), tetapi tidak menghentikannya (mengubahnya) hampir saja ALLAH meratakan azab kepada mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4338, Tirmidzi no. 3057, Ibnu Majah no. 4005)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Binasalah orang yang hatinya tidak mengetahui hal yang ma’ruf & tidak mengingkari kemungkaran.” (Atsar SHAHIH diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dlm Al-Mujamul Kabiir [IX/8564].)
Tapi terkadang nasehat tidak selalu diterima, mungkin beberapa di antara ada yg sulit menerima masukan (kebenaran) yg salah satu di antaranya diakibatkan oleh kerasnya hati. Sebab-sebab yg bisa menjadikan hati menjadi keras dapat dibaca di link ini: http://abumushlih.com/sebab-sebab-hati-menjadi-keras.html/
Semoga nasehat singkat ini dapat bermanfaat bagi kita semua & hendaklah sebagai sesama Muslim kita saling menguatkan & saling memotivasi, sebagaimana perkataan Abul Qa’qa:
و من هنا ينبغي للمرء أن يبحث له عن زميل صالح, و خل جاد ناصح, بحيث يكونان متلازمين في أغلب الأوقات, و يحث كل منهما صاحبه على الطلب و التحصيل, و يشد كل منهما من أزر الآخر و يسد كل منهما الآخر إن أخطأ, و يعينه و يحفزه إن أصاب و وفق, و يغيب كل منهما للآخر ما حفظه من العلم, و يقرآن سوياً, و يراجعان سويا, و يبحثان المسائل, و يحققا سويا
“Seseorang harus mencari kawan yang shalih, rajin dan suka menasehati, agar (ia) selalu bisa bersamanya pada sebagian besar waktunya, saling memotivasi dalam belajar dan saling menguatkan semangat sesamanya, mengingatkannya bila ia salah, dan mendukungnya bila ia benar dan mengevaluasi apa yang telah ia hafal, baca, diskusikan, dan kaji tentang sebuah permasalahan dengan selalu bersama-sama.”
[كيف تتحمس لطلب العلم الشرعي/Kaifa Tatahammas Li Thalabil ‘Ilmi Asy-Syar’i/. محمد بن صالح بن إسحاق الصيعري / Muhammad ibn Shalih ibn Ishaq Ash-Shi’ri /. 1419 H. فهرسة مكتبة الملك فهد الوطنية أثناء النشر /Fahrasah Maktabah Al-Malik Fahd Al-Wathaniyyah Ats-naa`a An-Nasyr.]
Semoga ALLAH menetapkan hati kita & senantiasa berada pada jalan yang lurus,
اللَّهُمَّ يَامُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ،يَامُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ
Ya Allah, yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami pada agama-Mu, Wahai Rabb yang mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk taat kepada-Mu. Amiin…
Ummu Zahratin Nisa Lathifah
28th August 2011 pada waktu 16:03
لِّلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَن يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ [٤٢:٤٩] أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ [٤٢:٥٠]
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. Asy-Syuraa’: 49-50)
qonita
23rd August 2011 pada waktu 14:45
ummu, sy juga sedang menanti kehadiran buah hati… seringkali merasa sedih, tapi tetap harus berikhtiar, berdoa dan tawakal… semoga penantian ini bernilai ibadah…
asih tresnani
25th July 2011 pada waktu 22:04
terimakasih atas artikel ini, smg sy bs lbh bersabar lagi dlm menghadapi ujian dr Allah….bg tmn2 yg blm dikaruniai buah hati yuk tetap berdoa dan berikhtiar…smg berhasil…:)